Karena Allah Cinta pada Umatnya April 5, 2009
Posted by ciptabiru in Umum.trackback
Ketika masih duduk di bangku SMA, aku bercita-cita untuk menikah saat umurku 24 tahun. Perhitunganku, saat lulus kuliah, aku akan langsung menikah dan membina sebuah keluarga. Sayangnya, rencana itu meleset.
Tapi tidak mengapa. Aku tiba-tiba saja mengingat rencana belasan tahun lalu itu. Gara-garanya seharian kemarin, aku jadi tempat curhat empat temanku yang sedang mengalami sedikit riak di samudra kehidupan keluarganya. Ada juga yang justru terhempas oleh gelombang besar dan kandas di bibir pantai. Dia mesti bangkit lagi dan kembai mencari perahu untuk mengarunginya.
Seorang teman mengaku untuk pertama kalinya memariahi istrinya. Yang lain sedang bingung dengan tingkah istrinya yang tak mau diajak hidup bersama. Sedang seorang lagi sedang bingung dengan biaya melahirkan. Sementara yang terakhir malah baru saja cerai dengan suaminya.
”Aku sudah bertanya pada pemilik keputusan, dan aku mendapatkan tanda-tandanya dengan sangat nyata. Mungkin ini jalan terbaik bagi saya, anak saya dan dia,” ucap temanku lirih melalui telpon selulernya.
”Syukurlah kalu kamu sudah melakukannya (bertanya pada pemilik nafasmu). Yakin saja kalau suatu saat Allah bakal menunjukkanmu seseorang yang lebih tepat untuk menjadi ayah anakmu dan suami bagi dirimu,” jawabku.
Well. Dari kalau segi pengalaman, aku jelas kalah jauh dari teman-temanku. Pasalnya, sampai sekarang pun aku belum menemukan sosok bidadari surga yang akan menemaniku mengarungi samudra, atau bahkan gurun bernama kehidupan berkeluarga. Anehnya, aku selalu menerima telpon atau surat atau imel bernada curhat dari teman-temanku yang sudah menikah.
”Kamu memang belum (menikah). Tapi setidaknya kamu ada di sisi netral untuk menilai. That’s why I ask You. You have a kind of wisdom when giving some reason,” kata seorang temenku beralasan.
Padahal jika mereka mau kembali menanyakannya pada pemilik jiwanya, sesungguhnya mereka juga bakal mendapatkan apapun jawaban dari pertanyaan mereka. Aku kadang hanya menyitir sebuah ayat atau sebuah hadits yang aku yakin mereka juga sudah mengetahuinya. Tapi, kadang seseorang mungkin memang butuh mendengarnya dari mulut seseorang.
Aku sering merenung. Betapa dalam kehidupan ini amat beragam cobaan yang diterima seseorang. Sebagian dari mereka tak kuasa menerimanya dan menyalahkan Allah. Dan sangat sedikit dari mereka yang bersabar dan menyadari bahwa semua ini justru karena cinta luar biasa besar dari Allah.
Aku berusaha bersyukur setiap saat dengan statusku saat ini. Single dengan tiga adik yang selalu mengingatkanku untuk terus mensyukuri nikmat Allah. Meski kadang bingung memenej pengeluaran, aku masih bisa memilih mau makan apa saat lapar datang menghampiri.
Saat datang rasa capek karena terlalu banyak bekerja, aku seperti diingatkan bahwa masih ada perusahaan yang mau memakai tenagaku. Saat datang rasa kesal karena banyak baju kotor yang menumpuk, aku seperti diingatkan untuk bersyukur bahwa ternyata aku memiliki baju yang lebih dari cukup untuk kupilih sesuai acara yang akan kudatangi. Bahkan saat sakit datang menghampiri, aku seolah diingatkan untuk senantiasa bersyukur dan tidak menzalimi tubuhku sendiri.
Buat temen-temenku yang sedang menemui riak, gelombang atau bahkan badai dalam bahtera keluarga, yakinlah, selalu ada hikmah yang terpendam yang datang setelah itu. Lihatlah ke sekeliling kita. Usai siang yang terik, ada malam yang sejuk. Usai hujan yang deras, ada embun yang lembut. Usai hujan panas, ada pelangi yang indah. Usai perpisahan ada senyum yang penuh kerinduan.
Mungkin kita sedang diingatkan untuk bersabar. Bersabar melalui cobaan itu dan menunggu malam yang sejuk. Menunggu embun yang bening dan lembut. Menunggu pelangi yang indah dan menunggu senyum yang merekah.
”Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar”
Komentar»
No comments yet — be the first.