jump to navigation

Selaksa Doa untuk Sekar dan Bunga Juli 2, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
2 comments

Hanya dengan melihatnya sekilas, saya tahu jiwanya telah tergilas.
Dalam dunianya yang sepi, semuanya kini telah menjadi kian sunyi.
Mataku tiba-tiba menghangat oleh air mata.
Aku tak mungkin menumpahkannya.
Tapi tak sanggup mencegahnya menjadi kaca
Saat tangannya melukiskan kata yang tak kunjung keluar dari mulut mungilnya.

Rabu malam kemarin, aku mengunjungi rumah seorang gadisi belia korban perkosaan. 14 pemuda bejad beramai-ramai dan bergiliran mengoyak jiwa dan masa depannya. Aku tak bisa membayangkan betapa tercabiknya jiwa dan raga gadis yang kuberi nama Bunga.
Dia adalah korban kedua yang kukunjungi. Sekitar dua minggu sebelumnya, aku juga mengunjungi seorang korban lain yang usianya jauh lebih muda. Sekar, seorang anak kelas 3 SMP yang diduga digagahi oleh seorang perwira berpangkat AKP.
Masya Allah, apa dosa mereka ya Allah.
Kadang terpikir pertanyaan itu dalam batinku saat melihat mata sayu mereka. Mata yang menyembunyikan rasa malu yang mengiris hati bagai sembilu. Mata yang ingin mengadu, mengumbar amarah yang berkecamuk di dalam kalbu.
Mereka masih sangat muda. Tapi sudah harus merasakan betapa dunia sangat di sekitar mereka ternyata sangat kejam.
Beberapa orang berbicara tentang Karma. Ah, entahlah. Apakah hal seperti itu benar ada. Yang jelas anak-anak itu tak tahu apa-apa saat mereka dijadikan korban. Mereka adalah generasi tak beruntung yang lahir di dunia yang kian jahat.
Aku ingat benar ketika menyambangi rumah kedua korban itu. Dua laki-laki yang berbeda latar belakang, satu petani dan satu preman, mengucurkan air mata di depanku dan merasa telah gagal menjalankan perannya sebagai pelindung darah daging mereka. Satu Rusa dan Satu Singa. Dan tak satupun dari mereka yang terima saat anaknya disakiti.
Di tempat penitipan anak korban kekerasan, aku mengunjungi keduanya. Mereka tersenyum samar. Aku tahu mereka sangat takut bertemu dengan orang asing, termasuk aku, meski beberapa hari ini aku sering mereka lihat. Ada tatapan curiga yang menghunjam jantungku. Tapi aku tersenyum. Aku tahu kemarahan yang mengalir di pembuluh darah mereka. Meski mungkin tak semendidih yang mereka rasakan.
Aku adalah seorang laki-laki dengan tujuh perempuan di sepanjang hidupku. Diantara mereka, ada juga perempuan agung yang melahirkan kami. Aku tahu benar apa yang menjadi kebanggaan saudari-saudariku. Hal yang kini tak lagi dimiliki oleh Bunga dan Sekar.
Aku memang tak bisa mengembalikan senyuman dan raga yang tercabik. Tapi aku akan membantu kalian agar para laknatulloh itu mendapatkan balasan yang setimpal. Minimal dengan doa dan tanganku….
Ya Allah, aku tahu Engkau tak pernah tertidur
Maka balaslah apa-apa yang telah dilakukan manusia-manusia durjana itu. Berilah mereka balasan yang setimpal….