jump to navigation

Ragu Itu Tak Kunjung Berlalu Mei 10, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
trackback

Bissmilllahirrohmanirrohiim
Waduh, ternyata sudah lama banget nggak posting. Temenku sakit semingguan ini. Pacarnya juga sakit. Udah gitu, adeknya juga nabrak mobil. Sampe sekarang belum ada kabar dari bengkel, berapa abisnya. Alhamdulillah semuanya getting better sekarang. Udah pada doyan makan dan mau mandi.
Setelah bolak-balik kosan-rumah sakit-kantor-kosan pacar temenku-kosanku lagi, sekarang lagi sibuk ngurus persiapan kelahiran. Bukan kelahiran bayi manusia kayak temen-temen kantor yang lg pada harap-harap cemas menunggu si junior. Aku menunggu kelahiran ulang, dua bayi kembar CB 74. satunya classic dan satunya trail. Cuma yang trail kayaknya bakal jadi adiknya deh. Soalnya sampe sekarang belum nemu kalter sebelah kanan yang rengkah karena tendangan kompresi.
Oya, ngomongin masalah menikah lagi nich terpaksa. Abis setiap main ke rumah temen, pasti ditanyain yang beginian. Tempo hari, bareng dengan Onnie, aku main ke Ibunya Dewi (temen kuliah). Di sana sempet ngajak anaknya Dewi jalan-jalan sebentar. Subhanallah, itu anak bisa mirip banget sama ibunya ya. Nah, pas lagi asyik-asyiknya bercanda dengan si kecil ini, tiba-tiba muncul lagi pertanyaan yang sudah entah ke berapa kalinya aku dengar.
“Lho, terus kapan kamu mbopong anak sendiri?” Tentu saja aku cuma tersenyum dan tak tahu mesti menjawab apa.
“Kamu pilih-pilih ya? Jangan terlalu pilih-pilih, nanti malah nggak dapet lho mas,” sambungnya menuduh.
“Waduh ibu, gimana mau milih. Berhubungan dengan perempuan saja nggak pernah. (aku kan nggak pacaran bu)” jawabku.
“Lho yang dulu itu. Yang anak Jatilawang atau mana itu?”
(Waduh. Si ibu ini inget banget. Padahal itu kan masa lalu. Masa jahiliah. Sekarang ini kan nggak mungkin banget aku menganut pacaran yang lebih banyak maksiatnya daripada manfaatnya)
“Dulu cuma sebentar kok bu. Mumpung belum terlalu jauh, jadi bubaran aja,” jawabku.
“Apa mau ibu cariin? Kamu penginnya yang kayak apa?” ujarnya menawarkan.
Gubrak!!
Sampai di sini aku cuma bisa tersenyum lagi. Kalo nggak salah ingat, setiap main ke rumah, pasti selalu ditawarin yang beginian.
“Waduh, makasih deh bu. Tapi mungkin baru tahun depan kok. Soalnya saya masih nunggu adek saya lulus dulu,” kelitku.
“Jangan kelamaan. Nanti keburu tua lho,” ingatnya.
***
Sepulang dari rumah Dewi aku jadi mikir. Iya yah, kenapa sampai saat ini belum juga muncul keberanian untuk menikah. Padahal Allah sudah berjanji akan memampukan orang-orang yang tidak mampu jika sudah menikah. Menyejahterakan orang-orang yang kekurangan, mencukupi orang-orang yang tidak berpunya. Dan janji Allah itu adalah sebenar-benarnya janji.
Astaghfirulloh hal ‘adziim. Demi namaMu yang Suci ya Allah. sama sekali tak terbersit untuk meragukanMu. Tak secuilpun keraguanku atas kuasa dan janjiMu. Hanya saja hati ini memang belum mampu meneguhkan niat untuk menggenapi separuh agamaMu ini ya Allah.
Saat dinihari menjelang, saat dahiku menyentuh kelembutan sajadah, aku memohon agar dikirimkan seorang bidadari penunggu surga untuk kusunting. Namun saat tanda kedatangannya mulai nampak, aku kembali dihantui perasaan takut. Takut tak bisa memikul amanah yang engkau titipkan melalui tiga mutiara itu ya Allah. Takut tak bisa menjaga bidadari yang engkau kirimkan dari noda-noda yang bertebaran di dunia ini.
Duhai Zat yang berlimpah kasih sayang. Sirnakan kebimbangan dan keraguan dalam kalbuku. Sungguh, separuh dari keraguan itu adalah perbuatan syaiton yang telah engkau kutuk. Lapangkan hati untuk ikhlas melalui semua cobaanMu.

Komentar»

No comments yet — be the first.