The Visible Angle November 4, 2011
Posted by ciptabiru in Me and My Sister, Umum.add a comment
Siang tadi aku dapat SMS dari seorang kenalan. Seorang lelaki sepuh yang masih sangat bersemangat ber-tolabul ‘ilmi ke berbagai kota. Seorang lelaki yang memberi saya inspirasi, betapa umur tak boleh menghalangi kita untuk terus belajar.
“Syukron my VISIBLE ANGLE. That advice is what I realy needs”.
Begitu tulisnya. Aku merinding membacanya. Pertama karena takut. Takut pada godaan syeitan yang membisiki hati untuk mengenakan selendang Al Kibr. Padahal tak satupun makhluk yang boleh mengenakannya. Itu adalah satu-satunya pakaian yang hanya sang Khaliq yang boleh memakainya.
Membayangkan seseorang menyebut diri ini sebagai malaikat justru seperti menghempaskanku ke dalam jurang maha dalam yang gulita dan tak berdasar. Aku melayang turun tanpa tahu kapan akan mendarat dengan tulang-tulang remuk tanpa bentuk. Astaghfirulloh….Astaghfirulloh….Astaghfirulloh….
Aku tahu, bukan makna harfiah yang dimaksud lelaki pensiunan perusahaan tambang emas terbesar di dunia ini. Mungkin maksudnya adalah untuk menyebut seseorang yang memberinya berkas kebaikan di dalam hatinya. Kebaikan yang seperti apa yang telah kuberikan kepadanya, aku juga tidak berhasil mengidentifikasinya.
Yang ku ingat, aku begitu terkesan saat kajian ‘Ulumul Quran ba’da maghrib tiga minggu lalu. Saat itu harusnya kajian diisi oleh ustadz Sofwan seperti biasanya. Tapi entah kenapa, doktor ilmu Al-Quran itu malah mempersilahkan salah satu tamu Allah di masjid tercinta kami untuk mengisinya. Kami, para jamaah begitu penasaran.
Aku kemudian begitu terkesima dengan metode menghafal Al-Quran yang menurutnya ditemukannya. Dia mendemonstrasikan bagaimana mudahnya menghafal ayat-ayat Al-Quran. Dia menyuruh salah seorang jamaah maju dan mempraktekkan hafalan alquran yang telah diajarkannya tadi siang pada jamaah tersebut. dan SUbhanalloh, meski terbata-bata, orang itu berhasil melakukannya.
Aku bertasbih memuji sang Khaliq. Menyadari begitu besar nikmat yang dilimpahkannya pada diri hina ini. Subhanalloh..Baru tiga hari lalu aku bertemu seorang pensiunan perusahaan minyak di kajian rutin Rabu pagi. Beliau bercerita betapa inginnya memanfaatkan rumah yang baru dibelinya untuk kemaslahatan ummat. Membuat rumah tahfidz adalah impiannya.
Dipertemukan dengan keduanya dengan waktu dan kesempatan berbeda, membuat aku begitu ingin mempertemukan mereka. Dan Alhamdulillah, kesempatan itu datang. Dua lelaki sepuh itu bertemu dan mendiskusikan mimpi dan visi mereka yang ternyata sama. Aku cuma bisa tersenyum memandangi kedua kakek ini begitu antusias bercerita. Sambil sesekali berucap amin saat mereka memanjatkan doa agar cita-cita mulia mereka terealisasi.
Dari sini, saya yakin, bahwa the visible angel yang sesungguhnya adalah mereka berdua. Allah menunjukkan kepadaku, dua orang yang mengajariku untuk berjuang di jalan Allah. Allah memperlihatkanku semangat, kesungguhan, keikhlasan dan pengorbanan tanpa pamrih dua orang yang ingin mengabdikan sisa hidupnya hanya untuk pemilik jiwanya.
Aku juga merinding karena menyebut seseorang sebagai malaikat adalah kebiasaanku dalam tulisan. Tidak dalam artian sesungguhnya. Kadang kita memang mengidentikkan seseorang yang memberikan pengaruh hebat pada diri kita dengan menyebutnya sebagai angel. Aku juga begitu. Seorang perempuan kecil yang menjadi inspirasi bagi kehidupanku. Seorang yang tanpa disadarinya selalu menjadi motivasi sekaligus kekuatan untuk terus tersenyum dan berusaha.The Little Angel. Begitu aku menyebutnya. Semoga semua ini bisa diambil hikmahnya
Nggak Ada Loe Nggak Rame Maret 30, 2011
Posted by ciptabiru in Umum.add a comment
Bismillahirrahmanirrahiim
Mungkin banyak diantara kita yang sering mendengan jargon iklan milik sebuah produk rokok ini. Sekilas sepertinya sepele, namun bila direnungkan, ternyata artinya sungguh dalam. Selalu seperti ada yang kurang jika tidak ada kamu. Begitu kira-kira penerjemahan gampangnya.
Lalu siapa Loe (kamu) dalam iklan tersebut? Seorang sosok yang selalu dinanti kedatangannya karena pentingnya. Seorang yang ditunggu karena tanpa dia suatu peristiwa menjadi tak berarti. Seorang yang selalu memberikan perbedaan ketika berada di tengah-tengah situasi.
Apakah orang itu kita? Atau sudahkah kita menjadi orang tersebut?
Kemarin aku baru saja bertandang ke rumah seorang bapak. Ketiga anaknya sudah pergi dari rumah karena kewajiban menuntut ilmu di pesantren dan perguruan tinggi. Meski terlihat masygul karena kerinduan, tapi ada gurat bangga yang tak berhasil disembunyikannya.
Dia bercerita anak sulungnya yang tak pernah punya keinginan menjadi pegawai atau karyawan meskipun dia telah berkeliling ke berbagai negara sejak masa SMA-nya. Dia begitu mandiri dan di sela kegiatannya keliling dunia tak kehilangan jatidirinya sebagai seorang muslimah. Seorang perempuan muda yang ditangisi warga ketika meninggalkan tempat KKNnya karena keuletannya mengajarkan huruf hijaiyah pada puluhan anak-anak dan para manula.
Dia juga bercerita anak keduanya yang menurutku tak kalah hebatnya. Seorang perempuan modern yang punya mimpi sederhana menjadi seorang pendidik. Perempuan yang tak silau dengan kemilau dunia dan segala macam kenikmatan yang ditawarkannya.
Sedang si kecil, satu-satunya laki-laki di rumahnya-selain dirinya, baru menapaki bangku pesantren setingkat tsanawiyah.
“Satu hal yang selalu saya pesankan pada anak-anak saya, saya selalu meminta mereka jangan cuma bangga hanya dengan menjadi rata-rata air atau seperti orang kebanyakan. Ada maupun tidak ada kamu, orang tidak akan ambil pusing. Buatlah perbedaan, dan jadilah orang yang lebih tinggi dari sekedar rata-rata air,” ceritanya.
Iya. Lelaki yang mengaku mulai kehilangan peran sebagai ayah ketika anak-anak lepas dari masa baligh ini telah meletakkan standar yang jelas pada putra-putrinya. Meski tak mau dibilang telah sukses mendidik anak, dia sebenarnya telah meletakkan dasar yang cukup kuat pada tiga buah hatinya.
“Kesuksesan orang tua mungkin beda-beda ukurannya. Bagi saya, yang penting mereka tidak pernah lupa, mau sehebat dan sebesar apapun mereka nantinya, ada orang tuanya yang tidak boleh dilupakannya. Itu saja sudah cukup bagi saya,” ujarnya sambil menerawang. Bahkan dengan lebih sederhana dia berucap, “jika nantinya mereka tetap mau mendoakan saya ketika saya sudah berada di alam kubur, itu sungguh sudah lebih dari cukup buat saya,”
Saat itu aku mendadak jadi teringat tulisan Muhaimin Iqbal tentang average high. Pemilik geraidinar.com ini membahas orang-orang dengan standar sangat tinggi yang hidup pada jaman dan sesudah rosululloh. Merekalah para sahabat dan para tabi’in serta tabi’it tabi’in. Orang-orang yang telah membuat perbedaan dengan keberadaanya.
Di tangan mereka, Islam berjaya di 2/3 penjuru dunia. Di tangan mereka pula, ilmu pengetahuan berkembang sangat pesat, dan penjadi pelita di abad kegelapan. Kesejahteraan meliputi seluruh negeri di bawah panji khilafah. Semua karena saat itu ada standar yang punya rata-rata sangat tinggi bagi orang-orang Islam. Standarnya apa lagi kalau bukan ketakwaan. Kepatuhan dan ketakutan kepada Allah, sang pemilik nafas, membuat semua orang melakukan apapun semata-mata karena ketakwaanya.
Nah, sekarang semua kembali pad akita sendiri. Apakah hanya mau menjadi orang-orang yang rata-rata air sehingga tak akan ada bedanya ada maupun tidak ada kita? Atau kita mau menetapkan standar tinggi rata-rata untuk bisa membuat perubahan. Semua tergantung kita…
Indahnya Ta’aruf (1) Maret 22, 2011
Posted by ciptabiru in Umum.3 comments
Beberapa minggu yang lalu, aku akhirnya memulai sesuatu yang selama ini aku rindukan. Ya. Ta’aruf. Sebuah proses ikhtiar untuk memulai sebuah hubungan suci bernama pernikahan.
Suatu siang, usai menundukkan diri sekian lama dalam sujud akhir ba’diat dzuhur aku mengucap salam. Saat salam kedua, seuntai senyuman menyapaku. Wajahnya bersih bagaikan rembulan di tengah malam. Demi Allah, aku benar-benar lupa siapa pemilik senyum itu. Meskipun aku menyambut uluran tangannya, namun tak kunjung keluar memori mengenai siapa dirinya. Bahkan setelah dia mengucap namanya.
Kami bertukar kabar. Ajaibnya, dia tahu banyak mengenai diriku, pekerjaanku dan beberapa kegiatanku di masa lalu. “Jangan-jangan ini mungkin karena aku yang terlalu abai dengan orang orang di sekelilingku?” batinku.
Obrolan terus berlanjut sampai kemudian dia menanyakanku mengenai masalah pendamping hidup. Dengan minder, aku bilang bahwa sampai saat ini aku belum memilikinya. Apalagi momongan. Dia tersenyum, dan menawarkan padaku kemungkinan untuk mempertemukanku dengan beberapa perempuan teman istrinya. Aku juga tersenyum. Belum mengiyakan, sekedar menghormati penawarannya.
Satu hal yang membuatku langsung memuji nama Allah adalah tawaran itu datang sebegitu cepatnya. Ya. Beberapa menit sebelumnya, di sujud terakhirku, aku memang memohon kepada pemilik nafasku untuk membukakan pintu jodoh yang selama ini masih juga tertutup. Aku ingin dipertemukan dengan calon istri yang sholihah dan melalui proses mendapatkannya dengan cara-cara yang diajarkan oleh sang uswatun khasanah. Tak dinyana ternyata mungkin ini orang yang dikirimkan Allah untuk menjawab doa-doaku.
Karena ingin mengetahui siapa sebenarnya dirinya, akhirnya aku menerima ajakannya untuk main ke rumahnya. Ba’da Isya seminggu kemudian, aku ke rumahnya. Di sana baru aku ingat bahwa kami pernah bersama mengurus LAZIS (Lembaga Amil Zakat, Infak dan Shodaqoh) sekitar lima tahun sebelumnya.
Tiga hari berikutnya aku mengirimkan sebuah CV. Dan saat itu aku langsung diberi sebuah CV milik seorang akhwat. Aku tidak berani membukanya. Tapi tatapan mata sahabatku seperti memerintahkan aku untuk membukanya. Jadi aku membukanya. Membaca nama, tinggi badan, berat badan dan semua hal sampai niat si akhwat untuk menikah adalah ibadah.
“Bagaimana akh?” tanyanya.
Aku mengambil nafas dalam.
“Kalau memang niatnya seperti yang dituliskannya di sini, maka dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim, Insya Allah saya siap,” kataku sambil menunjuk CV milik sang akhwat.
“Baik. Tapi yang perlu antum (kamu) ketahui, semua ini (bertukar CV) belum menjamin apapun. Ini baru langkah awal. Jadi jangan terlalu berharap,” ingatnya.
“Insya Allah,” jawabku mahfum.
Seminggu kemudian, aku dikabari bahwa sang akhwat siap dipertemukan. Aku berdebar tidak karuan. Berbagai pikiran berkecamuk. Termasuk pikiran syaiton menganai persyaratan fisik. Apakah dia secantik foto yang disertakannya dalam CV (yang baru kulirik sekali karena takut berubah pikiran)? Apakah dia pemalu, suaranya keras, suka bercanda dan berbagai pertanyaan-tanyaan lain.
Astaghfirullohal’adzim. Segera kubuang pertanyaan-pertanyaan jahiliah itu. Aku kembali teringat sebuah kalimat yang ditulisnya di CV yang kubaca. “Tujuan Menikah : IBADAH”. Setelah itu aku mantap untuk menghadapi pertemuan itu.
Ba’da Isya, sebuah SMS mengagetkanku. Adrenalinku naik ke ubun-ubun. SMS itu seolah adalah tombol pemicu yang meledakkan jantung. Membuatnya berdetak ribuan kali lebih cepat dari biasanya. SMS itu juga seperti kunci pembuka semua pori-pori tubuhku. Mengalirkan keringat dari tabung-tabung penyimpannya. Menumpahkannya sampai membanjiri sekujur tubuhku.
Dengan degup jantung yang tak menentu, aku membonceng sahabatku. Sepanjang perjalanan yang hanya sekitar seratus meter tak hentinya aku beristighfar. Menyingkirkan prasangka dan keraguan yang datangnya dari syaiton. Kuyup di tubuhku semakin menjadi.
Dan datanglah saat itu. Sesosok perempuan mungil berdiri di balik pintu. Dia menjawab salam dan membukakan pintu. Tak selirik pandangpun aku berani melihatnya. Hanya guratan-guratan berwarna hitam di sela dua keramik yang berani aku tatapi.
Dipandu oleh sahabatku, kami saling bercerita dengan canggung tentang pribadi masing-masing, kondisi sekarang dan kondisi masa depan yang sedang dicita-citakan. Sebenarnya aku tidak begitu memikirikan apapun jawabannya. “Tujuan menikah: IBADAH” begitulah yang selalu aku ingat dari CVnya. Karena itu pasti semua hal bakal bermuara pada ibadah. Begitu pikirku.
Saat itu, seluruh telapak tanganku basah. Banyak kata yang tak becus kuucapkan. Dan aku juga tak berhasil merekam seperti apa wajahnya. Sebuah perasaan yang baru pernah kualami. Sejak kuliah, aku terkenal memiliki banyak sekali teman perempuan. Bahkan dulu kehadiranku sempat diidentikkan dengan adanya perempuan cantik. Bukan karena aku bergonta-ganti pacar, tapi kebanyakan temanku memang cantik-cantik. Dan saat jahiliahku dulu, aku tak malu kemana-mana dengan mereka.
Namun kini aku seperti kehilangan keahlianku berbicara di depan orang banyak. Aku lupa semua teori komunikasi yang kupelajari dari sekian banyak buku. Aku bahkan lupa bagaimana cara menghargai lawan bicara dengan cara menatapnya langsung. Seandainya ketemu di luar rumah setelah itu, aku yakin aku tak akan mengenalinya. Tapi aku tidak menyesal. Batinku, aku akan leluasa memandangnya jika Allah berkehendak. (bersambung)
Kenapa Harus Wanita Shalihah? Januari 19, 2011
Posted by ciptabiru in Umum.1 comment so far
Beberapa waktu lalu saya terlibat dialog cukup seru melalui chatting dengan salah satu sahabat saya. Salah satu yang kita bahas adalah masalah istri yang sedang saya cari.
Sebenernya saya sudah sampai tahap malas menjelaskan kriteria istri seperti apa yang saya inginkan padanya. Sebab dia (dan beberapa teman-teman saya yang lain) selalu saja memandang aneh, ketika saya jawab istri seperti apa yang saya inginkan. Beberapa tertawa. Beberapa lainnya tersenyum sinis. Dan beberapa lagi mengatakan itu imposible.
Hari ini saya sedang membuka-buka laman dakwatuna dan menemukan artikel yang mungkin bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan sahabat saya. Saya copy paste semua isinya. Semoga penulis dan medianya tak keberatan. Begini tulisannya.
Terkadang orang heran dan bertanya, kenapa harus mereka?
Yang bajunya panjang, tertutup rapat, dan malu-malu kalau berjalan..
Aku menjawab.. Karena mereka, lebih rela bangun pagi menyiapkan sarapan buat sang suami dibanding tidur bersama mimpi yang kebanyakan dilakukan oleh perempuan lain saat ini..
Ada juga yang bertanya, mengapa harus mereka?
Yang sama laki-laki-pun tak mau menyentuh, yang kalau berbicara ditundukkan pandangannya.. Bagaimana mereka bisa berbaur…
Aku menjawab..Tahukah kalian.. bahwa hati mereka selalu terpaut kepada yang lemah, pada pengemis di jalanan, pada perempuan-perempuan renta yang tak lagi kuat menata hidup. Hidup mereka adalah sebuah totalitas untuk berkarya di hadapan-Nya.. Bersama dengan siapapun selama mendatangkan manfaat adalah kepribadian mereka..
Untuk itu, aku menjamin mereka kepadamu, bahwa kau takkan rugi memiliki mereka, kau takkan rugi dengan segala kesederhanaan, dan kau takkan rugi dengan semua kepolosan yang mereka miliki.. Hati yang bening dan jernih dari mereka telah membuat mereka menjadi seorang manusia sosial yang lebih utuh dari wanita di manapun..
Sering juga kudengar.. Mengapa harus mereka?
Yang tidak pernah mau punya cinta sebelum akad itu berlangsung, yang menghindar ketika sms-sms pengganggu dari para lelaki mulai berdatangan, yang selalu punya sejuta alasan untuk tidak berpacaran.. bagaimana mereka bisa romantis? bagaimana mereka punya pengalaman untuk menjaga cinta, apalagi jatuh cinta?
Aku menjawab..Tahukah kamu.. bahwa cinta itu fitrah, karena ia fitrah maka kebeningannya harus selalu kita jaga. Fitrahnya cinta akan begitu mudah mengantarkan seseorang untuk memiliki kekuatan untuk berkorban, keberanian untuk melangkah, bahkan ketulusan untuk memberikan semua perhatian.
Namun, ada satu hal yang membedakan antara mereka dan wanita-wanita lainnya.. Mereka memiliki cinta yang suci untuk-Nya.. Mereka mencintaimu karena-Nya, berkorban untukmu karena-Nya, memberikan segenap kasihnya padamu juga karena-Nya… Itulah yang membedakan mereka..
Tak pernah sedetikpun mereka berpikir, bahwa mencintaimu karena fisikmu, mencintaimu karena kekayaanmu, mencintaimu karena keturunan keluargamu.. Cinta mereka murni.. bening.. suci.. hanya karena-Nya..
Kebeningan inilah yang membuat mereka berbeda… Mereka menjadi anggun, seperti permata-permata surga yang kemilaunya akan memberikan cahaya bagi dunia. Ketulusan dan kemurnian cinta mereka akan membuatmu menjadi lelaki paling bahagia..
Sering juga banyak yang bertanya.. mengapa harus mereka?
Yang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan membaca Al-Qur’an dibanding ke salon, yang lebih sering menghabiskan harinya dari kajian ke kajian dibanding jalan-jalan ke mall, yang sebagian besar waktu tertunaikan untuk hajat orang banyak, untuk dakwah, untuk perubahan bagi lingkungannya, dibanding kumpul-kumpul bersama teman sebaya mereka sambil berdiskusi yang tak penting. Bagaimana mereka merawat diri mereka? bagaimana mereka bisa menjadi wanita modern?
Aku menjawab..Tahukah kamu, bahwa dengan seringnya mereka membaca al Qur’an maka memudahkan hati mereka untuk jauh dari dunia.. Jiwa yang tak pernah terpaut dengan dunia akan menghabiskan harinya untuk memperdalam cintanya pada Allah.. Mereka akan menjadi orang-orang yang lapang jiwanya, meski materi tak mencukupi mereka, mereka menjadi orang yang paling rela menerima pemberian suami, apapun bentuknya, karena dunia bukanlah tujuannya. Mereka akan dengan mudah menyisihkan sebagian rezekinya untuk kepentingan orang banyak dibanding menghabiskannya untuk diri sendiri. Kesucian ini, hanya akan dimiliki oleh mereka yang terbiasa dengan al Qur’an, terbiasa dengan majelis-majelis ilmu, terbiasa dengan rumah-Nya.
Jangan khawatir soal bagaimana mereka merawat dan menjaga diri… Mereka tahu bagaimana memperlakukan suami dan bagaimana bergaul di dalam sebuah keluarga kecil mereka. Mereka sadar dan memahami bahwa kecantikan fisik penghangat kebahagiaan, kebersihan jiwa dan nurani mereka selalu bersama dengan keinginan yang kuat untuk merawat diri mereka. Lalu apakah yang kau khawatirkan jika mereka telah memiliki semua kecantikan itu?
Dan jangan takut mereka akan ketinggalan zaman. Tahukah kamu bahwa kesehariannya selalu bersama dengan ilmu pengetahuan.. Mereka tangguh menjadi seorang pembelajar, mereka tidak gampang menyerah jika harus terbentur dengan kondisi akademik. Mereka adalah orang-orang yang tahu dengan sikap profesional dan bagaimana menjadi orang-orang yang siap untuk sebuah perubahan. Perubahan bagi mereka adalah sebuah keniscayaan, untuk itu mereka telah siap dan akan selalu siap bertransformasi menjadi wanita-wanita hebat yang akan memberikan senyum bagi dunia.
Dan sering sekali, orang tak puas.. dan terus bertanya.. mengapa harus mereka?
Pada akhirnya, akupun menjawab…Keagungan, kebeningan, kesucian, dan semua keindahan tentang mereka, takkan mampu kau pahami sebelum kamu menjadi lelaki yang shalih seperti mereka..
Yang pandangannya terjaga.. yang lisannya bijaksana.. yang siap berkeringat untuk mencari nafkah, yang kuat berdiri menjadi seorang imam bagi sang permata mulia, yang tak kenal lelah untuk bersama-sama mengenal-Nya, yang siap membimbing mereka, mengarahkan mereka, hingga meluruskan khilaf mereka…
Kalian yang benar-benar hebat secara fisik, jiwa, dan iman-lah yang akan memiliki mereka. Mereka adalah bidadari-bidadari surga yang turun ke dunia, maka Allah takkan begitu mudah untuk memberikan kepadamu yang tak berarti di mata-Nya… Allah menjaga mereka untuk sosok-sosok hebat yang akan merubah dunia. Menyuruh mereka menunggu dan lebih bersabar agar bisa bersama dengan para syuhada sang penghuni surga… Menahan mereka untuk dipasangkan dengan mereka yang tidurnya adalah dakwah, yang waktunya adalah dakwah, yang kesehariannya tercurahkan untuk dakwah.. sebab mereka adalah wanita-wanita yang menisbahkan hidupnya untuk jalan perjuangan.
Allah mempersiapkan mereka untuk menemani sang pejuang yang sesungguhnya, yang bukan hanya indah lisannya.. namun juga menggetarkan lakunya.. Allah mempersiapkan mereka untuk sang pejuang yang malamnya tak pernah lalai untuk dekat dengan-Nya.. yang siangnya dihabiskan dengan berjuang untuk memperpanjang nafas Islam di bumi-Nya.. Allah mempersiapkan mereka untuk sang pejuang yang cintanya pada Allah melebihi kecintaan mereka kepada dunia.. yang akan rela berkorban, dan meninggalkan dunia selagi Allah tujuannya.. Yang cintanya takkan pernah habis meski semua isi bumi tak lagi berdamai kepadanya.. Allah telah mempersiapkan mereka untuk lelaki-lelaki shalih penghulu surga…
Seberat itukah?
Ya… Takkan mudah.. sebab surga itu tidak bisa diraih dengan hanya bermalas-malasan tanpa ada perjuangan…
Taipei, 02 Juni 2010
Tulisan di atas ditulis Oleh: Yusuf Al Bahi. Link aslinya ada di sini

Saya tahu, saya bukan orang sekelas dan sederajat si penulis. Namun pepatah arab mengatakan man jadda wajadda. Jika kita bersungguh-sungguh, maka kita pasti akan mendapatkan apa yang kita inginkan. Allah telah memberikan janji, bahwa orang baik hanya untuk orang baik. Karena itulah, saya akan menapaki jalan untuk menjadi baik. Agar cukup layak bersanding dengan orang baik, yang oleh teman saya pernah dikatakan cukup sinis, dengan istilah the real muslimah.
Bismillahirrahmanirrahiim…
Berdakwah dengan FB…. Januari 9, 2011
Posted by ciptabiru in Umum.add a comment
Aku membenci orang-orang zionis Israel seperti saudara-saudaraku di Palestina sana. Mungkin tidak dalam artian serupa, tapi paling tidak Aku ingin berjuang bersama mereka, dengan apapun yang bisa Aku lakukan dari sini, dari Indonesia.
Malam ini Aku terlibat chating dengan salah satu sahabatku, seorang perempuan keturunan timur tengah. Aku tidak tahu dari Arab sebelah mana keluarganya berasal, tapi hidung mancung dan matanya yang indah masih sangat kental menunjukkan bahwa dia adalah salah satu keturunan dari orang yang berasal dari tanah para nabi itu.
Well, persahabatan kami sudah berlangsung setidaknya 12 tahun atau mungkin kurang. Aku ingat saat pertama kali melihatnya berdebat dengan kelompokku di awal masuk kuliah pada acara ospek tahun 1999. She’s a good presentator. Semua mata memandang dia, dan terbius oleh kelihaiannya memilih kata dan merangkaikannya menjadi kalimat.
Belakangan baru kuketahui, sebagian besar laki-laki yang ada di ruangan itu lebih terkagum-kagum oleh kecantikannya. Kemahirannya berbicara menjadi nilai plusnya. Dan hampir semua orang membicarakannya setelah itu.
Aku tidak begitu antusias membicarakannya. Bukan karena tak tertarik dengan paras ayunya, tapi lebih karena kelompokku kalah dalam perdebatan. Padahal aku adalah pembisik utama dari presentator dari kelompokku. Karena itu aku memilih membuat garis merah, untuk tidak dekat-dekat dengan dia.
Tapi waktu kemudian mengarahkan kami justru untuk saling mendekat. Dia menjadi pacar sahabatku. Dan dengan sendirinya aku pun jadi dekat dengannya. Keluh kesah mereka kerap tertumpah di kepalaku. Dalam beberapa hal, kadang aku merasa lebih tahu tentang dia daripada sahabatku. Itu karena aku tak punya perasaan yang mungkin dimiliki sahabatku.
Diskusi-diskusi seru selalu terjadi saat bersamanya. OK, dia memang lebih pintar dengan IPK yang jauh di atasku. That’s why dia selalu terlihat ingin mendominasi dengan literatur yang pernah dibacanya. Sementara aku lebih senang menggeluti dunia jurnalistik kampus yang sudah membuatku jatuh cinta. Dengan alasan tak ingin membuatnya kecewa, aku selalu berusaha membiarkannya menang.
Tapi malam ini semuanya terasa lain. Kami berdebat dengan sengit. Sebenernya masalahnya sepele. Hanya karena FB alias Facebook. Aku bilang tak memiliki account saat dia menyuruhku mengecek gambar anaknya yang dipasangnya di FB, dan dia bertanya mengapa. Tapi saat kuberitahu alasanku tak memiliki account situs jejaring sosial itu, dia malah tersinggung. Menganggapku menceramahinya dan sesuatu yang jelas-jelas tak kumaksudkan begitu.
Here’s the chat we made just a few hour ago
Sahabatku: Change subject
Aku: OK, what about U’re Son
Sahabatku: Nothin so special
Aku: Dewi, Andi, Iid just have told me about his/her baby
Aku: wew..?
Aku: he’s an attractive boy, didn’t he?
Sahabatku: well u can browse my fb rite
Aku: I think everyday’s gonna be a special day with him by your side
Sahabatku: Alhamdulillah
Aku: I have no FB
Sahabatku: Oo
Aku:
Aku: seem’s freak hmm..?
Sahabatku: Nope..
Sahabatku: Why should?
Sahabatku: Alright..so whose u r gonna marry with?
Aku: every click we made to FB, it’s make money to Mark
Sahabatku:
Aku: I don’t know yet
Sahabatku: Sooo…
Aku: i’m just searching
Aku: to find
Sahabatku: Look @ the bright side hun
Sahabatku:
Aku: a real muslimah
Sahabatku: Ooo shit chubiiiii
Aku: mark is one of the biggest donateur of Israel
Sahabatku: Ur just toooo scared to propose!!!!
Sahabatku: Sorryyyyy
Aku: i know that
Sahabatku: Abis udh kesel.. Sm luuuu
Aku: thankyou untuk kesel
Sahabatku: Udh ga usah nyeramahin deh..
Aku: it’s mean i still have a real friend like you
Aku: nggak papa sumpah
Sahabatku: Klo dirimuh kesel ma Mark
Sahabatku: Ya gw tau
Sahabatku: Kok
Sahabatku:
Sahabatku: Nih ya ta kasih tau..
Aku: yg soal, FB, biar jadi masalahku sama Mark
Sahabatku: Kalo lu dah berani ngelamar what u say AREAL mUslimah.. Baru lu blh nyeramahin gw
Sahabatku: gimana stuju????
Aku: Insya Allah..
Sahabatku: Rrrasanya percuma bi..
Aku: bagian yang mana?
Sahabatku: Klo masiiiiii aja takut.. Sama aja seperti ngga punya tuhan
Sahabatku: Bagian si mark itulah
Sahabatku: Kita fban kan buat nyambng silaturahim
Aku: amin
Sahabatku: Malah ada grup g namanya kembang anggrek.m itu sering banget kasih pencerahan ttg islam
Sahabatku: Nah klo emng dollar yg didapat mark itu dipake buat israel
Sahabatku: Ya itu urusan dia ma Allah
Aku: aku setuju, dan tidak akan mendebat. Biarlah mark menjadi urusan saya sama Allah juga
Aku:
Sahabatku: Org wkt itu aja kbrnya segala merk unilever kan dipake buat nyumbang israel
Aku: emang, karena itu aku jg nggak pake Unilever juga
Sahabatku: Trus tapi lu masi pake pepsodent, dan teman2nya kan?
Aku: and cocacola
Sahabatku: Isn’t that just about the same things?
Sahabatku: ??????•?OK??•?? apa lagi yg ga lu pake?
Aku: TV
Aku: aku tidak punya
Aku: kalo celana dalam, aku selalu pake. Sumpah
Sahabatku: . Kirain clana dalam jg jait sendiri kali
Aku: buatan Garut
Sahabatku: Syapa taw. Serupiahnya jg buat nyumbang israel lho bii
Sahabatku: Hati2…
Sahabatku: Anyway… Lakum diinukum waliyaDdiin..
Aku: itu untuk urusan ibadah
Aku: untuk urusan persaudaraan, satu sakit, maka yang lain ikut sakit
Aku: kayaknya topik ini tidak membuat kamu nyaman…ganti topik aja
Aku: masalah keyakinan, kadang tidak bisa diperdebatkan karena perbedaan pandangan
Aku: bagaimanapun aku tetap dan akan selalu menghormatimu
Aku: seperti saat pertama kali melihatmu 12 tahun lalu
Aku: di ruang seminar lantai 3
Aku: fakultas Peternakan Unsoed
Sahabatku: Terimakasih..
Sahabatku: Aku juga kok
Sahabatku: Tenang aja..
Sahabatku: Kepala boleh berbeda..hati tetap teman
Aku: that’s the way aha..aha..I like you…
That’s all. Sebenernya masih banyak yang kita bicarakan. Tentang kegalauanku ketika berpisah dengan malaikat kecilku. Tentang rencanaku tinggal dimana saat di Jakarta. Dan tentang kewajibanku untuk mengunjunginya saat sudah di ibukota.
Anyway, nomatter what happen to the world, she’s still one of the best friend i have. I wil always love her like the love i give to my sister. Seperti juga dengan sahabat-sahabatku yang lain, kita kadang beradu pendapat dan bersitegang dengan pendirian kita masing-masing.
Tapi aku tidak akan mengubah sikap. Membenci zionis israel adalah komitmen dan pilihanku sebagai seorang muslim yang tak mau saudara seimannya dibantai dan dimusnahkan dari muka bumi. Sedang menjadi saudara dan berbagi cinta dengan sahabat2ku adalah bagian lain yang memang harus selalu kujaga.
Mengalahkan Zionis bisa dilakukan dengan berbagai cara. Aku memilih tidak membuat mereka semakin kaya dengan memboikot produk-produk mereka. Bagiku, lebih baik menjadi bersih untuk menolong saudara-saudara seiman kita, daripada berdakwah di atas genangan darah mereka karena masih menggunakan produk2 para zionis.
Aku tidak tahu apa yang akan aku sampaikan pada Allah saat Dia menunjukanku betapa setiap klik yang kita buat pada facebook atau setiap rupiah yang ketap sesap dari Cocacola ternyata berubah menjadi peluru dan bom yang membunuhi saudara-saudaraku di Palestina sana.
Begitu banyak pilihan untuk berdakwah, kenapa kita harus menggunakan cara yang jelas-jelas secara langsung dan tidak langsung menguntungkan musuh-musuh Islam? ………….
My 2010 in wordpres Blog Review Januari 3, 2011
Posted by ciptabiru in Umum.1 comment so far
The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

The Blog-Health-o-Meter™ reads This blog is on fire!.
Crunchy numbers
A Boeing 747-400 passenger jet can hold 416 passengers. This blog was viewed about 4,600 times in 2010. That’s about 11 full 747s.
In 2010, there were 45 new posts, growing the total archive of this blog to 152 posts. There were 47 pictures uploaded, taking up a total of 12mb. That’s about 4 pictures per month.
The busiest day of the year was December 18th with 66 views. The most popular post that day was Keajaiban Bernama Muhammad Adly Arif.
Where did they come from?
The top referring sites in 2010 were facebook.com, muslimahbelajar.wordpress.com, WordPress Dashboard, google.co.id, and rinduku.wordpress.com.
Some visitors came searching, mostly for dajjal, picture of dajjal, dajjal picture, istri sholehah, and nikab.
Attractions in 2010
These are the posts and pages that got the most views in 2010.
Keajaiban Bernama Muhammad Adly Arif November 2010
4 comments
Pertempuran Terakhir February 2009
5 comments
Ta’aruf. Kapan Ya Bisa Melakukannya? November 2008
6 comments
Indonesia-Malaysia, Jangan Mau Diadudomba August 2010
4 comments
Kenapa Kita Tidak Boleh Su’uzon March 2008
SMS Cinta Desember 19, 2010
Posted by ciptabiru in Me and My Sister, Umum.add a comment
“Lg ngpa Lis?”
Saya sudah tidak ingat lg berapa kali saya mengetik sembilan huruf dan satu tanda tanya itu. Saya tidak membuatnya menjadi template yang bisa dikirim setiap saat. Saya selalu suka mengetikannya satu per satu. Dan saya menikmati setiap moment menunggu balasan dari SMS yang kukirimkan pada sebuah nomor yang kuberi nama Li’l Angel.
Kadang saya berpikir, apakah tidak terlalu berlebihan jika sehari saya mengiriminya tiga kali tulisan itu. Ataukah sebenernya cukup satu kali saja setiap harinya. Atau jangan-jangan cukup dua hari sekali saja? Atau apakah penerimanya tidak bosan dengan SMS yang nyaris selalu sama itu?
Tapi demi Allah, setiap kali memegang Hape dan sedang nganggur, selalu kalimat itu yang ingin kuketikkan dan kukirimkan. Begitu banyak keingintahuan saya tentang apa saja yang sedang dilakukannya. Begitu banyak penasaran yang ada di dadaku untuk mengetahui kegiatan apa saja dilakukannya detik demi detik.
Terkadang, tersembunyi begitu besar kekhawatiran dalam kalimat itu. Entah apakah dia menganggapnya sebagai kalimat yang penuh nada memata-matai. Tapi bukan itu yang saya maksud.
Saat kecil dulu, teman-teman saya selalu disuruh pulang kalo hari sudah sore. Atau kalau main terlalu lama. Saya selalu kapan waktu untuk pulang dan tak pernah mendapat omelan untuk kembali ke rumah. Baik untuk ngaji ataupun melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah.
Saat itu saya selalu heran. Kenapa orang tua selalu cerewet menanyakan kapan anaknya pulang dan bahka menyuruhnya. Saat itu, saya juga selalu heran, kenapa orang tua seperti mau tau saja apa yang sedang dan akan dilakukan anak-anaknya.
Jawaban itu baru saya temukan beberapa tahun belakangan. Ya. Sekitar delapan tahun terakhir. Dan lebih intens lagi 10 bulan terakhir. Delapan tahun lalu, ketika nafas terakhir bunda terhembus, ada sebuah warisan yang entah mengapa, saya merasa hanya diberikan pada saya. Sebuah harapan. Sebuah tugas untuk membesarkan bidadari kecil yang bersinar diantara duka yang menggelayuti dada.
Dan sepuluh bulan lalu, saat pejaman mata ayah tak kunjung membuka, saya mulai sadar bahwa warisan itu memang diberikan untuk saya. Saya, dengan gaya khas bujangan, kemudian beranjak menjadi seorang ibu dan ayah yang cerewet. Yang selalu ingin tahu apa yang sedang dilakukan anak-anaknya. Yang selalu ingin peirntahnya dituruti. Yang selalu khawatir akan apa yang mungkin terjadi dan membahayakan mereka.
Mungkin saya tak bisa memberikan kasih yang sepanjang jalan. Saya mungkin juga tak bisa menjamin tidak akan memarahi mereka suatu ketika. Bahkan saya juga tidak bisa menjamin selalu bisa menanyakan kalimat di atas. saya hanya bisa berjanji, bahwa saya akan mengantarkan mereka ke tujuan yang diinginkan Ayah dan Ibu di surga. Ke sebuah tempat, dimana mereka akan melaju ke dunia baru mereka bersama dengan orang-orang yang dipilihkan Allah untuk mereka. Setelah itu, raga mungkin akan terpisah. Tapi akan selalu ada yang tertaut di hati kita.
Banyumas Physic Society, Sebuah Ide dan Impian Desember 2, 2010
Posted by ciptabiru in Fisika.1 comment so far
Bikin Kategori tentang Fisika, tapi nggak pernah diisi sampai sekarang. Yo wis, akhirnya tak isi deh.
Ceritanya, ba’da maghrib tadi sore, ada seorang guru ke kantor. Dia bermaksud mengiklankan mobilnya yang mau dijual. Nah, tanya punya tanya, ternyata dia guru Fisika SMAN 1 Purwokerto. Ya sudah, akhirnya aku ajak ngobrol rada serius.
Pria yang sampai dia pulang aku lupa menanyakan namanya itu, entah bagaimana caranya, ternyata sangat antusias dengan konsep yang aku ajukan. Dia bahkan berjanji akan mengundangku dalam pertemuan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Fisika bulan depan. Weeekkss…. Yang ini malah bikin aku shock..!
Jadi begini ceritanya. Begitu tahu dia adalah guru Fisika, saya langsung bilang bahwa itu adalah pelajaran favorit saya, bahkan sampai sekarang. Wah, beliau langsung antusias. Pakai nanya saya kuliah di mana dan dulu SMA mana. Saat aku jawab bahwa aku kuliah di peternakan dan bahkan tidak lulus, rasa penasarannya semakin menjadi-jadi.
Padahal konsep yang aku paparkan ke beliau adalah konsep sederhana. Bagaimana menjadikan masyarakat, tentunya khususnya anak muda, untuk mengenal, dan kemudian mencintai fisika. saya bilang bahwa saya sedih, sampai saat ini, Fisika ternyata masih menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian pelajar. Ini sangat ironis. Kenapa?
Sebab Fisika adalah hal yang sebenarnya tak bisa dipisahkan dalam kehidupan kita. Hampir di semua waktu, fisika selalu menjadi bagian dalam kehidupan kita. Bahkan konsep ruang dan waktu sendiri adalah bagian dari materi yang dipelajari dalam Fisika. Belum lagi dengan udara yang kita hirup, sinar atau cahaya yang kita lihat, suara yang kita dengar, kejadian siang dan malam, dan bahkan konsep gerakan seluruh penghuni alam semesta. Semuanya terkait dengan hukum-hukum fisika.
Dengan sebegitu dekatnya kita dengan Fisika, sangat ironis jika kita, dan sebagian besar orang, mengingkari atau bahkan menghindari dan bahkan takut dengan ilmu pasti ini. Menurut saya, ada hal-hal yang harus diubah untuk menyampaikan ilmu ini. Yakni caranya.
Kita terlanjur dan selalu menganggap, bahwa Fisika identik dengan rumus-rumus yang rumit dan njlimet. Kita juga kadung mendoktrin pikiran kita, bahwa rumus-rumus itu harus dihapal untuk memahaminya. Padahal jawaban dari dua hal di atas adalah TIDAK dan JANGAN.
Fisika bisa diajarkan, dan bahkan ditanamkan dengan cara yang menyenangkan. Dengan cara yang menarik. Dan dengan cara yang rekreatif.
Saya suka iri dengan kemajuan Iran, Korea Utara, Pakistan dan tentu saja dengan Russia, Amerika, Inggris dan Prancis. Empat negara terakhir mungkin terlalu jauh untuk kita sejajari. Tapi negara-negara seperti Iran dan Korea Utara, China serta India tak beda jauh dengan kita. Tetapi tradisi untuk berpikir dan berbuat berdasarkan kaidah scientist telah begitu maju dilakukan.
Di Iran, sementara orang-orang Arab berfoya-foya dengan anugerah minyaknya yang nyaris tiada habis, orang-orang malah belajar dengan keras. Hasilnya? Bisa dilihat sendiri. Iran adalah satu-satunya negara di timur tengah yang mampu secara swakarsa (dengan bantuan Russia juga sich sebenernya) mengembangkan teknologi maju macam nuklir, membuat sendiri roket berdaya jelajah puluhan ribu kilometer, membuat mobil dan peralatan perangnya sendiri, dan lain sebagainya.
Sementara kita di Indonesia, terlena dengan kekayaan alam yang makin habis dikeruk oleh kapitalis-kapitalis asing. Kita bahkan tersalip oleh Malaysia yang sudah berhasil mengirim warganya ke luar angkasa (via pesawat Russia).
Saya yakin, jika tradisi berpikir dan bertindak secara ilmiah dan kritisi bisa dilakukan sejak dini, bukan tidak mungkin kemajuan bisa dilakukan dengan sebuah lompatan ke depan yang melesat jauh. Dalam bidang ekonomi, Indonesia diramalkan akan menjadi negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kelima pada tahun 2030. Tapi bagaimana dengan kekuatan IPTEK kita?
Secara sederhana, saya membayangkan punya sebuah tempat, semacam rumah, yang bis amenampung kelompok-kelompok komunitas tertentu. Dan komunitas penyuka fisika adalah salah satu komunitas impian yang ingin saya buat di Banyumas. Selain itu ada juga klub-klub seperti klub Robotika, klub merajut, klub matematika, klub menulis dan sebagainya-dan sebagainya. Dari sinilah saya ingin menciptakan adik-adik dan anak-anak yang melek IPTEK. Yang tentunya belajar dengan penuh minat karena ternyata IPTEK itu begitu dekat dan senantiasa menjadi bagian dari hidup mereka. Ngayal mode on…..tapi Bismillahirrahmanirrahiim.
Fitnah facebook November 28, 2010
Posted by ciptabiru in Umum.add a comment
Usia semakin bertambah dan belum juga menikah, memang kerap menimbulkan fitnah. Mungkin kalimat ini ada benarnya juga. Ceritanya tadi siang aku janjian ketemuan sama seorang teman. Nggak tau kenapa, motor malah macet di jalan. Pas sudah ketemu, nggak sengaja aku lihat foto2 di di FB.
Itu adalah foto2 kami waktu di Bandung. Foto2 yang bagi saya sangat biasa. Kami nampang di depa gedung sate. What’s wrong with that? Tapi yang bikin saya shock adalah komentar temen2 kuliah kami di bagian bawahnya. Masya Allah…
Mungkin maksud mereka adalah bercanda. Tapi bagi saya itu sudah keterlaluan. Menuduh orang suka sesama jenis dan itu di tulis di ruang publik, rasanya tidak bisa diterima di nalar saya.
Selama ini, sebenernya saya memang paling anti difoto. Hampir dalam setiap kesempatan, saya selalu menghindari dokumentasi dan lebih memilih menjadi fotografernya. Alasannya hanay satu, biar tak pernah ada gambar saya di manapun. Tapi nggak tahu kenapa, pas dibandung itu yang kebetulan megang kamera adalah salah satu temen saya.
Saya juga menghindari aktif di facebook. Apalagi memasang foto diri. Bahkan account saya juga saya deactive. Tujuannya sama. Biar tidak ada fitnah yang mungkin keluar dari fasilitas buatan Yahudi itu.
Namun kita kan kadang memang cuma bisa berencana. Kita tidak bisa mengendalikan orang lain sesuai keinginan kita. Apalagi itu terkait dengan kebiasaan dan kesukaan mereka upload foto di facebook-nya masing-masing.
Aku ingat jaman dulu. Saat kecil, kalo kita sering main dengan cewek, pasti dikira bencong. Makanya, kita berlomba-lomba bermain dengan maian khas cowok. Dari perang-perangan, sepak bola sampai panjat pohon.
Saat sudah dewasa seperti sekarang ini, jika kita tak pernah main dengan perempuan, malah dikira homoseksual…subhanallah. Na’udzubillah mindzalik…Padahal tujuanku bukan untuk itu. Insya Allah sama sekali tidak. Alih-alih suka sesama jenis, wong berzina mata saja kita disuruh menjauhinya. Apalagi perbuatan yang sudah jelas-jelas dilaknat Allah seperti kaum sodom dan gomorah itu.
Demi Allah, jika Allah memberiku seorang perempuan sholihah hari ini, maka tentu aku akan menikahinya segera. Namun itu kadang cuma keinginan. Allah sudah punya rencana lain yang aku yakin akan indah pada saatnya.
Jadi buat teman-teman yang suka kelepasan bicara saat kasih komentar di facebook, istighfarlah. Bukan tidak mungkin canda kalian itu menyakiti hati seseorang atau menimbulkan fitnah. Bukankah fitnah itu sungguh lebih kejam dar pembunuhan? Na’udzubillah summa na’udzubillah…










