jump to navigation

Butuh Uang Rp 5 juta Januari 17, 2008

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Aku tidak tahu, apakah ini adalah jawaban dari doa-doaku. Yang jelas hari ini aku dipertemukan (lagi) dengan Mas Joto. Dia banyak bercerita tentang beternak ayam. Sesuatu yang sebelumnya aku pikir sebagai sebuah usaha yang kayaknya tak mungkin bisa aku lakukan.
Bayangkan saja, untuk membuat kandang ayam potong berkapasitas 3000 ekor saja, dibutuhkan paling tidak dana sekitar Rp 30 juta. Itu jelas bukan jumlah yang bisa aku dapatkan. Bahkan mungkin dalam sepuluh tahun sekalipun.
Tapi hari ini dia membuka mataku. “Tak perlu Rp 30 juta. Hitungannya hanya Rp 1000 per ekor untuk setiap periode pemeliharaan. Itu sudah termasuk persiapan kandang, pemeliharaan lengkap dengan segala jenis vaksin, obat dan pakan. Bahkan itu juga sudah termasuk menggaji karyawan dan makan untuk kita. Cuma syaratnya satu, kandang harus nyewa yang sudah ada,” terangnya panjang lebar.
Masya Allah. Aku kuliah selama 8 tahun, dan celakanya kemudian tak bisa lulus, tapi tak pernah berhasil menyederhanakan ilmu beternak sesederhana ini. Memang, tak sesederhana seperti aku menulis kata ’sederhana’. Tapi paling tidak itu memberiku motivasi. Aku kemudian dicritani banyak hal tentang beternak ayam Sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu asing. Mengingat aku pernah mempelajarinya saat masih rajin kuliah dulu. Kayaknya tak sesulit dan semengerikan seperti yang aku bayangkan.
Cuma sekarang masalahnya aku tak punya duit untuk memulainya. Tak ada yang bisa kujaminkan untuk memimnjam uang sejumlah itu. satu-satunya harta yang punya nilai nominal adalah sepeda motorku. Sayang, itupun aku masih harus menunggu setahun lagi. Karena sampai saat ini belum lunas. Dengan Rp 5 juta, aku bisa memelihara sekitar 5000 ekor. Dari sistem kerja yang aku pelajari, Insya Allah, aku juga bisa dan sempat melakukannya di sela-sela kerjaan pokokku di kantor.
Kalau memang ini jalanku, maka berikanlah petunjuk ya Allah. Kalau memang bukan ini, berikan petunjuk juga ya Allah.

Koordinasi Januari 17, 2008

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Hari ini aku dapat satu pelajaran lagi. Ceritanya begini, siang tadi, aku sedang menimba ilmu sekalian bersilaturrahmi ke tempat teman. Sedang asyik-asyiknya ngobrol tentang beternak ayam, tiba-tiba hapeku berbunyi. Begitu kuangkat, ternyata bunyinya langsung membuat wajahku meredup. Segala kesenangan hari itu langsung pupus.
Begitu mendapat telpon itu, hatiku sangat sakit. Egoku langsung ingin protes dan berontak. Aku tidak rela kalau itu dianggap sebagai kesalahanku semata. Semua orang pasti tau, berita gede dan bagus pasti bakal masuk halaman satu. Tapi ketika berita itu tak masuk di halaman satu, aku yang disalahkan.
Untunglah, saat itu aku langsung beristighfar. Astgahfirullahal’adzim. Ini nafsu setan. Aku tidak boleh menurutinya. Aku langsung sholat dzuhur dan berintrospeksi. Alhamdulillah. Pikiran kembali jernih. Maafkan aku wahai orang yang menelponku. Aku sempat su’uzon kepadamu. Aku sadar, apa yang engkau lakukan pasti karena tanggung jawab dan tugasmu sebagai pimpinanku. Bukan karena benci apalagi sekedar menyalurkan kemarahan serupa yang didapat dari orang lain (pembaca).
Kalo aku flashback, ternyata aku memang ada salahnya (tidak semua). Yaitu aku tidak berkoordinasi dengan redaktur halaman 1. Harusnya sebelum aku pulang, aku koordinasi dulu. Tapi entah mengapa, kemarin malam aku ingin sekali langsung pulang. Aku ingin sekali menuntaskan sholat malam yang sedang mulai kulakukan.
Tapi, apapun kejadian hari ini. Aku bersyukur. Begitu banyak nikmat yang kita terima. Tapi kadang lupa mensyukurinya. Semoga saja ini akan menjadi pelajaran yang kelak akan bermanfaat.

Wing Provokator Januari 12, 2008

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Hari ini, Sabtu (12/1) aku dikejutkan dengan datangnya sepucuk surat. Sebenarnya banyak sekail surat yang datang setiap hari ke meja kerja di kantor. Mulai dari konsultasi remaja sampai cerpen budaya. Tapi yang satu ini membuat dahiku mau tak mau jadi mengernyit. Pasalnya pada kolom hal : dituliskan ‘penerimaan wing provokator’.

Surat itu datang dari Paguyuban Masyarakat Pariwisata Baturraden (PMPB). Setiap tahun, mereka memang memberikan penghargaan ini pada orang-orang yang mereka anggap berjasa ikut menjadi motivator ataupun inspirator pariwisata Baturraden. Kriteria inilah yang kemudian membuatku berkernyit.

Aku akui, memang selama ini aku banyak menulis berita dan artikel tentang pariwisata. Tapi semua itu aku lakukan karena memang pekerjaanku dan karena minat pribadi pada dunia pariwisata Banyumas yang tak kunjung berubah.

Sebenarnya aku bingung dengan status penghargaan ini. Pasalnya bisa saja timbul anggapan kalau aku hanya membuat berita yang menyenangkan sebagian orang saja, yakni warga Baturraden. Padahal, insya Allah bukan begitu maksudku. Saat membuat berita, yang kebetulan terkait dengan Baturraden, aku hanya ingin dunia pariwisata di Banyumas bisa diolah sedemikian rupa agar lebih maju dan lebih menarik untuk dikunjungi wisatawan.

Terkadang, aku memang kelewat sadis dengan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan Pemkab melalui Disparbud. Tapi nawaitunya kembali ke paragraf yang di atas. Bahasa SBY-nya adalah ‘kritik yang konstruktif’.

Mata, Sebuah Pilihan Januari 11, 2008

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Alhamdulillahirabbil’alamin

Hari ini penuh kenikmatan. Meski kurang tidur, tapi dengan mulut yang tanpa umpatan, hatiku berubah menjadi tenang. Beberapa kali aku meneteskan air mata saat mengendarai sepeda motorku. Bukan karena kelilipan serangga atau serpihan kecil yang iseng terbang dan mengenai mataku. Tidak. Ini tentang para wanita pengguna jalan. Aku menangis melihat mereka dengan tanpa beban memakai pakaian yang memperlihatkan aurat mereka. Baik secara terbuka maupun tertutup. Aku tidak menangisi mereka, tapi menangisi diriku sendiri. Betapa selama ini aku sangat menikmati pemandangan seperti itu. Padahal nyata-nyata kalau hal itu adalah zina. Sedang zina itu adalah perbuatan yang dibenci oleh Allah.

 Aku menangis. Menangis karena sadar selama ini sudah terlalu banyak dosa yang telah aku perbuat dengan mataku ini. Maafkan hamba-Mu yang lemah ini ya Allah.

Sungguh. Betapa setiap pandangan yang teredar ternyata bisa menjadi jembatan yang sangat lapang untuk menjerumuskanku ke api neraka. Betapa setiap prasangka buruk, yang meskipun tak terucap ternyata bagaikan titik-titik noda yang bisa berubah menjadi segunung dosa. Betapa setiap keluh kesah bisa mengkarangkan seonggok daging di dalam hati kita. Betapa….Betapa…. ya. Betapa lemah sebenarnya kita semua di hadapan-Mu ya Allah.

Dalam linangan sungai di pipi dan hati yang gerimis, aku memohon pada Allah. Ya Rabb, jika kenikmatan menyebut namamu sedemikian indahnya, mohon jangan Kau cabut kenikmatan ini. Ya Rabb, jika kesadaran akan kelemahan ini sudah terpatri, janganlah Kau renggut dari hatiku. Ya Rabb, sirami iman di kalbuku dengan kasih-Mu agar senantiasa tumbuh dan berkembang. Ya Rabb, sinari kalbuku dengan cahaya berkah agar aku tak tersesat ke jalan syaiton.

Hari ini, aku juga melihat senyum. Senyum yang selalu kurindukan. Senyum ‘Malaikat Kecilku’ dan senyum ayahku. Sayang, aku belum bisa berbagi senyum denganmu ya abi..

Belajar Menjadi Muslim (lagi) Januari 10, 2008

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Hari ini aku memulai apa yang aku sebut sebagai sebuah perubahan. Ya, perubahan untuk menjadi muslim yang sesungguhnya. Hari ini adalah momen yang menurutku sangat tepat dan tak perlu untuk menunggu-nunggu apalagi menunda untuk melaksanakannya.
Ya, hari ini adalah hari pertama bulan Muharram. Yang artinya hari pertama di tahun 1429.
Subhanallah! Ternyata godaanya banyak banget. Sejak bangun pagi, godaan sudah mulai muncul. Mata yang tak terbiasa terpicing saat adzan subuh berkumandang membuatnya ingin selalu menutup. Tapi tekad sudah terucap, karena itu membuka mata kemudian menjadi kewajiban. Di hari-hari mendatang, kesulitan ini mungkin akan semakin bertambah karena mata selalu baru bisa memejam saat sepertiga malam sudah berjalan. Tapi ini harus diniatkan. Aku sudah terlalu lama menzalimi Allah. Hanya meminta, dan tak pernah memberikan hak-Nya. Hak untuk disembah. Hak untuk disebut namanya sepanjang waktu. Astaghfirulloha’adzim.
Ketika keluar rumah sekitar pukul tujuh pagi, aku langsung berucap syukur. Matahari membuat awan putih di ufuk timur berwarna jingga dan merah muda. Langit biru pun seolah membiaskan warna ungu. Subhanallah. Indah sekali. Sayang, ketika mata diarahkan ke jalanan, banyak sekali tubuh wanita berbalut pakaian ketat. Celana pendek yang mempertontonkan aurat seolah sudah menjadi hal biasa. Ya Allah, lindungi aku dari godaan syaiton yang terkutuk.
Siang hari, matahari bersinar sangat riang. Panasnya membuat sebagian orang yang berada di jalan menggerutu. Aku mencoba bersyukur. Tapi aku nyaris ditabrak oleh seorang pengandara sepeda motor yang ngebut di jalur Karanggude. Aku hampir marah dan mengumpat. Tapi kemudian aku ingat, ini hari baru. Aku sudah berjanji untuk tidak mengumpat. istighfar kemudian menyejukkan ubun-ubunku yang sempat memanas karena aliran darah yang didorong oleh adrenalinku.
Masih di siang hari, aku berniat mengembalikan sebuah pemberian yang aku yakin bukan untukku. Usai sholat dzuhur, dengan hati mantap aku memacu sepeda motorku. Tapi sampai di kantor yang kutuju, ternyata banyak sekali tamu. Aku takut apa yang kulakukan menimbulkan ria dan fitnah. Karena itu kuputuskan untuk menundanya. Aku lebih memilih ke kantor untuk menyelesaikan beberapa tulisan yang sempat tertunda empat hari kemarin karena sakit. Oya, sepanjang perjalananku, tubuh-tubuh wanita pengumbar aurat juga masih bertebaran di jalan, di toko, di lapangan, di warung, di sekolah dan di berbagai tempat. Masya Allah.
Sore hari, setelah mengantar ‘malaikat kecilku’, aku kecapean. Perutku semakin bertambah sakit akhir-akhir ini. Karena itu selesai sholat Asar, aku membaringkan diri. Untunglah ketika adzan maghrib berkumandang, aku berhasil bangun. Selesai mandi, sholat maghrib aku berangkat ke kantor. Dan di sinilah aku kini. Memelototi satu demi satu huruf tulisan wartawan Radar Banyumas.

Resolusi 1429 H Januari 10, 2008

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Selamat Tahun Baru !

Pagi ini, aku bisa bangun pagi. Subhanallah! Betapa cerah hari ini. Hari baru di tahun 1429 H. Aku menghirup udara pagi yang mulai menghangat oleh sapaan lembut fajar yang mulai mengintip di ufuk timur. Semburat warna jingga berpendar bertemu dengan birunya langit pagi. Allahu Akbar!

 

Aku mengucap syukur. Terima kasih ya Allah, hanya karena kemurahan-Mu, sampai detik ini aku masih bisa merasakan tanda-tanda kebesaran-Mu. Alhamdulillahirabbil‘alamin.

 

Tahun baru identik dengan resolusi. Karena itu, aku pun ingin membuat resolusiku sendiri. Sengaja baru kubuat kal ini, tidak sepuluh hari yang lalu. Karena aku ingin orang tahu, aku seorang Muslim.

Resolusiku tidak muluk-muluk. Tahun ini aku pengin :

-         Menghilangkan umpatan dari dari mulutku dan menggantinya dengan dzikir

-         Menjaga mata dari pandangan penuh nafsu

-         Mulai puasa rutin Senin-Kamis atau syukur bisa puasa ala Nabi Daud

-         Khatam Al-Qur’an 5 kali dalam setahun

-         Sholat tepat waktu, lebih baik lagi dengan berjamaah

-         Memperbaiki hubungan dengan keluarga

-         Kembali menerjemah

-         Menjauhi rizki yang tidak halal

Semoga Allah meluruskan jalanku di tahun ini dan tahun-tahun selanjutnya. Amin ya robbal ‘alamin