jump to navigation

Merindukan Bersyukur Februari 8, 2009

Posted by ciptabiru in Tidak terkategori.
add a comment

Rasanya sudah lama sekali aku tidak melakukannya. Berangkat tidur dengan pikiran plong dan bangun dengan senyum. Akhir-akhir ini kondisi di kantor (terutama masalah sarana dan prasarana untuk bekerja) ancur banget. Kerja jadi nggak tulus. Kerap muncul banyak makian yang tak jelas ditujukan pada siapa karena memang bingung mau dimuntahkan ke siapa.
Aku tahu, sebenarnya itu bukan alasan untuk tidak tersenyum dan mengucap syukur. Betapapun banyak kesulitan, sesungguhnya amat lebih banyak kemudahan dan nikmat yang diberikan Allah pada makhlukNya. Tapi kenapa selalu saja kita lupa mensyukurinya?
Mengeluh. Mengeluh. Dan mengeluh lagi. Nyaris seperti itu yang kulakukan dan kudengar setiap hari. Dimana istighfar. Dimana hamdalah. Dimana tasbih dan dimana tahmidku?
Mataku akhir-akhir ini makin mengering. Kering dari air yang membuatnya jadi semakin sakit saat menatap layar komputer. Mataku juga akhir-akhir ini kering dari air yang senantiasa meremes saat aku menengadahkan telapak tangan atau menunduk bersujud. Kemana imanku menghilang?
Terima kasih buat pak Tirwan. Seorang penderes 12 pohon kelapa milik eyang Arsitem yang siang tadi kutemui. Kekagumannya pada profesiku membuatku tersadar, bahwa selama ini aku terlalu kurang rasa syukurnya. Dia menganggap hidupku enak, banyak duit, kulit bersih dan tak perlu berpeluh keringat untuk mendapatkan uang. Aku tersenyum mendengarnya.
Aku katakan bahwa apa yang terlihat kadang tak seperti sebenarnya. “Urip kue bisane ya mung sawang sinawang pak,” kataku. Dia tersenyum sambil memakan pisang rebus yang dihidangkan Mas Ahyas, kaur pembangunan yang sementara merangkap sebagai sekdes di desaku.
Saat kutanyakan kondisi anak-anaknya, dia bercerita anak terakhirnya, Atun, sudah bekerja di Jogjakarta. Beberapa waktu sebelumnya, gadis berusia 18 tahun itu sempat kerja di Cirebon dan Tegal (atau Pekalongan, aku agak lupa). Sekarang dia jadi admin di sebuah usaha kredit barang-barang rumah tangga.
“Nah, itu kan sudah enak. Tinggal bagaimana kita mensyukuri saja apa yang sudah kita dapat hari ini dan besok,” kataku.
Dia menyeruput teh di hadapannya. Sejurus kemudian, dia pamitan ke belakang. Melanjutkan pekerjaanya menurunkan atap rumah mas Ahyas.
Aku tersenyum. Ya, bersyukur. Pekerjaan yang sangat mudah itu saja susah sekali dilakukan. Aku tidak tahu apakah Pak Tirwan kerap melakukannya apa tidak. Tapi dari pembicaraanya, aku seperti disadarkan, bahwa aku tak boleh iri pada orang lain. Pada rejeki yang didapat orang lain. Yang boleh aku cemburui adalah kerjakeras yang dilakukan orang lain. Banyaknya rasa syukur yang terucap dan disiplinnya mereka memenuhi panggilan sholat saat tiba waktunya.
Aku rindu melakukan lagi semua hal itu. Aku ingin tidur dengan pikiran plong, dan bangun dengan senyum lebar di bibirku sambil mengucapkan selamat pagi dunia, aku akan mengarungimu sepanjang siang ini sambil mengucap Alhamdulillah…