jump to navigation

Prasangka Wong Banyumas dan Prasangka Urang Bandung Maret 8, 2008

Posted by ciptabiru in Bahasa, Umum.
add a comment

Mengunjungi daerah lain yang menggunakan bahasa berbeda dengan bahasa yang saya gunakan selalu menjadi sesuatu yang menarik bagi saya. Karena itulah, saya selalu antusias ketika pergi ke sebuah daerah yang saya tahu bahasanya lain. Begitupun ketika ada tawaran dari seorang sahabat saya yang tinggal di Bandung Jawa Barat.
Pengalaman awal saya ketika akan pergi ke kota ini, nyaris sama ketika saya pergi ke Surabaya (Radar Banyumas Edisi Minggu (24/2) lalu). Ya, di kota saya sendiri, di Banyumas, saya selalu disapa orang dengan bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Padahal yang menyapa saya juga saya tahu pasti bahwa dia orang Banyumas.
Sebenarnya, kegamangan untuk mempertahankan budaya daerah atau menerima arus modernisasi dengan melebur bahasa dengan serbuan jutaan istilah baru dari berbagai bahasa juga terjadi di Bandung dan tanah pasundan pada umumnya. Di sana, mereka juga kerap berdebat mengenai eksistensi dan keharusan menyelamatkan bahasa Sunda dan budaya-budayanya. Tapi yang membuat saya salut, mereka tak sekedar merasa prihatin. Mereka mewujudkan keprihatinan itu dalam sebuah wacana. Mereka menerbitkan buku. Mereka menerbitkan kamus Bahasa Sunda. Mereka mengadakan seminar dan diskusi serta berbagai kegiatan yang gaungnya bisa didengar ke seluruh sudut Jawa Barat karena disupport oleh media.
Sementara kita di Banyumas, kadang hanya bisa mengelus dada saat anak-anak kita atau generasi muda sudah tak punya rasa unggah-ungguh dengan generasi yang lebih tua. Jangankan menggunakan bahasa kromo inggil, bahasa ngopo saja sudah sangat jarang digunakan oleh anak muda jaman sekarang. walhasil nilai ke-Banyumas-an semakin luntur di masa sekarang.
Parahnya, kita juga sangat jarang membuat langkah nyata untuk menyelamatkan keadaan ini. Seminar bahasa Jawa dialek Banyumasan, mungkin baru pernah diadakan dalam hitungan jari. Sementara buku yang khusus membahas tentang bahasa Jawa dialek Banyumasan, mungkin malah belum ada.
Tapi tak apalah. Mungkin ini terjadi karena Banyumas memang tak bisa dibandingkan dengan Bandung. Dari segi luas dan status saja, Banyumas memang sudah kalah. Di sini cuma kota kabupaten. Sedang Bandung adalah kota provinsi. Di sini cuma ada tiga perguruan tinggi. Sedang di Bandung jumlahnya bisa ratusan. Yang dengan sendirinya tersedia cukup banyak orang ‘yang bisa dan mau berpikir’ tentang masalah kebahasaan dan kebudayaan daerahnya.
Ada satu hal yang sangat menarik yang saya rasakan ketika berada di Bandung. Yakni apa yang saya sebut sebagai prasangka Bandung. Di Bandung, orang (mungkin) selalu mengira bahwa orang yang ditemui dan diajak bicara adalah orang Bandung. Atau minimal adalah orang yang bisa berbahasa Sunda.
Tak heran, begitu berjumpa dengan orang, saya langsung ditanya ‘Kumaha da(ra)mang?’ Selain itu, saya juga selalu dipanggil dengan sebutan Aa (mas kalau di tempat kita). Mereka (orang-orang Bandung) juga selalu menyapa saya dengan bahasa Sunda. Baru setelah saya bilang saya dari Jawa, mereka mengganti bahasa pengantar dengan bahasa Indonesia, tentu saja masih dengan logat Sundanya. Dan hal ini saya alami bukan cuma di tempat kos teman saya. Tapi juga di warung makan, di angkutan kota, di bengkel sepeda motor, di sentra pembuatan keramik atau bahkan di kampus sekalipun.
Saya melihat ada sebuah kepercayaan diri yang sangat tinggi di benak orang-orang Bandung (dan mungkin juga orang Sunda). Mereka (mungkin) berpikir bahwa semua orang yang ditemuinya adalah orang yang bisa berbahasa Sunda. Karena itu mereka selalu menyapa dengan bahasa mereka. Jika ternyata yang diajak bicara tak bisa bicara bahasa Sunda, baru mereka menggantinya.
Beda sekali dengan orang Banyumas yang langsung memilih menggunakan bahasa Indonesai saat menyapa orang baru. Meskipun, hal ini juga tak bisa kita vonis sebagai representasi rasa minder. Kemungkinan bahwa kita (orang Banyumas) sangat menghargai orang-orang baru yang belum dikenal dengan menyapanya menggunakan Bahasa Indonesia, bisa saja dikemukakan sebagai alasan. Namun tanpa kita sadari, dengan berbuat demikian kita sudah menomorduakan bahasa kita sendiri di rumah kita. Kita juga selalu berprasangka bahwa orang-orang yang kita temui tak tahu dan tak bisa bahasa Banyumas. Atau jangan-jangan alasan sebenarnya adalah karena kita malu? wah, kalau jawabannya adalah yang terakhir ini, saya mendingan mengangkat kedua tangan saya sejanak. Setelah itu saya turunkan untuk mengelus dada saya. Ingat. Mengelus, bukan menepuk.

Mari Bermimpi Desember 21, 2007

Posted by ciptabiru in Bahasa, Umum.
2 comments

Jangan apriori dulu dengan ajakan saya. Mimpi yang saya maksud adalah mimpi yang positif. Bermimpilah, dan kemudian Wujudkanlah!

Delapan tahun lalu, ketika mendaftar di Lembaga Pers Mahasiswa Husbandry, saya harus mengisi motto hidup saya di formulirnya. Sungguh, waktu itu bingung banget mo diisi apa.  Bagi saya, motto itu seperti sebuah visi sekaligus missi. Jadi sesuatu yang bersifat futuristik, visioner sekaligus bisa dilakukan. Karenanya kata-kata yang tertuang mesti sebuah pesan sekaligus perintah bagi saya pribadi saya.

Well, karena waktu itu belum menemukannya, akhirnya kukosongi. Ini yang kemudian mengakibatkan kemarahan senior saya sekaligus menuduh saya sebagai tidak teliti dan tak punya tujuan hidup. Namun pada malam harinya, Joto, senior saya yang kemudian jadi teman akrab saya, mengatakan sesuatu yang sangat menyentuh hati saya. Yaitu tentang mimpi dan kewajiban untuk mewujudkannya. Sejak saat itulah, aku punya motto baru, ‘Cause You can Dream It, So You can Do It.

Ini sebuah visi sekaligus misi yang harus dipertanggungjawabkan. Bentuk sebab akibat ’cause-So aku pilih sebagai pertanggungjawaban dari apa yang aku ingin lakukan dan sekaligus mencari cara dan jalan bagimanan cara mewujudkannya. “Karena kita bisa mempikannya, kita pasti bisa mewujudkannya”.

Dalam kalimat perintah, sebenarnya motto saya bisa diganti dengan “Dream it and Do it!”. Namun saya tidak memilih itu karena melihat kecenderungan yang ada di dalam diri saya. Saya kadang tidak istikomah dengan apa yang saya inginkan. Kalau sudah jadi perintah, seperti kalimat terakhir, berarti saya HARUS. Tetap dengan kata KARENA dan MAKA sebagai bentuk sebab akibat, maka saya masih bisa menyesuaikan dengan kondisi saya. Kira-kira begitulah alasannya.

Kembali ke masalah mimpi, banyak lho peradaban yang dibangun dari mimpi. Mobil, pesawat, kereta api yang sekarang mengisi nyaris seluruh ruang di muka bumi dan udara kita adalah hasil mimpi para penciptanya. Bedanya, mereka mau dan mampu mewujudkannya.

Ini artinya Negara aman, hidup makmur, udara bersih, dan kedamaian juga bisa kita mimpikan dan sekaigus diwujudkan. Tinggal kita mau melakukannya atau tidak. Mari Bermimpi untuk menjadi aman, makmur, udara bersih dan juga hidup damai.

EGOIS November 15, 2007

Posted by ciptabiru in Bahasa, Filsafat, Umum.
2 comments

Egois. Bagaimana kita bisa memaknai satu kata ini agar-agar benar-benar tepat? Katanya dari makna harfiahnya, egois berarti orang yang mementingkan diri sendiri. Ini berasal dari kata ego yang berarti diri sendiri; diri pribadi; keakuan. Sifat mementingkan diri sendiri kemudian disebut sebagai egoisme. Sesuai tambahan kata isme di belakangnya, egoisme kemudian berubah menjadi sebuah paham. Paham yang mengagungkan diri sendiri.

            Menurutku, kalo mau jujur, sebenarnya egoisme murni itu tak pernah ada. Maksudnya, seperti juga benar-salah, tidak pernah ada nilai absolut untuk makna egois. Kenapa demikian? Karena pada dasarnya seseorang itu memang secara kodrati diciptakan sebagai makhluk sosial. Artinya, dia tak bisa hidup sendirian saja. Selalu membutuhan orang lain, betapapun kecilnya lingkup pergaulan yang diakrabinya. Karena itulah kemudian aku menyebut ini sebagai ketidakmungkinan sebuah egoisme secara total.

             Maksudku begini. Seseorang memang cenderung mementingkan dirinya sendiri. Tapi dalam setiap keadaan, sesungguhnya bukan murni dirinya sendirilah yang dijadikan pusat untuk meneguhkan sebuah pendirian ataupun sikap sehingga dia dicap sebagai orang yang egois.

             Ambil contoh begini. Sabtu besok, sahabatku mau menikah. Aku sebenarnya  sudah pernah berjanji mau  menghadiri pesta pernikahannya. Maksudku, peristiwa itu memang aku anggap sebagai peristiwa yang penting sekaligus sakral bagi dia. Sebuah pernikahan adalah prosesi yang oleh siapapun, hanya ingin dilakukan hanya sekali dalam hidupnya. Saat membuat janji ini, kondisiku belum seperti ini. Aku masih beranggapan setiap saat aku ada waktu untuk dia. Bahkan sekalipun dunia mendadak dilanda angin topan, aku merasa bisa tetap menghadiri pernikahannya. Itu pemikiranku pada saat itu.Tapi kemudian  keadaan berubah. Aku bekerja. Dia balik ke Jakarta. Aku sibuk dengan pekerjaanku dan dia otomatis juga memilih Jakarta sebagai tempatnya untuk melangsungkan pernikahannya. Saat hari H pernikahannya, ternyata aku ada seabreg agenda yang harus aku lakukan. Dan itu tak bisa tidak harus aku lakukan sendiri. Tak bisa diganti orang lain. Jika aku tak berangkat, aku pasti dicap sangat egois oleh dia. Sebaliknya kalau aku bernagkat, aku akan dicap egois dan hanya mementingkan kepentingan pribadi oleh rekan-rekan kantor. Itu belum termasuk adik-adik angkatanku yang menginginkan aku untuk menjadi pemateri dalam diksar, plus mendatangi acara launching di Jogja. Semuanya terjadi pada hari Sabtu. Pilihan mana yang tidak akan membuatku tidak dikatakan sebagai orang egois? Aku juga tak mungkin menghindari semua kegiatan itu. Karena itu justru akan semakin membuat mereka kompak menyebut aku sebagai orang yang egois. Celakanya, aku juag tak mungkin membagi tubuhku menjadi empat atau lima untuk menghindari cap egois itu sekaligus.

         OK, sekarang kembali ke topik.

Sekarang aku ambil contoh lain. Napoleon Bonaparte, atau Hitler, atau Benito Musolini, atau Idi Amin Dada. Bagi sebagian besar orang di muka dunia, mereka adalah para diktator yang sangat mengagungkan keunggulan ras mereka. Keegoisan mereka dengan keunggulan yang diklaim dimiliki rasnya membuat mereka menganggap orang lain hanyalah sampah. Tapi bagi rasnya, bagi pengikutnya, mereka adalah pahlawan. Mereka adalah orang-orang yang mau berjuang mati-matian menegakkan kepentingan bersama di atas kepentingannya sendiri.

            Komunitas gereja vatikan adalah contoh lain yang sangat jelas. Karena alasan kemurnian ajaran yang mereka pegang, mereka telah melakukan kebohongan besar selama 2000 tahun lebih. Menganggap bahwa Yesus adalah sosok ilahiah meski bukti-bukti sudah tak bisa disangkal lagi bahwa dia hanyalah anak manusia. Bagi semilyar penganut Kristenitas, mereka adalah orang-orang yang mendarmabaktikan hidupnya atas nama kebenaran dan kebaikan. Tapi bagi orang-orang yang sadar, mereka tak ubahnya sekelompok orang yang egois untuk kepentingan tertentu.

            Inilah yang kemudian saya sebut sebagai relativitas. Jadi dalam ilmu psikologipun relativitas berlaku. Ini bisa terjadi karena perbedaan cara pandang. Konon, kebenaran kan memang disesuaikan dengan kekuasaan yang sedang berlaku. Bisa saja saat ini benar, tapi saat kekuasaan ebrganti, salah bisa benar dan sebaliknya.

            Dalam kasus kecil yang menimpaku, tampaknya itu tidak bersinggungan dengan masalah kekuasaan. Mungkin variabel yang lebih tepat untuk menterjemahkan makna benar dan sekaligus EGOIS itu adalah waktu. Ya, waktu kadang akan menjawab berbagai pertanyaan yang tak bisa terjawab sekarang ini. Waktu juga kerap menjawab berbagai prasangka dan tuduhan.

              Jadi, kemudian biarlah waktu yang akan menentukan apakah aku egois atau tidak. Karena tidak ada egois yang absolit. Pun demikian dengan kebenaran.