Pak, Bu, Jodoh itu Allah yang Mengatur Februari 8, 2010
Posted by ciptabiru in Tidak terkategori.add a comment
Lho mana pacarnya? kok sendirian datangnya?
Pertanyaan seperti kembali meluncur padaku. Aku beristighfar. Tapi mulutku tersenyum.
“Saya kan memang tidak pacaran bu..” jawabku diplomatis.
“Lho, kalo tidak pacaran bagaimana nikahnya..? dia terlihat bingung
“Ya gampang bu, tinggal undang pak penghulu, terus nikah deh. he..he..he…” jawabku sambil cengengesan.
“He..ditanyai beneran kok malah becanda. Trus kamu mau nikah kapan..?”
Itu sepenggal dialog antara ibu temenku denganku kemarin. Sudah lama sekali aku tidak mengunjungi keluarga ini. Padahal aku sudah dianggap keluarga saking akrabnya dengan mereka. Dulu hampir sebulan sekali atau bahkan dua minggu sekali aku ke rumah mereka. Ada maupun tidak ada temenku. Tapi bukan itu sebenarnya inti pembahasan kita kali ini. Aku ingin menyoroti bagiamana generasi di atas kita (baca orang-orang tua kita) ternyata sudah begitu memaklumi dengan sebuah kata bernama ‘pacaran’.
Suatu ketika aku nongkrong dengan orang-orang tua di desa. Usai yasinan tujuh hari meninggalnya bapak, kami ngobrol banyak hal. Salah satunya tentang anak-anak mereka yang sudah punya anak dan bagaimana proses mereka menjadi kakek.
“Lha terus njenengan mau menikah kapan. Kok kayaknya belum pernah lihat bawa pacar?” tanya Pak Mul.
“Iya mas, kayanya kalau lihat njenengan pasti sama adiknya. Terus kapan pacarannya?” tambah Pak Muri, mantan Ketua RT.
Saat aku jawab bahwa saya tidak pacaran, mereka terbengong.
“Apa ada jaman sekarang ada anak muda tidak pacaran,” ujar mereka sangsi.
“Lho banyak kok. Saya salah satunya dan semua kakak-kakak saya juga tidak ada yang pacaran,” jawabku.
“Tapi sampeyan kan tinggal di kota. Masa iya tidak tertarik sedikitpun dengan gadis-gadis kota yang bahenol-bahenol itu,” kali ini giliran pak Ris yang penasaran.
“Mau di kota mau di desa sekarang ini sama saja pak. Tergantung kita. Kepenginan apa nggak,” ujarku.
Well, dari dua kejadian itu aku jadi berpikir. Betapa paham pacaran ternyata sudah dianggap sebagai budaya yang ‘wajar dan normal-normal saja’ oleh orang-orang tua kita. Ironisnya, itu terjadi di hampir semua tempat. Tidak peduli di kota amupun di desa. Na’udzubillah mindzalik.
Aku tidak tahu apakah mereka pernah diberi tahu bahwa jodoh itu sama dengan rejeki dan ajal. Semua sudah diatur oleh Allah. Itu hak prerogatif Allah. Kita hanya bisa mengusahakannya melalui doa dan ikhtiar yang halal yang sudah diajarkan oleh rosulnya melalui sunnah. Keputusan akhirnya Allah yang punya.
Aku berpikir sudah sebegitu permisifkah budaya berpikir kita. Apa yang telah dipelajari orang-orang itu di masa lalu? Aku yakin orang tua mereka tak akan mengajarkan pacaran pada mereka. Atau apakah karena mereka terlalu sering menonton tv dimana adegan pembiaran pacaran diumbar nyaris di semua sinetron?
Mewajarkan pacaran untuk anak-anak yang akan menjadi penerus kita di masa depan, bagiku adalah hal yang tak bisa kupahami. Mau jadi apa mereka kalau mereka diijinkan pergi hanya berduaan dengan orang yang bukan mahromnya. Kita tidak pernah bisa tahu apa yang mereka lakukan di luar sana. Atau katakan mereka ‘bergaul dengan wajar dan sopan’ sekalipun, tetap saja sudah melanggar norma Islam. Bukankah aturannya sudah jelas, orang yang bukan mahrom dilarang saling bersentuhan?
Padahal Allah sudah memperingatkan agar kita senantiasa menjaga diri dan keluarga kita dari api neraka. Yaa Ayyuhal ladzina amanu kuu anfusakum wa ahlikum naaro. Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. Dan anak-anak serta istrimu adalah tanggung jawabmu. Sikapmu pada mereka akan dimintai pertanggungjawaban di hari perhitungan kelak. Jangan jerumuskan dirimu dan anak-istrimu ke dalam kedalaman neraka yang siksanya tiada terperi wahai orang tua.
Diskotik…? Oh No…!!!! Februari 4, 2010
Posted by ciptabiru in Umum.add a comment
Ada cerita konyol terjadi kemarin. Sambil menunggu waktu berbuka puasa di rumah seorang teman, saya ngobrol dengan pemilik rumah dan istrinya. Mereka adalah salah satu pasangan pengusaha paling sukses di kota. Mereka sudah memesankanku menu makan mahal dari sebuah restoran besar. Hal yang tadinya kutolak mati-matian tapi akhirnya kuterima karena mereka bilang ingin mendapat pahala dengan memberi makan orang puasa.
“Mas saya mau tanya ni. Tapi jangan tersinggung ya. Nggak papa kan?” si istri tiba-tiba mengubah topik pembicaraan kami yang sedang membahas salah satu teman kami.
“Ya bu, tentang apa ya? Ya nggak papa, masa iya ditanya aja saya marah,” jawabku sambil tersenyum.
“Gini, sebenernya temen-temen (suami saya) pada pengin nanyain ini, tapi katanya nggak enak. Jadi saya yang disuruh tanya. Kira-kira, kalau mas Biru diajak ke diskotik mau apa nggak ya?”
DEG..!!
Aku kaget mendengar pertanyaan itu karena tidak menyangka sama sekali. Tapi kemudian memilih tersenyum.
“Memangnya kenapa bu?” ujarku balik bertanya.
“Nggak. Kadang kan kita ngumpul-ngumpul di sana, tapi nggak pernah bareng sama mas Biru. Apa memang mas Biru nggak mau ke tempat kayak gitu ya? Mungkin takut berdosa?” jawabnya gamblang.
“Ow…gitu bu. Kebetulan saya kerjanya kan emang malem. Jadi nggak mungkin bisa dateng kalo ada acara begituan,” kataku. Tidak berbohong. Tapi aku rasa cukup untuk memberinya alasan bahwa saya memang tidak berkenan mendatangi tempat penuh maksiat itu.
“Tapi pernah masuk ke sana?” tanyanya sambil menyebut sebuah nama diskotik.
“Ehm…Pernah, tapi jujur saja saya merasa aneh di sana. Berisik banget dan saya malah merasa kesepian,” jawabku. Kali ini aku memilih jujur menjawab supaya tak menyeretku ke pembicaraan yang lebih intens tentang diskotik.
“Lho, pas acara apa?” Wah, kelihatannya dia malah penasaran dengan jawabanku.
“Saya agak lupa. Tapi kalau nggak salah pas ada band ibukota. waktu itu kebetulan saya disuruh liputan,” terangku.
Sang suami cuma tersenyum menanggapi pembicaraan kami. “Kayaknya suatu saat kamu memang mesti dateng. Buat ngilangin stress,” timpal sang suami kemudian.
“Tenang saja, kita pasti bakal jauhin minuman haram dari kamu kok,” ujarnya buru-buru. Mungkin dia ingat kalau saya tidak akan pernah menyentuh minuman-minuman yang disajikan di tempat seperti itu.
“Pa, berarti besok kalo bikin acara mendingan dipasin sama liburnya Biru aja. Biar bisa rame-rame,” cetus istrinya tiba-tiba.
DUARRRRR….!
Aku bagaikan disambar petir siang bolong. Apalagi begitu mendengar si suami mengiyakan. Waduh, aku tahu aku bakal kesulitan menolak ajakan mereka jika mereka beneran mengajakku saat aku libur.
“Kita lihat saja nanti,” kataku sambil tersenyum. Dalam hati berdoa semoga Allah melindungiku dan tak membiarkan mereka mewujudkan keinginannya mengajakku ke diskotik.
Suara adzan maghrib terdengar dari TV besar dibelakangku. Dan aku terselamatkan dari topik aneh itu. Mereka menemaniku berbuka dan menggelarkan sajadah untuk sholat maghrib.
Kenapa Aku Berhenti Merokok Februari 4, 2010
Posted by ciptabiru in Aku Adalah, Umum.1 comment so far
Suatu hari seorang teman bertanya apakah saya pernah merokok? Saya jawab jujur. Ya pernah. Tepatnya waktu kelas 2 SMA silam.
“Trus sekarang?” Tanyanya lagi.
“Saya sudah berhenti sejak naik ke kelas tiga dan berjanji tidak akan pernah lagi melakukannya,” jawabku.
“Kenapa?” ujarnya penasaran.
Sebagai anak muda, sebenarnya aku juga tak jauh beda dengan anak SMA kebanyakan. Seneng nongkrong setelah sekolah dan mengomentari orang-orang yang lewat di depan kami. Sambil melakukan kegiatan itu, asap-asap dari batang bergabus selalu mengepul dari mulut kami. Aku tidak pernah bisa merasakan nikmatnya. Tapi atas nama solidaritas, satu bungkus rokok selalu habis saat nongkrong itu.
Suatu pagi, sekitar pukul 02.30 saya bangun. Maksud hati ingin mengambil air wudlu. Tapi di kamar mandi terdengar ada orang. Aku menunggu di ruang makan. Tapi kamar mandi tak kunjung terbuka. Akhirnya aku keluar dan memandangi bintang-bintang yang seolah berlomba menampilkan cahaya gemerlapnya. Bulan yang terpangkas sepertiganya masih terlihat mendominasi malam.
Ternyata yang keluar dari kamar mandi adalah ibu saya. Dia baru saja mengambil air wudlu. Setelah sholat malam, beliau langsung mengemasi barang-barang yang akan dibawanya ke pasar. Menata ketupat-ketupat ke dalam rinjing dan mengikat rambutan yang baru dipetik siang tadi. Sambil membantunya, aku terdiam.
Malam masih begitu beku. Tapi aku merasa hangat oleh helaan napasnya yang mengalir teratur. Dia menanyaiku kenapa tak pernah ranking 1 lagi sejak masuk SMA. Aku beralasan bahwa teman-temanku punya labih banyak waktu dan uang untuk belajar lebih giat. Sementara aku kadang sudah terlalu capek ketika sampai ke sekolah atau pulang kerumah karena harus mengayuh sepeda sejauh 20 km. Dia terdiam. Tidak menyanggah pembelaanku.
Kegiatan kami berhenti kala panggilan dari mushola berkumandang. Suara Kang Tarom terdengar syahdu memecah kesunyian pagi yang buta. Suara ayam seakan menyahuti panggilannya untuk meraih kebahagiaan akhirat. Kami bersicepat menuju asal suara itu.
Setelah sholat subuh, satu persatu barang titipan berdatangan. Ada Ondol, Bakwan, mendoan dan jalabiya. Kami memindahkannya ke dalam rinjing besar. Separuh rinjing itu telah terisi ketupat yang kubuat saat sore hari. Mendoan dan bakwan dipisah dan dimasukkan ke dalam tas dari anyaman pandan. Total berat barang-barang itu mencapai lebih dari 50 kg. Satu rinjing besar, tas pandan dan sebuah karung kandi yang terisi penuh.
Ibu terlihat mengernyit mengangkat beban itu di gendongannya. Tapi kemudian dia tersenyum sambil memberikan jatah uang saku untuk aku dan adik2ku. Setiap hari seperti inilah kegiatannya. Dan dia selalu tersenyum.
Astaghfirullohal’adzim….
Tiba-tiba aku merasa sangat dzolim pada wanita agung ini.
Uang yang dikumpulkannya rupiah demi rupiah di bawah terik matahari dengan enaknya kubakar tanpa guna. Sungguh biadab diri ini melupakan kernyitan dahinya yang menahan beban berat di punggungnya. Sungguh berdosa diri ini jika menyia-nyiakan tetesan keringat yang mengucur penuh cinta dari berjuta pori-porinya. Sungguh durhaka jika mataku tak melihat semua itu.
Dan sejak itu saya bersumpah tidak akan merokok lagi. Saya merasa sangat berdosa saat melihat tembakau yang menyala dan berubah menjadi kepulan asap itu.
“Dan sampai sekarang kamu tidak pernah lagi merokok?” tandas temanku.
“Alhamdulillah iya,” sahutku.
“Sekarang saya juga punya alasan yang lebih rasional untuk tidak menyalakan batangan tembakau itu. Aku sudah tahu bagaimana capek dan susahnya mengumpulkan rupiah demi rupiah. Aku tidak akan
sudi membuangnya dengan membakarnya. Alasan kesehatan yang sering digembar-gemborkan di bungkus rokok selalu dibantah oleh ayah sebagai alasan yang mengada-ada.
“Orang itu kalau mau mati ya mati aja. Kalau penyebabnya sangat banyak. Wong orang lg tidur meninggal juga ada,” bantahnya saat kuperingatkan agar tidak merokok.
Dan beliau membuktikannya. Dia meninggal saat sedang tidur. Tapi apapun alasannya, saya tak menemukan manfaat dengan merokok.
***
DILEMA (Persimpangan Cinta) Februari 1, 2010
Posted by ciptabiru in Umum.add a comment
Persimpangan jalan senantiasa membuat orang bimbang. Tujuan memang sudah jelas. Hanya saja kadang keyakinan kita teruji saat menghadapi persimpangan. Kita tak pernah tahu apa yang akan menghadang di depan kita. Apakah benar memilih jalan yang satu. Sementara alternatif kedua juga tak kita ketahui kondisinya.
Orang bilang, beginilah DILEMA.
Dan hal inilah yang kini mendera jiwa.
Berdiri di batas persimpangan, seolah buta.
Tak yakin memilih arah mana yang akan dipilah.
Sepenuh hati menyadari, bahwa ini adalah gaya Allah untuk mencintai hambaNya. Yakni memberi pilihan untuk mencari yang terbaik. Namun karena kerendahan ilmu, maka kegalauan dan keraguanlah yang kerap melanda di dalam dada.
Pagi itu udara baru saja disaring dari kelelahannya setelah dibekap oleh asap dan polusi. Menghirupnya terasa membasuh semua keletihan yang bersemayam di batas-batas persendian.
Sujud syukur baru saja kupanjatkan. Untuk memberikanku kesempatan melihat fajar yang merona di ufuk timur. Untuk memberikanku kemurnian udara subuh yang menyejukkan. Untuk memberiku keinginan menapaki 15 km menuju cintaku.
Aku tersenyum melihat sungging senyum di bibir dua bidadari itu. Wajah mereka berbinar, tersaput basuhan air suci.
Subhanallah…
Duhai para pewaris senyum wanita penghuni surga, tak sanggup aku berucap rasa cinta karena aku tahu takkan pernah habis rasa itu jikapun kuucapkan setiap detik sepanjang hidupku.Hanya pemilik jiwa ini yang bisa memalingkanku dari kalian.
Aku bergeming dan bercermin, memantau ke kedalaman batin. Pantaskah merampas senyum mereka dengan memalingkan muka untuk cinta yang lain?
Galau rasa dalam jiwa ketika menimbang semua rasa.
Ya Allah..aku memohon petunjuk dengan ilmuMu.
Aku memohon bantuan dengan KuasaMu.
Aku memohon arah dengan sinarMu.
Manakah yang lebih bermanfaat untuk masa depan mereka, untuk agama mereka dan untuk penghidupan mereka dalam waktu yang dekat maupun yang akan datang?
Mana pula yang lebih bijaksana bagi hidup, agama, dan kematian hamba?
Sungguh, engkaulah pemegang segala rahasia. Engkau mengetahui sedang kami tidak. engkau maha kuasa sedang kami tiada daya. Engkau maha Agung sedang kami adalah makhluk yang aniaya.
Ihdinassirotol Mustqiim…
Sirotolladzina an’amta ‘alaihim
Ghoiril maghdzubi ‘alaihim waladdzooollliiiin…
Amiiin….
Karena Kita Punya Cinta yang Sama… Januari 25, 2010
Posted by ciptabiru in Umum.add a comment
“Mzbi, nilai ujianq udah kluar semua, tp IPq turun jauh bgt jadi 3.0 gak papa ya?”
SMS itu datang sore tadi saat aku mulai melakukan kesibukan rutinku bekerja. Untuk sesaat aku menerawang. Pertama karena berpikir bahwa IP segitu sungguh bukan IP yang jelek. Dulu setengah mati pengin dapet IP segitu. Tapi si kecil cuma turun jadi segitu paniknya bukan main. Merasa bersalah dan minta permakluman. Kedua, aku memikirkan tentang masa depan. Akankah aku bisa selalu menjadi bapak, ibu sekaligus kakak dan teman bagi tiga adikku?
Setelah bapak dipanggil pulang oleh Allah, praktis kini mereka cuma punya aku. Well..sebenarnya nggak dalam arti sebenarnya. Mereka masih punya enam kakak yang lain. Tapi karena mereka sudah disibukkan dengan keluarga masing-masing, akhirnya ketiga adikku tak bisa mengklaim kakak-kakaknya itu jika suatu saat membutuhkan mereka.
Aku segera mengetik balesan SMS untuk si kecil. “Ya. Gak papa, yg penting besok mesti lebih bijaksana membagi waktu. Jangan terlalu capek ya..!” Dua huruf jawaban berbunyi YA sudah cukup membuatku tersenyum.
Entah jika aku telah menikah nanti. Apakah mereka juga masih bisa curhat seperti ini. Memberitahuku hal-hal remeh temeh dan ringan seperti menu makan siang, pengalaman lucu, kesibukan rapat dan nilai tiap mata kuliah. Aku takut mereka tak berani melakukannya lagi karena berpikir aku telah menjadi milik seseorang.
Suatu ketika aku mengumpulkan mereka di kamar. Aku bilang bahwa pada suatu ketika, aku akan pergi menemui seseorang dan hidup bersamanya. Aku tanyakan pada mereka apakah mereka sudah mulai mempersiapkan diri jika waktu itu datang?
Mereka terdiam. Tak ada yang menjawab. Mereka bahkan memilih menunduk saat aku lihat wajahnya satu per satu.
“Ok, itu masih lama. Aku cuma ingin kalian menyadari masa itu akan tiba suatu saat,” ujarku akhirnya. Aku tahu mereka belum siap kehilangan aku. Aku memilih memeluk mereka. Tahukah kalian, aku juga tak sanggup jika waktu itu tiba? Aku ingin tetap menjadi milik kalian tanpa harus terbagi dengan orang lain.
Dan akhir-akhir ini, waktu yang kutakutkan itu kelihatannya semakin dekat. ada hal yang lebih besar yang harus aku lakukan, yakni melaksanakan perintah Allah. Entah saat pelaksanaanya nanti seperti apa, tapi aku ingin bahwa semuanya tidak akan berubah buat kalian. Cintaku mungkin akan terbagi, tapi tidak akan berkurang. Kalian tetap mendapat bagian kalian sampai suatu saat ada cinta yang lebih besar yang akan memenuhi hari-hari kalian.
Ingat selalu, bahwa hubungan darah itu tidak bisa terputus. Di dalam diri kita mengalir darah yang sama, cinta yang sama dan agama yang sama. Selamanya kita akan menjadi saudara malaikat-malaikat kecilku…..
Mimpi yang Sirna di Ujung Dluha Januari 20, 2010
Posted by ciptabiru in Umum.add a comment
Aku masih ingat kalimat terakhir di dalam sujudku dini hari itu.
“Ya Allah..berilah hamba kesempatan untuk menemani Ayahku mengunjungi rumahMu..”
Lalu aku memohon petunjuk atas sebuah pilihan terbesar dalam hidupku. Tapi mendadak ada getaran sangat keras dalam dadaku. Getaran ini sangat tak biasa. Aku bahkan sampai menghentikan tengadah tanganku dan mengusapkannya ke dada. Rasanya sangat aneh. Entah kenapa, saat itu aku membathin sebuah keinginan untuk mengantarkan ayah untuk sholat jumat. Pagi hari sebelumnya aku dikabari si kecil bahwa ayah sudah sembuh dan sudah bisa jalan-jalan serta sudah doyan makan.
Tak disangka sama sekali, getaran itu adalah sebuah firasat. Saat dluha menjelang, sebuah isak tangis terdengar nyaris berbisik dari michropone A70-ku. Aku beristighfar… Menduga-duga apa gerangan yang terjadi. Aku tahu sesuatu yang buruk telah terjadi. Karena itu secepat yang bisa kulakukan, aku beranjak pulang ke rumah.
Suara isakan tangis terdengar bersahut-sahutan. Mata-mata yang merah menyambutku dengan pelukan menyesal..
Di dipan itu, sebuah kain batik berwarna coklat ke kuningan menyembunyikan sesosok tubuh yang membujur kaku.
Innalillahi wainna ilaihi roji’un…..
Saat itu buyarlah mimpiku.
Aku tertunduk…
Menyadari kesempatan yang selalu kupintakan di akhir sujudku telah hilang..
Mengutuki keterbatasanku yang tak kunjung ‘mampu’ ketika Isroil akhirnya menjemputnya..
Maafkan kemiskinanku Ayah…
Maafkan ketidakmampuanku untuk menyertaimu menemui Allah di rumahNya di tanah haram…
Maafkan ketiadaanku di saat-saat terakhirmu. Semoga hanya Allah yang engkau sebut di saat-saat terakhirmu….
Matahari naik sepenggalah tingginya. Wajah-wajah sayu itu terus tertunduk, sambil tersenyum hambar menyambut tamu dan sahabat yang datang dengan tepukan tangan lembut di pundak kami.
Innalillahi wainna ilaihi roji’un…Bersabarlah sahabat. Allah selalu bersama orang yang sabar. Jadikan sabar dan sholat sebagai penolongmu..
Kalimat itu meluncur dari setiap mulut. Aku mengangguk dan berjanji dalam hati untuk melakukannya.
Di ujung Dluha ini, aku mengantarkan jasad kaku ayahku ke pemakaman. Aku menatap masjid Al Ikhlas sambil bertasbih. Keinginanku untuk mengantarnya sholat jumat di masjid ini membayang lagi. Tapi aku melewatinya. Aku terus bersicepat sambil memikul keranda. Menyadari bahwa keinginan itu harus aku ganti dengan mengantarnya menghadap ilahi.
Haji…
Satu-satunya perjalanan terindah yang ingin ku hadiahkan padanya tak akan lagi tergapai..karena gumpalan tanah merah itu telah memisahkan kita, untuk selamanya.
Ya..Ayyatuhan nafsul mutmainnah…
Irji’i ilaa robbiki rodliyatam mardliyah
Fadz khuli fii ‘ibadihi
Wad khuli jannati..
Wahai jiwa yang tenang
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridlo dan diridloiNya
Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu
dan masuklah ke dalam SurgaKu
Cerita Tentang Enterpreneurship Januari 7, 2010
Posted by ciptabiru in Umum.add a comment
Habis rapat, sore tadi ada obrolan menarik sambil menikmati mie rebus dan nasi kucing di angkringan depan kantor. Mula-mula obrolan yang diwarnai hujan super deras itu tentang selingkuh. Yang beginian tentu saja aku nggak bisa nimbrung. Soalnya nggak punya pengalaman. Kemudian obrolan bergeser ke masalah ekonomi. Dari sinilah ada cerita menarik.
Budi mengaku bersyukur banget dengan kehidupannya sekarang. Yang walaupun belum berkecukupan, tetapi jauh lebih baik dari jaman kuliah dulu. Dia bercerita saat uang mulai menipis, biasanya dia beli nasi di perempatan prabasari Sumampir.
“Tapi yang timur perempatan sebelah selatan jalan mas. Soalnya nasinya banyak dan murah meriah,” ujarnya sambil tertawa lepas.
“Pakai mendoan dua dan nasi porsi kuli cuma Rp 1.600. Pas sampai rumah tak bagi jadi dua. Yang satu langsung dimakan, sisanya buat malem hari,” sambungnya.
Dia juga cerita, bagaimana dia harus mengesampingkan rasa malu dan capek demi bertahan hidup. Bangun pukul 03.30 dan mulai membersihkan ikan lele yang dibelinya sepulang kuliah. Setelah dibersihkan dan dibungkus per kilogram, kemudian ikan-ikan itu dibawanay berkeliling dari satu warung ke warung berikutnya.
Pernah juga dia menjual pepes patin ke sebuah tempat wisata khusus ikan air tawar. “Kadang laku satu. Kadang laku dua. tapi pernah juga nggak laku sama sekali,” ceritanya. Dan semuanya harus berhenti karena suatu ketika, ada ulat di pepes bungkusnya.
Tapi dia tidak putus asa. Dia banting stir dengan menjual benih lele dan lele siap konsumsi. Caranya sama, dengan menawarkannya secara keliling sebelum dan sesudah kuliah.
Aku tersenyum dan sesekali tertawa tergelak dengan gaya penceritaanya yang jenaka. Tapi jauh di dalam sanubari aku salut dengan perjuangan hidupnya. Aku teringat masa-masa setelah ibuku meninggal. Bagaimana harus bertahan hidup di kampus dengan mengandalkan kemampuan translate tugas2 mahasiswa.
Kalau sedang ramai, aku tak terlalu khawatir. Tapi saat awal semester baru mulai, atau mau selesai, biasanya tugas begituan sudah berkurang bahkan habis. Apalagi saat itu aku harus berbagi dengan seorang adik kelas yang tak dikirimi uang saku selama dua bulan oleh orang tuanya.
Suatu ketika uang di saku tinggal Rp 750, dan kami berdua harus makan. Saat itu uang segitu masih cukup untuk membeli nasi bungkus dengan sayur tiga jenis tanpa lauk. Kami makan berdua nasi itu. Alhamdulillah bertahan sampai malam.
Di tengah malam kami berdoa semoga esok pagi ada rejeki untuk mengganjal perut. Namun sampai pukul 21.00 malam, tak juga ada rejeki. Padahal perut udah keroncongan dengan beat tinggi. Kamii cuma saling pandang dan menertawakan kemiskinan kami.
Pukul 21.30 tiba-tiba ada seorang mahasiswi kampus sebelah datang menyambangi kami. Dia minta ditranslatekan tugas untuk besok pagi. Alhamdulillah…jerit batin kami. Karena sudah diujung kelaparan, akhirnya aku nekat meminta dibayar dimuka dengan janji bakal selesai esok harinya. Dan ternyata dia setuju.
Usai makan, aku mulai mengerjakan jurnal berbahasa inggris tersebut. Masya Allah, ternyata banyaknya bukan main. Mana beberapa istilah tak familiar lagi dengan pengetahuanku yang mengandalkan WJS Purwodarminto ini.
Karena jenuh, mata kerap mengantuk. Tapi janji untuk menyerahkan pekerjaan esok hari membuat temanku kerap mencubit tangan atau membuat suara yang mengagetkan. Agak kesel si sebenernya, tapi kalau teringat janji itu, akhirnya terpaksa terus berjuang mentranslate.
Sampai menjelang subuh, pekerjaan baru selesai setengah. Aku hampir panik. Tapi temanku mengajak mengambil wudlu dan berangkat ke fatimatuzzahra. Aku sempet berhitung waktu yang kuhabiskan untuk berjalan ke masjid, sholat dan pulang lagi. Paling tidak sekitar 30 menit. Lumayan buat nyelesain dua halaman.
Untungnya temanku memenangkan perdebatan dalam hatiku. Dia bilang bahwa kita tidak tahu apakah di detik berikutnya kita masih akan hidup. Karena itu lebih baik pergi ke masjid dan melaksanakan kewajiban.
Ajaibnya, setelah sholat subuh itu pikiran serasa terang benderang. Hampir semua kata dan kalimat yang kuterjemahkan bisa dilalui tanpa banyak membuka WJS Purwodarminto itu. Temanku yang kebagian menulis versi Indonesianya terlihat cuma tersenyum. Dan Alhamdulillah, tiga jam berikutnya, atau satu jam sebelum limit waktu terakhir, pekerjaan sudah selesai. Dan kami bisa makan untuk seminggu kemudian, bahkan jika tanpa harus mencari translaten lagi sekalipun.
Subhanalloh…wal hamdulillah, Wa laailla haillallohhuAllohu Akbar…
Saat-saat menjual susu ke perumahan juga mendadak membayang di pelupuk mataku. Bagaimana aku harus bangun pukul 03.30 untuk menjemput susu dari Baturraden, memasaknya bersama dua temanku dan mengemasnya. Setelah itu dua dari kami kebagian menjual ke perumahan-perumahan.
Saat pertama melakukan debut adalah saat terberat. Karena masih ada rasa gengsi dan takut ketemu orang yang kenal. Namun begitu jarum jam menunjukkan pukul 07.00, kami sepakat membuang segala rasa malu dan gengsi itu.
Tak laku satupun di perumahan polisi, kami cabut dan berpindah ke perumahan Purwosari. Seorang anak berteriak minta dibelikan ke ibunya begitu melihat kami menawarkan susu. Kemudian sekitar lima tetangga keluarga itu ikut membeli. Setengah jam berikutnya, 100 bungkus susu kami habis terjual. Kami tersenyum. Antara bahagia dan capek.
Untuk enam bulan berikutnya, hampir semua penghuni perumahan itu menjadi pelanggan kami. Keperluan membeli pun macam-macam. Ada yang buat anaknya yang mau sekolah. Ada yang buat bapaknya sebelum ke kantor. Yang paling unik adalah yang buat sarapan anjingnya.
“Tapi ya nggak papa lah, toh dia bayar ini,” hiburku pada diri sendiri.
Yang unik juga adalah satu kos-kosan elit perempuan. Mereka membeli dalam jumlah banyak setiap dua hari sekali. Minimal satu orang satu liter. Dan tahu buat apa, ternyata buat mandi. Masya Allah..tu orang kaya aneh-aneh banget polahnya ya. Tapi kembali kami bilang Alhamdulillah. Polah aneh mereka jadi rejeki buat kami. Dan insya Allah halal.
Sayang, begitu kuliah lulus, semangat enterpreneur semacam itu justru surut dan menghilang entah kemana. Kami (saya dan Budi) kini sama-sama terjebak dengan rutinitas bekerja. Dua temenku penjual susu sekarang berwiraswasta. Satu jadi pengusaha warnet, satunya peternak ayam. Mereka selalu bilang, bahwa menjual susu adalah gemblengan terhebat yang pernah kami alami. Dan itu membuat mereka mampu berdiri seperti sekarang ini..
Subhanalloh….indahnya ujian dari Allah ini…
Bismillah, $ 3500 Pasti Terwujud Januari 3, 2010
Posted by ciptabiru in Umum.add a comment
Ba’da sholat Jumat tempo hari, aku bertemu dengan seorang teman. Aku tidak ingat kapan terakhir kalinya bertemu dengannya. Mungkin sekitar sebulanan. Yang aku ingat, pas terakhir ketemu itu dia pamit mau pergi jauh.
“Kemana pak?” tanyaku penasaran
“Insya Allah saya mau menunaikan kewajiban saya sebagai seorang muslim. Saya kebetulan dapat jatah tahun ini berangkat ke Makkah,” katanya dengan suara rendah.
“Subhanallah…Saya berdoa semoga semuanya lancar pak. Jangan lupa. Saya titip doa biar bisa segera menyusul,” kataku kemudian. Dia mengiyakan.
Kini di sebelah saya, di teras berundak bagian selatan Masjid Agung di terlihat sumringah. Mukanya lebih bercahaya dibanding saat pertemuan kami yang terakhir.
“Mas, segeralah menyusul. Masya Allah mas. Rasanya luar biasa,” katanya bersemangat. Aku cuma tersenyum. Membatin di kedalaman sanubari semoga bisa mengiyakan ajakannya.
Sebenarnya saat itu aku ingin sekali menanyakan berapa biaya mendatangi rumah Allah. Tapi kemudian ada tiga orang tua yang mengajak teman saya itu. Mereka ternyata orang-orang yang sudah mendaftar lewat bank. Mereka berbagi pengalaman bagaimana saat-saat menabung dan kemudian diberangkatkan.
“Saya kebetulan ikut yang 3500 (dolar). Nggak papa lebih mahal sedikit. Insya Allah itu buat kepentingan organisasi dan masyarakat banyak. Lagipula sepanjang berada di sana, Alhamdulillah semuanya lancar,” kata temanku pada tiga teman bicaranya.
Degh..!
Mendadak untuk sepersekian detik aku merasa jantungku berhenti berdetak. TIgaribulimaratus dolar…? Itu berarti sekitar 35 juta? Mendadak mataku panas. teringat bapakku yang tergeletak di kamar.
Ya Allah..masih mungkinkah aku mengantarkan Bapakku menuju perjalanan terindah itu ? Masih mampukah beliau menapaki depa demi depa perjalanan menuju Hajar Aswad?
Aku menghirup udara kuat-kuat. Seolah mengumpulkan bulir-bulir kesanggupan yang masih berupa atom-atom kecil. Aku berusaha menghimpunnya ke dalam hati dan menjadikannya gumpalan tekad.
Ya Allah, sesungguhnya aku bersaksi, bahwa dengan kehendakMu tak ada yang tak mungkin. Tak ada ketidakmampuan, tak ada penyakit dan tak ada ketidaksempatan. BIsmillahi laa khaula wala quwwata illa billahil’aliyyil adziim…
Merekam Jejak SiKecil Desember 21, 2009
Posted by ciptabiru in Umum.add a comment
Hari ini seharian nungguin si kecil, tapi gagal ketemuan. Rencananya pukul 09.00 pagi mo jemput dia di kampus trus pulang bareng ke rumah. Tapi rencana gagal. Katanya dia dicalonin jadi Ketum UKI FISIP. Week…??? Sempet shock juga dengernya. Dan ternyata dia lebih shock lagi. Bolak-balik SMS minta bantuan gimana caranya biar pencalonan itu gagal. Secara, dia nggak nyangka banget bakal dipilih sama temen-temen akhwat buat maju jadi kandidat.
Pukul 15.30 aku SMS lagi. Ternyata dia tereliminasi di babak kedua. “Untungnya masih ada ikhwan yang dianggap masih kompeten. Jadi aq selamat..he..he..he..” katanya. Kayaknya lega banget.
“Lho emang nggak berani jadi ketum?” tanyaku.
“Bukannya gak berani. Kan pemimpin (di UKI) itu sebaiknya memang ikhwan,” katanya diplomatis.
“OK. Jadi kalo kepilih berani dong?” godaku
“Waduuuhh..gimana ya? Ade’ kan baru belajar jadi muslimah yang bener. Kayaknya mendingan yang lebih tua aja?” jawabnya berkelit.
“Trus Mba May, Mba Meli sama Teh Tina sama Teh Tini gimana, apa mereka juga diajuin jadi kandidat (ketum)?” tanyaku lagi.
“Justru itu. Mereka yang kompakan ngerjain ade’. Mereka semua ngundurin diri dengan alasan udah semester lima dan nggak diijinin sama ortu,” gerutunya.
“Tapi untungnya sekarang udah lega. Ketumnya udah kepilih dan ade’ gak kepilih. ha..ha…ha…,” sambungnya.
“Ngomong-ngomong, kalo abis ini dipilih jadi pengurus, berani nggak?” tantangku.
“Ya berani, tapi nggak tau lah. Kan katanya amanah itu bukan diminta, tapi dititipkan,” balesnya.
Degh!..Mendadak jatungku berhenti sepersekian detik. Itu kata-kata yang bagus banget. Dan itu keluar dari mulut si kecil. Aku bertasbih..memuji Rabbku yang telah mengubah makhluk imut itu menjadi sedemikian dewasa. Meski kerap sikap manjanya masih terlihat, tapi ada hal-hal seperti ini yang membuat mataku panas.
“Jadi kalo misalnya suruh jadi sekretaris, berani dong?” tanyaku.
“Ya bismillaha aja deh. he..he..he..” jawabnya.
“Betul itu. Niatkan aja untuk berdakwah. Insya Allah, siapapun yang menolong agama Allah pasti akan dipermudah urusannya. Itu janji Allah lho de. Syaratnya kamu mesti ikhlas, istiqomah dan hanyamengharap ridlo Allah saat melakukannya’” kataku kemudian.
“Iya. Doain aja mas, biar ade’ bisa begitu,” tutupnya.
Dia minta ijin mandi dan istirahat.
Aku tersenyum sendiri. waktu SMP dulu, aku jadi ketua OSIS. Dan dia mengikuti jejakku. Saat SMA, aku nggak terlalu aktif-aktif amat di kegiatan ekstra kurikuler. Tapi dia setengah mati cinta banget dengan yang namanya Kempo. Lumayan juga sich, sempet beberapa kali jadi juara dan dapat beasiswa.
Nah, pas kuliah, dia kayaknya ngikutin jejak kakaknya lagi. Dulu aku sok aktif banget di UKM kampus. Sekarang, kayaknya dia mulai ketularan. So, aku nggak bisa ngelarang-larang dia. Soalnya suka inget diri sendiri. Apalagi, kakaknya juga seringngabisin waktu di sekre.
Sebenernya suka kurang sreg. Tapi demi tahu bahwa yang diikutinya adalah UKM dakwah, akhirnya seneng juga. Apalagi, dia kayaknya enjoy banget. OK. Selamat berdakwah buat my little angel. Jalan jihad membentang di depan. Mari berlomba menjadi penolong agama Allah.
Selemah Itukah Imanku? Desember 14, 2009
Posted by ciptabiru in Umum.add a comment
Hari ini hatiku redam ketika beranjak dari sebuah warnet. Mengutuki kelemahan iman dan ketidakmampuan raga karena tak mampu mencegah kemaksiatan. Tiba-tiba matau basah. Aku berhenti sejenak dan menepikan sepeda motorku di dekat sebuah pekuburan umum.
Aku menghirup nafas panjang. Menatap nisan-nisan yang berjajar rapi, seolah berbaris dalam diam. Air yang mengalir itu tak mau berhenti, bahkan semakin deras. Istighfar berkali-kali tak kunjung melegakan hatiku. Ada sesuatu yang mendesak-desak dadaku dan menghimpitnya.
Ingin rasanya kembali dan menggebrak bilik itu. Aku membayangkan ada sosok seorang ibu yang sedang duduk menerawang menunggu anak gadisnya pulang sekolah. Berharap bisa menyambutnya dengan senyuman termanisnya dan membelai kerudung di kepalanya. Tak pernah tahu anak gadisnya tak pernah sampai ke sekolah dan memilih kerudung putihnya diacak-acak tangan haram.
Entah bagaimana perasaan perempuan yang telah membagi hidupnya dengan jiwa mungil pemilik kerudung putih itu. Mungkin hatinya akan jauh remuk daripada hatiku yang tak punya tautan apapun padanya.
Aku kasihan pada pemilik bilik itu. DIa teman terbaikku yang selalu menempelkan dahinya di atas sajadah ketika nama pemilik jiwanya dikumandangkan. Di sampingnya juga ada perempuan anggun yang memberinya kepercayaan karena kemanahan jiwanya. Aku tak tahu apakah usahanya untuk mencari makan disalahgunakan oleh pemuda-pemuda biadab itu. Aku juga tidak tahu apakah yang akan dilakukannya jika suatu ketika dia mengetahuinya.
Dia pemuda baik yang menghabiskan nyaris seluruh hidupnya untuk mendampingi wanita yang melahirkannya. Tentu aku tak rela jika niat sucinya dinodai oleh orang-orang hina yang hanya menuruti nafsu purba dalam dadanya.
Aku harus berbuat sesuatu. Minimal menganjurkannya untuk mengurangi sekat di bilik-bilik warnetnya. Agar tak dimanfaatkan oleh jiwa-jiwa hina yang terbungkus raga-raga aniaya. Agar setiap rupiah yang dihasilkannya tak tercampur dengan peluh iblis dan ludah laknat.
Duhai saudaraku, kita pernah berjanji untuk saling berwasiat dan bernasehat. Semoga Allah selalu melindungi kita semua dari bujuk rayu syaiton dan tipu daya mereka. Teruslah berjalan. Aku akan membentangkan sajadahnya untukmu..

