Mempertahankan Ramadan September 24, 2011
Posted by ciptabiru in Tidak terkategori.Tags: alhamadulillah, lebaran, ramadan, setelah ramadan, syukur
trackback

Alhamdulillah, setelah sekian bulan tak mengukir jejak di rumah ini, saya kembali berkesempatan untuk melakukannya. Alhamdulillah sekali lagi saya panjatkan sebagai tanda syukur tiada terkira atas segala nikmat yang senantiasa dicurahkan pemilik nafas saya. Atas kehendakNya pulalah, saya dikembalikan ke jalan yang lurus. Jalan-jalan sajadah yang selama ini selalu kurindui dengan tetes demi tetes air mata.
Saya ingat benar, tahun lalu segalanya masih berbeda. Saat-saat seperti ini, saya masih berkutat dengan amarah dan rasa jengkel. Berkali-kali memencet angka di pesawat telpon atau memencet keypad handphone. Memarahi wartawan saya yang tak kunjung mengirim berita atau karena beritanya tidak lengkap. Untuk menetralkan suasana, saya juga sering bilang pada mereka bahwa saya tidak bermaksud untuk marah sama sekali. Don’t make it personal. Ini semata-mata hanya karena urusan pekerjaan, jadi jangan dibawa ke hati jika kemudian saya melakukannya.
Tapi siapa yang dapat menjamin mereka melakukannya? Bagaimanapun mendengar amarah bukanlah sesuatu yang bisa diterima akal sehat. Apalagi tak dimasukkan ke hati.saya sendiripun bakal mengatakannya dengan jujur bahwa itu adalah hal yang nyaris tidak mungkin untuk dilakukan, bahkan jika yang melakukan adalah mantan teman satu kosan kita sekalipun.
Sekali lagu alhamdulillah… sekarang saya tak harus melakukan hal-hal seperti itu. Sekarang ketika matahari beranjak ke peraduannya, saya bisa bersimpuh di atas sajadah merah di masjid tercinta, Fatimah Azzahra. Tak ada lagi amarah. Tak ada lagi gundah. Tak ada lagi tangis kerinduan yang mengkhayalkan suara ustadz Shofwan yang begitu merdu melantunkan ayat-ayat surga.
Kini saya mengalaminya sendiri. Masuk ke dalam hayalan masa lalu itu dan tenggelam dalam buaian ayat-ayat quran yang memeras hati memaksa bendungan air di dalam mata jebol menganak sungai. Yang uncul kemudian malah rasa tenteram dan kesadaran betapa kerdilnya diri ini. Betapa banyaknya dosa yang terkoleksi selama ini, sekaligus memahami betapa kasih dan maha besarnya Allah.
Ramadan telah 23 hari berlalu. Tahun ini adalah ramadan terindah yang pernah saya lalui. Sepanjang hidup saya. Tak pernah dalam hidup ini terasa begitu sakit ketika Ramadan berlalu. Begitu takut tak akan menjumpainya lagi di tahun depan. Begitu kehilangan suasananya yang penuh berkah, rahmat, dan maghfiroh..
Saya baru sadar, bahwa tantangan terbesar ternyata bukanlah menahan lapar dan haus selama sebulan penuh kemarin. Tapi mempertahankan suasana dan nuansa ramadan selama 11 bulan kemudian. Karena di dalamnya terdapat ujian dan bukti, apakah amal kita diterima Allah selama sebulan penuh kemarin.
Kita tentu ingat, selama sebulan kemarin, begitu semangat kita ikut shalat tarawih. Begitu enteng kita merogoh saku untuk beramal. Serta begitu longgar waktu kita untuk bertilawah. Semua orang melakukannya, sehingga dengan mudah pula kita melakukannya.
Tapi lihatlah sekarang. Saat hanya ada satu dua orang yang duduk di masjid sambil memegang mushaf. Saat hanya ada satu shof orang yang sholat maghrib atau isya. Saat bahkan hanya ada dua atau lima orang yang berjalan di kegelapan malam, melawan dinginnya pagi untuk sholat subuh. Masihkah kita bisa mempertahankan ramadan di hati kita..?



Komentar»
No comments yet — be the first.