Karunia di Malam Rabu April 26, 2009
Posted by ciptabiru in Umum.add a comment
Sebulan belakangan ini, aku selalu merasa lebih senang saat Selasa datang. Melebihi kesenangan Selasa-Selasa sebelumnya meskipun sama-sama liburnya. Selama sebulan ini, ada kebiasaan baru yang selalu kulakukan ba’da maghrib. Yap. Mengambil telpon dan mencari nama Li’ll Angel.
“Udah siap?. OK, bentar lagi kakak ke situ ya”
Iya. Sejak sebulan ini, aku memang punya kebiasaan baru. Kebiasaan yang selalu membuat hati tenteram dan bahagia. Makan malam bersama dengan dua ade’ku. Berunding menentukan tempat makan, dan saling bercerita kegiatan selama seminggu. Sebenarnya bukan saling. Lebih banyak aku yang jadi pendengar dan penanya Ngapain aja mereka selama seminggu. Apakah ada hal-hal luar biasa yang terjadi selama seminggu, masalah maupun pengalaman lucu.
Si kecil adalah yang paling heboh ceritanya Soalnya ini adalah saat-saat pertama dia indekost. So pasti banyak kejadian konyol yang dia alami. Mulai dari nunggu dua jam di depan pintu kostan karena belum punya kunci sampai terbirit-birit balik ke kampus karena ada orang gila yang nongkrong di depan kostannya.
Selain itu, awal-awal tinggal dikostan juga diwarnai pegal-pegal kaki karena belum biasa berangkat pulang ke kampus jalan kaki. Malemnya nggak bisa tidur karena lampu kelewat terang tapi nggak ada saklarnya. Alhasil, besoknya matanya sembab kekurangan tidur. Iya. Dia memang nggak bisa tidur kalo lampu kamar terlalu terang. Karena itu, besoknya aku ajak dia jalan-jalan, beli lampu tidur, roll cable untuk setrika dan alat listrik lain.
Kerasa kasihan juga si ngedengerinnya. Tapi pas ditawarin antar jemput, di amalah menolak. “Nggak usah. Kan deket banget ke kampus. Mungkin karena nggak biasa aja. Jadi masih suka pegel-pegel kakinya. Ntar lama-lama juga nggak pegel lagi,” elaknya.
Aku cuma tersenyum. Padahal kalau dia minta, aku sebenernya masih mau kok nganterin dia tiap hari berangkat pulang kampus yang jaraknay emang cuma lima menit jalan kaki. Tapi kemudian aku sadar, dia mungkin dalam proses pengin jadi anak yang mandiri. Nggak ngrepotin orang lain dan pengin disebut dewasa. OK lah kalo begitu.
Saat-saat seperti inilah yang selalu aku resapi. Bersama, hangat dan berbagi. Segala puji bagi Allah, yang selalu membuat hati kangen dan menciptakan rasa penuh cinta diantara kami. Sungguh, ingin rasanya setiap hari berlalu seperti ini. Sayang, hanya seminggu sekali bisa melakukannya.
Siangnya, mereka disibukkan dengan rutinitas kuliah dan kegiatan luar kampus. Malemnya, aku yang disibukkan dengan pekerjaan rutin di kantor. Kemudian hari demi hari hanya suara yang bisa kudengarlewat telpon. Memastikan dia tak lupa dengan kewajiban menyapa pemilik jiwanya dan tak menzholimi dirinya dengan melupakan kewajiban makan.
“Ingat, begitu banyak nikmat yang diberikan Allah setiap hari pada kita. Jangan pernah mendustakan satupun. Syukuri agar Dia makin cinta dengan kita,” pesanku setiap akan menutup telpon.
Pertanyaanya Hanya ‘Kapan……?’ April 19, 2009
Posted by ciptabiru in Umum.2 comments
Sudah lama sekali aku tak menapakkan kaki ke rumah sakit. Aku ingat. Terakhir kalinya aku di rumah sakit. Dan itu adalah saat-saat paling berpengaruh dalam kehidupanku. Saat-saat yang kemudian mengubah seluruh hidupku.
Suasana senja yang kelabu. Sendirian dalam sebuah ruangan yang berwarna putih. Hanya ditemani oleh dua mayat yang penuh luka. Satu tak kukenal identitasnya. Sedangkan satunya adalah mayat seorang wanita yang tersenyum damai. Mayat ibuku.
Ambulance yang akan membawa raga Ibuku tak kunjung datang. Sementara warna jingga di ufuk barat telah berganti menjadi kelabu. Sekelabu suasana hati yang dirundung duka.
Aku menerawang ke angkasa. Berharap di sana terlukis wajah wanita yang telah melahirkan aku. Aku berharap wajah yang telah tertutup dengan kafan dan selimut dari RS Margono Sukaryo itu memancar ke angkasa dan terlukis dengan bintang dan gugusan awan.
Empat jam kemudian sirine mobil berwarna putih itu terdengar meraung-raung. “Maaf mas, kami baru saja mengantar (jenazah) ke Bumiayu. Kebetulan semua unit (mobil ambulance) sedang keluar,” ujar seorang petugas yang sebelumnya sempat membuatkan surat keterangan kematian.
Aku merasakan keheningan yang sangat hebat ketika mobil itu melaju meninggalkanku di kamar itu. Mayat dengan perut terburai itu masih teronggok di meja perasi. Jahitan di perutnya terlihat menghitam. Aku segera beranjak ke bagian administrasi.
Kini, setelah delapan tahun berlalu, kenangan itu muncul kembali saat aku melangkahkan kaki di selasar rumah sakit ini. Wajah-wajah capek karena kurang tidur bercampur dengan wajah-wajah sendu. Sendu karena memikirkan apakah ini adalah saat-saat terakhir saudaranya ada di dunia. Sebagian lagi mungkin memikirkan besarnya biaya yang harus mereka bayarkan.
Dari sebuah kamar terdengar suara tangisan. Satu lagi nafas diambil oleh pemiliknya. Aku melihat beberapa orang saling berpelukan. Seorang petugas berbaju putih-putih menutupkan selimut ke kepala si pasien. Sementara suara tangisan makin keras terdengar.
Aku melangkah lagi tiga kamar dari kamar penuh nestapa itu. Aku lihat mertua Juni tersenyum. Dua miniatur manusia tertidur tenang di dua buah kotak berjeruji warna putih. Orang-orang lain di kamar itu juga tersenyum. Bahkan Erna, ibu sang bayi, Istri Juni, yang baru saja dibedah perutnya untuk mengeluarkan bayi kembarnya.
Subhanallah. Maha suci Engkau ya Allah. Yang mengambil dan menggantikan. Yang mematikan dan menghidupkan. Yang mencoba manusia dengan kesedihan dan kegembiraan.
Aku keluar. Berdiri di depan kamar tengah yang tertutup pintunya. Berdiri diantara suara tangis di sebelah kiri dan suara canda bahagia di sebelah kanan. Sungguh. Jika kita mau memikirkannya, betapa maha besar dan kuasanya Allah.
Mungkin dulu pun suasananya seperti ini. Saat saudara-saudaraku berpelukan menangisi kepergian ibu, ada kamar yang tersenyum bahagia karena kelahiran.
Aku sudah mengalami fase pertama. Meski tak bisa kuingat, tapi aku yakin ada sebuah senyum yang tersungging saat aku datang ke dunia. Senyum yang abadi di bawa mati oleh Ibuku. Pertanyaannya kemudian hanya “kapan kita akan mengalami fase kedua, saat keluarga kita berpelukan menangisi kepergian kita ?”
Kita tak pernah tahu kapan saat itu akan datang. Setiap sepersekian detik, saat itu bisa datang. Apakah kita sudah siap menerima kedatangannya? Dan apakah kita sudah mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan “apa saja yang telah kau lakukan selama hidup di dunia?”
Kelahiran dan kematian adalah guru. Guru bagi kita untuk belajar menggunakan waktu. Guru yang akan mengingatkan kita bahwa kita bukan siapa-siapa. Guru yang akan mengingatkan kita bahwa kita tidak akan membawa apa-apa. Guru yang akan mengingatkan kita bahwa hidup ini hanya sementara. Dan guru yang akan mengingatkan kita bahwa hidup ini sangat berharga.
Mari warnai setiap hembusan nafas kita dengan dzikir. Isi setiap perbuatan kita dengan amal. Dan gelarlah sajadah di setiap langkah kita. Agar hanya lewat jalan Allah kita kembali. Amin..
Surat Buat Ibu April 13, 2009
Posted by ciptabiru in Umum.1 comment so far
Ibu….
Malam ini begitu besarnya kerinduanku padamu. Melebihi malam-malam senyap yang selalu kulalui sambil mengukur jalan. Kemarin, aku menengok pakde yang tergolek di ranjang di paviliun 115 Soeparjo Rustam RS Margono. Itu untuk pertama kalinya aku menengoknya saat sakit. Sudah beberapa kali beliau sakit dan berobat di ruma sakit. Tapi dengan alasan sibuk ngurusi pekerjaan, aku tak pernah menengoknya. Pun saat bapak ingin menengoknya, aku selalu bilang tidak sempat karena pekerjaan tak kunjung selesai.
Kemarinpun, sebenarnya aku tak sengaja menengok. Niatku adalah menengok anak kembar Juni yang baru lahir. Beruntung di koridor rumah sakit, aku bertemu Mba Erni. Karena itu kemudian aku menunggui pakde sambil bercerita banyak hal.
Aku melihat mata yang baru dicek di poli mata itu berkaca-kaca. Bukan karena penyakit gula yang terus memburuk atau kinerja ginjal yang melemah, tapi ternyata karena suaraku.
Aku teringat pagi hari saat menjemput si malaikat kecil. Mata bude juga berkca-kaca saat melihatku berlalu. Dua pertemuan itu adalah yang pertama kali sejak lebaran lalu.
Selama ini aku tak pernah berbagi cerita. Aku nyaris tak pernah mempercayai setiap orang di keluargaku untuk berbagi cerita hidup. Aku menghadapi semuanya sendirian. Aku melangkah sendirian. Aku terguling dan jatuh juga sendirian. Aku juga bangkit lagi sendirian.
Tak ada tangan yang bisa kugandeng. Tak ada bahu yang bisa kubuat sebagai sandaran, tak ada mata teduh yang bisa meredakan kesedihanku, tak ada telinga yang mau mendengar curahan hatiku. Tak ada apapun, selain keyakinan. Keyakinan bahwa Allah menyediakan semuanya tanpa mewujud dalam bentuk fisik. Allah tak pernah berhenti mendengar tangisan, aduan, permintaan dan keluh kesahku. Allah tak pernah menutup mata untuk memperhatikan setiap hal yang kulakukan. Allah lah penjagaku. Entah kenapa, kemarin aku sedikit membagi kegalauan hatiku pada pakde dan bude. Itulah yang membuatnya mengerjapkan mata.
Entah apa yang dirasakannya. Tapi aku tahu, ibuku adalah adik tersayangnya. Mungkin mereka terkenang pada adik tersayangnya? Saat pulang ke rumah, bayangan wajahmu mendadak memenuhi setiap sel di relung hatiku. Aku begitu ingin melihatmu. Bahkan kalau bisa memelukmu. Sekejap saja. Atau kalau perlu di dalam mimpi sekalipun. Sayang, sampai empat hari kemudian aku tak berhasil memejamkan mata. Padahal begitu besar keinginanku untuk mengunjungimu di dalam surga lewat mimpiku. Tapi aku tak kunjung bermimpi. Karena mataku tak kunjung terpejam.
Ibu…..
Malaikat kecil kita kini sudah jadi gadis dewasa. Dia sudah indekost sendiri di dekat kampusnya. Mencoba merasakan hidup mandiri bersama teman-temannya. Hal yang sebenarnya sangat tak ingin kurasakan.
Ibu tahu kenapa? Karena aku tak bisa melihatnya setiap hari. Padahal melihatnya selalu memunculkan perasaan bahwa aku sedang memandang ibu dalam versi yang lain. Sorot matanya, bibirnya, pipinya, jari-jarinya, rambutnya. Semua seakan adalah jelmaan dari sosokmu.
Aku selalu merasa dekat denganmu saat bersama dia. Aku selalu merasa tenang saat bersamanya. Selalu merasa bahagia saat melihat sebuah lengkungan mengias di sudut bibirnya. Selalu merasa berguna saat bisa membantu kesulitannya. Mungkin perasaan seperti ini yang muncul di benak buda dan pakde. Mereka mungkin teringat sosokmu.
Ibu, aku selalu mohon kepada Allah agar Dia menjagamu. Agar menghapus semua dosa dan kesalahan yang telah engkau lakukan. Agar membuatkanmu sebuah istana megah yang tak pernah sempat kau buat di dunia. Agar menyediakan malaikat-malaikat penjaga yang tak pernah kau miliki di dunia. Agar mencukupi semua kebutuhan yang tak pernah didapatnya di dunia. Agar hanya surga yang diberikan kepada wanita semulia engkau.
Robighfirli wali walli dayya, warkham huma, kamma robbayani soghiro
NB : Bu, nitip salam buat para penghuni surga yang lain ya. Doakan agar kita sekeluarga bisa berkumpul kembali.
Karena Hati Tak Ikhlas April 11, 2009
Posted by ciptabiru in Umum.add a comment
Dua hari ini nggak bisa tidur dengan nyenyak. Dua hari dua malam, cuma tidur sekitar empat jam. Fiuuhh….kepala berdenyut-denyut. Batuk nggak berenti-brenti. mulut sariawan. Mana seluruh body kerasa nggak enak lagi. Sungguh tidak nyaman.
Apa yang salah ya?
Emang sich, kerjaan akhir-akhir ini kayak ngga ada abisnya. Bahkan hari libur tanggal 10 kemarin, aku tetap berangkat kerja karena kantor nggak libur. This election’s killing me.
Malem Jumat, nggak libur meskipun besoknya tanggal merah. Bahkan, aku baru bisa keluar dari kantor pukul 03.30 pagi. Hari Jumatnya yang biasanya aku pake buat santai, kemarin terpaksa harus bolak-balik ke sana kemari. Gara-garanya ade’ku pengin bikin konter kecil-kecilan buat ngisi kesibukan.
Malamnya, baru bisa pulang pukul 02.30 dinihari gara-gara penghitungan hasil pemilu ternyata nggak kunjung selesai. Terbitan pagi mesti diisi data paling akhir. What a bad day..
Baru dua jam tidur, ade’ku yang laki-laki datang dari rumah dengan motor CB barunya. Suaranya langsung membuatku bangun dari tidur tak nyenyakku. Setelah itu, sepagian udah nggak bisa tidur lagi.
Pukul 09.00 baru berangkat tidur, temenku yang dosen datang ngambil hasil survey penelitian. Acara tidur gagal lagi. Dan karena pukul 10.00 udah janjian mau nengokin temenku yang baru melahirkan, akhirnya nekat mandi dan berangkat. Baru pukul 02.00, semuanya selesai. Mata udah nggak tahan pengin merem. Tapi pas pulang ke rumah, anak-anak ABG yang biasa nongkrong di depan rumah mulai pukul 16.00 ternyata sudah kumpul. Main gitar, nomong jorok, maki-maki, cekikikan menjadi satu. Niat tidur siang pun gagal lagi. Sampe pukul 16.00 hanya bisa bolak-balik bantal dan guling. Setengah jam kemudian, usai sholat ashar, akhirnya aku putusin berangkat ke kantor.
Dan here i am….. Tenggelam lagi dalam lautan huruf, tanda titik, tanda koma, tanda petik, dan tanda tanya yang seperti tak ada habisnya. Penyakit weekend yang melanda semua grup JPNN masih saja terjadi. Minim berita! Padahal malam ini masih harus mengerjakan kerjaan Juni yang dibagi tiga dengan tiga temenku.
Astaghfirulloh hal ‘adziim. Benar-benar manusia ini makhluk yang suka sekali berkeluh kesah. Aku nyaris terlupa, bahwa semakin banyak yang kukerjakan, berarti semakin banyak amal yang bisa kulakukan. Berarti pertanda aku diperlukan dan bisa diandalkan. Berarti ada nikmat yang selalu menyertai di setiap pekerjaan itu.
Ya Ghoffar, mengapa kekufuran nikmat sepert ini selalu saja datang menghampiriku? Padahal setiap saat sudah tak terhitung nikmat yang telah Engkau curahkan pada diriku. Tetapi selalu saja muncul rasa penat, keluh kesah dan lupa untuk bersyukur? Ampuni aku yang lalai dan abai ini ya Allah.
Mendadak aku tersadar. Kesalahannya ternyata hanya satu. Keikhlasan. Akhir-akhir ini aku kerap tidak ikhlas menjalankan beberapa hal. Tidak ikhlas tersenyum, Tidak ikhlas makan. Tidak ikhlas beristirahat. Tidak ikhlas mencintai. Tidak ikhlas berbagi. Dan terlebih lagi adalah tidak ikhlas saat bersujud. walaupun mungkin hanya segelintir dzarrah pun.
Faman ya’mal mitsqooladzzarrotin khoiroyyaroh. Faman ya’mal mitsqooladzarrotin syarroy yaroh.
Akhirnya Punya Honda CB April 10, 2009
Posted by ciptabiru in Umum.add a comment
Waaaaa…..
Setelah sekian lama mencari dan mengumpulkan duit, akhirnya tercapai juga cita-cita punya Honda CB. Harganya murah lagi, cuma Rp 1.450.000. Lumayan, bisa buat kado ade’ku yang mo ultah akhir April ini.
Next plan adalah beli Vespa Endok. Semoga berjod0h lagi. Duitnya ada, barangnya juga ada. Amin.
Karena Allah Cinta pada Umatnya April 5, 2009
Posted by ciptabiru in Umum.add a comment
Ketika masih duduk di bangku SMA, aku bercita-cita untuk menikah saat umurku 24 tahun. Perhitunganku, saat lulus kuliah, aku akan langsung menikah dan membina sebuah keluarga. Sayangnya, rencana itu meleset.
Tapi tidak mengapa. Aku tiba-tiba saja mengingat rencana belasan tahun lalu itu. Gara-garanya seharian kemarin, aku jadi tempat curhat empat temanku yang sedang mengalami sedikit riak di samudra kehidupan keluarganya. Ada juga yang justru terhempas oleh gelombang besar dan kandas di bibir pantai. Dia mesti bangkit lagi dan kembai mencari perahu untuk mengarunginya.
Seorang teman mengaku untuk pertama kalinya memariahi istrinya. Yang lain sedang bingung dengan tingkah istrinya yang tak mau diajak hidup bersama. Sedang seorang lagi sedang bingung dengan biaya melahirkan. Sementara yang terakhir malah baru saja cerai dengan suaminya.
”Aku sudah bertanya pada pemilik keputusan, dan aku mendapatkan tanda-tandanya dengan sangat nyata. Mungkin ini jalan terbaik bagi saya, anak saya dan dia,” ucap temanku lirih melalui telpon selulernya.
”Syukurlah kalu kamu sudah melakukannya (bertanya pada pemilik nafasmu). Yakin saja kalau suatu saat Allah bakal menunjukkanmu seseorang yang lebih tepat untuk menjadi ayah anakmu dan suami bagi dirimu,” jawabku.
Well. Dari kalau segi pengalaman, aku jelas kalah jauh dari teman-temanku. Pasalnya, sampai sekarang pun aku belum menemukan sosok bidadari surga yang akan menemaniku mengarungi samudra, atau bahkan gurun bernama kehidupan berkeluarga. Anehnya, aku selalu menerima telpon atau surat atau imel bernada curhat dari teman-temanku yang sudah menikah.
”Kamu memang belum (menikah). Tapi setidaknya kamu ada di sisi netral untuk menilai. That’s why I ask You. You have a kind of wisdom when giving some reason,” kata seorang temenku beralasan.
Padahal jika mereka mau kembali menanyakannya pada pemilik jiwanya, sesungguhnya mereka juga bakal mendapatkan apapun jawaban dari pertanyaan mereka. Aku kadang hanya menyitir sebuah ayat atau sebuah hadits yang aku yakin mereka juga sudah mengetahuinya. Tapi, kadang seseorang mungkin memang butuh mendengarnya dari mulut seseorang.
Aku sering merenung. Betapa dalam kehidupan ini amat beragam cobaan yang diterima seseorang. Sebagian dari mereka tak kuasa menerimanya dan menyalahkan Allah. Dan sangat sedikit dari mereka yang bersabar dan menyadari bahwa semua ini justru karena cinta luar biasa besar dari Allah.
Aku berusaha bersyukur setiap saat dengan statusku saat ini. Single dengan tiga adik yang selalu mengingatkanku untuk terus mensyukuri nikmat Allah. Meski kadang bingung memenej pengeluaran, aku masih bisa memilih mau makan apa saat lapar datang menghampiri.
Saat datang rasa capek karena terlalu banyak bekerja, aku seperti diingatkan bahwa masih ada perusahaan yang mau memakai tenagaku. Saat datang rasa kesal karena banyak baju kotor yang menumpuk, aku seperti diingatkan untuk bersyukur bahwa ternyata aku memiliki baju yang lebih dari cukup untuk kupilih sesuai acara yang akan kudatangi. Bahkan saat sakit datang menghampiri, aku seolah diingatkan untuk senantiasa bersyukur dan tidak menzalimi tubuhku sendiri.
Buat temen-temenku yang sedang menemui riak, gelombang atau bahkan badai dalam bahtera keluarga, yakinlah, selalu ada hikmah yang terpendam yang datang setelah itu. Lihatlah ke sekeliling kita. Usai siang yang terik, ada malam yang sejuk. Usai hujan yang deras, ada embun yang lembut. Usai hujan panas, ada pelangi yang indah. Usai perpisahan ada senyum yang penuh kerinduan.
Mungkin kita sedang diingatkan untuk bersabar. Bersabar melalui cobaan itu dan menunggu malam yang sejuk. Menunggu embun yang bening dan lembut. Menunggu pelangi yang indah dan menunggu senyum yang merekah.
”Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar”
Dream Girl : “Masya Allah, Aurat Bu!” April 1, 2009
Posted by ciptabiru in Umum.add a comment
Saya sudah lama sekali tidak menonton TV. Mungkin sudah sekitar enam bulan ini sejak pindah ke rumah kontrakan yang baru. Alasan pertama karena memang tidak punya kotak ajaib itu. Tapi alasan yang lebih aku senangi adalah karena aku memang tidak ingin memilikinya.
Satu-satunya kesempatan menonton TV adalah saat di kantor. Itu pun sangat jarang menyengajakan diri untuk meluangkan waktu dan menonton. Selain karena mengganggu konsentrasi kerja, ternyata acara televisi sekarang ini juga menurut saya sudah tidak layak ditonton.
Bayangkan, acara beriat yang sekitar enam bulan lalu masih aku tonton karena menurutku paling bersih dari kepentingan, ternyata kini sudah berubah. Berita-berita hanya berisi kejahatan manusia, adegan mesum, dan berita politik yangs udah ditumpangi para pemilik modal. Sisanya adalah berita hiburan yang sama sekali nggak penting. Itu pun kalau masih layak disebut berita.
Satu-satunya acara yang masih saya tonton adalah siaran langsung sepak bola. Baik Liga Champion, Liga Inggris, Liga Inggris maupun Kualifikasi Piala Dunia. Untuk Liga Indonesia, sekali-kali aja. Satu karena suara penyiaranya yang norak. Dan kedua karena isinya tawur melulu.
Namun seiring dengan kesadaran bahwa melek dan berbicara terlalu banyak setelah Isya itu ternyata tidak disukai Allah, keinginan untuk melihat langsung aksi Steven Gerrard, Leonel Messi, David Beckham dkk pun menyurut. Lebih baik segera pulang setelah kerjaan selesai. Langsung tidur dan syukur bisa bangun untuk menyapa sang Kekasih hati di dua pertiga malam terakhir.
Malam ini kebencian saya untuk melihat televisi tiba-tiba makin menjadi-jadi. Gara-garanya ada temen yang menyetel Indosiar pas acara diary Dream Girl. Masya Allah. Itu ibu-ibu dari anak-anak generasi penerus bangsa. Istri-istri dari para suami, dengan bangganya memamerkan aurat ke jutaan penonton di dunia. Celana pendek, baju ketat, pose tidur dan kegiatan harian yang mestinya menjadi bagian dari rahasia mereka, dijadikan jualan. Na’udzubillah mindzalik. Aku bergidik.
Mereka tak memikirkan anak-anaknya. Tak memikirkan suami-suaminya. Tak memikirkan kewajiban-kewajibannya sebagai istri. Tak memikirkan kehormatannya. Mungkin juga tak memikirkan masa depan keluarganya. Yang ada mungkin cuma popularitas. Sesuatu yang sama sekali tak berguna untuk kehidupan akhirat mereka.
Sungguh ya ‘Alim, zat yang mengetahui segala rahasia. Bukan perempuan-perempuan seperti ini yang ingin aku peristri suatu saat. Bukan perempuan yang bangga mempertontonkan aurat yang ingin kusunting. Bukan perempuan yang tak bisa menjaga kehormatan diri seperti mereka yang ingin kunikahi. Demi namaMu yang suci. Sungguh bukan perempuan-perempuan seperti itu yang aku impikan.
Jika masih ada tersisa di dunia yang makin tua ini, aku ingin menyunting salah satu bidadari surgaMu. Aku ingin perempuan yang dari lisannya selalu terucap nama suciMu. Perempuan yang mukanya bersinar karena air wudlu dan senantiasa ber-qiyamul lail. Perempuan yang matanya senantiasa basah oleh tangis karena malu, takut dan cinta padaMu. Perempuan yang kesucian dan kehormatannya terjaga. Perempuan yang seperti bidadari surgaMu…..