jump to navigation

Tiga Tawaran Menikah April 20, 2008

Posted by ciptabiru in Umum.
trackback

Akhir-akhir ini frekwensi materi pembicaraan seputar pernikahan jadi semakin sering kudengar. Dan mau tak mau, frkwensi untuk memikirkannya juga semakin bertambah. Mungkin karena pengaruh umur yang emang sudah seharusnya menikah yang membuat orang-orang di sekitarku selalu membicarakan hal ini.

 

Ada beberapa peristiwa yang tanpa sengaja connected dengan masalah ini. Waktu mengikuti sebuah acara bedah buku, aku tiba-tiba ditanyai oleh seorang peserta. “Mas, sudah berkeluarga?” Aku melihat wajah si penanya sejenak. Kemudian tersenyum. “Sayangnya belum Bu,” kataku kemudian.

“Lho kenapa. Milih-milih ya,” tebaknya. Aku si lebih menganggapnya sebagai sebuah vonis.

“Sebenernya nggak Bu. Saya tidak terlalu memilih-milih calon istri. Hanya memang belum ketemu jodoh kali,” ujarku membela diri.

“Kalau boleh tahu, perempuan seperti apa yang mas harapkan sebagai istri?” tanyanya. Kelihatannya dia penasaran banget. Mungkin heran, cowok ‘setua’ aku kok belum menikah. Aku kembali memandangnya. Sekali lagi sekilas. Aku tidak berani menatap matanya. Takut dosa.

“Kalau boleh memilih, saya tentu ingin perempuan yang seagung dan semulia Khadijah dan secantik Aisah,” kataku. Kulihat matanya lekat memandangku. “Tapi saya cukup tahu diri untuk tidak sekurang ajar itu dengan mengharap wanita super semacam itu,” kataku kemudian.

“Mereka adalah istri manusia sempurna. Untuk mendapatkan perempuan seperti mereka, tentu aku juga harus jadi manusia sempuarna. Dan saya yakin saya jauh dari itu,” jelasku untuk menghindari kesalahpahaman Ibu di depanku selanjutnya.

”Saya pikir orang seperti anda akan mendapatkannya,” katanya. Aku terkejut mendengar jawabannya.

”Semoga saya tidak menjadi takabur karena jawaban ibu,” sahutku cepat.

”Lho kenapa?” tanyanya heran.

”Pujian ibu sangat tinggi. Saya takut tidak bisa turun jika saya memasukkannya dalam hati,” terangku.

”Saya memang belum kenal jauh dengan anda. Tapi saya seorang psikolog. Saya tahu orang seperti apa yang saya ajak berbicara. Dan saya yakin anda tidak sedang bermimpi jika mengharapkan wanita seperti Khadijah maupun Aisyah,” katanya panjang lebar.

”Amin Bu. Doakan saja Allah mempertemukan saya dengan perempuan seperti itu kalau memang masih ada di dunia ini,” kataku sambil tersenyum.

”Kalau anak saya sudah besar, pasti saya tak akan ragu menikahkannya dengan anda,” kata perempuan itu. Suaranya memang tidak begitu jelas. Lebih seperti menggumam. Tapi itu cukup membuat kursi yang kududuki menjadi seperti alat pemanggang. Aku jadi tak enak duduk di atasnya.

”Anak ibu laki-laki apa perempuan,” candaku.

”Ya perempuan dong mas. Masa anak laki-laki mau ditawarin jadi pendamping anda,” katanya agak kaget. Tapi kemudian tersenyum.

”Ya, siapa tahu aja ibu sedang ngeledek saya,” jawabku.

”Bener kok mas. Saya bukan sedang meledek. Sayangnya anak saya masih SMA. Jadi masih  terlalu kecil,” katanya kemudian.

”Dia akan mendapatkan laki-laki yang paling baik buat dirinya dan orang tuanya kelak,” kataku sok tau. Tapi perkataan ini membuatnya tenang.

”Terus, kaan rencana mau menikah?”  tanyanya. Kelihatannya mengalihkan objek pembicaraan.

”Saya tidak ingin membuat target. Kalau dikasih tahun ini, Insya Allah saya siap. Tapi kalau dikasihnya nanti-nanti, saya juga tak masalah. Toh saya juga masih harus nungguin adek saya lulus kuliah,” jawabku. Agak kepanjangan menurutku.

”Lho, ade’nya sekarang semester berapa?” tanyanya lagi.

”Baru kelas tiga SMA bu,” sahutku

”Wah, kalo itu si kelamaan Mas,” ujarnya.

”Ya, saya serahkan saja hal ini pada Allah. Kalau memang Dia berkendak tahun ini, tahun depan atau bahkan setelah adik saya lulus, saya ikhlas saja dan Insya Allah siap,” kataku kemudian.

 

Ada lagi seorang teman yang udah kayak sodara menyarankanku untuk jadian aja dengan temen deketku.

”Sumpah dik. Kalian tuh cocok banget!” vonisnya.

”Sebagai temen iya mba’. Tapi tidak sebagai pasangan. Wong dia juga udah punya calon kok. Pamali nggodain cewek yang udah ada calonnya,” elakku.

”Tapi bener dik. Kalo aku ngliatin kalian berdua, wah rasanya sreg banget,” ujarnya masih ngeyel.  

”Kalo gitu Mba’ aja yang sama dia. Aku si ogah,” ujarku sekenanya.

”Dasar bocah edan. Masa nyuruh cewek pasangan sama cewek. Koe ki pancen edan tenan dik,” katanya sambil manyun-manyun.

”Ya lagian mba sendiri yang suka ngasal. Masa temen yang udah bareng selama 9 tahun ini suruh dijadiin istri. Mau dibilang apa aku nanti sama temen-temenku,” protesku.

Tapi meski usul itu aku sebut sebagai usul gila, tak pelak aku jadi mikirin juga. Aku membayangkan kalau sampai kejadian beneran, pasti dunia bakal cepat kiamat. Soalnya aku sama temenku ini setiap hari kerjaanya cuma saling ejek dan menjatuhkan. Kami  seneng kalo salah satu mendapat malu. Pasti kita bakal langusng bilnag DASAR BODOH atau STUPID atau DASAR CEROBOH. Pokoknya makian-makin semacam itu lah. Nggak kebayang banget kalo itu kejadian di rumah tangga. Pasti bakal sensitif banget dibilangin begitu. Udah gitu terus bertengkar. Dan kiamat pun kejadian. Makanya aku langsung menolak ide gila itu begitu dilontarkan sama temenku itu.

”Orang yang aneh,” kataku.

 

Trus kemarin ini, ada lagi istri temenku yang nanyain kalau-kalau aku mau memperistri salah satu temennya.

”Wah sayangnya temenku ada di Solo. Coba kalau di sini, pasti tak kenalin sama Mas,” katanya.

”Wah, terima kasih banget. Besok de kalo aku udah siap. Pasti aku minta bantuan buat ngenalin ke temennya,” kataku. Lagi-lagi berusaha menghindar agar topik tentang menikah ini tak berlanjut.

”Nih mas, tak liatin fotonya,” katanya sambil menyodorkan hape miliknya.

”Dia itu murobbi. Guru ngaji. Kayaknya cocok deh sama mas,” ujarnya kemudian.

Aku melihat sebentar gambar di layar hape tersebut. Seorang wanita dengan jilbab warna putih.

”Geser ke kanan. Ada dua lagi,” katanya.

Setelah aku geser, ada lagi seorang perempuan. Juga dengan jilbab besar. Tapi kali ini dengan warna merah. Dan yang terakhir jilbab warna biru dongker.

”Ini jangan terlalu lama. Nanti jadi dosa,” kataku seraya menyerahkan hape itu ke si empunya.

”Giman mas?” tanyanya.

”Semuanya cantik Insya Allah,” jawabku.

”Trus?” sahutnya.

”Kita lihat saja. Kalau memang berjodoh, pasti nggak akan kemana,” kataku.

Komentar»

1. kisdiantoro - April 21, 2008

Aku bukan psikolog, tapi mirip-miriplah. Apa? Tukang ngrungokna orang-orang stress dan bermasalah atau punya masalah….hehhe, Bener Chub, kamu akan mendapatkan wanita agung seperti Khatidjah atau Aisya, semoga. …aku iri padamu…