Hikmah Kematian Oktober 4, 2009
Posted by ciptabiru in Umum.trackback
Hari ini aku melakukan perjalanan penuh makna ke sebuah dusun terpencil di desa Sidoluhur. Sebuah desa miskin dan aku yakin tertinggal, di kecamatan Ambal, Kebumen.
Sebuah keluarga menyambutku penuh takzim. Menyilahkanku duduk dengan segala keramahannya, meskipun bekas-bekas sembab di mata mereka masih menghias. Aku sempat meminta untuk duduk di luar rumah saja, supaya tidak terlalu merepotkan mereka. Tapi mereka bersikeras untuk mengajakku masuk.
Aku bingung mau mulai dari mana begitu melihat pandangan heran yang menghunjam pada mataku. “Mungkin mereka ingin bertanya, siapa saya, darimana saya dan apa maksud kedatangan saya?” sebuah pertanyaan yang agak suilt kujawab karena kedatanganku ingin mengorek keterangan mereka yang kemudian kujual sebagai berita. Sungguh tak tega sekali mengatakannya.
Tapi mereka tersenyum. Aku tahu itu tulus sekali. Karena itu kemudian aku mengungkapkan maksud kedatanganku. Mereka tidak bertanya, tapi hanya menjawab satu per satu pertanyaanku. Sesekali mereka tertunduk. Mengambil nafas. Mencoba menghilangkan sesenggukan yang memaksa keluar dari dada mereka.
Sungguh, pada saat-saat seperti ini rasanya sangat tak tega. Aku merasa menjadi orang di tempat dan saat yang salah.
Poniman alias Dulhamid dan Waryunah istrinya (demikian nama keluarga itu) adalah keluarga yang baru kehilangan putra pertama mereka. Slamet, lelaki yang diharapkan bisa menggantikan peran Poniman mendadak tewas dengan kondisi mengenaskan saat bekerja bakti membangun sekolah SD di dekat rumahnya.
Jumat malam kemarin, aku juga baru saja melihat mayat di kamar mayat BRSUD Kebumen. Bau anyirnya benar-benar menusuk-nusuk hidung. Lengan jaket yang aku pake buat nutup idung juga tak maksimal. Bau busuk itu tetap saja menerobos masuk melewati pori-pori kain dan menyeruak ke rongga hidung.
Tubuh berwarna hitam itu sudah membengkak tiga kali lipat dari ukuran aslinya di bagian badan. Sementara kakinya menyusut berwarna pucat.
Foto terakhir, sekitar 10 menit sebelum dia dilaporkan menghilang menunjukkan kegantengan si korban. Memakai kaus agak ketat berwarna kuning, Joko (demikian nama si korban) terlihat gagah dengan kaca mata hitam yang menghalangi matanya dari terpaan sinar matahari pantai Bonorowo.
Ketika malam merayap seperti sekarang, aku jadi sadar. Betapa kematian itu sungguh tak bisa disangka kapan datangnya. Slamet yang menggantikan ayahnya bekerja bakti ataupun Joko Santoso yang jauh-jauh datang dari Bandung untuk menemui sang kekasih hati, semuanya tak mengira akan pergi untuk selama-lamanya.
Subhanallah…
Kematian adalah guru yang hebat. Dia mengajarkan makna kehilangan, mengajarkan ketegaran, mengajarkan penyesalan, mengajarkan cinta dan sekaligus mengajarkan hokum relativitas. Kematian juga mengajarkan pada kita bahwa semua yang ada di dunia ini akan sirna. Kegantengan, kegagahan, harta, kesombongan, bahkan raga, semuanya akan sirna berganti dengan kenisbian, kejelekan bahkan bau busuk…
Melihat tanda dan bukti kematian akan mengajarkan kepada kita, bahwa sesungguhnya tiada guna kita memupuk diri dengan harta dan kekuasaan. Apalagi kesombongan dan keserakahan. Tak ada gunanya sama sekali selain hanya sekejap sekali di sela hidup kita dunia.
Sesungguhnya alam akhirat itu kekal adanya. Dan dunia itu hanyalah sekejap. Jadi percuma jika hidup ini hanya kita habiskan untuk mengejar sesuatu yang juga fana adanya. Akhiratlah yang harus kita kejar. Karena di dalanya kita akan melalui hari-hari yang kekal..hari-hari yang tak terbayang panjangnya. Hari-hari yang tak terbayang nikmat atau siksanya…
Badan ini adalah belenggu. Maka jangan memanjakannya dengan kenikmatan sesaat. Perhatikan selembar zat bernama jiwa yang bersemayam di dalamnya. Penuhilah dengan makanan bernama iman. Hiasilah dengan sholat dan dzikir. Agar cahayanya memancar menerangi kegelapan dan kesempitan alam kubur…
Komentar»
No comments yet — be the first.