The Visible Angle November 4, 2011
Posted by ciptabiru in Me and My Sister, Umum.trackback
Siang tadi aku dapat SMS dari seorang kenalan. Seorang lelaki sepuh yang masih sangat bersemangat ber-tolabul ‘ilmi ke berbagai kota. Seorang lelaki yang memberi saya inspirasi, betapa umur tak boleh menghalangi kita untuk terus belajar.
“Syukron my VISIBLE ANGLE. That advice is what I realy needs”.
Begitu tulisnya. Aku merinding membacanya. Pertama karena takut. Takut pada godaan syeitan yang membisiki hati untuk mengenakan selendang Al Kibr. Padahal tak satupun makhluk yang boleh mengenakannya. Itu adalah satu-satunya pakaian yang hanya sang Khaliq yang boleh memakainya.
Membayangkan seseorang menyebut diri ini sebagai malaikat justru seperti menghempaskanku ke dalam jurang maha dalam yang gulita dan tak berdasar. Aku melayang turun tanpa tahu kapan akan mendarat dengan tulang-tulang remuk tanpa bentuk. Astaghfirulloh….Astaghfirulloh….Astaghfirulloh….
Aku tahu, bukan makna harfiah yang dimaksud lelaki pensiunan perusahaan tambang emas terbesar di dunia ini. Mungkin maksudnya adalah untuk menyebut seseorang yang memberinya berkas kebaikan di dalam hatinya. Kebaikan yang seperti apa yang telah kuberikan kepadanya, aku juga tidak berhasil mengidentifikasinya.
Yang ku ingat, aku begitu terkesan saat kajian ‘Ulumul Quran ba’da maghrib tiga minggu lalu. Saat itu harusnya kajian diisi oleh ustadz Sofwan seperti biasanya. Tapi entah kenapa, doktor ilmu Al-Quran itu malah mempersilahkan salah satu tamu Allah di masjid tercinta kami untuk mengisinya. Kami, para jamaah begitu penasaran.
Aku kemudian begitu terkesima dengan metode menghafal Al-Quran yang menurutnya ditemukannya. Dia mendemonstrasikan bagaimana mudahnya menghafal ayat-ayat Al-Quran. Dia menyuruh salah seorang jamaah maju dan mempraktekkan hafalan alquran yang telah diajarkannya tadi siang pada jamaah tersebut. dan SUbhanalloh, meski terbata-bata, orang itu berhasil melakukannya.
Aku bertasbih memuji sang Khaliq. Menyadari begitu besar nikmat yang dilimpahkannya pada diri hina ini. Subhanalloh..Baru tiga hari lalu aku bertemu seorang pensiunan perusahaan minyak di kajian rutin Rabu pagi. Beliau bercerita betapa inginnya memanfaatkan rumah yang baru dibelinya untuk kemaslahatan ummat. Membuat rumah tahfidz adalah impiannya.
Dipertemukan dengan keduanya dengan waktu dan kesempatan berbeda, membuat aku begitu ingin mempertemukan mereka. Dan Alhamdulillah, kesempatan itu datang. Dua lelaki sepuh itu bertemu dan mendiskusikan mimpi dan visi mereka yang ternyata sama. Aku cuma bisa tersenyum memandangi kedua kakek ini begitu antusias bercerita. Sambil sesekali berucap amin saat mereka memanjatkan doa agar cita-cita mulia mereka terealisasi.
Dari sini, saya yakin, bahwa the visible angel yang sesungguhnya adalah mereka berdua. Allah menunjukkan kepadaku, dua orang yang mengajariku untuk berjuang di jalan Allah. Allah memperlihatkanku semangat, kesungguhan, keikhlasan dan pengorbanan tanpa pamrih dua orang yang ingin mengabdikan sisa hidupnya hanya untuk pemilik jiwanya.
Aku juga merinding karena menyebut seseorang sebagai malaikat adalah kebiasaanku dalam tulisan. Tidak dalam artian sesungguhnya. Kadang kita memang mengidentikkan seseorang yang memberikan pengaruh hebat pada diri kita dengan menyebutnya sebagai angel. Aku juga begitu. Seorang perempuan kecil yang menjadi inspirasi bagi kehidupanku. Seorang yang tanpa disadarinya selalu menjadi motivasi sekaligus kekuatan untuk terus tersenyum dan berusaha.The Little Angel. Begitu aku menyebutnya. Semoga semua ini bisa diambil hikmahnya




Komentar»
No comments yet — be the first.