Bapak, Maafkan Aku Membohongimu Oktober 31, 2009
Posted by ciptabiru in Umum.add a comment
Karena lemahnya iman, aku sudah tak kuasa lagi menghitung, berapa kali sudah melakukan kebohongan. Namun yang terakhir kulakukan kemarin mungkin tak akan aku lupakan sepanjang sisa umurku.
Suatu pagi, aku diberitahu adikku bahwa Bapak sakit lagi. Beberapa bulan ini, beliau memang sering sakit jika terlalu capek. Padahal kegiatannya juga tak banyak-banyak amat. Mungkin pengaruh daya tahan tubuhnya yang terus menyurut seiring berkurangnya jatah umurnya.
Aku belum bisa menengoknya. Lebih tepatnya tidak siap. Aku sangat yakin, sakitnya kali ini bukan karena capek raga. Tapi capek pikiran.
Sekitar dua minggu sebelumnya, untuk pertama kalinya – setelah lebih dari 15 tahun- aku menangis di hadapannya. Aku ingin mengulangi saat-saat aku bersembunyi di balik punggungnya ketika ada yang mengancam keselamatanku. Aku ingin mengadukan ketakutanku. Aku ingin dia tahu masalahku. Dan lebih dari semua itu, aku ingin dia mendoakanku.
Aku ingat sebuah hadits yang mengatakan bahwa doa orang tua itu seperti doa seorang nabi untuk umatnya. Pasti makbul dan mustajab. Jadi aku bercerita padanya tentang kekalutan dan kegalauan jiwaku.
Beliau diam ….
Diantara gerimis air mataku dan empat saudara perempuanku, dia hanya mengatupkan bibirnya. Tak sepatah katapun keluar dari bibirnya yang menghitam oleh nikotin.
Demi Allah….
Aku tidak ingin membuat mereka seperti ini. Aku hanya mengharapkan bantuan doa dari mereka. Bukan menambah beban pikiran mereka. Saat itu juga terbersit penyesalan mengapa menceritakan derita hati ini pada mereka. Tapi semuanya sudah terlanjur. Aku memilih pulang ke kontrakanku kala hati telah menjadi lebih lega karena tindihan beban di pundak sedikit berkurang.
Seminggu kemudian adikku bertanya dimana bisa beli sate ayam saat siang hari. Perasaanku langsung tidak enak. Bapak sangat menyukai sate ayam. Aku langsung bertanya apakah bapak sakit. Adikku biang tidak. Dia tahu pikiranku masih kalut. Mungkin maksudnya tak ingin menambah beban di otakku. Tapi perasaanku tetap tak enak.
Kamis pagi si kecil pulang karena libur kuliah. Dia bilang bahwa bapak memang sedang sakit. Aku melihat awan di sekelilingku mendung. Tapi mataku lah yang kemudian gerimis. Airnya menciptakan sungai-sungai deras yang mengikis ketegaranku selama ini. Aku ambruk di atas sajadah yang telah akrab dengan guyuran air dari kelopak mataku.
Ya Allah….
Salahkah langkah yang telah kulakukan…?
Aku berkemas setelah menguras bendungan air panas di mataku. Aku membasuhnya agar tak terisisa pertanda tumpah. Aku tersenyum di depan kaca. Mencoba mematut diri dan membayangkan melakukannya di depan Bapak. “Hi Dad, I’m OK by the way. Don’t worry ’bout me. Everything under control now,” batinku.
Di halaman rumah aku melihat sosok renta sedang duduk di sebuah kursi kayu. Tatapan matanay kosong sambil menikmati hangatnya mentari pagi. Syaraf-syaraf mataku bereaksi. Mereka ingin merogoh sisa air yang tersimpang di balik korneaku. Aku bilang pada mereka, “Diam dan beristirahatlah”.
Belia menatapku. Matanya berkilau. Aku seolah terbetot ke masa lalu. Masa-masa ketika pulang dari sekolah dan memperlihatkan nilai rapotku yang semuanya berangka 9 dan 10. Mata yang sama.
Aku tahu dia senang melihatku. Aku langsung memaksa seluruh syaraf penggerak bibirku agar menciptakan senyum terbahagia yang bisa mereka lakukan. Aku harus bisa menampakkan diri bahwa aku baik-baik saja dan seolah semua permasalahanku sudah selesai. Ya, aku sangat ingin membohonginya saat itu. Dan berhasil. Dia tersenyum…..
Maaf Pak, aku membohongimu. Aku hanya ingin Bapak sembuh dan tak terlalu banyak pikiran. Ada gilirannya, dimana aku memang harus menyelesaikan masalahku sendiri. dan saat itu sudah datang….
Hikmah Kematian Oktober 4, 2009
Posted by ciptabiru in Umum.add a comment
Hari ini aku melakukan perjalanan penuh makna ke sebuah dusun terpencil di desa Sidoluhur. Sebuah desa miskin dan aku yakin tertinggal, di kecamatan Ambal, Kebumen.
Sebuah keluarga menyambutku penuh takzim. Menyilahkanku duduk dengan segala keramahannya, meskipun bekas-bekas sembab di mata mereka masih menghias. Aku sempat meminta untuk duduk di luar rumah saja, supaya tidak terlalu merepotkan mereka. Tapi mereka bersikeras untuk mengajakku masuk.
Aku bingung mau mulai dari mana begitu melihat pandangan heran yang menghunjam pada mataku. “Mungkin mereka ingin bertanya, siapa saya, darimana saya dan apa maksud kedatangan saya?” sebuah pertanyaan yang agak suilt kujawab karena kedatanganku ingin mengorek keterangan mereka yang kemudian kujual sebagai berita. Sungguh tak tega sekali mengatakannya.
Tapi mereka tersenyum. Aku tahu itu tulus sekali. Karena itu kemudian aku mengungkapkan maksud kedatanganku. Mereka tidak bertanya, tapi hanya menjawab satu per satu pertanyaanku. Sesekali mereka tertunduk. Mengambil nafas. Mencoba menghilangkan sesenggukan yang memaksa keluar dari dada mereka.
Sungguh, pada saat-saat seperti ini rasanya sangat tak tega. Aku merasa menjadi orang di tempat dan saat yang salah.
Poniman alias Dulhamid dan Waryunah istrinya (demikian nama keluarga itu) adalah keluarga yang baru kehilangan putra pertama mereka. Slamet, lelaki yang diharapkan bisa menggantikan peran Poniman mendadak tewas dengan kondisi mengenaskan saat bekerja bakti membangun sekolah SD di dekat rumahnya.
Jumat malam kemarin, aku juga baru saja melihat mayat di kamar mayat BRSUD Kebumen. Bau anyirnya benar-benar menusuk-nusuk hidung. Lengan jaket yang aku pake buat nutup idung juga tak maksimal. Bau busuk itu tetap saja menerobos masuk melewati pori-pori kain dan menyeruak ke rongga hidung.
Tubuh berwarna hitam itu sudah membengkak tiga kali lipat dari ukuran aslinya di bagian badan. Sementara kakinya menyusut berwarna pucat.
Foto terakhir, sekitar 10 menit sebelum dia dilaporkan menghilang menunjukkan kegantengan si korban. Memakai kaus agak ketat berwarna kuning, Joko (demikian nama si korban) terlihat gagah dengan kaca mata hitam yang menghalangi matanya dari terpaan sinar matahari pantai Bonorowo.
Ketika malam merayap seperti sekarang, aku jadi sadar. Betapa kematian itu sungguh tak bisa disangka kapan datangnya. Slamet yang menggantikan ayahnya bekerja bakti ataupun Joko Santoso yang jauh-jauh datang dari Bandung untuk menemui sang kekasih hati, semuanya tak mengira akan pergi untuk selama-lamanya.
Subhanallah…
Kematian adalah guru yang hebat. Dia mengajarkan makna kehilangan, mengajarkan ketegaran, mengajarkan penyesalan, mengajarkan cinta dan sekaligus mengajarkan hokum relativitas. Kematian juga mengajarkan pada kita bahwa semua yang ada di dunia ini akan sirna. Kegantengan, kegagahan, harta, kesombongan, bahkan raga, semuanya akan sirna berganti dengan kenisbian, kejelekan bahkan bau busuk…
Melihat tanda dan bukti kematian akan mengajarkan kepada kita, bahwa sesungguhnya tiada guna kita memupuk diri dengan harta dan kekuasaan. Apalagi kesombongan dan keserakahan. Tak ada gunanya sama sekali selain hanya sekejap sekali di sela hidup kita dunia.
Sesungguhnya alam akhirat itu kekal adanya. Dan dunia itu hanyalah sekejap. Jadi percuma jika hidup ini hanya kita habiskan untuk mengejar sesuatu yang juga fana adanya. Akhiratlah yang harus kita kejar. Karena di dalanya kita akan melalui hari-hari yang kekal..hari-hari yang tak terbayang panjangnya. Hari-hari yang tak terbayang nikmat atau siksanya…
Badan ini adalah belenggu. Maka jangan memanjakannya dengan kenikmatan sesaat. Perhatikan selembar zat bernama jiwa yang bersemayam di dalamnya. Penuhilah dengan makanan bernama iman. Hiasilah dengan sholat dan dzikir. Agar cahayanya memancar menerangi kegelapan dan kesempitan alam kubur…
Masihkah Ada Kesempatan Itu? Oktober 3, 2009
Posted by ciptabiru in Umum.add a comment
Haji, adalah khayalan perjalanan terindah. Demikian salah satu bunyi bagian SMS yang saya terima saat lebaran dan menjelang puasa lalu. Saya termenung membaca tulisan yang ditulis dengan cara disingkat-singkat ini. Indah sekali kata-katanya. Dan menohok ke kedalaman kalbu.
Saya mengiyakan. Saya sepakat bahwa khayalan untuk melaksanakan rukun Islam kelima ini yang mestinya dimiliki oleh seorang muslim. Ya, berhaji adalah menyempurnakan pernyataan kita sebagai seorang muslim. Berhaji adalah menggenapkan kewajiban yang mestinya dilakukan oleh orang yang memproklamirkan dirinya sebagai individu yang mempercayai Tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad sebagai rosul Allah.
Dalam setiap sujud akhirku, aku selalu menyampaikan pinta agar diberi kesempatan memberangkatkan Ayah menempuh perjalanan terindah itu. Dan mengkhayalkannya untuk diri sendiri adalah hal besar lain yang tersembunyi dalam kedalaman sanubari.
Pun begitu, hingga saat ini permintaan itu masih sebatas permintaan. Belum mampu mendorong segenap aspek dan kemampuan dalam diri ini untuk mengusahakannya menjadi nyata.
Kerap kali hati terasa menciut melihat Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH) yang terus membubung dari tahun ke tahun. Apalagi demi menoleh ke pendapatan yang selalu tanpa sisa saat bulan baru muncul ¾.
Mengunjungi Bank Penerima Setoran (BPS) Haji, kondisinya juga belum melegakan hati. Jika kemampuan financial hanya mampu menabung seratus ribu per bulan, maka dibutuhkan waktu 300 bulan untuk mewujudkan mimpi indah itu. Tiga ratus bulan itu sama dengan 25 tahun. Meski umur adalah rahasia Allah, tapi pesimis ayahku bisa menunggu selama itu. Bahkan seandainya kemampuan finansialku dipaksakan menjadi 300 ribu sebulan, masih dibutuhkan waktu 8.3 tahun untuk mewujudkannya. Jika aku memulai bulan depan, maka ayahku baru bisa berhaji tahun 2017. Dan itu berarti usianya saat itu sudah 72 tahun. Akan kasihan sekali dengan usia sebegitu renta, dia harus berlari diantara bukit sofa dan marwa, dan berhimpitan mencari kerikil untuk melempar jumroh.
Ya Allah, adakah jalan yang lebih pendek untuk mewujudkan mimpi itu? Adakah jalan yang lebih mudah bagiku untuk membahagikan jiwa Ayahku?