jump to navigation

Bidadari Semu September 24, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
trackback

Ide menggunung di kepala, tapi kemauan menulis serasa sirna. Akibatnya malah pusing sendiri. Jadi teringat seorang penulis pernah bilang, Aku menulis agar tidak gila”. Mungkin beginilah rasanya.
Beberapa sudah dituangkan dalam lembaran-lembaran yang lama terlupa. Membuat novel. Beberapa lainnya tertuang dalam diary. Tapi ada hal-hal yang aku pikir tak masuk ke keduanya. Salah satunya tentang tema ini. Reuni.
Well, Rabu (23/9) lalu, aku memang memutuskan datang ke acara reuni SMA. Agak surprise juga pas tahu yang datang ternyata sedikit banget. Padahal pas lihat di Facebook, kayaknya heboh banget.
Anyway, banyak senyum yang tercipta selama pertemuan panjang itu. Memori kekonyolan dan kebodohan sepuluh tahun silam tiba-tiba diputar ulang. Mulai dari minggat saat jam kosong sampai nyontek jawaban pas ulangan. Beberapa teman mengenang masa-masa terindah hidupnya saat berseragam abu-abu. Melirik malu pada perempuan yang dulu dipacarinya dan sekarang sudah menggendong manusia kecil dalam dekapannya. Atau menepis bara yang dulu pernah menyala saat teringat dendam karena rebutan cewek.
Re Uni. Bersatu kembali. Memang selalu membawa kenangan indah. Aku ingat dengan masa-masa satu dekade silam itu. Seperti juga ABG yang kerap terjebak dalam Devil’s Trap, aku juga pernah memendam kekaguman pada sosok lembut seorang perempuan. Setidaknya saat itu. Untunglah proteksi berupa aturan rumah untuk tidak pacaran membentengiku sampai lulus.
Pun begitu, kekaguman pada sosok yang sangat mirip dengan adik bungsuku itu terus mengusikku. Rambut lembutnya yang berwarna cokelat kemerahan, lengkung samar di ujung bibirnya saat dia tersenyum, dan sifat manjanya, benar-benar identik dengan si kecil. Sampai lulus pun kekagumanku pada kecantikan fisiknya tak pernah sirna.
Selama 9 tahun masa kuliah, aku tak pernah tahu kabarnya. Tak pernah tahu seperti apa wajahnya. Seperti apa jilbabnya (seandainya dia sudah memakainya) dan bahkan tak tahu apa nama universitas dan jurusannya. Sampai kemudian suatu hari, lewat situs jejaring sosial friendster, aku menemukan beberapa fotonya dalam balutan busana muslimah yang sangat anggun. Subhanalloh. Maha suci Allah yang telah menciptakan kesempurnaan. Batinku waktu itu.
Namun waktu berlalu dan kejutan lebih besar pun muncul. Di FB, semua kekagumanku sirna. Jilbabnya entah terenggut kemana, memperlihatkan rambut lurusnya yang berkilau. Baju panjangnya mungkin tergunting oleh pisau mode, memperlihatkan lengannya dan lehernya yang jenjang.
Seandainya pantas, ingin sekali mengatakan padanya, ukhti, pelihara kehormatanmu. Jangan obral ke sembarang mata. Tapi toh aku tak berhak. Dia hanya perempuan yang aku kagumi karena punya selaksa kemiripan dengan kepompong kecilku. Sekarang kepompong itu telah menetas menjadi kupu-kupu yang cantik. Mengepakkan sayap lembutnya untuk menebarkan keindahan. Sementara dia menetas menjadi makhluk lain yang tak kutahu namanya. Menebarkan sayap rentannya dengan keindahan palsu.
Sebagai saudara seiman, aku menyesal tak pernah sungguh-sungguh mencari tahu keberadaanya. Menyesal karena tak pernah bisa mengajarkannya istiqomah menutup aurat. Menyesal karena tak pernah bisa berbagi nasihat dan wasiat kebaikan. Menyesal karena dia akhirnya hanya menjadi bidadari semu.
Semoga hidayah Allah bisa menyinari hatinya. Amin..

Komentar»

No comments yet — be the first.