jump to navigation

Mendamba Ramadan Sepanjang Bulan…. September 30, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Ramadan adalah Universitas, dan sebelas bulan berikutnya yang dimulai Syawal ini, adalah kesempatan untuk mengamalkan ilmu yang sudah didapat di Universitas Ramadan.

Entah karena kesibukan kerja yang bertubi-tubi datang atau memang karena iman yang sedang terpuruk di dasar grafik cosinus, Ramadan kemarin seperti kehilangan makna. Dari sebulan penuh, hanya dua kali aku ikut sholat Tarawih berjamaah. SIsanya selalu dilakukan sendiri di kamar setelah pulang kerja. Menjelang dinihari.
Aku masih mengingat dengan jelas. Saat mendengarkan alunan merdu suara Imam yang melafalkan ayat-ayat Illahi di Nurul Ulum. Hati terasa sejuk dan ingin melakukannya semalaman. Mata mendadak berlinang dan merasa diri begitu kotor. Dada bergetar menahan sesenggukan. Namun kepala terasa ringan dan jernih.
Wahai zat yang menggetarkan kalbu. Kadang hati bertanya kenapa rizkiku turun saat saudara-saudaraku pulas terpejam? Kenapa aku tak bisa terbuai seumpama bayi begitu kelammu menutup langit? Kenapa aku justru harus memicing mata memelototi kotak yang penuh radiasi saat jiwa-jiwa tenang terhanyut dalam kehangatan selimut?
Aku ingin mengaum bagai singa saat sang surya memamerkan sinarnya. Aku ingin berlari bagai cheetah saat kicau burung memanggil pagi. Aku ingin menempelkan dahiku saat tenagaku melemah setelah seharian berlari mengejar waktu.
Pertanyaan itu selalu berputar. Namun jawabannya selalu satu hal. Syukur. Kita, manusia selalu kurang bersyukur dengan segala nikmat yang dikaruniakan Allah. Sebanyak apapun sehari semalam kita melafalkan Hamdalah, tak pernah sebanding dengan nikmat yang dicurahkan Allah dari ‘arsy-nya.
Jawaban inilah yang akhirnya menyadarkanku untuk menyesal. Ya. Menyesal. Menyesal karena menyia-nyiakan keagungan Universitas Ramadan. Menyesal karena tak bisa mengkhatamkan bait-bait penuh keindahan dari kalam Illahi. Menyesal karena begitu jauh diri ini dari Lalatul Qodar. Menyesal karena hati tak kunjung mencair oleh kesombongan dan keangkuhan. Padahal kesombongan itu pakaian yang tak pantas dikenakan manusia. Karena hanya Allahlah yang pantas memilikinya.
Siang tadi, saat mampir di masjid besar yang diselimuti debu di daerah Rawalo. Aku seperti disentak oleh sebuah gelombang kejut. Betapa lemahnya disiplin diri untuk memenuhi panggilan zat yang penuh cinta. Betapa seringnya aku mengingkari janji untuk menemuiNya. Betapa tak acuhnya telinga saat mendengar ajakannya.
Istiqomah. Sebuah nama yang pernah disematkan seorang mahasiswa KKN Unsoed di mushola di depan rumah sekitar 20 tahun yang lalu. Nama yang cantik dan penuh makna. dan baru sekarang aku merasakan betapa susahnya untuk mewujudkannya.
Wahai pemilik segala cahaya. Sinari hati hamba yang dina ini dengan sinar yang menghidupkan hati. Sinar yang menerangi kepekatan kalbu. Sinar yang membasuh tumpukan debu. Sinar yang memelihara kejernihan pikir. Sinar yang menjaga lafal-lafal dzikir. Dan sinar yang membawa keutuhan Iman. Amin…..

Bidadari Semu September 24, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Ide menggunung di kepala, tapi kemauan menulis serasa sirna. Akibatnya malah pusing sendiri. Jadi teringat seorang penulis pernah bilang, Aku menulis agar tidak gila”. Mungkin beginilah rasanya.
Beberapa sudah dituangkan dalam lembaran-lembaran yang lama terlupa. Membuat novel. Beberapa lainnya tertuang dalam diary. Tapi ada hal-hal yang aku pikir tak masuk ke keduanya. Salah satunya tentang tema ini. Reuni.
Well, Rabu (23/9) lalu, aku memang memutuskan datang ke acara reuni SMA. Agak surprise juga pas tahu yang datang ternyata sedikit banget. Padahal pas lihat di Facebook, kayaknya heboh banget.
Anyway, banyak senyum yang tercipta selama pertemuan panjang itu. Memori kekonyolan dan kebodohan sepuluh tahun silam tiba-tiba diputar ulang. Mulai dari minggat saat jam kosong sampai nyontek jawaban pas ulangan. Beberapa teman mengenang masa-masa terindah hidupnya saat berseragam abu-abu. Melirik malu pada perempuan yang dulu dipacarinya dan sekarang sudah menggendong manusia kecil dalam dekapannya. Atau menepis bara yang dulu pernah menyala saat teringat dendam karena rebutan cewek.
Re Uni. Bersatu kembali. Memang selalu membawa kenangan indah. Aku ingat dengan masa-masa satu dekade silam itu. Seperti juga ABG yang kerap terjebak dalam Devil’s Trap, aku juga pernah memendam kekaguman pada sosok lembut seorang perempuan. Setidaknya saat itu. Untunglah proteksi berupa aturan rumah untuk tidak pacaran membentengiku sampai lulus.
Pun begitu, kekaguman pada sosok yang sangat mirip dengan adik bungsuku itu terus mengusikku. Rambut lembutnya yang berwarna cokelat kemerahan, lengkung samar di ujung bibirnya saat dia tersenyum, dan sifat manjanya, benar-benar identik dengan si kecil. Sampai lulus pun kekagumanku pada kecantikan fisiknya tak pernah sirna.
Selama 9 tahun masa kuliah, aku tak pernah tahu kabarnya. Tak pernah tahu seperti apa wajahnya. Seperti apa jilbabnya (seandainya dia sudah memakainya) dan bahkan tak tahu apa nama universitas dan jurusannya. Sampai kemudian suatu hari, lewat situs jejaring sosial friendster, aku menemukan beberapa fotonya dalam balutan busana muslimah yang sangat anggun. Subhanalloh. Maha suci Allah yang telah menciptakan kesempurnaan. Batinku waktu itu.
Namun waktu berlalu dan kejutan lebih besar pun muncul. Di FB, semua kekagumanku sirna. Jilbabnya entah terenggut kemana, memperlihatkan rambut lurusnya yang berkilau. Baju panjangnya mungkin tergunting oleh pisau mode, memperlihatkan lengannya dan lehernya yang jenjang.
Seandainya pantas, ingin sekali mengatakan padanya, ukhti, pelihara kehormatanmu. Jangan obral ke sembarang mata. Tapi toh aku tak berhak. Dia hanya perempuan yang aku kagumi karena punya selaksa kemiripan dengan kepompong kecilku. Sekarang kepompong itu telah menetas menjadi kupu-kupu yang cantik. Mengepakkan sayap lembutnya untuk menebarkan keindahan. Sementara dia menetas menjadi makhluk lain yang tak kutahu namanya. Menebarkan sayap rentannya dengan keindahan palsu.
Sebagai saudara seiman, aku menyesal tak pernah sungguh-sungguh mencari tahu keberadaanya. Menyesal karena tak pernah bisa mengajarkannya istiqomah menutup aurat. Menyesal karena tak pernah bisa berbagi nasihat dan wasiat kebaikan. Menyesal karena dia akhirnya hanya menjadi bidadari semu.
Semoga hidayah Allah bisa menyinari hatinya. Amin..

FB: Balik Kucing dan Cita-Cita Baru September 24, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Setelah sekian bulan berhibernasi, akhirnya aku membuka kembali Facebook. Ini terjadi setelah aku berdiskusi panjang dengan seorang kawan. Dia tanya kenapa FB ku nggak aktif? Aku bilang FB membuat aku menghamburkan sedemikian banyak waktu hanya untuk mengomentari status orang. Celakanya, kebanyakan hanay berisi olok-olok, caci maki, hinaan dan ledek-ledekan. Meski semuanya dalam koridor bercanda, tapi aku pikir mudhorotnya terlalu banyak.
Tahu apa yang dikatakan temanku? Pisau juga bisa digunakan untuk membunuh. Bahkan bantal sekalipun. Itu tergantung dari pemakainya. Apakah mau untuk merajang bawang atau membunuh. FB juga begitu. Apakah kamu mau menggunakannya untuk bergosip dan melakukan kegiatan yang tidak perlu atau memanfaatkannya untuk berda’wah.
Aku termenung. Aku teringat saat aku dengan tegas menolak menjadi anggota sebuah koperasi yang dimanajemeni sebuah organisasi agama lain yang jelas-jelas punya agenda tersembunyi di baliknya. Suatu ketika temanku, seorang pemuda pergerakan organisasi keagamaan bilang, ikut saja. Pelajari sistemnya, dan kita gunakan untuk kemaslahatan ummat. Tapi aku tetap menolaknya. Alasanku, (kalau nggak salah) nabi pernah berkata, barang siapa yang mengikuti gaya mereka (Nasoro wal Yahuda) maka kita adalah bagian dari mereka.
Aku memang salut dengan sistem yang mereka bangun. Menyadarkan masyarakat untuk bijak memanfaatkan penghasilan, sekaligus merencanakan masa depan bagi diri dan generasi penerusnya. Cuma untuk menjadi bagian dari sistem itu, aku tidak sependapat. Toh ilmu seperti itu Insya Allah bisa didapat dari sumber lain yang lebih ‘ramah’ terhadap aqidah Islam kita. Karena aku pikir sistem seperti itu adalah sistem yang universal. Tinggal kita mampu mempelajari dan melaksanakannya atau tidak. Dasar-dasarnay sudah dicontohkan oleh uswatun khasanah kita, sang akhirul Anbiya, Muhammad SAW.
Nah, dalam kasus FB, aku berusaha kembali merenung. OK, kalau FB bisa saja digunakan oleh sang pengelola untuk mengumpulkan data semua membernya. Menganalisanya dan membuat sebuah strategi penghancuran sebuah masyarakat di masa mendatang, tapi FB juga bisa menjadi boomerang bagi orang-orang yang ingin memanfaatkan fasilitas ini untuk tujuan tadi. Salah satu caranya adalah dengan memanfaatkannya untuk kemaslahatan ummat.
Itulah sebabnya kemudian aku buat grup untuk menjalin silaturrahmi. Pertama Lazis Mafaza dan yang kedua 99 SMULA. Tujuannya adalah agar suatu saat orang-orang yang menjadi membernya bisa memberikan manfaat satu sama lain dan bisa menolong orang lain yang kurang beruntung.
Aku punya cita-cita untuk menghimpun dana bagi anak-anak kurang mampu agar tetap bersekolah lewat Lazis Mafaza. Bayangkan seandainya seratus dari 300an teman saya mau menyumbangkan 50 ribu saja setiap bulan dari penghasilannya yang berjuta-juta. Maka akan ada 5 juta. Setelah itu, setiap orang dari seratus orang itu juga berhasil mengajak 100 orang lagi dan seterusnya, akan banyak sekali dana yang bisa dikumpulkan.
Jika itu bisa terlaksana, mungkin tak akan ada orang yang mengeluh pendidikan itu mahal. Karena ada dana untuk melaksanakannya. Suatu saat, kita bisa melihat generasi muda yang pintar secara akademik dan punya akhlak Qur’ani. Karena selain memberikan dana bantuan, Lazis Mafaza juga memantau perkembangan mental dan aqidah orang-orang yang dibantunya.
Grup 99 SMULA juga aku buat dengan tujuan yang kurang lebih sama. Aku ingin anak-anak angkatan 99 bisa saling bertegur sapa. Syukur bisa berbagi rizki pada teman-teman lain yang belum seberuntung kita. Aku bahkan berkhayal bisa membentuk yayasan yang membawahi beberapa perusahaan yang dikelola angkatan 99 SMULA. Agar semua lulusan 99 SMULA bisa hidup sejahtera suatu saat. dan agar ikatan silaturrahmi tetap terjaga.
Ada sebuah quote bagus yang aku catat dari profile temanku. “Jika kau menginginkan sesuatu, maka seluruh alam semesta akan bersatu padu untuk mewujudkannya”. Hanya saja quote itu masih kurang. Versi lengkapnya mungkin begini. “Jika kau menginginkan sesuatu, berdoa dan berusaha lah dengan sungguh-sungguh, maka seluruh semesta akan bersatu padu untuk mewujudkannya”

Malam Ini, 19 Tahun Silam September 13, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Malam ini 19 tahun yang lalu
Satu lagi suara anak manusia memecah kesunyian maghrib yang remang. Senyum-senyum lega terpancar dari wajah-wajah belia kami.
Warna lembayung di ujung bumi sebelah barat terlihat menyemburat merangkul langit. Seolah belum rela memberikan kegelapan, demi menyambut sosok mungil bersuara keras itu.
Aku takjub menatap sosok merah bermata lentik itu. Bibirnya sangat mungil. Saat kusapukan madu di permukaanya, tangisnya mereda. Di dalam kamar, seorang perempuan agung tersenyum lega setelah berjuang untuk kesepuluh kalinya. Melahirkan jiwa-jiwa kembara ke muka dunia.
Subhanalloh….
Betapa waktu sangat cepat berlalu. Aku masih ingat saat-saat menggendongnya ke tempat tidur saat dentang jam dinding berbunyi sembilan kali. Kursi kayu berbalut kain emas itu menjadi saksi ukuran tubuhnya yang terus bertambah setiap waktu.
Saat-saat menggendongnya ketika pulang sekolah juga masih kuingat dengan jelas. Sampai kelas lima SD hal itu masih kami lakukan. Setelah kelas enam, dia sudah malu kalau ditawari gendong.
SMP berlalu lebih cepat. Tapi aku ingat bagaimana jabatan demi jabatan membuatmu terlihat dewasa di luar sana. Meski tetap manja saat di rumah.
Dan tanpa terasa, masa remajamu datang menyergap. Saat inilah proteksiku menjadi sangat kuat. Tak sekalipun aku biarkan orang-orang haram menyentuhmu. Kedewasaan itu seolah berpacu dengan ketidakrelaanku melepaskanmu. Sekarang, hanya suaramu yang bisa kudengar. Itupun tidak setiap hari.
Tugas kuliah dan kegiatan organisasi seoleh merebutmu dari dekapan kami. Tapi kami percaya padamu. Karena segunung cinta yang kami punya.
Wahai pemilik senyum dan lirik ibunda…
Hari esok bakal semakin sulit. Bakal semakin banyak daya upaya iblis di sekitarmu. Berlindunglah senantiasa pada pemilik jiwamu.
Wahai pemilik titisan jiwa yang tenang…
Selaksa cinta yang datang karena Allah akan selalu menyertai langkah-langkahmu.
Wahai dinda tambatan sembilan jiwa..
Doa kami untuk setiap nafas yang kau hela dan setiap kata yang kau ucap. Semoga semuanya hanya untuk menapaki sajadah-sajadah cinta, menuju jalan Illahi…
Happy Birth day my Little Angel….

Sorry 4 The Bad Lesson September 9, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Malem Rabu kemarin akhirnya berhasil maksa si kecil buat buka bersama. Rasanya udah lama banget nggak ngobrol ngalor ngidul sama dia. Belasan hari ini hanya telpon untuk menanyakan kegiatan sehari-harinya. Itupun sangat terbatas waktunya karena dikejar-kejar tarif pulsa.
Alhamdulillah, kemarin dia mau buka bersama. Biasanya alesannya nggak enak sama teman2 kos karena udah masak. Kalo nggak, dia malah kebagian giliran masak atau rapat sampai buka menjelang. “Duuh..sibuk banget ya sekarang. Sampai kakaknya nggak dapet jatah buat makan bareng”. Godaku suatu ketika. Seperti biasa, dia merengek manja dan membela diri mesti menepati janji dan komitmen yang udah dibuat. “Ntar kalo nggak ditepatin kita yang dosa juga kan Kak?” ujarnya berdalih. Kalo udah begini, aku yang akhirnya ngalah. Padahal udah kangen banget pengin nyubit idungnya atau mengusap jilbab di kepalanya.
Pas mau berangkat njemput dia, tiba-tiba sahabatku telpon dan ngajak buka bersama. Aku pikir sekalian aja. Jadi akhirnya aku iyakan. Tapi pas di lokasi ternyata dia dateng sama pacarnya. Setelah itu, ada teman satu lagi yang ternyata juga membawa pacarnya. Setelah itu, ada lagi pacar temanku datang sendirian. Akhirnya kita makan bertujuh.
Sempat terpikir untuk nelpon Ade’ku yang satu lagi. Tujuannya supaya bisa pindah meja dan makan bersama dua ade’ku. Tapi pas ditelpon, ternyata kakak si bungsu sedang buka bersama di sekre bareng teman-temannya.
Sungguh, aku merasa sangat bersalah pada si kecil. Selama ini aku mendidiknya untuk menjauhi orang-orang yang bukan muhrimnya kecuali bersama dengan saudara atau muhrimnya. Tapi malam itu aku seolah-olah malah mengajarkan hubungan lain jenis yang penuh kebebasan itu padanya.
Astaghfirulloh….Insya Allah, bukan itu maksud kakak De’. Kakak tidak bermaksud memperlihatkanmu, apalagi mengajarkanmu hubungan pria-wanita yang tidak diridloi Allah. Semoga Allah melindungi hati dan pikiranmu dari hal-hal seperti itu.
At least, acara buka bersama dia sangat menentramkanku. Ngobrol ngalor-ngidul tetap berjalan. Tentang kulit tangannya yang mengelupas dan sakit. Tentang kemajuannya belajar memasak. Tentang minyak baby oil untuk mengobati tangannya. Tentang puasanya yang diragukannya apakah dihitung atau tidak karena tamu bulanannya hadir saat buka datang dan hal-hal lain seputar kegiatannya di kampus.
Hmm..dia semakin dewasa. Sebuah kondisi yang aku harapkan tapi juga kadang aku takutkan. Suatu saat, aku akan kehilangan rengekan manjanya saat menghadapi kesulitan. Atau cerita ngalor-ngidulnya yang kadang konyol dan bikin aku tertawa terbahak-bahak. Aku juga akan kehilangan saat-saat mengantar atau menjemputnya. Saat-saat menagih hafalan Al-Quran yang dia hafalkan. Kadang, hati bertanya. Jika saat itu tiba, masihkah cinta dan kesabaranku sama seperti sekarang? Semoga akan selalu ada cinta untuknya yang hadir karena Allah SWT. Amin

Seulas Senyum di Buta Pagi September 6, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Wajah mungil itu tengadah memandang langit. Bulan bersinar lembut di atas kepalanya. Lentik bulu matanya terlihat berkerjap-kerjap. Sesekali dia tampak menguap sambil menutup mulutnya dengan tangan mungilnya. Dia menyedekapkan tangannya di dada. Udara dingin membuatnya sedikit menggigil.
Mulut mungilnya tersenyum saat aku menghampirinya.
“Masih ngantuk ya de’?” sapaku.
Dia cuma tersenyum. Matanya melirik ke arah perempuan muda yang pangkuannya dijadikannya bantal.
“Iya nich kayaknya mas. Maklum, baru kelas 2 SD,” kata perempuan yang menghabiskan waktunya mendampingi si kecil dan 44 temannya. Seolah menyalurkan pandangan mata si kecil dan mengubahnya menjadi kata-kata.
“Waduh, maaf ya. Jadi harus bangun malem-malem. Tunggu bentar lagi ya. Mungkin beliau segera dating,” hiburku.
“Iya nggak papa,” kata perempuan muda itu. Lagi-lagi mewakili si kecil yang telentang dalam pangkuannya.
Aku memandang ke sekeliling. Wajah-wajah jemu terlihat tak sabar menunggu. Sekotak nasi sudah menggeletak di hadapan mereka. Tapi yang ditunggu tak kunjung datang. Makanan di hadapan mereka pun tak kunjung bisa disantap.
Suara kentongan bersahut-sahutan dengan irama harmonis. Sahur…Sahuur…Suara para peronda yang berkeliling sambil membangunkan warga untuk sahur.
Yang ditunggu akhirnya datang. Setelah beramah tamah sejenak, acarapun dimulai. Tak berapa lama kemudian ustadz yang aku jemput membacakan doa dan sekelumit fadilah bersodakoh dan beramal. Acara sahur bersama 500 warga pun dimulai.
Pak Kapolres yang menjadi tuan rumah bersama Pak Yohanes yang menggagas acara terlihat berbincang akrab. Di sebelahnya ada Pak Laju yang menjadi penyumbang bingkisan terlihat takzim memandang para peserta.
Dan saat yang ditunggu pun tiba. Pembagian bingkisan untuk para peserta. Aku berdiri di dekat meja tempat menaruh bingkisan.
Subhanalloh…dini hari itu menjadi sangat berarti bagiku. Sebuah energi luar biasa besar seperti merasuk dalam tubuhku yang sehari semalam belum memejamkan mata. Setiap bibir tersenyum. Ada rasa terimakasih yang tak terucap dari bibir mereka. Tapi aku tahu mereka mengucapkannya. Ada anggukan menyapa dari anggota BCC Banyumas. Seolah mengucapkan terimakasih telah datang di pagi buta ini.
Dalam kesibukan antrian aku seolah tersedot pada sebuah ruang terang yang berwarna putih. Tidak ada warna. Hanya putih menghampar. Sejauh mata memandang, hanya putih membentang. Lalu aku melihat tubuhku. Aku merasa menciut. Ternyata akulah warna lain dari tempat itu. Ya. Hitam. Aku menjadi titik hitam yang sangat kontras dengan tempat maha luas berwarna putih itu.
Aku merasa berada di tempat yang salah. Aku belum bisa mengubah diri menjadi putih. Aku beringsut dari tempat itu. Ingin berlari. Dan mendadak aku kembali tersedot ke halaman Polres Banyumas. Masih ada senyum-senyum itu. Dan aku ingin melihat hal itu sebanyak mungkin…