jump to navigation

Pertempuran Terakhir Februari 6, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
trackback

Pagi tadi mimpi aneh banget.
Ada sebuah adegan ketika di depan rumahku ada serombongan orang tak dikenal. Mereka membantai siapa saja yang ada di depannya. Pakaian mereka hitam pekat. Senjata mereka semacam pedang yang sangat tajam. Darah tercecer di mana-mana saat mereka melangkah. Aku melihat mata hitam mereka yang seperti menghunjam masuk ke dalam jantungku.
Di tanganku ada sepotong kayu. Aku tahu senjata ini tak akan menang melawan ketajaman luar biasa senjata mereka. Tapi entah kenapa aku tetap berdiri. Menghadang jalan mereka. Sosok yang berdiri paling depan aku lihat menyeringai. Paling tidak itulah yang aku rasakan. Mukanya tak terlihat karena ditutup dengan sebuah logam, seperti topeng yang dipakai Vega dalam komik Street Fighter.
“Tangkap orang ini,” tiba-tiba sosok tinggi besar itu berteriak pada anak buahnya. Seketika itu dua orang berusaha meringkusku. Aku melompat melalui kepala dua cecunguk berpakaian hitam ini. Aku hantamkan batang kayu yang kupegang ke tengkuk mereka. Begitu terkena gebukan ’senjataku’ tubuh mereka hancur. Terurai menjadi serbuk hitam yang kemudian tertiup angin.
Aku kembali mendarat di tanah. Sang pemimpin mengamatiku. Lima anak buahnya segera maju. Taip dihalanginya dengan tangannya. Sejurus kemudian aku melihat tangannya menyentuh kepala pedangnya. Lalu entah kapan dia melakukannya, pedang itu sudah menempel di leherku. Aku tak bisa bergerak. Ada rasa panas yang menyengat ketika pedang itu menyentuh kulitku. Setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi.
Aku mengerjapkan mata. Kepalaku terasa pusing. Bayangan-bayangan berwarna merah dan hitam serasa menari-nari di hadapanku. Mereka bergerak dalam gelombang longitudinal yang tak beraturan. Rupanya mataku tak kunjung menemukan titik fokusnya.
Aku kembali mengerjap-kerjapkan mataku. Di hadapanku adalah sebuah ruangan yang sangat luas. Aku sendiri duduk di sebuah kursi yang tinggi dan besar. Anehnya, semua ruangan itu hanya punya dua warna. Merah dan hitam. Jika tak ingat
suasananya, aku pasti akan sangat menyukai tempat ini. Warna itu warna kesukaanku jika dipadukan dengan warna silver.
Bau arak menyeruak masuk ke hidungku. Lamat-lamat aku mendenagr suara bising dan dentuman musik yang belum pernah kudengar sebelumnya. Kombinasi antara musik bergenre trance dan gending jawa. Rasanya sangat magis.
“Anak manusia. Rupanya kau sudah bangun,” sebuah suara berat dan serak mengagetkanku. Dan kekagetanku makin menjadi demi mengarahkan pandanganku ke sosok pemilik suara. Ternyata tubuhnya tak lebih besar dariku. Bahkan tubuhnya lebih kerempeng dariku. Satu hal yang membuatku bergidik, mukanya ternyata sangat jelek. Matanya juling dan ada semacam tato berbentuk huruf arab di dahinya. Namun karena suasana yang remang, aku tak bisa jelas melihatnya.
Aku mencoba menggerakkan tubuhku. Aku baru sadar, ternyata tubuhku tak bisa digerakkan. Hanya kepalaku yang bisa digerakkan. Dari pundak ke bawah seperti terbuat dari semen yang kaku. Aku seperti patung manusia yang sedang duduk.
“Siapa kau,” ujarku dengan suara tercekat.
“Aku rasa orang-orang seperti kau sudah tahu siapa aku. Aku adalah pemilik ketakutan terbesar yang pernah diciptakan. Aku menyebarkannya ke seluruh penjuru dunia,” suara beratnya menjawab pertanyaanku.
“Kau…”
“Ya…” potongnya.
“Aku lah yang ditunggu akhir jaman. Akulah saksi kebodohan manusia selama ribuan tahun. Akulah pemilik hidupmu sekarang. ha..ha…ha….”
Hatiku tercekat. sosok jelek dan buruk rupa di hadapanku ini rupanya tidak main-main. Melihat ciri-cirinya, aku sadar bahwa dialah yang telah dijanjikan oleh akhirul anbiya sebagai penyebar fitnah terbesar di muka bumi.

dajjal
Gambaripun dipundhut saking http://www.keiththompsonart.com/pages/dajjal.html

“Masuk dan jadilah bagian dari laskarku. Dan kau akan mendapat apapun yang kau inginkan,” suara beratnya kembali menggema. Entah kenapa, suara musik aneh itu sudah tak terdengar lagi olehku.
“Kau tidak akan mampu mengabulkan keinginanku,” ketusku.
“Ha…ha…ha….” kudengar suara tawanay menyahuti ejekanku. Entah kenapa aku merasa suaranya jauh lebih mengejek dari ejekan yang kukeluarkan.
“Bahkan berapa kecepatan gerakan setiap keping darah dalam aliran darahmu pun aku tahu. Ion-ion penyusun tubuhmu pun akan dengan mudah kuuraikan dan kujadikan sesuai apa yang kuinginkan,” begitu suara tawanya berhenti, dia balik mengancamku.
Ada ketakutan yang amat sangat, tapi aku merasa hal itu tak diperlukan di sini. Dan entah mengapa, aku mendadak paham, bahwa sosok jelek di hadapanku itu bisa membuktikan ucapannya. Di benakku langsung tergambar adegan saat Profesor Xavier dibunuh oleh Jane dalam film X Man the last stand. Tubuhnya terurai menjadi ion-ion kecil yang kemudian lenyap bersatu dengan udara.
Aku diam. Lalu mendadak mataku seperti mau meloncat keluar. Di hadapanku mendadak muncul dua sosok wanita yang meringkuk terikat. Aku mencoba melihat wajah kedua perempuan ini. Tapi pandanganku terhalang oleh keterbatasan leherku untuk menjulur, sementara tubuh dan tangan serta kakiku tak bisa digerakkan.
Dan aku merasa seluruh sendi-sendiku serasa dilolosi begitu melihat kedua wajah wanita itu. Masya Allah. Itu ibu dan adik bungsuku. Dua wanita yang sangat kucintai. Mereka tergeletak tak berdaya di bawah kaki jelek makhluk laknat itu.
“Kau mulai memainkan tipuanmu wahai laknatullah,” gumamku.
“Kau hanya tak bisa menerima kenyataan. Aku bisa mengambil mereka dari mana saja aku inginkan,” seringai makhluk jelek itu.
“Kekuasaanmu tak akan menjangkau kekuasaan Allah,” sahutku.
“Itu karena kau belum melihatnya. Anna Al Haq. Akulah yang satu, dan akulah yang maha berkuasa di alam semesta ini,” suaranya sangat menyakitkan telingaku. Bahkan sakitnya sampai menembus ke setiap sel dalam tubuhku. Entah
kekuatan apa yang dimiliki makhluk laknat ini.
Belum lagi reda rasa sakit di gendang telinga dan dadaku, tiba-tiba aku melihat sebuah pedang berukuran ekstra besar tergenggam di tangannya. Aku
langsung punya firasat buruk.
“Kau masih punya kesempatan untuk menentukan pilihan. Bergabunglah dengan pasukanku. Dan kau akan mendapatkan apapun yang kau inginkan,” suara lelaki buruk rupa itu berubah pelan. Aku merasakan ruangan dua lapangan bola itu mendadak dingin. Bulu kudukku berdiri.
“Dan aku yakin kau sudah mengetahui jawabanku seandainya kau punya kemampuan itu,” jawabku.
“Crass!”
Aku memejamkan mataku. Kepala adikku menggelinding. Aku melihat matanya yang terbelalak seolah minta pertanggungjawabanku yang tak membelanya.
Darah mengucur deras dari lehernya yang kutung. Aku berusaha menabahkan hatiku. “Aku berlindung kepada Allah, dari segala godaan setan yang terkutuk,” batinku.
“Aku bisa menghidupkannya. Akulah pemilik nyawanya. Dan tawaranku masih berlaku,” ujarnya, masih dengan suara yang dingin menusuk tengkukku.
“Kuasa Allah meliputi apa yang ada di muka bumi dan seluruh alam semesta. dan aku ada dalam pengabdian yang penuh padaNya,” jawabku.
“Crass….!”
Kini kepala ibuku yang menggelinding. Lelaki kerempeng itu menyibakkan
kakinya. Mengubah arah kepala itu agar memandangku. “Tabahkan hatiku ya Rabb.
Aku berlindung padamu dari segara siksa dunia dan akhirat,” batinku.
Aku membaca segala doa yang bisa kuhapal. Aku sudah tak tahan memandangi wajah wanita agung itu diinjak oleh lelaki kerempeng buruk rupa berpakaian jingga itu.
Tiba-tiba sajakulit tubuhka gemeretak. Lapisan kerasnya perlahan-lahan pecah. Aku langsung menggunakan kesempatan ini untuk bangkit dan melepaskan diri dari penjara patung itu.
“Allahu Akbar,” pekikku. Dan sekejap kemudian aku sudah lenyap dari tempat itu.
Adegan berganti ke sebuah ruang terbuka. Kepanikan terjadi di mana-mana. Matahari terlihat sangat dekat di atas kepala. Orang-orang berlarian ke sana kemari. Aku melihat di kejauhan gelombang setinggi puluhan meter menggulung apapun yang dilewatinya. Di sebelah utara, aku lihat gunung slamet seperti sebuah tandon air yang tak henti-hentinya mengeluarkan air. Di sebelah timur. Genangan maha luas sudah menghampar. Di sebelah barat, ombak yang tingginya kurang lebih sama dengan yang datang dari arah selatan terlihat saling berkejaran. Aku berdiri di dekat sebuah pohon. Seratus meter dari tempatku berdiri, ada sebuah airmancur raksasa yang muncul dari tanah.
Aku termangu.
“Dalam hitungan menit, tempat ini akan tenggelam oleh air,” batinku. Aku tidak tahu harus melakukan apa. Terbang bukanlah kemampuan yang diberikan Allah pada manusia. padahal di sekitarku ada ratusan orang yang menunggu keputusanku. Aku merasa putus asa tak bisa melakukan apapun. Perlahan-lahan genangan dari sebelah timur mulai menyentuh kakiku. Teriakan kepanikan semakin keras terdengar.
Aku berjalan beberapa langkah ke arah utara. “Ya Allah, kalau ini adalah akhirnya. Maka aku pasrahkan segalanya padaMu,” batinku.
Mendadak aku tersedot dalam sebuah pusaran. Lalu adegan berganti ke sebuah tempat. Tidak ada air bah yang akan menerjang kami. Sebagai gantinya, aku melihat orang-orang berseragam hitam sibuk mencari sesuatu. Aku tidak tahu apa yang mereka cari. pedang besar mereka terhunus dan berkilauan diterpa sinar matahari yang terik.
“Itu dia!” seru salah satu dari mereka sambil menunjuk ke arahku.
Aku terkesiap. Rupanya mereka sedang mencariku. Kaget dan bingung harus berbuat apa, aku segera meloncat. Aku tebaskan pedang, yang entah darimana datangnya, di tanganku. Dua anggota pasukan hitam itu tumbang.
Aku menyelinap diantara tembok-tembok rumah. Tiga orang kembali memergokiku. Dengan cara yang kurang lebih sama, aku menumbangkan ketiganya.
Begitu terpenggal, tubuh mereka mengurai menjadi asap hitam. Gang demi gang sempit sudah aku lalui. Aku berlari dan terus berlari. Namun pasukan hitam itu seperti tak ada habisnya. Tiap kali kutebas tubuh mereka, seakan selalu ada penggantinya yang sudah siap menghadangku. Tindakan mereka juga sangat keji. Sebarisan anak-anak yang baru pulang dari mengaji dibantai habis dengan memancung kepala dan menyabet mereka dengan pedang raksasa mereka.
Aku terus berlari. Ada sepercik pesimisme untuk bisa lepas dari kejaran pasukan iblis ini. Apalagi tak ada orang yang membantuku. Aku mulai kehabisan tenaga. Keyakinanku benar-benar mulai menguap.
Jauh di hadapanku aku melihat kabut berwarna hitam bergulung-gulung seperti angin tornado. Aku yakin, dalam hitungan menit saja, tornado hitam itu pasti bakal menyapu tempatku berdiri. Tenagaku sudah habis. Aku hanya bisa pasrah.
Inna sholati wanusuki, wamahyaya wamamati lillahirobbil’alamin. Laa syarikallahu wabidzalika umirtu, wa ana minal muslimiin ,” bisikku.
Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan seru sekalian alam. Tiada sekutu bagiNya. Begitulah saya diperintah, dan saya sebahagian dari orang Islam.
Tornado itu benar-benar menerjangku. Aku melihat sosok lelaki kerempeng berbaju jingga itu di dalam tornado hitam. Dengan jelas aku melihat tato hitam di dahinya. Kaf, Fa dan Ro. Dia menyeringai.
Aku terjungkal. Aku merasakan tubuhku jungkir balik. Lalu kegelapan muncul sesaat. Setelah itu, aku merasakan kesejukan yang luar biasa. Ada cahaya putih yang sangat lembut di hadapanku. Bau harum juga tercium semerbak dari sekelilingku.
Tok..tok…tokkk!
“Mas, bangun. Katanya minta dibangunin”
Suara Sigit membangunkanku. Aku mandi keringat. Astaghfirullohhal’adziim. Laa khaula walaa quwwata Illabillahil ‘aliyyinl ‘adziim.
Dan itulah mimpi anehku.


Komentar»

1. Teguh - September 3, 2009

uuuuuhhhh itssssss amzinggg!!!!!!
itu ga bohong kan…
pi klo mnrt w mimpi itu adlh hsl dri apa yang telah kamu lihat dri kehidupan nyata… kamu bis nonton film perang ya… sehingga sampai terbawa mimpi. tpi w salut atas apa yang kamu lakukan di mimpimu..

2. Sibgotullah Al Firdausy - Oktober 17, 2009

bagus tuh mas kalo dibikin film
www://wakeupproject.blogspot.com

3. Aga - November 11, 2009

Gyahahahahahaha.. Keren kk
Kalo bisa mimpi lagi trus bunuh tu kaleng karatan..
Ok