jump to navigation

Nggak Ada Loe Nggak Rame Maret 30, 2011

Posted by ciptabiru in Umum.
trackback

Bismillahirrahmanirrahiim
Mungkin banyak diantara kita yang sering mendengan jargon iklan milik sebuah produk rokok ini. Sekilas sepertinya sepele, namun bila direnungkan, ternyata artinya sungguh dalam. Selalu seperti ada yang kurang jika tidak ada kamu. Begitu kira-kira penerjemahan gampangnya.

Lalu siapa Loe (kamu) dalam iklan tersebut? Seorang sosok yang selalu dinanti kedatangannya karena pentingnya. Seorang yang ditunggu karena tanpa dia suatu peristiwa menjadi tak berarti. Seorang yang selalu memberikan perbedaan ketika berada di tengah-tengah situasi.

Apakah orang itu kita? Atau sudahkah kita menjadi orang tersebut?

Kemarin aku baru saja bertandang ke rumah seorang bapak. Ketiga anaknya sudah pergi dari rumah karena kewajiban menuntut ilmu di pesantren dan perguruan tinggi. Meski terlihat masygul karena kerinduan, tapi ada gurat  bangga yang tak berhasil disembunyikannya.

Dia bercerita anak sulungnya yang tak pernah punya keinginan menjadi pegawai atau karyawan meskipun dia telah berkeliling ke berbagai negara sejak masa SMA-nya. Dia begitu mandiri dan di sela kegiatannya keliling dunia tak kehilangan jatidirinya sebagai seorang muslimah. Seorang perempuan muda yang ditangisi warga ketika meninggalkan tempat KKNnya karena keuletannya mengajarkan huruf hijaiyah pada puluhan anak-anak dan para manula.

Dia juga bercerita anak keduanya yang menurutku tak kalah hebatnya. Seorang perempuan modern yang punya mimpi sederhana menjadi seorang pendidik. Perempuan yang tak silau dengan kemilau dunia dan segala macam kenikmatan yang ditawarkannya.

Sedang si kecil, satu-satunya laki-laki di rumahnya-selain dirinya, baru menapaki bangku pesantren setingkat tsanawiyah.

“Satu hal yang selalu saya pesankan pada anak-anak saya, saya selalu meminta mereka jangan cuma bangga hanya dengan menjadi rata-rata air atau seperti orang kebanyakan. Ada maupun tidak ada kamu, orang tidak akan ambil pusing. Buatlah perbedaan, dan jadilah orang yang lebih tinggi dari sekedar rata-rata air,” ceritanya.

Iya. Lelaki yang mengaku mulai kehilangan peran sebagai ayah ketika anak-anak lepas dari masa baligh ini telah meletakkan standar yang jelas pada putra-putrinya. Meski tak mau dibilang telah sukses mendidik anak, dia sebenarnya telah meletakkan dasar yang cukup kuat pada tiga buah hatinya.

“Kesuksesan orang tua mungkin beda-beda ukurannya. Bagi saya, yang penting mereka tidak pernah lupa, mau sehebat dan sebesar apapun mereka nantinya, ada orang tuanya yang tidak boleh dilupakannya. Itu saja sudah cukup bagi saya,” ujarnya sambil menerawang. Bahkan dengan lebih sederhana dia berucap, “jika nantinya mereka tetap mau mendoakan saya ketika saya sudah berada di alam kubur, itu sungguh sudah lebih dari cukup buat saya,”

Saat itu aku mendadak jadi teringat tulisan Muhaimin Iqbal tentang average high. Pemilik geraidinar.com ini membahas orang-orang dengan standar sangat tinggi yang hidup pada jaman dan sesudah rosululloh. Merekalah para sahabat dan para tabi’in serta tabi’it tabi’in. Orang-orang yang telah membuat perbedaan dengan keberadaanya.

Di tangan mereka, Islam berjaya di 2/3 penjuru dunia. Di tangan mereka pula, ilmu pengetahuan berkembang sangat pesat, dan penjadi pelita di abad kegelapan. Kesejahteraan meliputi seluruh negeri di bawah panji khilafah. Semua karena saat itu ada standar yang punya rata-rata sangat tinggi bagi orang-orang Islam. Standarnya apa lagi kalau bukan ketakwaan. Kepatuhan dan ketakutan kepada Allah, sang pemilik nafas, membuat semua orang melakukan apapun semata-mata karena ketakwaanya.

Nah, sekarang semua kembali pad akita sendiri. Apakah hanya mau menjadi orang-orang yang rata-rata air sehingga tak akan ada bedanya ada maupun tidak ada kita? Atau kita mau menetapkan standar tinggi rata-rata untuk bisa membuat perubahan. Semua tergantung kita…

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.