jump to navigation

Perempuan Legam dan si Mungil dalam Gendongannya Juni 3, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
trackback

Aku mengendurkan pegangan tanganku pada handle grip gas yang kupegang. Angka digital di papan penunjuk hitung mundur menunjukkan angka 49. sambil membuka visor helmku, aku melihat ke sekelilingku.
Ini bukan kali pertama aku berhenti di perempatan ini. Dalam sehari, mungkin bisa empat sampai lima kali aku menyambangi perempatan terbesar di kota Purwokerto ini. Tapi selama itu, aku tak pernah sedemikian ingin memperhatikan dua sosok tubuh yang sedang menyelisip diantara para pengendara di depanku.
Sosok tubuh mungil itu terlihat tak peduli dengan keadaan di sektarnya. Sura bising knalpot dan asapnya yang masuk ke paru-paru kecilnya, lalu lalang penyeberang jalan yang kadang terlihat mengelus dada karena rambu ‘belok kiri jalan terus’ telah merampok haknya sampai wajah acuh para pengendaraan pengantri lampu merah.
Dia asyik bergelayut di gendongan wanita yang aku tak bisa memastikannya apakah dia adalah orang tua kandungnya atau bukan. Ingusnya yang membentuk angka 11 sesekali menghilang karena dihirupnya. Namun sekian detik kemudian muncul lagi dan kerap menyentuh bibir atasnya.
Dia juga abai dengan lambaian tangan yang seolah berkata ‘tidak’ saat perempuan legam yang menggendongnya menadahkan tangan. Sekali lagi, sosok mungil itu tak peduli dengan lingkungan di sekitarnya.
Untuk sesaat lamanya aku merasa mati rasa. Mengingat sosok-sosok mungil seumuran anak itu di rumahku. Sangat kontras keadaanya. Mereka bebas berlari kesana kemari memperlihatkan binar matanya yang secerah kejora. Seolah mengabarkan status nihil dosa yang mereka punya.
Aku kembali menatap anak itu. Dia mengulum jempol kanannya yang juga mungil. Matanya menatap kosong. Sementara tangan kirinya berpegangan pada ujung kain yang dipakai untuk menggendongnya.
Layar berisi angka digital di sebelah lampu merah kuning hijau terus menghitung mundur. Seolah menghitung kesabaran para pengendara untuk segera melesat dari tempat itu. Wanita legam itu masih terus menadahkan tangannya. Berpindah dari satu pengendara ke pengendara lainnya.
Aku menatap mata wanita legam itu. Aku ingin menanyakan padanya sudah berapa lama seharian ini dia menggendong si mungil. Apakah sudah ada susu yang masuk ke lambung si mungil itu? Apakah si mungil sudah diberinya kesempatan untuk mengejar mimpinya? Apakah …apakah… dan seribu apakah lagi yang ingin kutanyakan padanya.
Tapi dia berpaling dan menundukkan matanya. Aku pun gagal mendapatkan jawaban dari seribu ‘apakah’ yang aku lontarkan lewat mataku. Wanita legam itu terlihat kecewa. Dilewatinya pengendara-pengendara lain di belakangku. Dia berjalan menjauh ke pinggir jalan.
Angka digital berganti warna menjadi hijau. Aku menarik handgrip gas motorku. Selapis asap mengepul dari knalpot motor bututku. Namun sesaat kemudian aku yakin asap itu akan menghilang sekejap kemudian.
Wanita legam itu terus berlalu bersama bocah mungil dalam gendongannya. Maaf, aku sampai lupa tak memberi sedekah untuk kalian……

Komentar»

1. chuckmamad - Juni 19, 2009

sebagian rezeki kita adalah bukan milik kita, cuma numpang lewat. Allah memakai tangan kita untuk memindahkan rezeki-Nya pada mahkluk-Nya yang lain. Tapi saya suka geram, melihat Orang mengeploitasi anak kecil dan kemiskinan (dengan tujuan bisnis) ah, apa yang mereka pikirkan….semoga Allah memberi kebaikan untuk mereka dan untuk kita

2. ciptabiru - Juni 22, 2009

Sering kali aku memaki saat memberi. tapi kemudian ingat bahwa kebaikan itu hanya boleh diketahui oleh diri dan pemilik diri. Ikhal adalah tentang kita. Jika kemudian tipu daya yang mendera, biarkan itu menjadi urusan dia dan DIA..

3. ciptabiru - Juni 22, 2009

*ikhal=maksud saya adalah ikhlas..