Pak Presiden, Bolehkah Kubunuh Para Pembocor Jawaban UN? April 25, 2008
Posted by ciptabiru in Umum.add a comment
Siang itu hari bener-bener panas. Tenggorokanku sangat kering. Tapi niat untuk berpuasa sepulang dari kantor dinihari tadi tak mungkin kuputus. Karena itu aku harus menabahkan diri melalui panasnya hari ini. “Neraka jauh lebih panas dari ini,” batinku meneguhkan niat.
Di depan sekolah adikku, aku bertemu dengan seorang wali murid yang punya niat sama denganku. Menjemput. Kami ngobrol banyak hal. Dari kebiasaan anaknya yang sulit sekali disuruh belajar sampai rencana melanjutkan kuliah. Kesenangan anaknya menonton sinetron sampai keteguhan anaknya yang hanya setengah jam saat disuruh belajar.
Dalam hati aku bersyukur. Adikku tak sedikitpun punya ciri yang dikeluhkan si bapak ini. Tanpa di suruh, sudah setiap saat adikku menghabiskan waktu untuk belajar. Tanpa dilarang, dia sudah menjauhi televisi. Cita-citanya untuk masuk STIS juga sudah dipancangkannya sejak pertengahan kelas XII lalu. Pendek kata, aku bisa berbangga dengan usaha sungguh-sungguh yang telah ditempuh si kecil ini dalam mengarungi sekolahnya.
Dari kejauhan aku melihat dia berjalan. Kelihatannya gontai banget. Dan tanap berkata apa-apa dia menangis di pelukanku.
“Kenapa, nggak bisa ngerjain ujiannya? Emang bisa berapa?” tanyaku sambil mengusap punggungnya. Tangisnya semakin menjadi. Pundaknya kurasakan bergetar. Tapi dia tak menjawab ataupun menoleh. Aku yakin dia mungkin agak malu karena saat itu masih banyak teman-temannya yang lalu lalang.
“Biologi..” katanya di sela tangisnya.
Mata pelajaran ini memang yang paling dikeluhkan olehnya. Tadinya aku bingung, kenapa dia tidak suka dengan pelajaran ini. Selidik-punya selidik, ternyata dia sangat benci kalau disuruh menghafal. Padahal sebagian besar materi di pelajaran ini memang harus dihafal. Hitung-hitungan, yang paling disukainya, hanya ada pada bahasan hukum Mendell. Dan celakanya, materi itu tidak keluar.
“Emang kamu bisa ngerjain berapa?” tanyaku selembut mungkin.
“Udah ah, Cup dulu. Malu tuch sama temen-temen. Mereka juga nggak pada nangis,” bujukku berbisik.
“Lis..Semangat…” satu teriakan dari temannya kelihatannya cukup berpengaruh daripada bujukanku. Buktinya dia terlihat agak meredakan tangisnya.
Setelah menyeka matanya yang kebanjiran air mata berkali-kali, dia akhirnya naik ke jok motorku. Tapi dia segera menutup kaca helmnya.
Aku tak bisa berbuat banyak. Ya. Ini memang momentnya. Momentnya untuk menghadapi kenyataan hidup yang sebenarnya. Meski aku ingin sekai memeluknya selama yang dia mau, tapi aku tak bisa melakukannya. Karena itu aku membiarkannya larut dalam pikirannya.
Namun sepanjang perjalanan giliran mataku yang basah. Tapi aku tak mungkin membiarkannya tahu kalau setetes demi setetes air hangat itu meluncur ke pikiku. Dan aku tak ingin memberinya beban tambahan dengan melihatku menangis. Aku ingat betapa tertekannya dia, dan juga teman-temannya menjelang ujian. Bahkan jauh sebelum itu.
Dia harus menghentikan latihan Kempo, olah raga yang disukainya, setelah masuk kelas tiga. Padahal saat itu dia sedang dipilih KONI untuk ikut berlaga di PORDA Jateng di Solo 2009 mendatang.
Dia juga harus menghabiskan waktunya untuk belajar, belajar dan belajar. Berangkat jam 05.45 dari rumah dan baru pulang puku 18.00. Selesai belajar di sekolah, dia harus les. Malemnya, masih harus mengerjakan tugas dari guru. Padahal, esok hari, dia juga ada ulangan. Kadang aku suka kasihan melihatnya saat menjemput atau mengantar. Capek sekali kelihatannya.
Aku sering mengutuki sistem pendidikan di Indonesia yang carut marut. Kenapa ada orang yang setega itu mengeksploitasi generasi mudanya untuk belajar tanpa arah. Setelah tamat dari SMA, mereka masih harus bingung memilih perguruan tinggi. Itupun kalau tidak hancur oleh ritual ujian nasional yang cuma tiga hari lamanya. Waktu belajar mereka selama tiga tahun bisa jadi tak berarti apa-apa oleh, mungkin saja, satu mata pelajaran yang tidak lulus.
Pagi hari, setelah bangun tidur aku melihat berita di TV. Oknum Kepala SMA di Sumatera dan Sulawesi ditangkap polisi karena menyebarkan jawaban soal UN. Sungguh, pak Presiden, kalau orang itu ada di depanku, aku ingin sekali membunuhnya. Bolehkah saya melakukannya pak?
Orang ini tidak menghargai sama sekali jerih payah adikku yang setahun penuh belajar dengan sunguh-sungguh. Orang ini benar-benar tak punya hati. Ingin menang sendiri tanap memikirkan orang-orang jujur seperti adikku.
Adikku sudah menderita lahir batin. Beratnya susut empat kilo karena dia nekat puasa Daud bersama empat sahabatnya selama enam bulan terakhir ini. Untuk apa? Agar mereka ditolong Allah saat menggarap soal. Dia sudah sangat menderita lahir dan batin. Tapi kenapa ada orang yang sangat tega membocorkan jawaban soal UN.
Bener pak Presiden, atau mungkin Tuhan, kalau orang itu ada di hadapanku, aku ingin minta ijin untuk membunuhnya. Boleh kan?
Tiga Tawaran Menikah April 20, 2008
Posted by ciptabiru in Umum.1 comment so far
Akhir-akhir ini frekwensi materi pembicaraan seputar pernikahan jadi semakin sering kudengar. Dan mau tak mau, frkwensi untuk memikirkannya juga semakin bertambah. Mungkin karena pengaruh umur yang emang sudah seharusnya menikah yang membuat orang-orang di sekitarku selalu membicarakan hal ini.
Ada beberapa peristiwa yang tanpa sengaja connected dengan masalah ini. Waktu mengikuti sebuah acara bedah buku, aku tiba-tiba ditanyai oleh seorang peserta. “Mas, sudah berkeluarga?” Aku melihat wajah si penanya sejenak. Kemudian tersenyum. “Sayangnya belum Bu,” kataku kemudian.
“Lho kenapa. Milih-milih ya,” tebaknya. Aku si lebih menganggapnya sebagai sebuah vonis.
“Sebenernya nggak Bu. Saya tidak terlalu memilih-milih calon istri. Hanya memang belum ketemu jodoh kali,” ujarku membela diri.
“Kalau boleh tahu, perempuan seperti apa yang mas harapkan sebagai istri?” tanyanya. Kelihatannya dia penasaran banget. Mungkin heran, cowok ‘setua’ aku kok belum menikah. Aku kembali memandangnya. Sekali lagi sekilas. Aku tidak berani menatap matanya. Takut dosa.
“Kalau boleh memilih, saya tentu ingin perempuan yang seagung dan semulia Khadijah dan secantik Aisah,” kataku. Kulihat matanya lekat memandangku. “Tapi saya cukup tahu diri untuk tidak sekurang ajar itu dengan mengharap wanita super semacam itu,” kataku kemudian.
“Mereka adalah istri manusia sempurna. Untuk mendapatkan perempuan seperti mereka, tentu aku juga harus jadi manusia sempuarna. Dan saya yakin saya jauh dari itu,” jelasku untuk menghindari kesalahpahaman Ibu di depanku selanjutnya.
”Saya pikir orang seperti anda akan mendapatkannya,” katanya. Aku terkejut mendengar jawabannya.
”Semoga saya tidak menjadi takabur karena jawaban ibu,” sahutku cepat.
”Lho kenapa?” tanyanya heran.
”Pujian ibu sangat tinggi. Saya takut tidak bisa turun jika saya memasukkannya dalam hati,” terangku.
”Saya memang belum kenal jauh dengan anda. Tapi saya seorang psikolog. Saya tahu orang seperti apa yang saya ajak berbicara. Dan saya yakin anda tidak sedang bermimpi jika mengharapkan wanita seperti Khadijah maupun Aisyah,” katanya panjang lebar.
”Amin Bu. Doakan saja Allah mempertemukan saya dengan perempuan seperti itu kalau memang masih ada di dunia ini,” kataku sambil tersenyum.
”Kalau anak saya sudah besar, pasti saya tak akan ragu menikahkannya dengan anda,” kata perempuan itu. Suaranya memang tidak begitu jelas. Lebih seperti menggumam. Tapi itu cukup membuat kursi yang kududuki menjadi seperti alat pemanggang. Aku jadi tak enak duduk di atasnya.
”Anak ibu laki-laki apa perempuan,” candaku.
”Ya perempuan dong mas. Masa anak laki-laki mau ditawarin jadi pendamping anda,” katanya agak kaget. Tapi kemudian tersenyum.
”Ya, siapa tahu aja ibu sedang ngeledek saya,” jawabku.
”Bener kok mas. Saya bukan sedang meledek. Sayangnya anak saya masih SMA. Jadi masih terlalu kecil,” katanya kemudian.
”Dia akan mendapatkan laki-laki yang paling baik buat dirinya dan orang tuanya kelak,” kataku sok tau. Tapi perkataan ini membuatnya tenang.
”Terus, kaan rencana mau menikah?” tanyanya. Kelihatannya mengalihkan objek pembicaraan.
”Saya tidak ingin membuat target. Kalau dikasih tahun ini, Insya Allah saya siap. Tapi kalau dikasihnya nanti-nanti, saya juga tak masalah. Toh saya juga masih harus nungguin adek saya lulus kuliah,” jawabku. Agak kepanjangan menurutku.
”Lho, ade’nya sekarang semester berapa?” tanyanya lagi.
”Baru kelas tiga SMA bu,” sahutku
”Wah, kalo itu si kelamaan Mas,” ujarnya.
”Ya, saya serahkan saja hal ini pada Allah. Kalau memang Dia berkendak tahun ini, tahun depan atau bahkan setelah adik saya lulus, saya ikhlas saja dan Insya Allah siap,” kataku kemudian.
Ada lagi seorang teman yang udah kayak sodara menyarankanku untuk jadian aja dengan temen deketku.
”Sumpah dik. Kalian tuh cocok banget!” vonisnya.
”Sebagai temen iya mba’. Tapi tidak sebagai pasangan. Wong dia juga udah punya calon kok. Pamali nggodain cewek yang udah ada calonnya,” elakku.
”Tapi bener dik. Kalo aku ngliatin kalian berdua, wah rasanya sreg banget,” ujarnya masih ngeyel.
”Kalo gitu Mba’ aja yang sama dia. Aku si ogah,” ujarku sekenanya.
”Dasar bocah edan. Masa nyuruh cewek pasangan sama cewek. Koe ki pancen edan tenan dik,” katanya sambil manyun-manyun.
”Ya lagian mba sendiri yang suka ngasal. Masa temen yang udah bareng selama 9 tahun ini suruh dijadiin istri. Mau dibilang apa aku nanti sama temen-temenku,” protesku.
Tapi meski usul itu aku sebut sebagai usul gila, tak pelak aku jadi mikirin juga. Aku membayangkan kalau sampai kejadian beneran, pasti dunia bakal cepat kiamat. Soalnya aku sama temenku ini setiap hari kerjaanya cuma saling ejek dan menjatuhkan. Kami seneng kalo salah satu mendapat malu. Pasti kita bakal langusng bilnag DASAR BODOH atau STUPID atau DASAR CEROBOH. Pokoknya makian-makin semacam itu lah. Nggak kebayang banget kalo itu kejadian di rumah tangga. Pasti bakal sensitif banget dibilangin begitu. Udah gitu terus bertengkar. Dan kiamat pun kejadian. Makanya aku langsung menolak ide gila itu begitu dilontarkan sama temenku itu.
”Orang yang aneh,” kataku.
Trus kemarin ini, ada lagi istri temenku yang nanyain kalau-kalau aku mau memperistri salah satu temennya.
”Wah sayangnya temenku ada di Solo. Coba kalau di sini, pasti tak kenalin sama Mas,” katanya.
”Wah, terima kasih banget. Besok de kalo aku udah siap. Pasti aku minta bantuan buat ngenalin ke temennya,” kataku. Lagi-lagi berusaha menghindar agar topik tentang menikah ini tak berlanjut.
”Nih mas, tak liatin fotonya,” katanya sambil menyodorkan hape miliknya.
”Dia itu murobbi. Guru ngaji. Kayaknya cocok deh sama mas,” ujarnya kemudian.
Aku melihat sebentar gambar di layar hape tersebut. Seorang wanita dengan jilbab warna putih.
”Geser ke kanan. Ada dua lagi,” katanya.
Setelah aku geser, ada lagi seorang perempuan. Juga dengan jilbab besar. Tapi kali ini dengan warna merah. Dan yang terakhir jilbab warna biru dongker.
”Ini jangan terlalu lama. Nanti jadi dosa,” kataku seraya menyerahkan hape itu ke si empunya.
”Giman mas?” tanyanya.
”Semuanya cantik Insya Allah,” jawabku.
”Trus?” sahutnya.
”Kita lihat saja. Kalau memang berjodoh, pasti nggak akan kemana,” kataku.
Ihdinasshirotol mustqiim… April 2, 2008
Posted by ciptabiru in Umum.add a comment
Karena kebebalan hati dan kesombongan nurani, aku jarang sekali sholat sambil menangis. Saking jarangnya, aku bahkan masih ingat berapa kali aku melakukannya. Pertama kali ketika kelas 3 SMP. Itu berarti sekitar 13 tahun lalu.
Aku ingat betul, saat itu sedang ebtanas. Sejak ba’da maghrib, kepalaku sakit bukan kepalang. Aku merasa akan mati. Bayangan orang-orang yang terbakar oleh api saying maha panas muncul di kepalaku. Sesekali jeritan mereka menimpali bunyi api yang menderak-derak. Sungguh saat itu aku sangat takut. Takut kalau saat itu umurku berakhir.
Jam satu dini hari, aku masih tidak bias tidur. Ibuku kemudian mngerik punggung dan leherku. Setelah itu aku ambil air wudlu dan sholat tahajud. Aku menangis sejadi-jadinay di hadapan sang khaliq. Aku sadar, betapa saat itu manusia tak punya daya sama sekali. Hanya karena masuk angina saja, sudah tak berdaya melakukan suatu apa.
Peristiwa kedua adalah saat aku kelas dua SMA. Waktu itu sedang pesantren kilat. Dini hari, guru pendamping menyuruh kami sholat malam. Saat itu, aku merasa berdiri di sebuah ruangan maha luas yang gelap gulita. Saking gelapnya, aku bahkan tidak tahu seberapa luas ruangan itu. Aku berdiri di tengahnya (aku hampir yakin untuk hal ini) sebuah sajadah menghampar di kakiku. Sebuah sinar kecil yang sangat focus bersinar di kejauhan.
Aku tidak tahu sinar apakah itu. Tapi di hadapan sinar itu merasa sangat kotor. Sangat hina. Dan sangat tidak berarti. Aku menangis dalam sujudku. Aku menangis karena kekotoranku. Aku menangis karena kesombonganku. Aku menangis karena segunung dosaku.
Moment ketiga adalah satu titik yang sangat berarti dalam hidupku. Ya, itu adalah saat sosok wanita agung yang menjadi pemersatu keluargaku kembali ke pangkuan pemilik hidupnya. Aku protes. Aku menghiba. Aku tak terima. Tapi Dia punya rencana sendiri dengan kehidupanku. Empat tahun kemudian aku baru menyadarinya, bahwa akherat mungkin tempat yang lebih baik untuk wanita agung itu. Ampuni aku atas kekurangajaranku ya ghoffar…
Moment keempat mungkin sekitar sebulan yang lalu. Saat membaca Ketika Cinta Bertasbih, aku merasa betapa Allah sudah memberiku begitu banyak. Sementara rasa syukurku terlalu sedikit. Aku merasa sangat dzolim pada penciptaku. Aku merasa sangat kurang ajar. Sangat lancing dan tak punya rasa terima kasih.
Saat itu aku sadar, mungkin jika satu per satu kuhitung nikmat yang kuterima, niscaya sehari semalam aku tak akan mampu melakukannya. Dari kandungan oksigen dalam udara yang kuhirup sampai waran merah dalam darahku, semua adalah nikmat. Dari jarak antar bintang di angkasa raya sampai susunan tiap elemen dalam tubuhku, semuanya adalah nikmat. Kenapa aku kufur terhadap semua itu? Kenapa aku mengingkarinya? Kenapa aku tak selalu memanjatkan syukur padaNya? Ya Allah, ampuni diri yang penuh aniaya ini.
Dan hari ini, aku kembali menangis dalam sujudku. Kali ini aku mengadu. Aku sadar, sebagai seorang hamba, bahkan mengadu pun mungkin aku tak pantas melakukannya. Apalagi meminta. Tapi pada siapa lagi aku bisa melakukannya. Hanya Engkaulah yang punya kuasa atas segala isi alam semesta. Hanya Engkau lah yang kuasa meredakan hati yang lara. Hanya Engkau lah yang kuasa menentramkan hati yang sedang gulana. Dan hanya Engkau jualah yang memadamkan api dalam hati yang sedang membara.
Ya Allah, Engkau pasti tahu apa yang aku lakukan sekarang ini adalah untuk dua malaikat kecilku. Aku hanya ingin melihat mereka sukses agar derajatnya terangkat di mata manusia dan di sisiMu. Aku ingin memberikan yang terbaik bagi mereka. Apakah mempersiapkan dana bagi kuliah mereka sebuah langkah yang salah.
Wahai dzat yang maha mengetahui. Tunjukan padaku jalan yang Engkau ridloi. Jika memang jalan yang kutempuh saat ini salah dan jika peristiwa hari ini adalah peringatan dari Mu, aku ikhlas. Aku ikhlas atas takdir yang engkau berlakukan padaku. Hari ini, besok dan atas ijin Mu, sampai akhir hayatku. Tapi tolong, tunjukan jalannya. Berikan penanda padaku agar aku tak tersesat. Berikan sebuah petunjuk agar aku tak salah melangkah.
Demi 99 nama Mu yang Agung. Aku terima SP hari ini. Dan atas ijinMu pula, aku ikhlas menerimanya. Engkau lebih tahu apa yang tak diketahui makhluk ciptaanMu. Aku ikhlaskan prasangka orang terhadapku. Karena keyakinan mutlak pada Mu ya Allah. Bahwa Engkau tak akan pernah meninggalkanku. Behwa Engka tak akan pernah memberikan cobaan yang tak akan kuat kutanggung, dan bahwa Engkau tak akan pernah tertidur, walau sepersetrilyun detik sekalipun.
Tangisku dalam sujud hari ini adalah bukti kerapuhan dan kelemahanku di hadapanmu ya Allah. Aku menangis karena begitu kecilnya kuasaku. Bahkan untuk melakukan hal-hal yang kupikir tadinya baik. Tapi Engkaulah yang memutuskannya. Dan aku ikhlas melaksanakannya.
Ihdinassirotol mustaqiim. Shirotolladzina an’amta ‘alaihim. Ghoiril mahdzubi ‘alaihim waladdoolliin. Amiin.