Tentang Beriman dan Bertaqwa Februari 8, 2008
Posted by ciptabiru in Filsafat, Umum.add a comment
Orang sering berkata, kepercayaan kepada Tuhan adalah urusan atau hal yang paling pribadi. Itu hak manusia yang paling hakiki. Itu urusan antara seorang pribadi dengan Tuhannya. Karena itu tak ada sesuatu apapun yang berhak mencampurinya.
Tadinya aku agak membenarkan hal itu. Setidaknya sampai aku mendengar khutbah Jumat siang tadi di masjid Agung Baitussalam.
“Dalam Islam, masalah iman atau kepercayaan tak cukup diyakini di dalam hati saja. Iman bagi seorang muslim harus diucapkan melalui lesan, diyakini di dalam hati sekaligus dilaksanakan dalam bentuk perbuatan,” kata Khariri Shofa, sang khatib.
Sejak SD, melalui pelajar PMP (Pendidikan Moral Pancasila) kita diajari bahwa masalah beragama (baca mempercayai Tuhan) adalah hak yang tak bisa diganggu gugat. Baik oleh orang lain maupun oleh negara. Padahal di dalam Islam, ada ayat yang mengatakan bahwa seorang bisa menjadi Muslim, Nasrani, Yahudi ataupun Majusi tergantung dari orang tuanya. Artinya, orang tualah yang punya andil sangat besar untuk menentukan apa agama anaknya kelak.
Menengok ke belakang, aku jadi ingat bagaimana Pancasila dibuat. Lima sila yang terdapat di dalamnya ternyata sangat kental dengan doktrin zionisme. Bahkan, dalam sebuah artikel, Sukarno jelas-jelas mengaku pemikirannya banyak dipengaruhi seorang zionis berkebangsaan Belanda.
Pemerintah Orde Baru (lihat persamaan maknanya dengan novus ordo sclorarum atau tata dunia barunya Zionisme dalam duit 1 dolar Amerika) pimpinan Suharto yang dibackup penuh Amerika semakin membuat pancasila sebagai azas tunggal untuk kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Itulah kenapa pada saat itu orang-orang Islam yang enggan menggunakan Pancasila sebagai azas tunggal diberantas oleh Suharto lewat tangan LB Moerdhani.
Kita mesti mewaspadai jargon yang mengatakan bahwa beragama adalah hak paling hakiki dari manusia. Ingat, sejak zaman azzali manusia telah bersaksi, Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Jadi secara fitrah, manusia sebenarnya telah mengakui keesaan Allah sebagai Tuhannya dan Muhammad sebagai rosul Allah. Orang-orang tuanyalah yang kemudian menjadikan mereka Nasrani, Yahudi, Majusi dsb.
Saya juga sepakat, kalau memang kita beriman maka maklumatkanlah dengan ucapan “Asyhaduanlaa illahaillallah. Waasyhaduanna Muhammadarrasulullah”. Setelah itu yakinkan dan tetapkan di dalam hati ucapan yang telah kita keluarkan. Setelah itu lakukanlah dengan perbuatan. yakni dengan menjalankan semua perintah Allah dan meninggalkan segala larangannya.
Ittaqullah. Ittaqullaha haqqo tuqattihi wala tamutunna illa wantum muslimun.