Dream Girl : “Masya Allah, Aurat Bu!” April 1, 2009
Posted by ciptabiru in Umum.trackback
Saya sudah lama sekali tidak menonton TV. Mungkin sudah sekitar enam bulan ini sejak pindah ke rumah kontrakan yang baru. Alasan pertama karena memang tidak punya kotak ajaib itu. Tapi alasan yang lebih aku senangi adalah karena aku memang tidak ingin memilikinya.
Satu-satunya kesempatan menonton TV adalah saat di kantor. Itu pun sangat jarang menyengajakan diri untuk meluangkan waktu dan menonton. Selain karena mengganggu konsentrasi kerja, ternyata acara televisi sekarang ini juga menurut saya sudah tidak layak ditonton.
Bayangkan, acara beriat yang sekitar enam bulan lalu masih aku tonton karena menurutku paling bersih dari kepentingan, ternyata kini sudah berubah. Berita-berita hanya berisi kejahatan manusia, adegan mesum, dan berita politik yangs udah ditumpangi para pemilik modal. Sisanya adalah berita hiburan yang sama sekali nggak penting. Itu pun kalau masih layak disebut berita.
Satu-satunya acara yang masih saya tonton adalah siaran langsung sepak bola. Baik Liga Champion, Liga Inggris, Liga Inggris maupun Kualifikasi Piala Dunia. Untuk Liga Indonesia, sekali-kali aja. Satu karena suara penyiaranya yang norak. Dan kedua karena isinya tawur melulu.
Namun seiring dengan kesadaran bahwa melek dan berbicara terlalu banyak setelah Isya itu ternyata tidak disukai Allah, keinginan untuk melihat langsung aksi Steven Gerrard, Leonel Messi, David Beckham dkk pun menyurut. Lebih baik segera pulang setelah kerjaan selesai. Langsung tidur dan syukur bisa bangun untuk menyapa sang Kekasih hati di dua pertiga malam terakhir.
Malam ini kebencian saya untuk melihat televisi tiba-tiba makin menjadi-jadi. Gara-garanya ada temen yang menyetel Indosiar pas acara diary Dream Girl. Masya Allah. Itu ibu-ibu dari anak-anak generasi penerus bangsa. Istri-istri dari para suami, dengan bangganya memamerkan aurat ke jutaan penonton di dunia. Celana pendek, baju ketat, pose tidur dan kegiatan harian yang mestinya menjadi bagian dari rahasia mereka, dijadikan jualan. Na’udzubillah mindzalik. Aku bergidik.
Mereka tak memikirkan anak-anaknya. Tak memikirkan suami-suaminya. Tak memikirkan kewajiban-kewajibannya sebagai istri. Tak memikirkan kehormatannya. Mungkin juga tak memikirkan masa depan keluarganya. Yang ada mungkin cuma popularitas. Sesuatu yang sama sekali tak berguna untuk kehidupan akhirat mereka.
Sungguh ya ‘Alim, zat yang mengetahui segala rahasia. Bukan perempuan-perempuan seperti ini yang ingin aku peristri suatu saat. Bukan perempuan yang bangga mempertontonkan aurat yang ingin kusunting. Bukan perempuan yang tak bisa menjaga kehormatan diri seperti mereka yang ingin kunikahi. Demi namaMu yang suci. Sungguh bukan perempuan-perempuan seperti itu yang aku impikan.
Jika masih ada tersisa di dunia yang makin tua ini, aku ingin menyunting salah satu bidadari surgaMu. Aku ingin perempuan yang dari lisannya selalu terucap nama suciMu. Perempuan yang mukanya bersinar karena air wudlu dan senantiasa ber-qiyamul lail. Perempuan yang matanya senantiasa basah oleh tangis karena malu, takut dan cinta padaMu. Perempuan yang kesucian dan kehormatannya terjaga. Perempuan yang seperti bidadari surgaMu…..
Komentar»
No comments yet — be the first.