jump to navigation

Hidup itu = Menunggu Maret 5, 2009

Posted by ciptabiru in Tidak terkategori.
2 comments

Aku kerap berpikir, sebenarnya untuk apakah kita hidup di dunia ini? Ada jawaban yang mengatakan bahwa hidup itu cuma mampir minum. Maksudnya, hidup ini cuma sementara, seperti orang minum. Celakanya, orang bodoh memaknainya dengan benar-benar menghabiskan hidupnya untuk minum-minuman sepanjang hari.
Ada pula yang menjawab hidup itu ibarat naik roller coaster. Kadang di bawah, kadang di atas. Tapi selama apapun kita naik roller coaster, pada saatnya kita juga akan turun dari wahana itu.
Ada lagi yang menganggap bahwa hidup kita ini sesungguhnya adalah alam kematian. Hidup yang sesungguhnya adalah alam setelah kematian itu. Pendapat ini diikuti oleh para penganut ajaran syeh Siti Jenar. Tubuh adalah perangkap yang membuat manusia merasa sakit dan menderita. Tak heran banyak yang dangkal pikirannya kemudian membuat onar dan ingin memasuki alam kehidupan yang sebenarnya (menurut ajaran mereka) dengan tujuan untuk membebaskan diri dari ‘alam kematian’ ini. Mumeti lah pokoknya, karena pake dibolak balik.
Islam mengajarkan kita, bahwa kita ini hidup untuk beribadah kepada sang pencipta. Sang pemilik kuasa atas setiap gerak tubuh sampai aliran sel darah merah kita, pemilik setiap mikron bagian udara yang kita hirup dan setiap atom yang menyusun tubuh kita.
”Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz Dzariyat 52 : 56).
Aku sudah mendengar ayat ini sejak masih SD. Di setiap pelajaran aqidah akhlak yang aku terima, ustadzku selalu mengingatkanku tujuan hidup manusia ini. Namun rasanya masih bisa kuhitung dengan jari, berapa kali kesadaran tentang tujuan hidup ini dapatkan. Tidak ingat pastinya. Tapi tidak banyak.
Yang jelas pada setiap akhir Romadlon, aku selalu menyesal saat tak bisa mengkhatamkan 30 juz. Aku selalu kecewa karena ada sholatku yang tertinggal, ada tarawihku yang tak terlaksana, dan tak sedikit tahajjudku yang terjajah oleh rasa kenyang dan kantuk.
Kini, aku mulai menyadari, bahwa setiap hal yang kita lakukan bisa menjadi ibadah. Mulai dari Alhamdulillahiilladi ba’dana amatana wailaihinnusur sampai bismikallohuma ahya wa bismika amut, semuanya bisa menjadi pahala. Tersenyum saat marah, beristighfar saat mata bersua maksiat, atau saat janji berjumpa hianat.
Setiap langkah juga bisa bermakna ibadah jika hati berniat dan mulut sempat terucap. Bahkan setiap hirupan dan hembusan nafas bisa menjadi ibadah jika teriring rasa syukur pada pemilik udara dengan komposisi O2 dan zat-zat lain yang sudah sangat diperhitungkan itu.
Kini, aku juga mulai menyadari, selain ibadah, hidupku adalah masa menunggu. Masa menunggu dari satu waktu sholat ke waktu sholat lain. Aku menunggunya dengan penuh kerinduan. Dengan penuh pengharapan. Harapan untuk bersua dengan pujaan hati. Harapan untuk bercumbu dengan sang kekasih. Harapan untuk mengurai kata dengan selaksa doa. Indahnya ibadah ini….

Ta’aruf Tapi Gagal? (2) Februari 19, 2009

Posted by ciptabiru in Tidak terkategori.
add a comment

Rabu (18/2) lalu aku silaturrahmi ke rumah seorang saudara. Sudah cukup lama aku tidak mengunjunginya. Padahal dulu, hampir setiap minggu kami saling bertemu. Kalau bukan aku yang kesana, kadang dia yang ke Purwokerto. Kalau pakai cara yang kedua ini, kami bertemu di tempat makan yang dipilihnya. Sebab aku tidak mungkin membawanya mampir ke kontrakanku yang hanya bisa dicapai dengan jalan kaki, sementara dia bawa mobil.
Singkat cerita perempuan yang telah menganggapku sebagai adiknya ini bercerita beberapa peristiwa yang terjadi selama kami tak bertemu. “Banyak banget peristiwa yang terjadi selama kita nggak ketemuan De,” katanya begitu usai mempersilahkanku duduk.
“Maaf tidak pernah menyempatkan diri ke sini Mba’. Akhir-akhir ini kerjaanku banyak banget. Sampai lupa punya saudara yang harus dikunjungi,” jelasku.
“Iya, Mba’ sampai bingung gimana caranya ketemuan sama Ade. Tapi semuanay baik-baik saja kan. Bapak, adik semuanya sehat kan?” tanyanya.
“Alhamdulillah. Smeuanya sehat,” jawabku.
“Eh, ‘Mba’ Ini’ kemana mba, kok nggak kelihatan?” sambungku. Nama mba yang satu lagi ini sengaja tak kukeluarkan.
“Justru itulah De. Mba tuch dari dulu pengin cerita masalah ini,” katanya. Suaranya berubah jadi serius. Tapi sesaat kemudian dia tersenyum lagi. Pergi ke belakang dan kembali dengan dua cangkir teh.
Setelah itu dia cerita dari A sampai Z tentang adiknya yang aku sebut ‘Mba Ini’ tadi.
Ada rasa nyeri saat aku mendengar ceritanya. Aku ingat, tujuh bulan lalu, ‘mba ini’ sempat curhat padaku. Dia menanyakan apakah mendapatkan jodoh dengan cara ta’aruf suatu keputusan yang tepat. Selain karena usianya yang sudah tidak muda lagi, juga karena keluarganya sudah gerah melihatnya terus melajang.
“Intinya adalah kita harus menanyakan pada pemilik hidup kita Mba. Dia-lah yang mengetahui apa yang terlihat dan yang tak terlihat. Apa yang terbaik dan apa yang paling bermanfaat bagi makhluknya. Karena itu tanyakanlah pada Dia,” kataku saat itu.
Dia berjanji akan melakukannya. Dan beberapa minggu kemudian aku mendengar bahwa mereka akhirnya menikah. Anehnya, aku tak diberitahunya secara langsung.
Sebulan, dua bulan, semuanya masih baik-baik saja. Di bulan ketiga, aku sudah tak bisa menghubunginya. Orang-orang di sekitarnya tak ada yang bisa memberikan keterangan. Hanya Mba’ku yang mau cerita. Dengan semua kondisi itu, akhirnya aku berhenti mencoba menghubunginya.
Bulan lalu, ‘Mba Ini’ menghubungiku. Dia ingin sekali bercerita masalah kehidupannya. Sebuah hal yang dulu selalu dilakukannya ketika ada masalah. Dia selalu minta nasehat padaku yang notabene jauh lebih muda darinya.
Dengan alasan bahwa statusnya saat ini adalah istri dari seorang pria yang sudah menikahinya, aku menolak halus untuk bertemu dengannya, kecuali ada ijin langsung dari suaminya. Dan untuk yang satu ini, dia tak bisa menyanggupinya. Karena itu aku pun tak menemuinya.
Tapi setelah mendengar cerita Mba’ku, aku jadi merasa ikut berdosa. Aku tahu Mba Ini menikah karena sejumlah keterpaksaan. Usia, rasa pekewuh pada keluarga di sekitarnya, dan keinginan membahagiakan ibunya. Aku tidak tahu apakah dia sempat menanyakan keputusannya itu pada sang pemberi keputusan terbaik.
Aku ingin sekali mengatakan padanya bahwa apapun yang terjadi sekarang ini, itu adalah cobaan dari pemilik nafasnya. Jika ikhlas melaluinya, insya Allah surga di depan mata. Bukankah keikhlasan istri itu surga balasannya? Meskipun sangat berat melaluinya, cobalah tersenyum. Senyum dari bibir sampai ke hati pada setiap kehendak suami. Sepanjang itu belum melanggar syariah agama, melaksanakannya adalah laksana membangun jalan lurus ke surga.
Dari sini, adikmu berdoa untuk kebahagiaan dunia dan akhiratmu Mba.

Merindukan Bersyukur Februari 8, 2009

Posted by ciptabiru in Tidak terkategori.
add a comment

Rasanya sudah lama sekali aku tidak melakukannya. Berangkat tidur dengan pikiran plong dan bangun dengan senyum. Akhir-akhir ini kondisi di kantor (terutama masalah sarana dan prasarana untuk bekerja) ancur banget. Kerja jadi nggak tulus. Kerap muncul banyak makian yang tak jelas ditujukan pada siapa karena memang bingung mau dimuntahkan ke siapa.
Aku tahu, sebenarnya itu bukan alasan untuk tidak tersenyum dan mengucap syukur. Betapapun banyak kesulitan, sesungguhnya amat lebih banyak kemudahan dan nikmat yang diberikan Allah pada makhlukNya. Tapi kenapa selalu saja kita lupa mensyukurinya?
Mengeluh. Mengeluh. Dan mengeluh lagi. Nyaris seperti itu yang kulakukan dan kudengar setiap hari. Dimana istighfar. Dimana hamdalah. Dimana tasbih dan dimana tahmidku?
Mataku akhir-akhir ini makin mengering. Kering dari air yang membuatnya jadi semakin sakit saat menatap layar komputer. Mataku juga akhir-akhir ini kering dari air yang senantiasa meremes saat aku menengadahkan telapak tangan atau menunduk bersujud. Kemana imanku menghilang?
Terima kasih buat pak Tirwan. Seorang penderes 12 pohon kelapa milik eyang Arsitem yang siang tadi kutemui. Kekagumannya pada profesiku membuatku tersadar, bahwa selama ini aku terlalu kurang rasa syukurnya. Dia menganggap hidupku enak, banyak duit, kulit bersih dan tak perlu berpeluh keringat untuk mendapatkan uang. Aku tersenyum mendengarnya.
Aku katakan bahwa apa yang terlihat kadang tak seperti sebenarnya. “Urip kue bisane ya mung sawang sinawang pak,” kataku. Dia tersenyum sambil memakan pisang rebus yang dihidangkan Mas Ahyas, kaur pembangunan yang sementara merangkap sebagai sekdes di desaku.
Saat kutanyakan kondisi anak-anaknya, dia bercerita anak terakhirnya, Atun, sudah bekerja di Jogjakarta. Beberapa waktu sebelumnya, gadis berusia 18 tahun itu sempat kerja di Cirebon dan Tegal (atau Pekalongan, aku agak lupa). Sekarang dia jadi admin di sebuah usaha kredit barang-barang rumah tangga.
“Nah, itu kan sudah enak. Tinggal bagaimana kita mensyukuri saja apa yang sudah kita dapat hari ini dan besok,” kataku.
Dia menyeruput teh di hadapannya. Sejurus kemudian, dia pamitan ke belakang. Melanjutkan pekerjaanya menurunkan atap rumah mas Ahyas.
Aku tersenyum. Ya, bersyukur. Pekerjaan yang sangat mudah itu saja susah sekali dilakukan. Aku tidak tahu apakah Pak Tirwan kerap melakukannya apa tidak. Tapi dari pembicaraanya, aku seperti disadarkan, bahwa aku tak boleh iri pada orang lain. Pada rejeki yang didapat orang lain. Yang boleh aku cemburui adalah kerjakeras yang dilakukan orang lain. Banyaknya rasa syukur yang terucap dan disiplinnya mereka memenuhi panggilan sholat saat tiba waktunya.
Aku rindu melakukan lagi semua hal itu. Aku ingin tidur dengan pikiran plong, dan bangun dengan senyum lebar di bibirku sambil mengucapkan selamat pagi dunia, aku akan mengarungimu sepanjang siang ini sambil mengucap Alhamdulillah…

Kenapa Islam Terpuruk? Januari 30, 2009

Posted by ciptabiru in Tidak terkategori.
1 comment so far

Aku baru saja menemukan satu lagi hal yang menurutku menjadi salah satu penyebab kenapa orang Islam terpuruk dalam ketertinggalan dan kemiskinan. Ironisnya, hal ini aku dapati di Kantor Departemen Agama, yang notabene kantor tempat para ulama dan pemuka agama Islam dari sisi pemerintah berkumpul.
Ceritanya pagi tadi aku diundang mengikuti rapat Badan Hisab Rukyat Daerah. Beberapa hari lalu namaku, nggak tahu bagaimana caranya, masuk sebagai anggota tim yang sebagian tugasnya adalah menentukan permulaan awal bukan komariah, waktu sholat dan arah kiblat ini. Hari ini adalah hari pertama rapat kerja. Selain aku, di situ ada unsur-unsur dari Pengadilan Agama, TNI/Polri, Bagian Humas Pemkab, KUA, ormas Islam dan tentu saja MUI.
Undangan sudah aku dapat sekitar 4 hari yang lalu. dan aku yakin, pada kisaran hari yang sama pulalah undangan itu menyebar ke anggota lainnya. Aku berasumsi, karena undangan sudah dibagi lama, pasti para anggota yang lain sudah menyiapkan diri.
Tapi apa lacur? Inilah Indonesia. Inilah orang Islam.
Tepat pukul 09.00 WIB aku masuk ruangan. Di situ hanya ada satu orang panitia yang sedang menyusun susunan acara di depan lap topnya. Bungkusan snack masih menumpuk di meja yang diletakkan di samping pintu masuk.
Begitu kuketuk pintu, panitia itu kemudian mempersilahkan aku untuk tanda tangan. Tahu nggak sudah ada berapa orang yang datang? Hanya satu orang! Dia adalah Serma Sarikin dari Kodim 0701 Wijaya Kusuma. Itu artinya hanya ada satu orang yang datang sebelum acara dimulai sesuai jadwal. Karena aku datang pas acara seharusnya dimulai.
Well. Inilah kondisi kita. Orang Islam. Orang Jawa. Orang Indonesia yang tidak menghargai waktu. Ironisnya, ternyata setelah masuk dan mendengarkan pembicaraan raker yang dimulai pukul 09.45 ini, tugas utama kami adalah menentukan hilal rukyat. Itu artinya kami bertugas menentukan kapan waktu yang paling tepat untuk memulai puasa romadlon, hari raya Idul Fitri, hari raya Idul Adha dan sebagainya.
Waktu. Itulah tugas utama kami. Bagaimana mau menentukan waktu bagi ummat kalau menepati waktu yang sudah dibuat sendiri saja tidak bisa. Sumpah, saat itu saya ingin memaki para orang-orang yang katanya ulama, pemuka agama, pegawai pengadilan agama, pegawai KUA dan dosen STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri) serta organisasi masyarkat berbasis agama.
“Kalian semua munafik! Tidak bisa dipercaya. Bekerja tidak dengan hati. Tapi hanya berdasarkan insting”. Apalagi di dalam pembicaraan, ternyata yang dibahas tak jauh-jauh dari masalah dana dan biaya. Keluhan karena biaya tidak ada dan sebagainya dan sebagainya. Bla….bla….bla….
Bagaimana Islam mau maju kalau para pemuka agamanya saja seperti ini. Tidak bisa memberi contoh baik pada umat. Tidak mau berkorban untuk kepentingan agama dan umat. Dan yang lebih penting adalah tidak mau tepat waktu. Padahal Allah sudah mengajarkan pada umat Islam untuk selalu tepat waktu dengan sholat lima waktu, adzan dan iqomah.
Ampuni hamba ya Allah. Sadarkan mereka semua….

Boycott Produk Zionis Januari 16, 2009

Posted by ciptabiru in Tidak terkategori.
add a comment

Sebuah Ironi di Negeri Muslim Terbesar
Israel adalah negeri kecil yang terpencil diantara jazirah Arab. Saat Situs www.suarapalestina.org menyebutkan, saat para zionis internasional membentuk negara ini pada tahun 1948, warga Yahudi hanya 806 ribu. Kini, jumlah mereka sudah membengkak menjadi 7.282.000. Pun begitu, mereka masih merupakan bangsa minoritas yang dikelilingi oleh negeri-negeri kaya di semenanjung Arab ini.
Untuk menjamin kehidupannya, negeri ini sangat tergantung dari aliran dana para donatur. Donaturnya adalah par apengusaha raksasa yang menguasai berbagai lini usaha. Mulai dari sampo, sambun mandi, kosmetik, minuman ringan, supermarket, media massa sampai perusahaan komputer. Dari perusahaan-perusahaan beromzet trilunan rupiah per bulan inilah, mereka mendapat sumbangan untuk membangun tembok pemisah di sepanjang jalur Gaza, Tepi Barat, Askelon, Golan, Rafah dan sebagainya.
Dana sumbangan ini juga mereka gunakan untuk membeli peluru, granat, mortar, roket peluncur granat, meriam, tank sampai rudal berhulu ledak nuklir. Setiap sen dari uang yang diperoleh dari laba perusahaan-perusahaan Yahudi itu akan terus menambah pundi-pundi kekayaan dan senjata Israel. Dan sebanyak itu pulalah senjata-senjata itu akan dimuntahkan dan ditebarkan ke tanah Gaza. Menghancurkan kamp-kamp pengungsian, tempat perlindungan, sekolah, markas PBB bahkan masjid dan gereja.
Saat boikot diserukan oleh Syeh Yusuf Qordowi dari Mesir beberapa tahun lalu, Israel terbukti menderita kerugian sangat besar. Sumbangan terhadap negeri zionis ini berkurang drastis. Namun melalui kampanye panjang mereka, warga muslim dunia kemudian seperti terlupa dengan seruan boikot tersebut. Mereka mulai mengkonsumsi lagi produk-produk dari para penyokong negeri teroris ini.
Negeri-negeri di sekeliling Indonesia sudah menyerukan untuk melakukan boikot. Mantan Perdana Menteri Malaysia bahkan dengan tegas menyuruh rakyatnya untuk berhenti menggunakan produk-produk buatan Amerika dan Israel. “Tanpa mereka pun kita masih tetap bisa hidup,” serunya saat memimpin demonstrasi di Kuala Lumpur.
Iran, seteru utama Israel dan Amerika tentu sudah sejak jauh hari melakukannya. Mereka bahkan bakal memberi sanksi bagi perusahaan di negaranya yang terbukti bekerja sama dengan orang-rang Yahudi Zionis.
Di benua Amerika, Bolivia dan Venezuela bahkan mengusir pergi para diplomat Israel. Sementara Italia, negeri yang sempat terkenal dengan Facismenya, mereka juga menyerukan aksi boikot produk-produk dari para pengusaha Yahudi.
Lalu, kapan Indonesia, yang dikenal sebagai negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia, mau melakukannya? Kalaupun bukan Indonesia, minimal kita yang melakukannya sebagai pribadi-pribadi. Jangan belanjakan setiap sen uangmu untuk membunuh saudara-saudaramu di Palestina sana.
Ada sebuah peristiwa yang membuat hatiku sebagai seorang muslim terasa tercabik-cabik hanya sesaat setelah menulis tulisan ini. Tapi hikmahnya adalah, saya langsung jadi tahu, kenapa Islam selalu kalah. Ya, karena kita tak pernah bisa merasakan penderitaan saudara-saudara kita. Kita hanya berkoar-koar nggak karuan tapi tak pernah benar-benar merasa terlibat dengan penderitaan saudara-saudara kita yang sedang dibantai di jalur Gaza sana. Maafkan kami wahai saudara-saudaraku seiman.

Kata-kata yang Kehilangan Makna Januari 5, 2009

Posted by ciptabiru in Tidak terkategori.
1 comment so far

“Assalamu’alaikum…Hai…bla…bla…bla…Sialan. Eh, bla…bla…bla….Binatang kaki empat. Bla….bla….bla…… Yau dah kalo gitu. Aku tunggu ya…Assalamu’alaikum.
Kira-kira begitu percakapan by phone yang kudengar di depan rumah hari ini. Sebenarnya nyaris tiap hari sich. Anak-anak ABG yang tak kunjung menemukan jati diri itu, entah apa yang mereka cari. Celana hotpants, rambut pendek, anting gede warna mencolok, baju ketat dan cardigan warna seronok selalu jadi aksesori penutup (sebagian kecil) tubuh mereka.
Astaghfirullohal’adzim….
Dengan gampang mereka mengucap Assalamu’alaikum. Tapi sejurus kemudian dengan fasih, mereka memaki dan mencaci. Kata-kata jorok dan tak pantas keluar dari mulut mungil mereka. Aku dan temen serumah (yang nota bene bukan muslim) suka geleng-geleng kepala. Di dalam hati aku merasa malu. Sebegitu gampangnya seorang muslimah menistakan dirinya seperti itu.
Padahal Assalamu’alaikum adalah sebuah doa. Dengan mengucap kata Assalamu’alaikum warrahmatullohi wabaraokatuh, kita mendoakan agar lawan bicara kita mendapat selamat, diberikan rahmat dan berkah. Aneh sekali ketika selesai mendoakan seperti itu, kita kemudian memaki dan mencaci dengan kata-kata jorok bin sesat yang jelas-jeals datangnya dari syaiton.
Tapi itu belum seberapa. Di Baturraden (dan juga di tempat-tempat lainnya, yang herannya saat ini semakin marak) ada acara peringatan tahun baru (yang mengatasnamakan) Islam yang dilakukan oleh warga. Anehnya, mereka menggotong-gotong sesaji berupa hasil bumi dan kepala hewan. Mereka berebut sesaji-sesaji itu (yang lebih anehnya lagi didoakan dengan doa-doa Islam) agar mendapat berkah.
Mereka masuk ke makam, menyembelih hewan dan mempersembahkan sekian banyak sesaji pada sesuatu. Doa yang sangat fasih berbahasa Arab merapal dari mulut sang sesepuh. Tapi setelah itu dia menangkupkan tangannya, menyembah pada sesuatu. Berkomat-kamit tidak jelas dan melakukan hal-hal yang tidak ada tuntunannya dalam Islam.
Sungguh saya tak habis pikir. Bagaimana mereka masih menganggap hal-hal itu sebagai bukan syirik? Dengan seenak perutnya mereka mencampurkan ajaran Islam dengan budaya jahiliyah mempersembahkan sesaji pada laut, pada makam, pada gunung atau pada leluhur. Padahal hanya Allah lah yang berhak disembah. Hanya padaNya lah kita boleh meminta berkah dan keselamatan. Bukan pada seorang jin wanita yang katanya menjadi penguasa laut. Bukan pada leluhur yang dikubur di sebuah tempat rimbun, bukan pada jin marakayangan penunggu bukit. Bukan. Bukan pada mereka. Tapi hanya pada Allah. Laa ilahaillallah. Tida ada Tuhan selain Allah.

Tante Favorit Oktober 3, 2008

Posted by ciptabiru in Tidak terkategori.
add a comment

Lebaran ini (1429 H) hampir semua sodaraku pulang. So pasti, rumah mba’ku jadi super ramai. Bayangin aja, mba’ku nomor satu, anaknya ada dua, laki semua. Mba’ku yang nomer dua, anaknya juga dua, satu laki, satu perempuan. Mba’ku yang nomer tiga, anaknya juga dua. Dua-duanya laki-laki. Trus masku yang nomor empat anaknya satu perempuan. Mba’ku yang nomor lima, anaknya juga dua, satu laki, satu perempuan. Dan mba’ku yang nomor enam, anaknay satu laki-laki.

Totalnya berarti ada sepuluh keponakan yang berkumpul. Dan tujuh diantaranya adalah cowok yang notabene mempunyai rentang umur 4-7 tahun. Yang namanya rumah ributnya minta ampun. Apalagi kalo udah rebutan mainan.

Satu fenomena yang paling menarik adalah, kesepuluh kurcaci itu ternyata punya kesamaan. Mereka paling suka sama tantenya yang paling kecil. Dan gokilnya, ngga ada yang mau manggil tante, bibi atau lilik. Semua manggil namanya. Padahal adikku yang paling kecil ini kan udah kuliah.

Kemana dia pergi pasti ada yang ngikutin. Sampe-sampe dia suka be-te sendiri. Padahal dia masih suka pengin bermanja-manja ke ibu ato bapak keponakannya itu. Tapi selalu nggak boleh karena harus melayani mereka bermain.

Oase Iman di Eramuslim Februari 4, 2008

Posted by ciptabiru in Tidak terkategori.
add a comment

Lagi asyik nunggu kerjaan selesai, aku iseng negkok eramuslim. Eh, tulisanku ternyata dimuat lho. Selengkapnya liat di sini

Itu cerita pengalaman nyata pas ade’ku minta ijin pake Jilbab. kalo inget kejadian itu, aku masih suka mo nangis. Saat itu begitu indah, syahdu dan penuh kesejukan. Bayangan halangan yang membentang mendadak seperti menghilang dengan keteguhan hati dan lafal Bismillahirrahmanirrahiim.

Klasemen Premier League Desember 27, 2007

Posted by ciptabiru in Tidak terkategori.
add a comment

P Tim P Pts
1 Man. Utd 19 45
2 Arsenal 19 44
3 Chelsea 19 38
4 Liverpool 18 36
5 City 18 34
6 Everton 19 33
7 Portsmouth 19 31
8 Villa 19 30
9 West Ham 18 26
10 Blackburn 18 26
Data sampai 27 Des 07

Dan Lalu Senyap…. November 14, 2007

Posted by ciptabiru in Tidak terkategori.
1 comment so far

alone in the dark 

Dua hari hanya tidur dua jam. Sungguh bukan pengalaman yang menyenangkan. Apalagi itu terjadi hanya dua hari menjelang tanggal yang sama dengan 28 tahun lalu saat aku pertama kali membuka mata melihat dunia.

Emang ngapain aja? Pertanyaan inilah yang sampai saat ini tak berhasil kujawab. Tidak bisa tidur. Kalau jawaban ini yang kuberikan, otomatis orang akan bilang ’ya iya lah’. Orang cuma tidur dua jam kok mau ngako bisa tidur. Kalo emang bisa tidur, pasti tidurnya nggak cuma dua jam.Kalau ku ingat-ngat, Aku memang memulai hari dengan buruk. Pukul 15.00 (aku memang biasanya menghitung perulaan hari dari jam ini. Soalnya jam bilogisku memang sudah berubah. Kerja malem membuat siang hari lebih banyak kumanfaatkan untuk beristirahat.) aku bangun dengan kepala berdenyut-denyut setelah tidur hanya satu jam. Aku tak begitu ingat sesiangan aku ngapain aja. Kalo nggak salah, pas pulang kantor pukul 03.00 pagi  aku melihat kamarku sudah penuh orang. Temen-temen adikku tidur di situ. Alhasil aku nggak kebagian tempat tidur. Membaca akhirnya aku jadikan pelarian. Kebetulan waktu itu aku lagi menyelesaikan novel Deception Point-nya Dan Brown. Sampai pukup 05.30, mataku tak kunjung terpicing. Akhirnya aku memilih keluar dan menjemput sibungsu untuk berangkat ke sekolah.

Pulang nganter, tetep saja mataku nggak bisa kupejamkan. Melanjutkan membaca novel lagi-lagi menjadi pilihan. Begitu terus sampai pukul 11.00. Pas mata sudah mulai mengantuk, tiba-tiba datang temenku. Celakanya, dia mengajakku muter-muter. Mau nolak nggak enak. Akhirnya keluar dengan mata sembab. Jam 13.00 pulang, dan aku kembai melanjutkan membaca. Tak tahu jam berapa, aku terlelap. Perkiraanku mungkin sekitar pukul 14.30-an. Suara alarmlah yang kemudian membangunkanku untuk segera mencelat pergi ke GOR untuk liputan sepak bola.

Hujan, capek karena kurang tidur dan kaki yang sakit karena kedinginan membuat hati tambah bete. Apalagi sampe ke kanto,r ternyata listrik padam hanya setengah jam setelah aku menyalakan komputer. Alhasil tertimbunlah semua kutukan di ubun-ubunku. Jam 22.00, listrik baru bisa menyala. Kerjaan pun akhirnya molor. Pukul 04.00 baru bisa selesai. Celakanya saat pulang, aku sudah tidak bisa tidur. Seperti biasa, membaca kembali menjadi pelarian. Siangnya, kejadian sehari sebelumnya kembali terulang. Tak bisa tidur, temen datang ngajak muter-muter dan kali ini ditambah nonton film.

Rasa capek luar biasa sudah membuat aku menyerah. Akhirnya pukul 01.30 aku terlelap. Tepat 1.5 jam setelah pergantian tanggal. Aku melewatinya dengan kesenyapan. Tidak ada ucapan selamat ulang tahun. Tidak ada SMS. Hape aku matikan, e-mailpun tak kutengok. Aku juga tak punya orang yang kuharapkan untuk mengucapkannya. Tak ada seseorang yang aku anggap spesial kecuali dua adikku. Dan aku tahu mereka tak akan ingat hari ulang tahunku. Siang harinya baru kubuka hapeku. Ada Iin, Desi, Iid, Cenul dan dua nomor lain yang tidak aku tahu siapa pemiliknya. Di friendster, ada Toro, Imam dan Toto yang juga mengucapkannya. Thank you all guys!!

Aku tidak tahu apa maknanya ini. Tapi aku merasa ini akan menjadi awal kesunyianku yang panjang.