jump to navigation

Bapak, Maafkan Aku Membohongimu Oktober 31, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Karena lemahnya iman, aku sudah tak kuasa lagi menghitung, berapa kali sudah melakukan kebohongan. Namun yang terakhir kulakukan kemarin mungkin tak akan aku lupakan sepanjang sisa umurku.
Suatu pagi, aku diberitahu adikku bahwa Bapak sakit lagi. Beberapa bulan ini, beliau memang sering sakit jika terlalu capek. Padahal kegiatannya juga tak banyak-banyak amat. Mungkin pengaruh daya tahan tubuhnya yang terus menyurut seiring berkurangnya jatah umurnya.
Aku belum bisa menengoknya. Lebih tepatnya tidak siap. Aku sangat yakin, sakitnya kali ini bukan karena capek raga. Tapi capek pikiran.
Sekitar dua minggu sebelumnya, untuk pertama kalinya – setelah lebih dari 15 tahun- aku menangis di hadapannya. Aku ingin mengulangi saat-saat aku bersembunyi di balik punggungnya ketika ada yang mengancam keselamatanku. Aku ingin mengadukan ketakutanku. Aku ingin dia tahu masalahku. Dan lebih dari semua itu, aku ingin dia mendoakanku.
Aku ingat sebuah hadits yang mengatakan bahwa doa orang tua itu seperti doa seorang nabi untuk umatnya. Pasti makbul dan mustajab. Jadi aku bercerita padanya tentang kekalutan dan kegalauan jiwaku.
Beliau diam ….
Diantara gerimis air mataku dan empat saudara perempuanku, dia hanya mengatupkan bibirnya. Tak sepatah katapun keluar dari bibirnya yang menghitam oleh nikotin.
Demi Allah….
Aku tidak ingin membuat mereka seperti ini. Aku hanya mengharapkan bantuan doa dari mereka. Bukan menambah beban pikiran mereka. Saat itu juga terbersit penyesalan mengapa menceritakan derita hati ini pada mereka. Tapi semuanya sudah terlanjur. Aku memilih pulang ke kontrakanku kala hati telah menjadi lebih lega karena tindihan beban di pundak sedikit berkurang.
Seminggu kemudian adikku bertanya dimana bisa beli sate ayam saat siang hari. Perasaanku langsung tidak enak. Bapak sangat menyukai sate ayam. Aku langsung bertanya apakah bapak sakit. Adikku biang tidak. Dia tahu pikiranku masih kalut. Mungkin maksudnya tak ingin menambah beban di otakku. Tapi perasaanku tetap tak enak.
Kamis pagi si kecil pulang karena libur kuliah. Dia bilang bahwa bapak memang sedang sakit. Aku melihat awan di sekelilingku mendung. Tapi mataku lah yang kemudian gerimis. Airnya menciptakan sungai-sungai deras yang mengikis ketegaranku selama ini. Aku ambruk di atas sajadah yang telah akrab dengan guyuran air dari kelopak mataku.
Ya Allah….
Salahkah langkah yang telah kulakukan…?
Aku berkemas setelah menguras bendungan air panas di mataku. Aku membasuhnya agar tak terisisa pertanda tumpah. Aku tersenyum di depan kaca. Mencoba mematut diri dan membayangkan melakukannya di depan Bapak. “Hi Dad, I’m OK by the way. Don’t worry ’bout me. Everything under control now,” batinku.
Di halaman rumah aku melihat sosok renta sedang duduk di sebuah kursi kayu. Tatapan matanay kosong sambil menikmati hangatnya mentari pagi. Syaraf-syaraf mataku bereaksi. Mereka ingin merogoh sisa air yang tersimpang di balik korneaku. Aku bilang pada mereka, “Diam dan beristirahatlah”.
Belia menatapku. Matanya berkilau. Aku seolah terbetot ke masa lalu. Masa-masa ketika pulang dari sekolah dan memperlihatkan nilai rapotku yang semuanya berangka 9 dan 10. Mata yang sama.
Aku tahu dia senang melihatku. Aku langsung memaksa seluruh syaraf penggerak bibirku agar menciptakan senyum terbahagia yang bisa mereka lakukan. Aku harus bisa menampakkan diri bahwa aku baik-baik saja dan seolah semua permasalahanku sudah selesai. Ya, aku sangat ingin membohonginya saat itu. Dan berhasil. Dia tersenyum…..
Maaf Pak, aku membohongimu. Aku hanya ingin Bapak sembuh dan tak terlalu banyak pikiran. Ada gilirannya, dimana aku memang harus menyelesaikan masalahku sendiri. dan saat itu sudah datang….

Hikmah Kematian Oktober 4, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Hari ini aku melakukan perjalanan penuh makna ke sebuah dusun terpencil di desa Sidoluhur. Sebuah desa miskin dan aku yakin tertinggal, di kecamatan Ambal, Kebumen.
Sebuah keluarga menyambutku penuh takzim. Menyilahkanku duduk dengan segala keramahannya, meskipun bekas-bekas sembab di mata mereka masih menghias. Aku sempat meminta untuk duduk di luar rumah saja, supaya tidak terlalu merepotkan mereka. Tapi mereka bersikeras untuk mengajakku masuk.
Aku bingung mau mulai dari mana begitu melihat pandangan heran yang menghunjam pada mataku. “Mungkin mereka ingin bertanya, siapa saya, darimana saya dan apa maksud kedatangan saya?” sebuah pertanyaan yang agak suilt kujawab karena kedatanganku ingin mengorek keterangan mereka yang kemudian kujual sebagai berita. Sungguh tak tega sekali mengatakannya.
Tapi mereka tersenyum. Aku tahu itu tulus sekali. Karena itu kemudian aku mengungkapkan maksud kedatanganku. Mereka tidak bertanya, tapi hanya menjawab satu per satu pertanyaanku. Sesekali mereka tertunduk. Mengambil nafas. Mencoba menghilangkan sesenggukan yang memaksa keluar dari dada mereka.
Sungguh, pada saat-saat seperti ini rasanya sangat tak tega. Aku merasa menjadi orang di tempat dan saat yang salah.
Poniman alias Dulhamid dan Waryunah istrinya (demikian nama keluarga itu) adalah keluarga yang baru kehilangan putra pertama mereka. Slamet, lelaki yang diharapkan bisa menggantikan peran Poniman mendadak tewas dengan kondisi mengenaskan saat bekerja bakti membangun sekolah SD di dekat rumahnya.
Jumat malam kemarin, aku juga baru saja melihat mayat di kamar mayat BRSUD Kebumen. Bau anyirnya benar-benar menusuk-nusuk hidung. Lengan jaket yang aku pake buat nutup idung juga tak maksimal. Bau busuk itu tetap saja menerobos masuk melewati pori-pori kain dan menyeruak ke rongga hidung.
Tubuh berwarna hitam itu sudah membengkak tiga kali lipat dari ukuran aslinya di bagian badan. Sementara kakinya menyusut berwarna pucat.
Foto terakhir, sekitar 10 menit sebelum dia dilaporkan menghilang menunjukkan kegantengan si korban. Memakai kaus agak ketat berwarna kuning, Joko (demikian nama si korban) terlihat gagah dengan kaca mata hitam yang menghalangi matanya dari terpaan sinar matahari pantai Bonorowo.
Ketika malam merayap seperti sekarang, aku jadi sadar. Betapa kematian itu sungguh tak bisa disangka kapan datangnya. Slamet yang menggantikan ayahnya bekerja bakti ataupun Joko Santoso yang jauh-jauh datang dari Bandung untuk menemui sang kekasih hati, semuanya tak mengira akan pergi untuk selama-lamanya.
Subhanallah…
Kematian adalah guru yang hebat. Dia mengajarkan makna kehilangan, mengajarkan ketegaran, mengajarkan penyesalan, mengajarkan cinta dan sekaligus mengajarkan hokum relativitas. Kematian juga mengajarkan pada kita bahwa semua yang ada di dunia ini akan sirna. Kegantengan, kegagahan, harta, kesombongan, bahkan raga, semuanya akan sirna berganti dengan kenisbian, kejelekan bahkan bau busuk…
Melihat tanda dan bukti kematian akan mengajarkan kepada kita, bahwa sesungguhnya tiada guna kita memupuk diri dengan harta dan kekuasaan. Apalagi kesombongan dan keserakahan. Tak ada gunanya sama sekali selain hanya sekejap sekali di sela hidup kita dunia.
Sesungguhnya alam akhirat itu kekal adanya. Dan dunia itu hanyalah sekejap. Jadi percuma jika hidup ini hanya kita habiskan untuk mengejar sesuatu yang juga fana adanya. Akhiratlah yang harus kita kejar. Karena di dalanya kita akan melalui hari-hari yang kekal..hari-hari yang tak terbayang panjangnya. Hari-hari yang tak terbayang nikmat atau siksanya…
Badan ini adalah belenggu. Maka jangan memanjakannya dengan kenikmatan sesaat. Perhatikan selembar zat bernama jiwa yang bersemayam di dalamnya. Penuhilah dengan makanan bernama iman. Hiasilah dengan sholat dan dzikir. Agar cahayanya memancar menerangi kegelapan dan kesempitan alam kubur…

Masihkah Ada Kesempatan Itu? Oktober 3, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Haji, adalah khayalan perjalanan terindah. Demikian salah satu bunyi bagian SMS yang saya terima saat lebaran dan menjelang puasa lalu. Saya termenung membaca tulisan yang ditulis dengan cara disingkat-singkat ini. Indah sekali kata-katanya. Dan menohok ke kedalaman kalbu.
Saya mengiyakan. Saya sepakat bahwa khayalan untuk melaksanakan rukun Islam kelima ini yang mestinya dimiliki oleh seorang muslim. Ya, berhaji adalah menyempurnakan pernyataan kita sebagai seorang muslim. Berhaji adalah menggenapkan kewajiban yang mestinya dilakukan oleh orang yang memproklamirkan dirinya sebagai individu yang mempercayai Tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad sebagai rosul Allah.
Dalam setiap sujud akhirku, aku selalu menyampaikan pinta agar diberi kesempatan memberangkatkan Ayah menempuh perjalanan terindah itu. Dan mengkhayalkannya untuk diri sendiri adalah hal besar lain yang tersembunyi dalam kedalaman sanubari.
Pun begitu, hingga saat ini permintaan itu masih sebatas permintaan. Belum mampu mendorong segenap aspek dan kemampuan dalam diri ini untuk mengusahakannya menjadi nyata.
Kerap kali hati terasa menciut melihat Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH) yang terus membubung dari tahun ke tahun. Apalagi demi menoleh ke pendapatan yang selalu tanpa sisa saat bulan baru muncul ¾.
Mengunjungi Bank Penerima Setoran (BPS) Haji, kondisinya juga belum melegakan hati. Jika kemampuan financial hanya mampu menabung seratus ribu per bulan, maka dibutuhkan waktu 300 bulan untuk mewujudkan mimpi indah itu. Tiga ratus bulan itu sama dengan 25 tahun. Meski umur adalah rahasia Allah, tapi pesimis ayahku bisa menunggu selama itu. Bahkan seandainya kemampuan finansialku dipaksakan menjadi 300 ribu sebulan, masih dibutuhkan waktu 8.3 tahun untuk mewujudkannya. Jika aku memulai bulan depan, maka ayahku baru bisa berhaji tahun 2017. Dan itu berarti usianya saat itu sudah 72 tahun. Akan kasihan sekali dengan usia sebegitu renta, dia harus berlari diantara bukit sofa dan marwa, dan berhimpitan mencari kerikil untuk melempar jumroh.
Ya Allah, adakah jalan yang lebih pendek untuk mewujudkan mimpi itu? Adakah jalan yang lebih mudah bagiku untuk membahagikan jiwa Ayahku?

Mendamba Ramadan Sepanjang Bulan…. September 30, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Ramadan adalah Universitas, dan sebelas bulan berikutnya yang dimulai Syawal ini, adalah kesempatan untuk mengamalkan ilmu yang sudah didapat di Universitas Ramadan.

Entah karena kesibukan kerja yang bertubi-tubi datang atau memang karena iman yang sedang terpuruk di dasar grafik cosinus, Ramadan kemarin seperti kehilangan makna. Dari sebulan penuh, hanya dua kali aku ikut sholat Tarawih berjamaah. SIsanya selalu dilakukan sendiri di kamar setelah pulang kerja. Menjelang dinihari.
Aku masih mengingat dengan jelas. Saat mendengarkan alunan merdu suara Imam yang melafalkan ayat-ayat Illahi di Nurul Ulum. Hati terasa sejuk dan ingin melakukannya semalaman. Mata mendadak berlinang dan merasa diri begitu kotor. Dada bergetar menahan sesenggukan. Namun kepala terasa ringan dan jernih.
Wahai zat yang menggetarkan kalbu. Kadang hati bertanya kenapa rizkiku turun saat saudara-saudaraku pulas terpejam? Kenapa aku tak bisa terbuai seumpama bayi begitu kelammu menutup langit? Kenapa aku justru harus memicing mata memelototi kotak yang penuh radiasi saat jiwa-jiwa tenang terhanyut dalam kehangatan selimut?
Aku ingin mengaum bagai singa saat sang surya memamerkan sinarnya. Aku ingin berlari bagai cheetah saat kicau burung memanggil pagi. Aku ingin menempelkan dahiku saat tenagaku melemah setelah seharian berlari mengejar waktu.
Pertanyaan itu selalu berputar. Namun jawabannya selalu satu hal. Syukur. Kita, manusia selalu kurang bersyukur dengan segala nikmat yang dikaruniakan Allah. Sebanyak apapun sehari semalam kita melafalkan Hamdalah, tak pernah sebanding dengan nikmat yang dicurahkan Allah dari ‘arsy-nya.
Jawaban inilah yang akhirnya menyadarkanku untuk menyesal. Ya. Menyesal. Menyesal karena menyia-nyiakan keagungan Universitas Ramadan. Menyesal karena tak bisa mengkhatamkan bait-bait penuh keindahan dari kalam Illahi. Menyesal karena begitu jauh diri ini dari Lalatul Qodar. Menyesal karena hati tak kunjung mencair oleh kesombongan dan keangkuhan. Padahal kesombongan itu pakaian yang tak pantas dikenakan manusia. Karena hanya Allahlah yang pantas memilikinya.
Siang tadi, saat mampir di masjid besar yang diselimuti debu di daerah Rawalo. Aku seperti disentak oleh sebuah gelombang kejut. Betapa lemahnya disiplin diri untuk memenuhi panggilan zat yang penuh cinta. Betapa seringnya aku mengingkari janji untuk menemuiNya. Betapa tak acuhnya telinga saat mendengar ajakannya.
Istiqomah. Sebuah nama yang pernah disematkan seorang mahasiswa KKN Unsoed di mushola di depan rumah sekitar 20 tahun yang lalu. Nama yang cantik dan penuh makna. dan baru sekarang aku merasakan betapa susahnya untuk mewujudkannya.
Wahai pemilik segala cahaya. Sinari hati hamba yang dina ini dengan sinar yang menghidupkan hati. Sinar yang menerangi kepekatan kalbu. Sinar yang membasuh tumpukan debu. Sinar yang memelihara kejernihan pikir. Sinar yang menjaga lafal-lafal dzikir. Dan sinar yang membawa keutuhan Iman. Amin…..

Bidadari Semu September 24, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Ide menggunung di kepala, tapi kemauan menulis serasa sirna. Akibatnya malah pusing sendiri. Jadi teringat seorang penulis pernah bilang, Aku menulis agar tidak gila”. Mungkin beginilah rasanya.
Beberapa sudah dituangkan dalam lembaran-lembaran yang lama terlupa. Membuat novel. Beberapa lainnya tertuang dalam diary. Tapi ada hal-hal yang aku pikir tak masuk ke keduanya. Salah satunya tentang tema ini. Reuni.
Well, Rabu (23/9) lalu, aku memang memutuskan datang ke acara reuni SMA. Agak surprise juga pas tahu yang datang ternyata sedikit banget. Padahal pas lihat di Facebook, kayaknya heboh banget.
Anyway, banyak senyum yang tercipta selama pertemuan panjang itu. Memori kekonyolan dan kebodohan sepuluh tahun silam tiba-tiba diputar ulang. Mulai dari minggat saat jam kosong sampai nyontek jawaban pas ulangan. Beberapa teman mengenang masa-masa terindah hidupnya saat berseragam abu-abu. Melirik malu pada perempuan yang dulu dipacarinya dan sekarang sudah menggendong manusia kecil dalam dekapannya. Atau menepis bara yang dulu pernah menyala saat teringat dendam karena rebutan cewek.
Re Uni. Bersatu kembali. Memang selalu membawa kenangan indah. Aku ingat dengan masa-masa satu dekade silam itu. Seperti juga ABG yang kerap terjebak dalam Devil’s Trap, aku juga pernah memendam kekaguman pada sosok lembut seorang perempuan. Setidaknya saat itu. Untunglah proteksi berupa aturan rumah untuk tidak pacaran membentengiku sampai lulus.
Pun begitu, kekaguman pada sosok yang sangat mirip dengan adik bungsuku itu terus mengusikku. Rambut lembutnya yang berwarna cokelat kemerahan, lengkung samar di ujung bibirnya saat dia tersenyum, dan sifat manjanya, benar-benar identik dengan si kecil. Sampai lulus pun kekagumanku pada kecantikan fisiknya tak pernah sirna.
Selama 9 tahun masa kuliah, aku tak pernah tahu kabarnya. Tak pernah tahu seperti apa wajahnya. Seperti apa jilbabnya (seandainya dia sudah memakainya) dan bahkan tak tahu apa nama universitas dan jurusannya. Sampai kemudian suatu hari, lewat situs jejaring sosial friendster, aku menemukan beberapa fotonya dalam balutan busana muslimah yang sangat anggun. Subhanalloh. Maha suci Allah yang telah menciptakan kesempurnaan. Batinku waktu itu.
Namun waktu berlalu dan kejutan lebih besar pun muncul. Di FB, semua kekagumanku sirna. Jilbabnya entah terenggut kemana, memperlihatkan rambut lurusnya yang berkilau. Baju panjangnya mungkin tergunting oleh pisau mode, memperlihatkan lengannya dan lehernya yang jenjang.
Seandainya pantas, ingin sekali mengatakan padanya, ukhti, pelihara kehormatanmu. Jangan obral ke sembarang mata. Tapi toh aku tak berhak. Dia hanya perempuan yang aku kagumi karena punya selaksa kemiripan dengan kepompong kecilku. Sekarang kepompong itu telah menetas menjadi kupu-kupu yang cantik. Mengepakkan sayap lembutnya untuk menebarkan keindahan. Sementara dia menetas menjadi makhluk lain yang tak kutahu namanya. Menebarkan sayap rentannya dengan keindahan palsu.
Sebagai saudara seiman, aku menyesal tak pernah sungguh-sungguh mencari tahu keberadaanya. Menyesal karena tak pernah bisa mengajarkannya istiqomah menutup aurat. Menyesal karena tak pernah bisa berbagi nasihat dan wasiat kebaikan. Menyesal karena dia akhirnya hanya menjadi bidadari semu.
Semoga hidayah Allah bisa menyinari hatinya. Amin..

FB: Balik Kucing dan Cita-Cita Baru September 24, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Setelah sekian bulan berhibernasi, akhirnya aku membuka kembali Facebook. Ini terjadi setelah aku berdiskusi panjang dengan seorang kawan. Dia tanya kenapa FB ku nggak aktif? Aku bilang FB membuat aku menghamburkan sedemikian banyak waktu hanya untuk mengomentari status orang. Celakanya, kebanyakan hanay berisi olok-olok, caci maki, hinaan dan ledek-ledekan. Meski semuanya dalam koridor bercanda, tapi aku pikir mudhorotnya terlalu banyak.
Tahu apa yang dikatakan temanku? Pisau juga bisa digunakan untuk membunuh. Bahkan bantal sekalipun. Itu tergantung dari pemakainya. Apakah mau untuk merajang bawang atau membunuh. FB juga begitu. Apakah kamu mau menggunakannya untuk bergosip dan melakukan kegiatan yang tidak perlu atau memanfaatkannya untuk berda’wah.
Aku termenung. Aku teringat saat aku dengan tegas menolak menjadi anggota sebuah koperasi yang dimanajemeni sebuah organisasi agama lain yang jelas-jelas punya agenda tersembunyi di baliknya. Suatu ketika temanku, seorang pemuda pergerakan organisasi keagamaan bilang, ikut saja. Pelajari sistemnya, dan kita gunakan untuk kemaslahatan ummat. Tapi aku tetap menolaknya. Alasanku, (kalau nggak salah) nabi pernah berkata, barang siapa yang mengikuti gaya mereka (Nasoro wal Yahuda) maka kita adalah bagian dari mereka.
Aku memang salut dengan sistem yang mereka bangun. Menyadarkan masyarakat untuk bijak memanfaatkan penghasilan, sekaligus merencanakan masa depan bagi diri dan generasi penerusnya. Cuma untuk menjadi bagian dari sistem itu, aku tidak sependapat. Toh ilmu seperti itu Insya Allah bisa didapat dari sumber lain yang lebih ‘ramah’ terhadap aqidah Islam kita. Karena aku pikir sistem seperti itu adalah sistem yang universal. Tinggal kita mampu mempelajari dan melaksanakannya atau tidak. Dasar-dasarnay sudah dicontohkan oleh uswatun khasanah kita, sang akhirul Anbiya, Muhammad SAW.
Nah, dalam kasus FB, aku berusaha kembali merenung. OK, kalau FB bisa saja digunakan oleh sang pengelola untuk mengumpulkan data semua membernya. Menganalisanya dan membuat sebuah strategi penghancuran sebuah masyarakat di masa mendatang, tapi FB juga bisa menjadi boomerang bagi orang-orang yang ingin memanfaatkan fasilitas ini untuk tujuan tadi. Salah satu caranya adalah dengan memanfaatkannya untuk kemaslahatan ummat.
Itulah sebabnya kemudian aku buat grup untuk menjalin silaturrahmi. Pertama Lazis Mafaza dan yang kedua 99 SMULA. Tujuannya adalah agar suatu saat orang-orang yang menjadi membernya bisa memberikan manfaat satu sama lain dan bisa menolong orang lain yang kurang beruntung.
Aku punya cita-cita untuk menghimpun dana bagi anak-anak kurang mampu agar tetap bersekolah lewat Lazis Mafaza. Bayangkan seandainya seratus dari 300an teman saya mau menyumbangkan 50 ribu saja setiap bulan dari penghasilannya yang berjuta-juta. Maka akan ada 5 juta. Setelah itu, setiap orang dari seratus orang itu juga berhasil mengajak 100 orang lagi dan seterusnya, akan banyak sekali dana yang bisa dikumpulkan.
Jika itu bisa terlaksana, mungkin tak akan ada orang yang mengeluh pendidikan itu mahal. Karena ada dana untuk melaksanakannya. Suatu saat, kita bisa melihat generasi muda yang pintar secara akademik dan punya akhlak Qur’ani. Karena selain memberikan dana bantuan, Lazis Mafaza juga memantau perkembangan mental dan aqidah orang-orang yang dibantunya.
Grup 99 SMULA juga aku buat dengan tujuan yang kurang lebih sama. Aku ingin anak-anak angkatan 99 bisa saling bertegur sapa. Syukur bisa berbagi rizki pada teman-teman lain yang belum seberuntung kita. Aku bahkan berkhayal bisa membentuk yayasan yang membawahi beberapa perusahaan yang dikelola angkatan 99 SMULA. Agar semua lulusan 99 SMULA bisa hidup sejahtera suatu saat. dan agar ikatan silaturrahmi tetap terjaga.
Ada sebuah quote bagus yang aku catat dari profile temanku. “Jika kau menginginkan sesuatu, maka seluruh alam semesta akan bersatu padu untuk mewujudkannya”. Hanya saja quote itu masih kurang. Versi lengkapnya mungkin begini. “Jika kau menginginkan sesuatu, berdoa dan berusaha lah dengan sungguh-sungguh, maka seluruh semesta akan bersatu padu untuk mewujudkannya”

Malam Ini, 19 Tahun Silam September 13, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Malam ini 19 tahun yang lalu
Satu lagi suara anak manusia memecah kesunyian maghrib yang remang. Senyum-senyum lega terpancar dari wajah-wajah belia kami.
Warna lembayung di ujung bumi sebelah barat terlihat menyemburat merangkul langit. Seolah belum rela memberikan kegelapan, demi menyambut sosok mungil bersuara keras itu.
Aku takjub menatap sosok merah bermata lentik itu. Bibirnya sangat mungil. Saat kusapukan madu di permukaanya, tangisnya mereda. Di dalam kamar, seorang perempuan agung tersenyum lega setelah berjuang untuk kesepuluh kalinya. Melahirkan jiwa-jiwa kembara ke muka dunia.
Subhanalloh….
Betapa waktu sangat cepat berlalu. Aku masih ingat saat-saat menggendongnya ke tempat tidur saat dentang jam dinding berbunyi sembilan kali. Kursi kayu berbalut kain emas itu menjadi saksi ukuran tubuhnya yang terus bertambah setiap waktu.
Saat-saat menggendongnya ketika pulang sekolah juga masih kuingat dengan jelas. Sampai kelas lima SD hal itu masih kami lakukan. Setelah kelas enam, dia sudah malu kalau ditawari gendong.
SMP berlalu lebih cepat. Tapi aku ingat bagaimana jabatan demi jabatan membuatmu terlihat dewasa di luar sana. Meski tetap manja saat di rumah.
Dan tanpa terasa, masa remajamu datang menyergap. Saat inilah proteksiku menjadi sangat kuat. Tak sekalipun aku biarkan orang-orang haram menyentuhmu. Kedewasaan itu seolah berpacu dengan ketidakrelaanku melepaskanmu. Sekarang, hanya suaramu yang bisa kudengar. Itupun tidak setiap hari.
Tugas kuliah dan kegiatan organisasi seoleh merebutmu dari dekapan kami. Tapi kami percaya padamu. Karena segunung cinta yang kami punya.
Wahai pemilik senyum dan lirik ibunda…
Hari esok bakal semakin sulit. Bakal semakin banyak daya upaya iblis di sekitarmu. Berlindunglah senantiasa pada pemilik jiwamu.
Wahai pemilik titisan jiwa yang tenang…
Selaksa cinta yang datang karena Allah akan selalu menyertai langkah-langkahmu.
Wahai dinda tambatan sembilan jiwa..
Doa kami untuk setiap nafas yang kau hela dan setiap kata yang kau ucap. Semoga semuanya hanya untuk menapaki sajadah-sajadah cinta, menuju jalan Illahi…
Happy Birth day my Little Angel….

Sorry 4 The Bad Lesson September 9, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Malem Rabu kemarin akhirnya berhasil maksa si kecil buat buka bersama. Rasanya udah lama banget nggak ngobrol ngalor ngidul sama dia. Belasan hari ini hanya telpon untuk menanyakan kegiatan sehari-harinya. Itupun sangat terbatas waktunya karena dikejar-kejar tarif pulsa.
Alhamdulillah, kemarin dia mau buka bersama. Biasanya alesannya nggak enak sama teman2 kos karena udah masak. Kalo nggak, dia malah kebagian giliran masak atau rapat sampai buka menjelang. “Duuh..sibuk banget ya sekarang. Sampai kakaknya nggak dapet jatah buat makan bareng”. Godaku suatu ketika. Seperti biasa, dia merengek manja dan membela diri mesti menepati janji dan komitmen yang udah dibuat. “Ntar kalo nggak ditepatin kita yang dosa juga kan Kak?” ujarnya berdalih. Kalo udah begini, aku yang akhirnya ngalah. Padahal udah kangen banget pengin nyubit idungnya atau mengusap jilbab di kepalanya.
Pas mau berangkat njemput dia, tiba-tiba sahabatku telpon dan ngajak buka bersama. Aku pikir sekalian aja. Jadi akhirnya aku iyakan. Tapi pas di lokasi ternyata dia dateng sama pacarnya. Setelah itu, ada teman satu lagi yang ternyata juga membawa pacarnya. Setelah itu, ada lagi pacar temanku datang sendirian. Akhirnya kita makan bertujuh.
Sempat terpikir untuk nelpon Ade’ku yang satu lagi. Tujuannya supaya bisa pindah meja dan makan bersama dua ade’ku. Tapi pas ditelpon, ternyata kakak si bungsu sedang buka bersama di sekre bareng teman-temannya.
Sungguh, aku merasa sangat bersalah pada si kecil. Selama ini aku mendidiknya untuk menjauhi orang-orang yang bukan muhrimnya kecuali bersama dengan saudara atau muhrimnya. Tapi malam itu aku seolah-olah malah mengajarkan hubungan lain jenis yang penuh kebebasan itu padanya.
Astaghfirulloh….Insya Allah, bukan itu maksud kakak De’. Kakak tidak bermaksud memperlihatkanmu, apalagi mengajarkanmu hubungan pria-wanita yang tidak diridloi Allah. Semoga Allah melindungi hati dan pikiranmu dari hal-hal seperti itu.
At least, acara buka bersama dia sangat menentramkanku. Ngobrol ngalor-ngidul tetap berjalan. Tentang kulit tangannya yang mengelupas dan sakit. Tentang kemajuannya belajar memasak. Tentang minyak baby oil untuk mengobati tangannya. Tentang puasanya yang diragukannya apakah dihitung atau tidak karena tamu bulanannya hadir saat buka datang dan hal-hal lain seputar kegiatannya di kampus.
Hmm..dia semakin dewasa. Sebuah kondisi yang aku harapkan tapi juga kadang aku takutkan. Suatu saat, aku akan kehilangan rengekan manjanya saat menghadapi kesulitan. Atau cerita ngalor-ngidulnya yang kadang konyol dan bikin aku tertawa terbahak-bahak. Aku juga akan kehilangan saat-saat mengantar atau menjemputnya. Saat-saat menagih hafalan Al-Quran yang dia hafalkan. Kadang, hati bertanya. Jika saat itu tiba, masihkah cinta dan kesabaranku sama seperti sekarang? Semoga akan selalu ada cinta untuknya yang hadir karena Allah SWT. Amin

Seulas Senyum di Buta Pagi September 6, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Wajah mungil itu tengadah memandang langit. Bulan bersinar lembut di atas kepalanya. Lentik bulu matanya terlihat berkerjap-kerjap. Sesekali dia tampak menguap sambil menutup mulutnya dengan tangan mungilnya. Dia menyedekapkan tangannya di dada. Udara dingin membuatnya sedikit menggigil.
Mulut mungilnya tersenyum saat aku menghampirinya.
“Masih ngantuk ya de’?” sapaku.
Dia cuma tersenyum. Matanya melirik ke arah perempuan muda yang pangkuannya dijadikannya bantal.
“Iya nich kayaknya mas. Maklum, baru kelas 2 SD,” kata perempuan yang menghabiskan waktunya mendampingi si kecil dan 44 temannya. Seolah menyalurkan pandangan mata si kecil dan mengubahnya menjadi kata-kata.
“Waduh, maaf ya. Jadi harus bangun malem-malem. Tunggu bentar lagi ya. Mungkin beliau segera dating,” hiburku.
“Iya nggak papa,” kata perempuan muda itu. Lagi-lagi mewakili si kecil yang telentang dalam pangkuannya.
Aku memandang ke sekeliling. Wajah-wajah jemu terlihat tak sabar menunggu. Sekotak nasi sudah menggeletak di hadapan mereka. Tapi yang ditunggu tak kunjung datang. Makanan di hadapan mereka pun tak kunjung bisa disantap.
Suara kentongan bersahut-sahutan dengan irama harmonis. Sahur…Sahuur…Suara para peronda yang berkeliling sambil membangunkan warga untuk sahur.
Yang ditunggu akhirnya datang. Setelah beramah tamah sejenak, acarapun dimulai. Tak berapa lama kemudian ustadz yang aku jemput membacakan doa dan sekelumit fadilah bersodakoh dan beramal. Acara sahur bersama 500 warga pun dimulai.
Pak Kapolres yang menjadi tuan rumah bersama Pak Yohanes yang menggagas acara terlihat berbincang akrab. Di sebelahnya ada Pak Laju yang menjadi penyumbang bingkisan terlihat takzim memandang para peserta.
Dan saat yang ditunggu pun tiba. Pembagian bingkisan untuk para peserta. Aku berdiri di dekat meja tempat menaruh bingkisan.
Subhanalloh…dini hari itu menjadi sangat berarti bagiku. Sebuah energi luar biasa besar seperti merasuk dalam tubuhku yang sehari semalam belum memejamkan mata. Setiap bibir tersenyum. Ada rasa terimakasih yang tak terucap dari bibir mereka. Tapi aku tahu mereka mengucapkannya. Ada anggukan menyapa dari anggota BCC Banyumas. Seolah mengucapkan terimakasih telah datang di pagi buta ini.
Dalam kesibukan antrian aku seolah tersedot pada sebuah ruang terang yang berwarna putih. Tidak ada warna. Hanya putih menghampar. Sejauh mata memandang, hanya putih membentang. Lalu aku melihat tubuhku. Aku merasa menciut. Ternyata akulah warna lain dari tempat itu. Ya. Hitam. Aku menjadi titik hitam yang sangat kontras dengan tempat maha luas berwarna putih itu.
Aku merasa berada di tempat yang salah. Aku belum bisa mengubah diri menjadi putih. Aku beringsut dari tempat itu. Ingin berlari. Dan mendadak aku kembali tersedot ke halaman Polres Banyumas. Masih ada senyum-senyum itu. Dan aku ingin melihat hal itu sebanyak mungkin…

Sungguh Aku Takut dengan Siksanya Agustus 27, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
2 comments

Marhaban ya Ramadan…
Baru sempat menyampaikannya…
Tapi aku tidak akan membahas ramadan kecuali sebagian kecil diantaranya. Paling tidak, postingan kali ini agak-agak nyangkut dengan bulan penuh berkah ini.
Ceritanya aku sedang berjalan-jalan dengan sahabatku. Seharian mencari firasat yang bisa membawa kami pada kedekatan rizki. Karena tak kunjung menjumpai, akhirnya masuk ke Plasa Telkom.
Usai selesai urusan, sahabatku menyodorkan hape yang sedang dipakainya untuk bicara.
“Nih, si Fulan pengin ngomong sama kamu,” katanya.
Aku langsung tau kalau yang dimaksudnya adalah calon istrinya.
“Mas, buber yuk?!” ajaknya merajuk.
“Apa? Bubur? Ini lagi puasa. Nanti sore aja,” candaku
“Buber mas..Buber..” katanya. Tidak sadar kalau aku sedang mencandainya.
“Oh, bumper. Kebetulan ini aku mau ke Kemutug. Ntar pulangnya bisa mampir. MAu minta apa emang?” tanyaku ngawur?
“Buber mas, Buka Bersama,” jengkelnya.
“Ooo..buka bersama. Bilang dong..Nggak ah, ini kan baru jam 13.30. Batal ntar,” jawabku lagi.
“Ya, ampun mas. Kok bolot banget sich. Ya enggak sekarang. Ntar kalau pas buka,” kali ini dia menyemprot. Nggak marah beneran siy.
“Ooh..OK, kapan. Kalau selain malem Rabu aku nggak bisa. Soalnya aku kerja,” kataku serius.
“OK nggak papa malem Rebo,” katanya
“Lho emang kamu libur? Bukannya kamu jauh?” tanyaku. Giliran aku yang heran.
“Nggak papa Mas. Aku pulang nggak papa kok,” katanya
“Nah lho..”
“Tapi ada syaratnya mas,” suaranya kedengaran serius
“Syarat? Apaan. Masa buka bersama aja pakai sarat,” tanyaku lagi.
“Iya. Syaratnya Mas harus bawa pasangan. Perempuan,” rajuknya. kemudian tertawa.
“Kalau sekedar pasangan aku bisa bawa. Orang yang paling aku cinta sejauh ini. Adikku,” kataku
“e…nggak mau. Mas mesti bawa pacar,” godanya.
“Masya Allah. Bukannya sudah aku bilang sejak kita bertemu dulu. Aku tidak pacaran dan bagaimana aku menjauhi istilah itu,” kataku mengingatkan.
“Emang sampai segitunya ya mas?” katanya penasaran.
“Besok pas kita ketemu lagi aku bakal ceritakan kenapa pilihan itu yang aku pilih,” kataku.
“oya, ini tak balikin ke calonmu ya. Ntar dia cemburu lagi kalo kelamaan ngobrol sama aku. dah dulu ya Assalamu’alaikum,” pungkasku.
Tapi aku tak bermaksud menyampaikannya secara langsung. Akhirnya aku ngobrol dengan calonnya mengenai konsep bersuci dan makna suci bagi seorang muslim.
“Thaharah adalah hal pertama yang harus dipelajari oleh semua muslim. Melebihi ajaran lain yang harus dipelajari. Itu maknanya sebelum kita mengutarakan ketauhidan sekalipun, hal paling mendasar bagi setiap insan, kita harus dalam keadaan suci. Baik lahir maupun batin,” jabarku.
“Itulah kenapa kita mesti mempertahankan kesucian kita sebaik mungkin. Jangan sampai ternoda oleh hal-hal yang dilarang oleh Allah,” sambungku.
Dia termenung.
“Sungguh aku sangat takut dengan siksa yang dijanjikan Allah pada orang-orang yang menyentuh kulit lawan jenis yang bukan mukhrimnya. Konon seribu jarum menusuk badan itu lebih ringan sakitnya dari pada siksa yang dijanjikan Allah,” ujarku lirih.
“Itu juga kenapa dulu aku bilang supaya kalian tak usah menunggu terlalu lama untuk mengikat buhul pernikahan. Supaya tak banyak noda maksiat yang mengotori diri dan hubungan kalian,” ujarku lagi.
Dia mengangguk.
“Kamu tahu betapa protektifnya aku dengan sibungsu kan. Aku tak pernah membolehkannya jalan sendirian, apalagi jalan dengan orang yang buan muhrimnya. Aku selalu mau mengantarkannya demi bisa menjaga fisik dan jiwanya. Itu karena aku ingin menghadiahkan kesucian jiwa dan raganya pada lelaki sholeh yang kelak akan menjadi imam baginya. Hanya lelaki yang dipilihkan Allah yang juga suci lah yang berhak menikahinya,” aku yakin kali ini aku seperti orang yang berceramah.
“Aku juga seperti itu. Aku ingin istriku kelak mendapatkan aku sebagai seorang yang bersih. Bukan barang sisa dari sentuhan-sentuhan orang lain. Bukan bekas dari sesuatu yang pernah dipakai oleh orang lain. Dia akan mendapat barang yang gress,” kataku lagi.
Temanku, seperti sebelumnya hanya diam. Sesekali dia mengangguk. Tapi tanpa berkatapun aku tahu. Dia sepaham denganku seperti selama ini kami sepaham dalam setiap kebaikan. Aku berharap setelah ini dia akan menyampaikan apa yang aku sampaikan pada perempuan yang Insya Allah sebentar lagi akan dinikahinya itu. Agar tak perlu lagi dia menggodaku untuk membawa pasangan yang belum kunikahi..