Normal Nggak Sich?! Februari 29, 2008
Posted by ciptabiru in Umum.add a comment
Beberapa hari ini aku lg stress banget. Gara-garanya malaikat kecilku lg stress juga. Disuruh makan susahnya minta ampun. Udah ditawari berbagai makanan kesukaanya, nggak juga mau. Bahkan disuapi pun nggak mau. Sama temenku aku bilang, “Ini ni susahnya kalo jadi orang tua. Liat ade’nya ngga bisa makan aja sampe kepikiran dan ikut2an nggak bisa makan,”
Semau gara-gara jadwal kegiatan sekolah yang kelewat padat. Sistem pendidikan kita emang kelewatan banget. Standar kelulusan yang 4,5 ternyata membuat guru memeras habis tenaga siswanya. Belajar dari jam 07.00-13.30 ternyata belum dianggep cukup. Mereka masih nambah pengayaan dari pukul 14.00-17.00. Aku kasian kalo ngeliat ade’ku. Kayaknya dia stress bgt. Capek dan nggak bergairah ngapa2in. Bawaanya ketakuatan mulu nggak bisa ngerjain soal ato PR.
Yang aku nggak abis pikir, guru2nya kayak nggak punya nurani. Anak disuruh belajar sebegitu lama, tapi nggak pernah mikirin cara agar anak bisa belajar dengan enjoy. Metode belajar yang itu2 aja pasti bikin anak2 boring. Pas aku protes, mereka bilang, “Semua kebijakan ada di kepala sekolah. Silahkan kalau mau protes sama beliau aja,” Ah, t@!$k! Semua guru (yang penakut dan pecundang) memang t@!$k! Penakut dan hanya pengin cari selamat sendiri2. Nggak pernah ada yang kreatif dan berani ngelawan kebijakan sekolah yang salah. Dasar warisan orde baru! Kalo begini terus, kapan bangsa ini mau maju. Gurunya aja picik. Apalagi yang diajarkannya. Hancurlah INDONESIA! kalo terus2an begini.
Wah, jadi kelewat semangat ngumpat guru2nya ade’ku. Abis mereka emang t@$k (sorry, ngumpat lagi) banget si. OK, kembali ke judul. Gara-gara stres dengan jadwal sekolah yang super padat (itu belum ditambah les privat di luar) adiku jadi sering ngelamun. Kemarin, haidnya juga agak aneh. Haid tiga hari, kemudian selesai. Tapi tiga hari setelah itu, ternyata haid lagi. Aku yang nggak pernah haid tentu jadi bingung. Yang beginian ini normal nggak sih?
10 Tahun Lagi Mau Jadi Apa? Februari 23, 2008
Posted by ciptabiru in Umum.1 comment so far
Tanggal 16-18 Februari kemarin, aku mengikuti pertemuan redaktur Olah Raga Jawa Pos Group se-Indonesia di Surabaya. Selain membahas gawean bersama untuk menilai sisi fair play Liga Djarum Indonesia 2007, kami juga membahas strategy dan arah pemberitaan halaman olah raga grup Jawa Pos.
Satu demi satu acara berhasil dilalui dengan sukses. Dengan bumbu kantuk yang selalu jadi menu utama para redaktur jika disuruh berkegiatan siang hari. Maklum, kami memang lebih banyak kerja malam hari. Mulai dari mengedit berita, menentukan berita apa yang bakal keluar besok sampai merencanakan model tampilan halaman koran.
Tiba di materi paling akhir, Azul Ananda, anak bos Dahlan Iskan (CEO Jawa Pos) yang ngasih materi. Sekarang jabatannya adalah wakil direktur pemasaran. Padahal sebelumnya penggila F1 dan basket NBA ini sempat jadi pemred. Sebenarnya dia lebih banyak cerita bagaimana mendongkrak oplah dari halaman olah raga. Tapi ada satu kata-katanya yang membuat saya tertegun. “Kita tidak pernah tahu sampai kapan orang mau membeli koran. Mungkin sepuluh tahun lagi koran cuma tinggal sejarah. saat ini teknologi internet dan pendukungnya semakin murah,” katanya.
Aku berpikir. Iya ya. Sekarang ini hanya dengan Rp 2000 orang dapat menjelajah ke seluruh penjuru dunia. Akan tiba gilirannya suatu saat, mereka akan merasa rugi membelanjakan duit sebanyak itu hanya untuk mendapatkan koran setebal 20 halaman (seperti koranku). Apalagi ketika lap top semakin murah, Hape bisa internet dan TV dan internet bisa diakses di semua tempat.
Kalau kondisi itu sudah terjadi, lalu aku mau jadi apa? Bosku mungkin sudah menjual perusahaanya untuk berpindah ke bisnis lain yang lebih menjanjikan. Sementara aku?
Berangkat dari pemikiran inilah, akhirnya sepulang dari Surabaya aku mulai serius untuk merintis usaha. Aku sibuk mencari info, mulai dari pinjaman modal berbunga ekstra lunak, trik bisnis sampai peluang bisnis yang bisa kulakukan. Aku tidak ingin saat anakku harus masuk TK atau SD, ternyata aku sudah menganggur karena perusahaan tempatku bekerja sudah bangkrut. Aku ingin anak-anakku bisa makan kenyang, sekolah di sekolah favorit, bisa bermain dengan nyaman, dan tentu saja sehat. Aku juga ingin mereka tidak kehujanan maupun kepanasan. Karena itu mulai sekarang aku mesti mempunyai usaha. Apapun itu. usaha yang sepuluh tahun lagi masih bisa bertahan dan semakin besar. Yang bisa menghidupi anak dan istriku kelak. Yang bisa membuat mereka hidup nyaman.
Jadi kalau ditanya Sepuluh tahun Lagi Mau jadi Apa? Aku akan menjawabnya “Saat itu Aku sudah jadi pengusaha!”
Adakah Wanita yang Bisa Mengalahkan Adikku? Februari 11, 2008
Posted by ciptabiru in Umum.2 comments
Seorang teman bertanya padaku hari ini, “Kapan kamu mo married?”. Aku tidak terlalu lama mendiamkan pertanyaan temanku itu.
“Aku berencana empat tahun lagi. Tapi masalah jodoh adalah rahasia Allah. Jika dikasih besok, minggu depan, bulan depan, tahun ini, tahun depan, atau tahun depannya lagi atau bahkan tak dikasih sama sekali, aku Insya Allah siap. Allah tahu yang terbaik buat makhluknya. Termasuk buat aku,” jawabku lancar.
Kali ini giliran temanku yang terdiam. Aku tahu, jawabanku tak memuaskannya. Mungkin jawabanku sama sekali bukan bentuk jawaban yang dicarinya. Dia pasti menginginkan sebuah waktu yang pasti. Kalo bisa tanggal dan hari di bulan apa tahun berapa. Tapi, memang begitulah yang aku pikir.
Kemudian dia tak melanjutkan pertanyaan tentang waktu menikah. Kali ini pertanyaanya berganti menjadi, “Wanita seperti apa yang akan kau nikahi?”
Pertanyaan ini membuatku benar-benar terdiam. (Ya, kami akhirnya imbang) Aku harus berpikir untuk beberapa saat lamanya untuk menjawabnya. Aku memang mempunyai bayangan sosok wanita yang ingin kunikahi. Dalam anganku, wanita itu akan secantik Maria Al-qibti dan sesaleh Aisha, sesabar Siti Khadijah dan setabah Siti Hadjar serta setulus Fatima Azzahra.
Dalam kediamanku, aku terdiam lagi. (Jadi diamnya kuadrat). Apa ada ya wanita seperti itu? Apa ada wanita yang merupakan gabungan dari wanita-wanita Agung yang menjadi pendamping dan orang-orang terkasih Nabi Muhammad Salallahu ‘alaihi wassalam. Kalaupun ada, apa mungkin mereka itu untukku? Emang siapa ane? Kok dengan dzolimnya menginginkan wanita semulia itu? Ngaca men?! ngaca?!
Aku menarik nafas dalam. Aku mencoba berpikir realistis. “Aku ingin menikahi wanita yang bisa mengalahkan adikku!” cetusku kemudian.
Sekarang temanku tidak terdiam. Dia terperanjat.
“Kau gila?!” kagetnya.
“Tidak. Aku pikir aku tidak gila,” jawabku mantap.
“Maksudmu kau ingin menandingkan setiap wanita yang menjadi kandidat istrimu untuk bertarung dengan adikmu yang juara kempo? Koe pancen edan!” kata temanku senewen.
“Kalo aku melakukannya, aku memang edan. Tapi tentu saja bukan membuat mereka bertarung dan saling mengalahkan. Kau pikir aku sudah gila?’ jawabku kemudian.
“Aku ingin menikahi wanita yang bisa mengalahkan rasa cintaku pada adiku. Aku ingin menikahi wanita yang bisa membuatku mencintainya lebih besar dari rasa cintaku pada adikku. Wanita yang tak pernah bisa membuatku marah. Wanita yang membuat aku ingin selalu melindunginya. Wanita yang selalu membuat aku selalu rindu. Wanita yang selalu membuat aku ingin melihatnya. Wanita yang membuat aku ingin selalu mendengar suaranya. Dan wanita yang membuat aku selalu mengingatnya. wanita yang menutup seluruh tubuhnya dengan hijab. Wanita yang belum tersentuh oleh lelaki selain mahromnya. Wanita yang lebih hebat dari Adikku,” kataku panjang lebar.
“Kali ini kau benar-benar gila!” teriak temanku.
“Mungkin begitu,” desahku.
Aku membayangkan ada seorang wanita, yang bisa membuatku selalu ingin menelponnya minimal tiga kali sehari. Wanita yang selalu membuatku was-was ketika dia terlambat pulang meski hanya lima menit. Wanita yang membuatku selalu kebat-kebit ketika terpaksa tak bisa menemaninya karena takut ada orang yang mencuri pandang kepadanya. Wanita yang tak pernah bilang sayang, tapi selalu menunjukkannya dengan perbuatan dan senyuman.
Tiba-tiba temanku membangunkan lamunanku. “Kau harus menikahi bidadari!” serunya.
Aku tersentak. “Ya benar. Aku harus menikah dengan bidadari,”
Tentang Beriman dan Bertaqwa Februari 8, 2008
Posted by ciptabiru in Filsafat, Umum.add a comment
Orang sering berkata, kepercayaan kepada Tuhan adalah urusan atau hal yang paling pribadi. Itu hak manusia yang paling hakiki. Itu urusan antara seorang pribadi dengan Tuhannya. Karena itu tak ada sesuatu apapun yang berhak mencampurinya.
Tadinya aku agak membenarkan hal itu. Setidaknya sampai aku mendengar khutbah Jumat siang tadi di masjid Agung Baitussalam.
“Dalam Islam, masalah iman atau kepercayaan tak cukup diyakini di dalam hati saja. Iman bagi seorang muslim harus diucapkan melalui lesan, diyakini di dalam hati sekaligus dilaksanakan dalam bentuk perbuatan,” kata Khariri Shofa, sang khatib.
Sejak SD, melalui pelajar PMP (Pendidikan Moral Pancasila) kita diajari bahwa masalah beragama (baca mempercayai Tuhan) adalah hak yang tak bisa diganggu gugat. Baik oleh orang lain maupun oleh negara. Padahal di dalam Islam, ada ayat yang mengatakan bahwa seorang bisa menjadi Muslim, Nasrani, Yahudi ataupun Majusi tergantung dari orang tuanya. Artinya, orang tualah yang punya andil sangat besar untuk menentukan apa agama anaknya kelak.
Menengok ke belakang, aku jadi ingat bagaimana Pancasila dibuat. Lima sila yang terdapat di dalamnya ternyata sangat kental dengan doktrin zionisme. Bahkan, dalam sebuah artikel, Sukarno jelas-jelas mengaku pemikirannya banyak dipengaruhi seorang zionis berkebangsaan Belanda.
Pemerintah Orde Baru (lihat persamaan maknanya dengan novus ordo sclorarum atau tata dunia barunya Zionisme dalam duit 1 dolar Amerika) pimpinan Suharto yang dibackup penuh Amerika semakin membuat pancasila sebagai azas tunggal untuk kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Itulah kenapa pada saat itu orang-orang Islam yang enggan menggunakan Pancasila sebagai azas tunggal diberantas oleh Suharto lewat tangan LB Moerdhani.
Kita mesti mewaspadai jargon yang mengatakan bahwa beragama adalah hak paling hakiki dari manusia. Ingat, sejak zaman azzali manusia telah bersaksi, Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Jadi secara fitrah, manusia sebenarnya telah mengakui keesaan Allah sebagai Tuhannya dan Muhammad sebagai rosul Allah. Orang-orang tuanyalah yang kemudian menjadikan mereka Nasrani, Yahudi, Majusi dsb.
Saya juga sepakat, kalau memang kita beriman maka maklumatkanlah dengan ucapan “Asyhaduanlaa illahaillallah. Waasyhaduanna Muhammadarrasulullah”. Setelah itu yakinkan dan tetapkan di dalam hati ucapan yang telah kita keluarkan. Setelah itu lakukanlah dengan perbuatan. yakni dengan menjalankan semua perintah Allah dan meninggalkan segala larangannya.
Ittaqullah. Ittaqullaha haqqo tuqattihi wala tamutunna illa wantum muslimun.
Aku dan Koentjaraningrat Februari 7, 2008
Posted by ciptabiru in Umum.4 comments
Hari Minggu (2/2) lalu aku memunculkan tulisan seorang pembaca Radar Banyumas yang minta namanya disebut sebagai Rosyidah Purwo. Tulisannya berjudul “Menjaga Tradisi Bukan Sekedar Biaya”. Tulisan ini merupakan tanggapan dari tulisanku yang berjudul “Karena Bangga juga Butuh Biaya” yang muncul seminggu sebelumnya.
Aku sebenarnya paham benar dengan maksud dari si penulis. Bukan pertentangan yang dia angkat, tapi justru sinergisme dan faktor yang saling mendukung dan menguatkan. Mungkin karena faktor pemilihan kata dan kalimatlah yang membuatnya jadi seolah bertentangan. Aku pikir ini hanya masalah kebiasaan menulis (meskipun dia juga mencantumkan tulisannya sebelumnya pernah ditulis di SM).
Ada satu hal yang membuat aku jadi tercenung (bahasa apa ini ya? mungkin asal katanya dari Cenung?) Yaitu pas dia menyitir teorinya Koentjaraningrat tentang pewarisan. Koentjaraningrat ini kan ahli sosiologi paling kenamaan di Indonesia. Lha, aku dibanding-bandingin sama beliau. Ya nggak level lah!
Aku tu nulis sebatas ingin mengungkapkan isi hati dan kekecewaanku pada pemerintah daerahku yang kelewat nggak adil pada seniman dan budayawan. Masa, dana untuk OR sampai 6,5 milyar, eee… dana buat kesenian yang dilewatkan melalui Dewan KEsenian Kabupaten cuma 100 juta. Timpang banget kan. Makanya, aku tulis di situ, bangga saja dengan kesenian itu tak cukup dikoar-koarkan. tapi juga harus ada usaha untuk melestarikannya. Melestarikan (ini berarti termasuk usaha-usaha untuk terus mewariskannya, aku pikir) berarti juga butuh biaya. Nggak sekedar itu tadi, berkoar ke sana kemari.
Padahal kalo mo jujur, cabang sepak bola (dia dapat 1,5 M) nggak ada prestasinya sama sekali kecuali menghabiskan duit milik rakyat banyak itu. Ini mentang2 yang ngurusi itu para petinggi pemerintahan dan DPRD. Liat aja, ketua umumnya aja Ketua DPRD. Sementara ketua KONI-nya adalah Bupati. Ya gimana nggak lolos itu permohonan dananya. Harusnya dana itu bisa dipake buat olahraga ato cabang2 lain yang lebih berprestasi seperti panjat tebing, renang, kempo, karate, taekwondo dsb. Jangan lupakan juga Kesenian dan kebudayaan.
kita tidak pernah tau, sampai kapan moral para pemimpin kita mau berubah. Duit segitu banyak, dihamburkan untuk memakmurkan segelintir orang. padahal di luar sana, banyak orang yang menjerit tak bisa beli beras, kehilangan minyak tanah, bahkan tak bisa makan tempe karena kedelainya kemahalan.
Ayo bergerak!?
Cara Tuhan Mengabulkan Doa Februari 4, 2008
Posted by ciptabiru in Filsafat.add a comment
Dinihari kemarin, sambil nungguin kerjaanku diprint, aku iseng-iseng nonton Evan Almighty. Film ini memelesetkan kisah nabi Nuh menjadi kisah ala Holywood yang kadang tak peduli dengan norma agama. Bagi mereka, apapun bisa dijadikan bahan. Pesan moralnya si lumayan bagus, cuma caranya aja yang kayaknya kurang etis. Terutama bagi orang timur kayak kita yang kebetulan adalah Muslim. Bagaimana tidak, tuhan dalam film itu digambarkan sebagai seorang lelaki tua berkulit hitam. Sebuah penggambaran yang saya pikir terlalu merendahkan. Meskipun Tuhan mungkin menurut mereka memang bisa menjadi apa saja, even Morgan Freeman.
Well, tapi secara umum, film yang dibintangi Steve Carell (Evan), Morgan Freeman (God?), dan Wanda Sykes ini cuku menghibur. Evan, yang dalam kampanyenya sebagai anggota kongres mengambil tagline ‘let’s change the world’, ditemui tuhan. Dia disuruh untuk membuat bahtera, layaknya nabi Nuh, untuk menyelamatkan ribuan pasang binatang dan tetangganya. Kejadian ini terdapat dalam kitab Kejadian ayat 14 (Genesis : 14)
Seperti halnya Nuh, Evan pun sempat ditinggalkan keluarganya yang mengiranya stress. Di kantor, dia juga dicerca dan dikucilkan. Apalagi ketika kemudian berpakaian aneh layaknya Nuh. Jenggotnya mendadak memanjang dan tak bisa dipotong. Demikian pula dengan rambutnya. Tapi karena keyakinannya, dia tetap nekat membuat kapalnya.
Kejadian paling menyentuh adalah saat istri Evan pergi meninggalkannya. Di sebuah restoran siap saji, dia ditemui oleh tuhan yang menyamar sebagai pelayan.
“Jika seorang manusia memohon agar dia menjadi sukses, apakah tuhan membuatnya sukses?
Jika seorang manusia memohon untuk menjadi berani, apakah tuhan membuatnya menjadi berani?
Jika manusia memohon untuk menjadi bahagia bersama keluarganya, apakah tuhan lantas membuatnya bahagia?
Tidak. Tuhan hanya memberinya jalan dan kesempatan. Jalan dan kesempatan untuk untuk menjadi sukses. Jalan dan kesempatan untuk menjadi berani. Dan jalan serta kesempatan untuk menjadi bahagia. Manusialah yang memilihnya,” kata tuhan yang diperankan Morgan Freeman ini.
Aku jadi berpikir, iya yah! selama ini kiat selalu minta ini, minta itu pada Tuhan. Kita kadang selalu berharap permintaan kita diwujudkan secara instant. Kita kadang tak menyadari bahwa beberapa permintaan kita kadang dikabulkan Tuhan dengan sebuah jalan yang memutar. Bukan secara instant dengan kun fayakuun. Kita sendiri yang harus mewujudkan permintaan dan doa kita dengan perantara ijin Tuhan. Berusaha atau berikhtiar. Tapi jangan lupa berserah diri jika usaha itu ternyata belum membuahkan hasil di dunia.
Oase Iman di Eramuslim Februari 4, 2008
Posted by ciptabiru in Tidak terkategori.add a comment
Lagi asyik nunggu kerjaan selesai, aku iseng negkok eramuslim. Eh, tulisanku ternyata dimuat lho. Selengkapnya liat di sini
Itu cerita pengalaman nyata pas ade’ku minta ijin pake Jilbab. kalo inget kejadian itu, aku masih suka mo nangis. Saat itu begitu indah, syahdu dan penuh kesejukan. Bayangan halangan yang membentang mendadak seperti menghilang dengan keteguhan hati dan lafal Bismillahirrahmanirrahiim.
Bagaimana Caranya Menikah? Februari 1, 2008
Posted by ciptabiru in Umum.3 comments
Topik menikah sedang marak di sekitarku. Di kantor, Juni tinggal menghitung hari. Tanggal 11 besok (Februari 2008) dia sudah dikapling untuk menikahi gadis yang selama ini dicintainya. Mba’ Upik (dia bosku), juga kayaknya semakin siap. Calonnya (anak pemasaran) katanya malah udah cabut dari kantor. Demi memuluskan niat mulia mereka untuk merenda masa depan bersama lewat lembaga pernikahan.
Di kontrakan, Mas Dodo lagi giat banget berburu calon istri. “Kejar target!” katanya. Makanya, meski duit mepet abis, dia bela-belain ke Jakarta. menemui wanita yang baru ditemuinya sekali untuk memastikan jawaban atas pertanyaannya “Maukah kau menikah denganku?” yang baru ditanyakannya kemarin lewat pembicaraan seluler.
Beberapa hari lalu, Ennie (dia sahabatku sejak di kampus) mengabarkan kalau dia sudah dilamar oleh seorang pria Arab (sesuatu yang dikehendaki oleh Abah dan Umi-nya). Sementara barusan, Tari (dia juga salah satu temen kuliahku dulu) malah sedang mengeluh dengan pernikahannya yang baru berumur 2.5 bulan.
Hari ini, sambil mendengarkan Qiro’ dari Masyari Rasyid Al-Faasy aku membaca buku “Bila Hati Rindu Menikah” karangan Mas Udik Abdullah. Tadinya aku pikir ni buku pasti kayak buku-buku lain yang membeberkan alasan-alasan untuk menikah secara letterlux. Tapi setelah aku baca, ternyata nggak gitu-gitu amat. Memang buku ini banyak menyitir hadits, ayat Al-Quran dan riwayat-riwayat para sahabat mengenai alasan-alasan untuk menikah dan segala tetek bengek keraguan dan hasilnya. Tapi cara penceritaanya yang mengalir membuatku langsung khatam membacanya.
Menikah, selama ini memang hal yang selalu kubuang jauh-jauh bila mulai terbersit di pikiranku. Bukan karena aku nggak pengin. Tapi lebih pada tanggungjawabku pada dua malaikat penjaga semangat hidupku (Bani dan Lilis). Tahun ini, Lis bakal masuk kuliah. Sementara Bani mungkin mau KKN (Kuliah Kerja Nyata). Kebayang kan berapa duit yang mesti aku siapin?
Temen-temen seumurku memang sedang getol-getolnya memikirkan rencana-rencana. Baik itu yang mau nikah maupun yang baru saja menikah. Sementara aku merasa sangat egois untuk melakukannya. Bahkan seandainya cuma terbersit di pikiranku sekalipun.
Jika aku memilih menikah, aku takut adik-adikku terbengkalai. Selama ini mereka sudah begitu. Kakak-kakakku yang jumlahnya ada enam sudah tak sempat memikirkan adik-adiknya. Aku tak ingin aku juga melakukan hal yang sama. Dan aku pikir, ini ketakutan yang sangat wajar. Aku tau rasanya hal itu. Ketika sedang sangat membutuhkan bantuan untuk membiayai kuliahku, ternyata orang yang jadi penopang biaya kuliahku malah menikah. Rasanya seperti berdiri di tepi jurang. Aku siap kapanpun untuk jatuh atau malah terjun sendiri. Dan aku tidak mau dua malaikat penjaga semangat hidupku merasakan hal yang sama.
Sebelum ini, aku merencanakan untuk menikah sekitar empat tahun mendatang. Prediksiku saat Lis lulus kuliah dan mungkin setelah itu sudah bisa mandiri. Itu artinya pada saat itu umurku sudah menginjak angka 32. Sebenarnya mungkin belum terlalu uzur. Tapi demi mengingat gangguan-gangguan dan dosa-dosa yang mungkin tercipta pada seorang bujangan, aku jadi ngeri sendiri.
Begitu membaca buku “Bila Hati Rindu Menikah”, aku sebenarnya seperti disadarkan. Allah telah menjanjikan pertolongan, kekayaan dan kecukupan bagi hamba-hamba-Nya yang mengikhlaskan hati dan berniat menikah demi memenuhi sunnah Rasul untuk menggenapi separuh agamanya. Demi menjaga kehormatan dan menghindarkan diri dari maksiat. Sumpah, I do realy want too. Tapi bagaimana caranya?
Bagaimana caranya agar aku bisa menemukan seorang akhwat yang mau menemaniku mengarungi bahtera kehidupan ini? Yang mau menikah karena ingin masuk surga? Yang ingin menikah karena tak ingin bermaksiat ria? Yang ingin menikah karena ingin menjaga kehormatannya? Yang ingin menikah karena ingin menggenapi separuh agamanya yang belum genap? Dan yang lebih penting mau menerimaku apa adanya.
Ada yang punya kenalan Akhwat? Penginnya si, Agamanya bagus. Cantik batin (cantik lahirnya bisa jadi hanya sebagai bonus), dan siap menikah? Umur sekitar 22-27 thn. Syukur kaya. Kalo ada, tolong doakan pada Allah agar aku bisa menemuinya.