jump to navigation

Menikah, Tentu Aku Akan Melaksanakannya Mei 14, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
trackback

Bismilahirahmanirrahiim
Masih tentang menikah. Beberapa waktu lalu, saat sedang ngumpul dengan
tiga adikku, mendadak aku sangat menanyakan pertanyaan ini.
“De, kalau kakak tahun depan menikah, kira-kira gimana ya?”
Maksudnya, aku ingin tahu pendapat mereka. Semuanya diam. Tapi beberapa
saat kemudian, setelah aku pandangi satu per satu, yang paling gede
menjawab.
“Ya nggak papa. Toh memang sudah waktunya,”
Tapi dua yang lain tak memberikan jawaban. Mereka hanya menunduk. Aku pun kemudian memilih tak bertanya lagi. Kesimpulanku, mereka belum bisa kutinggalkan. Mereka masih sangat membutuhkanku.
Sejujurnya, aku sendiri sama sekali tidak punya calon yang akan aku nikahi. Aku hanya ingin meyakinkan diriku sendiri, apakah aku siap untuk menikah atau tidak. Artinya, apakah aku siap membagi diriku, cintaku, sayangku, penghasilanku dan tenaga serta perhatianku dengan sesosok wanita yang belum aku ketahui itu? Hal pertama yang harus aku ketahui jawabannya adalah orang-orang yang pada mereka saat ini aku berikan semua hal di atas tadi. Apakah mereka ridlo, Apakah mereka siap, dan apakah mereka ikhlas?
Akhir-akhir ini, ketakutanku pada kemungkinan munculnya dosa dan kemaksiatan serta fitnah akibat status singleku memang makin bertambah. Bukan apa-apa, setiap keluar dari rumah saja, begitu banyak kemaksiatan terbentang di depan mata. Puasa Senin-Kemis yang dulu enjoy dijalani, kini semakin sulit melakukannya karena kaum hawa semakin berani mempertontonkan auratnya.
Setiap kali bertemu dengan teman-teman kuliah, pertanyaanya juga sama. “Kapan mau nyusul?” atau “Jangan pilih-pilih, nanti malah dapatnya sisa” atau “jangan-jangan kamu mau kawin sama cowok ya?”.
Astaghfirulohal’adzim. Ampuni hamba ya Allah. Ampuni juga mereka. Semoga mereka hanya bercanda, bukan bermaksud mengolok. Engkaulah yang mengetahui apa yang tersembunyi di dalam kedalaman sanubari. Apa yang tak terucap oleh bibir dan apa yang terbersit di dalam hati.
Menikah adalah separuh agama. Aku tahu benar hal ini. Demi cintaku padaMu, tak mungkin aku mengabaikan apa yang Engkau cintai. Sebisa mungkin tentu akan aku laksanakan apa-apa yang Engkau perintahkan, yang Engkau Cintai, yang lebih Engkau sukai. Hanya saja untuk yang satu ini (menikah) saat ini aku belum menemukan cara agar bisa melaksanakannya.
Rasanya miris dan kemudian menjadi tak percaya diri ketika mengetahui besarnya biaya yang dikeluarkan untuk menikah. Apalagi di saat yang sama, tak sepeserpun rupiah tersisa dalam tabungan.
Seandainya saja masih ada perempuan yang hanya mengharapkan Ar Rahman sebagai mas kawinnya, mungkin semuanya akan berbeda. Aku tak perlu minder dengan segala ketidakpunyaan harta. Usahaku untuk menghafal surat penuh cinta ini akan berbuah dengan keajaiban.
Aku memang jatuh cinta dengan Ar Rahman. Tahun-tahun pertengahan aku SD, aku selalu mendengarkan surat ini setiap mau berangkat sekolah. Kebetulan ayahku begitu mencintai qiro surat ini. Sehingga diputarnya berulang-ulang sampai suaranya tak lagi jernih. Tak terasa, ayat Fabiayyi alaa irobbikuma tukaddzibaan itu terus merasuk ke setiap aliran darahku. Ketika mendengar Syeh Masyari Al Faasi mendendangkan surat ini, aku seperti kembali dibetot ke masa lalu. Saat menunggu pukul 9 pagi, mendengarkan qiro surat Ar rahman sambil menunggu berangkat sekolah di masjid depan Madrasah.
Masalah siapa yang akan menjadi pendampingku kelak, aku tak begitu risau. Allah pasti akan memilihkan yang terbaik buatku, seperti apapun keadaannya dan keadaanku. Aku menyerahkan semua ini sebagai hak prerogatif pemilik nafasku. Aku memang boleh memilih, tapi pilihan terbaiknya akan aku serahkan pada zat yang mengetahui semua rahasia.
Sebuah SMS mampir di hapeku beberapa hari lalu dari temanku. Menanyakan seperti apa kriteria jodoh yang kuinginkan. Dia juga menanyakan apakah aku mau dikenalkan dengan seorang temannya. Dengan sedikit bercanda, aku bilang aku tentu saja mencari yang perempuan. AKHWAT. Balasku dengan penegasan berupa huruf kapital. Insya Allah secepatnya aku kasih kabar. Jawabnya kemudian.
Aku menghela nafas. Bersyukur atas kabar gembira yang jujur saja membuatku justru ketar-ketir. Aku sebut kabar gembira karena baru sekitar semingguan sebelumnya aku sholat hajat meminta dipertemukan dengan perempuan yang bisa menjadi jodohku. Maha besar Allah yang mendengarkan doa hambanya di dua pertiga malam.
Entahlah. Selanjutnya kupasrahkan saja pada kekuasaan Allah. Engkaulah yang telah mengukir takdirku. Aku akan menjalaninya dengan segenap keikhlasan yang harus terus kuasah……..

Komentar»

No comments yet — be the first.