Kenapa Kita Tidak Boleh Su’uzon Maret 26, 2008
Posted by ciptabiru in Umum.add a comment
Bismillahirrahmanirrahiim…
Subhanallah. Mungkin itulah kata yang harus aku ucapkan terlebih dahulu. Atau mungkin Allahu Akbar. Atau malah Astaghfirullahhal’adziim. Apapun, yang jelas aku pikir aku memang harus mengucapkannya semua.
Ceritanya begini, siang tadi seorang teman mengirimiku SMS. “Chub, kamu mau kerjaan ngajar di LP3I. Tadi aku ketemu sama orang LP3I katanay lagi butuh tenaga pengajar jurnalistik. Gimana?”
Aku berpikir sebentar. Teringat sabda Rasulullah SAW “Bila seorang anak Adam wafat, maka amalnya terputus kecuali tiga hal:[1] Shadaqah jariah,[2] Ilmu yang bermanfaat dan [3] Anak shalih yang mendoakannya.(HR. Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa’i dan Ahmad. Sebenarnya aku sempat ragu untuk meng-iya-kan. Tapi kemudian aku ingat hadits itu lagi. Akhirnya aku jawab “Boleh juga. Kapan mau ketemu?” lalu aku dapat lagi sebuah SMS. Katanya nanti orangnya mau calling dulu ke dia.
Siang hari, saat liputan di kantor kesbanglinmas temanku kembali mengirimiku SMS. “Chub, nanti ada orang LP3I mau hubungi kamu. Namanya Pak Jain. Nanti rembugan sendiri saja. OK?” Saat itu, aku tanpa sadar mengharap ada sebuah telpon yang menghubungiku. Makanya kemudian ketika ada sebuah SMS yang menyatakan bahwa dia adalah orang yang dimaksud temenku, aku langsung berpikiran jelek. Sebuah pikiran yang kemudian aku sesali beberapa jam kemudian. “Uh, masa LP3I kok nggak mau nelpon. Malah SMS. Nggak modal banget,” batinku saat itu.
Tapi aku tetap membalasnya (tentunya tanpa marah2 dong). “Pada prinsipnya saya bisa. Bisa ketemu dimana ya pak?” tanyaku. Maksudku untuk membahas teknis dan persiapan yang harus aku lakukan. Dan dari hasil janjian saat itu, akhirnya kami janjian ketemu di kantor saya pukul 3. Saat itu, karena lelah berkeliling seharian mengurusi persiapan jalan sehat ultah kabupaten dan sekaligus liputan, aku menyempatkan diri untuk mengistirahatkan sel-sel tubuhku yang dehidrasi ditimpa sengatan matahari.
Tanpa aku sadari, ternyata aku terlelap tidur di kamarku. Dan baru bangun pukul 15.11. Astaghfirullohhal’adziim. Betapa lemahnya kita para manusia. Hanya karena kenikmatan dalam lelapnya tidur saja, kita sampai melupakan janji. Aku akhirnya langsung bangkit dan ngebut ke kantor. Sekitar 15 menit kemudian aku akhirnya sampai. Tapi tak kulihat kendaraan yang mencirikan keberadaan orang LP3I. “Jangan-jangan orangnya kecewa dan akhirnya pergi,” batinku merasa bersalah.
Setelah masuk ke kantor, ternyata memang tidak ada orang yang mencariku. Pikiran su’udzonku kambuh lagi. (ampuni diri yang lemah ini ya Allah). “Oo, ternyata tu orang juga telat. Wah kalo begini, dia pasti bukan orang yang bisa memegang janjinya,” batinku. Aku akhirnya masuk ke ruang rapat dan mengikuti rapat listing rutin.
Baru lima menit masuk, aku dipanggil sekretaris redaksi karena ada orang yang mencariku. Aku yakin ini adalah orang LP3I yang dimaksud temanku. Tahu apa yang pertama kali diucapkannya setelah memperkenalkan diri? “Saya mohon maaf tidak tepat janji dan datang terlambat,” katanya tulus. Nyess…Tiba-tiba seperti ada segalon penuh air es yang menyiram tubuhku yang sedang panas karena cuaca yang memang sedang panas dan sedikit rasa jengkel. Aku langsung merasa sangat bersalah telah su’udzon padanya. Su’udzon mengiranya tidak tepat janji. Su’udzon menganggapnya tidak modal dan sebagainya.
Semua prasangkaku langsung luruh begitu melihat wajahnya yang seperti memancarkan aura kesejukan karena seringnya terbasuh wudlu. Diam-diam aku beristighfar dalam hati. “Maafkan hamba ya Allah. Sungguh betapa lemahnya hati yang gemar berprasangka jelek ini. Maafkan hamba ya Allah…” Tanpa terasa mataku mengembun. Selapis kabut tiba-tiba juga menutupi mataku. Aku hampir saja meneteskan air mata kalau saja tidak malu melakukannya.
Yang duduk di hadapanku adalah seorang lelaki yang, subhanallah..sangat sederhana. Kejengkelanku kenapa dia hanya meng-SMS aku langsung sirna. Yang ada di hadapanku adalah seorang suami yang ingin dekat dengan istrinya. Dia ingin berhenti bolak-balik Jakarta-Purwokerto setiap minggu. Dia lelaki yang sudah capek berjauhan dengan istrinya. Di hadapanku adalah seorang lelaki yang ingin hidup damai bersama istri dan anaknya. Di hadapanku duduk seorang lelaki yang memilih memulai usaha dengan membuka cabang dari perusahaan tempatnya bekerja selama puluhan tahun.
Dengan penuh kerendahan hati dia bilang, bahwa usahanya memang belum mulai. Dia sedang mencari orang-orang yang akan dijadikannya tim untuk membuka usahanya. Dengan tulus, dia juga bilang, usahanya belum memiliki peralatan-peralatan canggih penunjang pembelajaran. Tapi dia siap berusaha mendapatkannya suatu saat. Dia juga bilang, apa yang dilakukannya mungkin tidak akan banyak menghasilkan uang. Itu sebabnya dia tak bisa menjanjikan banyak uang untuk membayarku. Subhanallah…Aku baru pernah bertemu dengan orang sejujur ini. Orang yang mau menceritakan kejelekan dan kekurangannya pada orang yang mau diajaknya bekerja sama. Orang yang dengan penuh keterbukaan mengemukakan maksudnya tanpa rasa malu apalagi minder.
”Seperti di SMS saya sebelumnya, pada prinsipnya saya Insya Allah siap membagi sedikit ilmu yang saya punya. Kalau memang itu bisa bermanfaat bagi orang lain, saya siap membaginya,” kataku. “Subhanalloh. Alhamdulillah ya Allah. Allahu akbar,’ sahutnya penuh rasa syukur. Aku kembali dibuatnya tertegun. Berkali-kali aku mendengar dia berdzikir menyebut nama Allah. Tanpa canggung dan penuh ketulusan. Sebuah pertanda bahwa lafal-lafal itu adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupannya.
Satu lagi yang membuatku sangat malu adalah saat dia berpamitan. Ternyata dia berjalan lurus ke arah jalan raya usai mengucapkan salam. “Masya Allah. Ternyata dia naik bis. Astaghfirullahal’adziim. Jadi ini kenapa aku tak melihat kendaraan lain di depan kantorku. Rupanya dia terlambat datang ke kantorku karena harus menunggu bis. Sekali lagi, ampuni aku ya Allah…
Maha suci Allah yang telah mempertemukan aku dengan orang-orang baik seperti Pak Jain ini. Maha besar Allah yang telah mengatur pertemuan kami. Ampuni diri yang hina ini ya Allah. Diri yang selalu diliputi dengan prasangka. Diri yang selalu diselimuti kesombongan dan takabur. Terimakasih Pak Jain. Engkau menyadarkan aku betapa kita tak semestinya menghakimi orang jika belum benar2 bertemu atau mengenalnya.
Salamun ‘Alaika Ya Ummi fil Jannah Maret 21, 2008
Posted by ciptabiru in Umum.5 comments
Aku malu mengakuinya, tapi aku memang tidak ingat kapan tepatnya terakhir kali menatap matamu yang terpejam ya Ummi. Mataku selalu tertutup kabut dan embun yang hangat saat mencoba mengingatnya. Jujur, aku tak ingin mengingat saat itu. Senyuman yang tersungging di bibirmu selalu menggoreskan rasa perih di setiap mili hatiku.
Laailaahaillallah…Laailaahaillallah…Laailaahaillallah…
Itu kata terakhir yang kau bisikkan ke telingaku setelah selesai membaca Ummul kitab. Tidak ada gerakan lain yang menandai kehidupanmu selain nafasmu yang berhembus teratur. Sehari. Dua hari. Tiga hari. Tak jua ada penanda kepulihanmu. Engkau tertidur dengan tenangnya. Hari keempat. Hari kelima. Tetap saja hanya kecemasan yang menyelimuti kami. Engkau tetap saja diam dan hanya menyunggingkan senyuman tanpa pernah lelah. Tapi ya rabb, kenapa tak kunjung Engkau bangunkan wanita yang melahirkanku? Aku ingin mendengar suaranya. Aku ingin dia melihatku. Aku ingin memohon maaf padanya. Aku ingin…Aku ingin dia hidup ya Allah.
Yaaasiiin…
Wal qur’anilhakiim..
Innaka laminal mursaliiin…
‘Ala sirotimmustaqiim…
Aku mendengarkan suara lirih adik bungsuku di samping kepala wainta agung itu di hari keenam. Sebuah senyum yang lebih lebar merekah dari bibirnya. Tapi…Tapi tak ada gerakan. Tak ada mata yang terbuka. Tak ada tangan yang bergerak. Bahkan, nafasnya, satu-satunay yang masih menandakannya hidup, menghilang.
Innalillahi wainna ilaihi raji’un….
Jika memang enam hari itu adalah sebuah penderitaan, maka aku yakin engkau telah melaluinya. Meskipun kemudian kami tak pernah mendengar ceritanya dari mulutmu, tapi kami yakin engkau sudah mengatakannya lewat seringai ikhlas yang tergambar dari bibirmu.
Wahai wanita yang darimu aku mendapatkan air susu…
Seandainya alam tak menghalangi kita bertemu,
sungguh aku ingin bersimpuh di kakimu…
Aku ingin menjagamu…
Aku ingin selalu bersamamu
Aku ingin menjadi orang yang bisa kau banggakan
Aku mau menjadi apapun yang kau inginkan di jalan Allah.
Saat ini, saat titik-titik embun mulai tercipta di ujung dedaunan
saat bumi berselimut kabut kelabu keperakan
saat suara dengkur para penghuni bumi bersahut-sahutan
Aku tak pernah tahu apa yang sedang terjadi padamu
Apakah sedang tersenyum memandangku
Atau justru berlari menghindari jilatan api
Ya rohmanurrohiim…
Hamba sadar hamba terlalu hina untuk meminta
Tapi karena Engkaulah yang Maha mengasihi dan Maha menyayangi seisi dunia
Kasihinilah seorang ibu yang telah melahirkan 9 saudaraku
Seorang istri yang tek pernah lelah mencari nafkah
untuk menghidupi keluarganya
Jangan biarkan setitik api jahannam menyentuh dirinya
Jangan biarkan Malaikat Malik menemuinya
Jangan biarkan pintu surga tertutup untuknya
Biarkan dia melangkah lurus menuju SurgaMu
Bukakan semua pintu SurgaMu untuknya Ya Allah
Biarkan memilih pintu yang dikehendakinya
Ya Ghoffar..
Ampunkanlah segala kesalahan dan dosa yang sempat dibuatnya
Pelihara dia seperti saat dia mendekap erat tubuh-tubuh sepuluh anaknya
Dengan cinta….
Dengan sayang..
Dengan ikhlas…
Review Bukuku di Multiply Maret 19, 2008
Posted by ciptabiru in Umum.add a comment
Sejak minggu kedua Maret (2008) ini, aku (melalui kantorku-Radar Banyumas) menjalin kerjasama dengan Toko Buku Gramedia untuk penulisan resensi. Lumayanlah, kini setiap bulan aku dapat empat buku gratis. Meskipun genre-ne tak bisa kutentukan sendiri, tapi mengikuti kemauan mereka, aku tetap bersyukur. Paling tidak, aku bisa mengurangi anggaran untuk membeli buku. Atau paling tidak (lagi) aku bisa membeli buku yang aku pengin, sementara koleksiku makin bertambah.
Oya, supaya bisa berbagi, aku juga menuliskannya di blogku yang di multiply kalo sempet mampir ya. Komet juga boleh. Tapi jangan mencaci ya. Aku suka minder kalo dicacimaki
Menyemai Maksiat di Universitas Islami Maret 14, 2008
Posted by ciptabiru in Umum.add a comment
Malam Kamis (13/3) kemarin, aku diundang oleh seorang kolega untuk menonton teater yang disutradarainya. Wah, aku antusias banget menanggapi undangannya. Maklum, udah lama banget nggak nonton pementasan teater. Mungkin terakhir kali nonton sekitar dua tahunan lalu. Waktu itu nonton pementasan di Fakultas Sastra Unsoed. Kondisi pekerjaan yang mesti dilakukan malem hari membuatku tak pernah bisa memuaskan hobbyku yang satu ini.
Sebuah naskah satire karya Emha Ainun Nadjib berjudul Gegere Wong Ngoyak Macan dipilih sebagai cerita yang dipentaskan Mas Edi Romdlon (Dia kepala biro Koran Kedaulatan Rakyat di Banyumas yang nyambi jadi dosen tamu di UMP. Aku biasanya memanggilnya dengan Mas Edon). Naskah ini katanya termasuk naskah berat. Penuh terisi dengan adegan dialog panjang-panjang. karena itu kemampuan akting dan dialog plus artikulasi pengucapan kata sangat dipertaruhkan.
Secara umum, pementasannya aku anggap berhasil. Kecuali beberapa detil kecil yang menurutku tak mempengaruhi keseluruhan pementasan. Diantaranya lighting yang kurang kompak dengan pemain. Tapi belakangan aku ketahui, lighting mannya baru operasi. Jadi diganti sama pemain baru.
Jujur aja, sebenarnya aku nggak begitu bisa menangkap tujuan yang ingin disampaikan naskah ini. Soalnya banyak hal-hal simbolik yang dipilih sang sutradara untuk mengungkapkan maksud. Surealis banget (meski sebenerenya juga tetep realis). Misalnya ketika ‘Sang saka’ bilang, aku ada di luar, tapi tak bisa kau masukkan, dan aku ada di dalam tapi tak bisa kau sebar. Sang saka, yang semula aku kira sebagai bentuk ’suara Tuhan’ juga ternyata hanya seorang guru. “Guru bisa ada di mana saja dan menjadi apa saja,” katanya. Padahal, saat itu disisinya ada tokoh yang diejawantahkan sebagai sosok guru yang sebenarnya. Jadi dia itu guru apa? Aku nggak tahu. Kemudian, aku malah berpikir kalau sang saka ini adalah suara hati nurani. Soalnya dia sering mempertentangkan apa yang dikisahkan para pemain di bawah (oya, dia posisinya ada di atas, sekitar 3 meteran). Tapi, ternyata semua orang yang ada di bawahnya, kadang bisa berinteraksi dengannya.
Pas akhir pementasan, aku disuruh berkomentar. “Wah, sejak tadi saya menulis. Jadi biar Pak Bador (Bambang Wadoro-pegiat teater kawakan) saja yang duluan,” kelitku. Padahal, aku memang tidak pede memberi komentar. Ini tentu karena kepicikan dan kedangkalan ilmuku tentang teater. Aku pikir, aku terbiasa mendengar, berpikir dan kemudian menulis. Terakhir aku membacanya. Aku jarang melakukan urutan dengan model melihat, mendengar dan kemudian bertutur.
Well, sebenernya bukan itu inti dari tulisanku kali ini. Yang ingin aku katakan adalah rasa mirisku saat datang ke ruangan Auditorium UMP ini. Masya Allah, di ruangan yang dibuat gelap itu, cewek dan cowok dijadikan satu tanpa pembatas. Aku tanya sama temenku waktu SMA yang kebetulan sekarang giat di dunia teater. “Lho, ini perempuan sama laki-laki tidak dipisah?” tanyaku heran. Eh, dia malah tertawa. Aku tahu, mungkin dia mencibirku. “Ya enggak lah. Masa nonton teater kok dipisah,” katanya enteng.
Astagfirullahal’adziim. Ampuni aku ya Allah, kalo aku membuat dosa dengan memenuhi undangan ini. Demi Allah, kalau tak ingat bahwa memenuhi undangan dan menepati janji itu wajib hukumnya, aku pengin sekali pulang. Apalagi, ternyata aku duduk di sebelah seorang perempuan. Di belakangku juga ada perempuan lain. Bahkan di depanku juga. Aku berusaha sebisa mungkin agar tak bersentuhan dengan mereka. Dan kayaknya mereka paham dengan ketidaknyamananku.
Aku cuma heran, di sebuah institusi yang membawa lembaga agama sebagai namanya, ternyata kehidupannya begitu liberal. Bahkan, pemain perempuannya tak satupun yang menutup kepalanya dengan hijab. Ada satu si sebenernya. Tapi sepertinya dia sangat enjoy bergelayut mesra ke lawan mainnya yang aku yakin bukan muhrimnya. Aku cuma bisa menunduk malu dan mengucap istighfar. Semoga aku dijauhkan dari hal-hal semacam ini ya Allah…
Kalau di lembaga yang membawa nama agama saja, kondisinya sudah begini, bagaimana di tempat lain? Padahal aku mati-matian tak mau menginjakkan ke bioskop karena begitu besarnya potensi kemaksiatan di dalamnya. ternyata, ini di universitas yang ada nama organisasi Islama di tengahnya, kemaksiatan justru dibiarkan. Masya Allah.
Aku bukan sedang sok suci dan munafik saat menulis ini. Demi Allah, ini adalah upaya saya pribadi untuk berusaha menghindarkan diri dari kemaksiatan. Ya rabb, tunjukanlah kami jalan yang lurus. Seperti jalan orang-orang terdahulu yang engkau ridloi. Amiiin
Prasangka Wong Banyumas dan Prasangka Urang Bandung Maret 8, 2008
Posted by ciptabiru in Bahasa, Umum.add a comment
Mengunjungi daerah lain yang menggunakan bahasa berbeda dengan bahasa yang saya gunakan selalu menjadi sesuatu yang menarik bagi saya. Karena itulah, saya selalu antusias ketika pergi ke sebuah daerah yang saya tahu bahasanya lain. Begitupun ketika ada tawaran dari seorang sahabat saya yang tinggal di Bandung Jawa Barat.
Pengalaman awal saya ketika akan pergi ke kota ini, nyaris sama ketika saya pergi ke Surabaya (Radar Banyumas Edisi Minggu (24/2) lalu). Ya, di kota saya sendiri, di Banyumas, saya selalu disapa orang dengan bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Padahal yang menyapa saya juga saya tahu pasti bahwa dia orang Banyumas.
Sebenarnya, kegamangan untuk mempertahankan budaya daerah atau menerima arus modernisasi dengan melebur bahasa dengan serbuan jutaan istilah baru dari berbagai bahasa juga terjadi di Bandung dan tanah pasundan pada umumnya. Di sana, mereka juga kerap berdebat mengenai eksistensi dan keharusan menyelamatkan bahasa Sunda dan budaya-budayanya. Tapi yang membuat saya salut, mereka tak sekedar merasa prihatin. Mereka mewujudkan keprihatinan itu dalam sebuah wacana. Mereka menerbitkan buku. Mereka menerbitkan kamus Bahasa Sunda. Mereka mengadakan seminar dan diskusi serta berbagai kegiatan yang gaungnya bisa didengar ke seluruh sudut Jawa Barat karena disupport oleh media.
Sementara kita di Banyumas, kadang hanya bisa mengelus dada saat anak-anak kita atau generasi muda sudah tak punya rasa unggah-ungguh dengan generasi yang lebih tua. Jangankan menggunakan bahasa kromo inggil, bahasa ngopo saja sudah sangat jarang digunakan oleh anak muda jaman sekarang. walhasil nilai ke-Banyumas-an semakin luntur di masa sekarang.
Parahnya, kita juga sangat jarang membuat langkah nyata untuk menyelamatkan keadaan ini. Seminar bahasa Jawa dialek Banyumasan, mungkin baru pernah diadakan dalam hitungan jari. Sementara buku yang khusus membahas tentang bahasa Jawa dialek Banyumasan, mungkin malah belum ada.
Tapi tak apalah. Mungkin ini terjadi karena Banyumas memang tak bisa dibandingkan dengan Bandung. Dari segi luas dan status saja, Banyumas memang sudah kalah. Di sini cuma kota kabupaten. Sedang Bandung adalah kota provinsi. Di sini cuma ada tiga perguruan tinggi. Sedang di Bandung jumlahnya bisa ratusan. Yang dengan sendirinya tersedia cukup banyak orang ‘yang bisa dan mau berpikir’ tentang masalah kebahasaan dan kebudayaan daerahnya.
Ada satu hal yang sangat menarik yang saya rasakan ketika berada di Bandung. Yakni apa yang saya sebut sebagai prasangka Bandung. Di Bandung, orang (mungkin) selalu mengira bahwa orang yang ditemui dan diajak bicara adalah orang Bandung. Atau minimal adalah orang yang bisa berbahasa Sunda.
Tak heran, begitu berjumpa dengan orang, saya langsung ditanya ‘Kumaha da(ra)mang?’ Selain itu, saya juga selalu dipanggil dengan sebutan Aa (mas kalau di tempat kita). Mereka (orang-orang Bandung) juga selalu menyapa saya dengan bahasa Sunda. Baru setelah saya bilang saya dari Jawa, mereka mengganti bahasa pengantar dengan bahasa Indonesia, tentu saja masih dengan logat Sundanya. Dan hal ini saya alami bukan cuma di tempat kos teman saya. Tapi juga di warung makan, di angkutan kota, di bengkel sepeda motor, di sentra pembuatan keramik atau bahkan di kampus sekalipun.
Saya melihat ada sebuah kepercayaan diri yang sangat tinggi di benak orang-orang Bandung (dan mungkin juga orang Sunda). Mereka (mungkin) berpikir bahwa semua orang yang ditemuinya adalah orang yang bisa berbahasa Sunda. Karena itu mereka selalu menyapa dengan bahasa mereka. Jika ternyata yang diajak bicara tak bisa bicara bahasa Sunda, baru mereka menggantinya.
Beda sekali dengan orang Banyumas yang langsung memilih menggunakan bahasa Indonesai saat menyapa orang baru. Meskipun, hal ini juga tak bisa kita vonis sebagai representasi rasa minder. Kemungkinan bahwa kita (orang Banyumas) sangat menghargai orang-orang baru yang belum dikenal dengan menyapanya menggunakan Bahasa Indonesia, bisa saja dikemukakan sebagai alasan. Namun tanpa kita sadari, dengan berbuat demikian kita sudah menomorduakan bahasa kita sendiri di rumah kita. Kita juga selalu berprasangka bahwa orang-orang yang kita temui tak tahu dan tak bisa bahasa Banyumas. Atau jangan-jangan alasan sebenarnya adalah karena kita malu? wah, kalau jawabannya adalah yang terakhir ini, saya mendingan mengangkat kedua tangan saya sejanak. Setelah itu saya turunkan untuk mengelus dada saya. Ingat. Mengelus, bukan menepuk.
Hunting Foto Oldiest dan Melampiaskan Narcisme Maret 7, 2008
Posted by ciptabiru in Sejarah, Umum.add a comment
Hari kedua di kota Kembang, aku habiskan untuk hunting foto. Yupz! Ribuan geudng tua yang jadi saksi sejarah pendudukan Belanda adalah objek yang sangat menarik untuk diabadikan dalam bingkai-bingkai cahaya. Karena itu, begitu subuh telah lepas, aku sudah bersiap berkeliling seantero Bandung.
Jalan Asia-Afrika menjadi tujuan utamaku. Selain karena paling dekat dengan tempat aku tinggal, di jalan ini juga berjibun bangunan tua yang nilai sejarahnya sudah tak diragukan lagi. Ada hotel Svoy Homman, pertokoan China, gedung Boscha, studio foto Goodland dan tentu saja gedung tempat diselenggarakannya konferensi negara-negara dunia ketiga di Asia dan Afrika. Sekarang gedung itu diberi nama Gedung Merdeka.
Selain memotret keeksotisan bangunan dari beton ini, aku juga melampiaskan hasrat narcisku dengan berjeprat-jepret menggunakan latar gedung-gedung tersebut. Sumpah, kalo di kota sendiri, aku pasti bakalan nehi-nehi alias males setengah mati. Tapi berhubung ini di kota spesial dan waktu yang spesial, makanya aku cuek aja. “Kan nggak ada yang kenal. Ngapain juga pake malu,” batinku. Lagian, ternyata nggak cuma aku yang berbuat begituan. Banyak orang-orang yang sengaja berfoto ria mengabadikan moment dan keelokan gedung bersejarah tersebut.
Dari Asi-Afrika, aku melanjutkan perjalanan ke arah utara. Di sini sempet motret juga gedung pertemuan yang kemarin sempat menewaskan sepuluh anak underground saat konser. Sayang, pas mo narcis lagi, ternyata lagi ada shooting film di situ. Jadi mending batal aja.
Perjalanan pun aku lanjut ke arah utara. Braga is my next destination. Di ujung jalan ini, gedung bersejarah tempat kantor berita Antara seakan menyapa setiap pengunjung yang ingin memasuki jalan bersejarah ini. Kalo aku bilang, nih jalan udah bukan kayak di Indonesia lagi. Semua bangunannya Eropa banget. Bahkan toko-tokonya pun mirip banget dengan gaya toko-toko dio Eropa sono yang sering aku liat di TV. Dan udah bisa ditebah sendiri lah. Aku pastinya nggak bakalan mau melewatkan moment dan background super keren ini sebagai tempat untuk melampiaskan hasrat narcisku (he..he…he..)
Abis puas menelusuri Braga, aku lanjut ke gedung Indonesia menggugat. Di sini aku seperti bisa melihat Soekarno yang berpidato menggugat Belanda lewat orasi kerennya juga berjudul Indonesia Menggugat. Abis itu, aku ke Gereja Bethel. Bukan buat beribadah tentunya, tapi mengabadikan keeksotisan bentuk bangunannya. Gedung Bank Indonesia menjadi sasaran berikutnya. Setelah itu, tentu saja adalah Gereja Katedral yang ada di seberangnya. Menaranya yang menjulang dengan hiasan atap berbentuk pyramid membuatnya kelihatan megah.
Gedung sate adalah sasaran terakhir. Sayang. Pas mo narcis lagi, ternyata lagi ada demo mahasiswa KAMMI dan HMi yang menuntut pembebasan Palestina dan menghancurkan Yahudi si teroris itu. Aku si salut banget sama tema yang diusung mereka. Itu juga cita-cita yang ingin selalu aku wujudkan. Membebaskan Palestina dari cengkeraman si keparat Yahudi dan menghancurkan negara zionist itu agar hilang dari peta dunia.
Karena hari sudah menjelang Jumatan, akhirnya aku akhiri perburuan hari ini. Sebenarnya masih banyak objek yang pengin kudatangi. Tapi waktunya nggak nyukup. Tapi aku berjanji, saat ada kesempatan lagi, aku pasti akan kembali.
The City of Artist Maret 7, 2008
Posted by ciptabiru in Umum.add a comment
Aku selau ingin mengunjungi kota ini. Tapi sejauh ini, selalu ‘tidak sempat’ lah kata yang aku dapat. Entah itu tidak sempat karena waktu maupun biaya. Kerjaan di kantor yang tak kunjung habis akhir-akhir ini membuat aku tak bisa meluangkan waktu untuk sekedar berlibur menyegarkan pikiran. Keterbatasan biaya karena banyaknya agenda dan keperluan juga membuat biaya untuk pergi ke kota ini selalu terabaikan.
Well, tapi akhirnya here I’m. Aku akhirnya bisa tiba di kota yang baru dua kali kusambangi ini. Pertama saat mahasiswa dulu. waktu itu aku janjian dengan seorang peternak domba garut di lapangan Sukamiskin. Jadi di kota ini aku cuma nunmpan lewat. Dan yang kedua waktu ikut anggota dewan dan pegawai Pemkab ‘ngabisin duit rakyat’ dalam acara bertajuk Press TOur. Sumpah, kalau ingat yang kedua ini, aku suka nyesel. Kok tega-teganya ya aku ini. Makan duit rakyat banyak sementara kasus gizi buruk, kelaparan dan biaya berobat super mahal terjadi di sekitarku. Anyway, ini adalah kali ketiga aku datang ke kota yang punya julukan ‘Paris van Java’ ini.
Datang pada pagi buta, aku langsung disambut dengan senyuman-khas Rhoma Irama-sahabatku, Kisdiantoro. Ya, kedatanganku ke sini memang sedikit banyak untuk memenuhi janjiku padanya. Aku sudah beberapa kali berjanji untuk datang ke sini dan ngobrol banyak dengannya. Tentang kami, tentang cita-cita kami, tentang sikap dan idealisme kami, dan tentang hal-hal lain. Mulai dari urusan jodoh sampai kerjaan.
Ketika baru menginjakkan kaki di aspal Jalan Terate yang basah, aku langsung merasakan nuansa rumah. Ya. Ini memang lokasi yang sangat jauh dari rumahku di Purwokerto tercinta. Tapi ada pepatah amerika yang mengatakan bahwa rumah adalah tempat di mana kamu bisa merasa nyaman. Dan aku menemukannya di tempat ini. Saat matahari masih berselimut dengan kepekatan malam. Saat kabut masih berlomba-lomba memproduksi embun. Dan saat trotoar jalan Malabar masih sepi dari para penjual sepeda bekas. Aku merasakan rumahku mendadak hadir di kota mode-nya Indonesia ini.
Berbicara mengenai mode, kota ini benar-benar membuat aku kagum. Semua orang yang kita temui, adalah representasi dari mode. Bukan semata latah, tapi tampil layaknya artis adalah jiwa dari kota ini. Mulai dari potongan rambut, model celana, baju, sampai sepatu. Semuanya merupakan ekspresi seni.
Aku diajak berjalan-jalan ke beberapa lokasi untuk keperluan liputan. Di ITB, aku masuk ke Aula Barat, tempat sebuah diskusi publik tentang BLBI digelar. Pembicaranya adalah anggota DPD RI, Marwan Batubara dan Kufriadi dari LSM Koalisi Anti Utang. Aku tak membahas mengenai isi diskusi yang sedang ramai dibicarakan orang di berbagai tempat. Ya…masalahnya masih seputar lanjutan kisah tertangkapnya Jaksa Urip yang diduga disuap Rp 6 milyar oleh kerabat Syamsul Nursalim, bos Gadjah Tunggal Grup.
Saat memasuki kompleks Aula saja aku sudah dibuat terheran-heran. Kampus teknik pertama di Indonesia ini benar-benar menjadi cerminan kreatifitas orang Bandung. Seni begitu kental dalam setiap detil bangunannya. Mulai dari pilar yang terdiri dari susunan batu kali sampai konstruksi rangka bangunan yang semuanya terbuat dari kayu. “Orang Bandung, sejak dahulu memang sudah kreatif,” batinku.
Di sepanjang selasar dan koridor, aku melihat mahasiswa-mahasiswa yang dengan santainya berdiskusi. Mulai dari hal-hal ringan sampai masalah berat berbau politik. Dan asal kalian tahu, baju yang mereka kenakan adalah baju-baju ala artis yang kerap terlihat di TV. Aku pikir kalau saat itu Peterpan atau Ungu lewat, mereka nggak akan dikenali. Soalnya banyak sekali orang-orang seperti mereka yang berlalu lalang. Dengan potongan rambut yang mirip. Dengan model baju yang juga tak berbeda.
Tertarik dengan hal ini, aku mengajak temanku untuk membawaku berkeliling ke sumber utama yang menjadi penyebab masyarakat Bandung berpakaian ini. Aku kemudian diajak ke Dago, Cihampelas, Trunojoyo, dan daerah-daerah lain yang menjadi pusat mode masyarakat Bandung. Diantara rerimbunan pohon-pohon raksasa yang memayungi jalanan dan perumahan-perumahan peninggalan masa kolonial, warna-warna hitam dan merah mendominasi papan-papan nama distributor outlet (distro) di berbabagi tempat.
Rumah Mode di Cihampelas mungkin adalah yang terbesar. Tempat ini banyak menjadi jujugan artis-artis Jakarta untuk memilih baju-bajunya. Ini memang distro yang udah kelewat gede. Mungkin lebih tepat kalo dikasih nama gerai fashion atau butik. Di sepanjang ini, fashion dari jenis jeans paling mendominasi. Ada yang make nama tokoh kartun seperti Batman, Tarzan, Spiderman dsb sebagai brand tokonya. Tapi banyak pula yang make nama-nama unik.
Bergeser lagi ke sekitar Jalan Trunojoyo, di sini ada distro-distro yang menurutku luar biasa. Distro-distro kecil (dari luar) ternyata disesaki oleh mobil dan sepeda motor di ruang parkirnya. “Kalo mo lebaran, yang datang ngantri. Pengelolanya malah memberikan nomor antri supaya tidak saling berdesakan masuk,” kata Mas Fivo, anak bapak kos temenku yang hoby ngebangun motor lawas.
Ini adalah sebuah fenomena yang menurutku sangat luar biasa. Toko baju, gampangannya kita anggap seperti itu, bisa membuat orang yang datang ke tempatnya sampai ngantri seperti mau membeli sesuatu yang sangat eksklusif dan istimewa.
Aku jadi bertanya-tanya, sebenarnya manakah yang lebih dulu terjadi di sini. Apakah budaya orangnya yang memang seneng tampil modis sehingga membuat bisnis distro sangat subur, atau sebaliknya, distro-distro yang membangun budaya masyarakat Bandung untuk tampil modis setiap saat. Well, mungkin kalau di cari jawabannya, kita hanya akan tersesat pada labirin tanpa ujung, seperti saat kita diharuskan menjawab pertanyaan manakah yang lebih dulu ada, Ayam ato telur.
Menjemput Rizqi Maret 2, 2008
Posted by ciptabiru in Umum.1 comment so far
Sekitar dua bulan lalu, ketika hati memantapkan diri untuk berhijrah, aku menemukan buku berjudul “Kalau Ingin Kaya, Sholatlah!”. Entah karena memang ingin kaya atau karena keinginan yang lain, aku beli buku bersampul hijau itu. Satu per satu hal yang ada di dalam buku itu aku baca. Mulai dari hakikat waktu dan kedisiplinan bagi seorang muslim, sampai sholat yang benar itu bagaimana.
Sejak saat itu, aku juga mulai mengamalkan sholat Dhuha. Tujuan awalnya memang ingin agar bisa dibuka pintu rizqinya. Namun saat ini, aku mulai merasa sholat saat matahari baru naik sepenggalah ini menjadi sebuah kebutuhan. Ada sebuah ketenangan sekaligus ketentraman ketika sudah menunaikan sholat ini. Dan hebatnya, sejak saat itu banyak sekali tawaran pekerjaan dan ide untuk kulakukan.
Dari rencana membuat warnet (yang sampai sekarang belum terlaksana karena duitnya belum ada), bikin perusahaan Teknologi Informasi (juga belum jalan karena tender pertama kami belum juga terlaksana), mengadakan seminar untuk guru, sampai tawaran membuat buku dari seorang kaya. Meski belum satupun yang terrealisasi, tapi Aku bersyukur. Subhannallah, maha suci Allah yang Maha Kaya dan Maha Pengasih serta Penyayang. Semakin banyak kita mau mendekatkan diri kepada-Nya, ternyata semakin banyak nikmat yang diberikan-Nya.
Orang bilang Rizqi sudah ada yang mengatur. Tapi kalau kita tak mau menjemputnya, mungkin bagian rizqi kita akan diambil orang lain. Orang lain yang lebih rajin berdoa, orang lain yang lebih rajin berusaha, dan orang lain yang tak henti-hentinya melakukan keduanya. Karena itu, di saat seperti sekarang ini, dimana semangat kerap mengendur, aku harus selalu ingat bahwa rizqi harus tetap dicari dan dikejar sambil didoakan agar cepat turun kalau memang masih ada dilangit. Cepat keluar kalau memang masih ada di dalam bumi. Cepat mendekat kalau memang masih jauh, dan dimudahkan jika masih sukar. Karena sesungguhnya bi haqqi duha ika, wabahaa ika, wa jamalika, wa quwwati, waqudrotika, Aa tiini ma atayta min ‘ibadikassholihiin.