Perempuan Penghuni Surga Februari 28, 2009
Posted by ciptabiru in Umum.3 comments
Beberapa hari lalu, aku dapat SMS dari kakakku. Dia mengadukan dua adikku yang sedang diem-dieman. Lagi marahan ceritanya. Aku tidak membalas SMS itu. Aku endapkan saja. Setelah itu aku bahkan tersenyum.
Aku ingat sekitar sepuluh tahun yang lalu, ketika dua sahabatku, keduanya cewek, juga mengalami hal sama. Marahan dan diem-dieman. Saat itu, aku yang jadi tempat curhat keduanya hanya bisa diem. Bukannya tak mau memberikan solusi, tapi menurutku, ego mereka memang sama-sama besar. Aku hanya mengingatkan mereka, agar jangan terlalu lama diem-dieman.
“Ingat, sesama saudara tidak boleh diem-dieman lebih dari tiga hari,” kataku mengingatkan.
Sekarang, aku pun membiarkan kedua adikku. Bukan karena aku tak peduli. Tapi justru karena cintaku pada mereka. Aku ingin memberikan kesempatan pada mereka betapa ketika saling diam, mereka akan sangat sengsara. Betapa saat di sisinya tak ada satu sama lain, mereka akan sangat kehilangan. Supaya mereka paham, bahwa kehilangan itu tidak enak. Bahwa diem-dieman itu juga tidak nikmat. Aku ingin mengatakan secara tidak langsung, bahwa persaudaraan mereka itu sebenarnya begitu indah. Dan bahwa masalah di dalam hubungan persaudaraan itu adalah sebuah hal biasa yang sepele sifatnya.
Setelah dua hari, aku bertanya pada sikecil, apakah hari ini sudah saling bertegur sapa dengan mba’nya. Ternyata dia cuma diam. Dia takut menjawab ‘belum’. Tapi aku tersenyum. Setelah itu aku menitipkan uang jatah bulanan untuk kakaknya.
“Sampaikan ini pada Mba Ima. Sampaikan juga salam kakak,” kataku sambil mengusap jilbab putih di kepalanya.
“Mau kan?” tandasku.
Dia mengangguk. Esoknya, aku menanyakan apakah uang itu sudah disampaikan. Ada senyum di bibirnya. Alhamdulillah. Mereka telah berbaikan.
Saat makan siang di sebuah rumah makan, aku bilang sama sikecil.
“De. Tahukah kamu, sesungguhnya tidak boleh seorang muslim itu berdiam-diaman dengan saudaranya selama tiga hari berturut-turut. Sebaik-baik orang diantara keduanya adalah yang mengucap salam lebih dulu’ (HR Bukhari-Muslim),” kataku menyitir sebuah hadis shahih.
“Iya. Tapi kan Mba Ima suka seenaknya sendiri. Pergi ke rumah Mba Uni seharian, bahkan kadang tidur di sana. Ade kan bete ditinggal sendirian. Kalo dibilangin, dia malah marah-marah,” adu sikecil.
“Oo..jadi masalahnya gitu. Kenapa nggak ngomong dari kemarin. Kemarin pas ditanyain kok diem aja?” ujarku.
“Abis masih kesel. Dari pada bikin dosa lagi, mendingan diam aja,” katanya.
“Tapi sekarang udah baikan kan?” tanyaku menegaskan.
“Iya udah. Tapi masih kesel,” jawabnya.
Aku menghela nafas. Lega. Aku pandangi sosok si kecil yang sedang menyeruput es jeruk kesukaanya.
“De, Ade mau kakak ceritain nggak, seorang wanita yang paling cantik menurut Allah,” kataku kemudian.
Dia mendongak. Menatapku sejenak.
“Emang seperti apa wanita yang cantik menurut Allah itu kak?” tanyanya antusias. Aku su ka sekali menatapnya pada saat-saat seperti ini. Matanya berbinar-binar. Seolah menyiratkan keingintahuannya yang besar.
“Wanita yang cantik menurut Allah itu adalah yang senantiasa menjadikan dzikir sebagai lipstiknya, membaca Al-Quran sebagai celaknya, dan air wudlu sebagai make up-nya. Pakaiannya menimbulkan kesejukan karena rapih menutup auratnya. Dan Allah menjanjikan surga untuknya,” jabarku. Kali ini dia menunduk. Mungkin merasa malu karena dia masih kerap memakai kaus dan celana jeans meski sudah berjilbab.
“Dan tahukah Ade siapa wanita ahli surga itu,” tanyaku lagi. “Si wanita cantik itu?” jawabnya sabil balik bertanya. Aku mengangguk. “Dia itu harus : 1. Bertakwa. 2. Beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari kiamat, dan beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk. 3. Bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah, bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadlan, dan naik haji bagi yang mampu. 4. Ihsan, yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan melihat Allah, jika dia tidak dapat melihat Allah, dia mengetahui bahwa Allah melihat dirinya. 5. Ikhlas beribadah semata-mata kepada Allah, tawakkal kepada Allah, mencintai Allah dan Rasul-Nya, takut terhadap adzab Allah, mengharap rahmat Allah, bertaubat kepada-Nya, dan bersabar atas segala takdir-takdir Allah serta mensyukuri segala kenikmatan yang diberikan kepadanya. 6. Gemar membaca Al Qur’an dan berusaha memahaminya, berdzikir mengingat Allah ketika sendiri atau bersama banyak orang dan berdoa kepada Allah semata. 7. Menghidupkan amar ma’ruf dan nahi mungkar pada keluarga dan masyarakat. 8.Berbuat baik (ihsan) kepada tetangga, anak yatim, fakir miskin, dan seluruh makhluk, serta berbuat baik terhadap hewan ternak yang dia miliki. 9.Menyambung tali persaudaraan terhadap orang yang memutuskannya, memberi kepada orang, menahan pemberian kepada dirinya, dan memaafkan orang yang mendhaliminya. 10.Berinfak, baik ketika lapang maupun dalam keadaan sempit, menahan amarah dan memaafkan manusia. 11.Adil dalam segala perkara dan bersikap adil terhadap seluruh makhluk. 12. Menjaga lisannya dari perkataan dusta, saksi palsu dan menceritakan kejelekan orang lain (ghibah). 13.Menepati janji dan amanah yang diberikan kepadanya. 14.Berbakti kepada kedua orang tua. 15.Menyambung silaturahmi dengan karib kerabatnya, sahabat terdekat dan terjauh,” kataku panjang lebar. (diambil dari kitab Majmu’ Fatawa karya Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah juz 11 halaman 422-423 dalam www.dakwatuna.com) Kali ini si kecil menatapku lama. Aku lihat matanya berkaca-kaca. Aku tersenyum.
“Doakan Ade untuk jadi wanita penghuni surga itu kak,” katanya sambil terisak. Aku mengangguk kecil. Mengiyakan dalam hati dan segera memuji kuasa Allah dan segala nikmat yang diberikan pada kami.
“Fa bi Ayyi alaa i robbikuma tukaddziban. Lalu nikmat (Tuhanmu) yang mana lagi yang akan kau dustakan?”
Ta’aruf Tapi Gagal? (2) Februari 19, 2009
Posted by ciptabiru in Tidak terkategori.add a comment
Rabu (18/2) lalu aku silaturrahmi ke rumah seorang saudara. Sudah cukup lama aku tidak mengunjunginya. Padahal dulu, hampir setiap minggu kami saling bertemu. Kalau bukan aku yang kesana, kadang dia yang ke Purwokerto. Kalau pakai cara yang kedua ini, kami bertemu di tempat makan yang dipilihnya. Sebab aku tidak mungkin membawanya mampir ke kontrakanku yang hanya bisa dicapai dengan jalan kaki, sementara dia bawa mobil.
Singkat cerita perempuan yang telah menganggapku sebagai adiknya ini bercerita beberapa peristiwa yang terjadi selama kami tak bertemu. “Banyak banget peristiwa yang terjadi selama kita nggak ketemuan De,” katanya begitu usai mempersilahkanku duduk.
“Maaf tidak pernah menyempatkan diri ke sini Mba’. Akhir-akhir ini kerjaanku banyak banget. Sampai lupa punya saudara yang harus dikunjungi,” jelasku.
“Iya, Mba’ sampai bingung gimana caranya ketemuan sama Ade. Tapi semuanay baik-baik saja kan. Bapak, adik semuanya sehat kan?” tanyanya.
“Alhamdulillah. Smeuanya sehat,” jawabku.
“Eh, ‘Mba’ Ini’ kemana mba, kok nggak kelihatan?” sambungku. Nama mba yang satu lagi ini sengaja tak kukeluarkan.
“Justru itulah De. Mba tuch dari dulu pengin cerita masalah ini,” katanya. Suaranya berubah jadi serius. Tapi sesaat kemudian dia tersenyum lagi. Pergi ke belakang dan kembali dengan dua cangkir teh.
Setelah itu dia cerita dari A sampai Z tentang adiknya yang aku sebut ‘Mba Ini’ tadi.
Ada rasa nyeri saat aku mendengar ceritanya. Aku ingat, tujuh bulan lalu, ‘mba ini’ sempat curhat padaku. Dia menanyakan apakah mendapatkan jodoh dengan cara ta’aruf suatu keputusan yang tepat. Selain karena usianya yang sudah tidak muda lagi, juga karena keluarganya sudah gerah melihatnya terus melajang.
“Intinya adalah kita harus menanyakan pada pemilik hidup kita Mba. Dia-lah yang mengetahui apa yang terlihat dan yang tak terlihat. Apa yang terbaik dan apa yang paling bermanfaat bagi makhluknya. Karena itu tanyakanlah pada Dia,” kataku saat itu.
Dia berjanji akan melakukannya. Dan beberapa minggu kemudian aku mendengar bahwa mereka akhirnya menikah. Anehnya, aku tak diberitahunya secara langsung.
Sebulan, dua bulan, semuanya masih baik-baik saja. Di bulan ketiga, aku sudah tak bisa menghubunginya. Orang-orang di sekitarnya tak ada yang bisa memberikan keterangan. Hanya Mba’ku yang mau cerita. Dengan semua kondisi itu, akhirnya aku berhenti mencoba menghubunginya.
Bulan lalu, ‘Mba Ini’ menghubungiku. Dia ingin sekali bercerita masalah kehidupannya. Sebuah hal yang dulu selalu dilakukannya ketika ada masalah. Dia selalu minta nasehat padaku yang notabene jauh lebih muda darinya.
Dengan alasan bahwa statusnya saat ini adalah istri dari seorang pria yang sudah menikahinya, aku menolak halus untuk bertemu dengannya, kecuali ada ijin langsung dari suaminya. Dan untuk yang satu ini, dia tak bisa menyanggupinya. Karena itu aku pun tak menemuinya.
Tapi setelah mendengar cerita Mba’ku, aku jadi merasa ikut berdosa. Aku tahu Mba Ini menikah karena sejumlah keterpaksaan. Usia, rasa pekewuh pada keluarga di sekitarnya, dan keinginan membahagiakan ibunya. Aku tidak tahu apakah dia sempat menanyakan keputusannya itu pada sang pemberi keputusan terbaik.
Aku ingin sekali mengatakan padanya bahwa apapun yang terjadi sekarang ini, itu adalah cobaan dari pemilik nafasnya. Jika ikhlas melaluinya, insya Allah surga di depan mata. Bukankah keikhlasan istri itu surga balasannya? Meskipun sangat berat melaluinya, cobalah tersenyum. Senyum dari bibir sampai ke hati pada setiap kehendak suami. Sepanjang itu belum melanggar syariah agama, melaksanakannya adalah laksana membangun jalan lurus ke surga.
Dari sini, adikmu berdoa untuk kebahagiaan dunia dan akhiratmu Mba.
Aku Ingin Kembali Mencintai Februari 13, 2009
Posted by ciptabiru in Umum.add a comment
“Teman. Hari ini hatiku begitu kering”. Begitu aku online di YM, tulisan itu langsung keluar. Sebelumnya, di bagian status, aku menuliskan kata “kala hati gerimis…”
“Kenapa?” balesku
“Entahlah”
“Aku butuh nasehat dan siraman rohani,”
Aku termenung sejenak. Ya. Sudah lama aku dan dia tidak saling mengingatkan. Entah karena kami saling sibuk dengan urusan masing-masing atau karena kita tak pernah bersamaan online.
Dua hari ini, aku memang merasakan dorongan yang sangat besar untuk kembali menapaki jalan-jalan sajadah. Jalan yang sejuk dan teduh. Jalan yang menenangkan jiwa. Jalan yang penuh rindu. Jalan yang penuh dengan penyerahan diri. Jalan yang menumbuhkan kesadaran dan jalan yang penuh cinta.
“Kala hati gerimis….” adalah frasa kutuliskan untuk kembali meraih dan mewujudkan impianku. Aku ingat suatu periode ketika hidupku terasa sangat indah dan tenang beberapa waktu lalu. Tak ada keluhan, tak ada umpatan, tak ada cacian, tak ada tuduhan, tak ada gunjingan dan tak ada kemarahan. Yang ada hanya puja dan puji untuk pemilik nafasku. Pujian untuk Pemilik setiap sel dalam darah yang mengalir di setiap pembuluh darahku. Pujian untuk yang maha segala. Pujian untuk zat yang hanya padaNya pantas dikalungkan selendang kesombongan. Pujian untuk entitas murni yang hanya padaNya kita memohon segalanya.
Aku ingin kembali pada saat-saat itu.
Aku ingin merasakan kesejukan nurani meski matahari sedang terik menguapkan cairan dalam tubuhku.
Aku ingin kembali selalu menghiasi mulutku dengan tasbih, tahmid, istighfar dan hamdalah.
Aku ingin menutup mataku dari pandangan maksiat.
Aku ingin membasahi tangan, muka, pendengaran, penciuman dan ubun-ubunku sengan air wudlu.
Aku ingin menggelar sajadah di sepanjang jalan yang kutapaki agar setiap langkah yang kubuat hanya menuju keridloan Allah semata.
Aku ingin semua itu kembali.
Dan rupanya Allah selalu menunjukkan jalan bagi hambaNya yang memohon petunjuk kearah kebaikan. Diberikannya padaku kesempatan untuk blogwalking. Ditunjukkannya padaku sebuah blog (aku tidak memberikan link-nya karena ingin menghindarkannya dari pemujaan manusia) yang luar biasa. Aku tak pernah benar-benar berhasil membaca satu artikel pun tanpa meluapkan air sungai yang terbendung di balik mataku.
Entah di kehidupan aslinya. Tapi tulisannya adalah Rabi’ah El Edawiya. Semua hal yang dituliskannya adalah puja dan puji untuk kekasihnya, cinta sejatinya, dan alasannya untuk hidup, ALLAH.
Subhanallah. Benarkah masih ada keturunan Hawa yang hidup seperti itu. Menghambakan seluruh bagian dari dirinya hanya untuk kekasih yang sangat dirinduinya, ALLAH.
Aku benar-benar merasa sangat kerdil hanya dengan membaca tulisannya. Aku benar-benar merasa ditindih dengan gunung malu yang luarbiasa beratnya.
Terima kasih ya Allah, telah menunjukkan seorang Rabi’ah untuk mengingatkan padaku kepada siapa seharusnya aku mencurahkan semua cintaku.
Ya. Hanya kepada Mu…….
Merindukan Bersyukur Februari 8, 2009
Posted by ciptabiru in Tidak terkategori.add a comment
Rasanya sudah lama sekali aku tidak melakukannya. Berangkat tidur dengan pikiran plong dan bangun dengan senyum. Akhir-akhir ini kondisi di kantor (terutama masalah sarana dan prasarana untuk bekerja) ancur banget. Kerja jadi nggak tulus. Kerap muncul banyak makian yang tak jelas ditujukan pada siapa karena memang bingung mau dimuntahkan ke siapa.
Aku tahu, sebenarnya itu bukan alasan untuk tidak tersenyum dan mengucap syukur. Betapapun banyak kesulitan, sesungguhnya amat lebih banyak kemudahan dan nikmat yang diberikan Allah pada makhlukNya. Tapi kenapa selalu saja kita lupa mensyukurinya?
Mengeluh. Mengeluh. Dan mengeluh lagi. Nyaris seperti itu yang kulakukan dan kudengar setiap hari. Dimana istighfar. Dimana hamdalah. Dimana tasbih dan dimana tahmidku?
Mataku akhir-akhir ini makin mengering. Kering dari air yang membuatnya jadi semakin sakit saat menatap layar komputer. Mataku juga akhir-akhir ini kering dari air yang senantiasa meremes saat aku menengadahkan telapak tangan atau menunduk bersujud. Kemana imanku menghilang?
Terima kasih buat pak Tirwan. Seorang penderes 12 pohon kelapa milik eyang Arsitem yang siang tadi kutemui. Kekagumannya pada profesiku membuatku tersadar, bahwa selama ini aku terlalu kurang rasa syukurnya. Dia menganggap hidupku enak, banyak duit, kulit bersih dan tak perlu berpeluh keringat untuk mendapatkan uang. Aku tersenyum mendengarnya.
Aku katakan bahwa apa yang terlihat kadang tak seperti sebenarnya. “Urip kue bisane ya mung sawang sinawang pak,” kataku. Dia tersenyum sambil memakan pisang rebus yang dihidangkan Mas Ahyas, kaur pembangunan yang sementara merangkap sebagai sekdes di desaku.
Saat kutanyakan kondisi anak-anaknya, dia bercerita anak terakhirnya, Atun, sudah bekerja di Jogjakarta. Beberapa waktu sebelumnya, gadis berusia 18 tahun itu sempat kerja di Cirebon dan Tegal (atau Pekalongan, aku agak lupa). Sekarang dia jadi admin di sebuah usaha kredit barang-barang rumah tangga.
“Nah, itu kan sudah enak. Tinggal bagaimana kita mensyukuri saja apa yang sudah kita dapat hari ini dan besok,” kataku.
Dia menyeruput teh di hadapannya. Sejurus kemudian, dia pamitan ke belakang. Melanjutkan pekerjaanya menurunkan atap rumah mas Ahyas.
Aku tersenyum. Ya, bersyukur. Pekerjaan yang sangat mudah itu saja susah sekali dilakukan. Aku tidak tahu apakah Pak Tirwan kerap melakukannya apa tidak. Tapi dari pembicaraanya, aku seperti disadarkan, bahwa aku tak boleh iri pada orang lain. Pada rejeki yang didapat orang lain. Yang boleh aku cemburui adalah kerjakeras yang dilakukan orang lain. Banyaknya rasa syukur yang terucap dan disiplinnya mereka memenuhi panggilan sholat saat tiba waktunya.
Aku rindu melakukan lagi semua hal itu. Aku ingin tidur dengan pikiran plong, dan bangun dengan senyum lebar di bibirku sambil mengucapkan selamat pagi dunia, aku akan mengarungimu sepanjang siang ini sambil mengucap Alhamdulillah…
Pertempuran Terakhir Februari 6, 2009
Posted by ciptabiru in Umum.3 comments
Pagi tadi mimpi aneh banget.
Ada sebuah adegan ketika di depan rumahku ada serombongan orang tak dikenal. Mereka membantai siapa saja yang ada di depannya. Pakaian mereka hitam pekat. Senjata mereka semacam pedang yang sangat tajam. Darah tercecer di mana-mana saat mereka melangkah. Aku melihat mata hitam mereka yang seperti menghunjam masuk ke dalam jantungku.
Di tanganku ada sepotong kayu. Aku tahu senjata ini tak akan menang melawan ketajaman luar biasa senjata mereka. Tapi entah kenapa aku tetap berdiri. Menghadang jalan mereka. Sosok yang berdiri paling depan aku lihat menyeringai. Paling tidak itulah yang aku rasakan. Mukanya tak terlihat karena ditutup dengan sebuah logam, seperti topeng yang dipakai Vega dalam komik Street Fighter.
“Tangkap orang ini,” tiba-tiba sosok tinggi besar itu berteriak pada anak buahnya. Seketika itu dua orang berusaha meringkusku. Aku melompat melalui kepala dua cecunguk berpakaian hitam ini. Aku hantamkan batang kayu yang kupegang ke tengkuk mereka. Begitu terkena gebukan ’senjataku’ tubuh mereka hancur. Terurai menjadi serbuk hitam yang kemudian tertiup angin.
Aku kembali mendarat di tanah. Sang pemimpin mengamatiku. Lima anak buahnya segera maju. Taip dihalanginya dengan tangannya. Sejurus kemudian aku melihat tangannya menyentuh kepala pedangnya. Lalu entah kapan dia melakukannya, pedang itu sudah menempel di leherku. Aku tak bisa bergerak. Ada rasa panas yang menyengat ketika pedang itu menyentuh kulitku. Setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi.
Aku mengerjapkan mata. Kepalaku terasa pusing. Bayangan-bayangan berwarna merah dan hitam serasa menari-nari di hadapanku. Mereka bergerak dalam gelombang longitudinal yang tak beraturan. Rupanya mataku tak kunjung menemukan titik fokusnya.
Aku kembali mengerjap-kerjapkan mataku. Di hadapanku adalah sebuah ruangan yang sangat luas. Aku sendiri duduk di sebuah kursi yang tinggi dan besar. Anehnya, semua ruangan itu hanya punya dua warna. Merah dan hitam. Jika tak ingat
suasananya, aku pasti akan sangat menyukai tempat ini. Warna itu warna kesukaanku jika dipadukan dengan warna silver.
Bau arak menyeruak masuk ke hidungku. Lamat-lamat aku mendenagr suara bising dan dentuman musik yang belum pernah kudengar sebelumnya. Kombinasi antara musik bergenre trance dan gending jawa. Rasanya sangat magis.
“Anak manusia. Rupanya kau sudah bangun,” sebuah suara berat dan serak mengagetkanku. Dan kekagetanku makin menjadi demi mengarahkan pandanganku ke sosok pemilik suara. Ternyata tubuhnya tak lebih besar dariku. Bahkan tubuhnya lebih kerempeng dariku. Satu hal yang membuatku bergidik, mukanya ternyata sangat jelek. Matanya juling dan ada semacam tato berbentuk huruf arab di dahinya. Namun karena suasana yang remang, aku tak bisa jelas melihatnya.
Aku mencoba menggerakkan tubuhku. Aku baru sadar, ternyata tubuhku tak bisa digerakkan. Hanya kepalaku yang bisa digerakkan. Dari pundak ke bawah seperti terbuat dari semen yang kaku. Aku seperti patung manusia yang sedang duduk.
“Siapa kau,” ujarku dengan suara tercekat.
“Aku rasa orang-orang seperti kau sudah tahu siapa aku. Aku adalah pemilik ketakutan terbesar yang pernah diciptakan. Aku menyebarkannya ke seluruh penjuru dunia,” suara beratnya menjawab pertanyaanku.
“Kau…”
“Ya…” potongnya.
“Aku lah yang ditunggu akhir jaman. Akulah saksi kebodohan manusia selama ribuan tahun. Akulah pemilik hidupmu sekarang. ha..ha…ha….”
Hatiku tercekat. sosok jelek dan buruk rupa di hadapanku ini rupanya tidak main-main. Melihat ciri-cirinya, aku sadar bahwa dialah yang telah dijanjikan oleh akhirul anbiya sebagai penyebar fitnah terbesar di muka bumi.

Gambaripun dipundhut saking http://www.keiththompsonart.com/pages/dajjal.html
“Masuk dan jadilah bagian dari laskarku. Dan kau akan mendapat apapun yang kau inginkan,” suara beratnya kembali menggema. Entah kenapa, suara musik aneh itu sudah tak terdengar lagi olehku.
“Kau tidak akan mampu mengabulkan keinginanku,” ketusku.
“Ha…ha…ha….” kudengar suara tawanay menyahuti ejekanku. Entah kenapa aku merasa suaranya jauh lebih mengejek dari ejekan yang kukeluarkan.
“Bahkan berapa kecepatan gerakan setiap keping darah dalam aliran darahmu pun aku tahu. Ion-ion penyusun tubuhmu pun akan dengan mudah kuuraikan dan kujadikan sesuai apa yang kuinginkan,” begitu suara tawanya berhenti, dia balik mengancamku.
Ada ketakutan yang amat sangat, tapi aku merasa hal itu tak diperlukan di sini. Dan entah mengapa, aku mendadak paham, bahwa sosok jelek di hadapanku itu bisa membuktikan ucapannya. Di benakku langsung tergambar adegan saat Profesor Xavier dibunuh oleh Jane dalam film X Man the last stand. Tubuhnya terurai menjadi ion-ion kecil yang kemudian lenyap bersatu dengan udara.
Aku diam. Lalu mendadak mataku seperti mau meloncat keluar. Di hadapanku mendadak muncul dua sosok wanita yang meringkuk terikat. Aku mencoba melihat wajah kedua perempuan ini. Tapi pandanganku terhalang oleh keterbatasan leherku untuk menjulur, sementara tubuh dan tangan serta kakiku tak bisa digerakkan.
Dan aku merasa seluruh sendi-sendiku serasa dilolosi begitu melihat kedua wajah wanita itu. Masya Allah. Itu ibu dan adik bungsuku. Dua wanita yang sangat kucintai. Mereka tergeletak tak berdaya di bawah kaki jelek makhluk laknat itu.
“Kau mulai memainkan tipuanmu wahai laknatullah,” gumamku.
“Kau hanya tak bisa menerima kenyataan. Aku bisa mengambil mereka dari mana saja aku inginkan,” seringai makhluk jelek itu.
“Kekuasaanmu tak akan menjangkau kekuasaan Allah,” sahutku.
“Itu karena kau belum melihatnya. Anna Al Haq. Akulah yang satu, dan akulah yang maha berkuasa di alam semesta ini,” suaranya sangat menyakitkan telingaku. Bahkan sakitnya sampai menembus ke setiap sel dalam tubuhku. Entah
kekuatan apa yang dimiliki makhluk laknat ini.
Belum lagi reda rasa sakit di gendang telinga dan dadaku, tiba-tiba aku melihat sebuah pedang berukuran ekstra besar tergenggam di tangannya. Aku
langsung punya firasat buruk.
“Kau masih punya kesempatan untuk menentukan pilihan. Bergabunglah dengan pasukanku. Dan kau akan mendapatkan apapun yang kau inginkan,” suara lelaki buruk rupa itu berubah pelan. Aku merasakan ruangan dua lapangan bola itu mendadak dingin. Bulu kudukku berdiri.
“Dan aku yakin kau sudah mengetahui jawabanku seandainya kau punya kemampuan itu,” jawabku.
“Crass!”
Aku memejamkan mataku. Kepala adikku menggelinding. Aku melihat matanya yang terbelalak seolah minta pertanggungjawabanku yang tak membelanya.
Darah mengucur deras dari lehernya yang kutung. Aku berusaha menabahkan hatiku. “Aku berlindung kepada Allah, dari segala godaan setan yang terkutuk,” batinku.
“Aku bisa menghidupkannya. Akulah pemilik nyawanya. Dan tawaranku masih berlaku,” ujarnya, masih dengan suara yang dingin menusuk tengkukku.
“Kuasa Allah meliputi apa yang ada di muka bumi dan seluruh alam semesta. dan aku ada dalam pengabdian yang penuh padaNya,” jawabku.
“Crass….!”
Kini kepala ibuku yang menggelinding. Lelaki kerempeng itu menyibakkan
kakinya. Mengubah arah kepala itu agar memandangku. “Tabahkan hatiku ya Rabb.
Aku berlindung padamu dari segara siksa dunia dan akhirat,” batinku.
Aku membaca segala doa yang bisa kuhapal. Aku sudah tak tahan memandangi wajah wanita agung itu diinjak oleh lelaki kerempeng buruk rupa berpakaian jingga itu.
Tiba-tiba sajakulit tubuhka gemeretak. Lapisan kerasnya perlahan-lahan pecah. Aku langsung menggunakan kesempatan ini untuk bangkit dan melepaskan diri dari penjara patung itu.
“Allahu Akbar,” pekikku. Dan sekejap kemudian aku sudah lenyap dari tempat itu.
Adegan berganti ke sebuah ruang terbuka. Kepanikan terjadi di mana-mana. Matahari terlihat sangat dekat di atas kepala. Orang-orang berlarian ke sana kemari. Aku melihat di kejauhan gelombang setinggi puluhan meter menggulung apapun yang dilewatinya. Di sebelah utara, aku lihat gunung slamet seperti sebuah tandon air yang tak henti-hentinya mengeluarkan air. Di sebelah timur. Genangan maha luas sudah menghampar. Di sebelah barat, ombak yang tingginya kurang lebih sama dengan yang datang dari arah selatan terlihat saling berkejaran. Aku berdiri di dekat sebuah pohon. Seratus meter dari tempatku berdiri, ada sebuah airmancur raksasa yang muncul dari tanah.
Aku termangu.
“Dalam hitungan menit, tempat ini akan tenggelam oleh air,” batinku. Aku tidak tahu harus melakukan apa. Terbang bukanlah kemampuan yang diberikan Allah pada manusia. padahal di sekitarku ada ratusan orang yang menunggu keputusanku. Aku merasa putus asa tak bisa melakukan apapun. Perlahan-lahan genangan dari sebelah timur mulai menyentuh kakiku. Teriakan kepanikan semakin keras terdengar.
Aku berjalan beberapa langkah ke arah utara. “Ya Allah, kalau ini adalah akhirnya. Maka aku pasrahkan segalanya padaMu,” batinku.
Mendadak aku tersedot dalam sebuah pusaran. Lalu adegan berganti ke sebuah tempat. Tidak ada air bah yang akan menerjang kami. Sebagai gantinya, aku melihat orang-orang berseragam hitam sibuk mencari sesuatu. Aku tidak tahu apa yang mereka cari. pedang besar mereka terhunus dan berkilauan diterpa sinar matahari yang terik.
“Itu dia!” seru salah satu dari mereka sambil menunjuk ke arahku.
Aku terkesiap. Rupanya mereka sedang mencariku. Kaget dan bingung harus berbuat apa, aku segera meloncat. Aku tebaskan pedang, yang entah darimana datangnya, di tanganku. Dua anggota pasukan hitam itu tumbang.
Aku menyelinap diantara tembok-tembok rumah. Tiga orang kembali memergokiku. Dengan cara yang kurang lebih sama, aku menumbangkan ketiganya.
Begitu terpenggal, tubuh mereka mengurai menjadi asap hitam. Gang demi gang sempit sudah aku lalui. Aku berlari dan terus berlari. Namun pasukan hitam itu seperti tak ada habisnya. Tiap kali kutebas tubuh mereka, seakan selalu ada penggantinya yang sudah siap menghadangku. Tindakan mereka juga sangat keji. Sebarisan anak-anak yang baru pulang dari mengaji dibantai habis dengan memancung kepala dan menyabet mereka dengan pedang raksasa mereka.
Aku terus berlari. Ada sepercik pesimisme untuk bisa lepas dari kejaran pasukan iblis ini. Apalagi tak ada orang yang membantuku. Aku mulai kehabisan tenaga. Keyakinanku benar-benar mulai menguap.
Jauh di hadapanku aku melihat kabut berwarna hitam bergulung-gulung seperti angin tornado. Aku yakin, dalam hitungan menit saja, tornado hitam itu pasti bakal menyapu tempatku berdiri. Tenagaku sudah habis. Aku hanya bisa pasrah.
“Inna sholati wanusuki, wamahyaya wamamati lillahirobbil’alamin. Laa syarikallahu wabidzalika umirtu, wa ana minal muslimiin ,” bisikku.
Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan seru sekalian alam. Tiada sekutu bagiNya. Begitulah saya diperintah, dan saya sebahagian dari orang Islam.
Tornado itu benar-benar menerjangku. Aku melihat sosok lelaki kerempeng berbaju jingga itu di dalam tornado hitam. Dengan jelas aku melihat tato hitam di dahinya. Kaf, Fa dan Ro. Dia menyeringai.
Aku terjungkal. Aku merasakan tubuhku jungkir balik. Lalu kegelapan muncul sesaat. Setelah itu, aku merasakan kesejukan yang luar biasa. Ada cahaya putih yang sangat lembut di hadapanku. Bau harum juga tercium semerbak dari sekelilingku.
Tok..tok…tokkk!
“Mas, bangun. Katanya minta dibangunin”
Suara Sigit membangunkanku. Aku mandi keringat. Astaghfirullohhal’adziim. Laa khaula walaa quwwata Illabillahil ‘aliyyinl ‘adziim.
Dan itulah mimpi anehku.