jump to navigation

Karunia di Malam Rabu April 26, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
trackback

Sebulan belakangan ini, aku selalu merasa lebih senang saat Selasa datang. Melebihi kesenangan Selasa-Selasa sebelumnya meskipun sama-sama liburnya. Selama sebulan ini, ada kebiasaan baru yang selalu kulakukan ba’da maghrib. Yap. Mengambil telpon dan mencari nama Li’ll Angel.
“Udah siap?. OK, bentar lagi kakak ke situ ya”
Iya. Sejak sebulan ini, aku memang punya kebiasaan baru. Kebiasaan yang selalu membuat hati tenteram dan bahagia. Makan malam bersama dengan dua ade’ku. Berunding menentukan tempat makan, dan saling bercerita kegiatan selama seminggu. Sebenarnya bukan saling. Lebih banyak aku yang jadi pendengar dan penanya Ngapain aja mereka selama seminggu. Apakah ada hal-hal luar biasa yang terjadi selama seminggu, masalah maupun pengalaman lucu.
Si kecil adalah yang paling heboh ceritanya Soalnya ini adalah saat-saat pertama dia indekost. So pasti banyak kejadian konyol yang dia alami. Mulai dari nunggu dua jam di depan pintu kostan karena belum punya kunci sampai terbirit-birit balik ke kampus karena ada orang gila yang nongkrong di depan kostannya.
Selain itu, awal-awal tinggal dikostan juga diwarnai pegal-pegal kaki karena belum biasa berangkat pulang ke kampus jalan kaki. Malemnya nggak bisa tidur karena lampu kelewat terang tapi nggak ada saklarnya. Alhasil, besoknya matanya sembab kekurangan tidur. Iya. Dia memang nggak bisa tidur kalo lampu kamar terlalu terang. Karena itu, besoknya aku ajak dia jalan-jalan, beli lampu tidur, roll cable untuk setrika dan alat listrik lain.
Kerasa kasihan juga si ngedengerinnya. Tapi pas ditawarin antar jemput, di amalah menolak. “Nggak usah. Kan deket banget ke kampus. Mungkin karena nggak biasa aja. Jadi masih suka pegel-pegel kakinya. Ntar lama-lama juga nggak pegel lagi,” elaknya.
Aku cuma tersenyum. Padahal kalau dia minta, aku sebenernya masih mau kok nganterin dia tiap hari berangkat pulang kampus yang jaraknay emang cuma lima menit jalan kaki. Tapi kemudian aku sadar, dia mungkin dalam proses pengin jadi anak yang mandiri. Nggak ngrepotin orang lain dan pengin disebut dewasa. OK lah kalo begitu.
Saat-saat seperti inilah yang selalu aku resapi. Bersama, hangat dan berbagi. Segala puji bagi Allah, yang selalu membuat hati kangen dan menciptakan rasa penuh cinta diantara kami. Sungguh, ingin rasanya setiap hari berlalu seperti ini. Sayang, hanya seminggu sekali bisa melakukannya.
Siangnya, mereka disibukkan dengan rutinitas kuliah dan kegiatan luar kampus. Malemnya, aku yang disibukkan dengan pekerjaan rutin di kantor. Kemudian hari demi hari hanya suara yang bisa kudengarlewat telpon. Memastikan dia tak lupa dengan kewajiban menyapa pemilik jiwanya dan tak menzholimi dirinya dengan melupakan kewajiban makan.
“Ingat, begitu banyak nikmat yang diberikan Allah setiap hari pada kita. Jangan pernah mendustakan satupun. Syukuri agar Dia makin cinta dengan kita,” pesanku setiap akan menutup telpon.

Komentar»

No comments yet — be the first.