jump to navigation

Bidadari Semu September 24, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Ide menggunung di kepala, tapi kemauan menulis serasa sirna. Akibatnya malah pusing sendiri. Jadi teringat seorang penulis pernah bilang, Aku menulis agar tidak gila”. Mungkin beginilah rasanya.
Beberapa sudah dituangkan dalam lembaran-lembaran yang lama terlupa. Membuat novel. Beberapa lainnya tertuang dalam diary. Tapi ada hal-hal yang aku pikir tak masuk ke keduanya. Salah satunya tentang tema ini. Reuni.
Well, Rabu (23/9) lalu, aku memang memutuskan datang ke acara reuni SMA. Agak surprise juga pas tahu yang datang ternyata sedikit banget. Padahal pas lihat di Facebook, kayaknya heboh banget.
Anyway, banyak senyum yang tercipta selama pertemuan panjang itu. Memori kekonyolan dan kebodohan sepuluh tahun silam tiba-tiba diputar ulang. Mulai dari minggat saat jam kosong sampai nyontek jawaban pas ulangan. Beberapa teman mengenang masa-masa terindah hidupnya saat berseragam abu-abu. Melirik malu pada perempuan yang dulu dipacarinya dan sekarang sudah menggendong manusia kecil dalam dekapannya. Atau menepis bara yang dulu pernah menyala saat teringat dendam karena rebutan cewek.
Re Uni. Bersatu kembali. Memang selalu membawa kenangan indah. Aku ingat dengan masa-masa satu dekade silam itu. Seperti juga ABG yang kerap terjebak dalam Devil’s Trap, aku juga pernah memendam kekaguman pada sosok lembut seorang perempuan. Setidaknya saat itu. Untunglah proteksi berupa aturan rumah untuk tidak pacaran membentengiku sampai lulus.
Pun begitu, kekaguman pada sosok yang sangat mirip dengan adik bungsuku itu terus mengusikku. Rambut lembutnya yang berwarna cokelat kemerahan, lengkung samar di ujung bibirnya saat dia tersenyum, dan sifat manjanya, benar-benar identik dengan si kecil. Sampai lulus pun kekagumanku pada kecantikan fisiknya tak pernah sirna.
Selama 9 tahun masa kuliah, aku tak pernah tahu kabarnya. Tak pernah tahu seperti apa wajahnya. Seperti apa jilbabnya (seandainya dia sudah memakainya) dan bahkan tak tahu apa nama universitas dan jurusannya. Sampai kemudian suatu hari, lewat situs jejaring sosial friendster, aku menemukan beberapa fotonya dalam balutan busana muslimah yang sangat anggun. Subhanalloh. Maha suci Allah yang telah menciptakan kesempurnaan. Batinku waktu itu.
Namun waktu berlalu dan kejutan lebih besar pun muncul. Di FB, semua kekagumanku sirna. Jilbabnya entah terenggut kemana, memperlihatkan rambut lurusnya yang berkilau. Baju panjangnya mungkin tergunting oleh pisau mode, memperlihatkan lengannya dan lehernya yang jenjang.
Seandainya pantas, ingin sekali mengatakan padanya, ukhti, pelihara kehormatanmu. Jangan obral ke sembarang mata. Tapi toh aku tak berhak. Dia hanya perempuan yang aku kagumi karena punya selaksa kemiripan dengan kepompong kecilku. Sekarang kepompong itu telah menetas menjadi kupu-kupu yang cantik. Mengepakkan sayap lembutnya untuk menebarkan keindahan. Sementara dia menetas menjadi makhluk lain yang tak kutahu namanya. Menebarkan sayap rentannya dengan keindahan palsu.
Sebagai saudara seiman, aku menyesal tak pernah sungguh-sungguh mencari tahu keberadaanya. Menyesal karena tak pernah bisa mengajarkannya istiqomah menutup aurat. Menyesal karena tak pernah bisa berbagi nasihat dan wasiat kebaikan. Menyesal karena dia akhirnya hanya menjadi bidadari semu.
Semoga hidayah Allah bisa menyinari hatinya. Amin..

FB: Balik Kucing dan Cita-Cita Baru September 24, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Setelah sekian bulan berhibernasi, akhirnya aku membuka kembali Facebook. Ini terjadi setelah aku berdiskusi panjang dengan seorang kawan. Dia tanya kenapa FB ku nggak aktif? Aku bilang FB membuat aku menghamburkan sedemikian banyak waktu hanya untuk mengomentari status orang. Celakanya, kebanyakan hanay berisi olok-olok, caci maki, hinaan dan ledek-ledekan. Meski semuanya dalam koridor bercanda, tapi aku pikir mudhorotnya terlalu banyak.
Tahu apa yang dikatakan temanku? Pisau juga bisa digunakan untuk membunuh. Bahkan bantal sekalipun. Itu tergantung dari pemakainya. Apakah mau untuk merajang bawang atau membunuh. FB juga begitu. Apakah kamu mau menggunakannya untuk bergosip dan melakukan kegiatan yang tidak perlu atau memanfaatkannya untuk berda’wah.
Aku termenung. Aku teringat saat aku dengan tegas menolak menjadi anggota sebuah koperasi yang dimanajemeni sebuah organisasi agama lain yang jelas-jelas punya agenda tersembunyi di baliknya. Suatu ketika temanku, seorang pemuda pergerakan organisasi keagamaan bilang, ikut saja. Pelajari sistemnya, dan kita gunakan untuk kemaslahatan ummat. Tapi aku tetap menolaknya. Alasanku, (kalau nggak salah) nabi pernah berkata, barang siapa yang mengikuti gaya mereka (Nasoro wal Yahuda) maka kita adalah bagian dari mereka.
Aku memang salut dengan sistem yang mereka bangun. Menyadarkan masyarakat untuk bijak memanfaatkan penghasilan, sekaligus merencanakan masa depan bagi diri dan generasi penerusnya. Cuma untuk menjadi bagian dari sistem itu, aku tidak sependapat. Toh ilmu seperti itu Insya Allah bisa didapat dari sumber lain yang lebih ‘ramah’ terhadap aqidah Islam kita. Karena aku pikir sistem seperti itu adalah sistem yang universal. Tinggal kita mampu mempelajari dan melaksanakannya atau tidak. Dasar-dasarnay sudah dicontohkan oleh uswatun khasanah kita, sang akhirul Anbiya, Muhammad SAW.
Nah, dalam kasus FB, aku berusaha kembali merenung. OK, kalau FB bisa saja digunakan oleh sang pengelola untuk mengumpulkan data semua membernya. Menganalisanya dan membuat sebuah strategi penghancuran sebuah masyarakat di masa mendatang, tapi FB juga bisa menjadi boomerang bagi orang-orang yang ingin memanfaatkan fasilitas ini untuk tujuan tadi. Salah satu caranya adalah dengan memanfaatkannya untuk kemaslahatan ummat.
Itulah sebabnya kemudian aku buat grup untuk menjalin silaturrahmi. Pertama Lazis Mafaza dan yang kedua 99 SMULA. Tujuannya adalah agar suatu saat orang-orang yang menjadi membernya bisa memberikan manfaat satu sama lain dan bisa menolong orang lain yang kurang beruntung.
Aku punya cita-cita untuk menghimpun dana bagi anak-anak kurang mampu agar tetap bersekolah lewat Lazis Mafaza. Bayangkan seandainya seratus dari 300an teman saya mau menyumbangkan 50 ribu saja setiap bulan dari penghasilannya yang berjuta-juta. Maka akan ada 5 juta. Setelah itu, setiap orang dari seratus orang itu juga berhasil mengajak 100 orang lagi dan seterusnya, akan banyak sekali dana yang bisa dikumpulkan.
Jika itu bisa terlaksana, mungkin tak akan ada orang yang mengeluh pendidikan itu mahal. Karena ada dana untuk melaksanakannya. Suatu saat, kita bisa melihat generasi muda yang pintar secara akademik dan punya akhlak Qur’ani. Karena selain memberikan dana bantuan, Lazis Mafaza juga memantau perkembangan mental dan aqidah orang-orang yang dibantunya.
Grup 99 SMULA juga aku buat dengan tujuan yang kurang lebih sama. Aku ingin anak-anak angkatan 99 bisa saling bertegur sapa. Syukur bisa berbagi rizki pada teman-teman lain yang belum seberuntung kita. Aku bahkan berkhayal bisa membentuk yayasan yang membawahi beberapa perusahaan yang dikelola angkatan 99 SMULA. Agar semua lulusan 99 SMULA bisa hidup sejahtera suatu saat. dan agar ikatan silaturrahmi tetap terjaga.
Ada sebuah quote bagus yang aku catat dari profile temanku. “Jika kau menginginkan sesuatu, maka seluruh alam semesta akan bersatu padu untuk mewujudkannya”. Hanya saja quote itu masih kurang. Versi lengkapnya mungkin begini. “Jika kau menginginkan sesuatu, berdoa dan berusaha lah dengan sungguh-sungguh, maka seluruh semesta akan bersatu padu untuk mewujudkannya”

Malam Ini, 19 Tahun Silam September 13, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Malam ini 19 tahun yang lalu
Satu lagi suara anak manusia memecah kesunyian maghrib yang remang. Senyum-senyum lega terpancar dari wajah-wajah belia kami.
Warna lembayung di ujung bumi sebelah barat terlihat menyemburat merangkul langit. Seolah belum rela memberikan kegelapan, demi menyambut sosok mungil bersuara keras itu.
Aku takjub menatap sosok merah bermata lentik itu. Bibirnya sangat mungil. Saat kusapukan madu di permukaanya, tangisnya mereda. Di dalam kamar, seorang perempuan agung tersenyum lega setelah berjuang untuk kesepuluh kalinya. Melahirkan jiwa-jiwa kembara ke muka dunia.
Subhanalloh….
Betapa waktu sangat cepat berlalu. Aku masih ingat saat-saat menggendongnya ke tempat tidur saat dentang jam dinding berbunyi sembilan kali. Kursi kayu berbalut kain emas itu menjadi saksi ukuran tubuhnya yang terus bertambah setiap waktu.
Saat-saat menggendongnya ketika pulang sekolah juga masih kuingat dengan jelas. Sampai kelas lima SD hal itu masih kami lakukan. Setelah kelas enam, dia sudah malu kalau ditawari gendong.
SMP berlalu lebih cepat. Tapi aku ingat bagaimana jabatan demi jabatan membuatmu terlihat dewasa di luar sana. Meski tetap manja saat di rumah.
Dan tanpa terasa, masa remajamu datang menyergap. Saat inilah proteksiku menjadi sangat kuat. Tak sekalipun aku biarkan orang-orang haram menyentuhmu. Kedewasaan itu seolah berpacu dengan ketidakrelaanku melepaskanmu. Sekarang, hanya suaramu yang bisa kudengar. Itupun tidak setiap hari.
Tugas kuliah dan kegiatan organisasi seoleh merebutmu dari dekapan kami. Tapi kami percaya padamu. Karena segunung cinta yang kami punya.
Wahai pemilik senyum dan lirik ibunda…
Hari esok bakal semakin sulit. Bakal semakin banyak daya upaya iblis di sekitarmu. Berlindunglah senantiasa pada pemilik jiwamu.
Wahai pemilik titisan jiwa yang tenang…
Selaksa cinta yang datang karena Allah akan selalu menyertai langkah-langkahmu.
Wahai dinda tambatan sembilan jiwa..
Doa kami untuk setiap nafas yang kau hela dan setiap kata yang kau ucap. Semoga semuanya hanya untuk menapaki sajadah-sajadah cinta, menuju jalan Illahi…
Happy Birth day my Little Angel….

Sorry 4 The Bad Lesson September 9, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Malem Rabu kemarin akhirnya berhasil maksa si kecil buat buka bersama. Rasanya udah lama banget nggak ngobrol ngalor ngidul sama dia. Belasan hari ini hanya telpon untuk menanyakan kegiatan sehari-harinya. Itupun sangat terbatas waktunya karena dikejar-kejar tarif pulsa.
Alhamdulillah, kemarin dia mau buka bersama. Biasanya alesannya nggak enak sama teman2 kos karena udah masak. Kalo nggak, dia malah kebagian giliran masak atau rapat sampai buka menjelang. “Duuh..sibuk banget ya sekarang. Sampai kakaknya nggak dapet jatah buat makan bareng”. Godaku suatu ketika. Seperti biasa, dia merengek manja dan membela diri mesti menepati janji dan komitmen yang udah dibuat. “Ntar kalo nggak ditepatin kita yang dosa juga kan Kak?” ujarnya berdalih. Kalo udah begini, aku yang akhirnya ngalah. Padahal udah kangen banget pengin nyubit idungnya atau mengusap jilbab di kepalanya.
Pas mau berangkat njemput dia, tiba-tiba sahabatku telpon dan ngajak buka bersama. Aku pikir sekalian aja. Jadi akhirnya aku iyakan. Tapi pas di lokasi ternyata dia dateng sama pacarnya. Setelah itu, ada teman satu lagi yang ternyata juga membawa pacarnya. Setelah itu, ada lagi pacar temanku datang sendirian. Akhirnya kita makan bertujuh.
Sempat terpikir untuk nelpon Ade’ku yang satu lagi. Tujuannya supaya bisa pindah meja dan makan bersama dua ade’ku. Tapi pas ditelpon, ternyata kakak si bungsu sedang buka bersama di sekre bareng teman-temannya.
Sungguh, aku merasa sangat bersalah pada si kecil. Selama ini aku mendidiknya untuk menjauhi orang-orang yang bukan muhrimnya kecuali bersama dengan saudara atau muhrimnya. Tapi malam itu aku seolah-olah malah mengajarkan hubungan lain jenis yang penuh kebebasan itu padanya.
Astaghfirulloh….Insya Allah, bukan itu maksud kakak De’. Kakak tidak bermaksud memperlihatkanmu, apalagi mengajarkanmu hubungan pria-wanita yang tidak diridloi Allah. Semoga Allah melindungi hati dan pikiranmu dari hal-hal seperti itu.
At least, acara buka bersama dia sangat menentramkanku. Ngobrol ngalor-ngidul tetap berjalan. Tentang kulit tangannya yang mengelupas dan sakit. Tentang kemajuannya belajar memasak. Tentang minyak baby oil untuk mengobati tangannya. Tentang puasanya yang diragukannya apakah dihitung atau tidak karena tamu bulanannya hadir saat buka datang dan hal-hal lain seputar kegiatannya di kampus.
Hmm..dia semakin dewasa. Sebuah kondisi yang aku harapkan tapi juga kadang aku takutkan. Suatu saat, aku akan kehilangan rengekan manjanya saat menghadapi kesulitan. Atau cerita ngalor-ngidulnya yang kadang konyol dan bikin aku tertawa terbahak-bahak. Aku juga akan kehilangan saat-saat mengantar atau menjemputnya. Saat-saat menagih hafalan Al-Quran yang dia hafalkan. Kadang, hati bertanya. Jika saat itu tiba, masihkah cinta dan kesabaranku sama seperti sekarang? Semoga akan selalu ada cinta untuknya yang hadir karena Allah SWT. Amin

Seulas Senyum di Buta Pagi September 6, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Wajah mungil itu tengadah memandang langit. Bulan bersinar lembut di atas kepalanya. Lentik bulu matanya terlihat berkerjap-kerjap. Sesekali dia tampak menguap sambil menutup mulutnya dengan tangan mungilnya. Dia menyedekapkan tangannya di dada. Udara dingin membuatnya sedikit menggigil.
Mulut mungilnya tersenyum saat aku menghampirinya.
“Masih ngantuk ya de’?” sapaku.
Dia cuma tersenyum. Matanya melirik ke arah perempuan muda yang pangkuannya dijadikannya bantal.
“Iya nich kayaknya mas. Maklum, baru kelas 2 SD,” kata perempuan yang menghabiskan waktunya mendampingi si kecil dan 44 temannya. Seolah menyalurkan pandangan mata si kecil dan mengubahnya menjadi kata-kata.
“Waduh, maaf ya. Jadi harus bangun malem-malem. Tunggu bentar lagi ya. Mungkin beliau segera dating,” hiburku.
“Iya nggak papa,” kata perempuan muda itu. Lagi-lagi mewakili si kecil yang telentang dalam pangkuannya.
Aku memandang ke sekeliling. Wajah-wajah jemu terlihat tak sabar menunggu. Sekotak nasi sudah menggeletak di hadapan mereka. Tapi yang ditunggu tak kunjung datang. Makanan di hadapan mereka pun tak kunjung bisa disantap.
Suara kentongan bersahut-sahutan dengan irama harmonis. Sahur…Sahuur…Suara para peronda yang berkeliling sambil membangunkan warga untuk sahur.
Yang ditunggu akhirnya datang. Setelah beramah tamah sejenak, acarapun dimulai. Tak berapa lama kemudian ustadz yang aku jemput membacakan doa dan sekelumit fadilah bersodakoh dan beramal. Acara sahur bersama 500 warga pun dimulai.
Pak Kapolres yang menjadi tuan rumah bersama Pak Yohanes yang menggagas acara terlihat berbincang akrab. Di sebelahnya ada Pak Laju yang menjadi penyumbang bingkisan terlihat takzim memandang para peserta.
Dan saat yang ditunggu pun tiba. Pembagian bingkisan untuk para peserta. Aku berdiri di dekat meja tempat menaruh bingkisan.
Subhanalloh…dini hari itu menjadi sangat berarti bagiku. Sebuah energi luar biasa besar seperti merasuk dalam tubuhku yang sehari semalam belum memejamkan mata. Setiap bibir tersenyum. Ada rasa terimakasih yang tak terucap dari bibir mereka. Tapi aku tahu mereka mengucapkannya. Ada anggukan menyapa dari anggota BCC Banyumas. Seolah mengucapkan terimakasih telah datang di pagi buta ini.
Dalam kesibukan antrian aku seolah tersedot pada sebuah ruang terang yang berwarna putih. Tidak ada warna. Hanya putih menghampar. Sejauh mata memandang, hanya putih membentang. Lalu aku melihat tubuhku. Aku merasa menciut. Ternyata akulah warna lain dari tempat itu. Ya. Hitam. Aku menjadi titik hitam yang sangat kontras dengan tempat maha luas berwarna putih itu.
Aku merasa berada di tempat yang salah. Aku belum bisa mengubah diri menjadi putih. Aku beringsut dari tempat itu. Ingin berlari. Dan mendadak aku kembali tersedot ke halaman Polres Banyumas. Masih ada senyum-senyum itu. Dan aku ingin melihat hal itu sebanyak mungkin…

Sungguh Aku Takut dengan Siksanya Agustus 27, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
2 comments

Marhaban ya Ramadan…
Baru sempat menyampaikannya…
Tapi aku tidak akan membahas ramadan kecuali sebagian kecil diantaranya. Paling tidak, postingan kali ini agak-agak nyangkut dengan bulan penuh berkah ini.
Ceritanya aku sedang berjalan-jalan dengan sahabatku. Seharian mencari firasat yang bisa membawa kami pada kedekatan rizki. Karena tak kunjung menjumpai, akhirnya masuk ke Plasa Telkom.
Usai selesai urusan, sahabatku menyodorkan hape yang sedang dipakainya untuk bicara.
“Nih, si Fulan pengin ngomong sama kamu,” katanya.
Aku langsung tau kalau yang dimaksudnya adalah calon istrinya.
“Mas, buber yuk?!” ajaknya merajuk.
“Apa? Bubur? Ini lagi puasa. Nanti sore aja,” candaku
“Buber mas..Buber..” katanya. Tidak sadar kalau aku sedang mencandainya.
“Oh, bumper. Kebetulan ini aku mau ke Kemutug. Ntar pulangnya bisa mampir. MAu minta apa emang?” tanyaku ngawur?
“Buber mas, Buka Bersama,” jengkelnya.
“Ooo..buka bersama. Bilang dong..Nggak ah, ini kan baru jam 13.30. Batal ntar,” jawabku lagi.
“Ya, ampun mas. Kok bolot banget sich. Ya enggak sekarang. Ntar kalau pas buka,” kali ini dia menyemprot. Nggak marah beneran siy.
“Ooh..OK, kapan. Kalau selain malem Rabu aku nggak bisa. Soalnya aku kerja,” kataku serius.
“OK nggak papa malem Rebo,” katanya
“Lho emang kamu libur? Bukannya kamu jauh?” tanyaku. Giliran aku yang heran.
“Nggak papa Mas. Aku pulang nggak papa kok,” katanya
“Nah lho..”
“Tapi ada syaratnya mas,” suaranya kedengaran serius
“Syarat? Apaan. Masa buka bersama aja pakai sarat,” tanyaku lagi.
“Iya. Syaratnya Mas harus bawa pasangan. Perempuan,” rajuknya. kemudian tertawa.
“Kalau sekedar pasangan aku bisa bawa. Orang yang paling aku cinta sejauh ini. Adikku,” kataku
“e…nggak mau. Mas mesti bawa pacar,” godanya.
“Masya Allah. Bukannya sudah aku bilang sejak kita bertemu dulu. Aku tidak pacaran dan bagaimana aku menjauhi istilah itu,” kataku mengingatkan.
“Emang sampai segitunya ya mas?” katanya penasaran.
“Besok pas kita ketemu lagi aku bakal ceritakan kenapa pilihan itu yang aku pilih,” kataku.
“oya, ini tak balikin ke calonmu ya. Ntar dia cemburu lagi kalo kelamaan ngobrol sama aku. dah dulu ya Assalamu’alaikum,” pungkasku.
Tapi aku tak bermaksud menyampaikannya secara langsung. Akhirnya aku ngobrol dengan calonnya mengenai konsep bersuci dan makna suci bagi seorang muslim.
“Thaharah adalah hal pertama yang harus dipelajari oleh semua muslim. Melebihi ajaran lain yang harus dipelajari. Itu maknanya sebelum kita mengutarakan ketauhidan sekalipun, hal paling mendasar bagi setiap insan, kita harus dalam keadaan suci. Baik lahir maupun batin,” jabarku.
“Itulah kenapa kita mesti mempertahankan kesucian kita sebaik mungkin. Jangan sampai ternoda oleh hal-hal yang dilarang oleh Allah,” sambungku.
Dia termenung.
“Sungguh aku sangat takut dengan siksa yang dijanjikan Allah pada orang-orang yang menyentuh kulit lawan jenis yang bukan mukhrimnya. Konon seribu jarum menusuk badan itu lebih ringan sakitnya dari pada siksa yang dijanjikan Allah,” ujarku lirih.
“Itu juga kenapa dulu aku bilang supaya kalian tak usah menunggu terlalu lama untuk mengikat buhul pernikahan. Supaya tak banyak noda maksiat yang mengotori diri dan hubungan kalian,” ujarku lagi.
Dia mengangguk.
“Kamu tahu betapa protektifnya aku dengan sibungsu kan. Aku tak pernah membolehkannya jalan sendirian, apalagi jalan dengan orang yang buan muhrimnya. Aku selalu mau mengantarkannya demi bisa menjaga fisik dan jiwanya. Itu karena aku ingin menghadiahkan kesucian jiwa dan raganya pada lelaki sholeh yang kelak akan menjadi imam baginya. Hanya lelaki yang dipilihkan Allah yang juga suci lah yang berhak menikahinya,” aku yakin kali ini aku seperti orang yang berceramah.
“Aku juga seperti itu. Aku ingin istriku kelak mendapatkan aku sebagai seorang yang bersih. Bukan barang sisa dari sentuhan-sentuhan orang lain. Bukan bekas dari sesuatu yang pernah dipakai oleh orang lain. Dia akan mendapat barang yang gress,” kataku lagi.
Temanku, seperti sebelumnya hanya diam. Sesekali dia mengangguk. Tapi tanpa berkatapun aku tahu. Dia sepaham denganku seperti selama ini kami sepaham dalam setiap kebaikan. Aku berharap setelah ini dia akan menyampaikan apa yang aku sampaikan pada perempuan yang Insya Allah sebentar lagi akan dinikahinya itu. Agar tak perlu lagi dia menggodaku untuk membawa pasangan yang belum kunikahi..

Tinggal Satu. Aku Agustus 12, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
1 comment so far

Hari ini ada kejutan cukup bikin shock, tapi juga bikin seneng. Kebetulan tadi siang aku berkumpul kembali dengan tiga sahabatku. Acaranay makan siang bareng. Sambil menunggu yang dua orang, sahabatku bilang bahwa dalam waktu dekat dia akan  melamar perempuan yang dipacarinya beberapa hari terakhir.
“Alhamdulillah,” kataku. Bukan untuk pacarannya, tapi untuk niat baik mereka membina rumah  tangga.
Aku ingat beberapa waktu lalu saat mereka mendatangiku di sebuah kafe.
“Ya. Kami sudah jadian,” kata mereka saat itu.
Itu shock pertama yang aku dapatkan. Soalnya, mereka baru kenal beberapa hari. Itupun mereka kenalan saat perempuan itu datang melayat ke rumah sahabatku.
“Kok kilat banget?” godaku
“Iya nich. Nggak tau kok bisa gini,” kata si perempuan malu-malu.
waktu itu aku ingat benar, aku minta mereka agar jangan terlalu lama terjebak pada hubungan yang tidak diridloi Islam.
“Jangan terlalu lama. Aku berdoa semoga kalian cepat menikah. Agar tak terlalu banyak dosa yang tercipta,” kataku.
Aku tahu, itu agak menohok. Tapi nggak papa. Sebagai sahabat, aku kan memang harus saling mengingatkan di jalan kebaikan. Semakin cepat mereka menikah, berarti makin sedikit dosa dan maksiat yang mungkin mereka lakukan.
“Sorry ya aku duluan,” lamunanku langsung hilang begitu sahabatku minta ijin untuk menikah duluan.
“Oh, nggak papa. Sumpah. Demi Allah itu adalah rizkimu. Seandainya aku dikasih, mungkin sudah dari dulu aku melakukannya,” kataku.
“Iya, tadinya mau nunggu Imam (sahabatku yang satu). Tapi kayaknya dia belum mantep. Kebetulan setelah nanya Mama, beliau nggak keberatan,” katanya lagi.
“Trus kapan lamarannya,” tanyaku.
“Segera tak kasih tau. Kan kamu juga harus ikut,” jawabnya.
“OK. Anytime. Insya Allah aku ikut jadi saksi,” kataku sambil berdoa dilapangkan waktu untuk jadi saksi perjalanan hidup sahabatku.
Well, kehidupan memang tidak bisa ditebak. Dulu saat kuliah, kami menganggap bahwa yang akan menikah dulu adalah yang paling  tua. Dan itu berarti aku. Tapi siapa yang tahu, kalau kemudian yang menikah duluan malah yang paling muda, yaitu Dewol.
Setelah itu, satu per satu menyusul menikah. Iin, Tari, Ennie dan beberapa bulan lalu Iid. Entah mengapa, perkiraan kami meleset semua. Aku justru jadi yang terakhir. Benar kata orang bijak, manusia berencana, Allah-lah yang punya kuasa.
Setahun lalu, aku membuat rencana untuk mengakhiri masa lajang tahun 2010 mendatang. Bayanganku, saat itu satu adikku sudah meraih gelar sarjana. Jadi beban bisa sedikit berkurang. Setahun setelah itu aku kuliah lagi. Menuntaskan hutang yang tertunda pada Ayah bunda sambil melaksanakan kewajiban sebagai imam keluarga.
Beberapa hari lalu aku ditanya seorang dosen yang sudah jadi temanku.
“Lha terus siapa perempuan yang akan kau nikahi?”
“Wah belum tahu mas. Saya serahkan sama yang di atas,” jawabku.
“Lho kalau nggak nyari ya nggak akan dapat,” katanya.
“Saya nyari. Hanya caranya yang tidak dengan cara biasa,” jawabku. Dia berhenti sejenak. (waktu itu kami baru makan siang dan sedang menuju ke parkiran).
“Trus, dengan cara apa,”
“Meminta langsung pada pemilik hakiki setiap hal di alam semesta ini,” kataku lagi.
Dia manggut-manggut.
“OK. Hanya bisa ikut mendoakan. Oya. Ngomong-ngomong seperti apa kriterianya?” tanyanya lagi. Sekarang giliran saya yang berhenti.
“Tidak neko-neko. Perempuan, berhijab. Cinta pada Allah dan nabiNya. Dan punya sisa untuk mencintai saya,” sebutku.
“Bagaimana dengan cantik dan harta?” tanyanya.
“Saya harus bercermin.” kataku
“Maksudmu?”
“Ya Mas kan tahu saya seperti apa. Jadi kalau dapat dua yang terakhir itu, saya akan menganggapnya sebagai double bonus,” kataku sambil tersenyum.
“Ha..ha…ha…Kamu bisa aja. OK. Siapa tahu ada mahasiswiku yang seperti yang kamu cari. Nanti pasti tak kabari,” katanya lagi. Habis itu kami beruluk salam dan berpamitan.
Oya, buat sahabatku. Selamat ya. Hal jazaul ikhsanu illal ikhsan..

The Transporter Agustus 5, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

“Mz Bi, jemput Q skrg ya”
SMS-nya pendek. Tapi pasti akan membuat aku langsung blingsatan. Kalau sedang tidak ngapa-ngapain, aku pasti langsung cabut dan muncul di hadapannya beberapa menit kemudian. Tapi kalau sedang sibuk dengan kerjaan, maka alternatif pertama adalah nelpon ke adiku (kakak sibungsu) untuk menggantikan peranku.
Aku selalu bersedia (sebenarnya aku lebih senang menyebutnya suka) saat disuruh mengantar si bungsu. Tak pernah terbersit di benakku untuk menganggapnya sebagai beban. Kadang, aku bahkan lebih menganggapnya sebagai sebuah kewajiban. Ya kewajiban. Karena contoh terbaik umat manusia, akhirul anbiya, menganjurkan agar seorang perempuan selalu ditemani muhrimnya saat bepergian ke luar rumah.
Mengantar si kecil (yang kini udah mau naik ke semester tiga) juga kuanggap sebagai kewajiban karena trauma masa lalu. Mengantar. Itu adalah permintaan terakhir perempuan agung itu. Dan aku tidak bisa memenuhinya. Sebuah hal yang mungkin akan selalu kusesali sepanjang hidupku. Aku sangat percaya dengan takdir, tapi selalu ada kata ’seandainya’ setiap kali mengingat detik-detik itu…Seandainya aku mengabulkan permintaanya untuk mengantar, mungkin kini aku masih bisa memeluknya. Dan ’seandainya-seandainya’ yang lain.
Mengantar si kecil selalu menjadi saat terindah bagiku. Mendengar ceritanya tentang peristiwa seharian, rencananya dan juga sebanyak apa hafalan Al-qurannya. Melewati detik-detik itu selalu membuat hati bahagia. Membuat hati bangga dan yang lebih penting dari semua itu, membuatku merasa ada dan berguna.
Suatu hari aku pernah menggebrak meja (saking marahnya) saat tahu si kecil tak dijemput kakaknya. Aku tahu dia juga sedang ada acara, tapi menelantarkan si kecil yang pulang malam dari rapat UKI adalah hal yang tidak bisa kuterima. Untunglah kemudian aku ketahui, ternyata dia diantar oleh muhrim yang merupakan kakak-kakak angkatannya. Kabar baiknya lagi, sejak itu kakaknya tak pernah berani menolak saat aku suruh menjemput atau mengantar si kecil.
Kemarin siang, badanku luluh lantak karena capek. Sekujur tubuh terasa menggigil. Sejak pagi aku menghabiskan waktu hanya dengan membaca buku dan menutupi diri dengan selimut tebal. Sampai ketika adzan dzuhur berkumandang. Usai mengambil air wudlu, aku melihat HP. Ternyata ada SMS. Lalu SMS rutin itu muncul. Setelah menemui pemilik raga dan jiwa serta semesta, aku langsung cabut menjemputnya.
Di perjalanan dia menanyakan tentang biaya kuliah dan kostnya. Aku menghela nafas. “Duitku belum cukup” batinku. Dan pertanyaan serupa juga pasti akan muncul dari kakaknya.
“Kamu masih sholat dluha?” tanyaku, mengalihkan pembicaraan. Dan dia mengangguk. “Tadi juga sudah sholat dluha pas nunggu dijemput,” katanya. “Apa dalam do’amu, kamu sempat minta Allah agar memberi rizqi yang berkah buat kita?” tanyaku lagi. Dia mengangguk lagi.
“Kalau begitu semoga Allah melimpahkan rizki secepatnya buat kita,” kataku pelan. Aku yakin dia tak mendengarnya.
Setelah mengantar si kecil, semua rasa menggigil itu hilang. Iya. Ada hal lebih besar yang harus aku lakukan dibanding hanya tidur berselimut tebal dan membaca buku yang sudah kuulang tiga kali itu. Aku harus berbuat sesuatu. Apa saja. Termasuk pilihan terakhir, mencari utangan.
Sekitar pukul 16.00, saat rapat di kantor, HPku berbunyi, mengabarkan ada SMS masuk. Ternyata dari si kecil. “Mz Bi, beasiswanya udah turun. Alhamdulillah. Oya, IPq ternyata gak turun. Sama kayak kemarin, 3.54″
Aku terdiam sejenak. Memandangi layar hape dan menghirup nafas panjang. Mataku berkaca-kaca. Alhamdulillah…bisikku. Padahal aku hampir saja menempuh jalan terakhir untuk mencari hutangan. Dia memang my little angle…

Goodbye FB…. Juli 30, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
1 comment so far

Sudah lama sekali nggak posting. Banyak hal yang kutilis sebenarnya, tapi tetap kuendapkan dalam drive D di EMachines hitamku. Saat bingung memilih topik tulisan, akhirnya aku pilih tentang FB dan budaya online orang Indonesia.
Mas, kok FBnya udah nggak bisa dibuka? Kenapa ya?
Dab, kok metu soko FB, neng opo?
Itu adalah dua komentar yang aku terima di imel dan YM sehari setelah memutuskan untuk deactive dari FB beberapa waktu lalu.
Aku merasa fasilitas ini terlalu banyak mengganggu aku. Kerjaan bisa molor sampai satu jam hanya gara-gara ngurusi untuk ngasih komentar ato update status. Sebuah aktivitas yang justru mengurangi produktifitas dan malah menghambur-hamburkan waktu. Westing time.
Hari ini aku baca sebuah artikel di internet, betapa rakyat Indonesia telah melakukan lompatan budaya yang sangat besar. Dari budaya lisan, melompat ke budaya audio visual dan kini melompat lagi ke budaya cyber. Satu budaya yang seharusnya menjadi mata rantai perjalanan kemajuan sebuah bangsa telah hilang dari rakyat indonesia. Menulis dan Membaca.
Di kantor, di sela istirahat sekolah, di tempat pariwisata, di salon, di mal, bahkan di masjid, kini orang sibuk mengupdate status FB-nya. Pernah beberapa kali status seorang teman mengomentari khotbah seorang khotib. Itu berarti dia sibuk mengupdate status saat khotib berkhotbah. Masya Allah. Dia tidak sadar, selain sudah ngrasani sang khotib, dia juga sudah melewati batasan untuk sekedar mengatakan Sttt…. SIa-sialah sholat jumatnya.
Aku selalu ingin menjumpai suatu saat, orang-orang Indonesia terlihat membaca di mana saja. Di taman kota, di halte bus, di kolam pancingan, di sawah saat menunggui padi, di pasar saat menunggu dagangan atau bahkan di WC saat sedang buang air.
Setelah itu, mungkin akan bermunculan orang-orang yang menelurkan ide dan pikirannya dalam tulisan. Baik itu catatan harian, surat pembaca, opini, blog atau bahkan sebuah buku.
Pasca men-deactive FB, kebetulan budaya baca dan tulis muncul kembali. Ada buku-buku yang kubaca ulang. Setiap pulang kerja aku juga selalu menulis sesuatu. Baik pengalaman seharian maupun ide-ide tentang segala hal. Bangun tidur, hal pertama yang kujangkau adalah EMachines berwaran hitam. Menuliskan rencana yang akan kulakukan sepanjang hari dan menuangkan mimpi dan khayalan tentang segala hal.
Aku pikir, menuliskan sesuatu akan membuat kita ingat jika lupa suatu saat. AKu sadar sesadar-sadarnya, bahwa kemampuan otak kita sangat terbatas. Terbatas unutk mengingat setiap hal yang terjadi setiap detik.Karena itu menuliskannya aku harap bisa membuatnay tak hilang ketika kita lupa.
Mengganti budaya dari berfesbuk ria menjadi membaca dan menulis ria aku yakin bakal memunculkan sesuatu. Entah itu sebuah karya ataupun sebuah hasil. Tinggal kapan hal itu akan muncul.
Alasan sebenarnya mundur dari FB sebenarnya masih tentang ideologi. Aku termasuk orang yang cukup fanatik dengan anti zionis. Saat awal FB Booming beberapa waktu lalu, aku berniat tidak akan tergoda dengan yang namanya FB. Gara-garanya, Mark Zuckeberg, sang pembuat FB ini sudah jamak diketahui sebagai pegiat Alpha Epsilon, sebuah organisasi pemuda Yahudi. Aku nggak tahu yang sebenarnya, tapi konon organisasi ini aktif dan rutin memberikan sumbangan pada ISrael. Kita tahu, bagaimana Israel menggunakan sumbangan dana dari warganya yang tersebar di berbagai negara. Untuk membuat senjata, membuat tembok pemisah, menghancurkan Al Aqsa, dan membunuh saudara-saudara kita di Palestina. (Silahkan berkomentar apapun, tapi aprrovalnya terserah saya ya).
Makin sering kita membuka FB, bakal makin banyak pundi-pundi uang yang didapat Mark. Dan makin banyak pula dana yang akan disumbangkannya pada Israel. Ini juga alasan kenapa aku tak mau meminum Coca-cola, Mizone, SPrite, Fanta, dsb yang merupakan produk-produk yang sertifikat kehalalannya tak kita ketahui.
Beberapa hari lalu, aku mengutarakan alasan sign out dari FB. Rekan kerjaku bilang, ah, itu kan alasan yang kamu buat2 sendiri aja. Kita kan bisa bersilaturahmi, mengeratkan persaudaraan dan menjalin hubungan dengan teman lama. Berinteraksi dan mengetahui kabar terbaru mereka. Itu kan manfaatnya malah banyak banget.
Saya bilang, “Wel, setiap orang bebas memutuskan sikapnya. Dan inilah sikap saya…I’m sign out and I proud to do that,” kataku.

Selaksa Doa untuk Sekar dan Bunga Juli 2, 2009

Posted by ciptabiru in Umum.
2 comments

Hanya dengan melihatnya sekilas, saya tahu jiwanya telah tergilas.
Dalam dunianya yang sepi, semuanya kini telah menjadi kian sunyi.
Mataku tiba-tiba menghangat oleh air mata.
Aku tak mungkin menumpahkannya.
Tapi tak sanggup mencegahnya menjadi kaca
Saat tangannya melukiskan kata yang tak kunjung keluar dari mulut mungilnya.

Rabu malam kemarin, aku mengunjungi rumah seorang gadisi belia korban perkosaan. 14 pemuda bejad beramai-ramai dan bergiliran mengoyak jiwa dan masa depannya. Aku tak bisa membayangkan betapa tercabiknya jiwa dan raga gadis yang kuberi nama Bunga.
Dia adalah korban kedua yang kukunjungi. Sekitar dua minggu sebelumnya, aku juga mengunjungi seorang korban lain yang usianya jauh lebih muda. Sekar, seorang anak kelas 3 SMP yang diduga digagahi oleh seorang perwira berpangkat AKP.
Masya Allah, apa dosa mereka ya Allah.
Kadang terpikir pertanyaan itu dalam batinku saat melihat mata sayu mereka. Mata yang menyembunyikan rasa malu yang mengiris hati bagai sembilu. Mata yang ingin mengadu, mengumbar amarah yang berkecamuk di dalam kalbu.
Mereka masih sangat muda. Tapi sudah harus merasakan betapa dunia sangat di sekitar mereka ternyata sangat kejam.
Beberapa orang berbicara tentang Karma. Ah, entahlah. Apakah hal seperti itu benar ada. Yang jelas anak-anak itu tak tahu apa-apa saat mereka dijadikan korban. Mereka adalah generasi tak beruntung yang lahir di dunia yang kian jahat.
Aku ingat benar ketika menyambangi rumah kedua korban itu. Dua laki-laki yang berbeda latar belakang, satu petani dan satu preman, mengucurkan air mata di depanku dan merasa telah gagal menjalankan perannya sebagai pelindung darah daging mereka. Satu Rusa dan Satu Singa. Dan tak satupun dari mereka yang terima saat anaknya disakiti.
Di tempat penitipan anak korban kekerasan, aku mengunjungi keduanya. Mereka tersenyum samar. Aku tahu mereka sangat takut bertemu dengan orang asing, termasuk aku, meski beberapa hari ini aku sering mereka lihat. Ada tatapan curiga yang menghunjam jantungku. Tapi aku tersenyum. Aku tahu kemarahan yang mengalir di pembuluh darah mereka. Meski mungkin tak semendidih yang mereka rasakan.
Aku adalah seorang laki-laki dengan tujuh perempuan di sepanjang hidupku. Diantara mereka, ada juga perempuan agung yang melahirkan kami. Aku tahu benar apa yang menjadi kebanggaan saudari-saudariku. Hal yang kini tak lagi dimiliki oleh Bunga dan Sekar.
Aku memang tak bisa mengembalikan senyuman dan raga yang tercabik. Tapi aku akan membantu kalian agar para laknatulloh itu mendapatkan balasan yang setimpal. Minimal dengan doa dan tanganku….
Ya Allah, aku tahu Engkau tak pernah tertidur
Maka balaslah apa-apa yang telah dilakukan manusia-manusia durjana itu. Berilah mereka balasan yang setimpal….