jump to navigation

Jalan di Tempat di dalam Kubangan Lumpur Juni 20, 2008

Posted by ciptabiru in Umum.
1 comment so far

Istighfaar….istighfaaar…
Astaghfirullohal’adziim….
Malam ini banyak sekali dosa yang kuperbuat. Aku juga heran. Kenapa semua hal seperti bermufakat menjerumuskanku ke noda-noda hitam ini?
Mulai dari mengumpat, memaki sampai memarahi orang.
 Ada saja yang membuat aku marah. Internet mati lah, wartawan yang daya dong-nya rendah lah, sampai tulisan yang tak layak muat. Herannya, aku harus mengalami ini setiap malam. Kalo begini terus, aku mungkin bisa mati muda. Stress dan tertekan oleh siksaan kerjaan yang memeras otak dan kemarahan.
 Aku suka heran dengan cara berpikir orang2 manajemen. AC mati tidak diperbaiki. Komputer kurang, nggak mau nambah. Kursi jebol, baru diperbaiki kalo sudah tak bisa diduduki. Provider internet nggak profesional, tetep dipertahankan. Tak ada IT, dibiarkan saja. Mau jadi apa perusahaan tempat aku mencari makan ini ya?
 Belum lagi suasana kerja yang sudah sangat tidak nyaman. Perencanaan redaksi, nyaris Nol. Kualitas wartawan hampir mendekati titik nadizir, dianggap sebagai kesalahan yang bersangkutan. Ada masalah dengan pihak luar, wartawan dan redaktur yang disuruh maju. Buntutnya, wartawan hanya membuat berita yang aman bagi diri dan keluarganya. Berita bagus yang kerap menyerempet bahaya? tinggalkan saja!
 Perbedaan wartawan kami sekarang ini dengan para wartawan gadungan hanya terletak pada kontinyuitas penerbitan. Kalau wartawan bodrex terbit berkala, kami masih bisa terbit setiap hari. Tapi masalah mental wartawan, sudah rusak oleh aturan perusahaan yang mewajibkan wartawan untuk mencari iklan. Kebanyakan hanya mau datang ke berita yang bisa diprospek menjadi rupiah. Pesanan koran dan society seoalh menjadi mesin pencuci uang yang halal terkait dengan cara wartawan mencari uang. ckk…ck..ckkk…
 Kebijakan yang terakhir ini bahkan kini sudah memunculkan fenomena api dalam sekam. Beberapa orang merasa cemburu karena tak pernah kebagian proyek menggarap iklan. Padahal kebutuhan hidup akibat mahalnya harga-harga menyusul kenaikan harga BBM sudah semakin besar. Gaji dari Kantor dengan sendirinya sudah tak cukup untuk hidup. Mulai dari bayar Listrik, PAM, Gas, Kontrakan, bensin, makan sampai biaya sekolah. Sementara aturan perusahaan untuk tidak ‘nyambi’ di luar semakin tegas. Aku adalah salah satu korban untuk kebijakan ini. Di-SP gara-gara terlibat kepanitiaan di luar.
 Terlepas dari sikap itu adalah sebuah kesalahan yang fatal, namun masalah ini yang kemudian menimbulkan kesenjangan materi kerap memunculkan bisik-bisik di warung hik. sekarang jadi ada wartawan pilkada dan wartawan kere. Padahal itu adalah proyek sesaat yang aku sangat yakin telah sukses menghancurkan kredibilitas institusi maupun personal. Wartawan tidak memihak? Aku bilang itu jadi BULLSHIT.
 Bagaimana tidak? Setiap menulis, dia selalu meliput kegiatan calon pemimpin daerah yang ditugaskan kantor untuk diprospek iklannya. Mau tak mau, berita jelek tentang si calon pun tak pernah terlintas. “Daripada iklannya melayang…,” begitu saya pikir.
 Well, saya pikir mungkin fenomena ini juga muncul di berbagai daerah akibat maraknay koran-koran daerah. Media induk kami di Surabaya sebenarnya mati-matian memperbaiki kualitas. Dengan gerakan ‘kembali ke khittah’, wartawan disterilkan dari kepentingan bisnis. Tapi siapa yang bisa menjamin hal itu bisa dilaksanakan di daerah? Tidak ada bung..!
 wah, kayaknya jadi terlalu melebar masalahnya. Padahal aku hanya ingin ber-silent angry saja tadinya. Malah jadi keterusan sok-sokan mengkritisi fenomena koran daerah dan moral wartawan. Emangnya aku juga sudah bisa jadi wartawan bener?
Istighfaar….istighfaaar…
Astaghfirullohal’adziim….
Lindungi hamba dari jalan yang tidak Engkau Ridloi ya Allah…..

Allah tidak akan terlambat menolong makhluknya Juni 12, 2008

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Bismillahirrahmanirrahiim
wah, lama banget ngga posting. Gara2 komputer rusak, hasrat untuk menulis jadi hilang. Padahal aku sedang giat2nya menulis 5 novelku. Tapi semuanya berantakan gara2 mesin itu rusak.
  Fiuuww…Nggak sadar, ternyata udah lebih dari sebulan ini aku tidak melakukan sesuatu yang berguna. Tak ada pemasukan tambahan. Padahal mulai bulan ini, pengeluaran bakal bertambah banyak karena si kecil mau mendaftar kuliah.
  Banyak peristiwa sudah terjadi selama sebulanan ini. Dari penangkapan Ayin dan jaksa Urip, sampai peristiwa penangkapan habib Rizieq. Euro juga lagi seru-serunya. Dan yang terakhir, tiga temen sekantorku mengakhiri masa lajangnya tahun ini. Mas Asidi dan Dody malah barengan di hari Minggu besok (15/6).
  Kepalaku terasa penuh dengan masalah. Dan dari semua itu, uang masih jadi masalah terbesar yang harus kuhadapi. Ada tawaran beli rumah, tapi terpaksa tak bisa kuambil. Aku tak bisa egois memilih membeli rumah, sementara si malaikat kecil belum tahu mau kuliah dimana. Dia pengin banget sekolah di STIS atau AMG. Kuliah di universitas negeri kelihatannya hanya jadi target keduanya. Semuanya butuh biaya, tapi tak sepeserpun kini kupegang.
  Anehnya aku sangat optimis untuk menguliahkan dia. Padahal pada saat yang bersamaan aku juga mesti bayar biaya KKL kakak si kecil yang mau ke Bali plus uang semesterannya. Sampai sekarang belum tahu mau dapet dari mana. Tapi aku ingat satu kalimat yang pernah diucapkan si kecil. “Mas, Allah tak akan terlambat menolong makhluknya kalau si makhluk itu mau berusaha,” katanya. Itu yang membuat aku terus berharap. Terus optmis, dan terus berusaha.
  saat sholatku mulai malas, bayangan wajahnya muncul di mataku. Dia tersenyum dengan bibirnya yang kering karena tak henti berpuasa. Aku langsung sadar bahwa bukan ini hal yang harus kulakukan. Berusaha dan bertawakallah yang mestinya kujalani. BUkannya putus asa dan apatis.
  Sungguh, kamu adalah semangat. Kamu adalah cahaya. Dan kamu adalah hidup. Aku tidak tahu sampai kapan bisa mencintaimu seperti ini. Umurku semakin bertambah, dan akan ada dunia baru untukmu. Aku berharap ada wanita yang bisa kucintai seperti aku mencintaimu saat kau menapaki dunia barumu kelak.
  Oya, ngomong2 tentang wanita, mulai tahun depan, ternyata tinggal akulah di jajaran redaksi yang mungkin belum menikah. Aku sudah bisa membayangkan apa kira-kira sindiran yang bakal kudengar hampir setiap hari. Bujang tua mungkin akan jadi sebutan yang sering kudengar. Tapi biarlah. Sekali lagi, Allah tidak akan terlambat memberikan sesuatu bagi makhluknya.