jump to navigation

Dua Lelaki Senyap… Juni 6, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
trackback

Masih tentang perempatan….
Setelah perempuan legam itu pergi berlalu beberapa waktu lalu, aku jadi penasaran dengan dia. Setiap kali kakiku turun dari footstep dan menginjak aspal hitam di depan tugu jam itu, aku selalu mengedarkan pandang. Mencoba mencari sosok mungil dengan dua larik ingus yang keluar masuk seirama hembusan nafasnya. Namun so sok mungil itu tak kunjung terlihat. Tidak dengan tapak kecilnya. Tidak pula dengan gayutan acuhnya di pinggang perempuan legam itu.
Karena tak kunjung kutemukan, aku akhirnya memperhatikan dua sosok lelaki yang mendekatiku sambil bergandeng lengan. Tidak ada kata yang keluar dari mulut mereka. Namun bahasa tubuh mereka yang menadahkan tangan sudah cukup menjadi alarm bagi para pengguna jalan untuk memberikan bagian kecil dari rizkinya.
Aku merogoh saku celanaku dan kutemukan sekeping logam kembalian makan siang tadi. Bersama kepingan logam itu sebenarnya ada juga lembaran lima ribuan. Tapi entah kenapa hanya kepingan logam itu yang kuniatkan untuk kuberikan.
Tidak ada senyum. Tidak ada rasa terima kasih. Lelaki buta yang digandeng lelaki muda berjalan terseok, mencari tangan lain yang mau memindahkan isi sakunya. Mereka berlalu, dan aku tak sempat memperhatikan langkah mereka selanjutnya karena lampu hijau sudah menyala.
Di depan Bank mandiri aku menepikan Gigo. Aku menoleh ke belakang dan secara reflek meraba saku kananku. “Kenapa masih berpikir untuk bersedekah. Uang ini mungkin terlalu sedikit nilainya bagiku, tapi mungkin bernilai sangat besar bagi mereka,” batinku. Inilah sifat manusia kebanyakan. Selalu memberikan bagian terkecil dari miliknya untuk bersedekah, tetapi selalu mengharap mendapatkan sesuatu yang paling banyak.
Aku melaju kembali dan memutar ke arah Kebondalem, Adyaksa dan Jl Merdeka. Berharap bisa bertemu kembali dengan dua lelaki senyap itu. Dan mereka masih di sana. Menengadahkan tangannya, menyentuh dengan pandangan mata butanya pada tangan-tangan yang memegang setir dan handle gas. Ada yang pura-pura tidak melihat. Ada pula yang menggelengkan kepala. Beberapa lainnya merogoh sakunya dan memberikan tanpa melihat.
Niatku untuk memberikan lembaran di kantong sakuku mendadak pupus. Mungkin sebagian isi dompetku masih lebih dari cukup jika kuberikan pada dua lelaki senyap itu. Karena itu langsung kuambil begitu tangan yang sudah entah berapa lama menadah itu menghampiriku.
Kali ini aku memperhatikan raut muka lelaki buta itu. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya. Tangannya dikempit pemuda belia yang menuntunnya. Dan mereka tetap saja senyap. Menyeret langkahnya menyentuh pengendara lain dengan pandangan gulita yang dimilikinya.
Sempat terpikir berapa penghasilan mereka seharian penuh. Tapi aku segera memupusnya. “Itu adalah urusan mereka dan pemilik jiwa mereka. Kalau mau bersedekah, mestinya biarkan hanya kita dan pemilik nafas kita yang mengetahuinya. Tak usah mengingatnya. Tak usah membahasnya,” batinku kemudian.
Saya menuliskan hal ini tak berharap membahas masalah berapa yang kita beri. Tapi untuk mengingatkan diri, bahwa ada bagian orang lain di setiap apa yang kita punyai. Semoga diri ini selalu punya kesadaran ini…..

Komentar»

1. rouftracal - Juni 9, 2009

semoga disetiap apa yang kita berikan, disanalah merambah rasa cinta. Cinta untuk berbagi…
Salam dariku, semoga kita dipertemukan

2. ciptabiru - Juni 22, 2009

Amin ya Akhi…