jump to navigation

Kenapa Islam Terpuruk? Januari 30, 2009

Posted by ciptabiru in Tidak terkategori.
1 comment so far

Aku baru saja menemukan satu lagi hal yang menurutku menjadi salah satu penyebab kenapa orang Islam terpuruk dalam ketertinggalan dan kemiskinan. Ironisnya, hal ini aku dapati di Kantor Departemen Agama, yang notabene kantor tempat para ulama dan pemuka agama Islam dari sisi pemerintah berkumpul.
Ceritanya pagi tadi aku diundang mengikuti rapat Badan Hisab Rukyat Daerah. Beberapa hari lalu namaku, nggak tahu bagaimana caranya, masuk sebagai anggota tim yang sebagian tugasnya adalah menentukan permulaan awal bukan komariah, waktu sholat dan arah kiblat ini. Hari ini adalah hari pertama rapat kerja. Selain aku, di situ ada unsur-unsur dari Pengadilan Agama, TNI/Polri, Bagian Humas Pemkab, KUA, ormas Islam dan tentu saja MUI.
Undangan sudah aku dapat sekitar 4 hari yang lalu. dan aku yakin, pada kisaran hari yang sama pulalah undangan itu menyebar ke anggota lainnya. Aku berasumsi, karena undangan sudah dibagi lama, pasti para anggota yang lain sudah menyiapkan diri.
Tapi apa lacur? Inilah Indonesia. Inilah orang Islam.
Tepat pukul 09.00 WIB aku masuk ruangan. Di situ hanya ada satu orang panitia yang sedang menyusun susunan acara di depan lap topnya. Bungkusan snack masih menumpuk di meja yang diletakkan di samping pintu masuk.
Begitu kuketuk pintu, panitia itu kemudian mempersilahkan aku untuk tanda tangan. Tahu nggak sudah ada berapa orang yang datang? Hanya satu orang! Dia adalah Serma Sarikin dari Kodim 0701 Wijaya Kusuma. Itu artinya hanya ada satu orang yang datang sebelum acara dimulai sesuai jadwal. Karena aku datang pas acara seharusnya dimulai.
Well. Inilah kondisi kita. Orang Islam. Orang Jawa. Orang Indonesia yang tidak menghargai waktu. Ironisnya, ternyata setelah masuk dan mendengarkan pembicaraan raker yang dimulai pukul 09.45 ini, tugas utama kami adalah menentukan hilal rukyat. Itu artinya kami bertugas menentukan kapan waktu yang paling tepat untuk memulai puasa romadlon, hari raya Idul Fitri, hari raya Idul Adha dan sebagainya.
Waktu. Itulah tugas utama kami. Bagaimana mau menentukan waktu bagi ummat kalau menepati waktu yang sudah dibuat sendiri saja tidak bisa. Sumpah, saat itu saya ingin memaki para orang-orang yang katanya ulama, pemuka agama, pegawai pengadilan agama, pegawai KUA dan dosen STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri) serta organisasi masyarkat berbasis agama.
“Kalian semua munafik! Tidak bisa dipercaya. Bekerja tidak dengan hati. Tapi hanya berdasarkan insting”. Apalagi di dalam pembicaraan, ternyata yang dibahas tak jauh-jauh dari masalah dana dan biaya. Keluhan karena biaya tidak ada dan sebagainya dan sebagainya. Bla….bla….bla….
Bagaimana Islam mau maju kalau para pemuka agamanya saja seperti ini. Tidak bisa memberi contoh baik pada umat. Tidak mau berkorban untuk kepentingan agama dan umat. Dan yang lebih penting adalah tidak mau tepat waktu. Padahal Allah sudah mengajarkan pada umat Islam untuk selalu tepat waktu dengan sholat lima waktu, adzan dan iqomah.
Ampuni hamba ya Allah. Sadarkan mereka semua….

Boycott Produk Zionis Januari 16, 2009

Posted by ciptabiru in Tidak terkategori.
add a comment

Sebuah Ironi di Negeri Muslim Terbesar
Israel adalah negeri kecil yang terpencil diantara jazirah Arab. Saat Situs www.suarapalestina.org menyebutkan, saat para zionis internasional membentuk negara ini pada tahun 1948, warga Yahudi hanya 806 ribu. Kini, jumlah mereka sudah membengkak menjadi 7.282.000. Pun begitu, mereka masih merupakan bangsa minoritas yang dikelilingi oleh negeri-negeri kaya di semenanjung Arab ini.
Untuk menjamin kehidupannya, negeri ini sangat tergantung dari aliran dana para donatur. Donaturnya adalah par apengusaha raksasa yang menguasai berbagai lini usaha. Mulai dari sampo, sambun mandi, kosmetik, minuman ringan, supermarket, media massa sampai perusahaan komputer. Dari perusahaan-perusahaan beromzet trilunan rupiah per bulan inilah, mereka mendapat sumbangan untuk membangun tembok pemisah di sepanjang jalur Gaza, Tepi Barat, Askelon, Golan, Rafah dan sebagainya.
Dana sumbangan ini juga mereka gunakan untuk membeli peluru, granat, mortar, roket peluncur granat, meriam, tank sampai rudal berhulu ledak nuklir. Setiap sen dari uang yang diperoleh dari laba perusahaan-perusahaan Yahudi itu akan terus menambah pundi-pundi kekayaan dan senjata Israel. Dan sebanyak itu pulalah senjata-senjata itu akan dimuntahkan dan ditebarkan ke tanah Gaza. Menghancurkan kamp-kamp pengungsian, tempat perlindungan, sekolah, markas PBB bahkan masjid dan gereja.
Saat boikot diserukan oleh Syeh Yusuf Qordowi dari Mesir beberapa tahun lalu, Israel terbukti menderita kerugian sangat besar. Sumbangan terhadap negeri zionis ini berkurang drastis. Namun melalui kampanye panjang mereka, warga muslim dunia kemudian seperti terlupa dengan seruan boikot tersebut. Mereka mulai mengkonsumsi lagi produk-produk dari para penyokong negeri teroris ini.
Negeri-negeri di sekeliling Indonesia sudah menyerukan untuk melakukan boikot. Mantan Perdana Menteri Malaysia bahkan dengan tegas menyuruh rakyatnya untuk berhenti menggunakan produk-produk buatan Amerika dan Israel. “Tanpa mereka pun kita masih tetap bisa hidup,” serunya saat memimpin demonstrasi di Kuala Lumpur.
Iran, seteru utama Israel dan Amerika tentu sudah sejak jauh hari melakukannya. Mereka bahkan bakal memberi sanksi bagi perusahaan di negaranya yang terbukti bekerja sama dengan orang-rang Yahudi Zionis.
Di benua Amerika, Bolivia dan Venezuela bahkan mengusir pergi para diplomat Israel. Sementara Italia, negeri yang sempat terkenal dengan Facismenya, mereka juga menyerukan aksi boikot produk-produk dari para pengusaha Yahudi.
Lalu, kapan Indonesia, yang dikenal sebagai negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia, mau melakukannya? Kalaupun bukan Indonesia, minimal kita yang melakukannya sebagai pribadi-pribadi. Jangan belanjakan setiap sen uangmu untuk membunuh saudara-saudaramu di Palestina sana.
Ada sebuah peristiwa yang membuat hatiku sebagai seorang muslim terasa tercabik-cabik hanya sesaat setelah menulis tulisan ini. Tapi hikmahnya adalah, saya langsung jadi tahu, kenapa Islam selalu kalah. Ya, karena kita tak pernah bisa merasakan penderitaan saudara-saudara kita. Kita hanya berkoar-koar nggak karuan tapi tak pernah benar-benar merasa terlibat dengan penderitaan saudara-saudara kita yang sedang dibantai di jalur Gaza sana. Maafkan kami wahai saudara-saudaraku seiman.

Kata-kata yang Kehilangan Makna Januari 5, 2009

Posted by ciptabiru in Tidak terkategori.
1 comment so far

“Assalamu’alaikum…Hai…bla…bla…bla…Sialan. Eh, bla…bla…bla….Binatang kaki empat. Bla….bla….bla…… Yau dah kalo gitu. Aku tunggu ya…Assalamu’alaikum.
Kira-kira begitu percakapan by phone yang kudengar di depan rumah hari ini. Sebenarnya nyaris tiap hari sich. Anak-anak ABG yang tak kunjung menemukan jati diri itu, entah apa yang mereka cari. Celana hotpants, rambut pendek, anting gede warna mencolok, baju ketat dan cardigan warna seronok selalu jadi aksesori penutup (sebagian kecil) tubuh mereka.
Astaghfirullohal’adzim….
Dengan gampang mereka mengucap Assalamu’alaikum. Tapi sejurus kemudian dengan fasih, mereka memaki dan mencaci. Kata-kata jorok dan tak pantas keluar dari mulut mungil mereka. Aku dan temen serumah (yang nota bene bukan muslim) suka geleng-geleng kepala. Di dalam hati aku merasa malu. Sebegitu gampangnya seorang muslimah menistakan dirinya seperti itu.
Padahal Assalamu’alaikum adalah sebuah doa. Dengan mengucap kata Assalamu’alaikum warrahmatullohi wabaraokatuh, kita mendoakan agar lawan bicara kita mendapat selamat, diberikan rahmat dan berkah. Aneh sekali ketika selesai mendoakan seperti itu, kita kemudian memaki dan mencaci dengan kata-kata jorok bin sesat yang jelas-jeals datangnya dari syaiton.
Tapi itu belum seberapa. Di Baturraden (dan juga di tempat-tempat lainnya, yang herannya saat ini semakin marak) ada acara peringatan tahun baru (yang mengatasnamakan) Islam yang dilakukan oleh warga. Anehnya, mereka menggotong-gotong sesaji berupa hasil bumi dan kepala hewan. Mereka berebut sesaji-sesaji itu (yang lebih anehnya lagi didoakan dengan doa-doa Islam) agar mendapat berkah.
Mereka masuk ke makam, menyembelih hewan dan mempersembahkan sekian banyak sesaji pada sesuatu. Doa yang sangat fasih berbahasa Arab merapal dari mulut sang sesepuh. Tapi setelah itu dia menangkupkan tangannya, menyembah pada sesuatu. Berkomat-kamit tidak jelas dan melakukan hal-hal yang tidak ada tuntunannya dalam Islam.
Sungguh saya tak habis pikir. Bagaimana mereka masih menganggap hal-hal itu sebagai bukan syirik? Dengan seenak perutnya mereka mencampurkan ajaran Islam dengan budaya jahiliyah mempersembahkan sesaji pada laut, pada makam, pada gunung atau pada leluhur. Padahal hanya Allah lah yang berhak disembah. Hanya padaNya lah kita boleh meminta berkah dan keselamatan. Bukan pada seorang jin wanita yang katanya menjadi penguasa laut. Bukan pada leluhur yang dikubur di sebuah tempat rimbun, bukan pada jin marakayangan penunggu bukit. Bukan. Bukan pada mereka. Tapi hanya pada Allah. Laa ilahaillallah. Tida ada Tuhan selain Allah.