jump to navigation

Pertanyaanya Hanya ‘Kapan……?’ April 19, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
2 comments

Sudah lama sekali aku tak menapakkan kaki ke rumah sakit. Aku ingat. Terakhir kalinya aku di rumah sakit. Dan itu adalah saat-saat paling berpengaruh dalam kehidupanku. Saat-saat yang kemudian mengubah seluruh hidupku.

    Suasana senja yang kelabu. Sendirian dalam sebuah ruangan yang berwarna putih. Hanya ditemani oleh dua mayat yang penuh luka. Satu tak kukenal identitasnya. Sedangkan satunya adalah mayat seorang wanita yang tersenyum damai. Mayat ibuku.

    Ambulance yang akan membawa raga Ibuku tak kunjung datang. Sementara warna jingga di ufuk barat telah berganti menjadi kelabu. Sekelabu suasana hati yang dirundung duka.

   Aku menerawang ke angkasa. Berharap di sana terlukis wajah wanita yang telah melahirkan aku. Aku berharap wajah yang telah tertutup dengan kafan dan selimut dari RS Margono Sukaryo itu memancar ke angkasa dan terlukis dengan bintang dan gugusan awan.

   Empat jam kemudian sirine mobil berwarna putih itu terdengar meraung-raung. “Maaf mas, kami baru saja mengantar (jenazah) ke Bumiayu. Kebetulan semua unit (mobil ambulance) sedang keluar,” ujar seorang petugas yang sebelumnya sempat membuatkan surat keterangan kematian.

   Aku merasakan keheningan yang sangat hebat ketika mobil itu melaju meninggalkanku di kamar itu. Mayat dengan perut terburai itu masih teronggok di meja perasi. Jahitan di perutnya terlihat menghitam. Aku segera beranjak ke bagian administrasi.

   Kini, setelah delapan tahun berlalu, kenangan itu muncul kembali saat aku melangkahkan kaki di selasar rumah sakit ini. Wajah-wajah capek karena kurang tidur bercampur dengan wajah-wajah sendu. Sendu karena memikirkan apakah ini adalah saat-saat terakhir saudaranya ada di dunia. Sebagian lagi mungkin memikirkan besarnya biaya yang harus mereka bayarkan.

   Dari sebuah kamar terdengar suara tangisan. Satu lagi nafas diambil oleh pemiliknya. Aku melihat beberapa orang saling berpelukan. Seorang petugas berbaju putih-putih menutupkan selimut ke kepala si pasien. Sementara suara tangisan makin keras terdengar.

   Aku melangkah lagi tiga kamar dari kamar penuh nestapa itu. Aku lihat mertua Juni tersenyum. Dua miniatur manusia tertidur tenang di dua buah kotak berjeruji warna putih. Orang-orang lain di kamar itu juga tersenyum. Bahkan Erna, ibu sang bayi, Istri Juni, yang baru saja dibedah perutnya untuk mengeluarkan bayi kembarnya.

   Subhanallah. Maha suci Engkau ya Allah. Yang mengambil dan menggantikan. Yang mematikan dan menghidupkan. Yang mencoba manusia dengan kesedihan dan kegembiraan.

    Aku keluar. Berdiri di depan kamar tengah yang tertutup pintunya. Berdiri diantara suara tangis di sebelah kiri dan suara canda bahagia di sebelah kanan. Sungguh. Jika kita mau memikirkannya, betapa maha besar dan kuasanya Allah.

   Mungkin dulu pun suasananya seperti ini. Saat saudara-saudaraku berpelukan menangisi kepergian ibu, ada kamar yang tersenyum bahagia karena kelahiran.

   Aku sudah mengalami fase pertama. Meski tak bisa kuingat, tapi aku yakin ada sebuah senyum yang tersungging saat aku datang ke dunia. Senyum yang abadi di bawa mati oleh Ibuku. Pertanyaannya kemudian hanya “kapan kita akan mengalami fase kedua, saat keluarga kita berpelukan menangisi kepergian kita ?”

   Kita tak pernah tahu kapan saat itu akan datang. Setiap sepersekian detik, saat itu bisa datang. Apakah kita sudah siap menerima kedatangannya? Dan apakah kita sudah mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan “apa saja yang telah kau lakukan selama hidup di dunia?”

    Kelahiran dan kematian adalah guru. Guru bagi kita untuk belajar menggunakan waktu. Guru yang akan mengingatkan kita bahwa kita bukan siapa-siapa. Guru yang akan mengingatkan kita bahwa kita tidak akan membawa apa-apa. Guru yang akan mengingatkan kita bahwa hidup ini hanya sementara. Dan guru yang akan mengingatkan kita bahwa hidup ini sangat berharga.

   Mari warnai setiap hembusan nafas kita dengan dzikir. Isi setiap perbuatan kita dengan amal. Dan gelarlah sajadah di setiap langkah kita. Agar hanya lewat jalan Allah kita kembali. Amin..