True Love September 18, 2008
Posted by ciptabiru in Filsafat, Umum.add a comment
Selama ini yang ada dibayanganku tentang seorang wanita yang akan menjadi istriku adalah wanita sempurna nan ayu parasnya. Jilbabnya panjang menjurai menutupi tubuhnya yang tinggi semampai. Matanya lentik menyorotkan keteduhan dan senyumnya meredupkan amarah dan kejengkelan. Aku yakin itu adalah bayangan semua lelaki yang mengidealkan bidadari surga sebagai pendampingnya. Setidaknya lelaki normal pasti menginginkan kesempurnaan dari sosok pasangannya.
Aku membayangkan cintaku tak akan kering mengalir pada istriku pada saatnya nanti. Membahagiakannya dengan senyum dan belaian penuh perlindungan serta mendampinginya mengarungi gurun kehidupan untuk bersama meraih ridlo di jalan Allah.
Tapi itu semua sebelum aku bertemu dengan temanku (namanya sengaja aku hilangkan karena aku tak mau ini membuatnya bersedih). Ceritanya suatu hari aku diundang mampir ke rumah teman SMA-ku. Kami sudah lama tidak bertemu. Dan ternyata dia sekarang tinggal di kota yang sama denganku setelah lulus kuliah.
”OK lah. Aku juga belum pernah mampir ke rumahmu,” kataku menyetujui ajakannya.
Sampai di depan rumah, temanku mengeluarkan anak kunci dari sakunya dan segera mau membuka pintu.
”Lho, di rumah nggak ada orang?” tanyaku.
”Ada. Tapi aku memang selalu membawa kunci sendiri,” ujarnya menjawab.
”Ooh..”
”Mari masuk. Ya beginilah gubug kami. Maaf kalau tidak membuatmu berkenan,” katanya merendah.
”Oh ya. Kamu mesti bersyukur. Meskipun belum seperti rumah-rumah yang ada di sinetron, setidaknya ini sudah rumah sendiri. Aku? Sampai sekarang masih harus berpindah-pindah rumah kontrakan,” kataku membesarkan hatinya.
”Oya silakan duduk. Aku masuk sebentar,” ujarnya pendek.
Aku duduk di kursi dari kayu itu. Tidak empuk tentunya. Aku mengedarkan pandangan ke ruang tamu kecil itu. Ada foto anak kecil yang tergantung di tembok sedang tertawa lepas. Kelihatannya bahagia sekali. Aku yakin itu anak temanku.
Rumah itu memang kecil. Tapi sangat terawat dan membuat yang masuk ke dalamnya betah. Angin semilir mengalir dari lubang angin di dekat plafon. Belum ada eternit yang menutupi atapnya. Tapi tak ada kotoran di sana. Semuanya tampak bersih.
Tiba-tiba ada suara seperti benda berat yang diseret di atas lantai terdengar.
“Srekk…srekk…srekkk”.
”Masya Allah…..” batinku
Seorang wanita keluar dengan cara menyeret tubuhnya. Di belakangnya, kulihat temanku tersenyum.
”Kenalkan. Ini istriku. Ummi, kenalkan ini temanku, Chuby,” suara temanku mengagetkan lamunanku.
”Ehm..senang bertemu dengan anda,” ujarku sambil menangkupkan tangan di depan dada. Wanita itu tersenyum. Hatiku berdesir. Aku tahu. Dia pasti tahu kalau aku mengamati keadaanya. Tapi dia agaknya maklum. Begitu juga dengan temanku.
Temanku meletakkan gelas dan nampan berisi makanan kecil ke meja. Kemudian dia membimbing istrinya masuk lagi setelah berpamitan denganku. Aku memandanginya sampai tubuh mereka menghilang dibalik gordyn.
Aku merasa tidak percaya dengan apa yang kulihat. Temanku itu adalah cowok paling ganteng saat SMA dulu. Tak ada cewek yang pernah menolaknya kalau diajak jalan. Bahkan beberapa cewek sempat kudengar bertengkar karena memperebutkan dirinya. Tapi apa yang kulihat sekarang membuatku seolah tak bisa mempercayainya.
”Hei..kok melamun,” tegur temanku mengagetkan flashback-ku ke masa lalu.
”Ehm..ee. iya eh, emm maaf,” jawabku salah tingkah.
”Kau pasti bingung dengan keadaan istriku kan?” tebaknya seperti tahu apa yang sedang kupikirkan.
”E..sebenarnya.. iya,” ujarku tak enak.
”Yah..inilah kehidupan sobat. Wellcome to the real world,” katanya bercanda.
”Maksudmu?” tanyaku hati-hati.
”Kau pasti merasa heran, kenapa aku menikahi orang cacat kan?” tanyanya.
Bukkk! Aku merasa dia meninjuku tepat di ulu hatiku. Rasanya mual sekali. Aku memang memikirkan itu. Tapi demi Allah, aku tidak akan mengucapkannya segamblang yang dilakukannya.
Aku terdiam. Tapi rupanya temanku paham benar dengan pribahasa yang mengatakan bahwa ‘Diam berarti Iya’.
”Allah sobatku,” katanya pendek.
”Allah lah yang membuatku mencintainya. Aku merasa sangat beruntung diberi istri ’sesempurna’ dia. Aku pikir, tak ada wanita sesempurna dia yang hidup di jaman ini. Yang mencintai nabi-Nya dan mencintai Allah seperti dia. Aku rela menjadi nomor tiga di hatinya. Dan itulah yang membuatku semakin mencintainya. Tak peduli bagaimanapun keadaannya. Aku tak peduli jika dia buta. Aku tak peduli jik adia tidak bisa berjalan. Aku tak peduli jika dia tuli sekalipun. Aku tahu sobat. Dari bibirnya selalu terlafal dzikrullah. Mukanya selalu bersinar oleh air wudlu dan lebih dari itu semua, dia tak pernah mengeluh dengan kondisinya” terang temanku panjang lebar.
”Subhanallahi Allahu Akbar,” bisikku. Tiba-tiba mataku berembun. Dan sekian detik kemudian, embun itu meleleh dan menciptakan sungai kecil yang membasahi kedua pipiku. Aku tak kuasa menahannya. Aku memeluk temanku. Aku merasa sangat kerdil di hadapannya.
Aku selalu memimpikan istri yang cantik parasnya, baik budinya, sempurna tubuhnya dan segala hal yang ideal-ideal. Aku tidak pernah mengetahui bahwa ‘kesempurnaan’ juga bisa terwujud dari ‘kekurangan’.
Aku selalu menganggap cinta sejati hanya bisa tercipta pada dua manusia yang normal. Yang lengkap bagian tubuhnya. Yang bisa saling memapah saat salah satunya jatuh. Yang bisa bersama-sama belanja kebutuhan keluarga, bersama-sama membersihkan rumah dan hal-hal yang bisa dilakukan dua orang dengan kaki utuh. Tapi temanku menunjukkan bahwa Allah lah cinta yang sebenarnya. Allah lah cinta sejati.
Astaghfirulloh hal’adzim….
Ampuni aku. Ampuni kepicikanku ya Allah
Let’s Make a Move… Agustus 14, 2008
Posted by ciptabiru in Filsafat, Umum.add a comment
Aku sering sekali berkhayal bisa menggerakkan benda sesuai keinginanku. Banyak orang bilang, kekuatan pikiran (otak) bisa melakukannya. Karena itu aku sering bertindak konyol. Memandang lekat-lekat benda itu dan memerintahkannya melayang dan bergerak mendekatiku.
Tapi sampai sekarang, usaha itu belum pernah berhasil. Padahal aku sudah mencoba berbagai tingkatan bobot. Mulai dari cotton buds yang bobotnya cuma beberapa gram sampai barble seberat 6 kg. Aku tidak tahu, entah caranya yang salah atau memang kekuatan pikiran (untuk mengangkat benda dan terbang) itu sebenarnya tidak ada.
Sekali waktu, aku juga berhayal bisa mengangkat badan sendiri, melayang atau bahkan terbang. Seperti juga hayalan pertama, aku juga melakukan hal bodoh. Duduk bersila dan berharap tubuhku terangkat seperti para kultivator dan ahli yoga.
Aku pikir, bisa terbang, atau bahkan berpindah ke suatu tempat dengan sekejap akan sangat berguna di saat harga BBM seperti sekarang ini naik gila-gilaan. Tapi sekeras apapun aku mencoba meringankan tubuh dengan berkhayal melepaskan bobot tubuhku ke angkasa, tak sesentipun aku mengambang.
Aku kemudian berpikir, seberapa tebalkah batas antara kekuatan otak dan khayalan. Maksudku begini, keinginan akan sesuatu kadang hanya berupa sebagai khayalan. Jadi sekuat apapun khayalan itu dipikirkan, tanpa melakukan sebuah usaha yang nyata, mungkin tidak akan menjadi sebuah kenyataan.
Kekuatan otak atau pikiran menurutku memang ada. Tapi mungkin itu baru akan berlaku jika ada sebuah kesatuan antara otak, hati dan gerak. Iman adalah salah satu contohnya. Kita kadang bertanya-tanya, kenapa sih kita percaya dengan agama? Ada yang bilang, agama itu ada karena dipercaya. Kalau di dunia ini sudah tak ada lagi yang percaya, maka agama itu mungkin tidak akan lagi ada.
Seorang teman pernah berpendapat bahwa agama itu no need true. Tak butuh pembuktian bahwa Tuhan dan segala tetek bengeknya yang menyertai agama itu ada.
“Itu adalah firman Tuhan. Kita tinggal percaya aja. Akal kita tak akan sanggup menjangkaunya,” katanya.
Aku manggut-manggut sejenak. Untuk sesaat aku membenarkannya. Tapi sesaat kemudian aku bilang kepadanya.
“Akal kita memang sangat terbatas untuk menjangkau kekuasaan Tuhan. Tapi kita bisa membuktikan keberadaan Tuhan sekaligus untuk apa kita beragama,”.
”Maksudmu?” tanya temenku.
”Kau lihatlah matahari yang terbit setiap pagi dan teratur terbenam setiap sore. Jangan bilang itu adalah sebuah kebetulan. Lihat juga kesetiaan bulan mendampingi bumi dengan berbagai fase dan bentuk yang berulang pada periode tertentu. Apakah itu sebuah kebetulan? Ada kekuatan dan kecerdasan yang mengatur itu semua. Dan kita bisa mempelajarinya,” uraiku panjang lebar.
Dan aku pikir itu bukan sebuah hal yang sulit untuk dipahami. “It’s an evident that God is excist,” tandasku.
Dia tersenyum memandangku. “Saat ini, bagiku cukup dengan
meyakini bahwa Tuhan itu ada dan agama itu berguna,” katanya.
”Bagaimana dengan ibadahmu,” tanyaku.
”Aku cukup puas dengan yakin bahwa Tuhan itu ada,” katanya lagi. Aku menghirup nafas. Susah juga menasehati orang-orang seperti ini.
Kembali lagi ke masalah kekuatan pikiran. Sebenarnya apa yang sering dibicarakan para mentalist (begitu mereka menyebut dirinya) sebagai kekuatan pikiran adalah omong kosong. Aku sangat yakin, bahwa mereka pasti dibantu oleh bangsa jin. Mungkin mereka sudah membuat perjanjian dengan setan (make a deal with devil) untuk bersepakat merusak akidah manusia beragama.
Penjelasannya begini. Bangsa jin itu tidak bisa kita lihat dengan mata telanjang. Secara qodrati, mereka memang terpisah dimensinya dengan kita, meskipun hidup di masa dan ruang yang sama. Mengangkat benda tanpa menyentuhnya, menurut logika adalah sebuah hal yang tidak mungkin jika tak ada camur tangan dari para jin ini.
Nabi Muhammad SAW sendiri, makhluk yang paling dicintai Allah, tidak pernah menggunakan cara-cara ‘aneh’ dalam hidupnya. Padahal kalau mau, beliau bisa meminta apapun dan kekuatan semacam apapun dari Allah. Tapi hal itu tidak dilakukannya. Mu’jizatnya bukanlah sesuatu yang tidak bisa dipahami akal manusia. Kalaupun ada hal-hal luar biasa seperti membelah bulan menjadi dua, hal itu semata dikatakannya sebagai kekuatan Allah.
Kenapa? Karena dia ingin memberi contoh pada umatnya, bahwa dia manusia. Dia bukan tuhan dan tak ingin umatnya menuhankan dirinya.
Dengan segala cinta yang dimiliki sang Khaliq padanya, dia bisa saja minta tidak sakit, tidak mempan dibacok, bisa terbang dsb..dsb. Tapi hal itu tak dilakukannya. Sekali lagi beliau ingin umatnya mencontohnya. Bahwa kekuatan itu semuanya adalah milik Allah. Kita manusia tak punya daya apa-apa selain karena kehendak Allah semata. Itulah sebabnya kita diajarkan untuk membaca basmallah. Menyebut asma Allah sebelum melakukan sebuah pekerjaan. Karena di situ ada makna bahwa kita pasti tak akan bisa melakukan sesuatu apapun tanpa kekuatan dari yang maha memiliki kekuatan dan kekuasaan. Kita minta kemurahan dan kasih sayangnya pada saat akan melakukan sesuatu.
Makanya aku heran banget ketika ada ribuan santri yang diisi dengan kekebalan oleh pimpinanya. Parahnya lagi, katanya mereka berani mati untuk membela seseorang yang tak tahu juntrungannya. Aku jadi kepikiran, apakah mereka tidak mencontoh baginda Nabi Muhammad junjungannya? Wong nabi saja bisa dan mau terluka oleh pedang, tombak dan panah. Kok ini, manusia biasa bersombong diri menyatakan tak mempan dibacok atau ditembak.
Karena itu, aku jadi sadar satu hal, bukan berhayal dan tak melakukan apapun yang akan membuat kita mencapai cita-cita. Berpikir saja tidak cukup. Tapi harus berpikir, bergerak, berusaha dan berdoalah yang menjadikannya.
So let’s make a Move…..
Tentang Beriman dan Bertaqwa Februari 8, 2008
Posted by ciptabiru in Filsafat, Umum.add a comment
Orang sering berkata, kepercayaan kepada Tuhan adalah urusan atau hal yang paling pribadi. Itu hak manusia yang paling hakiki. Itu urusan antara seorang pribadi dengan Tuhannya. Karena itu tak ada sesuatu apapun yang berhak mencampurinya.
Tadinya aku agak membenarkan hal itu. Setidaknya sampai aku mendengar khutbah Jumat siang tadi di masjid Agung Baitussalam.
“Dalam Islam, masalah iman atau kepercayaan tak cukup diyakini di dalam hati saja. Iman bagi seorang muslim harus diucapkan melalui lesan, diyakini di dalam hati sekaligus dilaksanakan dalam bentuk perbuatan,” kata Khariri Shofa, sang khatib.
Sejak SD, melalui pelajar PMP (Pendidikan Moral Pancasila) kita diajari bahwa masalah beragama (baca mempercayai Tuhan) adalah hak yang tak bisa diganggu gugat. Baik oleh orang lain maupun oleh negara. Padahal di dalam Islam, ada ayat yang mengatakan bahwa seorang bisa menjadi Muslim, Nasrani, Yahudi ataupun Majusi tergantung dari orang tuanya. Artinya, orang tualah yang punya andil sangat besar untuk menentukan apa agama anaknya kelak.
Menengok ke belakang, aku jadi ingat bagaimana Pancasila dibuat. Lima sila yang terdapat di dalamnya ternyata sangat kental dengan doktrin zionisme. Bahkan, dalam sebuah artikel, Sukarno jelas-jelas mengaku pemikirannya banyak dipengaruhi seorang zionis berkebangsaan Belanda.
Pemerintah Orde Baru (lihat persamaan maknanya dengan novus ordo sclorarum atau tata dunia barunya Zionisme dalam duit 1 dolar Amerika) pimpinan Suharto yang dibackup penuh Amerika semakin membuat pancasila sebagai azas tunggal untuk kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Itulah kenapa pada saat itu orang-orang Islam yang enggan menggunakan Pancasila sebagai azas tunggal diberantas oleh Suharto lewat tangan LB Moerdhani.
Kita mesti mewaspadai jargon yang mengatakan bahwa beragama adalah hak paling hakiki dari manusia. Ingat, sejak zaman azzali manusia telah bersaksi, Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Jadi secara fitrah, manusia sebenarnya telah mengakui keesaan Allah sebagai Tuhannya dan Muhammad sebagai rosul Allah. Orang-orang tuanyalah yang kemudian menjadikan mereka Nasrani, Yahudi, Majusi dsb.
Saya juga sepakat, kalau memang kita beriman maka maklumatkanlah dengan ucapan “Asyhaduanlaa illahaillallah. Waasyhaduanna Muhammadarrasulullah”. Setelah itu yakinkan dan tetapkan di dalam hati ucapan yang telah kita keluarkan. Setelah itu lakukanlah dengan perbuatan. yakni dengan menjalankan semua perintah Allah dan meninggalkan segala larangannya.
Ittaqullah. Ittaqullaha haqqo tuqattihi wala tamutunna illa wantum muslimun.
Cara Tuhan Mengabulkan Doa Februari 4, 2008
Posted by ciptabiru in Filsafat.add a comment
Dinihari kemarin, sambil nungguin kerjaanku diprint, aku iseng-iseng nonton Evan Almighty. Film ini memelesetkan kisah nabi Nuh menjadi kisah ala Holywood yang kadang tak peduli dengan norma agama. Bagi mereka, apapun bisa dijadikan bahan. Pesan moralnya si lumayan bagus, cuma caranya aja yang kayaknya kurang etis. Terutama bagi orang timur kayak kita yang kebetulan adalah Muslim. Bagaimana tidak, tuhan dalam film itu digambarkan sebagai seorang lelaki tua berkulit hitam. Sebuah penggambaran yang saya pikir terlalu merendahkan. Meskipun Tuhan mungkin menurut mereka memang bisa menjadi apa saja, even Morgan Freeman.
Well, tapi secara umum, film yang dibintangi Steve Carell (Evan), Morgan Freeman (God?), dan Wanda Sykes ini cuku menghibur. Evan, yang dalam kampanyenya sebagai anggota kongres mengambil tagline ‘let’s change the world’, ditemui tuhan. Dia disuruh untuk membuat bahtera, layaknya nabi Nuh, untuk menyelamatkan ribuan pasang binatang dan tetangganya. Kejadian ini terdapat dalam kitab Kejadian ayat 14 (Genesis : 14)
Seperti halnya Nuh, Evan pun sempat ditinggalkan keluarganya yang mengiranya stress. Di kantor, dia juga dicerca dan dikucilkan. Apalagi ketika kemudian berpakaian aneh layaknya Nuh. Jenggotnya mendadak memanjang dan tak bisa dipotong. Demikian pula dengan rambutnya. Tapi karena keyakinannya, dia tetap nekat membuat kapalnya.
Kejadian paling menyentuh adalah saat istri Evan pergi meninggalkannya. Di sebuah restoran siap saji, dia ditemui oleh tuhan yang menyamar sebagai pelayan.
“Jika seorang manusia memohon agar dia menjadi sukses, apakah tuhan membuatnya sukses?
Jika seorang manusia memohon untuk menjadi berani, apakah tuhan membuatnya menjadi berani?
Jika manusia memohon untuk menjadi bahagia bersama keluarganya, apakah tuhan lantas membuatnya bahagia?
Tidak. Tuhan hanya memberinya jalan dan kesempatan. Jalan dan kesempatan untuk untuk menjadi sukses. Jalan dan kesempatan untuk menjadi berani. Dan jalan serta kesempatan untuk menjadi bahagia. Manusialah yang memilihnya,” kata tuhan yang diperankan Morgan Freeman ini.
Aku jadi berpikir, iya yah! selama ini kiat selalu minta ini, minta itu pada Tuhan. Kita kadang selalu berharap permintaan kita diwujudkan secara instant. Kita kadang tak menyadari bahwa beberapa permintaan kita kadang dikabulkan Tuhan dengan sebuah jalan yang memutar. Bukan secara instant dengan kun fayakuun. Kita sendiri yang harus mewujudkan permintaan dan doa kita dengan perantara ijin Tuhan. Berusaha atau berikhtiar. Tapi jangan lupa berserah diri jika usaha itu ternyata belum membuahkan hasil di dunia.
EGOIS November 15, 2007
Posted by ciptabiru in Bahasa, Filsafat, Umum.2 comments
Egois. Bagaimana kita bisa memaknai satu kata ini agar-agar benar-benar tepat? Katanya dari makna harfiahnya, egois berarti orang yang mementingkan diri sendiri. Ini berasal dari kata ego yang berarti diri sendiri; diri pribadi; keakuan. Sifat mementingkan diri sendiri kemudian disebut sebagai egoisme. Sesuai tambahan kata isme di belakangnya, egoisme kemudian berubah menjadi sebuah paham. Paham yang mengagungkan diri sendiri.
Menurutku, kalo mau jujur, sebenarnya egoisme murni itu tak pernah ada. Maksudnya, seperti juga benar-salah, tidak pernah ada nilai absolut untuk makna egois. Kenapa demikian? Karena pada dasarnya seseorang itu memang secara kodrati diciptakan sebagai makhluk sosial. Artinya, dia tak bisa hidup sendirian saja. Selalu membutuhan orang lain, betapapun kecilnya lingkup pergaulan yang diakrabinya. Karena itulah kemudian aku menyebut ini sebagai ketidakmungkinan sebuah egoisme secara total.
Maksudku begini. Seseorang memang cenderung mementingkan dirinya sendiri. Tapi dalam setiap keadaan, sesungguhnya bukan murni dirinya sendirilah yang dijadikan pusat untuk meneguhkan sebuah pendirian ataupun sikap sehingga dia dicap sebagai orang yang egois.
Ambil contoh begini. Sabtu besok, sahabatku mau menikah. Aku sebenarnya sudah pernah berjanji mau menghadiri pesta pernikahannya. Maksudku, peristiwa itu memang aku anggap sebagai peristiwa yang penting sekaligus sakral bagi dia. Sebuah pernikahan adalah prosesi yang oleh siapapun, hanya ingin dilakukan hanya sekali dalam hidupnya. Saat membuat janji ini, kondisiku belum seperti ini. Aku masih beranggapan setiap saat aku ada waktu untuk dia. Bahkan sekalipun dunia mendadak dilanda angin topan, aku merasa bisa tetap menghadiri pernikahannya. Itu pemikiranku pada saat itu.Tapi kemudian keadaan berubah. Aku bekerja. Dia balik ke Jakarta. Aku sibuk dengan pekerjaanku dan dia otomatis juga memilih Jakarta sebagai tempatnya untuk melangsungkan pernikahannya. Saat hari H pernikahannya, ternyata aku ada seabreg agenda yang harus aku lakukan. Dan itu tak bisa tidak harus aku lakukan sendiri. Tak bisa diganti orang lain. Jika aku tak berangkat, aku pasti dicap sangat egois oleh dia. Sebaliknya kalau aku bernagkat, aku akan dicap egois dan hanya mementingkan kepentingan pribadi oleh rekan-rekan kantor. Itu belum termasuk adik-adik angkatanku yang menginginkan aku untuk menjadi pemateri dalam diksar, plus mendatangi acara launching di Jogja. Semuanya terjadi pada hari Sabtu. Pilihan mana yang tidak akan membuatku tidak dikatakan sebagai orang egois? Aku juga tak mungkin menghindari semua kegiatan itu. Karena itu justru akan semakin membuat mereka kompak menyebut aku sebagai orang yang egois. Celakanya, aku juag tak mungkin membagi tubuhku menjadi empat atau lima untuk menghindari cap egois itu sekaligus.
OK, sekarang kembali ke topik.
Sekarang aku ambil contoh lain. Napoleon Bonaparte, atau Hitler, atau Benito Musolini, atau Idi Amin Dada. Bagi sebagian besar orang di muka dunia, mereka adalah para diktator yang sangat mengagungkan keunggulan ras mereka. Keegoisan mereka dengan keunggulan yang diklaim dimiliki rasnya membuat mereka menganggap orang lain hanyalah sampah. Tapi bagi rasnya, bagi pengikutnya, mereka adalah pahlawan. Mereka adalah orang-orang yang mau berjuang mati-matian menegakkan kepentingan bersama di atas kepentingannya sendiri.
Komunitas gereja vatikan adalah contoh lain yang sangat jelas. Karena alasan kemurnian ajaran yang mereka pegang, mereka telah melakukan kebohongan besar selama 2000 tahun lebih. Menganggap bahwa Yesus adalah sosok ilahiah meski bukti-bukti sudah tak bisa disangkal lagi bahwa dia hanyalah anak manusia. Bagi semilyar penganut Kristenitas, mereka adalah orang-orang yang mendarmabaktikan hidupnya atas nama kebenaran dan kebaikan. Tapi bagi orang-orang yang sadar, mereka tak ubahnya sekelompok orang yang egois untuk kepentingan tertentu.
Inilah yang kemudian saya sebut sebagai relativitas. Jadi dalam ilmu psikologipun relativitas berlaku. Ini bisa terjadi karena perbedaan cara pandang. Konon, kebenaran kan memang disesuaikan dengan kekuasaan yang sedang berlaku. Bisa saja saat ini benar, tapi saat kekuasaan ebrganti, salah bisa benar dan sebaliknya.
Dalam kasus kecil yang menimpaku, tampaknya itu tidak bersinggungan dengan masalah kekuasaan. Mungkin variabel yang lebih tepat untuk menterjemahkan makna benar dan sekaligus EGOIS itu adalah waktu. Ya, waktu kadang akan menjawab berbagai pertanyaan yang tak bisa terjawab sekarang ini. Waktu juga kerap menjawab berbagai prasangka dan tuduhan.
Jadi, kemudian biarlah waktu yang akan menentukan apakah aku egois atau tidak. Karena tidak ada egois yang absolit. Pun demikian dengan kebenaran.