Menunggu Blunder MUI Oktober 28, 2008
Posted by ciptabiru in Umum.1 comment so far
Pernikahan Syeh Puji dengan Ulfa telah menyedot perhatian jutaan orang di Indonesia. Pemberitaan media yang menurut saya telah dibesar-besarkan dengan hanya mewawancarai orang-orang yang tak setuju dengan pernikahan dini telah membuat pemilik kerajaan bisnis Sinar Londoh terang ini menjadi semacam public enemy. Apalagi bagi orang-orang yang punya kepentingan tersembunyi untuk menghancurkan symbol-simbol Islam.
Bagi pemilik nama lengkap Pujiono Cahyo Widianto, menikahi ‘anak’ berusia 12 tahun itu dianggapnya bukan sebuah kesalahan. Dia sudah melakukan ikhtiar (baca : usaha) sampai 21 kali. Kalau kemudian yang muncul adalah nama Ulfa, baginay itu adalah bagian dari petunjuk yang diberikan oleh Tuhan.
Kenapa kemudian masalah ini menjadi ramai diperbincangkan? Padahal di luar sana ada ratusan orang Australia yang melakukan praktek pedofilia di di Bali dan sebuah sekte poligami di Amerika. Jawabannya adalah karena Puji merepresentasikan figure Islam. Dia kemudian menjadi sasaran empuk bagi kaum-kaum yang punay kepentingan untuk mendiskreditkan agama ini menjadi symbol yang buruk dan terkesan tidak berperikemanusiaan.
Sebenarnya, bukan Cuma Syeh Puji. Ketiak KH Abdullah Gymnastiar menikah untuk kedua kalinya pun ada usaha untuk menghancurkan kredibilitas kyai yang lebih sering disapa AA Gym ini. Praktek Poligami yang sebenarnya sudah banyak dianut masyarakat kemudian seolah-olah menjadi sebuah kejahatan. Bahkan, tak kurang presiden SBY yang tidak tahu apa-apa mengenai permasalahan di balik keputusan AA Gym untuk menikah lagi pun membuat komentar dan perintah langsung pada Meutia Hatta selaku menteri peranan wanita.
Kembali ke masalah Syeh Puji. Ada satu fenomena menarik yang saya lihat dari kejadian yang menurut saya adalah hal biasa ini (Ibu saya katanya menikah pada umur 13 tahun dan sepuluh anaknya baik-baik saja sampai sekarang). MUI, lembaga yang beberapa waktu lalu diprotes oleh AKKBB dan komunitas muda perfilman ternyata ikut turun tangan. Mereka terbawa arus yang telah diarahkan oleh sekelompok tangan-tangan dibalik tirai untuk menghancurkan lembaga pemberi fatwa ini.
Masih jelas di ingatan saya bagaimana beberapa bulan lalu, ada sebagian orang yang mulai beropini untuk membubarkan MUI karena dianggap terlalu campur tangan pada urusan seni dan budaya. Mereak menolak sensor film, mereka menolak RUU Pornografi, mereka menolak makanan tak halal dan sebagainya.
Dengan dilaksanakannya Ijtima MUI, lembaga ini telah masuk dalam jebakan untuk membuat fatwa yang kemungkinan justru berlawanan dengan ajaran nabi. Celakanya, fatwa MUI ini mungkin juga akan menjadi boomerang yang akan digunakan oleh musuh-musuh Islam untuk melegitimasi bahwa apa yang dilakukan Nabi Muhammad yang menikahi Aisha itu sebagai hal yang salah juga.
MUI akan membuat sebuah blunder karena mereka mengikuti arus opini public yang digiring media. Taruh misalnya mereka membenarkan apa yang dilakukan oleh Syeh Puji, pasti lembaga yang juga mengeluarkan sertifikat halal ini akan menjadi bulan-bulanan media sebagai lembaga yang mendukung tindakan pedofilia dan eksploitasi anak. Bahkan jika pun mereka membuat keputusan sebaliknya, maka mereka juga kan terhantam sendiri karean fatwa mereka akan digunakan untuk menggeneralisir kejadian-kejadian di masa lampau, khususnya di jaman nabi Muhammad SAW.
Well, kita tunggu saja apa yang akan dilakukan MUI.
