jump to navigation

Little Angel…… Juni 22, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Little Angel…..
Nama ini kusematkan padanya ketika dunia mendadak menjadi gulita. Dia berpendar, lalu bersinar dengan kalimat-kalimat magis sabda Illahi yang keluar dari mulut mungilnya.
Saat itu, semua bendungan yang sudah berkali-kali jebol dalam seminggu terakhir seperti lantak dihajar bandang. Tapi bukan air yang menerabas. Melainkan lava pijar. Pipi kami serasa terbakar oleh aliran lava dari sela-sela bendungan itu.

Dan bumi serasa menimpa kami….
Semuanya menjadi berat. Seumpama belenggu melingkar di leher dan tangan terangkat hingga kepala tengadah
“innaa ja’alnaa fii a’naaqihim aghlaalan fahiya ilaa al-adzqaani fahum muqmahuuna”

Dan kami menjadi buta…..
Semua jalan semata buntu. Seolah dinding menghimpit kami dari semua sisi.
“waja’alnaa min bayni aydiihim saddan wamin khalfihim saddan fa-aghsyaynaahum fahum laa yubshiruuna”

Suara itu terdengar lembut mengalun diantara isak tangis kami. Tak ada sungai lava dari sudut matanya. Sesungging senyum magis muncul dari sosok rebah yang kami tangisi…

Mendadak mataku terbuka. Kegelapan itu masih tetap ada. Tapi ada cahaya berpendar dari sosok kecil yang sedang melafalkan surat ke 36 itu. Seolah-olah aku bisa melihat huruf demi huruf melayang dari lisannya yang basah..

Subhanalloh. Engkau mengambil satu jiwa dan menurunkan jiwa lain yang penuh hikmah. Engkau sertakan seorang bidadari untuk kau lekatkan pada sosok mungil itu…

Aku menghapus sungai lava di pipiku. Aku merengkuh bidadari itu saat kudengar ayat terakhir
“fasubhaana alladzii biyadihi malakuutu kulli syay-in wa-ilayhi turja’uuna…”
(Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.)

Bakso Cinta Juni 18, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Selalu ada saja cerita lucu saat makan bareng dua ade’ku. Malem minggu lalu, sempet-sempetin mampir ke  di warung Bakso Pekih di Jalan Kampus pas mau berangkat kantor. Mepet banget siy sebenernya waktunya, tapi semingguan belum ketemu sama mereka akibat pekerjaanku yang kelewat banyak.

Pertama yang gede. Cerita gokil terjadi pas dia tak suruh ngirim 50 surat. Waktu itu, kebetulan date line datang dan aku harus ngajar di SMP 2. Padahal pada saat yang bersamaan aku juga mesti bikin proposal dan surat untuk temenku yang mau ngajuin project. Karena nggak ada waktu buat ke kantor pos, akhirnya aku nyuruh ade’ku. Tahu nggak kekonyolan apa yang dia buat? Ternyata dia tuch MENJILATI 50 PERANGKO yang ditempel ke amplop. WHAT…..???!!! habis itu aku terpingkal-pingkal sampe keluar air mata.
“Kok bodoh banget siy. Kan disitu ada lem ato pake air mineral kek..” kataku masih sambil terpingkal-pingkal..
Aku nggak kebayang di kantor pos segede itu, trus ada ratusan orang yang berpotensi ngeliatin dia. Wakkaka..kak…kak…

OK, trus yang kedua ceritanya sikecil. Dia itu ceritanya trauma sama yang namanya lelaki di kostnya. Soalnya dulu pernah ada orang gila yang nongkrong di depan garasi, dan dia nggak jadi pulang trus balik lagi ke kampus.

Nah, kemarin tuh ada seorang bapak-bapak sedang nungguin di depan garasi.  Posisinya hampir sama dengan orang gila yang dilihatnya tempo hari. Tanpa nanya-nanya, dia main selonong masuk ke rumah. Gokilnya, abis itu dia main tutup pintu garasi.

Kekonyolan terjadi setelah dia masuk ke dalam. Ternyata, laki-laki itu adalah bapak temennya yang mau ngangkut barang-barang karena temennya udah mau diwisuda. “Aduh mba, maaf banget. Abis Lis takut banget. Jadi main tutup aja,” katanya sama Mba Umi, temen sekosnya. Dan abis itu, dia nggak berani nongol karena malu.

Bakso di hadapanku tak ada satupun yang kumakan. Pertama, karena sebenarnya aku nggak doyan. Aku mau pesen bakso karena mereka emang suka. Akhirnya baksoku kuhibahkan ke mereka. Kedua, perutku sakit karena ketawa akibat ulah konyol mereka.

Subhanalloh….
Betapa indahnya saat-saat bersama seperti ini. Coba bisa dilakukan setiap hari. Luv you so much dear little sister and brother…
Terima kasih ya Allah, telah memberiku penghibur hati …

Dua Lelaki Senyap… Juni 6, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
2 comments

Masih tentang perempatan….
Setelah perempuan legam itu pergi berlalu beberapa waktu lalu, aku jadi penasaran dengan dia. Setiap kali kakiku turun dari footstep dan menginjak aspal hitam di depan tugu jam itu, aku selalu mengedarkan pandang. Mencoba mencari sosok mungil dengan dua larik ingus yang keluar masuk seirama hembusan nafasnya. Namun so sok mungil itu tak kunjung terlihat. Tidak dengan tapak kecilnya. Tidak pula dengan gayutan acuhnya di pinggang perempuan legam itu.
Karena tak kunjung kutemukan, aku akhirnya memperhatikan dua sosok lelaki yang mendekatiku sambil bergandeng lengan. Tidak ada kata yang keluar dari mulut mereka. Namun bahasa tubuh mereka yang menadahkan tangan sudah cukup menjadi alarm bagi para pengguna jalan untuk memberikan bagian kecil dari rizkinya.
Aku merogoh saku celanaku dan kutemukan sekeping logam kembalian makan siang tadi. Bersama kepingan logam itu sebenarnya ada juga lembaran lima ribuan. Tapi entah kenapa hanya kepingan logam itu yang kuniatkan untuk kuberikan.
Tidak ada senyum. Tidak ada rasa terima kasih. Lelaki buta yang digandeng lelaki muda berjalan terseok, mencari tangan lain yang mau memindahkan isi sakunya. Mereka berlalu, dan aku tak sempat memperhatikan langkah mereka selanjutnya karena lampu hijau sudah menyala.
Di depan Bank mandiri aku menepikan Gigo. Aku menoleh ke belakang dan secara reflek meraba saku kananku. “Kenapa masih berpikir untuk bersedekah. Uang ini mungkin terlalu sedikit nilainya bagiku, tapi mungkin bernilai sangat besar bagi mereka,” batinku. Inilah sifat manusia kebanyakan. Selalu memberikan bagian terkecil dari miliknya untuk bersedekah, tetapi selalu mengharap mendapatkan sesuatu yang paling banyak.
Aku melaju kembali dan memutar ke arah Kebondalem, Adyaksa dan Jl Merdeka. Berharap bisa bertemu kembali dengan dua lelaki senyap itu. Dan mereka masih di sana. Menengadahkan tangannya, menyentuh dengan pandangan mata butanya pada tangan-tangan yang memegang setir dan handle gas. Ada yang pura-pura tidak melihat. Ada pula yang menggelengkan kepala. Beberapa lainnya merogoh sakunya dan memberikan tanpa melihat.
Niatku untuk memberikan lembaran di kantong sakuku mendadak pupus. Mungkin sebagian isi dompetku masih lebih dari cukup jika kuberikan pada dua lelaki senyap itu. Karena itu langsung kuambil begitu tangan yang sudah entah berapa lama menadah itu menghampiriku.
Kali ini aku memperhatikan raut muka lelaki buta itu. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya. Tangannya dikempit pemuda belia yang menuntunnya. Dan mereka tetap saja senyap. Menyeret langkahnya menyentuh pengendara lain dengan pandangan gulita yang dimilikinya.
Sempat terpikir berapa penghasilan mereka seharian penuh. Tapi aku segera memupusnya. “Itu adalah urusan mereka dan pemilik jiwa mereka. Kalau mau bersedekah, mestinya biarkan hanya kita dan pemilik nafas kita yang mengetahuinya. Tak usah mengingatnya. Tak usah membahasnya,” batinku kemudian.
Saya menuliskan hal ini tak berharap membahas masalah berapa yang kita beri. Tapi untuk mengingatkan diri, bahwa ada bagian orang lain di setiap apa yang kita punyai. Semoga diri ini selalu punya kesadaran ini…..

Perempuan Legam dan si Mungil dalam Gendongannya Juni 3, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
3 comments

Aku mengendurkan pegangan tanganku pada handle grip gas yang kupegang. Angka digital di papan penunjuk hitung mundur menunjukkan angka 49. sambil membuka visor helmku, aku melihat ke sekelilingku.
Ini bukan kali pertama aku berhenti di perempatan ini. Dalam sehari, mungkin bisa empat sampai lima kali aku menyambangi perempatan terbesar di kota Purwokerto ini. Tapi selama itu, aku tak pernah sedemikian ingin memperhatikan dua sosok tubuh yang sedang menyelisip diantara para pengendara di depanku.
Sosok tubuh mungil itu terlihat tak peduli dengan keadaan di sektarnya. Sura bising knalpot dan asapnya yang masuk ke paru-paru kecilnya, lalu lalang penyeberang jalan yang kadang terlihat mengelus dada karena rambu ‘belok kiri jalan terus’ telah merampok haknya sampai wajah acuh para pengendaraan pengantri lampu merah.
Dia asyik bergelayut di gendongan wanita yang aku tak bisa memastikannya apakah dia adalah orang tua kandungnya atau bukan. Ingusnya yang membentuk angka 11 sesekali menghilang karena dihirupnya. Namun sekian detik kemudian muncul lagi dan kerap menyentuh bibir atasnya.
Dia juga abai dengan lambaian tangan yang seolah berkata ‘tidak’ saat perempuan legam yang menggendongnya menadahkan tangan. Sekali lagi, sosok mungil itu tak peduli dengan lingkungan di sekitarnya.
Untuk sesaat lamanya aku merasa mati rasa. Mengingat sosok-sosok mungil seumuran anak itu di rumahku. Sangat kontras keadaanya. Mereka bebas berlari kesana kemari memperlihatkan binar matanya yang secerah kejora. Seolah mengabarkan status nihil dosa yang mereka punya.
Aku kembali menatap anak itu. Dia mengulum jempol kanannya yang juga mungil. Matanya menatap kosong. Sementara tangan kirinya berpegangan pada ujung kain yang dipakai untuk menggendongnya.
Layar berisi angka digital di sebelah lampu merah kuning hijau terus menghitung mundur. Seolah menghitung kesabaran para pengendara untuk segera melesat dari tempat itu. Wanita legam itu masih terus menadahkan tangannya. Berpindah dari satu pengendara ke pengendara lainnya.
Aku menatap mata wanita legam itu. Aku ingin menanyakan padanya sudah berapa lama seharian ini dia menggendong si mungil. Apakah sudah ada susu yang masuk ke lambung si mungil itu? Apakah si mungil sudah diberinya kesempatan untuk mengejar mimpinya? Apakah …apakah… dan seribu apakah lagi yang ingin kutanyakan padanya.
Tapi dia berpaling dan menundukkan matanya. Aku pun gagal mendapatkan jawaban dari seribu ‘apakah’ yang aku lontarkan lewat mataku. Wanita legam itu terlihat kecewa. Dilewatinya pengendara-pengendara lain di belakangku. Dia berjalan menjauh ke pinggir jalan.
Angka digital berganti warna menjadi hijau. Aku menarik handgrip gas motorku. Selapis asap mengepul dari knalpot motor bututku. Namun sesaat kemudian aku yakin asap itu akan menghilang sekejap kemudian.
Wanita legam itu terus berlalu bersama bocah mungil dalam gendongannya. Maaf, aku sampai lupa tak memberi sedekah untuk kalian……