Surat Buat Ibu April 13, 2009
Posted by ciptabiru in Umum.1 comment so far
Ibu….
Malam ini begitu besarnya kerinduanku padamu. Melebihi malam-malam senyap yang selalu kulalui sambil mengukur jalan. Kemarin, aku menengok pakde yang tergolek di ranjang di paviliun 115 Soeparjo Rustam RS Margono. Itu untuk pertama kalinya aku menengoknya saat sakit. Sudah beberapa kali beliau sakit dan berobat di ruma sakit. Tapi dengan alasan sibuk ngurusi pekerjaan, aku tak pernah menengoknya. Pun saat bapak ingin menengoknya, aku selalu bilang tidak sempat karena pekerjaan tak kunjung selesai.
Kemarinpun, sebenarnya aku tak sengaja menengok. Niatku adalah menengok anak kembar Juni yang baru lahir. Beruntung di koridor rumah sakit, aku bertemu Mba Erni. Karena itu kemudian aku menunggui pakde sambil bercerita banyak hal.
Aku melihat mata yang baru dicek di poli mata itu berkaca-kaca. Bukan karena penyakit gula yang terus memburuk atau kinerja ginjal yang melemah, tapi ternyata karena suaraku.
Aku teringat pagi hari saat menjemput si malaikat kecil. Mata bude juga berkca-kaca saat melihatku berlalu. Dua pertemuan itu adalah yang pertama kali sejak lebaran lalu.
Selama ini aku tak pernah berbagi cerita. Aku nyaris tak pernah mempercayai setiap orang di keluargaku untuk berbagi cerita hidup. Aku menghadapi semuanya sendirian. Aku melangkah sendirian. Aku terguling dan jatuh juga sendirian. Aku juga bangkit lagi sendirian.
Tak ada tangan yang bisa kugandeng. Tak ada bahu yang bisa kubuat sebagai sandaran, tak ada mata teduh yang bisa meredakan kesedihanku, tak ada telinga yang mau mendengar curahan hatiku. Tak ada apapun, selain keyakinan. Keyakinan bahwa Allah menyediakan semuanya tanpa mewujud dalam bentuk fisik. Allah tak pernah berhenti mendengar tangisan, aduan, permintaan dan keluh kesahku. Allah tak pernah menutup mata untuk memperhatikan setiap hal yang kulakukan. Allah lah penjagaku. Entah kenapa, kemarin aku sedikit membagi kegalauan hatiku pada pakde dan bude. Itulah yang membuatnya mengerjapkan mata.
Entah apa yang dirasakannya. Tapi aku tahu, ibuku adalah adik tersayangnya. Mungkin mereka terkenang pada adik tersayangnya? Saat pulang ke rumah, bayangan wajahmu mendadak memenuhi setiap sel di relung hatiku. Aku begitu ingin melihatmu. Bahkan kalau bisa memelukmu. Sekejap saja. Atau kalau perlu di dalam mimpi sekalipun. Sayang, sampai empat hari kemudian aku tak berhasil memejamkan mata. Padahal begitu besar keinginanku untuk mengunjungimu di dalam surga lewat mimpiku. Tapi aku tak kunjung bermimpi. Karena mataku tak kunjung terpejam.
Ibu…..
Malaikat kecil kita kini sudah jadi gadis dewasa. Dia sudah indekost sendiri di dekat kampusnya. Mencoba merasakan hidup mandiri bersama teman-temannya. Hal yang sebenarnya sangat tak ingin kurasakan.
Ibu tahu kenapa? Karena aku tak bisa melihatnya setiap hari. Padahal melihatnya selalu memunculkan perasaan bahwa aku sedang memandang ibu dalam versi yang lain. Sorot matanya, bibirnya, pipinya, jari-jarinya, rambutnya. Semua seakan adalah jelmaan dari sosokmu.
Aku selalu merasa dekat denganmu saat bersama dia. Aku selalu merasa tenang saat bersamanya. Selalu merasa bahagia saat melihat sebuah lengkungan mengias di sudut bibirnya. Selalu merasa berguna saat bisa membantu kesulitannya. Mungkin perasaan seperti ini yang muncul di benak buda dan pakde. Mereka mungkin teringat sosokmu.
Ibu, aku selalu mohon kepada Allah agar Dia menjagamu. Agar menghapus semua dosa dan kesalahan yang telah engkau lakukan. Agar membuatkanmu sebuah istana megah yang tak pernah sempat kau buat di dunia. Agar menyediakan malaikat-malaikat penjaga yang tak pernah kau miliki di dunia. Agar mencukupi semua kebutuhan yang tak pernah didapatnya di dunia. Agar hanya surga yang diberikan kepada wanita semulia engkau.
Robighfirli wali walli dayya, warkham huma, kamma robbayani soghiro
NB : Bu, nitip salam buat para penghuni surga yang lain ya. Doakan agar kita sekeluarga bisa berkumpul kembali.