jump to navigation

True Love September 18, 2008

Posted by ciptabiru in Filsafat, Umum.
add a comment

Selama ini yang ada dibayanganku tentang seorang wanita yang akan menjadi istriku adalah wanita sempurna nan ayu parasnya. Jilbabnya panjang menjurai menutupi tubuhnya yang tinggi semampai. Matanya lentik menyorotkan keteduhan dan senyumnya meredupkan amarah dan kejengkelan. Aku yakin itu adalah bayangan semua lelaki yang mengidealkan bidadari surga sebagai pendampingnya. Setidaknya lelaki normal pasti menginginkan kesempurnaan dari sosok pasangannya.
 Aku membayangkan cintaku tak akan kering mengalir pada istriku pada saatnya nanti. Membahagiakannya dengan senyum dan belaian penuh perlindungan serta mendampinginya mengarungi gurun kehidupan  untuk bersama meraih ridlo di jalan Allah.
 Tapi itu semua sebelum aku bertemu dengan temanku (namanya sengaja aku hilangkan karena aku tak mau ini membuatnya bersedih). Ceritanya suatu hari aku diundang mampir ke rumah teman SMA-ku. Kami sudah lama tidak bertemu. Dan ternyata dia sekarang tinggal di kota yang sama denganku setelah lulus kuliah.
 ”OK lah. Aku juga belum pernah mampir ke rumahmu,” kataku menyetujui ajakannya.
 Sampai di depan rumah, temanku mengeluarkan anak kunci dari sakunya dan segera mau membuka pintu.
 ”Lho, di rumah nggak ada orang?” tanyaku.
 ”Ada. Tapi aku memang selalu membawa kunci sendiri,” ujarnya menjawab.
 ”Ooh..”
 ”Mari masuk. Ya beginilah gubug kami. Maaf kalau tidak membuatmu berkenan,” katanya merendah.
 ”Oh ya. Kamu mesti bersyukur. Meskipun belum seperti rumah-rumah yang ada di sinetron, setidaknya ini sudah rumah sendiri. Aku? Sampai sekarang masih harus berpindah-pindah rumah kontrakan,” kataku membesarkan hatinya.
 ”Oya silakan duduk. Aku masuk sebentar,” ujarnya pendek.
 Aku duduk di kursi dari kayu itu. Tidak empuk tentunya. Aku mengedarkan pandangan ke ruang tamu kecil itu. Ada foto anak kecil yang tergantung di tembok sedang tertawa lepas. Kelihatannya bahagia sekali. Aku yakin itu anak temanku.
 Rumah itu memang kecil. Tapi sangat terawat dan membuat yang masuk ke dalamnya betah. Angin semilir mengalir dari lubang angin di dekat plafon. Belum ada eternit yang menutupi atapnya. Tapi tak ada kotoran di sana. Semuanya tampak bersih.
 Tiba-tiba ada suara seperti benda berat yang diseret di atas lantai terdengar.  

“Srekk…srekk…srekkk”.
 ”Masya Allah…..” batinku
 Seorang wanita keluar dengan cara menyeret tubuhnya. Di belakangnya, kulihat temanku tersenyum.
 ”Kenalkan. Ini istriku. Ummi, kenalkan ini temanku, Chuby,” suara temanku mengagetkan lamunanku.
 ”Ehm..senang bertemu dengan anda,” ujarku sambil menangkupkan tangan di depan dada. Wanita itu tersenyum. Hatiku berdesir. Aku tahu. Dia pasti tahu kalau aku mengamati keadaanya. Tapi dia agaknya maklum. Begitu juga dengan temanku.
 Temanku meletakkan gelas dan nampan berisi makanan kecil ke meja. Kemudian dia membimbing istrinya masuk lagi setelah berpamitan denganku. Aku memandanginya sampai tubuh mereka menghilang dibalik gordyn.
 Aku merasa tidak percaya dengan apa yang kulihat. Temanku itu adalah cowok paling ganteng saat SMA dulu. Tak ada cewek yang pernah menolaknya kalau diajak jalan. Bahkan beberapa cewek sempat kudengar bertengkar karena memperebutkan dirinya. Tapi apa yang kulihat sekarang membuatku seolah tak bisa mempercayainya.
 ”Hei..kok melamun,” tegur temanku mengagetkan flashback-ku ke masa lalu.
 ”Ehm..ee. iya eh, emm maaf,” jawabku salah tingkah.
 ”Kau pasti bingung dengan keadaan istriku kan?” tebaknya seperti tahu apa yang sedang kupikirkan.
 ”E..sebenarnya.. iya,” ujarku tak enak.
 ”Yah..inilah kehidupan sobat. Wellcome to the real world,” katanya bercanda.
 ”Maksudmu?” tanyaku hati-hati.
 ”Kau pasti merasa heran, kenapa aku menikahi orang cacat kan?” tanyanya.
 Bukkk! Aku merasa dia meninjuku tepat di ulu hatiku. Rasanya mual sekali. Aku memang memikirkan itu. Tapi demi Allah, aku tidak akan mengucapkannya segamblang yang dilakukannya.
 Aku terdiam. Tapi rupanya temanku paham benar dengan pribahasa yang mengatakan bahwa ‘Diam berarti Iya’.
 ”Allah sobatku,” katanya pendek.
 ”Allah lah yang membuatku mencintainya. Aku merasa sangat beruntung diberi istri ’sesempurna’ dia. Aku pikir, tak ada wanita sesempurna dia yang hidup di jaman ini. Yang mencintai nabi-Nya dan mencintai Allah seperti dia. Aku rela menjadi nomor tiga di hatinya. Dan itulah yang membuatku semakin mencintainya. Tak peduli bagaimanapun keadaannya. Aku tak peduli jika dia buta. Aku tak peduli jik adia tidak bisa berjalan. Aku tak peduli jika dia tuli sekalipun. Aku tahu sobat. Dari bibirnya selalu terlafal dzikrullah. Mukanya selalu bersinar oleh air wudlu dan lebih dari itu semua, dia tak pernah mengeluh dengan kondisinya” terang temanku panjang lebar.
 ”Subhanallahi Allahu Akbar,” bisikku. Tiba-tiba mataku berembun. Dan sekian detik kemudian, embun itu meleleh dan menciptakan sungai kecil yang membasahi kedua pipiku. Aku tak kuasa menahannya. Aku memeluk temanku. Aku merasa sangat kerdil di hadapannya.
 Aku selalu memimpikan istri yang cantik parasnya, baik budinya, sempurna tubuhnya dan segala hal yang ideal-ideal. Aku tidak pernah mengetahui bahwa ‘kesempurnaan’ juga bisa terwujud dari ‘kekurangan’.
 Aku selalu menganggap cinta sejati hanya bisa tercipta pada dua manusia yang normal. Yang lengkap bagian tubuhnya. Yang bisa saling memapah saat salah satunya jatuh. Yang bisa bersama-sama belanja kebutuhan keluarga, bersama-sama membersihkan rumah dan hal-hal yang bisa dilakukan dua orang dengan kaki utuh. Tapi temanku menunjukkan bahwa Allah lah cinta yang sebenarnya. Allah lah cinta sejati.
 Astaghfirulloh hal’adzim….
 Ampuni aku. Ampuni kepicikanku ya Allah

The 18 years old Angel September 14, 2008

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Dear Angel..
Aku masih suka tidak percaya bahwa kamu sudah benar-benar dewasa. Rasanya baru kemarin sore aku mengantarmu berangkat sekolah SD. Rasanya baru tadi pagi aku mengambil ijazah SMP-mu. Dan rasanya baru tadi siang aku memenuhi keinginanmu untuk berjilbab. Hari ini, kamu sudah 18 tahun.
Subhanalloh….
happy birthday my little angel…..
Aku tidak mau kau menganggapku kakak yang cerewet. Sehingga aku tak memberimu segala macam nasehat. Sekarang sudah waktunya kamu mempelajari seluruh isi dunia dengan pengalamanmu sendiri. Aku hanya berpesan satu hal. Laksanakan doa bunda yang diukirnya lewat namamu. Insya Allah surga menantimu jika kau bisa. Amin

Three Women’s September 5, 2008

Posted by ciptabiru in Umum.
1 comment so far

Konon, seorang lelaki selalu mempunya dua perempuan di samping atau belakangnya. Ibunya dan istrinya. Tapi aku mempunyai tiga. Ibuku (calon) istriku, dan adikku.
 Tiga orang ini adalah sumber inspirasi hidupku. Banyak hal yang tercetus dan terlaksana hanya dengan membayangkan wajah mereka. Tak sekedar hadir di sisiku untuk memberi semangat, Mereka telah berubah menjadi alasan untuk apa aku hidup.

Ibu (Almarhumah)
Padanyalah aku belajar mencintai tanpa pamrih. Belajar bahwa mencintai adalah memberi. Belajar bahwa mencintai adalah berkorban. Dan belajar bahwa derita adalah bagian dari cinta itu sendiri. Sosok ibuku juga menjadi gudang yang paling lengkap untuk mengambil persediaan kesabaran dan kerja keras. Darinya aku berharap cinta, kasih, dan perhatian.

Adikku
Padanya aku mempraktekkan pelajaran yang kudapat dari sosok ibu. Mencintai untuk memberi. Mencintai untuk berkorban. Dan kerap kali menderita untuk mencintainya. Jika ibu adalah contoh kerja keras, adikku adalah alasan kenapa aku harus bekerja keras. Dia juga obat lara yang selalu membuatku bersabar.
Berdiri di sampingnya adalah kebahagiaan paling indah bagiku. Memeluknya adalah anugerah paling besar ketika sosok ibu sudah tiada. Melihatnya tumbuh adalah keindahan tiada tara yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Menemani setiap waktunya adalah impian terbesar yang selalu ingin kulakukan. Sayang, kadang dia juga harus belajar dan mempelajari seisi dunia ini tanpa aku di sisinya secara fisik. Aku hanya hadir lewat suara.

Tak ada orang yang mampu membuatku melakukan segalanya kecuali dia. Karena untuk dialah aku ada saat ini.

 

(Calon) Istriku
Tak ada wanita yang begitu menginspirasiku selain dia. Banyak tokoh yang kuciptakan dari karakternya. Seorang wanita cerdas berparas teduh dengan jilbab menutup sekujur tubuhnya. Bidadari surga yang diturunkan Allah ke bumi untuk mendampingi derita dan gembiraku. Seorang ibu yang menjadi tempat berlindung dan bersandar bagi anak-anak kami. Dan seorang istri yang akan mendampingiku menempuh samudra hidup dengan biduk cinta bernama keluarga sakinah.
Sayang, sampai saat ini aku belum bertemu dengan sosoknya.

Selamat Jalan Bapak Muchtasir September 4, 2008

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Assalamu’alaikum. Innalillahi wainnaillaihi roji’un.
Telah meninggal bpk Muchtasir pada selasa malam di Jember.

SMS itu datang pukul 22.00 Kamis (4/9) malam. Singkat. Namun membuat hatiku berdesir. Aku tidak punya hubungan apa-apa dengan si mayit. Namanya pun baru aku ketahui saat SMS itu datang. Namun aku merasakan ada sebagian kecil diriku yang ikut hilang begitu membaca SMS itu.
Mungkinkah karena di tubuh lelaki itu mengalir darahku dan adikku?
Apapun itu, yang jelas aku mendoakan beliau meninggal dalam bahagia. Meninggal di bulan ramadan adalah anugerah tersendiri bagi seorang muslim. Semoga khusnul khotimah dan ada kesabran yang dilimpahkan bagi keluarganya. Amiin