jump to navigation

Masihkah Ada Kesempatan Itu? Oktober 3, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
trackback

Haji, adalah khayalan perjalanan terindah. Demikian salah satu bunyi bagian SMS yang saya terima saat lebaran dan menjelang puasa lalu. Saya termenung membaca tulisan yang ditulis dengan cara disingkat-singkat ini. Indah sekali kata-katanya. Dan menohok ke kedalaman kalbu.
Saya mengiyakan. Saya sepakat bahwa khayalan untuk melaksanakan rukun Islam kelima ini yang mestinya dimiliki oleh seorang muslim. Ya, berhaji adalah menyempurnakan pernyataan kita sebagai seorang muslim. Berhaji adalah menggenapkan kewajiban yang mestinya dilakukan oleh orang yang memproklamirkan dirinya sebagai individu yang mempercayai Tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad sebagai rosul Allah.
Dalam setiap sujud akhirku, aku selalu menyampaikan pinta agar diberi kesempatan memberangkatkan Ayah menempuh perjalanan terindah itu. Dan mengkhayalkannya untuk diri sendiri adalah hal besar lain yang tersembunyi dalam kedalaman sanubari.
Pun begitu, hingga saat ini permintaan itu masih sebatas permintaan. Belum mampu mendorong segenap aspek dan kemampuan dalam diri ini untuk mengusahakannya menjadi nyata.
Kerap kali hati terasa menciut melihat Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH) yang terus membubung dari tahun ke tahun. Apalagi demi menoleh ke pendapatan yang selalu tanpa sisa saat bulan baru muncul ¾.
Mengunjungi Bank Penerima Setoran (BPS) Haji, kondisinya juga belum melegakan hati. Jika kemampuan financial hanya mampu menabung seratus ribu per bulan, maka dibutuhkan waktu 300 bulan untuk mewujudkan mimpi indah itu. Tiga ratus bulan itu sama dengan 25 tahun. Meski umur adalah rahasia Allah, tapi pesimis ayahku bisa menunggu selama itu. Bahkan seandainya kemampuan finansialku dipaksakan menjadi 300 ribu sebulan, masih dibutuhkan waktu 8.3 tahun untuk mewujudkannya. Jika aku memulai bulan depan, maka ayahku baru bisa berhaji tahun 2017. Dan itu berarti usianya saat itu sudah 72 tahun. Akan kasihan sekali dengan usia sebegitu renta, dia harus berlari diantara bukit sofa dan marwa, dan berhimpitan mencari kerikil untuk melempar jumroh.
Ya Allah, adakah jalan yang lebih pendek untuk mewujudkan mimpi itu? Adakah jalan yang lebih mudah bagiku untuk membahagikan jiwa Ayahku?

Komentar»

No comments yet — be the first.