Perempuan Penghuni Surga Februari 28, 2009
Posted by ciptabiru in Umum.3 comments
Beberapa hari lalu, aku dapat SMS dari kakakku. Dia mengadukan dua adikku yang sedang diem-dieman. Lagi marahan ceritanya. Aku tidak membalas SMS itu. Aku endapkan saja. Setelah itu aku bahkan tersenyum.
Aku ingat sekitar sepuluh tahun yang lalu, ketika dua sahabatku, keduanya cewek, juga mengalami hal sama. Marahan dan diem-dieman. Saat itu, aku yang jadi tempat curhat keduanya hanya bisa diem. Bukannya tak mau memberikan solusi, tapi menurutku, ego mereka memang sama-sama besar. Aku hanya mengingatkan mereka, agar jangan terlalu lama diem-dieman.
“Ingat, sesama saudara tidak boleh diem-dieman lebih dari tiga hari,” kataku mengingatkan.
Sekarang, aku pun membiarkan kedua adikku. Bukan karena aku tak peduli. Tapi justru karena cintaku pada mereka. Aku ingin memberikan kesempatan pada mereka betapa ketika saling diam, mereka akan sangat sengsara. Betapa saat di sisinya tak ada satu sama lain, mereka akan sangat kehilangan. Supaya mereka paham, bahwa kehilangan itu tidak enak. Bahwa diem-dieman itu juga tidak nikmat. Aku ingin mengatakan secara tidak langsung, bahwa persaudaraan mereka itu sebenarnya begitu indah. Dan bahwa masalah di dalam hubungan persaudaraan itu adalah sebuah hal biasa yang sepele sifatnya.
Setelah dua hari, aku bertanya pada sikecil, apakah hari ini sudah saling bertegur sapa dengan mba’nya. Ternyata dia cuma diam. Dia takut menjawab ‘belum’. Tapi aku tersenyum. Setelah itu aku menitipkan uang jatah bulanan untuk kakaknya.
“Sampaikan ini pada Mba Ima. Sampaikan juga salam kakak,” kataku sambil mengusap jilbab putih di kepalanya.
“Mau kan?” tandasku.
Dia mengangguk. Esoknya, aku menanyakan apakah uang itu sudah disampaikan. Ada senyum di bibirnya. Alhamdulillah. Mereka telah berbaikan.
Saat makan siang di sebuah rumah makan, aku bilang sama sikecil.
“De. Tahukah kamu, sesungguhnya tidak boleh seorang muslim itu berdiam-diaman dengan saudaranya selama tiga hari berturut-turut. Sebaik-baik orang diantara keduanya adalah yang mengucap salam lebih dulu’ (HR Bukhari-Muslim),” kataku menyitir sebuah hadis shahih.
“Iya. Tapi kan Mba Ima suka seenaknya sendiri. Pergi ke rumah Mba Uni seharian, bahkan kadang tidur di sana. Ade kan bete ditinggal sendirian. Kalo dibilangin, dia malah marah-marah,” adu sikecil.
“Oo..jadi masalahnya gitu. Kenapa nggak ngomong dari kemarin. Kemarin pas ditanyain kok diem aja?” ujarku.
“Abis masih kesel. Dari pada bikin dosa lagi, mendingan diam aja,” katanya.
“Tapi sekarang udah baikan kan?” tanyaku menegaskan.
“Iya udah. Tapi masih kesel,” jawabnya.
Aku menghela nafas. Lega. Aku pandangi sosok si kecil yang sedang menyeruput es jeruk kesukaanya.
“De, Ade mau kakak ceritain nggak, seorang wanita yang paling cantik menurut Allah,” kataku kemudian.
Dia mendongak. Menatapku sejenak.
“Emang seperti apa wanita yang cantik menurut Allah itu kak?” tanyanya antusias. Aku su ka sekali menatapnya pada saat-saat seperti ini. Matanya berbinar-binar. Seolah menyiratkan keingintahuannya yang besar.
“Wanita yang cantik menurut Allah itu adalah yang senantiasa menjadikan dzikir sebagai lipstiknya, membaca Al-Quran sebagai celaknya, dan air wudlu sebagai make up-nya. Pakaiannya menimbulkan kesejukan karena rapih menutup auratnya. Dan Allah menjanjikan surga untuknya,” jabarku. Kali ini dia menunduk. Mungkin merasa malu karena dia masih kerap memakai kaus dan celana jeans meski sudah berjilbab.
“Dan tahukah Ade siapa wanita ahli surga itu,” tanyaku lagi. “Si wanita cantik itu?” jawabnya sabil balik bertanya. Aku mengangguk. “Dia itu harus : 1. Bertakwa. 2. Beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari kiamat, dan beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk. 3. Bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah, bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadlan, dan naik haji bagi yang mampu. 4. Ihsan, yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan melihat Allah, jika dia tidak dapat melihat Allah, dia mengetahui bahwa Allah melihat dirinya. 5. Ikhlas beribadah semata-mata kepada Allah, tawakkal kepada Allah, mencintai Allah dan Rasul-Nya, takut terhadap adzab Allah, mengharap rahmat Allah, bertaubat kepada-Nya, dan bersabar atas segala takdir-takdir Allah serta mensyukuri segala kenikmatan yang diberikan kepadanya. 6. Gemar membaca Al Qur’an dan berusaha memahaminya, berdzikir mengingat Allah ketika sendiri atau bersama banyak orang dan berdoa kepada Allah semata. 7. Menghidupkan amar ma’ruf dan nahi mungkar pada keluarga dan masyarakat. 8.Berbuat baik (ihsan) kepada tetangga, anak yatim, fakir miskin, dan seluruh makhluk, serta berbuat baik terhadap hewan ternak yang dia miliki. 9.Menyambung tali persaudaraan terhadap orang yang memutuskannya, memberi kepada orang, menahan pemberian kepada dirinya, dan memaafkan orang yang mendhaliminya. 10.Berinfak, baik ketika lapang maupun dalam keadaan sempit, menahan amarah dan memaafkan manusia. 11.Adil dalam segala perkara dan bersikap adil terhadap seluruh makhluk. 12. Menjaga lisannya dari perkataan dusta, saksi palsu dan menceritakan kejelekan orang lain (ghibah). 13.Menepati janji dan amanah yang diberikan kepadanya. 14.Berbakti kepada kedua orang tua. 15.Menyambung silaturahmi dengan karib kerabatnya, sahabat terdekat dan terjauh,” kataku panjang lebar. (diambil dari kitab Majmu’ Fatawa karya Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah juz 11 halaman 422-423 dalam www.dakwatuna.com) Kali ini si kecil menatapku lama. Aku lihat matanya berkaca-kaca. Aku tersenyum.
“Doakan Ade untuk jadi wanita penghuni surga itu kak,” katanya sambil terisak. Aku mengangguk kecil. Mengiyakan dalam hati dan segera memuji kuasa Allah dan segala nikmat yang diberikan pada kami.
“Fa bi Ayyi alaa i robbikuma tukaddziban. Lalu nikmat (Tuhanmu) yang mana lagi yang akan kau dustakan?”