jump to navigation

Jatuh Cinta Lagi Maret 28, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Kebanyakan orang akan tersenyum ketika jatuh cinta. Tapi hari ini aku menangis. embun hangat yang selama ini bersemayam dalam kedalaman kedipan mataku kini berhasil menembus bendungan yang menghalanginya. Merambah pipi dan luruh ke bumi, bersatu dengan zat asal manusia.

Beberapa hari ini, entah kenapa aku selalu ingin melantunkan namaNya dalam sebuah nuansa yang penuh keheningan dan kekhusu’an. Ada rasa nyaman ketika namaNya kubisikkan. Ada rasa rindu yang membuncah saat menyebut namaNya yang penuh makna. Ada rasa bahagia saat meyakini bahwa Dia senantiasa melihatku.

Ar rahmaaan…. ‘Alamal Quraan…. Kholaqol insaaan…’Alamahul bayaaan… “Dialah yang Maha Pemurah.

Yang telah mengajarkan Al Quran.

Dia menciptakan manusia.

Mengajarkannya agar pandai berbicara”

Sampai di sini dulu. Dan air mataku tak sanggup kubendung. Mengalir deras menerobos celah sempit di kelopak mataku. Maha suci Allah yang mempunyai sifat pemurah.

Aku membayangkan seandainya sang khalik tak memiliki sifat ini. Akan jadi apa kita, para makhluk ciptaanya. Bayangkan jika satu saja zat dalam udara yang kita hirup ini berkurang persentasenya. Bayangkan jika alat respirasi yang kita miliki ini berkurang sedikit saja fungsinya. Bayangkan jika alat ekskresi kita terganggu manfaatnya. Bayangkan..bayangkan dan bayangkan.

 Sungguh maha Pemurah Allah. Tak terhitung nikmat yang diberikanNya pada manusia setiap harinya. Hanya dari udara yang gratis kita hirup setiap hari saja, niscaya kita tak akan dapat menghitung berapa nikmat yang disertakanNya. Belum lagi nikmat-nikmat lain yang dengan segala keniscayaan, pasti tak akan sanggup seseorang menghitungnya, bahkan meskipun seandainya dia melakukannya sejak lahir sampai mati.

Di ayat selanjutnya, pemilik segala kemurahan itu kembali menceritakan betapa pemurahnya Dia.

“Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan.

Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohon kedua-duanya tunduk kepadaNya.

Allah juga telah meninggikan langit dan dia meletakkan neraca keadilan.

 Maka tegakkanlah timbangan itu dengan adil, dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.

Allah telah meratakan bumi untuk makhluk Nya.

Di Bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang.

Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya.

Lalu nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

Peringatan-peringatan bernada mesra ini disampaikan dengan penuh kelembutan. Inilah yang kemudian membuatku jatuh cinta lagi. Sebelum ini aku sudah menghafal Yaasiin, At-Thaariq, Al A’la, Al Ghaziyah, Al Fajr, Al Balad, As-Syams, Adh-Dhuha, Al Insyiroh, At-Tiin, Al ‘Alaq, Al-Qodr, Al Bayyinah, Az-Zalzalah, Al ‘Aadiyat, sampai An-Naas.

Kini Ar Rahman benar-benar telah menjadikanku jatuh cinta lagi. Setiap detikku kulewati dengan melafalkan satu per satu ayatnya. Aku merasa selalu diingatkan untuk selalu bersyukur dengan 31 pertanyaan sejenis, Fabiayyi alaaaa irobbikuma tukaddzibaan.

Ya, Rohman, limpahkanlah kemurahanMu pada setitik jiwa ini. Ijinkan aku untuk selalu menyebut nama Mu dengan menghafal surah Ar Rahman… Agar hati selalu sadar, bahwa begitu banyak kemurahan yang telah Engkau berikan pada jiwa, raga, bumi dan alam semesta ini. Amin

Untuk Sebuah Nama Maret 15, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Juni, teman sekantorku lagi bingung mencari nama buat dua calon anaknya. Katanya, cari nama satu aja mumeti, apalagi nyari buat dua. Banyak ide yang muncul dari aku dan temen. Mulai dari yang bergaya barat-baratan sampai yang bahasa sanskerta. Tapi tak satupun yang cocok untuknya.
Aku kemudian melihat ke diriku. Namaku pendek dan seolah tak serius. Banyak temen-temenku yang suka ketawa begitu denger namaku.
“Bener itu nama asli?” tanya mereka nggak percaya.
“So simple dan unik yach,” sambung mereka
Aku jadi ingat, saat aku kelas empat dan lima SD, itu adalah saat-saat aku paling tidak PeDe dengan nama yang diberikan ayahku. Aku selalu protes ke ayahku setiap pulang sekolah. Kenapa namaku cuma terdiri dari lima huruf. Tambahin namanya biar lebih banyak huruf seperti temen-temen. Begitu setiap hari rengekanku. Tapi ayahku selalu menganggap omonganku sambil lalu. Baginya, namaku yang sekarang melekat di KTP, SIM, KK dan identitas lain itu adalah hal terbaik yang pertama kali diberikannya padaku.
Then the time goes on. Lama-kelamaan aku mulai menikmati namaku yang kata temen-temenku unik dan simple banget itu. Aku adalah satu dari hanya dua orang yang namanya berawalan C di SMA. Karena itu semua guru hampir mengetahui kami berdua. Pun begitu, aku tak tahu pasti sebenarnya apa makna namaku.
Saat kuliah, aku bahkan sangat menikmati mempunyai nama yang unik itu. Dan setiap ada orang yang menanyakannya, aku selalu bilang “that’s my name” dengan bangga. Maafkan aku Yah, dulu mungkin aku sering protes karena memang pengaruh temen-temenku. Maklum lah, aku kan masih anak-anak waktu itu.
Beberapa waktu lalu, iseng-iseng nyobain kamus bahasa Arab lewat internet. Aku masukkin namaku di situ. Dan Subhanallah..Ternyata namaku begitu dalam maknanya. CINTAKU. Begitu yang tertulis di kolom bahasa Indonesia.
Aku membayangkan betapa romantisnya ayahku pada ibuku. Betapa romantisnya ayahku pada kekasih sejatinya. Dia menandai rasa cintanya pada sang pemilik hidup (kekasih sejatinya), pada istrinya dan pada anak lelaki keduanya ini dengan sebuah nama yang sangat dalam maknanya. Nama yang kini meresap ke seluruh sel dalam tubuhku. Nama yang kini mengejawantah dalam setiap gerak dan sifatku. Nama yang menginspirasiku untuk mewujudkan maknanya menjadi nyata.
Nama adalah doa. dan aku berharap, selamanya doa ayahku akan menjadi nyata. Aku akan selalu dipanggil CINTAKU oleh semua orang. Aku akan menjadi orang tercinta bagi orang-orang di sekelilingku. Aku menjadi orang terkasih bagi setiap makhluk.
Dan lebih dari itu, semoga aku kelak akan dipanggil dengan suara merdu “CINTAKU” dari Kekasih Hati yang selalu kubisikkan namanya ratusan kali setiap hari. Yang Maha memiliki Kasih. Yang CintaNya tiada banding di alam semesta. Yang kasihNya tak pilih-pilih pada setiap makhlukNya.
Allahu ya Rohmanur Rohim……..

Bahkan Sakitpun (bisa) Indah Maret 10, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Bahkan, sakitpun bisa menjadi begitu indah. Itulah yang kurasakan sekarang. Setelah tiga hari tergolek di peraduan, dan hanya bangkit saat suara para penyeruMu berkumandang, aku merasakan betapa nikmat Allah tak pernah berkurang sedikitpun.
 Di sesaknya nafas yang kuhirup, aku jadi sadar betapa selama ini aku jarang sekali mensyukuri kegiatan yang tak sempat kuhitung saking banyak dan gampangnya. Bernafas. Ya. Kegiatan yang bahkan bisa dilakukan oleh bayi yang baru lahir ini jarang sekali kita sampaikan terima kasihnya. Kita baru sadar bahwa bernafas itu adalah nikmat saat ada penghalang untuk melakukannya.
 Saat seluruh tubuh penat karena terlalu lama tergeletak, aku menyadari bahwa aku beruntung. Beruntung punya kasur, tempat berteduh (yang walaupun ngontrak tapi) nyaman, lampu yang menyinari kegelapan kamar itu, dan adik yangbisa kupanggil untuk membelikan makanan. Yang lebih dari semua itu, nikmat dan kemampuan untuk tetap menemui kekasihku dengan semua syarat tetap bisa kulakukan. Segala puji hanya untukMu waha kekasih hati…
 Ketika tiba giliran kepala yang diserang rasa sakit, aku merasakan betapa nikmat Allah semakin besar. Apalagi saat aku masih mampu menempelkannya ke sajadah seraya mengagungkan ketinggianNya. Seraya memuji kebesaranNya. Seraya membisikkan kemahasucianNya.
 Dini hari saat udara dingin menyentuh kulitku dari sela-sela lubang angin, mendadak aku mendengar  “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (iaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit”. Ternyata ada seorang tetanggaku yang membaca QS A-Muzammil [73]: 1-3 di masjid depan rumah.
 Aku bangun dengan penuh cinta. Aku merasa dibisiki langsung oleh pemilik ayat itu. Tak kurasakan dinginnya air di tangan, muka, hidung, ubun-ubun telinga dan kakiku. Yang kurasakan kemudian adalah kesejukan yang menenteramkan gejolak panas yang menyengat seluruh permukaan kulitku.
 Aku menghadapNya. Menemui kekasih yang setiap saat selalu kurindui. Yang lima kali bertemu sehari senantiasa kurasakan kurang. Yang dibibirku selalu kubisikan namaNya. Yang setiap langkahku selalu kutujukan untuk menujuNya.
 Kini, setelah tiga hari aku tergolek lemas, aku tetap akan bersyukur. Untuk waktu istirahat yang diberikan setelah kezoliman yang kuperbuat pada setiap sel di tubuhku. Untuk waktu beribadah yang lebih khusu’ selama masa sakitku. Dan untuk bertambahnya rasa syukurku. Siapapun tidak ingin sakit. Demikian pula dengan aku. Tapi aku berterima kasih untuk sakitku kali ini.
Aku tahu, Engkau maha mengasihi dan selalu memberikan yang terbaik untuk makhlukMu.

Hidup itu = Menunggu Maret 5, 2009

Posted by ciptabiru in Tidak terkategori.
2 comments

Aku kerap berpikir, sebenarnya untuk apakah kita hidup di dunia ini? Ada jawaban yang mengatakan bahwa hidup itu cuma mampir minum. Maksudnya, hidup ini cuma sementara, seperti orang minum. Celakanya, orang bodoh memaknainya dengan benar-benar menghabiskan hidupnya untuk minum-minuman sepanjang hari.
Ada pula yang menjawab hidup itu ibarat naik roller coaster. Kadang di bawah, kadang di atas. Tapi selama apapun kita naik roller coaster, pada saatnya kita juga akan turun dari wahana itu.
Ada lagi yang menganggap bahwa hidup kita ini sesungguhnya adalah alam kematian. Hidup yang sesungguhnya adalah alam setelah kematian itu. Pendapat ini diikuti oleh para penganut ajaran syeh Siti Jenar. Tubuh adalah perangkap yang membuat manusia merasa sakit dan menderita. Tak heran banyak yang dangkal pikirannya kemudian membuat onar dan ingin memasuki alam kehidupan yang sebenarnya (menurut ajaran mereka) dengan tujuan untuk membebaskan diri dari ‘alam kematian’ ini. Mumeti lah pokoknya, karena pake dibolak balik.
Islam mengajarkan kita, bahwa kita ini hidup untuk beribadah kepada sang pencipta. Sang pemilik kuasa atas setiap gerak tubuh sampai aliran sel darah merah kita, pemilik setiap mikron bagian udara yang kita hirup dan setiap atom yang menyusun tubuh kita.
”Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz Dzariyat 52 : 56).
Aku sudah mendengar ayat ini sejak masih SD. Di setiap pelajaran aqidah akhlak yang aku terima, ustadzku selalu mengingatkanku tujuan hidup manusia ini. Namun rasanya masih bisa kuhitung dengan jari, berapa kali kesadaran tentang tujuan hidup ini dapatkan. Tidak ingat pastinya. Tapi tidak banyak.
Yang jelas pada setiap akhir Romadlon, aku selalu menyesal saat tak bisa mengkhatamkan 30 juz. Aku selalu kecewa karena ada sholatku yang tertinggal, ada tarawihku yang tak terlaksana, dan tak sedikit tahajjudku yang terjajah oleh rasa kenyang dan kantuk.
Kini, aku mulai menyadari, bahwa setiap hal yang kita lakukan bisa menjadi ibadah. Mulai dari Alhamdulillahiilladi ba’dana amatana wailaihinnusur sampai bismikallohuma ahya wa bismika amut, semuanya bisa menjadi pahala. Tersenyum saat marah, beristighfar saat mata bersua maksiat, atau saat janji berjumpa hianat.
Setiap langkah juga bisa bermakna ibadah jika hati berniat dan mulut sempat terucap. Bahkan setiap hirupan dan hembusan nafas bisa menjadi ibadah jika teriring rasa syukur pada pemilik udara dengan komposisi O2 dan zat-zat lain yang sudah sangat diperhitungkan itu.
Kini, aku juga mulai menyadari, selain ibadah, hidupku adalah masa menunggu. Masa menunggu dari satu waktu sholat ke waktu sholat lain. Aku menunggunya dengan penuh kerinduan. Dengan penuh pengharapan. Harapan untuk bersua dengan pujaan hati. Harapan untuk bercumbu dengan sang kekasih. Harapan untuk mengurai kata dengan selaksa doa. Indahnya ibadah ini….