Indahnya Ta’aruf (1) Maret 22, 2011
Posted by ciptabiru in Umum.trackback
Beberapa minggu yang lalu, aku akhirnya memulai sesuatu yang selama ini aku rindukan. Ya. Ta’aruf. Sebuah proses ikhtiar untuk memulai sebuah hubungan suci bernama pernikahan.
Suatu siang, usai menundukkan diri sekian lama dalam sujud akhir ba’diat dzuhur aku mengucap salam. Saat salam kedua, seuntai senyuman menyapaku. Wajahnya bersih bagaikan rembulan di tengah malam. Demi Allah, aku benar-benar lupa siapa pemilik senyum itu. Meskipun aku menyambut uluran tangannya, namun tak kunjung keluar memori mengenai siapa dirinya. Bahkan setelah dia mengucap namanya.
Kami bertukar kabar. Ajaibnya, dia tahu banyak mengenai diriku, pekerjaanku dan beberapa kegiatanku di masa lalu. “Jangan-jangan ini mungkin karena aku yang terlalu abai dengan orang orang di sekelilingku?” batinku.
Obrolan terus berlanjut sampai kemudian dia menanyakanku mengenai masalah pendamping hidup. Dengan minder, aku bilang bahwa sampai saat ini aku belum memilikinya. Apalagi momongan. Dia tersenyum, dan menawarkan padaku kemungkinan untuk mempertemukanku dengan beberapa perempuan teman istrinya. Aku juga tersenyum. Belum mengiyakan, sekedar menghormati penawarannya.
Satu hal yang membuatku langsung memuji nama Allah adalah tawaran itu datang sebegitu cepatnya. Ya. Beberapa menit sebelumnya, di sujud terakhirku, aku memang memohon kepada pemilik nafasku untuk membukakan pintu jodoh yang selama ini masih juga tertutup. Aku ingin dipertemukan dengan calon istri yang sholihah dan melalui proses mendapatkannya dengan cara-cara yang diajarkan oleh sang uswatun khasanah. Tak dinyana ternyata mungkin ini orang yang dikirimkan Allah untuk menjawab doa-doaku.
Karena ingin mengetahui siapa sebenarnya dirinya, akhirnya aku menerima ajakannya untuk main ke rumahnya. Ba’da Isya seminggu kemudian, aku ke rumahnya. Di sana baru aku ingat bahwa kami pernah bersama mengurus LAZIS (Lembaga Amil Zakat, Infak dan Shodaqoh) sekitar lima tahun sebelumnya.
Tiga hari berikutnya aku mengirimkan sebuah CV. Dan saat itu aku langsung diberi sebuah CV milik seorang akhwat. Aku tidak berani membukanya. Tapi tatapan mata sahabatku seperti memerintahkan aku untuk membukanya. Jadi aku membukanya. Membaca nama, tinggi badan, berat badan dan semua hal sampai niat si akhwat untuk menikah adalah ibadah.
“Bagaimana akh?” tanyanya.
Aku mengambil nafas dalam.
“Kalau memang niatnya seperti yang dituliskannya di sini, maka dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim, Insya Allah saya siap,” kataku sambil menunjuk CV milik sang akhwat.
“Baik. Tapi yang perlu antum (kamu) ketahui, semua ini (bertukar CV) belum menjamin apapun. Ini baru langkah awal. Jadi jangan terlalu berharap,” ingatnya.
“Insya Allah,” jawabku mahfum.
Seminggu kemudian, aku dikabari bahwa sang akhwat siap dipertemukan. Aku berdebar tidak karuan. Berbagai pikiran berkecamuk. Termasuk pikiran syaiton menganai persyaratan fisik. Apakah dia secantik foto yang disertakannya dalam CV (yang baru kulirik sekali karena takut berubah pikiran)? Apakah dia pemalu, suaranya keras, suka bercanda dan berbagai pertanyaan-tanyaan lain.
Astaghfirullohal’adzim. Segera kubuang pertanyaan-pertanyaan jahiliah itu. Aku kembali teringat sebuah kalimat yang ditulisnya di CV yang kubaca. “Tujuan Menikah : IBADAH”. Setelah itu aku mantap untuk menghadapi pertemuan itu.
Ba’da Isya, sebuah SMS mengagetkanku. Adrenalinku naik ke ubun-ubun. SMS itu seolah adalah tombol pemicu yang meledakkan jantung. Membuatnya berdetak ribuan kali lebih cepat dari biasanya. SMS itu juga seperti kunci pembuka semua pori-pori tubuhku. Mengalirkan keringat dari tabung-tabung penyimpannya. Menumpahkannya sampai membanjiri sekujur tubuhku.
Dengan degup jantung yang tak menentu, aku membonceng sahabatku. Sepanjang perjalanan yang hanya sekitar seratus meter tak hentinya aku beristighfar. Menyingkirkan prasangka dan keraguan yang datangnya dari syaiton. Kuyup di tubuhku semakin menjadi.
Dan datanglah saat itu. Sesosok perempuan mungil berdiri di balik pintu. Dia menjawab salam dan membukakan pintu. Tak selirik pandangpun aku berani melihatnya. Hanya guratan-guratan berwarna hitam di sela dua keramik yang berani aku tatapi.
Dipandu oleh sahabatku, kami saling bercerita dengan canggung tentang pribadi masing-masing, kondisi sekarang dan kondisi masa depan yang sedang dicita-citakan. Sebenarnya aku tidak begitu memikirikan apapun jawabannya. “Tujuan menikah: IBADAH” begitulah yang selalu aku ingat dari CVnya. Karena itu pasti semua hal bakal bermuara pada ibadah. Begitu pikirku.
Saat itu, seluruh telapak tanganku basah. Banyak kata yang tak becus kuucapkan. Dan aku juga tak berhasil merekam seperti apa wajahnya. Sebuah perasaan yang baru pernah kualami. Sejak kuliah, aku terkenal memiliki banyak sekali teman perempuan. Bahkan dulu kehadiranku sempat diidentikkan dengan adanya perempuan cantik. Bukan karena aku bergonta-ganti pacar, tapi kebanyakan temanku memang cantik-cantik. Dan saat jahiliahku dulu, aku tak malu kemana-mana dengan mereka.
Namun kini aku seperti kehilangan keahlianku berbicara di depan orang banyak. Aku lupa semua teori komunikasi yang kupelajari dari sekian banyak buku. Aku bahkan lupa bagaimana cara menghargai lawan bicara dengan cara menatapnya langsung. Seandainya ketemu di luar rumah setelah itu, aku yakin aku tak akan mengenalinya. Tapi aku tidak menyesal. Batinku, aku akan leluasa memandangnya jika Allah berkehendak. (bersambung)




siip….
d tunggu episode berikutnya
d tunggu episode berikutnya…
indah nya cinta yg halal