Ramalan Tsunami Desember 23, 2007
Posted by ciptabiru in Umum.trackback
Susahnya jadi penduduk di negeri yang dipenuhi orang bodoh ya? Hmm… Hari ini, sekitar tiga ratus orang terpaksa mengungsi dari kediamannya gara-gara ramalan Ilmuwan Brazil tentang tsunami. Ya, pak profesor Jucelino Nobrega ini mengirim surat ke KBRI di Brazil. Dan surat itu akhirnya dikirimkan ke gubernur bengkulu.
Orang-orang seperti saya, para wartawan, memblow up berita ini, dan kemudian membuat ratusan ribu orang panik. Konon, sang profesor ini dulunya pernah meramal kejadian tsunami yang ada di Aceh tempo hari. Karena itulah kemudian orang-orang mulai memikir-mikir untuk mempertimbangkan kemungkinan kebenaran ramalan itu.
Tapi dasar gudangnya orang bodoh, berita itu akhirnya ditelan mentah-mentah. Padahal kalo mau mengkajinya lebih dulu, mungkin kita bisa menimbang dan mungkin mengukur (kaya lagu dokter kecil, menimbang mengukur tugas kita, pun bidang PPK…) bagaimana kemungkinannya. Konon, sampai saat ini belum ada tuh yang namanya gempa bisa diramal. Terutama terkait dengan kapan tepatnya akan terjadi gempa.
Sebenernya, kalo ngak salah Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) kita pernah mengingatkan untuk tidak mudah percaya dengan issu ini. Bagi mereka, merekalah yang berhak mengumumkan hal-hal beginian karena memang udah jadi bagian mereka. Tapi dasar orang Indonesia, kebanyakan lebih percaya pada produk luar yang kerap dinilai lebih baik, peringatan dari BMG pun tak diperhatikan alias tak digubris.
Paling tidak peristiwa ini bisa jadi pelajaran buat kita. Jangan mudah percaya dengan berita yang tidak kita ketahui benar tidaknya. Jadi bahan pertimbangan mungkin bisa, tepi setelah itu kite mesti skeptis dan mau mencari tahu kemungkinan-kemungkinan dari setiap berita yang kita dengar. Bagi kami, para pewarta, kalau tak bisa melakukannya sendiri, maka kami tanya ahlinya. Tentunya agar informasi yang kami terima bisa disampaikan dengan jelas pada para pembaca dan pemirsa.
PS : Cintai Produk Dalam Negeri!!!
Komentar»
No comments yet — be the first.