jump to navigation

Selemah Itukah Imanku? Desember 14, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Hari ini hatiku redam ketika beranjak dari sebuah warnet. Mengutuki kelemahan iman dan ketidakmampuan raga karena tak mampu mencegah kemaksiatan. Tiba-tiba matau basah. Aku berhenti sejenak dan menepikan sepeda motorku di dekat sebuah pekuburan umum.
Aku menghirup nafas panjang. Menatap nisan-nisan yang berjajar rapi, seolah berbaris dalam diam. Air yang mengalir itu tak mau berhenti, bahkan semakin deras. Istighfar berkali-kali tak kunjung melegakan hatiku. Ada sesuatu yang mendesak-desak dadaku dan menghimpitnya.
Ingin rasanya kembali dan menggebrak bilik itu. Aku membayangkan ada sosok seorang ibu yang sedang duduk menerawang menunggu anak gadisnya pulang sekolah. Berharap bisa menyambutnya dengan senyuman termanisnya dan membelai kerudung di kepalanya. Tak pernah tahu anak gadisnya tak pernah sampai ke sekolah dan memilih kerudung putihnya diacak-acak tangan haram.
Entah bagaimana perasaan perempuan yang telah membagi hidupnya dengan jiwa mungil pemilik kerudung putih itu. Mungkin hatinya akan jauh remuk daripada hatiku yang tak punya tautan apapun padanya.
Aku kasihan pada pemilik bilik itu. DIa teman terbaikku yang selalu menempelkan dahinya di atas sajadah ketika nama pemilik jiwanya dikumandangkan. Di sampingnya juga ada perempuan anggun yang memberinya kepercayaan karena kemanahan jiwanya. Aku tak tahu apakah usahanya untuk mencari makan disalahgunakan oleh pemuda-pemuda biadab itu. Aku juga tidak tahu apakah yang akan dilakukannya jika suatu ketika dia mengetahuinya.
Dia pemuda baik yang menghabiskan nyaris seluruh hidupnya untuk mendampingi wanita yang melahirkannya. Tentu aku tak rela jika niat sucinya dinodai oleh orang-orang hina yang hanya menuruti nafsu purba dalam dadanya.
Aku harus berbuat sesuatu. Minimal menganjurkannya untuk mengurangi sekat di bilik-bilik warnetnya. Agar tak dimanfaatkan oleh jiwa-jiwa hina yang terbungkus raga-raga aniaya. Agar setiap rupiah yang dihasilkannya tak tercampur dengan peluh iblis dan ludah laknat.
Duhai saudaraku, kita pernah berjanji untuk saling berwasiat dan bernasehat. Semoga Allah selalu melindungi kita semua dari bujuk rayu syaiton dan tipu daya mereka. Teruslah berjalan. Aku akan membentangkan sajadahnya untukmu..

The Pink’s Turn to Green Desember 4, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Sore tadi, usai rapat listing aku dikejutkan dengan kedatangan seorang perempuan muda. Ya. Muda dalam artian yang sesungguhnya. Umurnya memang baru 20 tahun. Tapi aku memilih menyebutnya perempuan.
Dia tersenyum. Di sampingnya, seorang lelaki dewasa – mungkin seumuranku – juga tersenyum ramah padaku. Perempuan itu menyerahkan sebuah kertas berwarna hijau. Sebuah undangan yang sewarna dengan baju dan kerudung jilbabnya. Perasaanku berdebar-debar.
Siapa yang menikah? batinku. Namun belum sempat aku ucapkan, perempuan muda itu tersenyum lagi. “Iya mas. Kami udah menikah tanggal 26 kemarin. Insya Allah resepsi tanggal 12 besok. Datang ya mas,” ujarnya seolah menjawab rasa penasaranku. Aku tersenyum.
“Subhanalloh….Ini suamimu?” kataku takjub.
“Iya Mas. Mas, kenalin ini Mas Oddie,” ujarnya memperkenal lelaki dewasa yang ternyata suaminya itu. Kami berjabat tangan erat. Ada salam kehangatan dari tangannya. Meskipun aku tahu dia agak bingung. Aku mengangguk ramah.
“Oddie” katanya singkat sambil tersenyum
“Mas Biru ini udah kayak kakakku mas. Mama sama Papa kemarin dulu mungkin udah cerita. Itu mengapa sekarang kita ke sini,” katanya. Lagi-lagi menjawab kebingungan. Tapi kali ini suaminya yang manggut-manggut.
“Mas Biru bisa datang kan?” ujarnya meminta kesanggupanku.
Aku kembali melihat perempuan muda itu. Dia sudah sangat jauh berbeda dengan saat awal-awal aku mengenalnya. Aku ingat, dulu dia paling suka menggunakan pakaian warna pink. Sendal Pink, sepatu pink. Kaus kaki pink. Baju pink. Kadang celana dan aksesoris juga warna senada.
Bicaranya ceplas-ceplos khas anak ABG yang baru kelas 2 SMA. Asal liat cowok ganteng, dia pasti komentar. Apalagi kalo liat baju bagus atau cewek cakep yang pake baju bagus. Pasti komentarnya langsung nyerocos.
Kebiasaan itu masih muncul sampai dua tahun berikutnya. Bahkan meskipun sudah memilih memakai kerudung. Aku sering bilang padanya bagaimana sebaiknya menjadi orang yang memakai kerudung. Untuk menundukkan pandangan, mengirit perkataan dan memperbanyak dzikir.
Momen pertemuan berikutnya aku ingat benar. Ketika kakek dari tetangganya membutuhkan darah dan dia memintaku menyumbangkan darah. Dia sudah tidak mau bersalaman. Aku bersyukur pada saat itu. Dan aku lebih banyak ngobrol dengan ayahnya yang bermata sipit itu saat menunggu giliran diambil darahnya.
Pertemuan selanjutnya terjadi saat di KKN. Atas permintaan orang tuanya, aku menengoknya sambil mengantarkan pesanan mereka. Perubahan itu semakin kentara. Aku melihatnya sedang mengajar ibu-ibu mengeja huruf hijaiyah. Dia tersenyum dan memintaku menunggu. Setelah selesai, dia baru keluar.
Terakhir kalinya bertemu dengannya adalah saat aku main ke rumahnya, memenuhi undangan ayah dan ibunya. Makan bersama dan bercerita menjadi acara rutin saat ke rumahnya. Si kecil Kiky yang dulu masih kecil, kini sudah jadi ABG dan kelas 1 SMP.
Saat itu ayah dan ibunya memang menyinggung bahwa anaknya sedang didekati salah satu tetangganya. “Tapi anaknya sudah dewasa mas. Mungkin seumuran mas Biru atau bahkan lebih tua lagi,” kata mereka. Aku tersenyum dan menjawab bahwa hal itu bukan sebuah halangan. Bahkan mungkin malah akan baik buat anak mereka.
Dan disinilah mereka kemudian. Perempuan yang empat tahun lalu masih suka sekali mempertontonkan sebagian tubuhnya itu kini telah berbalut busana muslimah yang anggun. Di sampingnya ada seorang lelaki yang lembut dan sangat dewasa.
“Insya Allah aku datang. Wah, aku disalip nich berarti?” godaku.
“Iya mas. Karena itu aku sempetin dateng ke sini. Sekalian minta maaf nyalip masy,” ujarnya sambil tersenyum. Lelaki di sampingnya terlihat tersenyum arif.
Kemudian mereka pamit. Aku mengantarkan mereka dan menyempatkan mengobrol dengan ayah dan tantenya di mobil. Aku merasakan kegembiraan yang menyeruak di wajah-wajah mereka.
Ada rasa panas di pipiku yang kurasakan membuatnya berubah menjadi memerah. Aku iri dan malu dengan ketegaran perempuan muda ini. Dia begitu ikhlas melepaskan masa remajanya dan memilih mengarungi bahtera rumah tangga. Aku iri dengan tekadnya. Aku malu dengan keberaniannya.
Duhai dzat yang Maha Mengasihi, Kasihilah pasangan yang menempuh jalanMu dan melakukannya dengan kasih itu. Semoga mereka sakinah, mawadah, warrohmah..Amin

Untuk Detik Berikutnya yang Lebih Qur’ani… November 14, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Bismillahirrahmanirrahiim..
Hari ini aku kembali mengingat momen paling menakutkan sekaligus paling membahagiakan dalam kehidupanku. Momen pertama dimana aku tak pernah tahu apakah yang ada di hadapanku adalah ancaman atau keindahan dan kebahagiaan.
Aku menangis sekuat tenaga saking takutnya. Takut dengan ancaman yang bisa menenggelamkanku dalam lautan bara api bersama sang laknatullah. Aku menangis tanpa henti. Teringat dengan segala kedamaian dan kenyamanan yang kurasakan sebelumnya. Teringat dengan segala kebahagiaan dan keceriaan yang mewaranai kehidupanku. Teringat dengan keindahan tak terkatakan yang selalu mengelilingi kami.
Sesosok manusia tersenyum padaku. Tangannya membelai rambutku. Disentuhnya hidungku. Kemudian mulutnya yang harum mengecup keningku. “Apakah ini malaikat yang akan menjagaku seperti yang dijanjikan Allah,” batinku di sela ketakutanku.
Dan dia tersenyum lagi.
Segala kenyamanan, kedamaian, kebahagiaan dan keindahan yang telah kutinggalkan mengalir dari semua bagian tubuhnya. Binar matanya, kecupan bibirnya, belaian tangannya dan hangat dekapannya.
Mendadak ketakutanku sirna. Air surgawi mengucur dari dadanya. Melenyapkan dahaga sekaligus kegalauan.
Allahu Akbar Allahu Akbar…
Asyhadu Alla Illaaa Haillalloh…Asyhadu Alla Illaaa Haillalloh…
Asyhadu Anna Muhammadarrosululloh..Asyhadu Anna Muhammadarrosululloh..
Suara itu begitu syahdu menerobos gendang telingaku. Mengingatkanku pada beberapa masa saat Dzat Maha Sempurna memberiku bekal untuk mengarungi apa yang sekarang ada di sekitarku. “Ingatlah. Tidak ada Tuhan melainkan Aku, dan Muhammad adalah utusanKu,”
Aku ingin melihat suara itu. Semua yang semula masih tampak kabur mendadak menjadi sangat jelas. Seorang manusia berkopyah mendekatkan mulutnya ke telingaku. Rupanya itu tadi suaranya. Terima kasih telah mengingatkanku ya Abi..
Hari ini, sudah 10.950 hari berlalu. Rekaman saat-saat pertama hadir di dunia itu seolah kembali berputar di kepalaku. Mataku sudah keruh oleh maksiat yang selalu melintas di depanku. Gigiku sudah menguning oleh berkilo-kilo makanan yang mungkin tak halal untuk kusantap. Tanganku sudah menghitam oleh noda-noda yang kerap kusntuh. dan kakiku telah menjadi rapuh karena kerap melangkah ke jalan yang salah.
Dan lebih dari semua itu aku sudah tak bisa lagi menghitung berapa tinggi dosa yang sudah ku tumpuk. Ya Allahu Ya Ghoffar….Ampuni segalah dosaku. Ampuni kesalahanku. Ampuni kekhilafanku, Ampuni kealpaanku..
Terimakasih untuk semua (aku yakin tak ada mesin penghitung yang mampu menjumlahkannya) kenikmatan yang tak henti-hentinya Engkau curahkan. Untuk nafas, untuk detak jantung, untuk cinta, untuk keluarga, untuk kesehatan yang Engkau berikan selama ini. Dan yang terpenting adalah untuk menjadikanku bagian dari umat KekasihMu.
Engakulah yang selalu menjaga. Dan Engkaulah yang memberi segala. Aku berserah diri sepenuhnya padaMu. Yang memiliki setiap mikometer jaringan tubuhku dan setiap degup jantungku serta setiap hembus nafasku.
Aku memujiMu dengan segala yang pantas untukMu ya Khaliq. Aku tak punya ungkapan yang lebih tepat untuk memujiMu. Karena tak ada yang bisa menyamaiMu. Engkaulah yang Maha Sempurna. Dan Engkaulah yang maha hidup lagi kekal.
Aku tidak akan pernah tahu sisa waktuku di muka bumi. Karena itu janganlah Engkau bosan untuk membimbingku. Engkaulah sebaik-baik penolong dan sebaik-baik pembimbing. Tunjukkan jalan yang lurus padaku. Seperti jalan yang telah Engkau tunjukkan pada orang-orang sebelum kami ya ‘Alim.
Tanpa cahayaMu, niscaya kami adalah orang-orang hina yang tersesat. Yaa Nurul Qolbi, kami bergantung padaMu seperti juga semua makhlukMu melakukannya.
Sempurnakanlah iman dan Islamku ya Allah. Berikan petunjuk padaku agar selalu jalanMu yang akan kutapaki di detik-detik berikutnya. Satukanlah dahi dan hatiku pada sajadahMu. Jangan jauhkan aku darinya. Agar hati senantiasa bertasbih dan bersujud padaMu….
Ya Allah yaa Qulubana..Ya Allah ya Qulubanaa…Ya Nurul Qolbi ya…Allah……

Tak Ada yang Abadi November 12, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Seiring terus bertambahnya usia, ternyata semakin banyak hal-hal pelik yang terjadi. Yang bahkan jika hati-hati sekalipun, kerap membawa kita pada sebuah titik yang akan mengubah hidup kita selamanya.
Ketika SD dulu, yang aku sebut sebagai masalah adalah ketika pulang dari mandi di sungai, ternyata bapak ibu mengetahui. Seberapa pun aku meyakinkannya bahwa aku tidak mandi di sungai, mereka akan tahu bahwa aku berbohong. I’m realy ini a big trouble. Batinku saat itu. Belakangan aku baru tahu, ternyata kulitku yang busik dan mataku yang merah tak bisa direkayasa.
Pada umur-umur itu, aku pikir masalah terbesar dalam hidupku adalah ketika aku memecahkan atap kaca seorang warga dengan batu ketapelku. Berhari-hari aku tak bisa tidur karena teringat anjing hitam besar yang mengejarku. Dan kemungkinan bahwa si empunya rumah bisa saja mengejarku sampai ke rumah. Setelah itu jika ibuku tahu, maka dia akan bersedih. Benar-benar masalah yang besar saat itu.
Berlanjut ke masa SMP. Aku teringat ketika merestui teman-temanku tawuran. Padahal saat itu posisiku adalah ketua OSIS. Atau ketika aku ramai-ramai menggambari kaos olah raga kami dengan siluet malaikat pencabut nyawa. Aku pikir saat itu, tamatlah riwayatku. Hancurlah hidup dan reputasiku sebagai ketua Osis sekaligus pemegang predikat murid teladan. Benar-benar masalah yang besar.
Dan semakin ke sini, ternyata masalah yang dihadapi semakin berat tingkatnya. Yang terbaru adalah saat hampir dibakar dan hampir dipotong kakinya. Saat itu aku sempat berpikir mungkin sampai di sana saja hidupku berakhir. Hanya bisa bilang Laa khaula wala quwwata illa billahil’aliyil adzim.
Dari sekian banyak masalah, baik dari yang cuma ketakutan dicambuk bapak sampai nyaris mati dipanggang, akhirnya aku bisa memetik satu hal. “Allah tak akan menurunkan cobaan di luar kemampuan umatNya.”
Hanya kelemahan imanlah yang kerap membuat diri tak sadar, bahwa Allahlah tempat semua bergantung. Allah lah yang maha segala. Yang memelihara dan yang menjaga kita. Tak ada yang lain kecuali Dia.
Aku tidak tahu kapan semua masalah ini akan berakhir. Dan itu berarti aku juga tidak akan tahu kapan bapak akan sembuh. Tapi aku berusaha secepatnya agar semua masalah ini segera berakhir. Pada saat itu aku akan pulang dan mengatakan bahwa semuanya sudah baik-baik saja.
Aku ingin melihat lagi bapak yang tersenyum lepas. Aku ingin mendengar lantunan ayat ayat illahi dari mulutnya saat menunggu matahari terbit. Aku ingin beliau kembali yakin, bahwa tiga anaknya yang terakhir akan baik-baik saja. Tidak akan terlantar apalagi putus kuliah.
Tidak akan ada yang abadi, termasuk di dalamnya adalah masalah dan kesulitan. Tak akan selamanya kesulitan itu menempel terus pada kita. Akan ada sebuah masa di mana kemudahan dan kegembiraan meliputi hati. Akan datang sebuah momen dimana semua orang tersenyum lembut dan mengangguk pada kita. Jadi Bapak, tolong cepatlah sembuh. Aku baik-baik saja dan tak perlu terlalu mengkhawatirkanku. Allahlah sebaik-baik penolong. Dan dia maha mendengar doa-doamu.

Bapak, Maafkan Aku Membohongimu Oktober 31, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Karena lemahnya iman, aku sudah tak kuasa lagi menghitung, berapa kali sudah melakukan kebohongan. Namun yang terakhir kulakukan kemarin mungkin tak akan aku lupakan sepanjang sisa umurku.
Suatu pagi, aku diberitahu adikku bahwa Bapak sakit lagi. Beberapa bulan ini, beliau memang sering sakit jika terlalu capek. Padahal kegiatannya juga tak banyak-banyak amat. Mungkin pengaruh daya tahan tubuhnya yang terus menyurut seiring berkurangnya jatah umurnya.
Aku belum bisa menengoknya. Lebih tepatnya tidak siap. Aku sangat yakin, sakitnya kali ini bukan karena capek raga. Tapi capek pikiran.
Sekitar dua minggu sebelumnya, untuk pertama kalinya – setelah lebih dari 15 tahun- aku menangis di hadapannya. Aku ingin mengulangi saat-saat aku bersembunyi di balik punggungnya ketika ada yang mengancam keselamatanku. Aku ingin mengadukan ketakutanku. Aku ingin dia tahu masalahku. Dan lebih dari semua itu, aku ingin dia mendoakanku.
Aku ingat sebuah hadits yang mengatakan bahwa doa orang tua itu seperti doa seorang nabi untuk umatnya. Pasti makbul dan mustajab. Jadi aku bercerita padanya tentang kekalutan dan kegalauan jiwaku.
Beliau diam ….
Diantara gerimis air mataku dan empat saudara perempuanku, dia hanya mengatupkan bibirnya. Tak sepatah katapun keluar dari bibirnya yang menghitam oleh nikotin.
Demi Allah….
Aku tidak ingin membuat mereka seperti ini. Aku hanya mengharapkan bantuan doa dari mereka. Bukan menambah beban pikiran mereka. Saat itu juga terbersit penyesalan mengapa menceritakan derita hati ini pada mereka. Tapi semuanya sudah terlanjur. Aku memilih pulang ke kontrakanku kala hati telah menjadi lebih lega karena tindihan beban di pundak sedikit berkurang.
Seminggu kemudian adikku bertanya dimana bisa beli sate ayam saat siang hari. Perasaanku langsung tidak enak. Bapak sangat menyukai sate ayam. Aku langsung bertanya apakah bapak sakit. Adikku biang tidak. Dia tahu pikiranku masih kalut. Mungkin maksudnya tak ingin menambah beban di otakku. Tapi perasaanku tetap tak enak.
Kamis pagi si kecil pulang karena libur kuliah. Dia bilang bahwa bapak memang sedang sakit. Aku melihat awan di sekelilingku mendung. Tapi mataku lah yang kemudian gerimis. Airnya menciptakan sungai-sungai deras yang mengikis ketegaranku selama ini. Aku ambruk di atas sajadah yang telah akrab dengan guyuran air dari kelopak mataku.
Ya Allah….
Salahkah langkah yang telah kulakukan…?
Aku berkemas setelah menguras bendungan air panas di mataku. Aku membasuhnya agar tak terisisa pertanda tumpah. Aku tersenyum di depan kaca. Mencoba mematut diri dan membayangkan melakukannya di depan Bapak. “Hi Dad, I’m OK by the way. Don’t worry ’bout me. Everything under control now,” batinku.
Di halaman rumah aku melihat sosok renta sedang duduk di sebuah kursi kayu. Tatapan matanay kosong sambil menikmati hangatnya mentari pagi. Syaraf-syaraf mataku bereaksi. Mereka ingin merogoh sisa air yang tersimpang di balik korneaku. Aku bilang pada mereka, “Diam dan beristirahatlah”.
Belia menatapku. Matanya berkilau. Aku seolah terbetot ke masa lalu. Masa-masa ketika pulang dari sekolah dan memperlihatkan nilai rapotku yang semuanya berangka 9 dan 10. Mata yang sama.
Aku tahu dia senang melihatku. Aku langsung memaksa seluruh syaraf penggerak bibirku agar menciptakan senyum terbahagia yang bisa mereka lakukan. Aku harus bisa menampakkan diri bahwa aku baik-baik saja dan seolah semua permasalahanku sudah selesai. Ya, aku sangat ingin membohonginya saat itu. Dan berhasil. Dia tersenyum…..
Maaf Pak, aku membohongimu. Aku hanya ingin Bapak sembuh dan tak terlalu banyak pikiran. Ada gilirannya, dimana aku memang harus menyelesaikan masalahku sendiri. dan saat itu sudah datang….

Hikmah Kematian Oktober 4, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Hari ini aku melakukan perjalanan penuh makna ke sebuah dusun terpencil di desa Sidoluhur. Sebuah desa miskin dan aku yakin tertinggal, di kecamatan Ambal, Kebumen.
Sebuah keluarga menyambutku penuh takzim. Menyilahkanku duduk dengan segala keramahannya, meskipun bekas-bekas sembab di mata mereka masih menghias. Aku sempat meminta untuk duduk di luar rumah saja, supaya tidak terlalu merepotkan mereka. Tapi mereka bersikeras untuk mengajakku masuk.
Aku bingung mau mulai dari mana begitu melihat pandangan heran yang menghunjam pada mataku. “Mungkin mereka ingin bertanya, siapa saya, darimana saya dan apa maksud kedatangan saya?” sebuah pertanyaan yang agak suilt kujawab karena kedatanganku ingin mengorek keterangan mereka yang kemudian kujual sebagai berita. Sungguh tak tega sekali mengatakannya.
Tapi mereka tersenyum. Aku tahu itu tulus sekali. Karena itu kemudian aku mengungkapkan maksud kedatanganku. Mereka tidak bertanya, tapi hanya menjawab satu per satu pertanyaanku. Sesekali mereka tertunduk. Mengambil nafas. Mencoba menghilangkan sesenggukan yang memaksa keluar dari dada mereka.
Sungguh, pada saat-saat seperti ini rasanya sangat tak tega. Aku merasa menjadi orang di tempat dan saat yang salah.
Poniman alias Dulhamid dan Waryunah istrinya (demikian nama keluarga itu) adalah keluarga yang baru kehilangan putra pertama mereka. Slamet, lelaki yang diharapkan bisa menggantikan peran Poniman mendadak tewas dengan kondisi mengenaskan saat bekerja bakti membangun sekolah SD di dekat rumahnya.
Jumat malam kemarin, aku juga baru saja melihat mayat di kamar mayat BRSUD Kebumen. Bau anyirnya benar-benar menusuk-nusuk hidung. Lengan jaket yang aku pake buat nutup idung juga tak maksimal. Bau busuk itu tetap saja menerobos masuk melewati pori-pori kain dan menyeruak ke rongga hidung.
Tubuh berwarna hitam itu sudah membengkak tiga kali lipat dari ukuran aslinya di bagian badan. Sementara kakinya menyusut berwarna pucat.
Foto terakhir, sekitar 10 menit sebelum dia dilaporkan menghilang menunjukkan kegantengan si korban. Memakai kaus agak ketat berwarna kuning, Joko (demikian nama si korban) terlihat gagah dengan kaca mata hitam yang menghalangi matanya dari terpaan sinar matahari pantai Bonorowo.
Ketika malam merayap seperti sekarang, aku jadi sadar. Betapa kematian itu sungguh tak bisa disangka kapan datangnya. Slamet yang menggantikan ayahnya bekerja bakti ataupun Joko Santoso yang jauh-jauh datang dari Bandung untuk menemui sang kekasih hati, semuanya tak mengira akan pergi untuk selama-lamanya.
Subhanallah…
Kematian adalah guru yang hebat. Dia mengajarkan makna kehilangan, mengajarkan ketegaran, mengajarkan penyesalan, mengajarkan cinta dan sekaligus mengajarkan hokum relativitas. Kematian juga mengajarkan pada kita bahwa semua yang ada di dunia ini akan sirna. Kegantengan, kegagahan, harta, kesombongan, bahkan raga, semuanya akan sirna berganti dengan kenisbian, kejelekan bahkan bau busuk…
Melihat tanda dan bukti kematian akan mengajarkan kepada kita, bahwa sesungguhnya tiada guna kita memupuk diri dengan harta dan kekuasaan. Apalagi kesombongan dan keserakahan. Tak ada gunanya sama sekali selain hanya sekejap sekali di sela hidup kita dunia.
Sesungguhnya alam akhirat itu kekal adanya. Dan dunia itu hanyalah sekejap. Jadi percuma jika hidup ini hanya kita habiskan untuk mengejar sesuatu yang juga fana adanya. Akhiratlah yang harus kita kejar. Karena di dalanya kita akan melalui hari-hari yang kekal..hari-hari yang tak terbayang panjangnya. Hari-hari yang tak terbayang nikmat atau siksanya…
Badan ini adalah belenggu. Maka jangan memanjakannya dengan kenikmatan sesaat. Perhatikan selembar zat bernama jiwa yang bersemayam di dalamnya. Penuhilah dengan makanan bernama iman. Hiasilah dengan sholat dan dzikir. Agar cahayanya memancar menerangi kegelapan dan kesempitan alam kubur…

Masihkah Ada Kesempatan Itu? Oktober 3, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Haji, adalah khayalan perjalanan terindah. Demikian salah satu bunyi bagian SMS yang saya terima saat lebaran dan menjelang puasa lalu. Saya termenung membaca tulisan yang ditulis dengan cara disingkat-singkat ini. Indah sekali kata-katanya. Dan menohok ke kedalaman kalbu.
Saya mengiyakan. Saya sepakat bahwa khayalan untuk melaksanakan rukun Islam kelima ini yang mestinya dimiliki oleh seorang muslim. Ya, berhaji adalah menyempurnakan pernyataan kita sebagai seorang muslim. Berhaji adalah menggenapkan kewajiban yang mestinya dilakukan oleh orang yang memproklamirkan dirinya sebagai individu yang mempercayai Tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad sebagai rosul Allah.
Dalam setiap sujud akhirku, aku selalu menyampaikan pinta agar diberi kesempatan memberangkatkan Ayah menempuh perjalanan terindah itu. Dan mengkhayalkannya untuk diri sendiri adalah hal besar lain yang tersembunyi dalam kedalaman sanubari.
Pun begitu, hingga saat ini permintaan itu masih sebatas permintaan. Belum mampu mendorong segenap aspek dan kemampuan dalam diri ini untuk mengusahakannya menjadi nyata.
Kerap kali hati terasa menciut melihat Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH) yang terus membubung dari tahun ke tahun. Apalagi demi menoleh ke pendapatan yang selalu tanpa sisa saat bulan baru muncul ¾.
Mengunjungi Bank Penerima Setoran (BPS) Haji, kondisinya juga belum melegakan hati. Jika kemampuan financial hanya mampu menabung seratus ribu per bulan, maka dibutuhkan waktu 300 bulan untuk mewujudkan mimpi indah itu. Tiga ratus bulan itu sama dengan 25 tahun. Meski umur adalah rahasia Allah, tapi pesimis ayahku bisa menunggu selama itu. Bahkan seandainya kemampuan finansialku dipaksakan menjadi 300 ribu sebulan, masih dibutuhkan waktu 8.3 tahun untuk mewujudkannya. Jika aku memulai bulan depan, maka ayahku baru bisa berhaji tahun 2017. Dan itu berarti usianya saat itu sudah 72 tahun. Akan kasihan sekali dengan usia sebegitu renta, dia harus berlari diantara bukit sofa dan marwa, dan berhimpitan mencari kerikil untuk melempar jumroh.
Ya Allah, adakah jalan yang lebih pendek untuk mewujudkan mimpi itu? Adakah jalan yang lebih mudah bagiku untuk membahagikan jiwa Ayahku?

Mendamba Ramadan Sepanjang Bulan…. September 30, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Ramadan adalah Universitas, dan sebelas bulan berikutnya yang dimulai Syawal ini, adalah kesempatan untuk mengamalkan ilmu yang sudah didapat di Universitas Ramadan.

Entah karena kesibukan kerja yang bertubi-tubi datang atau memang karena iman yang sedang terpuruk di dasar grafik cosinus, Ramadan kemarin seperti kehilangan makna. Dari sebulan penuh, hanya dua kali aku ikut sholat Tarawih berjamaah. SIsanya selalu dilakukan sendiri di kamar setelah pulang kerja. Menjelang dinihari.
Aku masih mengingat dengan jelas. Saat mendengarkan alunan merdu suara Imam yang melafalkan ayat-ayat Illahi di Nurul Ulum. Hati terasa sejuk dan ingin melakukannya semalaman. Mata mendadak berlinang dan merasa diri begitu kotor. Dada bergetar menahan sesenggukan. Namun kepala terasa ringan dan jernih.
Wahai zat yang menggetarkan kalbu. Kadang hati bertanya kenapa rizkiku turun saat saudara-saudaraku pulas terpejam? Kenapa aku tak bisa terbuai seumpama bayi begitu kelammu menutup langit? Kenapa aku justru harus memicing mata memelototi kotak yang penuh radiasi saat jiwa-jiwa tenang terhanyut dalam kehangatan selimut?
Aku ingin mengaum bagai singa saat sang surya memamerkan sinarnya. Aku ingin berlari bagai cheetah saat kicau burung memanggil pagi. Aku ingin menempelkan dahiku saat tenagaku melemah setelah seharian berlari mengejar waktu.
Pertanyaan itu selalu berputar. Namun jawabannya selalu satu hal. Syukur. Kita, manusia selalu kurang bersyukur dengan segala nikmat yang dikaruniakan Allah. Sebanyak apapun sehari semalam kita melafalkan Hamdalah, tak pernah sebanding dengan nikmat yang dicurahkan Allah dari ‘arsy-nya.
Jawaban inilah yang akhirnya menyadarkanku untuk menyesal. Ya. Menyesal. Menyesal karena menyia-nyiakan keagungan Universitas Ramadan. Menyesal karena tak bisa mengkhatamkan bait-bait penuh keindahan dari kalam Illahi. Menyesal karena begitu jauh diri ini dari Lalatul Qodar. Menyesal karena hati tak kunjung mencair oleh kesombongan dan keangkuhan. Padahal kesombongan itu pakaian yang tak pantas dikenakan manusia. Karena hanya Allahlah yang pantas memilikinya.
Siang tadi, saat mampir di masjid besar yang diselimuti debu di daerah Rawalo. Aku seperti disentak oleh sebuah gelombang kejut. Betapa lemahnya disiplin diri untuk memenuhi panggilan zat yang penuh cinta. Betapa seringnya aku mengingkari janji untuk menemuiNya. Betapa tak acuhnya telinga saat mendengar ajakannya.
Istiqomah. Sebuah nama yang pernah disematkan seorang mahasiswa KKN Unsoed di mushola di depan rumah sekitar 20 tahun yang lalu. Nama yang cantik dan penuh makna. dan baru sekarang aku merasakan betapa susahnya untuk mewujudkannya.
Wahai pemilik segala cahaya. Sinari hati hamba yang dina ini dengan sinar yang menghidupkan hati. Sinar yang menerangi kepekatan kalbu. Sinar yang membasuh tumpukan debu. Sinar yang memelihara kejernihan pikir. Sinar yang menjaga lafal-lafal dzikir. Dan sinar yang membawa keutuhan Iman. Amin…..

Bidadari Semu September 24, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Ide menggunung di kepala, tapi kemauan menulis serasa sirna. Akibatnya malah pusing sendiri. Jadi teringat seorang penulis pernah bilang, Aku menulis agar tidak gila”. Mungkin beginilah rasanya.
Beberapa sudah dituangkan dalam lembaran-lembaran yang lama terlupa. Membuat novel. Beberapa lainnya tertuang dalam diary. Tapi ada hal-hal yang aku pikir tak masuk ke keduanya. Salah satunya tentang tema ini. Reuni.
Well, Rabu (23/9) lalu, aku memang memutuskan datang ke acara reuni SMA. Agak surprise juga pas tahu yang datang ternyata sedikit banget. Padahal pas lihat di Facebook, kayaknya heboh banget.
Anyway, banyak senyum yang tercipta selama pertemuan panjang itu. Memori kekonyolan dan kebodohan sepuluh tahun silam tiba-tiba diputar ulang. Mulai dari minggat saat jam kosong sampai nyontek jawaban pas ulangan. Beberapa teman mengenang masa-masa terindah hidupnya saat berseragam abu-abu. Melirik malu pada perempuan yang dulu dipacarinya dan sekarang sudah menggendong manusia kecil dalam dekapannya. Atau menepis bara yang dulu pernah menyala saat teringat dendam karena rebutan cewek.
Re Uni. Bersatu kembali. Memang selalu membawa kenangan indah. Aku ingat dengan masa-masa satu dekade silam itu. Seperti juga ABG yang kerap terjebak dalam Devil’s Trap, aku juga pernah memendam kekaguman pada sosok lembut seorang perempuan. Setidaknya saat itu. Untunglah proteksi berupa aturan rumah untuk tidak pacaran membentengiku sampai lulus.
Pun begitu, kekaguman pada sosok yang sangat mirip dengan adik bungsuku itu terus mengusikku. Rambut lembutnya yang berwarna cokelat kemerahan, lengkung samar di ujung bibirnya saat dia tersenyum, dan sifat manjanya, benar-benar identik dengan si kecil. Sampai lulus pun kekagumanku pada kecantikan fisiknya tak pernah sirna.
Selama 9 tahun masa kuliah, aku tak pernah tahu kabarnya. Tak pernah tahu seperti apa wajahnya. Seperti apa jilbabnya (seandainya dia sudah memakainya) dan bahkan tak tahu apa nama universitas dan jurusannya. Sampai kemudian suatu hari, lewat situs jejaring sosial friendster, aku menemukan beberapa fotonya dalam balutan busana muslimah yang sangat anggun. Subhanalloh. Maha suci Allah yang telah menciptakan kesempurnaan. Batinku waktu itu.
Namun waktu berlalu dan kejutan lebih besar pun muncul. Di FB, semua kekagumanku sirna. Jilbabnya entah terenggut kemana, memperlihatkan rambut lurusnya yang berkilau. Baju panjangnya mungkin tergunting oleh pisau mode, memperlihatkan lengannya dan lehernya yang jenjang.
Seandainya pantas, ingin sekali mengatakan padanya, ukhti, pelihara kehormatanmu. Jangan obral ke sembarang mata. Tapi toh aku tak berhak. Dia hanya perempuan yang aku kagumi karena punya selaksa kemiripan dengan kepompong kecilku. Sekarang kepompong itu telah menetas menjadi kupu-kupu yang cantik. Mengepakkan sayap lembutnya untuk menebarkan keindahan. Sementara dia menetas menjadi makhluk lain yang tak kutahu namanya. Menebarkan sayap rentannya dengan keindahan palsu.
Sebagai saudara seiman, aku menyesal tak pernah sungguh-sungguh mencari tahu keberadaanya. Menyesal karena tak pernah bisa mengajarkannya istiqomah menutup aurat. Menyesal karena tak pernah bisa berbagi nasihat dan wasiat kebaikan. Menyesal karena dia akhirnya hanya menjadi bidadari semu.
Semoga hidayah Allah bisa menyinari hatinya. Amin..

FB: Balik Kucing dan Cita-Cita Baru September 24, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Setelah sekian bulan berhibernasi, akhirnya aku membuka kembali Facebook. Ini terjadi setelah aku berdiskusi panjang dengan seorang kawan. Dia tanya kenapa FB ku nggak aktif? Aku bilang FB membuat aku menghamburkan sedemikian banyak waktu hanya untuk mengomentari status orang. Celakanya, kebanyakan hanay berisi olok-olok, caci maki, hinaan dan ledek-ledekan. Meski semuanya dalam koridor bercanda, tapi aku pikir mudhorotnya terlalu banyak.
Tahu apa yang dikatakan temanku? Pisau juga bisa digunakan untuk membunuh. Bahkan bantal sekalipun. Itu tergantung dari pemakainya. Apakah mau untuk merajang bawang atau membunuh. FB juga begitu. Apakah kamu mau menggunakannya untuk bergosip dan melakukan kegiatan yang tidak perlu atau memanfaatkannya untuk berda’wah.
Aku termenung. Aku teringat saat aku dengan tegas menolak menjadi anggota sebuah koperasi yang dimanajemeni sebuah organisasi agama lain yang jelas-jelas punya agenda tersembunyi di baliknya. Suatu ketika temanku, seorang pemuda pergerakan organisasi keagamaan bilang, ikut saja. Pelajari sistemnya, dan kita gunakan untuk kemaslahatan ummat. Tapi aku tetap menolaknya. Alasanku, (kalau nggak salah) nabi pernah berkata, barang siapa yang mengikuti gaya mereka (Nasoro wal Yahuda) maka kita adalah bagian dari mereka.
Aku memang salut dengan sistem yang mereka bangun. Menyadarkan masyarakat untuk bijak memanfaatkan penghasilan, sekaligus merencanakan masa depan bagi diri dan generasi penerusnya. Cuma untuk menjadi bagian dari sistem itu, aku tidak sependapat. Toh ilmu seperti itu Insya Allah bisa didapat dari sumber lain yang lebih ‘ramah’ terhadap aqidah Islam kita. Karena aku pikir sistem seperti itu adalah sistem yang universal. Tinggal kita mampu mempelajari dan melaksanakannya atau tidak. Dasar-dasarnay sudah dicontohkan oleh uswatun khasanah kita, sang akhirul Anbiya, Muhammad SAW.
Nah, dalam kasus FB, aku berusaha kembali merenung. OK, kalau FB bisa saja digunakan oleh sang pengelola untuk mengumpulkan data semua membernya. Menganalisanya dan membuat sebuah strategi penghancuran sebuah masyarakat di masa mendatang, tapi FB juga bisa menjadi boomerang bagi orang-orang yang ingin memanfaatkan fasilitas ini untuk tujuan tadi. Salah satu caranya adalah dengan memanfaatkannya untuk kemaslahatan ummat.
Itulah sebabnya kemudian aku buat grup untuk menjalin silaturrahmi. Pertama Lazis Mafaza dan yang kedua 99 SMULA. Tujuannya adalah agar suatu saat orang-orang yang menjadi membernya bisa memberikan manfaat satu sama lain dan bisa menolong orang lain yang kurang beruntung.
Aku punya cita-cita untuk menghimpun dana bagi anak-anak kurang mampu agar tetap bersekolah lewat Lazis Mafaza. Bayangkan seandainya seratus dari 300an teman saya mau menyumbangkan 50 ribu saja setiap bulan dari penghasilannya yang berjuta-juta. Maka akan ada 5 juta. Setelah itu, setiap orang dari seratus orang itu juga berhasil mengajak 100 orang lagi dan seterusnya, akan banyak sekali dana yang bisa dikumpulkan.
Jika itu bisa terlaksana, mungkin tak akan ada orang yang mengeluh pendidikan itu mahal. Karena ada dana untuk melaksanakannya. Suatu saat, kita bisa melihat generasi muda yang pintar secara akademik dan punya akhlak Qur’ani. Karena selain memberikan dana bantuan, Lazis Mafaza juga memantau perkembangan mental dan aqidah orang-orang yang dibantunya.
Grup 99 SMULA juga aku buat dengan tujuan yang kurang lebih sama. Aku ingin anak-anak angkatan 99 bisa saling bertegur sapa. Syukur bisa berbagi rizki pada teman-teman lain yang belum seberuntung kita. Aku bahkan berkhayal bisa membentuk yayasan yang membawahi beberapa perusahaan yang dikelola angkatan 99 SMULA. Agar semua lulusan 99 SMULA bisa hidup sejahtera suatu saat. dan agar ikatan silaturrahmi tetap terjaga.
Ada sebuah quote bagus yang aku catat dari profile temanku. “Jika kau menginginkan sesuatu, maka seluruh alam semesta akan bersatu padu untuk mewujudkannya”. Hanya saja quote itu masih kurang. Versi lengkapnya mungkin begini. “Jika kau menginginkan sesuatu, berdoa dan berusaha lah dengan sungguh-sungguh, maka seluruh semesta akan bersatu padu untuk mewujudkannya”