Aku dan Koentjaraningrat Februari 7, 2008
Posted by ciptabiru in Umum.4 comments
Hari Minggu (2/2) lalu aku memunculkan tulisan seorang pembaca Radar Banyumas yang minta namanya disebut sebagai Rosyidah Purwo. Tulisannya berjudul “Menjaga Tradisi Bukan Sekedar Biaya”. Tulisan ini merupakan tanggapan dari tulisanku yang berjudul “Karena Bangga juga Butuh Biaya” yang muncul seminggu sebelumnya.
Aku sebenarnya paham benar dengan maksud dari si penulis. Bukan pertentangan yang dia angkat, tapi justru sinergisme dan faktor yang saling mendukung dan menguatkan. Mungkin karena faktor pemilihan kata dan kalimatlah yang membuatnya jadi seolah bertentangan. Aku pikir ini hanya masalah kebiasaan menulis (meskipun dia juga mencantumkan tulisannya sebelumnya pernah ditulis di SM).
Ada satu hal yang membuat aku jadi tercenung (bahasa apa ini ya? mungkin asal katanya dari Cenung?) Yaitu pas dia menyitir teorinya Koentjaraningrat tentang pewarisan. Koentjaraningrat ini kan ahli sosiologi paling kenamaan di Indonesia. Lha, aku dibanding-bandingin sama beliau. Ya nggak level lah!
Aku tu nulis sebatas ingin mengungkapkan isi hati dan kekecewaanku pada pemerintah daerahku yang kelewat nggak adil pada seniman dan budayawan. Masa, dana untuk OR sampai 6,5 milyar, eee… dana buat kesenian yang dilewatkan melalui Dewan KEsenian Kabupaten cuma 100 juta. Timpang banget kan. Makanya, aku tulis di situ, bangga saja dengan kesenian itu tak cukup dikoar-koarkan. tapi juga harus ada usaha untuk melestarikannya. Melestarikan (ini berarti termasuk usaha-usaha untuk terus mewariskannya, aku pikir) berarti juga butuh biaya. Nggak sekedar itu tadi, berkoar ke sana kemari.
Padahal kalo mo jujur, cabang sepak bola (dia dapat 1,5 M) nggak ada prestasinya sama sekali kecuali menghabiskan duit milik rakyat banyak itu. Ini mentang2 yang ngurusi itu para petinggi pemerintahan dan DPRD. Liat aja, ketua umumnya aja Ketua DPRD. Sementara ketua KONI-nya adalah Bupati. Ya gimana nggak lolos itu permohonan dananya. Harusnya dana itu bisa dipake buat olahraga ato cabang2 lain yang lebih berprestasi seperti panjat tebing, renang, kempo, karate, taekwondo dsb. Jangan lupakan juga Kesenian dan kebudayaan.
kita tidak pernah tau, sampai kapan moral para pemimpin kita mau berubah. Duit segitu banyak, dihamburkan untuk memakmurkan segelintir orang. padahal di luar sana, banyak orang yang menjerit tak bisa beli beras, kehilangan minyak tanah, bahkan tak bisa makan tempe karena kedelainya kemahalan.
Ayo bergerak!?