jump to navigation

Selaksa Doa untuk Sekar dan Bunga Juli 2, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Hanya dengan melihatnya sekilas, saya tahu jiwanya telah tergilas.
Dalam dunianya yang sepi, semuanya kini telah menjadi kian sunyi.
Mataku tiba-tiba menghangat oleh air mata.
Aku tak mungkin menumpahkannya.
Tapi tak sanggup mencegahnya menjadi kaca
Saat tangannya melukiskan kata yang tak kunjung keluar dari mulut mungilnya.

Rabu malam kemarin, aku mengunjungi rumah seorang gadisi belia korban perkosaan. 14 pemuda bejad beramai-ramai dan bergiliran mengoyak jiwa dan masa depannya. Aku tak bisa membayangkan betapa tercabiknya jiwa dan raga gadis yang kuberi nama Bunga.
Dia adalah korban kedua yang kukunjungi. Sekitar dua minggu sebelumnya, aku juga mengunjungi seorang korban lain yang usianya jauh lebih muda. Sekar, seorang anak kelas 3 SMP yang diduga digagahi oleh seorang perwira berpangkat AKP.
Masya Allah, apa dosa mereka ya Allah.
Kadang terpikir pertanyaan itu dalam batinku saat melihat mata sayu mereka. Mata yang menyembunyikan rasa malu yang mengiris hati bagai sembilu. Mata yang ingin mengadu, mengumbar amarah yang berkecamuk di dalam kalbu.
Mereka masih sangat muda. Tapi sudah harus merasakan betapa dunia sangat di sekitar mereka ternyata sangat kejam.
Beberapa orang berbicara tentang Karma. Ah, entahlah. Apakah hal seperti itu benar ada. Yang jelas anak-anak itu tak tahu apa-apa saat mereka dijadikan korban. Mereka adalah generasi tak beruntung yang lahir di dunia yang kian jahat.
Aku ingat benar ketika menyambangi rumah kedua korban itu. Dua laki-laki yang berbeda latar belakang, satu petani dan satu preman, mengucurkan air mata di depanku dan merasa telah gagal menjalankan perannya sebagai pelindung darah daging mereka. Satu Rusa dan Satu Singa. Dan tak satupun dari mereka yang terima saat anaknya disakiti.
Di tempat penitipan anak korban kekerasan, aku mengunjungi keduanya. Mereka tersenyum samar. Aku tahu mereka sangat takut bertemu dengan orang asing, termasuk aku, meski beberapa hari ini aku sering mereka lihat. Ada tatapan curiga yang menghunjam jantungku. Tapi aku tersenyum. Aku tahu kemarahan yang mengalir di pembuluh darah mereka. Meski mungkin tak semendidih yang mereka rasakan.
Aku adalah seorang laki-laki dengan tujuh perempuan di sepanjang hidupku. Diantara mereka, ada juga perempuan agung yang melahirkan kami. Aku tahu benar apa yang menjadi kebanggaan saudari-saudariku. Hal yang kini tak lagi dimiliki oleh Bunga dan Sekar.
Aku memang tak bisa mengembalikan senyuman dan raga yang tercabik. Tapi aku akan membantu kalian agar para laknatulloh itu mendapatkan balasan yang setimpal. Minimal dengan doa dan tanganku….
Ya Allah, aku tahu Engkau tak pernah tertidur
Maka balaslah apa-apa yang telah dilakukan manusia-manusia durjana itu. Berilah mereka balasan yang setimpal….

Little Angel…… Juni 22, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Little Angel…..
Nama ini kusematkan padanya ketika dunia mendadak menjadi gulita. Dia berpendar, lalu bersinar dengan kalimat-kalimat magis sabda Illahi yang keluar dari mulut mungilnya.
Saat itu, semua bendungan yang sudah berkali-kali jebol dalam seminggu terakhir seperti lantak dihajar bandang. Tapi bukan air yang menerabas. Melainkan lava pijar. Pipi kami serasa terbakar oleh aliran lava dari sela-sela bendungan itu.

Dan bumi serasa menimpa kami….
Semuanya menjadi berat. Seumpama belenggu melingkar di leher dan tangan terangkat hingga kepala tengadah
“innaa ja’alnaa fii a’naaqihim aghlaalan fahiya ilaa al-adzqaani fahum muqmahuuna”

Dan kami menjadi buta…..
Semua jalan semata buntu. Seolah dinding menghimpit kami dari semua sisi.
“waja’alnaa min bayni aydiihim saddan wamin khalfihim saddan fa-aghsyaynaahum fahum laa yubshiruuna”

Suara itu terdengar lembut mengalun diantara isak tangis kami. Tak ada sungai lava dari sudut matanya. Sesungging senyum magis muncul dari sosok rebah yang kami tangisi…

Mendadak mataku terbuka. Kegelapan itu masih tetap ada. Tapi ada cahaya berpendar dari sosok kecil yang sedang melafalkan surat ke 36 itu. Seolah-olah aku bisa melihat huruf demi huruf melayang dari lisannya yang basah..

Subhanalloh. Engkau mengambil satu jiwa dan menurunkan jiwa lain yang penuh hikmah. Engkau sertakan seorang bidadari untuk kau lekatkan pada sosok mungil itu…

Aku menghapus sungai lava di pipiku. Aku merengkuh bidadari itu saat kudengar ayat terakhir
“fasubhaana alladzii biyadihi malakuutu kulli syay-in wa-ilayhi turja’uuna…”
(Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.)

Bakso Cinta Juni 18, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Selalu ada saja cerita lucu saat makan bareng dua ade’ku. Malem minggu lalu, sempet-sempetin mampir ke  di warung Bakso Pekih di Jalan Kampus pas mau berangkat kantor. Mepet banget siy sebenernya waktunya, tapi semingguan belum ketemu sama mereka akibat pekerjaanku yang kelewat banyak.

Pertama yang gede. Cerita gokil terjadi pas dia tak suruh ngirim 50 surat. Waktu itu, kebetulan date line datang dan aku harus ngajar di SMP 2. Padahal pada saat yang bersamaan aku juga mesti bikin proposal dan surat untuk temenku yang mau ngajuin project. Karena nggak ada waktu buat ke kantor pos, akhirnya aku nyuruh ade’ku. Tahu nggak kekonyolan apa yang dia buat? Ternyata dia tuch MENJILATI 50 PERANGKO yang ditempel ke amplop. WHAT…..???!!! habis itu aku terpingkal-pingkal sampe keluar air mata.
“Kok bodoh banget siy. Kan disitu ada lem ato pake air mineral kek..” kataku masih sambil terpingkal-pingkal..
Aku nggak kebayang di kantor pos segede itu, trus ada ratusan orang yang berpotensi ngeliatin dia. Wakkaka..kak…kak…

OK, trus yang kedua ceritanya sikecil. Dia itu ceritanya trauma sama yang namanya lelaki di kostnya. Soalnya dulu pernah ada orang gila yang nongkrong di depan garasi, dan dia nggak jadi pulang trus balik lagi ke kampus.

Nah, kemarin tuh ada seorang bapak-bapak sedang nungguin di depan garasi.  Posisinya hampir sama dengan orang gila yang dilihatnya tempo hari. Tanpa nanya-nanya, dia main selonong masuk ke rumah. Gokilnya, abis itu dia main tutup pintu garasi.

Kekonyolan terjadi setelah dia masuk ke dalam. Ternyata, laki-laki itu adalah bapak temennya yang mau ngangkut barang-barang karena temennya udah mau diwisuda. “Aduh mba, maaf banget. Abis Lis takut banget. Jadi main tutup aja,” katanya sama Mba Umi, temen sekosnya. Dan abis itu, dia nggak berani nongol karena malu.

Bakso di hadapanku tak ada satupun yang kumakan. Pertama, karena sebenarnya aku nggak doyan. Aku mau pesen bakso karena mereka emang suka. Akhirnya baksoku kuhibahkan ke mereka. Kedua, perutku sakit karena ketawa akibat ulah konyol mereka.

Subhanalloh….
Betapa indahnya saat-saat bersama seperti ini. Coba bisa dilakukan setiap hari. Luv you so much dear little sister and brother…
Terima kasih ya Allah, telah memberiku penghibur hati …

Dua Lelaki Senyap… Juni 6, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
2 comments

Masih tentang perempatan….
Setelah perempuan legam itu pergi berlalu beberapa waktu lalu, aku jadi penasaran dengan dia. Setiap kali kakiku turun dari footstep dan menginjak aspal hitam di depan tugu jam itu, aku selalu mengedarkan pandang. Mencoba mencari sosok mungil dengan dua larik ingus yang keluar masuk seirama hembusan nafasnya. Namun so sok mungil itu tak kunjung terlihat. Tidak dengan tapak kecilnya. Tidak pula dengan gayutan acuhnya di pinggang perempuan legam itu.
Karena tak kunjung kutemukan, aku akhirnya memperhatikan dua sosok lelaki yang mendekatiku sambil bergandeng lengan. Tidak ada kata yang keluar dari mulut mereka. Namun bahasa tubuh mereka yang menadahkan tangan sudah cukup menjadi alarm bagi para pengguna jalan untuk memberikan bagian kecil dari rizkinya.
Aku merogoh saku celanaku dan kutemukan sekeping logam kembalian makan siang tadi. Bersama kepingan logam itu sebenarnya ada juga lembaran lima ribuan. Tapi entah kenapa hanya kepingan logam itu yang kuniatkan untuk kuberikan.
Tidak ada senyum. Tidak ada rasa terima kasih. Lelaki buta yang digandeng lelaki muda berjalan terseok, mencari tangan lain yang mau memindahkan isi sakunya. Mereka berlalu, dan aku tak sempat memperhatikan langkah mereka selanjutnya karena lampu hijau sudah menyala.
Di depan Bank mandiri aku menepikan Gigo. Aku menoleh ke belakang dan secara reflek meraba saku kananku. “Kenapa masih berpikir untuk bersedekah. Uang ini mungkin terlalu sedikit nilainya bagiku, tapi mungkin bernilai sangat besar bagi mereka,” batinku. Inilah sifat manusia kebanyakan. Selalu memberikan bagian terkecil dari miliknya untuk bersedekah, tetapi selalu mengharap mendapatkan sesuatu yang paling banyak.
Aku melaju kembali dan memutar ke arah Kebondalem, Adyaksa dan Jl Merdeka. Berharap bisa bertemu kembali dengan dua lelaki senyap itu. Dan mereka masih di sana. Menengadahkan tangannya, menyentuh dengan pandangan mata butanya pada tangan-tangan yang memegang setir dan handle gas. Ada yang pura-pura tidak melihat. Ada pula yang menggelengkan kepala. Beberapa lainnya merogoh sakunya dan memberikan tanpa melihat.
Niatku untuk memberikan lembaran di kantong sakuku mendadak pupus. Mungkin sebagian isi dompetku masih lebih dari cukup jika kuberikan pada dua lelaki senyap itu. Karena itu langsung kuambil begitu tangan yang sudah entah berapa lama menadah itu menghampiriku.
Kali ini aku memperhatikan raut muka lelaki buta itu. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya. Tangannya dikempit pemuda belia yang menuntunnya. Dan mereka tetap saja senyap. Menyeret langkahnya menyentuh pengendara lain dengan pandangan gulita yang dimilikinya.
Sempat terpikir berapa penghasilan mereka seharian penuh. Tapi aku segera memupusnya. “Itu adalah urusan mereka dan pemilik jiwa mereka. Kalau mau bersedekah, mestinya biarkan hanya kita dan pemilik nafas kita yang mengetahuinya. Tak usah mengingatnya. Tak usah membahasnya,” batinku kemudian.
Saya menuliskan hal ini tak berharap membahas masalah berapa yang kita beri. Tapi untuk mengingatkan diri, bahwa ada bagian orang lain di setiap apa yang kita punyai. Semoga diri ini selalu punya kesadaran ini…..

Perempuan Legam dan si Mungil dalam Gendongannya Juni 3, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
3 comments

Aku mengendurkan pegangan tanganku pada handle grip gas yang kupegang. Angka digital di papan penunjuk hitung mundur menunjukkan angka 49. sambil membuka visor helmku, aku melihat ke sekelilingku.
Ini bukan kali pertama aku berhenti di perempatan ini. Dalam sehari, mungkin bisa empat sampai lima kali aku menyambangi perempatan terbesar di kota Purwokerto ini. Tapi selama itu, aku tak pernah sedemikian ingin memperhatikan dua sosok tubuh yang sedang menyelisip diantara para pengendara di depanku.
Sosok tubuh mungil itu terlihat tak peduli dengan keadaan di sektarnya. Sura bising knalpot dan asapnya yang masuk ke paru-paru kecilnya, lalu lalang penyeberang jalan yang kadang terlihat mengelus dada karena rambu ‘belok kiri jalan terus’ telah merampok haknya sampai wajah acuh para pengendaraan pengantri lampu merah.
Dia asyik bergelayut di gendongan wanita yang aku tak bisa memastikannya apakah dia adalah orang tua kandungnya atau bukan. Ingusnya yang membentuk angka 11 sesekali menghilang karena dihirupnya. Namun sekian detik kemudian muncul lagi dan kerap menyentuh bibir atasnya.
Dia juga abai dengan lambaian tangan yang seolah berkata ‘tidak’ saat perempuan legam yang menggendongnya menadahkan tangan. Sekali lagi, sosok mungil itu tak peduli dengan lingkungan di sekitarnya.
Untuk sesaat lamanya aku merasa mati rasa. Mengingat sosok-sosok mungil seumuran anak itu di rumahku. Sangat kontras keadaanya. Mereka bebas berlari kesana kemari memperlihatkan binar matanya yang secerah kejora. Seolah mengabarkan status nihil dosa yang mereka punya.
Aku kembali menatap anak itu. Dia mengulum jempol kanannya yang juga mungil. Matanya menatap kosong. Sementara tangan kirinya berpegangan pada ujung kain yang dipakai untuk menggendongnya.
Layar berisi angka digital di sebelah lampu merah kuning hijau terus menghitung mundur. Seolah menghitung kesabaran para pengendara untuk segera melesat dari tempat itu. Wanita legam itu masih terus menadahkan tangannya. Berpindah dari satu pengendara ke pengendara lainnya.
Aku menatap mata wanita legam itu. Aku ingin menanyakan padanya sudah berapa lama seharian ini dia menggendong si mungil. Apakah sudah ada susu yang masuk ke lambung si mungil itu? Apakah si mungil sudah diberinya kesempatan untuk mengejar mimpinya? Apakah …apakah… dan seribu apakah lagi yang ingin kutanyakan padanya.
Tapi dia berpaling dan menundukkan matanya. Aku pun gagal mendapatkan jawaban dari seribu ‘apakah’ yang aku lontarkan lewat mataku. Wanita legam itu terlihat kecewa. Dilewatinya pengendara-pengendara lain di belakangku. Dia berjalan menjauh ke pinggir jalan.
Angka digital berganti warna menjadi hijau. Aku menarik handgrip gas motorku. Selapis asap mengepul dari knalpot motor bututku. Namun sesaat kemudian aku yakin asap itu akan menghilang sekejap kemudian.
Wanita legam itu terus berlalu bersama bocah mungil dalam gendongannya. Maaf, aku sampai lupa tak memberi sedekah untuk kalian……

Menikah, Tentu Aku Akan Melaksanakannya Mei 14, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Bismilahirahmanirrahiim
Masih tentang menikah. Beberapa waktu lalu, saat sedang ngumpul dengan
tiga adikku, mendadak aku sangat menanyakan pertanyaan ini.
“De, kalau kakak tahun depan menikah, kira-kira gimana ya?”
Maksudnya, aku ingin tahu pendapat mereka. Semuanya diam. Tapi beberapa
saat kemudian, setelah aku pandangi satu per satu, yang paling gede
menjawab.
“Ya nggak papa. Toh memang sudah waktunya,”
Tapi dua yang lain tak memberikan jawaban. Mereka hanya menunduk. Aku pun kemudian memilih tak bertanya lagi. Kesimpulanku, mereka belum bisa kutinggalkan. Mereka masih sangat membutuhkanku.
Sejujurnya, aku sendiri sama sekali tidak punya calon yang akan aku nikahi. Aku hanya ingin meyakinkan diriku sendiri, apakah aku siap untuk menikah atau tidak. Artinya, apakah aku siap membagi diriku, cintaku, sayangku, penghasilanku dan tenaga serta perhatianku dengan sesosok wanita yang belum aku ketahui itu? Hal pertama yang harus aku ketahui jawabannya adalah orang-orang yang pada mereka saat ini aku berikan semua hal di atas tadi. Apakah mereka ridlo, Apakah mereka siap, dan apakah mereka ikhlas?
Akhir-akhir ini, ketakutanku pada kemungkinan munculnya dosa dan kemaksiatan serta fitnah akibat status singleku memang makin bertambah. Bukan apa-apa, setiap keluar dari rumah saja, begitu banyak kemaksiatan terbentang di depan mata. Puasa Senin-Kemis yang dulu enjoy dijalani, kini semakin sulit melakukannya karena kaum hawa semakin berani mempertontonkan auratnya.
Setiap kali bertemu dengan teman-teman kuliah, pertanyaanya juga sama. “Kapan mau nyusul?” atau “Jangan pilih-pilih, nanti malah dapatnya sisa” atau “jangan-jangan kamu mau kawin sama cowok ya?”.
Astaghfirulohal’adzim. Ampuni hamba ya Allah. Ampuni juga mereka. Semoga mereka hanya bercanda, bukan bermaksud mengolok. Engkaulah yang mengetahui apa yang tersembunyi di dalam kedalaman sanubari. Apa yang tak terucap oleh bibir dan apa yang terbersit di dalam hati.
Menikah adalah separuh agama. Aku tahu benar hal ini. Demi cintaku padaMu, tak mungkin aku mengabaikan apa yang Engkau cintai. Sebisa mungkin tentu akan aku laksanakan apa-apa yang Engkau perintahkan, yang Engkau Cintai, yang lebih Engkau sukai. Hanya saja untuk yang satu ini (menikah) saat ini aku belum menemukan cara agar bisa melaksanakannya.
Rasanya miris dan kemudian menjadi tak percaya diri ketika mengetahui besarnya biaya yang dikeluarkan untuk menikah. Apalagi di saat yang sama, tak sepeserpun rupiah tersisa dalam tabungan.
Seandainya saja masih ada perempuan yang hanya mengharapkan Ar Rahman sebagai mas kawinnya, mungkin semuanya akan berbeda. Aku tak perlu minder dengan segala ketidakpunyaan harta. Usahaku untuk menghafal surat penuh cinta ini akan berbuah dengan keajaiban.
Aku memang jatuh cinta dengan Ar Rahman. Tahun-tahun pertengahan aku SD, aku selalu mendengarkan surat ini setiap mau berangkat sekolah. Kebetulan ayahku begitu mencintai qiro surat ini. Sehingga diputarnya berulang-ulang sampai suaranya tak lagi jernih. Tak terasa, ayat Fabiayyi alaa irobbikuma tukaddzibaan itu terus merasuk ke setiap aliran darahku. Ketika mendengar Syeh Masyari Al Faasi mendendangkan surat ini, aku seperti kembali dibetot ke masa lalu. Saat menunggu pukul 9 pagi, mendengarkan qiro surat Ar rahman sambil menunggu berangkat sekolah di masjid depan Madrasah.
Masalah siapa yang akan menjadi pendampingku kelak, aku tak begitu risau. Allah pasti akan memilihkan yang terbaik buatku, seperti apapun keadaannya dan keadaanku. Aku menyerahkan semua ini sebagai hak prerogatif pemilik nafasku. Aku memang boleh memilih, tapi pilihan terbaiknya akan aku serahkan pada zat yang mengetahui semua rahasia.
Sebuah SMS mampir di hapeku beberapa hari lalu dari temanku. Menanyakan seperti apa kriteria jodoh yang kuinginkan. Dia juga menanyakan apakah aku mau dikenalkan dengan seorang temannya. Dengan sedikit bercanda, aku bilang aku tentu saja mencari yang perempuan. AKHWAT. Balasku dengan penegasan berupa huruf kapital. Insya Allah secepatnya aku kasih kabar. Jawabnya kemudian.
Aku menghela nafas. Bersyukur atas kabar gembira yang jujur saja membuatku justru ketar-ketir. Aku sebut kabar gembira karena baru sekitar semingguan sebelumnya aku sholat hajat meminta dipertemukan dengan perempuan yang bisa menjadi jodohku. Maha besar Allah yang mendengarkan doa hambanya di dua pertiga malam.
Entahlah. Selanjutnya kupasrahkan saja pada kekuasaan Allah. Engkaulah yang telah mengukir takdirku. Aku akan menjalaninya dengan segenap keikhlasan yang harus terus kuasah……..

Ragu Itu Tak Kunjung Berlalu Mei 10, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Bissmilllahirrohmanirrohiim
Waduh, ternyata sudah lama banget nggak posting. Temenku sakit semingguan ini. Pacarnya juga sakit. Udah gitu, adeknya juga nabrak mobil. Sampe sekarang belum ada kabar dari bengkel, berapa abisnya. Alhamdulillah semuanya getting better sekarang. Udah pada doyan makan dan mau mandi.
Setelah bolak-balik kosan-rumah sakit-kantor-kosan pacar temenku-kosanku lagi, sekarang lagi sibuk ngurus persiapan kelahiran. Bukan kelahiran bayi manusia kayak temen-temen kantor yang lg pada harap-harap cemas menunggu si junior. Aku menunggu kelahiran ulang, dua bayi kembar CB 74. satunya classic dan satunya trail. Cuma yang trail kayaknya bakal jadi adiknya deh. Soalnya sampe sekarang belum nemu kalter sebelah kanan yang rengkah karena tendangan kompresi.
Oya, ngomongin masalah menikah lagi nich terpaksa. Abis setiap main ke rumah temen, pasti ditanyain yang beginian. Tempo hari, bareng dengan Onnie, aku main ke Ibunya Dewi (temen kuliah). Di sana sempet ngajak anaknya Dewi jalan-jalan sebentar. Subhanallah, itu anak bisa mirip banget sama ibunya ya. Nah, pas lagi asyik-asyiknya bercanda dengan si kecil ini, tiba-tiba muncul lagi pertanyaan yang sudah entah ke berapa kalinya aku dengar.
“Lho, terus kapan kamu mbopong anak sendiri?” Tentu saja aku cuma tersenyum dan tak tahu mesti menjawab apa.
“Kamu pilih-pilih ya? Jangan terlalu pilih-pilih, nanti malah nggak dapet lho mas,” sambungnya menuduh.
“Waduh ibu, gimana mau milih. Berhubungan dengan perempuan saja nggak pernah. (aku kan nggak pacaran bu)” jawabku.
“Lho yang dulu itu. Yang anak Jatilawang atau mana itu?”
(Waduh. Si ibu ini inget banget. Padahal itu kan masa lalu. Masa jahiliah. Sekarang ini kan nggak mungkin banget aku menganut pacaran yang lebih banyak maksiatnya daripada manfaatnya)
“Dulu cuma sebentar kok bu. Mumpung belum terlalu jauh, jadi bubaran aja,” jawabku.
“Apa mau ibu cariin? Kamu penginnya yang kayak apa?” ujarnya menawarkan.
Gubrak!!
Sampai di sini aku cuma bisa tersenyum lagi. Kalo nggak salah ingat, setiap main ke rumah, pasti selalu ditawarin yang beginian.
“Waduh, makasih deh bu. Tapi mungkin baru tahun depan kok. Soalnya saya masih nunggu adek saya lulus dulu,” kelitku.
“Jangan kelamaan. Nanti keburu tua lho,” ingatnya.
***
Sepulang dari rumah Dewi aku jadi mikir. Iya yah, kenapa sampai saat ini belum juga muncul keberanian untuk menikah. Padahal Allah sudah berjanji akan memampukan orang-orang yang tidak mampu jika sudah menikah. Menyejahterakan orang-orang yang kekurangan, mencukupi orang-orang yang tidak berpunya. Dan janji Allah itu adalah sebenar-benarnya janji.
Astaghfirulloh hal ‘adziim. Demi namaMu yang Suci ya Allah. sama sekali tak terbersit untuk meragukanMu. Tak secuilpun keraguanku atas kuasa dan janjiMu. Hanya saja hati ini memang belum mampu meneguhkan niat untuk menggenapi separuh agamaMu ini ya Allah.
Saat dinihari menjelang, saat dahiku menyentuh kelembutan sajadah, aku memohon agar dikirimkan seorang bidadari penunggu surga untuk kusunting. Namun saat tanda kedatangannya mulai nampak, aku kembali dihantui perasaan takut. Takut tak bisa memikul amanah yang engkau titipkan melalui tiga mutiara itu ya Allah. Takut tak bisa menjaga bidadari yang engkau kirimkan dari noda-noda yang bertebaran di dunia ini.
Duhai Zat yang berlimpah kasih sayang. Sirnakan kebimbangan dan keraguan dalam kalbuku. Sungguh, separuh dari keraguan itu adalah perbuatan syaiton yang telah engkau kutuk. Lapangkan hati untuk ikhlas melalui semua cobaanMu.

Karunia di Malam Rabu April 26, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Sebulan belakangan ini, aku selalu merasa lebih senang saat Selasa datang. Melebihi kesenangan Selasa-Selasa sebelumnya meskipun sama-sama liburnya. Selama sebulan ini, ada kebiasaan baru yang selalu kulakukan ba’da maghrib. Yap. Mengambil telpon dan mencari nama Li’ll Angel.
“Udah siap?. OK, bentar lagi kakak ke situ ya”
Iya. Sejak sebulan ini, aku memang punya kebiasaan baru. Kebiasaan yang selalu membuat hati tenteram dan bahagia. Makan malam bersama dengan dua ade’ku. Berunding menentukan tempat makan, dan saling bercerita kegiatan selama seminggu. Sebenarnya bukan saling. Lebih banyak aku yang jadi pendengar dan penanya Ngapain aja mereka selama seminggu. Apakah ada hal-hal luar biasa yang terjadi selama seminggu, masalah maupun pengalaman lucu.
Si kecil adalah yang paling heboh ceritanya Soalnya ini adalah saat-saat pertama dia indekost. So pasti banyak kejadian konyol yang dia alami. Mulai dari nunggu dua jam di depan pintu kostan karena belum punya kunci sampai terbirit-birit balik ke kampus karena ada orang gila yang nongkrong di depan kostannya.
Selain itu, awal-awal tinggal dikostan juga diwarnai pegal-pegal kaki karena belum biasa berangkat pulang ke kampus jalan kaki. Malemnya nggak bisa tidur karena lampu kelewat terang tapi nggak ada saklarnya. Alhasil, besoknya matanya sembab kekurangan tidur. Iya. Dia memang nggak bisa tidur kalo lampu kamar terlalu terang. Karena itu, besoknya aku ajak dia jalan-jalan, beli lampu tidur, roll cable untuk setrika dan alat listrik lain.
Kerasa kasihan juga si ngedengerinnya. Tapi pas ditawarin antar jemput, di amalah menolak. “Nggak usah. Kan deket banget ke kampus. Mungkin karena nggak biasa aja. Jadi masih suka pegel-pegel kakinya. Ntar lama-lama juga nggak pegel lagi,” elaknya.
Aku cuma tersenyum. Padahal kalau dia minta, aku sebenernya masih mau kok nganterin dia tiap hari berangkat pulang kampus yang jaraknay emang cuma lima menit jalan kaki. Tapi kemudian aku sadar, dia mungkin dalam proses pengin jadi anak yang mandiri. Nggak ngrepotin orang lain dan pengin disebut dewasa. OK lah kalo begitu.
Saat-saat seperti inilah yang selalu aku resapi. Bersama, hangat dan berbagi. Segala puji bagi Allah, yang selalu membuat hati kangen dan menciptakan rasa penuh cinta diantara kami. Sungguh, ingin rasanya setiap hari berlalu seperti ini. Sayang, hanya seminggu sekali bisa melakukannya.
Siangnya, mereka disibukkan dengan rutinitas kuliah dan kegiatan luar kampus. Malemnya, aku yang disibukkan dengan pekerjaan rutin di kantor. Kemudian hari demi hari hanya suara yang bisa kudengarlewat telpon. Memastikan dia tak lupa dengan kewajiban menyapa pemilik jiwanya dan tak menzholimi dirinya dengan melupakan kewajiban makan.
“Ingat, begitu banyak nikmat yang diberikan Allah setiap hari pada kita. Jangan pernah mendustakan satupun. Syukuri agar Dia makin cinta dengan kita,” pesanku setiap akan menutup telpon.

Pertanyaanya Hanya ‘Kapan……?’ April 19, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
2 comments

Sudah lama sekali aku tak menapakkan kaki ke rumah sakit. Aku ingat. Terakhir kalinya aku di rumah sakit. Dan itu adalah saat-saat paling berpengaruh dalam kehidupanku. Saat-saat yang kemudian mengubah seluruh hidupku.

    Suasana senja yang kelabu. Sendirian dalam sebuah ruangan yang berwarna putih. Hanya ditemani oleh dua mayat yang penuh luka. Satu tak kukenal identitasnya. Sedangkan satunya adalah mayat seorang wanita yang tersenyum damai. Mayat ibuku.

    Ambulance yang akan membawa raga Ibuku tak kunjung datang. Sementara warna jingga di ufuk barat telah berganti menjadi kelabu. Sekelabu suasana hati yang dirundung duka.

   Aku menerawang ke angkasa. Berharap di sana terlukis wajah wanita yang telah melahirkan aku. Aku berharap wajah yang telah tertutup dengan kafan dan selimut dari RS Margono Sukaryo itu memancar ke angkasa dan terlukis dengan bintang dan gugusan awan.

   Empat jam kemudian sirine mobil berwarna putih itu terdengar meraung-raung. “Maaf mas, kami baru saja mengantar (jenazah) ke Bumiayu. Kebetulan semua unit (mobil ambulance) sedang keluar,” ujar seorang petugas yang sebelumnya sempat membuatkan surat keterangan kematian.

   Aku merasakan keheningan yang sangat hebat ketika mobil itu melaju meninggalkanku di kamar itu. Mayat dengan perut terburai itu masih teronggok di meja perasi. Jahitan di perutnya terlihat menghitam. Aku segera beranjak ke bagian administrasi.

   Kini, setelah delapan tahun berlalu, kenangan itu muncul kembali saat aku melangkahkan kaki di selasar rumah sakit ini. Wajah-wajah capek karena kurang tidur bercampur dengan wajah-wajah sendu. Sendu karena memikirkan apakah ini adalah saat-saat terakhir saudaranya ada di dunia. Sebagian lagi mungkin memikirkan besarnya biaya yang harus mereka bayarkan.

   Dari sebuah kamar terdengar suara tangisan. Satu lagi nafas diambil oleh pemiliknya. Aku melihat beberapa orang saling berpelukan. Seorang petugas berbaju putih-putih menutupkan selimut ke kepala si pasien. Sementara suara tangisan makin keras terdengar.

   Aku melangkah lagi tiga kamar dari kamar penuh nestapa itu. Aku lihat mertua Juni tersenyum. Dua miniatur manusia tertidur tenang di dua buah kotak berjeruji warna putih. Orang-orang lain di kamar itu juga tersenyum. Bahkan Erna, ibu sang bayi, Istri Juni, yang baru saja dibedah perutnya untuk mengeluarkan bayi kembarnya.

   Subhanallah. Maha suci Engkau ya Allah. Yang mengambil dan menggantikan. Yang mematikan dan menghidupkan. Yang mencoba manusia dengan kesedihan dan kegembiraan.

    Aku keluar. Berdiri di depan kamar tengah yang tertutup pintunya. Berdiri diantara suara tangis di sebelah kiri dan suara canda bahagia di sebelah kanan. Sungguh. Jika kita mau memikirkannya, betapa maha besar dan kuasanya Allah.

   Mungkin dulu pun suasananya seperti ini. Saat saudara-saudaraku berpelukan menangisi kepergian ibu, ada kamar yang tersenyum bahagia karena kelahiran.

   Aku sudah mengalami fase pertama. Meski tak bisa kuingat, tapi aku yakin ada sebuah senyum yang tersungging saat aku datang ke dunia. Senyum yang abadi di bawa mati oleh Ibuku. Pertanyaannya kemudian hanya “kapan kita akan mengalami fase kedua, saat keluarga kita berpelukan menangisi kepergian kita ?”

   Kita tak pernah tahu kapan saat itu akan datang. Setiap sepersekian detik, saat itu bisa datang. Apakah kita sudah siap menerima kedatangannya? Dan apakah kita sudah mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan “apa saja yang telah kau lakukan selama hidup di dunia?”

    Kelahiran dan kematian adalah guru. Guru bagi kita untuk belajar menggunakan waktu. Guru yang akan mengingatkan kita bahwa kita bukan siapa-siapa. Guru yang akan mengingatkan kita bahwa kita tidak akan membawa apa-apa. Guru yang akan mengingatkan kita bahwa hidup ini hanya sementara. Dan guru yang akan mengingatkan kita bahwa hidup ini sangat berharga.

   Mari warnai setiap hembusan nafas kita dengan dzikir. Isi setiap perbuatan kita dengan amal. Dan gelarlah sajadah di setiap langkah kita. Agar hanya lewat jalan Allah kita kembali. Amin..

Surat Buat Ibu April 13, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
1 comment so far

Ibu….

Malam ini begitu besarnya kerinduanku padamu. Melebihi malam-malam senyap yang selalu kulalui sambil mengukur jalan. Kemarin, aku menengok pakde yang tergolek di ranjang di paviliun 115 Soeparjo Rustam RS Margono. Itu untuk pertama kalinya aku menengoknya saat sakit. Sudah beberapa kali beliau sakit dan berobat di ruma sakit. Tapi dengan alasan sibuk ngurusi pekerjaan, aku tak pernah menengoknya. Pun saat bapak ingin menengoknya, aku selalu bilang tidak sempat karena pekerjaan tak kunjung selesai.

Kemarinpun, sebenarnya aku tak sengaja menengok. Niatku adalah menengok anak kembar Juni yang baru lahir. Beruntung di koridor rumah sakit, aku bertemu Mba Erni. Karena itu kemudian aku menunggui pakde sambil bercerita banyak hal.

Aku melihat mata yang baru dicek di poli mata itu berkaca-kaca. Bukan karena penyakit gula yang terus memburuk atau kinerja ginjal yang melemah, tapi ternyata karena suaraku.

Aku teringat pagi hari saat menjemput si malaikat kecil. Mata bude juga berkca-kaca saat melihatku berlalu. Dua pertemuan itu adalah yang pertama kali sejak lebaran lalu.

Selama ini aku tak pernah berbagi cerita. Aku nyaris tak pernah mempercayai setiap orang di keluargaku untuk berbagi cerita hidup. Aku menghadapi semuanya sendirian. Aku melangkah sendirian. Aku terguling dan jatuh juga sendirian. Aku juga bangkit lagi sendirian.

Tak ada tangan yang bisa kugandeng. Tak ada bahu yang bisa kubuat sebagai sandaran, tak ada mata teduh yang bisa meredakan kesedihanku, tak ada telinga yang mau mendengar curahan hatiku. Tak ada apapun, selain keyakinan. Keyakinan bahwa Allah menyediakan semuanya tanpa mewujud dalam bentuk fisik. Allah tak pernah berhenti mendengar tangisan, aduan, permintaan dan keluh kesahku. Allah tak pernah menutup mata untuk memperhatikan setiap hal yang kulakukan. Allah lah penjagaku. Entah kenapa, kemarin aku sedikit membagi kegalauan hatiku pada pakde dan bude. Itulah yang membuatnya mengerjapkan mata.

Entah apa yang dirasakannya. Tapi aku tahu, ibuku adalah adik tersayangnya. Mungkin mereka terkenang pada adik tersayangnya? Saat pulang ke rumah, bayangan wajahmu mendadak memenuhi setiap sel di relung hatiku. Aku begitu ingin melihatmu. Bahkan kalau bisa memelukmu. Sekejap saja. Atau kalau perlu di dalam mimpi sekalipun. Sayang, sampai empat hari kemudian aku tak berhasil memejamkan mata. Padahal begitu besar keinginanku untuk mengunjungimu di dalam surga lewat mimpiku. Tapi aku tak kunjung bermimpi. Karena mataku tak kunjung terpejam.

Ibu…..

Malaikat kecil kita kini sudah jadi gadis dewasa. Dia sudah indekost sendiri di dekat kampusnya. Mencoba merasakan hidup mandiri bersama teman-temannya. Hal yang sebenarnya sangat tak ingin kurasakan.

Ibu tahu kenapa? Karena aku tak bisa melihatnya setiap hari. Padahal melihatnya selalu memunculkan perasaan bahwa aku sedang memandang ibu dalam versi yang lain. Sorot matanya, bibirnya, pipinya, jari-jarinya, rambutnya. Semua seakan adalah jelmaan dari sosokmu.

Aku selalu merasa dekat denganmu saat bersama dia. Aku selalu merasa tenang saat bersamanya. Selalu merasa bahagia saat melihat sebuah lengkungan mengias di sudut bibirnya. Selalu merasa berguna saat bisa membantu kesulitannya. Mungkin perasaan seperti ini yang muncul di benak buda dan pakde. Mereka mungkin teringat sosokmu.

Ibu, aku selalu mohon kepada Allah agar Dia menjagamu. Agar menghapus semua dosa dan kesalahan yang telah engkau lakukan. Agar membuatkanmu sebuah istana megah yang tak pernah sempat kau buat di dunia. Agar menyediakan malaikat-malaikat penjaga yang tak pernah kau miliki di dunia. Agar mencukupi semua kebutuhan yang tak pernah didapatnya di dunia. Agar hanya surga yang diberikan kepada wanita semulia engkau.

Robighfirli wali walli dayya, warkham huma, kamma robbayani soghiro

NB : Bu, nitip salam buat para penghuni surga yang lain ya. Doakan agar kita sekeluarga bisa berkumpul kembali.