jump to navigation

Bidadari Surga Juli 29, 2013

Posted by ciptabiru in Tidak terkategori.
add a comment

by : Uje

bidadari surga

bidadari surga

Setiap manusia punya rasa cinta,
yang mesti dijaga kesuciaanya
namun ada kala insan tak berdaya,
saat dusta mampir bertahta

Kuinginkan dia,
yang punya setia.
Yang mampu menjaga kemurniaanya.
Saat ku tak ada,
ku jauh darinya,
amanah pun jadi penjaganya

*
Hatimu tempat berlindungku,
dari kejahatan syahwatku
Tuhanku merestui itu,
dijadikan engkau istriku

Engkaulah…..
Bidadari Surgaku

Tiada yang memahami,
sgala kekuranganku
kecuali kamu, bidadariku

Maafkanlah aku
dengan kebodohanku
yang tak bisa membimbing dirimu

*
Hatimu tempat berlindungku,
dari kejahatan syahwatku
Tuhanku merestui itu,
dijadikan engkau istriku

Engkaulah…..
Bidadari Surgaku

Allah dan Rencana Manusia November 14, 2012

Posted by ciptabiru in Tidak terkategori.
add a comment

Alhamdulillah,

Bangun tidur, ada SMS penuh cinta dari istri. Hari ini hari spesial bagiku. Tepat hari ini, aku memasuki umur yang ke 33.

Angka ini begitu spesial. Karena Allah memilih angka ini sebagai bilangan untuk mengagungkan asmaNya tiap selesai kita menghadapNya, lima sekali sehari.

Ada cerita gembira yang mewarna perjanalan tahun lalu. Sampai pada titik ini, adalah pencapaian luar biasa yang semuanya pasti karena peran Allah di setiap lini dan detiknya. Tak ada kata yang lebih tepat untuk menggambarkannya kecuali syukur.

Ada juga cerita duka dan kegagalan di berbagai hal. Hanya saja aku juga yakin bahwa hal ini sudah dibuat sedemikian rupa agar kita senantiasa mengingat keagungan rencana-rencana Allah yang sudah ditulisNya jauh sebelum semesta tercipta.

Salah satunya seperti sms yang muncul barusan. Saat ini sebenarnya aku sedang menulis biografi seorang tokoh Leadership nasional, tapi kemudian beliau memilih untuk men-cancel-nya. Aku tidak perlu tahu apa dasar pertimbangannya dan tak perlu menghitung berapa uang dan tenaga yang sudah kukeluarkan. Demi namaMu yang maha mengetahui, aku sangat yakin bahwa ini semua juga sudah engkau rencanakan sejak jauh hari. Insya Allah saya tidak akan kecewa. Aku akan senantiasa berkhusnudzon, bahwa Allah sudah menyiapkan hal lain yang lebih baik di lain waktu.

Pada saat yang sama, tekanan perkerjaan juga semakin berat. Butuh keikhlasan ekstra untuk memahami bahwa semua ini adalah proses untuk senantiasa mengingat Allah dan menjadikannya sebagai yang utama.

Mendapatkan kebahagiaan dan atau kesedihan, keberhasilan atau kegagalan, kadang ternyata hanya masalah perspektif dan waktu. Dan jika perspektifnya adalah Allah, maka kebahagiaan dan keberhasilan hakiki adalah saat kita mendapatkan ridlo dan ampunan Allah.

Di sampingku kini ada seorang bidadari dan seorang calon mujahid. Tugas utama sekarang ini adalah mendedikasikan seluruh hidupku untuk mengantarkan mereka pada tujuan utama, yakni untuk berkumpul di kampung akhirat nan kekal bernama Firdaus.

Semoga hati ini tak tergoda dengan tipuan dunia bernama kekecewaan dan kesombongan.

Berbagi : Kapan Kita Akan Memulainya? Mei 29, 2012

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Gambar

Ada pelajaran luar biasa yang bisa dipetik hari ini. Seorang teman pengusaha muda menelpon saya ketika saya sedang di bank.

“Bro, sudah lihat statusku?” tanyanya merujuk pada statusnya di BBM.

“Belum, kenapa?” jawabku.

“Lihat dulu aja, nanti baru komentar” sahutnya, bikin hati jadi penasaran.

“Kok ndadak repot men to bro, tinggal crito wae kok malah ndadak nganggo nutup tilpun terus buka BB. Wis ndang crito-o” protesku. Akhirnya dia mengalah.

“Ceritanya begini bro. Saya sama temen-temen nongkrong punya ide. Tapi ini sekedar sharing aja ya. jangan langsung dijudge bahwa ini sebuah usaha untuk pamer. Demi Allah bro, kita ingin jauh dari itu,” jelasnya.

“Hmmm… emang piye,?” serobotku penasaran.

“Aku bikin status itu untuk mengajak, memotivasi dan menginspirasi teman-teman untuk saling berbagi. Bayangkan bro, sederhananya begini. Tahu harga beras sekilo berapa?” selanya.

“Yo ndak tahu,” kataku cepat.

“Yo taruhlah antara tujuh ribu sampai sepuluh ribu. Kita berangkat ke kantor, atau memulai aktivitas dengan membelinya bro. Taruh di plastik, kemudian bawa, dan kasih ke orang yang kita rasa pantas menerimanya. Tujuh ribu bro… Bukankah itu tidak terasa bagi orang-orang seperti kita? Tapi bagi orang-orang yang kesulitan, itu sungguh luar biasa,” katanya berapi-api.

“OK, I see what you want to tell me,” potongku.

“Kami baru saja ngobrol-ngobrol tadi malam. Hampir setiap malam, atau paling jarang seminggu sekali, kami nongkrong. Ngabisin duit ratusan ribu, cuma buat makan-makan kecil atau malah bahkan minum. Kami pengin menyisihkan duit mubadzir itu untuk berbagi,” sambung temenku lagi.

“Saya katakan sama temen-temen, ayo lah kita berbagi sedikit saja rejeki kita pada orang-orang yang kurang beruntung. Saya tidak menjanjikan segala macam pahala pada mereka, tapi paling tidak, itu bentuk tanggungjawab kita pada orang-orang disekeliling kita. Alhamdulillah mereka paham, dan saat ini kita sedang usahakan membantu seorang siswa SMP yang tidak bisa bayar SPP. Kita urunan untuk membantunya,” beber temenku panjang lebar.

“Wah, saya iri dengan kamu bro. Aku sendiri malah nggak kepikiran hal-hal seperti itu. Kayaknya kita mesti lanjutin obrolan ini, supaya bisa di-create menjadi sebuah gerakan bersama,” usulku sambil nahan malu.

“OK, aku lg meluncur ke kantor, ketemu di tempatku ya,” sahutnya. Aku menyetujuinya untuk bertemu ba’da dzuhur.

That’s it teman-teman.

Kita yang setiap saat mengkaji ilmu Islam, mentadzaburi ayat demi ayat Al-Qur’an, mengunjungi ta’lim satu ke ta’lim yang lain, kerap kali tak menemukan cara yang cukup simple untuk mengaplikasikan anjuran untuk beramal sholeh, bersedekah atau berinfak.

Saya tertegun sekaligus malu setelah menerima telpun temanku. Dia selalu bilang sama saya bahwa dirinya tidak bisa menjadi ahli ilmu atau ahli ibadah. Alih-alih sholat lima waktu saja, dia malah kerap kali dugem atau sekedar nongkrong sampai pagi menjelang. Meski begitu, dia kerap mengaku ingin menularkan semangat berbagi ke sebanyak mungkin orang.

Iya ya. Kadang mengeluarkan uang sepuluh ribu saja kita suka mikir-mikir kalau tujuannya untuk ibadah. Saat kotak infak mampir di hadapan kita, setelah membuka dompet, kita kerap memilih pecahan terkecil dari uang yang ada di dompet kita. Padahal justru uang yang kita amal sholeh/infak atau sumbangkan itulah yang menjadi hak kita yang hakiki. Yang lainnya adalah titipan.

“Saya baru sadar, bahwa berbisnis dengan Allah selalu lebih dahsyat hasilnya,” kata temanku di akhir telpon.

Subhanallah…

Thankyou Allah for making me to meet him…

Menggapai Cinta Sang Bidadari April 3, 2012

Posted by ciptabiru in Tidak terkategori.
add a comment

Gambar bidadari surga

Alhamdulillah…
Hari ini tepat empat bulan lebih delapan hari aku mengarungi samudra kehidupan bernama rumah tangga. Subhanallah.. Tak habis-habisnya Allah menyiramiku dengan nikmat, karunia dan berkah.

Seorang istri sholeha seperti yang selalu terpatri di dalam hati dan terbayang dalam angan. Semuanya dianugerahkan tanpa kecuali. Aku masih selalu menangis setiap kali mengingat hari-hari menjelang moment suci nan agung pernikahan kami. Mensyukuri betapa maha rohman dan rohimnya pemilik jiwaku.

Aku memulainya dengan sejuta keyakinan dan pengharapan. Hanya itu senjata dan bekalku. Tak sedikitpun harta yang kupunya. Meskipun hampir sepuluh tahun bekerja, aku bahkan tak mempunya celana panjang yang cukup layak untuk kupakai untuk mengkhitbah. Tapi aku tahu benar, calon istri yang akan kusunting nanti bukanlah orang yang menjadikan harta dan penampilan sebagai hal yang utama. Namun kesalehan jiwa dan kebersihan hati yang menjadi tolok ukurnya.

Begitu lepas dari belenggu pekerjaan yang menghabisi waktu dan ibadahku, aku bertekad menempa diri. Meningkatkan kualitas diri, sehingga pantas disebut sebagai lelaki ikhsan. Aku kembali ke pelukan dan rengkuhan masjid. Aku membasahi karpet-karpetnya dengan tangis dan ratapan. Berharap sekaligus berkhusnudzon pada Allah bahwa masih ada seorang bidadari surga yang tertinggal di bumi.

Tak bosannya aku mencurahkan air mata. Membuka telinga lebar-lebar untuk setiap ayat-ayat Al-Qur’an yang mengalun dari suara merdu sang imam. Aku membasahi hati dengan embun fajar dan menyelimutinya dengan kabut malam. Mencoba mencari simpati pemilik cinta sejati. Aku ingin dianggap pantas oleh Allah untuk mendampingi bidadarinya.

Hingga pada suatu ketika datanglah seorang ikhwan yang mengantarkan padaku seorang bidadari. Aku berkata IYA saat itu juga. Dia menunduk malu, saat ditanya kesiapannya bersanding denganku. Sekejap aku melihat sayap imaji di pundaknya. Wajah dan matanya bersinar lembut, menggapai sampai ke kedalaman sanubariku. Subhanallah… jika ini bidadari yang engkau janjikan ya Allah, jangan biarkan dia berpaling dariku ya Allah….

Kemudian aku mendatangi Ayahnya. Subhanallah..Dia adalah sebuah oase. Aku mereguk bergalon-galon air cinta darinya. Ibunya adalah Al kautsar di kegersangan hatiku yang begitu lama kehilangan kasih seorang ibu. Mereka mencurahiku dengan cinta yang membuatku yakin, bahwa surga Allah adalah sebuah keniscayaan.

Aku pulang ke rumah dengan kemantapan hati. Aku tak peduli dengan ketiadaan harta. Di hadapanku sudah menghampar jalan sajadah. Aku akan menapakinya dengan sujud demi sujud.

Hari-hari menjelang akad selalu kulalui dengan kepasrahan. Penyerahan total akan apa yang akan terjadi selanjutnya. Tugasku sebagai manusia adalah berikhtiar. Allahlah yang akan memberikan apa yang aku butuhkan.

Lalu satu demi satu keajaiban itu terjadi. Janji Allah dibayarNya tunai berikut bonusnya. Aku berangkat ke rumah bidadari itu dengan bekal cinta dan keyakinan. Keyakinan bahwa rizkiku dan adik-adikku sepenuhnya ada di genggaman sang Rozaq.

Aku mengucapkan sumpah suci dengan deraian airmata cinta. Semua undangan bertasbih mengikuti prosesi sakral itu. Seperti pemilik jiwaku, mereka juga menjadi saksi ikatan suci yang ditautkan pada kami. Aku melihat air mata-air mata cinta yang ikut mengalir. Semoga mereka mendoakan keabadian cinta kami. Cinta suci yang disandingkan lewat prosesi syar’i.

Kini, empat bulan lebih sakinah dan mawaddah meliputi setiap waktu dan perjalanan kami. Di perut bidadariku telah bersemayam seorang calon mujahid hafidz. Demi rasa syukurku kepadaMu ya Allah, jadikan dia hambamu yang paling beriman. Anugerahkan kepadanya rasa cinta yang tiada bertepi padaMu, nabiMu, kitabMu dan orang tuanya. Jadikan dia pemimpin umat yang menaungi rakyatnya dengan cinta dan syariat Islam.

Berikan kelembutan pada lisannya. Berikan keteduhan cinta pada wajah dan tatapannya. Berikan kekuatan amar ma’ruf nahi munkar pada tangan, pundak dan kakinya. Berikan padanya cinta, dari setiap orang yang mengelilinginya. Dan jadikan dia mujahid yang syahid di jalanMu kelak ya Allah…

Robbana Hablana Min Azwajina Wa Durriyatina Qurrota a’yun Waja’alna lil  muttaqina imama

Keajaiban Ijab Maret 5, 2012

Posted by ciptabiru in Tidak terkategori.
add a comment

Gambar

Seakan kaku jemari ini pasca menikah. Seakan kering samudara kata yang dulu senantiasa mengaliri masa ketika pekerjaan telah mereda. Seakan menghilang semilir ide yang dulu mendesak-desak dari dalam kepala.

Tiga bulan lebih aku tak mengupdate blog ini. Bukan karena hilang cinta. Tapi karena rasa suka yang membuncah-buncah dari dalam dada. Ya. Tiga bulan lalu, peristiwa suci itu akhirnya kualami. Mengucap “Qobiltu nikahaha Watazwijaha bi mahril madzkuur khalaan”.

Perempuan itu, yang tak sempat kuhafal garis wajahnya dalam masa ta’aruf, tak juga muncul saat kata-kata itu terbata-bata kuucapkan. Penghulu mulai menggodaku dengan nasehat-nasehat yang bisa kupastikan sudah dihafalnya di luar kepala. Sekian kali kutahan untuk tidak memalingkan muka, mencuri pandang apakah dia sudah muncul dari kamarnya. Dan kala sudut mataku tak kuasa menahannya, sosok anggunnya tak juga muncul.

Aku tidak tahu berapa kali jantungku berdetak dalam sedetik. Yang jelas, degupnya kurasakan telah berubah menjadi derap. Berpacu dengan rasa penasaran segenap undangan. Seperti apakah perempuan yang telah ikhlas memasrahkan masa depannya untuk hidup denganku?

Dan sosok itu kemudian muncul. Dibalut gamis berwarna keemasan dan jilbab putih tulang dengan melati meronce di kepalanya. Subhanalloh… Inilah bidadari Allah. Batinku. Seketika aku bertakbir, bertasbih dan mengucap hamdallah. Aku telah menjadi suami bidadari itu.

Aku selalu berdoa agar Allah mengirimiku sesosok bidadari
dan kini dia mendatangiku…

Sejenak aku melirik perempuan mungil yang melihatku dari kejauhan dengan mata berkaca. Aku tahu ketakutannya. Mataku banjir di buatnya. “Tidak de’. Aku berjanji tak akan meninggalkanmu…”

Bidadari itu menghampiri tempat dudukku. Aku yakin jantungku telah berubah ukurannya. Mungkin sudah berubah sebesar beduk. Dadaku sesak dibuatnya. Degupnya berubah menjadi bertalu-talu.  Aku tak kuasa memandangi wajah bidadari yang bercahaya. Dia melirikkan matanya. Cesss…Mendadak sebongkah es mencelos ke dalam dadaku.

“Sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri,” lamat-lamat terdengar suara pak penghulu di sela jutaan dengungan yang memenuhi kepalaku. Aku bingung dengan apa yang akan kulakukan. Aku yakin perasaan yang sama juga melanda dirinya.

Aku mencoba menggerakan bibirku yang terasa kaku. Tersenyum. Dan dia membalasnya. Tubuhku kemudian dibuat bergetar hebat, ketika dia mencium tanganku. Subhanallah…Begitu hebat nikmat yang kau berikan pada jalan halal ini….

Satu per satu tangis pecah di telingaku. Tangis adik-adikku dan kakak-kakakku. Terima kasih ya Allah. Aku berhasil melalui ini semua. Semoga mereka belajar sesuatu dari proses yang kami lalui. Semoga mereka dijaga dari fitnah dan maksiat karena hubungan yang tak Engkau Ridloi… Amin

Dyah Septina Fitriani, sekarang dan sampai Allah memisahkan kita di dunia, aku akan berusaha sekuat tenaga, menjagamu dan menjauhkanmu dari sengat api neraka…

The Visible Angle November 4, 2011

Posted by ciptabiru in Me and My Sister, Umum.
add a comment

Siang tadi aku dapat SMS dari seorang kenalan. Seorang lelaki sepuh yang masih sangat bersemangat ber-tolabul ‘ilmi ke berbagai kota. Seorang lelaki yang memberi saya inspirasi, betapa umur tak boleh menghalangi kita untuk terus belajar.

“Syukron my VISIBLE ANGLE. That advice is what I realy needs”.

Begitu tulisnya. Aku merinding membacanya. Pertama karena takut. Takut pada godaan syeitan yang membisiki hati untuk mengenakan selendang Al Kibr. Padahal tak satupun makhluk yang boleh mengenakannya. Itu adalah satu-satunya pakaian yang hanya sang Khaliq yang boleh memakainya.

Membayangkan seseorang menyebut diri ini sebagai malaikat justru seperti menghempaskanku ke dalam jurang maha dalam yang gulita dan tak berdasar. Aku melayang turun tanpa tahu kapan akan mendarat dengan tulang-tulang remuk tanpa bentuk. Astaghfirulloh….Astaghfirulloh….Astaghfirulloh….

Aku tahu, bukan makna harfiah yang dimaksud lelaki pensiunan perusahaan tambang emas terbesar di dunia ini. Mungkin maksudnya adalah untuk menyebut seseorang yang memberinya berkas kebaikan di dalam hatinya. Kebaikan yang seperti apa yang telah kuberikan kepadanya, aku juga tidak berhasil mengidentifikasinya.

Yang ku ingat, aku begitu terkesan saat kajian ‘Ulumul Quran ba’da maghrib tiga minggu lalu. Saat itu harusnya kajian diisi oleh ustadz Sofwan seperti biasanya. Tapi entah kenapa, doktor ilmu Al-Quran itu malah mempersilahkan salah satu tamu Allah di masjid tercinta kami untuk mengisinya. Kami, para jamaah begitu penasaran.

Aku kemudian begitu terkesima dengan metode menghafal Al-Quran yang menurutnya ditemukannya. Dia mendemonstrasikan bagaimana mudahnya menghafal ayat-ayat Al-Quran. Dia menyuruh salah seorang jamaah maju dan mempraktekkan hafalan alquran yang telah diajarkannya tadi siang pada jamaah tersebut. dan SUbhanalloh, meski terbata-bata, orang itu berhasil melakukannya.

Aku bertasbih memuji sang Khaliq. Menyadari begitu besar nikmat yang dilimpahkannya pada diri hina ini. Subhanalloh..Baru tiga hari lalu aku bertemu seorang pensiunan perusahaan minyak di kajian rutin Rabu pagi. Beliau bercerita betapa inginnya memanfaatkan rumah yang baru dibelinya untuk kemaslahatan ummat. Membuat rumah tahfidz adalah impiannya.

Dipertemukan dengan keduanya dengan waktu dan kesempatan berbeda, membuat aku begitu ingin mempertemukan mereka. Dan Alhamdulillah, kesempatan itu datang. Dua lelaki sepuh itu bertemu dan mendiskusikan mimpi dan visi mereka yang ternyata sama. Aku cuma bisa tersenyum memandangi kedua kakek ini begitu antusias bercerita. Sambil sesekali berucap amin saat mereka memanjatkan doa agar cita-cita mulia mereka terealisasi.

Dari sini, saya yakin, bahwa the visible angel yang sesungguhnya adalah mereka berdua. Allah menunjukkan kepadaku, dua orang yang mengajariku untuk berjuang di jalan Allah. Allah memperlihatkanku semangat, kesungguhan, keikhlasan dan pengorbanan tanpa pamrih dua orang yang ingin mengabdikan sisa hidupnya hanya untuk pemilik jiwanya.

Aku juga merinding karena menyebut seseorang sebagai malaikat adalah kebiasaanku dalam tulisan. Tidak dalam artian sesungguhnya. Kadang kita memang mengidentikkan seseorang yang memberikan pengaruh hebat pada diri kita dengan menyebutnya sebagai angel. Aku juga begitu. Seorang perempuan kecil yang menjadi inspirasi bagi kehidupanku. Seorang yang tanpa disadarinya selalu menjadi motivasi sekaligus kekuatan untuk terus tersenyum dan berusaha.The Little Angel. Begitu aku menyebutnya. Semoga semua ini bisa diambil hikmahnya

Mempertahankan Ramadan September 24, 2011

Posted by ciptabiru in Tidak terkategori.
Tags: , , , ,
add a comment

Alhamdulillah, setelah sekian bulan tak mengukir jejak di rumah ini, saya kembali berkesempatan untuk melakukannya. Alhamdulillah sekali lagi saya panjatkan sebagai tanda syukur tiada terkira atas segala nikmat yang senantiasa dicurahkan pemilik nafas saya. Atas kehendakNya pulalah, saya dikembalikan ke jalan yang lurus. Jalan-jalan sajadah yang selama ini selalu kurindui dengan tetes demi tetes air mata.

Saya ingat benar, tahun lalu segalanya masih berbeda. Saat-saat seperti ini, saya masih berkutat dengan amarah dan rasa jengkel. Berkali-kali memencet angka di pesawat telpon atau memencet keypad handphone. Memarahi wartawan saya yang tak kunjung mengirim berita atau karena beritanya tidak lengkap. Untuk menetralkan suasana, saya juga sering bilang pada mereka bahwa saya tidak bermaksud untuk marah sama sekali. Don’t make it personal. Ini semata-mata hanya karena urusan pekerjaan, jadi jangan dibawa ke hati jika kemudian saya melakukannya.

Tapi siapa yang dapat menjamin mereka melakukannya? Bagaimanapun mendengar amarah bukanlah sesuatu yang bisa diterima akal sehat. Apalagi tak dimasukkan ke hati.saya sendiripun bakal mengatakannya dengan jujur bahwa itu adalah hal yang nyaris tidak mungkin untuk dilakukan, bahkan jika yang melakukan adalah mantan teman satu kosan kita sekalipun.

Sekali lagu alhamdulillah… sekarang saya tak harus melakukan hal-hal seperti itu. Sekarang ketika matahari beranjak ke peraduannya, saya bisa bersimpuh di atas sajadah merah di masjid tercinta, Fatimah Azzahra. Tak ada lagi amarah. Tak ada lagi gundah. Tak ada lagi tangis kerinduan yang mengkhayalkan suara ustadz Shofwan yang begitu merdu melantunkan ayat-ayat surga.

Kini saya mengalaminya sendiri. Masuk ke dalam hayalan masa lalu itu dan tenggelam dalam buaian ayat-ayat quran yang memeras hati memaksa bendungan air di dalam mata jebol menganak sungai. Yang uncul kemudian malah rasa tenteram dan kesadaran betapa kerdilnya diri ini. Betapa banyaknya dosa yang terkoleksi selama ini, sekaligus memahami betapa kasih dan maha besarnya Allah.

Ramadan telah 23 hari berlalu. Tahun ini adalah ramadan terindah yang pernah saya lalui. Sepanjang hidup saya. Tak pernah dalam hidup ini terasa begitu sakit ketika Ramadan berlalu. Begitu takut tak akan menjumpainya lagi di tahun depan. Begitu kehilangan suasananya yang penuh berkah, rahmat, dan maghfiroh..

Saya baru sadar, bahwa tantangan terbesar ternyata bukanlah menahan lapar dan haus selama sebulan penuh kemarin. Tapi mempertahankan suasana dan nuansa ramadan selama 11 bulan kemudian. Karena di dalamnya terdapat ujian dan bukti, apakah amal kita diterima Allah selama sebulan penuh kemarin.

Kita tentu ingat, selama sebulan kemarin, begitu semangat kita ikut shalat tarawih. Begitu enteng kita merogoh saku untuk beramal. Serta begitu longgar waktu kita untuk bertilawah. Semua orang melakukannya, sehingga dengan mudah pula kita melakukannya.

Tapi lihatlah sekarang. Saat hanya ada satu dua orang yang duduk di masjid sambil memegang mushaf. Saat hanya ada satu shof orang yang sholat maghrib atau isya. Saat bahkan hanya ada dua atau lima orang yang berjalan di kegelapan malam, melawan dinginnya pagi untuk sholat subuh. Masihkah kita bisa mempertahankan ramadan di hati kita..?

Nggak Ada Loe Nggak Rame Maret 30, 2011

Posted by ciptabiru in Umum.
add a comment

Bismillahirrahmanirrahiim
Mungkin banyak diantara kita yang sering mendengan jargon iklan milik sebuah produk rokok ini. Sekilas sepertinya sepele, namun bila direnungkan, ternyata artinya sungguh dalam. Selalu seperti ada yang kurang jika tidak ada kamu. Begitu kira-kira penerjemahan gampangnya.

Lalu siapa Loe (kamu) dalam iklan tersebut? Seorang sosok yang selalu dinanti kedatangannya karena pentingnya. Seorang yang ditunggu karena tanpa dia suatu peristiwa menjadi tak berarti. Seorang yang selalu memberikan perbedaan ketika berada di tengah-tengah situasi.

Apakah orang itu kita? Atau sudahkah kita menjadi orang tersebut?

Kemarin aku baru saja bertandang ke rumah seorang bapak. Ketiga anaknya sudah pergi dari rumah karena kewajiban menuntut ilmu di pesantren dan perguruan tinggi. Meski terlihat masygul karena kerinduan, tapi ada gurat  bangga yang tak berhasil disembunyikannya.

Dia bercerita anak sulungnya yang tak pernah punya keinginan menjadi pegawai atau karyawan meskipun dia telah berkeliling ke berbagai negara sejak masa SMA-nya. Dia begitu mandiri dan di sela kegiatannya keliling dunia tak kehilangan jatidirinya sebagai seorang muslimah. Seorang perempuan muda yang ditangisi warga ketika meninggalkan tempat KKNnya karena keuletannya mengajarkan huruf hijaiyah pada puluhan anak-anak dan para manula.

Dia juga bercerita anak keduanya yang menurutku tak kalah hebatnya. Seorang perempuan modern yang punya mimpi sederhana menjadi seorang pendidik. Perempuan yang tak silau dengan kemilau dunia dan segala macam kenikmatan yang ditawarkannya.

Sedang si kecil, satu-satunya laki-laki di rumahnya-selain dirinya, baru menapaki bangku pesantren setingkat tsanawiyah.

“Satu hal yang selalu saya pesankan pada anak-anak saya, saya selalu meminta mereka jangan cuma bangga hanya dengan menjadi rata-rata air atau seperti orang kebanyakan. Ada maupun tidak ada kamu, orang tidak akan ambil pusing. Buatlah perbedaan, dan jadilah orang yang lebih tinggi dari sekedar rata-rata air,” ceritanya.

Iya. Lelaki yang mengaku mulai kehilangan peran sebagai ayah ketika anak-anak lepas dari masa baligh ini telah meletakkan standar yang jelas pada putra-putrinya. Meski tak mau dibilang telah sukses mendidik anak, dia sebenarnya telah meletakkan dasar yang cukup kuat pada tiga buah hatinya.

“Kesuksesan orang tua mungkin beda-beda ukurannya. Bagi saya, yang penting mereka tidak pernah lupa, mau sehebat dan sebesar apapun mereka nantinya, ada orang tuanya yang tidak boleh dilupakannya. Itu saja sudah cukup bagi saya,” ujarnya sambil menerawang. Bahkan dengan lebih sederhana dia berucap, “jika nantinya mereka tetap mau mendoakan saya ketika saya sudah berada di alam kubur, itu sungguh sudah lebih dari cukup buat saya,”

Saat itu aku mendadak jadi teringat tulisan Muhaimin Iqbal tentang average high. Pemilik geraidinar.com ini membahas orang-orang dengan standar sangat tinggi yang hidup pada jaman dan sesudah rosululloh. Merekalah para sahabat dan para tabi’in serta tabi’it tabi’in. Orang-orang yang telah membuat perbedaan dengan keberadaanya.

Di tangan mereka, Islam berjaya di 2/3 penjuru dunia. Di tangan mereka pula, ilmu pengetahuan berkembang sangat pesat, dan penjadi pelita di abad kegelapan. Kesejahteraan meliputi seluruh negeri di bawah panji khilafah. Semua karena saat itu ada standar yang punya rata-rata sangat tinggi bagi orang-orang Islam. Standarnya apa lagi kalau bukan ketakwaan. Kepatuhan dan ketakutan kepada Allah, sang pemilik nafas, membuat semua orang melakukan apapun semata-mata karena ketakwaanya.

Nah, sekarang semua kembali pad akita sendiri. Apakah hanya mau menjadi orang-orang yang rata-rata air sehingga tak akan ada bedanya ada maupun tidak ada kita? Atau kita mau menetapkan standar tinggi rata-rata untuk bisa membuat perubahan. Semua tergantung kita…

Indahnya Ta’aruf (1) Maret 22, 2011

Posted by ciptabiru in Umum.
3 comments

Beberapa minggu yang lalu, aku akhirnya memulai sesuatu yang selama ini aku rindukan. Ya. Ta’aruf. Sebuah proses ikhtiar untuk memulai sebuah hubungan suci bernama pernikahan.

Suatu siang, usai menundukkan diri sekian lama dalam sujud akhir ba’diat dzuhur aku mengucap salam. Saat salam kedua, seuntai senyuman menyapaku. Wajahnya bersih bagaikan rembulan di tengah malam. Demi Allah, aku benar-benar lupa siapa pemilik senyum itu. Meskipun aku menyambut uluran tangannya, namun tak kunjung keluar memori mengenai siapa dirinya. Bahkan setelah dia mengucap namanya.

Kami bertukar kabar. Ajaibnya, dia tahu banyak mengenai diriku, pekerjaanku dan beberapa kegiatanku di masa lalu. “Jangan-jangan ini mungkin karena aku yang terlalu abai dengan orang orang di sekelilingku?” batinku.

Obrolan terus berlanjut sampai kemudian dia menanyakanku mengenai masalah pendamping hidup. Dengan minder, aku bilang bahwa sampai saat ini aku belum memilikinya. Apalagi momongan. Dia tersenyum, dan menawarkan padaku kemungkinan untuk mempertemukanku dengan beberapa perempuan teman istrinya. Aku juga tersenyum. Belum mengiyakan, sekedar menghormati penawarannya.

Satu hal yang membuatku langsung memuji nama Allah adalah tawaran itu datang sebegitu cepatnya. Ya. Beberapa  menit sebelumnya, di sujud terakhirku, aku memang memohon kepada pemilik nafasku untuk membukakan pintu jodoh yang selama ini masih juga tertutup. Aku ingin dipertemukan dengan calon istri yang sholihah dan melalui proses mendapatkannya dengan cara-cara yang diajarkan oleh sang uswatun khasanah. Tak dinyana ternyata mungkin ini orang yang dikirimkan Allah untuk menjawab doa-doaku.

Karena ingin mengetahui siapa sebenarnya dirinya, akhirnya aku menerima ajakannya untuk main ke rumahnya. Ba’da Isya seminggu kemudian, aku ke rumahnya. Di sana baru aku ingat bahwa kami pernah bersama mengurus LAZIS (Lembaga Amil Zakat, Infak dan Shodaqoh) sekitar lima tahun sebelumnya.

Tiga hari berikutnya aku mengirimkan sebuah CV. Dan saat itu aku langsung diberi sebuah CV milik seorang akhwat. Aku tidak berani membukanya. Tapi tatapan mata sahabatku seperti memerintahkan aku untuk membukanya. Jadi aku membukanya. Membaca nama, tinggi badan, berat badan dan semua hal sampai niat si akhwat untuk menikah adalah ibadah.
“Bagaimana akh?” tanyanya.
Aku mengambil nafas dalam.
“Kalau memang niatnya seperti yang dituliskannya di sini, maka dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim, Insya Allah saya siap,” kataku sambil menunjuk CV milik sang akhwat.
“Baik. Tapi yang perlu antum (kamu) ketahui, semua ini (bertukar CV) belum menjamin apapun. Ini baru langkah awal. Jadi jangan terlalu berharap,” ingatnya.
“Insya Allah,” jawabku mahfum.

Seminggu kemudian, aku dikabari bahwa sang akhwat siap dipertemukan. Aku berdebar tidak karuan. Berbagai pikiran berkecamuk. Termasuk pikiran syaiton menganai persyaratan fisik. Apakah dia secantik foto yang disertakannya dalam CV (yang baru kulirik sekali karena takut berubah pikiran)? Apakah dia pemalu, suaranya keras, suka bercanda dan berbagai pertanyaan-tanyaan lain.

Astaghfirullohal’adzim. Segera kubuang pertanyaan-pertanyaan jahiliah itu. Aku kembali teringat sebuah kalimat yang ditulisnya di CV yang kubaca. “Tujuan Menikah : IBADAH”. Setelah itu aku mantap untuk menghadapi pertemuan itu.

Ba’da Isya, sebuah SMS mengagetkanku. Adrenalinku naik ke ubun-ubun. SMS itu seolah adalah tombol pemicu yang meledakkan jantung. Membuatnya berdetak ribuan kali lebih cepat dari biasanya. SMS itu juga seperti kunci pembuka semua pori-pori tubuhku. Mengalirkan keringat dari tabung-tabung penyimpannya. Menumpahkannya sampai membanjiri sekujur tubuhku.

Dengan degup jantung yang tak menentu, aku membonceng sahabatku. Sepanjang perjalanan yang hanya sekitar seratus meter tak hentinya aku beristighfar. Menyingkirkan prasangka dan keraguan yang datangnya dari syaiton. Kuyup di tubuhku semakin menjadi.

Dan datanglah saat itu. Sesosok perempuan mungil berdiri di balik pintu. Dia menjawab salam dan membukakan pintu. Tak selirik pandangpun aku berani melihatnya. Hanya guratan-guratan berwarna hitam di sela dua keramik yang berani aku tatapi.

Dipandu oleh sahabatku, kami saling bercerita dengan canggung tentang pribadi masing-masing, kondisi sekarang dan kondisi masa depan yang sedang dicita-citakan. Sebenarnya aku tidak begitu memikirikan apapun jawabannya. “Tujuan menikah: IBADAH” begitulah yang selalu aku ingat dari CVnya. Karena itu pasti semua hal bakal bermuara pada ibadah. Begitu pikirku.

Saat itu, seluruh telapak tanganku basah. Banyak kata yang tak becus kuucapkan. Dan aku juga tak berhasil merekam seperti apa wajahnya. Sebuah perasaan yang baru pernah kualami. Sejak kuliah, aku terkenal memiliki banyak sekali teman perempuan. Bahkan dulu kehadiranku sempat diidentikkan dengan adanya perempuan cantik. Bukan karena aku bergonta-ganti pacar, tapi kebanyakan temanku memang cantik-cantik. Dan saat jahiliahku dulu, aku tak malu kemana-mana dengan mereka.

Namun kini aku seperti kehilangan keahlianku berbicara di depan orang banyak. Aku lupa semua teori komunikasi yang kupelajari dari sekian banyak buku. Aku bahkan lupa bagaimana cara menghargai lawan bicara dengan cara menatapnya langsung. Seandainya ketemu di luar rumah setelah itu, aku yakin aku tak akan mengenalinya. Tapi aku tidak menyesal. Batinku, aku akan leluasa memandangnya jika Allah berkehendak. (bersambung)

Kenapa Harus Wanita Shalihah? Januari 19, 2011

Posted by ciptabiru in Umum.
1 comment so far

Bismillahirrahmanirrahim….

Beberapa waktu lalu saya terlibat dialog cukup seru melalui chatting dengan salah satu sahabat saya. Salah satu yang kita bahas adalah masalah istri yang sedang saya cari.

Sebenernya saya sudah sampai tahap malas menjelaskan kriteria istri seperti apa yang saya inginkan padanya. Sebab dia (dan beberapa teman-teman saya yang lain) selalu saja memandang aneh, ketika saya jawab istri seperti apa yang saya inginkan. Beberapa tertawa. Beberapa lainnya tersenyum sinis. Dan beberapa lagi mengatakan itu imposible.

Hari ini saya sedang membuka-buka laman dakwatuna dan menemukan artikel yang mungkin bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan sahabat saya. Saya copy paste semua isinya. Semoga penulis dan medianya tak keberatan. Begini tulisannya.

Terkadang orang heran dan bertanya, kenapa harus mereka?
Yang bajunya panjang, tertutup rapat, dan malu-malu kalau berjalan..

Aku menjawab.. Karena mereka, lebih rela bangun pagi menyiapkan sarapan buat sang suami dibanding tidur bersama mimpi yang kebanyakan dilakukan oleh perempuan lain saat ini..

Ada juga yang bertanya, mengapa harus mereka?
Yang sama laki-laki-pun tak mau menyentuh, yang kalau berbicara ditundukkan pandangannya.. Bagaimana mereka bisa berbaur…

Aku menjawab..Tahukah kalian.. bahwa hati mereka selalu terpaut kepada yang lemah, pada pengemis di jalanan, pada perempuan-perempuan renta yang tak lagi kuat menata hidup. Hidup mereka adalah sebuah totalitas untuk berkarya di hadapan-Nya.. Bersama dengan siapapun selama mendatangkan manfaat adalah kepribadian mereka..

Untuk itu, aku menjamin mereka kepadamu, bahwa kau takkan rugi memiliki mereka, kau takkan rugi dengan segala kesederhanaan, dan kau takkan rugi dengan semua kepolosan yang mereka miliki.. Hati yang bening dan jernih dari mereka telah membuat mereka menjadi seorang manusia sosial yang lebih utuh dari wanita di manapun..

Sering juga kudengar.. Mengapa harus mereka?
Yang tidak pernah mau punya cinta sebelum akad itu berlangsung, yang menghindar ketika sms-sms pengganggu dari para lelaki mulai berdatangan, yang selalu punya sejuta alasan untuk tidak berpacaran.. bagaimana mereka bisa romantis? bagaimana mereka punya pengalaman untuk menjaga cinta, apalagi jatuh cinta?

Aku menjawab..Tahukah kamu.. bahwa cinta itu fitrah, karena ia fitrah maka kebeningannya harus selalu kita jaga. Fitrahnya cinta akan begitu mudah mengantarkan seseorang untuk memiliki kekuatan untuk berkorban, keberanian untuk melangkah, bahkan ketulusan untuk memberikan semua perhatian.

Namun, ada satu hal yang membedakan antara mereka dan wanita-wanita lainnya.. Mereka memiliki cinta yang suci untuk-Nya.. Mereka mencintaimu karena-Nya, berkorban untukmu karena-Nya, memberikan segenap kasihnya padamu juga karena-Nya… Itulah yang membedakan mereka..

Tak pernah sedetikpun mereka berpikir, bahwa mencintaimu karena fisikmu, mencintaimu karena kekayaanmu, mencintaimu karena keturunan keluargamu.. Cinta mereka murni.. bening.. suci.. hanya karena-Nya..

Kebeningan inilah yang membuat mereka berbeda… Mereka menjadi anggun, seperti permata-permata surga yang kemilaunya akan memberikan cahaya bagi dunia. Ketulusan dan kemurnian cinta mereka akan membuatmu menjadi lelaki paling bahagia..

Sering juga banyak yang bertanya.. mengapa harus mereka?
Yang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan membaca Al-Qur’an dibanding ke salon, yang lebih sering menghabiskan harinya dari kajian ke kajian dibanding jalan-jalan ke mall, yang sebagian besar waktu tertunaikan untuk hajat orang banyak, untuk dakwah, untuk perubahan bagi lingkungannya, dibanding kumpul-kumpul bersama teman sebaya mereka sambil berdiskusi yang tak penting. Bagaimana mereka merawat diri mereka? bagaimana mereka bisa menjadi wanita modern?

Aku menjawab..Tahukah kamu, bahwa dengan seringnya mereka membaca al Qur’an maka memudahkan hati mereka untuk jauh dari dunia.. Jiwa yang tak pernah terpaut dengan dunia akan menghabiskan harinya untuk memperdalam cintanya pada Allah.. Mereka akan menjadi orang-orang yang lapang jiwanya, meski materi tak mencukupi mereka, mereka menjadi orang yang paling rela menerima pemberian suami, apapun bentuknya, karena dunia bukanlah tujuannya. Mereka akan dengan mudah menyisihkan sebagian rezekinya untuk kepentingan orang banyak dibanding menghabiskannya untuk diri sendiri. Kesucian ini, hanya akan dimiliki oleh mereka yang terbiasa dengan al Qur’an, terbiasa dengan majelis-majelis ilmu, terbiasa dengan rumah-Nya.

Jangan khawatir soal bagaimana mereka merawat dan menjaga diri… Mereka tahu bagaimana memperlakukan suami dan bagaimana bergaul di dalam sebuah keluarga kecil mereka. Mereka sadar dan memahami bahwa kecantikan fisik penghangat kebahagiaan, kebersihan jiwa dan nurani mereka selalu bersama dengan keinginan yang kuat untuk merawat diri mereka. Lalu apakah yang kau khawatirkan jika mereka telah memiliki semua kecantikan itu?

Dan jangan takut mereka akan ketinggalan zaman. Tahukah kamu bahwa kesehariannya selalu bersama dengan ilmu pengetahuan.. Mereka tangguh menjadi seorang pembelajar, mereka tidak gampang menyerah jika harus terbentur dengan kondisi akademik. Mereka adalah orang-orang yang tahu dengan sikap profesional dan bagaimana menjadi orang-orang yang siap untuk sebuah perubahan. Perubahan bagi mereka adalah sebuah keniscayaan, untuk itu mereka telah siap dan akan selalu siap bertransformasi menjadi wanita-wanita hebat yang akan memberikan senyum bagi dunia.

Dan sering sekali, orang tak puas.. dan terus bertanya.. mengapa harus mereka?

Pada akhirnya, akupun menjawab…Keagungan, kebeningan, kesucian, dan semua keindahan tentang mereka, takkan mampu kau pahami sebelum kamu menjadi lelaki yang shalih seperti mereka..

Yang pandangannya terjaga.. yang lisannya bijaksana.. yang siap berkeringat untuk mencari nafkah, yang kuat berdiri menjadi seorang imam bagi sang permata mulia, yang tak kenal lelah untuk bersama-sama mengenal-Nya, yang siap membimbing mereka, mengarahkan mereka, hingga meluruskan khilaf mereka…

Kalian yang benar-benar hebat secara fisik, jiwa, dan iman-lah yang akan memiliki mereka. Mereka adalah bidadari-bidadari surga yang turun ke dunia, maka Allah takkan begitu mudah untuk memberikan kepadamu yang tak berarti di mata-Nya… Allah menjaga mereka untuk sosok-sosok hebat yang akan merubah dunia. Menyuruh mereka menunggu dan lebih bersabar agar bisa bersama dengan para syuhada sang penghuni surga… Menahan mereka untuk dipasangkan dengan mereka yang tidurnya adalah dakwah, yang waktunya adalah dakwah, yang kesehariannya tercurahkan untuk dakwah.. sebab mereka adalah wanita-wanita yang menisbahkan hidupnya untuk jalan perjuangan.

Allah mempersiapkan mereka untuk menemani sang pejuang yang sesungguhnya, yang bukan hanya indah lisannya.. namun juga menggetarkan lakunya.. Allah mempersiapkan mereka untuk sang pejuang yang malamnya tak pernah lalai untuk dekat dengan-Nya.. yang siangnya dihabiskan dengan berjuang untuk memperpanjang nafas Islam di bumi-Nya.. Allah mempersiapkan mereka untuk sang pejuang yang cintanya pada Allah melebihi kecintaan mereka kepada dunia.. yang akan rela berkorban, dan meninggalkan dunia selagi Allah tujuannya.. Yang cintanya takkan pernah habis meski semua isi bumi tak lagi berdamai kepadanya.. Allah telah mempersiapkan mereka untuk lelaki-lelaki shalih penghulu surga…

Seberat itukah?

Ya… Takkan mudah.. sebab surga itu tidak bisa diraih dengan hanya bermalas-malasan tanpa ada perjuangan…

Taipei, 02 Juni 2010

Tulisan di atas ditulis Oleh: Yusuf Al Bahi. Link aslinya ada di sini

Saya tahu, saya bukan orang sekelas dan sederajat si penulis. Namun pepatah arab mengatakan man jadda wajadda. Jika kita bersungguh-sungguh, maka kita pasti akan mendapatkan apa yang kita inginkan. Allah telah memberikan janji, bahwa orang baik hanya untuk orang baik. Karena itulah, saya akan menapaki jalan untuk  menjadi baik. Agar cukup layak bersanding dengan orang baik, yang oleh teman saya pernah dikatakan cukup sinis, dengan istilah the real muslimah.

Bismillahirrahmanirrahiim…