Menjemput Rizqi Maret 2, 2008
Posted by ciptabiru in Umum.trackback
Sekitar dua bulan lalu, ketika hati memantapkan diri untuk berhijrah, aku menemukan buku berjudul “Kalau Ingin Kaya, Sholatlah!”. Entah karena memang ingin kaya atau karena keinginan yang lain, aku beli buku bersampul hijau itu. Satu per satu hal yang ada di dalam buku itu aku baca. Mulai dari hakikat waktu dan kedisiplinan bagi seorang muslim, sampai sholat yang benar itu bagaimana.
Sejak saat itu, aku juga mulai mengamalkan sholat Dhuha. Tujuan awalnya memang ingin agar bisa dibuka pintu rizqinya. Namun saat ini, aku mulai merasa sholat saat matahari baru naik sepenggalah ini menjadi sebuah kebutuhan. Ada sebuah ketenangan sekaligus ketentraman ketika sudah menunaikan sholat ini. Dan hebatnya, sejak saat itu banyak sekali tawaran pekerjaan dan ide untuk kulakukan.
Dari rencana membuat warnet (yang sampai sekarang belum terlaksana karena duitnya belum ada), bikin perusahaan Teknologi Informasi (juga belum jalan karena tender pertama kami belum juga terlaksana), mengadakan seminar untuk guru, sampai tawaran membuat buku dari seorang kaya. Meski belum satupun yang terrealisasi, tapi Aku bersyukur. Subhannallah, maha suci Allah yang Maha Kaya dan Maha Pengasih serta Penyayang. Semakin banyak kita mau mendekatkan diri kepada-Nya, ternyata semakin banyak nikmat yang diberikan-Nya.
Orang bilang Rizqi sudah ada yang mengatur. Tapi kalau kita tak mau menjemputnya, mungkin bagian rizqi kita akan diambil orang lain. Orang lain yang lebih rajin berdoa, orang lain yang lebih rajin berusaha, dan orang lain yang tak henti-hentinya melakukan keduanya. Karena itu, di saat seperti sekarang ini, dimana semangat kerap mengendur, aku harus selalu ingat bahwa rizqi harus tetap dicari dan dikejar sambil didoakan agar cepat turun kalau memang masih ada dilangit. Cepat keluar kalau memang masih ada di dalam bumi. Cepat mendekat kalau memang masih jauh, dan dimudahkan jika masih sukar. Karena sesungguhnya bi haqqi duha ika, wabahaa ika, wa jamalika, wa quwwati, waqudrotika, Aa tiini ma atayta min ‘ibadikassholihiin.
oo gitu ya cub.
*segera ngikutin ajarannya cubi*