(salah satu kader) PKS oh PKS….. November 1, 2008
Posted by ciptabiru in Umum.1 comment so far
Saya pikir, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) telah berhasil mencitrakan dirinya sebagai partai yang bersih dan berbeda. Partai yang peduli dengan ummat dan partai yang hanya berjuang lillahi ta’ala. Setidaknya, itulah penilaian saya selama ini. Sampai siang tadi aku menemukan fakta bahwa orang-orangnya ternyata tak berbeda dengan politikus yang lain. Opportunis dan hanya mementingkan kepentingan dirinya sendiri dan partainya.
Tadi siang aku diajak rekanku untuk berbicara dengan anggota dewan dari partai berlogo bulan terbelah dengan padi di tengah ini. Mungkin lebih tepatnya adalah berunding. Tapi aku tidak mau mengatakannya seperti itu.
Ceritanya CV temenku dipakai oleh temenku yang lain untuk mengikuti proyek pengerjaan e-gov-nya DPRD. Aku sendiri sebenarnya tidak ikut dalam struktur CV itu. Selain karena aku tak mudeng, hal semacam ini juga berbahaya bagi pekerjaanku. Aku pernah di SP karena mengerjakan sesuatu di luar pekerjaanku meskipun tak saling mengganggu. Tapi aku merasa harus membuktikan sendiri kata-kata temenku yang menyatakan bahwa saingannya (orang PKS itu) katanya minta kita mundur atau kalau tidak, dia akan minta sejumlah uang lelah.
Nah, si kader partai yang dulu bernama partai keadilan ini ternyata juga jadi broker untuk CV rekannya. Dengan segala keunggulan taat azas yang kami pakai, sebenarnya kami sudah jelas menang. Namun entah apa dasar alasannya, dia minta rembugan untuk menentukan siapa yang bakal jadi penggarap.
Dari analisisku, sebenarnya temenku pasti menang. Sebab, selain harga yang ditawarkannya lebih murah, temenku juga menyertakan risalah akademik sebagai bagian tak terpisahkan dari proyek ini, seperti yang diamanatkan dalam inpres mengenai pengadaan e-gov.
Namun orang yang selama ini aku sanjung karena dari PKS itu, ternyata melesat jauh dari anggapanku. “Saya minta tolong lah mas. Anda tahu kan posisi saya. Saat ini saya sedang dianggap sebagai orang bodoh di partai saya. Bodoh karena tidak bisa mencari uang untuk partai. Karena itu, saya mohon. Biarkan saya yang menggarap proyek ini agar saya dapat membuktikan pada partai saya bahwa saya bisa,” ujarnya.
Aku langsung membatin. Jadi ini alasan orang ini. Picik sekali. Demi partainya dan demi pembuktian dirinya sendiri. Saya langsung beristighfar di dalam hati. Ternyata seperti ini orang yang selama ini aku percayai sebagai orang yang bersih.
”Saya tahu lah anda itu idealis. Tapi itu hanya terjadi di langit mas. Ini adalah kehidupan yang sesungguhnya. jadi jangan terlalu kaku,” ujarnya jumawa. Aku merasa sangat direndahkan oleh ucapannya.
Kalimat kedua ini sungguh membuatku merasa ditampar. Saya semakin tidak percaya kata-kata itu keluar dari mulut orang yang selama ini sangat saya hormati karena berada di institusi yang juga saya hormati dan kagumi.
”Maaf pak. Anda boleh bilang kami orang-orang langit yang sok idealis. Asal bapak tahu. Sejak temen saya diajak untuk ikut proyek ini, dia sudah punya satu komitmen. Yaitu harus taat aturan yang berlaku. Jangan berani macem-macem karena ini adalah duit masyarakat. Dosa besar kalau kita mengakali duit yang kemungkinan juga menjadi hak anak yatim dan fakir miskin ini untuk kepentingan pribadi,” semburku.
Dia terlihat mengatupkan mulut dan rahangnya.
”Saya tidak akan merampok rejeki yang menjadi milik orang lain. Insya Allah, kalau rejeki itu memang bukan hak kami, kami tidak akan menuntutnya. Hanya saja. Kalau memang rejeki itu masih bukan milik siapa pun dan kami masih mampu mengusahakknya. Kami akan mengusahakannya. Dan tentunya dengan cara yang tidak melanggar hukum dan aturan. Jadi kalau memang anda mau fair, ayo kita maju secara fair. Jangan menggunakan cara-cara seperti ini,” ujarku lagi. Aku merasa mukaku sudah merah padam saking marahnya dengan pernyataanya.
”Asal anda tahu, apapun hasilnya, Insya Allah kami akan terima. Kalau ternyata anda yang diterima, ya kami terima dengan penuh rasa syukur. Toh kami sudah berikhtiar. Kalau Allah menentukan anda pemenangnya, ya kami terima.
Aku tahu dia kelihatan sangat tersinggung dengan ucapanku.
”Satu hal lagi. Orang-orang yang tadi anda katakan sebagai orang langitan, itu bukan satu hal yang mustahil untuk dilakukan,” tandasku.
”Saya cuma minta tolong sekali ini saja mas. Sesudah itu, terserah proyek itu mau kalian lanjutkan seperti apa saya tidak akan ikut campur.”
Saat itu juga hancur lebur seluruh kekaguman dan rasa hormat saya pada beliau. Saya pun kemudian berpikir, apakah sekarang ini semua orang di partai yang kental dengan nuansa dakwah dan Islam ini seperti itu semua?
Di rumah aku beristighfar berulang kali. Semoga dia adalah satu-satunya orang yang melakukan hal itu. Semoga Allah melindungi keistiqomahan orang-orang yang berjalan di jalan Allah.
Aku sempat menitikkan air mata. Teringat ketika akan berangkat, aku sudah membaca tujuh kali surat alfatihah. Memohon kepada Allah, agar kami semua ditunjukkan jalan yang lurus. Jalan yang diridloi Allah seperti juga jalan yang telah ditempuh oleh orang-orang terdahulu yang diberi berkah oleh Allah.
Tapi ternyata yang aku temui adalah seorang politikus yang sama saja dengan politikus lainnya. Mau mengkhalalkan segala cara agar tujuannya tercapai. Na’udzubillahimindzalik.