jump to navigation

Kenapa Beragama? Oktober 31, 2007

Posted by ciptabiru in Tidak terkategori, Umum.
trackback

lambang agama

Ini adalah bagian pertama dari apa yang ingin aku tulis selama ini. Mungkin tidak akan berarti apa-apa karena kekeliruan-kekliruan yang kemungkinan timbul di dalamnya. Bisa karena sumber yang kusitir, atau bahkan karena keterbatasanku sendiri. Tulisan ini tidak ditujukan untuk orang lain-selain orang-orang yang peduli dengan isi tulisan ini.

Dunia terus berkembang dengan bermilyar jenis kehidupan di dalamnya. Sejak diciptakan ratusan juta tahun lalu, dunia telah membuat sejarahnya sendiri. Bumi, planet tempat kita tinggal yang konon telah berumur 5.500.000.000 juga menuliskan sejarahnya sendiri. Dari kehidupan makhluk-makhluk gaibnya, jasad renik, sampai makhluk-makhluk yang berwujud seperti manusia, hewan dan tumbuhan. Demikian pula dengan segala perbuatan mereka. Mulai dari senyum, tolong-menolong, perdamaian, konflik, pemukulan, perkelahian, sampai perang dan pemusnahan massal. Bumi terus menjadi saksi. Entah dengan senyum atau justru tangis. Dia terus melukis sejarah para penghuninya di antara kepekatan langit.
Agama adalah satu dari sekian banyak yang mengisi perjalanan sejarah bumi. Tak pernah diketahui dengan pasti kapan seseorang atau sebuah peradaban mulai menjadikan agama sebagai bagian dari kehidupannya. Namun yang jelas, beragama agaknya telah menjadi naluri dasar manusia selain makan, mempertahankan hidup dan beranak-pinak. Apapun jenis agama yang dianutnya.
Pada dasarnya manusia memang makhluk yang lemah. Sadar atau tidak, dia pasti mengakui bahwa ada sesuatu di luar jangkauannya yang mengatur semua yang terjadi di sekelilingnya. Ada sebuah zat Maha segalanya yang mengawasinya dan menjadikan sesuatu terjadi. Contoh paling jelas untuk hal ini terjadi saat seseorang dalam keadaan terancam, sementara dia sudah tak punya daya untuk berusaha. Terapung di tengah laut misalnya. Atau terjebak di dalam rumah yang sedang terbakar.
‘Berdoa’ kemudian menjadi usaha terakhirnya untuk bertahan hidup. meski dia tak tahu siapa yang dituju dalam ‘doanya’ dan bagaimana kekuatan ‘tujuan’ doanya, namun ada sebuah naluri bawah sadar (unconscious instinct) yang mengatakan bahwa ada sebuah kekuatan yang bisa menolongnya. Sebuah kesadaran bersama (collective consciousness-demikian istilah yang dipakai CG Jung, pakar psikologi dunia, dalam Memories, Dream and Reflection) yang bagi sebagian orang tak logis dan tak masuk akal.
Para atheis yang menganggap bahwa apa yang terjadi saat ini adalah hasil dari peluang acak sebuah aksi, mungkin tak akan pernah bisa memahami hal ini. Tidak sampai mereka mengalaminya sendiri. Saya teringat dengan apa yang dikatakan oleh si jenius Einstein mengenai Grand Unified Theory atau Theory of Everything. Menurutnya, pasti ada sebuah hukum dasar yang mengatur pergerakan dan perjalanan semua sistem rumit yang ada di dunia ini. Pendeknya, ada sebuah hukum dasar yang mampu menjelaskan segalanya. Ini berarti ada sebuah aturan yang mengendalikan alam semesta. Aturan ini berarti ada pembuatnya. Dan pembuatnya pasti sesuatu yang luar biasa. Yang tak akan terjangkau kepandaiannya oleh manusia.
Kesadaran untuk ber-Tuhan, sebenarnya dimiliki semua orang. Bahkan oleh orang yang atheis sekalipun. Ini tentu karena pada dasarnya ada pengakuan dari hati kecil setiap manusia tentang hubungan khususnya dengan sang kreator. ”Manusia tidak bisa menanggung beban kehampaan dan kenestapaan; mereka akan mengisi kekosongan itu dengan menciptakan fokus baru untuk meraih hidup yang bermakna,” demikian diungkapkan Karen Armstrong dalam A History of God. Tuhan adalah suatu realitas ultima yang tiada terpahami oleh logika sebab-akibat. Tuhan adalah misteri imanen yang tiada terpahami secara objektif, dan tak terbuktikan secara empiris.
Dalam agama saya, Islam, konon saat seorang janin ditiupkan roh ke dalam tubuhnya, ada sebuah perjanjian dengan Allah. Yakni perjanjian untuk mengakui bahwa Allah adalah Tuhan satu-satunya, Tiada Tuhan selain Dia. Dan bahwa Muhammad adalah utusannya. Namun ketika dia lahir ke dunia, lingkungan membentuknya menjadi apa yang diingini lingkungan tersebut. Ulama, kyai, pastur, rahib, bhiksu, pendeta, orang biasa atau pun penjahat. Sebagian diantaranya lupa perjanjian yang dibuatnya pada zaman azali. Sebagian lainnya tahu tapi tak mau mengakuinya. Sebagian yang lain tahu tapi mengingkarinya. Dan bagian terakhir lupa sama sekali. Sekali lagi karena lingkungan di sekitarnya.
Orang-orang pra-Islam (Muhamad) menyembah berbagai macam dewa. Ada dewa bulan, dewa matahari, dewa perang, dewa kesuburan, dewa kecantikan, dewa cinta dan berbagai dewa lain sebagai bentuk pengakuan ketakberdayaan mereka terhadap zat agung yang tak terjangkau pikirannya. Bagi mereka, ‘zat agung’ itu punya spesifikasi tugasnya masing-masing.
Dalam A History of God, Karen Armstrong menjelaskan tentang sejarah pemahaman manusia akan apa yang mereka sebut sebagai Tuhan. Apa yang disembah manusia saat itu dan saat ini sebagai ‘Tuhan’, dari hasil penelitiannya sebenarnya berasal dari satu tuhan. Yahweh, tuhan orang-orang Yahudi, Allah dengan huruf ‘a’ dalam pembacaanya sebagai Tuhan orang Nasrani dan Allah dengan kencenderungan huruf ‘o’ dalam pembacaanya sebagai Tuhan umat Islam, menurutnya kemungkinan sangat besar adalah zat yang sama. ‘Dia’ adalah Tuhan yang juga disembah oleh Ibrahim, Musa, dan Isa juga Muhammad.
Semua agama mengajarkan kebaikan. Tak peduli apakah itu Islam, Nasrani maupun Yahudi. Bahkan agama-agama di luar agama samawi seperti Budha, Hindu, Sikh, Zoroaster maupun aliran kepercayaan. Tak ada yang mengajarkan untuk saling membunuh. Tak ada yang mengajarkan untuk saling membantai. Semua mengajarkan kasih sayang dan harmonisasi hubungan antar makhluk dan antara makhluk dan khaliknya (makhluk-khalik = ciptaan dan penciptanya). Cara peribadatan dan keyakinan tentang Tuhannya masing-masinglah yang membedakan setiap umat dengan umat lainnya.
Pertanyaanya sekarang, kenapa kemudian ada sebagian besar penduduk bumi yang berperang dengan mengatasnamakan agama? Mereka menyakiti, membunuh bahkan membantai jutaan orang demi apa yang mereka sebut nilai suci dalam ajaran agama mereka.
Dalam buku lainnya, the Battle for God, Armstrong menyebut “perang suci” atas nama agama ini
muncul karena timbulnya fundamentalisme dalam sebuah agama. Kecenderungan ini muncul pada penganut tiga agama samawi, Yahudi, Islam dan Nasrani. Konon, fundamentalisme ini muncul karena over fanatism in religious faith. Ketaatan yang berlebihan dalam beragama.
Sakit hati memang rasa yang manusiawi. Rasa sakit hati inilah yang kemudian membuat peristiwa
pembunuhan pertama di bumi terjadi. Sakit hati pulalah yang membuat Iblis dilemparkan dari Surga ke bumi. Namun menggunakan agama sebagai alasan untuk membunuh? Sungguh tak bisa saya terima.
Saya yakin, para pelaku holocoust dan genosida dan pembantaian massal yang mengatasnamakan agama sebenarnya tak tahu sama sekali ajaran agama yang dianutnya. Mereka hanya menjadikan agama sebagai pembenaran untuk mendapatkan simpati. Tau bisa jadi mereka sangat mengetahuinya tapi sekedar untuk memanfaatkannya.
Para fundamentalis agama menurut saya hanya sebuah pion yang digunakan oleh tangan-tangan haus darah ini untuk mencapai tujuannya. Dalam In The Name of Identity, Amin Maalouf menyatakan bahwa kompleksitas latar belakang akan membentuk identitas seseorang. Dan celakanya hampir setiap orang mempunya kecenderungan untuk mengekspresikan identitasnya itu meski dengan kadar yang
berbeda-beda. Para Fundamentalis agama mungkin adalah golongan orang-orang yang ingin menunjukkan dirinya secara berlebihan.
Mereka hanya menyitir ayat-ayat kitab suci mereka yang ’sekilas’ membenarkan perbuatan mereka. Mereka tak pernah mengupas bagaimana banyaknya ayat-ayat yang mengajarkan cinta kasih, toleransi, perdamaian, tolong-menolong, ajakan berbuat baik, zakat dan sebagainya. Bagi mereka, mungkin orang-orang berbeda agama lain adalah sebuah ancaman.
Well, tapi semuanya keputusan memang ada di hati kita masing-masing. Kamu bebas memilih jadi Yahudi, Nasrani, Hindu, Budha, Konghucu, Sikh, atau Islam seperti saya. Saya tidak akan merecokinya. Hanya, tanyalah pada hati anda, Kenapa Beragama? Setelah itu, jawablah dengan kejujuran sebuah nurani.
Jazakumulloh Khoiron Katsiro

Komentar»

1. bcauseiloveu - November 4, 2007

masyaallah…sekali nulis panjang amat. ngamuk ya?

2. ciptabiru - November 5, 2007

soalnya pengin bikin buku. ini baru sebagian kecil dari rencana