Sungguh Aku Takut dengan Siksanya Agustus 27, 2009
Posted by ciptabiru in Umum.2 comments
Marhaban ya Ramadan…
Baru sempat menyampaikannya…
Tapi aku tidak akan membahas ramadan kecuali sebagian kecil diantaranya. Paling tidak, postingan kali ini agak-agak nyangkut dengan bulan penuh berkah ini.
Ceritanya aku sedang berjalan-jalan dengan sahabatku. Seharian mencari firasat yang bisa membawa kami pada kedekatan rizki. Karena tak kunjung menjumpai, akhirnya masuk ke Plasa Telkom.
Usai selesai urusan, sahabatku menyodorkan hape yang sedang dipakainya untuk bicara.
“Nih, si Fulan pengin ngomong sama kamu,” katanya.
Aku langsung tau kalau yang dimaksudnya adalah calon istrinya.
“Mas, buber yuk?!” ajaknya merajuk.
“Apa? Bubur? Ini lagi puasa. Nanti sore aja,” candaku
“Buber mas..Buber..” katanya. Tidak sadar kalau aku sedang mencandainya.
“Oh, bumper. Kebetulan ini aku mau ke Kemutug. Ntar pulangnya bisa mampir. MAu minta apa emang?” tanyaku ngawur?
“Buber mas, Buka Bersama,” jengkelnya.
“Ooo..buka bersama. Bilang dong..Nggak ah, ini kan baru jam 13.30. Batal ntar,” jawabku lagi.
“Ya, ampun mas. Kok bolot banget sich. Ya enggak sekarang. Ntar kalau pas buka,” kali ini dia menyemprot. Nggak marah beneran siy.
“Ooh..OK, kapan. Kalau selain malem Rabu aku nggak bisa. Soalnya aku kerja,” kataku serius.
“OK nggak papa malem Rebo,” katanya
“Lho emang kamu libur? Bukannya kamu jauh?” tanyaku. Giliran aku yang heran.
“Nggak papa Mas. Aku pulang nggak papa kok,” katanya
“Nah lho..”
“Tapi ada syaratnya mas,” suaranya kedengaran serius
“Syarat? Apaan. Masa buka bersama aja pakai sarat,” tanyaku lagi.
“Iya. Syaratnya Mas harus bawa pasangan. Perempuan,” rajuknya. kemudian tertawa.
“Kalau sekedar pasangan aku bisa bawa. Orang yang paling aku cinta sejauh ini. Adikku,” kataku
“e…nggak mau. Mas mesti bawa pacar,” godanya.
“Masya Allah. Bukannya sudah aku bilang sejak kita bertemu dulu. Aku tidak pacaran dan bagaimana aku menjauhi istilah itu,” kataku mengingatkan.
“Emang sampai segitunya ya mas?” katanya penasaran.
“Besok pas kita ketemu lagi aku bakal ceritakan kenapa pilihan itu yang aku pilih,” kataku.
“oya, ini tak balikin ke calonmu ya. Ntar dia cemburu lagi kalo kelamaan ngobrol sama aku. dah dulu ya Assalamu’alaikum,” pungkasku.
Tapi aku tak bermaksud menyampaikannya secara langsung. Akhirnya aku ngobrol dengan calonnya mengenai konsep bersuci dan makna suci bagi seorang muslim.
“Thaharah adalah hal pertama yang harus dipelajari oleh semua muslim. Melebihi ajaran lain yang harus dipelajari. Itu maknanya sebelum kita mengutarakan ketauhidan sekalipun, hal paling mendasar bagi setiap insan, kita harus dalam keadaan suci. Baik lahir maupun batin,” jabarku.
“Itulah kenapa kita mesti mempertahankan kesucian kita sebaik mungkin. Jangan sampai ternoda oleh hal-hal yang dilarang oleh Allah,” sambungku.
Dia termenung.
“Sungguh aku sangat takut dengan siksa yang dijanjikan Allah pada orang-orang yang menyentuh kulit lawan jenis yang bukan mukhrimnya. Konon seribu jarum menusuk badan itu lebih ringan sakitnya dari pada siksa yang dijanjikan Allah,” ujarku lirih.
“Itu juga kenapa dulu aku bilang supaya kalian tak usah menunggu terlalu lama untuk mengikat buhul pernikahan. Supaya tak banyak noda maksiat yang mengotori diri dan hubungan kalian,” ujarku lagi.
Dia mengangguk.
“Kamu tahu betapa protektifnya aku dengan sibungsu kan. Aku tak pernah membolehkannya jalan sendirian, apalagi jalan dengan orang yang buan muhrimnya. Aku selalu mau mengantarkannya demi bisa menjaga fisik dan jiwanya. Itu karena aku ingin menghadiahkan kesucian jiwa dan raganya pada lelaki sholeh yang kelak akan menjadi imam baginya. Hanya lelaki yang dipilihkan Allah yang juga suci lah yang berhak menikahinya,” aku yakin kali ini aku seperti orang yang berceramah.
“Aku juga seperti itu. Aku ingin istriku kelak mendapatkan aku sebagai seorang yang bersih. Bukan barang sisa dari sentuhan-sentuhan orang lain. Bukan bekas dari sesuatu yang pernah dipakai oleh orang lain. Dia akan mendapat barang yang gress,” kataku lagi.
Temanku, seperti sebelumnya hanya diam. Sesekali dia mengangguk. Tapi tanpa berkatapun aku tahu. Dia sepaham denganku seperti selama ini kami sepaham dalam setiap kebaikan. Aku berharap setelah ini dia akan menyampaikan apa yang aku sampaikan pada perempuan yang Insya Allah sebentar lagi akan dinikahinya itu. Agar tak perlu lagi dia menggodaku untuk membawa pasangan yang belum kunikahi..
Tinggal Satu. Aku Agustus 12, 2009
Posted by ciptabiru in Umum.1 comment so far
Hari ini ada kejutan cukup bikin shock, tapi juga bikin seneng. Kebetulan tadi siang aku berkumpul kembali dengan tiga sahabatku. Acaranay makan siang bareng. Sambil menunggu yang dua orang, sahabatku bilang bahwa dalam waktu dekat dia akan melamar perempuan yang dipacarinya beberapa hari terakhir.
“Alhamdulillah,” kataku. Bukan untuk pacarannya, tapi untuk niat baik mereka membina rumah tangga.
Aku ingat beberapa waktu lalu saat mereka mendatangiku di sebuah kafe.
“Ya. Kami sudah jadian,” kata mereka saat itu.
Itu shock pertama yang aku dapatkan. Soalnya, mereka baru kenal beberapa hari. Itupun mereka kenalan saat perempuan itu datang melayat ke rumah sahabatku.
“Kok kilat banget?” godaku
“Iya nich. Nggak tau kok bisa gini,” kata si perempuan malu-malu.
waktu itu aku ingat benar, aku minta mereka agar jangan terlalu lama terjebak pada hubungan yang tidak diridloi Islam.
“Jangan terlalu lama. Aku berdoa semoga kalian cepat menikah. Agar tak terlalu banyak dosa yang tercipta,” kataku.
Aku tahu, itu agak menohok. Tapi nggak papa. Sebagai sahabat, aku kan memang harus saling mengingatkan di jalan kebaikan. Semakin cepat mereka menikah, berarti makin sedikit dosa dan maksiat yang mungkin mereka lakukan.
“Sorry ya aku duluan,” lamunanku langsung hilang begitu sahabatku minta ijin untuk menikah duluan.
“Oh, nggak papa. Sumpah. Demi Allah itu adalah rizkimu. Seandainya aku dikasih, mungkin sudah dari dulu aku melakukannya,” kataku.
“Iya, tadinya mau nunggu Imam (sahabatku yang satu). Tapi kayaknya dia belum mantep. Kebetulan setelah nanya Mama, beliau nggak keberatan,” katanya lagi.
“Trus kapan lamarannya,” tanyaku.
“Segera tak kasih tau. Kan kamu juga harus ikut,” jawabnya.
“OK. Anytime. Insya Allah aku ikut jadi saksi,” kataku sambil berdoa dilapangkan waktu untuk jadi saksi perjalanan hidup sahabatku.
Well, kehidupan memang tidak bisa ditebak. Dulu saat kuliah, kami menganggap bahwa yang akan menikah dulu adalah yang paling tua. Dan itu berarti aku. Tapi siapa yang tahu, kalau kemudian yang menikah duluan malah yang paling muda, yaitu Dewol.
Setelah itu, satu per satu menyusul menikah. Iin, Tari, Ennie dan beberapa bulan lalu Iid. Entah mengapa, perkiraan kami meleset semua. Aku justru jadi yang terakhir. Benar kata orang bijak, manusia berencana, Allah-lah yang punya kuasa.
Setahun lalu, aku membuat rencana untuk mengakhiri masa lajang tahun 2010 mendatang. Bayanganku, saat itu satu adikku sudah meraih gelar sarjana. Jadi beban bisa sedikit berkurang. Setahun setelah itu aku kuliah lagi. Menuntaskan hutang yang tertunda pada Ayah bunda sambil melaksanakan kewajiban sebagai imam keluarga.
Beberapa hari lalu aku ditanya seorang dosen yang sudah jadi temanku.
“Lha terus siapa perempuan yang akan kau nikahi?”
“Wah belum tahu mas. Saya serahkan sama yang di atas,” jawabku.
“Lho kalau nggak nyari ya nggak akan dapat,” katanya.
“Saya nyari. Hanya caranya yang tidak dengan cara biasa,” jawabku. Dia berhenti sejenak. (waktu itu kami baru makan siang dan sedang menuju ke parkiran).
“Trus, dengan cara apa,”
“Meminta langsung pada pemilik hakiki setiap hal di alam semesta ini,” kataku lagi.
Dia manggut-manggut.
“OK. Hanya bisa ikut mendoakan. Oya. Ngomong-ngomong seperti apa kriterianya?” tanyanya lagi. Sekarang giliran saya yang berhenti.
“Tidak neko-neko. Perempuan, berhijab. Cinta pada Allah dan nabiNya. Dan punya sisa untuk mencintai saya,” sebutku.
“Bagaimana dengan cantik dan harta?” tanyanya.
“Saya harus bercermin.” kataku
“Maksudmu?”
“Ya Mas kan tahu saya seperti apa. Jadi kalau dapat dua yang terakhir itu, saya akan menganggapnya sebagai double bonus,” kataku sambil tersenyum.
“Ha..ha…ha…Kamu bisa aja. OK. Siapa tahu ada mahasiswiku yang seperti yang kamu cari. Nanti pasti tak kabari,” katanya lagi. Habis itu kami beruluk salam dan berpamitan.
Oya, buat sahabatku. Selamat ya. Hal jazaul ikhsanu illal ikhsan..
The Transporter Agustus 5, 2009
Posted by ciptabiru in Umum.add a comment
“Mz Bi, jemput Q skrg ya”
SMS-nya pendek. Tapi pasti akan membuat aku langsung blingsatan. Kalau sedang tidak ngapa-ngapain, aku pasti langsung cabut dan muncul di hadapannya beberapa menit kemudian. Tapi kalau sedang sibuk dengan kerjaan, maka alternatif pertama adalah nelpon ke adiku (kakak sibungsu) untuk menggantikan peranku.
Aku selalu bersedia (sebenarnya aku lebih senang menyebutnya suka) saat disuruh mengantar si bungsu. Tak pernah terbersit di benakku untuk menganggapnya sebagai beban. Kadang, aku bahkan lebih menganggapnya sebagai sebuah kewajiban. Ya kewajiban. Karena contoh terbaik umat manusia, akhirul anbiya, menganjurkan agar seorang perempuan selalu ditemani muhrimnya saat bepergian ke luar rumah.
Mengantar si kecil (yang kini udah mau naik ke semester tiga) juga kuanggap sebagai kewajiban karena trauma masa lalu. Mengantar. Itu adalah permintaan terakhir perempuan agung itu. Dan aku tidak bisa memenuhinya. Sebuah hal yang mungkin akan selalu kusesali sepanjang hidupku. Aku sangat percaya dengan takdir, tapi selalu ada kata ’seandainya’ setiap kali mengingat detik-detik itu…Seandainya aku mengabulkan permintaanya untuk mengantar, mungkin kini aku masih bisa memeluknya. Dan ’seandainya-seandainya’ yang lain.
Mengantar si kecil selalu menjadi saat terindah bagiku. Mendengar ceritanya tentang peristiwa seharian, rencananya dan juga sebanyak apa hafalan Al-qurannya. Melewati detik-detik itu selalu membuat hati bahagia. Membuat hati bangga dan yang lebih penting dari semua itu, membuatku merasa ada dan berguna.
Suatu hari aku pernah menggebrak meja (saking marahnya) saat tahu si kecil tak dijemput kakaknya. Aku tahu dia juga sedang ada acara, tapi menelantarkan si kecil yang pulang malam dari rapat UKI adalah hal yang tidak bisa kuterima. Untunglah kemudian aku ketahui, ternyata dia diantar oleh muhrim yang merupakan kakak-kakak angkatannya. Kabar baiknya lagi, sejak itu kakaknya tak pernah berani menolak saat aku suruh menjemput atau mengantar si kecil.
Kemarin siang, badanku luluh lantak karena capek. Sekujur tubuh terasa menggigil. Sejak pagi aku menghabiskan waktu hanya dengan membaca buku dan menutupi diri dengan selimut tebal. Sampai ketika adzan dzuhur berkumandang. Usai mengambil air wudlu, aku melihat HP. Ternyata ada SMS. Lalu SMS rutin itu muncul. Setelah menemui pemilik raga dan jiwa serta semesta, aku langsung cabut menjemputnya.
Di perjalanan dia menanyakan tentang biaya kuliah dan kostnya. Aku menghela nafas. “Duitku belum cukup” batinku. Dan pertanyaan serupa juga pasti akan muncul dari kakaknya.
“Kamu masih sholat dluha?” tanyaku, mengalihkan pembicaraan. Dan dia mengangguk. “Tadi juga sudah sholat dluha pas nunggu dijemput,” katanya. “Apa dalam do’amu, kamu sempat minta Allah agar memberi rizqi yang berkah buat kita?” tanyaku lagi. Dia mengangguk lagi.
“Kalau begitu semoga Allah melimpahkan rizki secepatnya buat kita,” kataku pelan. Aku yakin dia tak mendengarnya.
Setelah mengantar si kecil, semua rasa menggigil itu hilang. Iya. Ada hal lebih besar yang harus aku lakukan dibanding hanya tidur berselimut tebal dan membaca buku yang sudah kuulang tiga kali itu. Aku harus berbuat sesuatu. Apa saja. Termasuk pilihan terakhir, mencari utangan.
Sekitar pukul 16.00, saat rapat di kantor, HPku berbunyi, mengabarkan ada SMS masuk. Ternyata dari si kecil. “Mz Bi, beasiswanya udah turun. Alhamdulillah. Oya, IPq ternyata gak turun. Sama kayak kemarin, 3.54″
Aku terdiam sejenak. Memandangi layar hape dan menghirup nafas panjang. Mataku berkaca-kaca. Alhamdulillah…bisikku. Padahal aku hampir saja menempuh jalan terakhir untuk mencari hutangan. Dia memang my little angle…