Balada Para Pria Setia November 30, 2007
Posted by ciptabiru in Umum.1 comment so far
Empat lelaki setia dihianati wanita yang mereka cinta.
Lelaki pertama setelah tiga bulan bersama
Lelaki kedua setelah enam tahun mengikat sumpah setia
Lelaki ketiga setelah sembilan tahun bercinta
Dan lelaki keempat setelah tanggal pernikaan didepan mata
Semuanya meradang bagaikan binatang jalang
Semuanya meratap hilang tatap
Semuanya terserpih laksana butiran buih
Semuanya tersekap dalam beribu sedih
Mengurung diri berbalut perih
Ketegaran…
Kegagahan…
Kemaskulinan..
Kedigdayaan
Semuanya hilang
Semuanya musnah
Semuanya sirna
Semuanya lenyap
Masihkan dunia menyetempel kita dengan kata biadab
Jika kita bertahan dan kemudian terjerembab
Masihkah dunia juga menempeli kita dengan label penjahat
Jika kita setia pada munajat
Oh dunia…
Seandainya kau dikenal dengan maskulin
Mungkin kami tak akan dicap sebagai maling
Oh dunia…
Seandanya kau bersimbol pria
Mungkin kami tak akan pernah celaka
Ditinggal para wanita yang kami cinta
NB : Kisah para lelaki setia ini sedang aku buat novelnya. Untuk konsumsi sendiri sebenernya. Soalnya itu kisah nyata temen-temenku yang kebetulan pada curhat padaku beberapa bulan belakangan ini.
Kalo sudah selesai, rencananya mo tak terbitin di blog ini. Tapi sampe sekarang belum juga selese. Mungkin dalam sebulan ini bisa selesai.
EGOIS November 15, 2007
Posted by ciptabiru in Bahasa, Filsafat, Umum.2 comments
Egois. Bagaimana kita bisa memaknai satu kata ini agar-agar benar-benar tepat? Katanya dari makna harfiahnya, egois berarti orang yang mementingkan diri sendiri. Ini berasal dari kata ego yang berarti diri sendiri; diri pribadi; keakuan. Sifat mementingkan diri sendiri kemudian disebut sebagai egoisme. Sesuai tambahan kata isme di belakangnya, egoisme kemudian berubah menjadi sebuah paham. Paham yang mengagungkan diri sendiri.
Menurutku, kalo mau jujur, sebenarnya egoisme murni itu tak pernah ada. Maksudnya, seperti juga benar-salah, tidak pernah ada nilai absolut untuk makna egois. Kenapa demikian? Karena pada dasarnya seseorang itu memang secara kodrati diciptakan sebagai makhluk sosial. Artinya, dia tak bisa hidup sendirian saja. Selalu membutuhan orang lain, betapapun kecilnya lingkup pergaulan yang diakrabinya. Karena itulah kemudian aku menyebut ini sebagai ketidakmungkinan sebuah egoisme secara total.
Maksudku begini. Seseorang memang cenderung mementingkan dirinya sendiri. Tapi dalam setiap keadaan, sesungguhnya bukan murni dirinya sendirilah yang dijadikan pusat untuk meneguhkan sebuah pendirian ataupun sikap sehingga dia dicap sebagai orang yang egois.
Ambil contoh begini. Sabtu besok, sahabatku mau menikah. Aku sebenarnya sudah pernah berjanji mau menghadiri pesta pernikahannya. Maksudku, peristiwa itu memang aku anggap sebagai peristiwa yang penting sekaligus sakral bagi dia. Sebuah pernikahan adalah prosesi yang oleh siapapun, hanya ingin dilakukan hanya sekali dalam hidupnya. Saat membuat janji ini, kondisiku belum seperti ini. Aku masih beranggapan setiap saat aku ada waktu untuk dia. Bahkan sekalipun dunia mendadak dilanda angin topan, aku merasa bisa tetap menghadiri pernikahannya. Itu pemikiranku pada saat itu.Tapi kemudian keadaan berubah. Aku bekerja. Dia balik ke Jakarta. Aku sibuk dengan pekerjaanku dan dia otomatis juga memilih Jakarta sebagai tempatnya untuk melangsungkan pernikahannya. Saat hari H pernikahannya, ternyata aku ada seabreg agenda yang harus aku lakukan. Dan itu tak bisa tidak harus aku lakukan sendiri. Tak bisa diganti orang lain. Jika aku tak berangkat, aku pasti dicap sangat egois oleh dia. Sebaliknya kalau aku bernagkat, aku akan dicap egois dan hanya mementingkan kepentingan pribadi oleh rekan-rekan kantor. Itu belum termasuk adik-adik angkatanku yang menginginkan aku untuk menjadi pemateri dalam diksar, plus mendatangi acara launching di Jogja. Semuanya terjadi pada hari Sabtu. Pilihan mana yang tidak akan membuatku tidak dikatakan sebagai orang egois? Aku juga tak mungkin menghindari semua kegiatan itu. Karena itu justru akan semakin membuat mereka kompak menyebut aku sebagai orang yang egois. Celakanya, aku juag tak mungkin membagi tubuhku menjadi empat atau lima untuk menghindari cap egois itu sekaligus.
OK, sekarang kembali ke topik.
Sekarang aku ambil contoh lain. Napoleon Bonaparte, atau Hitler, atau Benito Musolini, atau Idi Amin Dada. Bagi sebagian besar orang di muka dunia, mereka adalah para diktator yang sangat mengagungkan keunggulan ras mereka. Keegoisan mereka dengan keunggulan yang diklaim dimiliki rasnya membuat mereka menganggap orang lain hanyalah sampah. Tapi bagi rasnya, bagi pengikutnya, mereka adalah pahlawan. Mereka adalah orang-orang yang mau berjuang mati-matian menegakkan kepentingan bersama di atas kepentingannya sendiri.
Komunitas gereja vatikan adalah contoh lain yang sangat jelas. Karena alasan kemurnian ajaran yang mereka pegang, mereka telah melakukan kebohongan besar selama 2000 tahun lebih. Menganggap bahwa Yesus adalah sosok ilahiah meski bukti-bukti sudah tak bisa disangkal lagi bahwa dia hanyalah anak manusia. Bagi semilyar penganut Kristenitas, mereka adalah orang-orang yang mendarmabaktikan hidupnya atas nama kebenaran dan kebaikan. Tapi bagi orang-orang yang sadar, mereka tak ubahnya sekelompok orang yang egois untuk kepentingan tertentu.
Inilah yang kemudian saya sebut sebagai relativitas. Jadi dalam ilmu psikologipun relativitas berlaku. Ini bisa terjadi karena perbedaan cara pandang. Konon, kebenaran kan memang disesuaikan dengan kekuasaan yang sedang berlaku. Bisa saja saat ini benar, tapi saat kekuasaan ebrganti, salah bisa benar dan sebaliknya.
Dalam kasus kecil yang menimpaku, tampaknya itu tidak bersinggungan dengan masalah kekuasaan. Mungkin variabel yang lebih tepat untuk menterjemahkan makna benar dan sekaligus EGOIS itu adalah waktu. Ya, waktu kadang akan menjawab berbagai pertanyaan yang tak bisa terjawab sekarang ini. Waktu juga kerap menjawab berbagai prasangka dan tuduhan.
Jadi, kemudian biarlah waktu yang akan menentukan apakah aku egois atau tidak. Karena tidak ada egois yang absolit. Pun demikian dengan kebenaran.
Dan Lalu Senyap…. November 14, 2007
Posted by ciptabiru in Tidak terkategori.1 comment so far
Dua hari hanya tidur dua jam. Sungguh bukan pengalaman yang menyenangkan. Apalagi itu terjadi hanya dua hari menjelang tanggal yang sama dengan 28 tahun lalu saat aku pertama kali membuka mata melihat dunia.
Emang ngapain aja? Pertanyaan inilah yang sampai saat ini tak berhasil kujawab. Tidak bisa tidur. Kalau jawaban ini yang kuberikan, otomatis orang akan bilang ’ya iya lah’. Orang cuma tidur dua jam kok mau ngako bisa tidur. Kalo emang bisa tidur, pasti tidurnya nggak cuma dua jam.Kalau ku ingat-ngat, Aku memang memulai hari dengan buruk. Pukul 15.00 (aku memang biasanya menghitung perulaan hari dari jam ini. Soalnya jam bilogisku memang sudah berubah. Kerja malem membuat siang hari lebih banyak kumanfaatkan untuk beristirahat.) aku bangun dengan kepala berdenyut-denyut setelah tidur hanya satu jam. Aku tak begitu ingat sesiangan aku ngapain aja. Kalo nggak salah, pas pulang kantor pukul 03.00 pagi aku melihat kamarku sudah penuh orang. Temen-temen adikku tidur di situ. Alhasil aku nggak kebagian tempat tidur. Membaca akhirnya aku jadikan pelarian. Kebetulan waktu itu aku lagi menyelesaikan novel Deception Point-nya Dan Brown. Sampai pukup 05.30, mataku tak kunjung terpicing. Akhirnya aku memilih keluar dan menjemput sibungsu untuk berangkat ke sekolah.
Pulang nganter, tetep saja mataku nggak bisa kupejamkan. Melanjutkan membaca novel lagi-lagi menjadi pilihan. Begitu terus sampai pukul 11.00. Pas mata sudah mulai mengantuk, tiba-tiba datang temenku. Celakanya, dia mengajakku muter-muter. Mau nolak nggak enak. Akhirnya keluar dengan mata sembab. Jam 13.00 pulang, dan aku kembai melanjutkan membaca. Tak tahu jam berapa, aku terlelap. Perkiraanku mungkin sekitar pukul 14.30-an. Suara alarmlah yang kemudian membangunkanku untuk segera mencelat pergi ke GOR untuk liputan sepak bola.
Hujan, capek karena kurang tidur dan kaki yang sakit karena kedinginan membuat hati tambah bete. Apalagi sampe ke kanto,r ternyata listrik padam hanya setengah jam setelah aku menyalakan komputer. Alhasil tertimbunlah semua kutukan di ubun-ubunku. Jam 22.00, listrik baru bisa menyala. Kerjaan pun akhirnya molor. Pukul 04.00 baru bisa selesai. Celakanya saat pulang, aku sudah tidak bisa tidur. Seperti biasa, membaca kembali menjadi pelarian. Siangnya, kejadian sehari sebelumnya kembali terulang. Tak bisa tidur, temen datang ngajak muter-muter dan kali ini ditambah nonton film.
Rasa capek luar biasa sudah membuat aku menyerah. Akhirnya pukul 01.30 aku terlelap. Tepat 1.5 jam setelah pergantian tanggal. Aku melewatinya dengan kesenyapan. Tidak ada ucapan selamat ulang tahun. Tidak ada SMS. Hape aku matikan, e-mailpun tak kutengok. Aku juga tak punya orang yang kuharapkan untuk mengucapkannya. Tak ada seseorang yang aku anggap spesial kecuali dua adikku. Dan aku tahu mereka tak akan ingat hari ulang tahunku. Siang harinya baru kubuka hapeku. Ada Iin, Desi, Iid, Cenul dan dua nomor lain yang tidak aku tahu siapa pemiliknya. Di friendster, ada Toro, Imam dan Toto yang juga mengucapkannya. Thank you all guys!!
Aku tidak tahu apa maknanya ini. Tapi aku merasa ini akan menjadi awal kesunyianku yang panjang.
Buku Murah!! November 7, 2007
Posted by ciptabiru in Umum.add a comment
Nafasku mendadak sesak, mataku berkunang-kunang. Aku mencoba menghirup sebanyak mungkin udara dari sekelilingku. Tapi ruangan itu seperti telah berubah menjadi sebuah ruang hampa udara. Orang-orang yang tadinya hilir mudik tampak mengecil. Mereka seolah-olah menjadi jauh. Aku ingin berteriak. Tapi tipisnya oksigen di ruangan ini membuat kerongkonganku serasa tercekik. Panas dan kering. Aku mulai melihat kabut berwarna kuning keunguan memenuhi tempat ini. Aku yakin, sebentar lagi aku akan berada entah dimana. Di sebuah tempat yang sama sekali tak kukenal.
Namun tiba-tiba sebuah benda raksasa seperti menghantam punggungku. Ajaibnya, itu membuat kesadaranku kembali. aku kembali melihat hilir mudik di sekelilingku. aku kembali mendapat oksigen. aku menghirupnya dalam-dalam. merasakan senyawa O2 itu menempel di setiap keping darahku. Ya ampun, apa yang telah terjadi? “Hei, kau tidak apa-apa? Kau mendadak kelihatan tak sehat,” temanku menyadarkan aku dimana aku sekarang. Rupanya benda raksasa yang menghantam punggungku adalah tangannya yang menepuk punggungku. “Ya, aku baik saja,” gagapku.
“Kau seperti baru saja melihat setan. Mukamu pucat pasi dan, hei kau berkeringat?!” heran temanku. Aku tak menjawab kali ini. Pandanganku masih terpaku pada ’sesuatu’ di depanku. Temanku rupanya mengikuti arah pandanganku.
“Itu hanya sekumpulan buku. Tak ada yang menakutkan dari buku-buku itu,” katanya heran. Aku masih tak bisa berkata-kata. “Itu karya-karya Dan Brown. Memangnya ada yang aneh dengan buku-buku itu?” kejarnya lagi. Mataku masih terpaku. dan mulutku tak bisa bergerak. Padahal ada yang ingin sekali kuungkapkan. Rasanya kata-kata itu sudah menggantung di langit-langit mulutku. Tapi engsel-engsel rahangku tak mau membuka.
“Kupikir kau sudah pernah membacanya. Kau pernah bercerita tentang kelompok Iluminati yang berencana menghancurkan gereja Vatikan dengan sebuah bom antimateri. Kau juga pernah menceritakan tentang kebohongan besar gereja akan ajaran yang mereka sebarkan dalam dua milenium ini. Kebohongan itu tersimpan dalam kode-kode rahasia yang dibuat oleh para seniman nomor satu di dunia seperti Da Vinci dan sebagianya. Memangnya ada lagi yang belum kau ceritakan?” temanku masih nyerocos.
“Bu…bu…,” sebuah suku kata yang lebih terdengar sebagai suara orang gagu keluar dari mulutku. Membuat seorang perempuan yang lewat di depanku memandangku dengan aneh. Aku tahu, dia bukan atau setidaknya belum pantas dipanggil dengan sebutan (I)bu. Tapi aku memang tak berniat memanggilnya dengan sebutan itu. “Aku ingin mengeluarkan kata-kata yang lain. Bukan sedang mengejekmu dengan sebutan Ibu,” rutukku membantin.
“Heh, kau jangan ngawur. Masa seenaknya saja memanggil perempuan cantik muda belia begitu dengan sebutan ibu,” bentak temanku di telingaku dengan bisikan kuatnya. “Dia masih pantas menjadi adik angkatan kita kalau di kampus,” bisik temanku masih membentak.
Mataku mendelik protes. “Itu juga bukan maksudku. Aku sama sekali tak ingin memanggilnya dengan sebutan itu,” balasku. Namun kali ini lagi-lagi hanya di dalam hati.
“Kau masih melotot pada buku-buku itu. Aku pikir tetap tak ada yang aneh. Itu karya Dan Brown yang lain. Digital Fortress, bukankah kau juga sudah membacanya. Tentang pembajakan mesin pemecah kode (cryptograf) paling canggih milik CIA.
Tiba-tiba sebuah tangan raksasa kembali menghajarku di punggungku. “BUKU MURAH…!!” tiba-tiba ada suara berteriak sangat keras. Aku tidak tahu dari mana suara itu. Tapi semua mata memandangku. “Kenapa sekarang giliran mereka yang seperti melihat hantu? batinku. Temanku mendadak menghilang. Aku celingak-celinguk sendiri.
“Dasar norak!” bentak temanku. Masih dengan bisikannya. “Kenapa kau berteriak seperti itu. Memalukan sekali!” semprotnya masih dengan berbisik. Matanya jelalatan. Memastikan sudah tak ada orang yang melihatnya. Padahal dia tahu semua orang masih memperhatikanku.
“Emangnya ada apa?” tanyaku polos.“ADA APA? Kau bertanya ADA APA? kau baru saja membuat mukaku menjadi rata karena rasa malu. Dan kau bertanya ada apa?” Kulihat mata temanku melotot. Tapi hanya bisikannya yang menusuk telingaku.
Aku melihat berkeliling. Dan aku baru sadar ketika perempuan yang mengira dirinya dipanggil Ibu olehku nyeletuk. “Baru pernah ke pameran buku ya mas?” cetusnya. Tampaknya ucapannya itu membuatnya puas. Setidaknya untuk membalas panggilan Bu yang sama sekali tak kutujukan padanya.
“Ehm,…,” aku bergumam. Tadinya aku ingin mengatakan sesuatu. Tapi kemudian aku memilih berjalan ke depan. Aku mengambil empat buku karya Dan Brown dan membayarnya dengan tiga lembar uang Rp 50.000-an. Si penjaga stand memberiku uang sepuluh ribuan. Setelah itu aku pergi. Tanpa melihat sekelilingku. “Buat apa susah, wong aku sudah dapat buku murah,” batinku.
Buku ini sudah jadi incaranku sejak lama. Selama ini tak bisa kubeli karena harganya Rp 79 ribu sebuah. Begitu kulihat di pameran seharga Rp 35 ribu. Tentu saja aku shock. He…he…. Peduli amat dengan kehebohan yang sudah aku timbulkan.Wis ngono thok!
How close are we?(with Homosex) November 5, 2007
Posted by ciptabiru in Tidak terkategori.2 comments
Have U ever thinking, that sometime maybe we are so close to the kondition called homo sexual (or maybe it’s exactly more common called habbit?). Yup, I think semua orang sebenernya punya kecenderungan untuk berperilaku sebagai homoseks, apakah itu lesbian atau gay.
Mungkin kamu bakal langsung protes dengan ide ini. It’s Okay. I mean, it’s doesn’t realy matter to me. Karna itu suatu yang wajar-wajar saja, sepanjang anda itu memang orang yang wajar dan waras. (Sory buat kamu yang merasa sebagai bagian kaum homoseks. Aku bukan sedang menjudge kamu sebagai tidak waras atau tidak wajar. Tapi bagi orang ‘normal’, anda itu memang bisa dibilang nggak wajar dan nggak waras, atau irasional.)
Anyway, back to the topic. Meski banyak orang bilang kalau homoskes itu sebagai penyimpangan atau ketidaknormalan, tapi sebenernya kita semua punya bakat dan kecenderungan ke arah itu. “Jadi Homoseks?” Yes it is. Ih…ngeri bgt. Gini, sadar nggak sadar, sebenernya kita kadang menilai orang yang sebenernya punya jenis kelamin sama kayak kita. Misalnya pas liat Brad Pit maen di pilem Mr & Mrs Smith. “Busyet…tuh Brad Pit keren banget. Coba ku bisa kayak dia, pasti banyak cewek yang nempel. Barangkali Angelina Jollie juga bakalan nempel ke aku? Eh, ada lho yang ngomong begituan, meski cuma di dalem hati. Ato pas lagi ngliat Tora Sudiro di film Arisan. Ehm..Tatonya bow! Cool bgt!! (Huek…Muntah aja kalo pengin. Aku udah duluan kok)
Dan asal kamu tau, yang membatin beginian bukan cuma cowoknya, cewek juga banyak yang berandai-andai jadi Pamela Anderson misalnya, dengan Toket segede Semangka ato JeLo dengan Bokong (maaf, jorok dan vulgar banget ya. Ya udah, tak ganti Pantat aja deh) yang super gede. Kagum? So pasti.
Pembatinan-pembatinan begituan, sadar ato nggak ternyata merupakan sebuah reflek kesadaran dan kekaguman yang muncul dari alam bawah sadar manusia akan ketertarikan pada jenisnya sendiri. Mungkin kamu akan berkelit, “Ah, kita kan cuma mengandaikan begituan, biar lawan jenis lebih tertarik,”. Tapi menurutku, itu adalah sinyal tak sadar yang muncul dari lubuk hati yang paling dalam.
Homoseksual sendiri kan sebenarnya memang udah ada sejak dulu banget. Sejak jamannya nabi Lut malah. Kaum Tsamud dalam Al-Qur’an dan beberapa kitab suci agama-agama menyebutkan bahwa kaum itu dijungkir balikkan dari bumi karena melakukan praktek homoskes tersebut. Bukan hukumannya yang aku soroti, tapi bahwa kebiasaan dan kecenderungan itu memang selalu muncul di setiap perjalanan sejarah manusia.
Trus pas lagi sendirian, aku juga kadang mikir, apa aku punya kecenderungan homo ya? Oh tidak. Aku kan seneng cewek, dan selalu membayangkan bisa melakukan hal-hal seperti yang dilakukan lelaki pada umumnya. You know lah….Hanya saja, sampe saat ini aku emang lebih banyak jalan sama cowok. Oni, Fuad, Heni (Dwi Cahyo nama lengkapnya), Toni, Kuat dan sebagainya, sekilas memang menegaskan anggapan dan ketakutan itu.
Kalo kemudian sampe umurku yang mau 28 ini aku belum punya cewek, aku absolutly yakin ini bukan karena aku hombreng. Sumpah deh, aku sama sekali nggak kebayang pacaran sama cowok. (Huekk…huekkk…huekkk. Muntah sampe semua makanan di perut abis. Saking jijiknya membayangkan kita lagi main anggar)
Walah. Kok malah ngomong nggak karuan si. Sebenernya tadinya cuma mo ngomong begini. Tadi siang (posting ini aslinya dibuat tanggal 11 januari 2007) tu aku ketemua sama seorang pria. Ceile…pria koh. Sebenernya lebih tepat dikatakan bin disebut Kakek Tua Bangka (nggak pake keparat si-tadinya) di bengkel. Pas lagi nunggu motor selese diservis, eh ada si kakek itu. Dia terlihat kegum banget sama aku (Sumpeh, ini bukan karena narcisku kumat, taip itu yang dia bilang sendiri). Trus, nggak tau awalnya gimana, dia lngsung mengakrabi aku dengan ngobrol ngalor ngidul.
Semuanya berjalan biasa aja (kayak lagunya trio libels. Mulanya biasa saja…Diantara Kita.. Berdua. Tak pernah ada rasa, cintaaa. Walah…kok malah nyanyi si). Tapi lama-lam ni kakek mulai agak kurang sopan. Pake merab-raba tangan.
“Wah, tangannya kok alus banget sich. Nggak pernah kerja keras ya?” katanya agk-agak genit. “Ya elah si Kakek. Kan udah aku bilang tadi, aku kerjanya make komputer. Mana bisa ni tangan kapalan. Emangnya nyangkul?” batinku. Tapi aku cuma berusaha menarik tanganku. Abis gitu, eh dia semakin kurang ajar. Dia pake meraba pahaku.
“Busyet ni kakek, kok jadi kurang ajar gini si,” batinku lagi. “Wah, kamu seneng olah raga ya. Kakinya kenceng,’ ujarnya lagi. “Ya mpyun nih kakek. Plis dech. Kalo mo ngrayu jangan yang aneh-aneh. Mendingan rayu aku untuk dikasih warisannya ato dikawinin ama cucunya yang cantik dan bahenol sambil ngeleg cendol. Udah jelas-jelas aku nggak pernah olah raga, pake sok tau lagi,” gerutuku.
“Eh, maaf Kek, kayaknya motor saya udah selesai. Permisi sebentar ya” pamitku sopan. Aku langsung cabut ke kasir dan mbayar biay servis. Abis itu, sebagai unggah-ungguh, aku pamit baik-baik (lagi? ketagihan kali ya). Tau nggak, dia keliatan kecewa banget aku tinggalin. Tapi sebodo amat lah. Dari pada dihombrengin kakek TBK (Tua Bangka Keparat!-Akhirnya aku tega menggunakn istilah ini) mendingan…KABUUUR……
Mewaspadai Metode Anihilasi Zionis Yahudi November 5, 2007
Posted by ciptabiru in Tidak terkategori.add a comment
ini adalah mysteri lain yang selalu menggangu hidupku sekitar delapan tahun belakangan…..
selama hampir seminggu ini, tanpa kenal lelah, (ceile…) aku mengunjungi book fair. sebenarnya alasan paling tepat adalah mendapatkan buku sebanyak-banyaknya dengan duit sesedikit mungkin. ya. ini prinsip ekonomi. nyatanya prinsip yang dikeluarkan para kapitalis ini lumayan berguna. dengan duit sekitar Rp 300-an ribu, aku sudah mendapatkan 22 buku. jumlah yang tidak mungkin aku dapat dalam kondisi normal di Purwokerto, kota kecil yang konon dicap sebagai kota pelajar, tapi tak punya toko buku yang qualified (eh, tapi barusan, sore ini, katanya toko buku gramedia buka di Sri ratu. kabar baik untuk menghabiskan 10 persen gajiku tiap bulan).
OK, balik lagi ke book fair. seperti pameran (aku sebenernya tidak begitu sependapat dengan istilah ini. mungkin lebih tepatnya istilahnya jualan bareng dengan permainan diskon yang kelihatannya sangat besar. yang kalo diitung-itung, mereka pasti tetep aja untung) sebelumnya, pameran kali ini juga menyajikan ribuan jenis judul buku dari sekitar 200-an penerbit. ada buku tentang pertanian, peternakan, budi daya tanaman x atau hewan z, teenlit, kumpulan cerpen, buku-buku pembangkit motivasi, novel islami model ayat-ayat cinta, buku-buku berbau ‘kiri’ dan novel-novel penghujat kristenitas.
dua jenis buku terakhir adalah yang paling menarik perhatianku. saat pertama kali The Da Vinci Code muncul, dunia geger. pengungkapan fakta-fakta berupa tempat-tempat bersejarah di seantero Perancis dan Inggris yang dijalin lewat kejeniusan (khas Yahudi) pilihan kata-kata Dan Brown membuat fiksi yang dikarangnya seolah adalah nyata. Ya. Yesus Kristus yang diyakini oleh orang-orang Nasrani sebagai Tuhan ternyata hanya manusia biasa.
tidak ada sifat keilahian seperti yang dipercayai jutaan penganut kristenitas di seluruh dunia pada diri Yesus. Lebih dari itu, Yesus ternyata punya anak dan istri. sebuah kenyataan yang selama ini sangat ditutup rapat-rapat oleh orang-orang vatikan melalui jutaan gerejanya yang tersebar di delapan penjuru mata angin.
parahnya lagi, agama ini lewat beberap bukti terakhir (hasil penelitian dan penelusuran sejarah, telah ditemukan tulisan Yesus sendiri, injil tulisan maria magdalena dan bukti adanya makam Yesus di Kashmir Pakistan) ternyata hanya merupakan “kesepakatan yang telah direncanakan oleh sekelompok orang melalui Konsili Necea pada tahun 300-an”. bagaimana mungkin, agama yang sudah mempengaruhi jaman sampai 2 milenium ini ternyata hanya hasil pemikiran orang-orang yang gila hormat di vatikan sana?
Dan Brown mengawali sebuah gelombang penghujatan dan munculnya skeptisme atau bahkan apatisme terhadap agama yang dibawa ’sang juru selamat’ itu. gelombang protes sama hebatnya dengan keragu-raguan yang dimunculkannya. dewan gereja berlomba-lomba membongkar kelemahan dan kebohongan (kalo memang harus dikatakan demikian) Dan Brown. Tapi anehnya, bukannya menghilang. buku-buku dengan tema dan bahkan sampul yang mirip dengan The Da Vinci code bermunculan di semua toko buku. kita pasti bisa menebak, kalangan gereja semakin kalang kabut dibuatnya.
topik atau buku kedua yang sekarang ini sedang marak adalah buku bernada ‘kiri’. istilah kiri ini dipakai untuk menggantikan kata komunisme, fasisme, sosialis dan nazi yang dianggap kiri, sementara haluan agama disepakati sebagai aliran kanan. sedang demokrasi, digembar-gemborkan sebagai aliran paling baik. ada di tengah. aku sendiri lebih senang menamakan buku-buku itu sebagai buku merah. soalnya ada dominasi warna merah selain warna hitam. biasanya bergambar swastika atau palu dan sabit sebagai lambang nazi dan komunis.
keberhasilan dan kehebatan fidel castro, che guevara, hitller dengan nazi-nya, Sukarno, benito musolini dan tokoh-tokoh yang tak sehaluan dengan demokrasi kembali marak dibukukan. seoalah ada sebuah belenggu yang tercerabut, membebaskan buah pikiran karl mark dan charles darwin menjadi inspirasi sekaligus alternatif bacaan bagi semua orang yang bisa membelinya.
Aku yakin ini pasti ada apa-apanya. kita mesti ingat tujuan utama zionisme adalah menghancurkan semua agama dan tatanan mapan yang ada di semua tempat. cita-cita mereka satu, mewujudkan sebuah koloni besar dunia dengan satu pemerintahan. ingat istilah novus ordo scholarum di uang satu dolar Amerika dengan gambar pyramid yang diawasi sebuah mata bercahaya? ya. mereka menginginkan sebuah pemerintahan global yang diperintah oleh raja mereka, sang Dajjal.
memunculkan kembali faham sosialis dan fasis atau bahkan keraguan atas keabsahan agama kristen aku yakin adalah sebuah skenario besar yang mereka susun. ini hanya langkah kecil yang sedang mereka buat. bukan tidak mungkin, setelah ini ada novel yang menghujat Islam seperti karya Salman Rusdie dengan Ayat-ayat Setannya beberapa waktu lalu.
sebagai sebuah wacana, kita boleh lah membaca buku-buku itu. artinya cuma sebatas mengerti untuk mewaspadai, langkah apa yang akan diambil para agen Iblis itu. setelah itu, kewaspadaan ekstra besar mesti kita buat dan jalinan persaudaraan antara umat Islam mesti kita kencangkan. tujuannya satu, menangkal dan menghancurkan zionisme dari muka bumi. berperang dengan mereka sampai titik darah penghabisan.
sebenarnya bukan hanya ini yang peru kita perhatikan. lihat tayangan di televisi, berita di koran dan berbagai opini publik yang dibuat oleh penguasa media. semuanya mengarah pada kebebasan mengeluarkan pendapat yang kebablasan, yang suatu saat bisa mengakibatkan anihilasi. penghancuran.
Nomor Mysterius November 5, 2007
Posted by ciptabiru in Tidak terkategori.add a comment
Bagian Kedua
Hari ini sudah tanggal 3 Januari 2007. Dan Aku belum bisa memutuskan untuk mengambil sebuah tindakan dengan mimpi aneh yang aku alami selain menceritakannya pada beberapa orang. Wahyu- pacarnya mas Asidi, Mba’Upik dan Mega serta Heni dan Ennie. Semuanya hanya mengira hal itu sebagai bunga tidur karena aku terlalu senang melihat film kartun dan fiksi. Meski begitu, Ennie punya ide agak gila dengan menyuruhku segera menelpon nomor itu. Dia menerka bahwa itu mungkin saja adalah nomor yang akan membawaku pada seorang wanita atau mungkin putri yang akan menjadi jodohku. Ato mbak Upik yang menganggap itu adalah nomor buntut yang super bener dan bisa bikin aku kaya raya. But I don’t think so. Aku tidak berpikir demikian.
Kalau ceritanya seperti itu, itu akan terlalu mudah ditebak endingnya. Aku yakin ini sesuatu yang lebih rumit. Ini bukan cerita ala pangeran kodok atau putri salju yang mendaptkan putri atau pangeran impiannya dengan jalan yang ajaib seperti itu. Aku yakin ini adalah misteri-misteri tak terjawab yang kadang memang muncul dalam kehidupanku.
Aku ingat. Suatu saat ada seorang laki-laki yang berkunjung ke rumah kakak pertamaku, rumah dimana dulu aku tinggal. Dia adalah guru spiritual kakak laki-lakiku dan kakak sepupuku di tangerang. Keanehan terjadi saat kami bertemu. Laki-laki iu menatapku beberapa saat lamanya saat aku masuk ke kamarku. Tapi tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Meski aku tersenyum, dia seperti tak melihatnya. Karena merasa tak respek dengan dia, akhirnya aku memilih mengurung diri di kamar sambil mendengarkan radio.
Dikemudian hari aku tahu nama laki-laki itu adalah Pak Yanto. Itu baru kuketahui saat kakakku memanggilku. Katanya ada hal penting yang mau dibicarakannya.
“Bi, kamu tahu laki-laki yang kemarin di sini,” kata kakakku memulai pembicaraan.
“Tidak. Dan aku rasa aku tak ingin melakukannya,” jawabku acuh.
“Melakukan apa? Tanya kakakku agak penasaran.
“Mengetahuinya. Itu tak ada untungnya bagiku,” kataku.
“Dia Pak Yanto. Dia guruku dan Mas Anto. Kami menyebutnya guru spiritual. Kami sering ke rumahnya untuk mengaji,” bebernya tanpa kuminta.
“So. Apa kaitannya denganku,” ujarku tak sabaran.
“Dia berpesan agar kau menjaga segala ucapan yang keluar dari mulutmu,” katak kakakku. Begitu mendengar kalimat terakhir ini, aku langsung mengangkat kepalaku dan menoleh ke arah kakakku. Aku memang tak mengacuhkannya saat berbicara.
“Apa haknya mengatur apa yang akan kukatakan. Dia sama sekali tak berhak,” jawabku agak kesal. Agaknya jawabanku sudah diperkirakan oleh kakakku. Terlihat dari sikapnya yang tetap tenang melihat sikapku yang mulai marah.
“Dia tidak mengaturmu. Dia hanya mengingatkanmu. Itu juga kalau kamu mau. Kalau tidak mau…
“Kalau tidak mau kenapa? Apa dia akan mengguna-gunaiku dengan mantra tenung?” potongku ketus.
“Aku tidak takut. Memangnya siapa dia. Aku sama sekali tak punya sangkut paut dengan dia. Kalaupun ada, ini hanya karena aku adikmu. Lain tidak. Jadi jangan coba mengatur-ngaturku,” semburku lagi.
“Kamu terlalu curiga. Aku belum lagi menyelesaikan ucapanku, dan kau sudah memotongnya. Aku hanya akan berkata, kamu bebas menentukan sikap dan tindakanmu. Pada saatnya nanti, kamu bertanggung jawab penuh dengan semua tindakan yangkau perbuat. Orang lain tidak bisa mencampurinya. Itu saja,” terang kakakku. Nafasnya kelihatan memburu menahan marah. Tapi dia hanya menghirup nafas panjang. Meredakan api yang ada di dalam dadanya.
Tanpa berkata apapun aku pergi meninggalkannya. Sejak itu, aku agak kurang suka kepadanya. Dan dengan sendirinya ini membuat hubungan kami jadi agak renggang.
Bulan berlalu dan tahun berganti. Aku akhirnya melanjutkan pendidikanku ke perguruan tinggi. Nothing special with my life so far. Sampe pada suatu ketika (aku agak lupa kapan tepatnya, mungkin sekitar ahun 2000 atau 2001) aku ikut menjadi panitia kegiatan PSP (aku agak lupa kepanjangannya apa, mungkin Penghayatan Sejarah Perjuangan?). Ini semacam kegiatan napak tilas perjuangan pejuang-pejuang Banyumas dengan cara melakukan perjalanan mereka melalui sebuah rute.
Waktu itu kita memilih rute perjuangan Gatot Subroto. Untuk mendukung data yang valid dari rute perjuangan atau rute gerilya sang Pahlawan, kami harus melacaknya pada beberapa tokoh pejuang yang masih hidup. Aku ke Banjarnegara, ke Gedung Joeang 45 yang ternyata sudah rata dengan tanah karena baru sekitar seminggu terkena angin puyuh. Tapi di sini aku bertemu dengan ketuanya, namanya pak Sugeng. Dari sini, kami melanjutkan pencarian data ke Semarang, yakni ke sekretariat gedung juang 45 di Semarang. Setelah itu, kami juga ke Jakarta untuk menelusuri arsip di gedung Juang 45 Jakarta sekaligus meminta doa restu dari para pahlawan yang saat ini masih hidup.
Well, semua berjalan dengan lancar. Tak ada halangan berarti selain rasa capek dan waktu kuliah yang tersita banyak untuk urusan ini. Tapi kami seneng. Paling tidak kami berharap bisa memberikan sesuatu yang berarti pada negara bila acara ini berhasil kelak. He…he…he…, patriotik banget kelihatannya. Tapi bener, saat itu yang kupikirin cuma itu. “Kalo acara ini bisa sukses, mungkin aku bisa menyenangkan arwah para pahlawan yang saat ini sudah berada di alam lain sekaligus bisa memberikan sebuah ingatan pada generasi sekarang akan susahnya perasaan para pahlawan saat mereka berjuang, berkejaran dengan penjajah Belanda dan Jepang.”
Setelah semua data terkumpul, kami mulai melakukan survey awal. Kebetulan waktu itu aku menjadi tim survei untuk kegiatan sosial yang akan diadakan di sela-sela acara. Nah keanehan terjadi waktu aku dalam perjalanan dari desa Rejasa ke Bobotsari. Berboncengan dengan Tuti Gendut, anak Capra Pala, aku menyusuri jalan selebar 3 meter yang membentang di jalur itu. Di tengah perasaan capek dan lelah, emosiku memang agak naik saat itu. Ketika ada seorang pemuda dengan sepeda motor bersuara cempreng, aku mengutukinya supaya sepeda motornya mati saat itu juga. Dan anda tahu apa yang terjadi. Sekitar seratus meter kemudian, aku melihat pemuda dengan motor bersuara compreng itu sedang jongkok memeriksa bagian mesin motornya. “Rasain!” batinku.
Perjalanan berlanjut. Saat melintasi jalan yang naik turun, lagi-lagi ada sebuah sepeda motor yang menyalipku. Kali ini modelnya trail dengan suara yang lebih memekakkan telinga. Emosi disalip dengan tidak sopan, aku mengejar sepeda motor itu. RXZ putih yang kupinjam dari Senthe langsung menyalipnya. Tapi rupanya laki-laki yang mengendarainya tidak terima seperti halnya aku. Dia kembali menyalip sambil menggeber-geberkan gasnya. Akibatnya suaranya langsung mengisi penuh telingaku. Aku melambatkan laju motorku sambil memendam rasa dongkolku.
“Lihat saja. Di tanjakan berikutnya motor itu pasti njungkel,” kataku pada Tuti yang berada di belakangku. Aku kemudian melanjutkan memacu motor dengan kecepatan sedang. Dan sekitar tiga menit kemudian aku melihat sebuah motor terkapar di tanjakan dengan pengendaranya berlumuran darah karena terguling.
“Eh, Bi. Dua kali omonganmi sangat mandi (manjur-red). Lebih baik kamu berhati-hati kalau bicara,’ ujar Tuti mewanti.
“Biarin aja Ndut, mereka sendiri yang memulai. Anggap saja itu pelajaran yang harus mereka petik karena telah membuat saya sakit hati,” kataku masih emosi.
“Tapi kamu tetap harus berhati-hati Bi. Iya kalo omonganmu hanya sebatas supata yang tak terlalu berresiku. Nah kalo kamu nyupatani orang dan orang itu mati, itu kan jadi dosamu,” katanya lagi.
Deg! Mendadak aku seperti diingatkan oleh peristiwa perbincanganku dengan kakakku beberapa tahun sebelumnya. Tapi aku hanya menghela napas. Selanjutnya aku kembali melajukan motor RXZ pinjaman itu dengan kecepatan sedang.
Di sebuah turunan, aku melihat sebuah angkutan pedesaan yang dipenuhi penumpang. Bahkan atapnya juga dipenuhi anak-anak yang masih berseragam sekolah. Beberapa diantara mereka juga bergelantungan pada bagasi yang ada di atas atap dengan menjejakkan kaki pada bumpernya.
“Akan sangat berbahaya kalau koperades itu jatuh terbalik. Pasti banyak yang akan terluka,” batinku.
Tapi kemudian aku segera sadar dan tak melanjutkan ketakutanku. Aku juga tak berani berbalik mengikuti koperades itu untuk membuktikan apakah perkataanku berubah menjadi kenyataan. Aku langsung memacu sepeda motorku dengan cepat tanpa berkata-kata lagi. Selain itu, dengan sangat menyesal, aku juga berkali-kali menarik ucapanku tersebut. (bersambung)
Nomor Mysterius November 5, 2007
Posted by ciptabiru in Umum.add a comment
Sebenernya tulisan ini sudah pernah kuposting di www.mysteriketujuh.blogspot.com, tapi berhubung passwordnya lupa, dan nggak bisa nambahin posting di situ, akhirnya diposting ulang di sini. yang udah pernah baca, sorry ya?!
Bagian Pertama
Penghujung tahun kemarin aku bener-bener mengalami hal yang aneh. Ini seperti sebuah dejafu. You know, sebuah kejadian yang seakan-akan sudah terjadi pada kita, tapi entah dimana dan kapan.
Beberapa bulan lalu, aku sedang mengarang sebuah novel yang sampe sekarang belum selesai. Dalam novel itu, aku membuat cerita tentang seorang laki-laki yang tiba-tiba mendapat SMS aneh dari seseorang, kemungkinan seorang wanita. Dia ingin bertemu. Atau lebih tepatnya harus bertemu dengan laki-laki itu karena harus menyelesaikan sebuah persoalan yang sangat besar. Yang menentukan masa depannya dan dunia. Menganggap bahwa SMS itu adalah SMS iseng, si lelaki tak menanggapinya. Bahkan ketika kemudian nomor misterius itu terus mengiriminya SMS, lelaki itu akhirnya naik pitam dan mengeluarkan kata-kata kasar. Hal yang sebelumnya tak pernah dilakukannya terhadap orang yang belum dikenalnya.
Mimpiku memang tidak sampai tahap itu. Artinya aku memang tidak dikirim SMS misterius seperti tokoh dalam novelku, tapi persamaanya adalah pada hadirnya sebuah nomor yang sangat misterius. Nomor itu terus muncul dalam tiga kali mimpiku. Anehnya, aku memimpikannya di siang hari. Orang bilang kalo mimpi di siang hari, biasanya bukan mimpi biasa (meskipun aku selalu bermimpi kalau tidur siang hari, karena waktu tidurku memang siang hari). Tapi yang aneh adalah mimpi ini muncul sampe tiga kali.
Dan yang lebih aneh lagi, sekarang aku tak pernah bisa tidur lelap sejak mendapat tiga mimpi itu. Sebentar-sebentar terbangun oleh sesuatu yang aku sendiri tak mengetahuinya. Kadang seperti ada sesuatu yang menggigitku. Semacam hewan kecil berwarna hitam dengan taring yang mencuat juga berwarna hitam. Semut? Mungkin saja iya. Tapi aku seperti bisa melihatnya dengan sangat detil. Taring melengkung berwarna hitam yang keluar dari mulutnya, matanya yang merah, mungkin karena rasa marah, dan delapan kakinya yang merayap perlahan tapi sangat mantap. Aku juga melihat sekelilingku kehilangan warna. Aku seperti berada di dunia yang kosong dengan warna gelap yang menyelubunginya. Saat binatang kecil itu menggigit kakiku, aku tak bisa lari menghindar. Dan sesaat itu juga aku terbangun dengan nafas memburu. Keringat membentuk butiran-butiran sebesar biji jagung. Celakanya, saat itu tak ada orang di rumahku. Semuanya pergi. Aku seperti tetap terjerembab di ruang kosong yang gelap meski telah bangun dari tidurku.
Aku bangkit dari peraduanku. Sebuah kasur yang tebalnya tinggal sekitar 5 senti. Perkakas khas anak kos yang langsung bisa menggambarkan betapa tidak enaknya kehidupan. Keras, sekeras kapuk yang hampir rata dengan lantai tegel itu. Kadang ada bunyi ‘thuk’, begitu tulang tempurungku beradu dengan kasur itu. Aku memandang seisi kamarku, yang seperti biasanya, kondisinya seperti kapal titanic yang baru dihempas badai. Baju-baju yang baru dilaundry berserakan di dekat lemari, bercapur dengan celana panjang kotor yang sudah hampir sebulan kukenakan.
Mataku menerawang. Sebuah suasana stasiun tiba-tiba seperti terpampang dihadapanku, seoalah sebuah layar raksasa dibentangkan. Aku tiba-tiba seperti tersedot masuk dalam layar itu, hingga membuatku seperti di dalamnya. Di sebuah stastiun. Ya. Ini memang stasiun. Stasiun Purwokerto. Aku ingat benar dengan pntu peron dari batangan besi yang dilumuri chrom dengan seorang penjaga berkumis di sisinya. Dia akan selalu mencegat setiap orang yang melewatinya dan meminta uang Rp 1.500 untuk ditukarnya dengan secarik kertas kecil. Aku yakin semua orang juga tak akan sepakat dengan pertukaran ini. Tak seimbang dan cenderung tak berguna, karena kau tidak akan mendapat apapun di dalam stasiun ini kecuali orang-orang yang menanti kerabatnya datang atau wajah-wajah lelah yang baru turun dari ular besi.
Aku melangkah ke arah loket, menanyakan tiket Argo Lawu dan Taksaka untuk tanggal 2 Januari. Tapi ternyata semuanya sudah habis. Heran, kenapa sih semua orang harus bersepakat untuk pulang pada tanggal itu. Padahal kan mereka harus sudah sampai pada tanggal itu karena sudah mulai masuk kerja. Aku akhirnya berjalan menuju kafe di samping ruang tunggu eksekutif. Donnut bertabur messes coklat kupilih untuk menemani secangkir kopi susu. Aku tidak sempat mengingat jam berapa waktu itu. Tapi kelihatannya bukan dini hari, seperti biasanya aku sengaja nongkrong di tempat ini usai pulang dari kantorku.
Tiba-tiba seorang lelaki mendekatiku.
“Permisi de’, boleh saya duduk di sini?” tanyanya sopan. Sejenak aku memandang sekeliling, untuk kemudian melirik wajahnya.
“Kafe ini tidak sedang penuh orang, tapi kenapa dia tidak memilih tempat lain? Apa dia memang perlu sesuatu denganku? Atau dia bermaksud jahat?” batinku. Tapi demi sopan santun, aku mempersilahkannya duduk. Ya. Duduk semeja denganku, yang otomatis membuatku merasa kikuk.
“Ade’ mencari tiket untuk tanggal 2 ya. Ini, kebetulan saya punya. Ade’ bisa memakainya,” katanya setelah duduk. Aku langsung berpikir kalao lelaki ini adalah porter yang biasa menjadi calo langgananku kalau kepepet. Tapi demi melihat bajunya, pikiran itu langsung menghilang dari kepalaku. Bajunya terlalu bersih dan rapi untuk ukuran porter atau calo yang merupakan pegawai KAI resmi sekalipun.
“Ehm..Maaf. Bagaimana anda tahu kalau saya sedang butuh tiket untuk tanggal 2?” tanyaku menyelidik.
“Saya melihat kebingungan di wajah anda. Tenang. Ini wajar terjadi pada orang yang belum saling kenal. Tapi jangan kuatir, kebetulan saya tadi melihat anda ke loket dan keluar dengan wajah kecewa. Saya tahu, karcis yang habis hanya untuk tanggal dua. Jadi saya pikir anda pasti mencari untuk tanggal itu. Apakah penjelasan saya cukup masuk akal,” ujarnya sambil balik bertanya.
Aku kembali memandang wajah laki-laki itu. Sorot matanya memang tak menunjukkan niat jahat. Iris matanya terlihat melebar, menandakan tak ada dusta yang disembunyikannya. Meski begitu, aku masih merasa aneh dengan kedatangannya yang tiba-tiba. Karena itu, aku kembali hanya bisa menatapnya.
“OK, mari saya jelaskan lebih detil. Tadinya saya memang mau berangkat ke Jakarta tanggal itu. Tapi ada sesuatu hal yang membuat saya batal melakukannya. Aku pikir daripada tiket ini sia-sia, lebih baik aku kasih ke seseorang yang membutuhkannya,” ujarnya kemudian.
“Ehm..sebenarnya saya masih agak aneh dengan hal ini. Tapi, berapa anda minta untuk tiket itu,” jawabku terus terang.
“He…he…he….Saya suka keterus terangan anda. Tapi anda tak harus membayar untuk ini semua,” katanya kemudian. Ini tentu saja membuat aku kembali menaruh curiga pada laki-laki itu.
“Maaf? Apakah Anda baru saja bilang kalau aku tak perlu membayar?” tanyaku memperjelas.
“Ya. Itu yang saya ucapkan,” sambut laki-laki itu.
“Bukankah orang selalu mengharapkan imbalan atas apa yang dilakukannya? Apalagi untuk sebuah hal yang tak banyak orang yang bisa mendapatkannya. Dan anda akan memberikannya gratis pada saya. Dengan semua ini, Apakah salah kalau saya mencurigai anda?
“Saya yakin itu adalah hak anda. Jadi saya tidak akan menyalahkan kalau anda curiga. Tapi percayalah, saya memang harus memberikannya kepada anda. Ini resmi. Silahkan dicek saja,” katanya kemudian.
Aku mengamati tiket itu. Ya. Sebuah tiket kereta Sawunggalih Utama bernomor 5A. Ada nama BUDI di tiket itu. Tanda hologram juga tercetak jelas di tiket berwarna biru muda kombinasi putih itu.
“Itu asli. Dan nama itu bukan nama saya. Saya sendiri mendapatkannya dari calo,” kata lelaki itu seolah menjawab pertanyaan di hatiku.
“Tapi saya masih heran kenapa anda memberikan tiket ini untuk saya,” kataku kemudian.
“Percayalah anak muda. Ini akan berguna. Saya tahu kamu sangat membutuhkannya. Meski itu bukan untuk kamu sendiri,’ ujarnya lembut.
Aku kembali terperanjat mendengar kalimat terakhirnya. Tapi seperti sebelumnya, kali ini laki-laki itu kembali tersenyum.
“Sudahlah. Untuk yang satu ini aku yakin kamu juga tidak ingin aku mengatakannya bukan?” katanya masih sambil tersenyum.
“Tak akan ada apa-apa, saya jamin. Saya hanya ingin menolong anda anak muda. Kecuali kau memang lebih suka temanmu kecewa,” katanya penuh arti. “OK. Saya terima tiket ini. Tapi mohon sebutkan sebuah angka pada saya untuk menggantinya. Saya merasa tidak enak menerima sesuatu tanpa memberikan imbalan. Bukankah tidak ada sesuatu yang gratis di dunia ini. Semuanya mesti diganti dengan sesuatu, misalnya uang,” kataku kemudian.
“Ada anak muda. Ada hal-hal yang bisa kau dapat tanpa haru berusaha keras. Itu yang dinamakan dengan keberuntungan, atau bahkan mungkin keajaiban. Siapa tahu, ini adalah salah satunya,” kata lelaki itu. Hampir seperti gumaman. Tapi cukup jelas bagiku.
“Sebenarnya saya tidak percaya dengan keberuntungan. Tuhan sudah menciptakan segala sesuatunya dengan hukum sebab-akibat. Jadi saya pikir tidak akan ada keberuntungan di dalamnya. Kita akan mendapat apa yang kita usahakan,” jawabku.
“Dalam beberapa hal kamu benar anak muda. Tapi dengan rasa syukur, apa yang kita usahakan kadang akan memberikanhasil yang tak kita perkirakan. Sebaliknya kalau kita tak mensyukurinya, seberat apapun usaha yang kita lakukan, kadang tak ada hasil yang akan kita dapat,” uajrnya lugas. Kata-katanay mengingatkanku pada bunyi sebuah ayat Al-Quran.
“Begini saja. Kita tak mungkin mengharapkan uang dari pengemis yang kita beri sedekah kan. Demikian juga anggap saja demikian. Saya sedang tidak menganggap kamu sebagai pengemis. Tapi saya yakin, yang diatas sana akan membalas kalau ini bisa dikatakan sebuah kebaikan. Jadi, jangan terlalu risau dengan semua ini. Tuhan tidak tidur. Dia tahu apapun yang terjadi di semua penjuru dunia,” katanya panjang lebar. Aku hanay terbengong.
“OK, saya harus pergi. Oya, di HP anda ada nomor telpon yang bisa anda hubungi. Hubungilah kalau senggang. Selamat tinggal,” ujarnya.
“OK. Terima kasih,” hanya itu yang bisa kukatakan. Aku kembali menatap karcis di depanku. Tak menyadari kalau laki-laki itu sudah pergi.
Tiba-tiba aku ingat kata-kata terakhirnya. Saat itu juga aku mengambil Hpku. Hei, ada nomor yang sepertinya baru saja diketikkan di layar Hpku. Terlihat siap untuk disimpan dengan sebuah nama. 088826674000. Sejenak aku ragu. Aku tidak menyentuh Hpku selama pecakapan aneh tadi. Dan itu juga bukan hasil Miss Call seseorang.
Aku kembali merasa tersedot keluar. Aku kembali berada di kamarku. Serakan baju-baju yang habis dilaundry kembali tampak di depanku. Aku bangkit dengan gontai. Melangkah ke depan TV. Menyalakannya sejenak dan menonton film kartun. Tapi tak lama kemudian aku kembali terlelap. Dan anehnya, mimpi itu kembali muncul. Suasana stasiun yang berisik dan pertemuan dengan lelaki misterius itu.
Lagi-lagi Aku bangun dan menatap sekelilingku. Aku benar-benar bingung saat itu. Tapi tak ada yang bisa kulakukan. Setelah mematikan TV, aku berjalan ke kamar BJ yang sekarang dihuni oleh Heni. Di sini, aku kembai merebahkan tubuhku. Dan anehnya, mimpi itu kembali muncul. Bahkan setelah mimpi terakhi ini, aku langsung ingat nomor yang diberikan lelaki misterius itu ke Hpku. Memastikan kecurigaanku, aku segera mengambil Hpku. Dan anda pasti tidak akan percaya. Nomor itu tercetak di layar LCD Hpku. Aku semakin bingung. Tapi kemudian memutuskan untuk menyimpan nomor itu dengan label Nomor Mimpi. (bersambung)
Rama-ramai Bikin Agama Baru November 2, 2007
Posted by ciptabiru in Umum.2 comments
Institusi bernama Agama terbukti memiliki kekuatan yang luar biasa dahsyat. Tak heran begitu banyak orang yang mau bersusah payah mendapatkan sebuah jabatan dalam institusi yang membawahi jutaan bahkan mungkin milyaran umat ini.
Memimpin sebuah institusi agama pada awalnya timbul karena amanat. Artinya untuk bisa memimpin sebuah institusi agama, seseorang harus mendapat kepercayaan dari sebagian besar umat atau segolongan pemuka agama terkait. Namun, nilai ini rupanya telah berubah. Memimpin sebuah agama kini juga bisa dilakukan dengan cara-cara politis. Ya politis. Seperti perebutan kekuasaan yang lain. Agama telah dipandang sebagai sebuah institusi strategis yang bisa digunakan untuk kepentingan tertentu.
Rahasia Kehidupan Seks Para Paus membeberkan bagaimana para cardinal jaman dulu (mungkin sekarang juga iya) berebut pengaruh dan kekuasaan untuk disebut sebagai paus ke sekian. Tak jarang mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan jabatan tertinggi dalam agama Katolik Roma itu. Bahkan dengan cara saling bunuh sekalipun. Sebuah usaha yang-saya yakin semua orang berhati nurani akan sepakat menilainya sebagai-sangat tidak pantas untuk mendapatkan sebutan sebagai pemimpin agama. Ya, Agama!. Institusi yang mengagungkan kebaikan dan amal peribadatan. Institusi yang mengarahkan manusia untuk saling berkasih sayang dengan sesama makhluk dan tolong menolong dengan sesame.
Perebutan kekuasaan pucuk pimpinan institusi agama, terutama gereja, di masa lalu menurut buku ini timbul karena otoritas dan kekuatan gereja yang sangat besar. Kekuasaan luar bisa besar juga membuat otoritas gereja sebagai otoritas superkaya. Harta mereka tak ternilai harganya. Sebagai contoh, otoritas gereja Vatikan mampu memberi perintah pada para pemimpin negara-negara yang ada saat itu untuk berbuat sesuatu sesuai kehendak mereka dengan mengatasnamakan perintahnya sebagai perintah tuhan. Pembangkangan terhadap permintaan mereka dianggap sebagai dosa.
Hidup bergelimang harta membuat para pastur lupa daratan. Mereka hidup berfoya-foya di balik dinding katedral-katedral agung Roma. Pesta seks pun menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Ya, pesta seks. Sebuah kelakuan yang seharusnya pantangan bagi mereka. Jangankan pesta, seks pun sebenarnya merupakan hal yang pantang dilakukan oleh seorang pastur, apalagi paus. Namun kegilaan ini benar-benar terjadi. Tak cuma dengan lawan jenis, para paus bahkan ada yang menjadikan para cardinal, pastur dan pendetanay sebagai budak birahi jahanamnya. Ooh, apa kata dunia? Begitu mungkin yang dikatakan Naga Bonar kalau dia tahu hal ini.
Perebutan kekuasaan untuk menjadi pemimpin institusi agama juga terjadi di agama saya, Islam. Tarikh Islam mengungkapkan bagaimana Umar bin Khatab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Tholib mengakhiri kekuasaanya. Khalifah Umar wafat pada usia 63 tahun setelah memerintah selama 10 tahun 6 bulan oleh tikaman pedang Abu Lu’lu’ah, seorang budak milik Al-Mughirah bin Syu’bah. Usman bin Affan wafat pada usia 82 tahun setelah memerintah selama 12 tahun. Meninggal oleh tikaman pedang Humran bin Sudan, saat beliau membaca Al-Qur’an. Sedangkan Ali wafat pada usia 63 tahun, setelah memerintah selama 5 tahun. Ia terbunuh oleh Abdurrahman bin Muljim, seorang dari aliran Khawarij, yaitu aliran yang tidak memihak pada Khalifah Ali maupun Muawiyah. Mereka juga merencanakan pembunuhan terhadap Khalifah Ali, Muawiyah dan Amer bin Ash. Ya, mereka dibunuh oleh orang-orang suruhan. Ada orang-orang yang menginginkan posisi sebagai pemimpin umat karena tergiur dengan kekuatan dan gengsi yang menyertainya.
Demi sebuah jabatan pemimpin agama, orang-orang saling bunuh. Tak cuma satu dua, tapi kadang sampai ratusan bahkan ribuan nyawa yang melayang akibat perebutan ini. Kita tentu tahu bagaimana peristiwa Karbala di Irak masa lalu. Bagaimana golongan Sunni dan Syiah saling berebut pengaruh untuk dianggap sebagai yang paling benar. Pada pertempuran Karbala yang terjadi pada 10 Oktober 680 itu, Husain dan adiknya Abbas cucu rasululloh tewas. Bahkan konon, kepalanya dijadikan bulan-bulanan ke sana kemari.
Peristiwa ini menjadi penyesalan mendalam bagi kaum Sunni. Sehingga setiap tahun mereka memperingati peristiwa ini dengan menyekiti diri mereka di tengah jalan. Dan sampai sekarang, dendam kedua golongan yang tumbuh subur di Iran dan Iraq ini tetap terpelihara. Setiap saat perbedaan paham mereka bisa meledak menjadi sebuah perang. Perang yang dengan mudah memusnahkan para pengikutnya, dan orang-orang di sekitarnya yang mungkin tak tahu apa-apa dan tak mau ambil pusing dengan perbedaan mereka.
Perang atas nama agama, menurut saya adalah hal yang berbeda. Ini karena alasan terjadinya lebih pada persaingan untuk mendapatkan pengakuan sebagai yang utama dan yang paling berpengaruh. Dan ini dilakukan oleh agama yang berbeda.
Begitu besarnya pengaruh yang bisa ditimbulkan agama dan keinginan untuk memimpinnya membuat sebagian orang kemudian memilih untuk membuat agamanya sendiri. Kita bisa lihat di berbagai media massa, baik cetak maupun elektronik akhir-akhir ini. Banyak sekali aliran-aliran kepercayaan yang muncul ke permukaan. Sebagian mengklaim sebagai agama baru. Sebagian lain mengaku sebagai aliran penyempurna agama yang sudah ada.
Dalam perjalanan sejarah, kemunculan Martin Luther King di tahun 1517 dengan 95 dalil ajaran Kristen Protestennya mungkin adalah yang terbesar. Martin membuat madzhab (sekarang kita bisa membacanya sebagai agama) baru karena tak puas dengan kekuasaan absolute otoritas gereja yang dianggapnya sudah sangat melenceng dan cenderung hanya membohongi umat. Penebusan dosa, pembayaran upeti dan beraneka kewajiban umat untuk gereja dianggapnya hanyalah akal-akalan pihak gereja untuk memperkaya diri sendiri saja. Karena itulah ketika dia mengusulkan konsep baru tentang kristenitas, gerakannya ini kemudian mendapat sambutan luas dari masyarakat yang sudah muak dengan tingkah polah otoritas gereja yang dianggap sudah sangat di luar nilai-nilai agama.
Di Indonesia, ‘sempalan’ untuk membuat agama baru mungkin pertama kali muncul pada jaman wali songo. Syeh Siti Jenar ditumpas habis karena divonis mengajarkan aliran sesat yang menyatakan bahwa manusia bisa bersatu dengan Tuhannya. Manunggaling Kawulo Gusti. Ajaran ini divonis melenceng dari ketentuan Islam yang saat itu sedang diajarkan oleh para wali. Ajaran Syeh Siti Jenar atau Syeh Lemah Abang menurut para wali menimbulkan kekacauan umat. Apalagi karena ada poin yang menghilangkan rukun Islam dan rukun Iman seperti yang diajarkan para wali itu.
Tahun 1889 di satu desa kecil yang bernama Qadian, Punjab, India Mirza Ghulam Ahmad mendeklarasikan berdirinya ajaran Ahmadiyah. Ajaran ini (Ahmadiyah Qadian) menafikkan kebenaran Muhammad sebagai nabi terakhir. Ghulam Ahmad sendiri kemudian mengklaim dirinya sebagai mujjadid (pembaharu) sekaligus nabi terakhir setelah Muhammad. Di Indonesia, organisasi ini telah berbadan hukum dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia sejak 1953 (SK Menteri Kehakiman RI No. JA 5/23/13 Tgl. 13-3-1953). Namun dua tahun lalu ajaran ini telah divonis sesat oleh Majelis Ulama Indonesia.
Sekitar dua tahun lalu, kita juga dihebohkan dengan kemunculan Lia Eden dengan Kerajaan Tuhan-nya. Selain menganggap dirinya sebagai menyebarkan wahyu Tuhan dengan perantaraan Jibril, dia juga menganggap dirinya memiliki kemampuan untuk menyembuhkan penyakit. Dia juga telah mengarang lagu, syair dan juga buku sebanyak 232 halaman berjudul, “Perkenankan Aku Menjelaskan Sebuah Takdir” yang ditulis dalam waktu 29 hari.
Pada 1998, Lia menyebut dirinya Imam Mahdi yang muncul di dunia sebelum hari kiamat untuk membawa keamanan dan keadilan di dunia. Selain itu, dia juga memanggil dirinya Bunda Maria, ibu dari Yesus Kristus. Lia juga mengatakan bahwa anaknya, Ahmad Mukti, adalah Yesus Kristus.
Agama yang dibawa oleh Lia ini berhasil mendapat kurang lebih 100 penganut pada awal diajarkannya. Penganut agama ini terdiri dari para pakar budaya, golongan cendekiawan, artis musik, drama dan juga pelajar. Mereka semua dibaptis sebagai pengikut agama Salamullah. Karena Lia merupakan seorang penulis dan pendakwah yang handal, maka ia bisa meyakinkan orang mengenai kebenaran dakwahnya.
Pada bulan Desember 1997, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah melarang perkumpulan Salamullah ini karena ajarannya dianggap telah menyelewengkan kebenaran mengenai ajaran Islam. Kumpulan ini lalu membalas balik dengan mengeluarkan “Undang-undang Jibril” (Gabriel’s edict) yang mengutuk MUI karena menganggap MUI berlaku tidak adil dan telah menghakimi mereka dengan sewenang-wenang.
Lia juga mengaku sebagai utusan malaikat Jibril yang diutus untuk membawa umatnya menuju kerajaan Tuhan. Edan tenan!.
Yang paling dekat adalah Alqiyadah al Islamiyah pimpinan Ahmad Mushadeq. Dia mengaku agama yang diajarkannya adalah penyempurna agama Islam, Nasrani dan Yahudi. Dan lebih gilanya lagi dia mengaku bahwa dirinya adalah rasul utusan Tuhan. Karena itu dia selalu mewajibkan para pengikutnya untuk membaca kalimat syahadat gaya baru ciptaanya sendiri. Bujubuneng, ni orang dibisiki setan apa ya?
Anyway, after all, beragama bagi saya adalah urusan yang sangat personal. Agama adalah jembatan untuk menghubungkan kita dengan entitas murni tak terbantahkan yang berkuasa atas segalanya. Beragama adalah bentuk pengakuan akan ketakberdayaan kita sebagai sebuah ciptaan. Sedangkan beribadah adalah bentuk pengabdian sekaligus ungkapan rasa terima kasih atas apa yang kita terima dari creator kita. Bisa diwujudkan dengan ibadah khusus kepada pencipta kita (mahdoh) maupun ibadah umum (ghairu mahdoh) kepada makhluk lain di sekeliling kita. Jika sudah begini, kenapa kita harus memperebutkan kekuasaan untuk beridi di puncak institusi agama. Toh, yang paling mulia di sisiNya bukanlah yang paling tinggi kedudukannya dalam institusi agama, melainkan yang paling patuh. Yang paling taat dalam menjalankan ajarannya dan meninggalkan larangannya (taqwa).
Wallohu A’lam bissawab
